Tampilkan postingan dengan label BPN Ramadan 2023. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BPN Ramadan 2023. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2024

Tren Baju Lebaran: Selamat Tinggal Tersage-sage, Always Welcome Earth Tone

Hore lebaran tinggal beberapa hari lagi. Bagi kamu yang ingin tampil kekinian saat momen Hari Raya nanti, mungkin merasa penting harus tahu tren baju Lebaran sekarang, seperti apa ya?

Meski kalau untuk saya sendiri sih, bergaya sesuai tren tak semerta-merta harus membeli baju baru. Karena kita juga sebenarnya tetap bisa memanfaatkan baju yang sudah ada di lemari. Tinggal cari mana yang senada dengan tren baju Lebaran sekarang.

Menurut saya sendiri sih, pada dasarnya, busana lebaran tidak akan berbeda dari tahun ke tahun dalam hal model. Biasanya juga kalau untuk muslimah ya tidak akan jauh dari potongan abaya, tunik, dan gamis untuk wanita. Paling yang sedikit membedakan ada pada warna kerudung. Biar saat berfoto untuk kenangan ada sedikit berbeda dari penampilan sebelumnya.

Sementara pria tak jauh dari model pakaian dengan baju kokonya. Dan tren baju koko Lebaran untuk pria yang kekinian modelnya juga tak jauh dari kemeja Koko alias model kemko.

Mungkin, hal yang membuatnya berbeda secara signifikan adalah terletak pada perbedaan warna, detail, atau dekorasi yang menghiasi.

Pernah baca dimana, saya lupa. Katanya kalau mau tahu tren baju Lebaran kita bisa lihat dan menyimpulkan dari dagangan yang mendominasi Pasar Tanah Abang, di Jakarta. Tahu Pasar Tanah Bang kan ya, salah satu pusat grosir terbesar di dunia, yang jadi rujukan para penikmat fashion.

Tahun 2024 ini kalau merujuk ke penjualan pakaian di pusat grosir Tanah Abang ada 3 tren baju Lebaran. Yaitu:

Dress Plisket

Adalah dress dari bahan plisket.Banyak rancangan yang menjual dress plisket lengkap dengan outer berdetail bordir.

Tren Baju Lebaran: Selamat Tinggal Tersage-sage, Always Welcome Earth Tone

Dominasi Warna Pastel dan Earth-Tone

Selamat tinggal tersage-sage. Tren baju Lebaran sekarang didominasi palet lembut. Pakaian yang dijual di sana didominasi warna pastel, cream, dan warna buku lainnya yang memang kalem dan lembut.

Koleksi Sarimbit dengan sentuhan budaya

Koleksi sarimbit tetap menjadi pilihan di Hari Raya. Dan tren yang diterapkan untuk koleksi baju sarimbit Lebaran tahun ini adalah busana dengan sentuhan budaya.

Nah kalau sudah punya gambaran, kita bisa menyesuaikan antara keuangan, kebutuhan dan kondisinya. Karena seperti pendapat saya di awal, buat saya pribadi, lebaran gak harus beli baju yang baru kalau memang ada hal yang tidak memungkinkan.

Tren Baju Lebaran: Selamat Tinggal Tersage-sage, Always Welcome Earth Tone

Apakah hari raya harus pakai baju baru?

Para ulama sering kita dengar jika mereka menjelaskan bahwa agama (Islam) hanya menganjurkan untuk mengenakan pakaian terbaik, bukan baju baru, apalagi seragam sekeluarga pada Hari Raya Idul Fitri.

Terbaik disini dalam arti bersih dan suci. Karena bisa saja walaupun baru tapi kondisinya tidak suci sehingga tidak sah dipakai untuk melakukan solat Idul Fitri.

Kendati Rosul tak mengharamkan laki-laki mengenakan baju sutera, Nabi Muhammad pun tak melarang mengenakan pakaian baru di hari raya. Atas kisah itulah, mayoritas ulama mengatakan memakai baju bagus di hari raya adalah sunah. Dan muncullah pemikiran baju baru ini ibarat sebuah keharusan. Sampai ada yang hutang sana hutang sini demi bisa membeli baju baru untuk hari lebaran.

Padahal jika tak memiliki uang, maka dilarang untuk berhutang demi membeli baju baru.

Apa hukum memakai baju baru?

Para ulama menyebut jika menggunakan baju bagus dan baru saat hari raya adalah sunnah. Jadi boleh dan lebih baik jika memang kita mampu. Tapi jika tidak mampu, bukan sebuah dosa.

Stigma masyarakat itu sendiri saja yang seolah menjadi keharusan lebaran identik dengan beli baju baru.

Tren Baju Lebaran: Selamat Tinggal Tersage-sage, Always Welcome Earth Tone

Bagaimana cara berpakaian yang dilarang oleh Islam?

Alih-alih memikirkan baju baru, apakah sudah tahu cara berpakaian yang dilarang oleh agama Islam?

Pakaian transparan yang dapat melanggar prinsip menutup aurat dengan baik adalah cara berpakaian yang dilarang dalam Islam.

Bahkan Ustaz Adi Hidayat menekankan perlunya memilih pakaian yang tidak transparan dan memastikan bahwa aurat tetap terlindungi. Tidak mencetak tubuh dan bagian dari anggota tubuh.

Demikian deh bahasan mengenai tren baju Lebaran dan obrolan tentang berpakaian. Jadi bagaimana baju lebaran kita nanti tinggal pilih sesuai karakter gaya dan kenyamanan masing-masing saja, ya. Dan yang pasti jangan sampai berhutang demi bisa beli baju baru.

Read more ...

Kamis, 27 April 2023

Wisata Makam

Lebaran plus lima kami baru bisa mudik ke kampung halaman suami di Cianjur kota. Memang mudik kami ini melawan arus. Orang biasanya mudik itu dari kota ke kampung, ini mah kami dari kampung ke kota.

Kedua orang tua suami sudah tiada dan dimakamkan di dekat tempat tinggal nenek kakeknya suami, di daerah Warung Batu, Panembong. Jadi kami silaturahmi menemui kakak kandung suami yang kedua-duanya adalah perempuan.

Kami datang hampir seminggu setelah lebaran karena keponakan suami dari kakak nomor dua yang sudah kuliah di Sumatera bisa berjumpa sekitar saat itu. Pun keponakan suami dari kakak pertama juga baru bisa datang dari Bandung sekitar seminggu dari lebaran.

Seperti biasa, setelah silaturahmi dengan keluarga besar kedua kakak, (kebetulan rumahnya berdekatan) kami langsung ziarah menuju makam mertua.

Fahmi, putra kami ini sangat antusias jika diajak ziarah ke makam Enin dan Engking nya (nenek dan kakeknya) dari pihak ayah... Bukan hanya karena bisa mengunjungi makam mereka, tetapi juga bisa sekaligus berwisata.

Makam kedua orang tua suami dan keluarga besar lainnya berada di Dawuan, sebuah tempat pengaturan air irigasi yang oleh sepupu suami (sebagai ketua karang taruna di daerah Dawuan itu) dibuat senyaman mungkin hingga banyak dikunjungi orang. Lama-lama Dawuan ini jadilah semacam lokasi wisata lokal meski lokasinya berdampingan dengan makam.

Wisata Alam Dawuan bersebelahan dengan makam keluarga besar suami

Saat kami ziarah di Minggu pertama bulan Syawal ini lokasi wisata Dawuan masih sepi bahkan terkesan berantakan. Mungkin belum ada pembersihan lagi setelah terakhir kali pengunjung berdatangan sambil ngabuburit sore hari jika cuaca acerah.

Sungai yang dibendung itu airnya dibagi ke dalam beberapa selokan untuk terus dilanjutkan ke persawahan di sekitarnya. Salah satu selokan yang melintas ke Dawuan, oleh pengelola dibendung lagi sehingga airnya cukup untuk melambungkan ban karet sehingga bisa dijadikan arena bermain papalidan (semacam hanyut terbawa arus air tapi tentu saja aman) bagi anak-anak. Itu yang salah dua bikin Fahmi dan anak-anak lainnya suka mendatangi pemakaman Dawuan ini.

Sementara bagi saya pribadi jika ziarah ke Dawuan ini paling suka saat bisa mencuci muka atau sekalian berwudhu di mata air yang jernih dan sudah terkenal sejak lama.

Mata air di Dawuan ini dulu hanya rembesan dari tanah miring. Memang di sekitarnya masih terdapat banyak pepohonan besar. Karena banyak orang yang memanfaatkan keberadaan mata air ini sebagai sumber air bersih untuk digunakan di rumah, lalu dibuat pondasi dan disalurkan melalui paralon sehingga mata air ini terkumpul dan menjadi besar.

Sumber mata air di Dawuan yang tidak pernah kering

Bagus dan uniknya mata air ini, bisa langsung diminum tanpa dimasak lebih dulu. Masyarakat sekitar awalnya ragu tapi ketika kemarau melanda, semua sumur kering, sampai sungai yang dibendung saja ikut kering, masyarakat harus membeli air mineral demi mendapatkan air bersih. Tapi mata air itu masih saja mengeluarkan air, maka sejak itu masyarakat menjadikan mata air ini sebagai sumber air bersih.

Disimpan sekian lama, air ini tetap bening, tidak mengendap, tidak berbau dan tidak berasa. Seolah kita ini menyimpan air mineral saja. Nah sejak itu masyarakat sekitar menjadikan mata air ini sebagai sumber air bersih rumah tangga.

Masyarakat banyak yang datang berziarah atau bermain ke lokasi wisata Dawuan sekaligus mengambil air dari mata air yang ada di sana. Ada yang menggunakan galon isi ulang, botol besar maupun kecil, dan ember yang bisa ditutup sehingga tidak tumpah saat dibawa.

Sambil menyelam minum air. Ziarah, main ke wisata lama Dawuan sekaligus mengambil air dari mata airnya
Banyak orang sengaja datang ke mata air Dawuan untuk mengambil air menggunakan galon isi ulang, atau botol dan ember.

Konon ada pihak yang pernah datang ke tokoh masyarakat setempat, ingin membeli lahan mata air itu. Tapi tokoh masyarakat dan warga setempat sepakat menolak. Daripada dikuasai pribadi dan dikomersilkan, lebih baik masyarakat tetap menjaganya bersama demi kepentingan umum.

Maha besar Allah, disaat dimana-mana dikeluhkan pencemaran lingkungan mengakibatkan krisis air bersih, di Dawuan ini justru kami disediakan sumber mat air yang cukup melimpah dan gratis pula.

Read more ...

Selasa, 25 April 2023

Jenis Ketupat Singaparna

“Sarapan ketupat ya, Bu? Yang depan alun-alun itu,” pesan Fahmi setelah solat subuh di hari ke tiga lebaran.

Ini anak gak bosen apa ya makan ketupat? Padahal sejak hari Kamis, saya udah bikin ketupat sendiri. Sampai kemarin Senin ketupat di rumah baru saja habis, hari ini udah pesan mau sarapan ketupat lagi.

Saat teman-teman mengabarkan lebaran hari Jumat, dan pemerintah baru akan melaksanakan sidang isbat Jumat sorenya, Mak sejak Kamis pagi saya sudah mempersiapkan ketupat dan hidangan pelengkap lainnya. Berjaga-jaga kalau lebaran jatuh pada hari yang sama.

Ternyata pemerintah memutuskan sesuai kesepakatan semua jika lebaran jatuh pada hari Sabtu. Mau tidak mau, daripada mubadzir, ketupat untuk lebaran beserta teman-temannya sejak Kamis akhirnya sudah kami cicipi, dong. Padahal masih menjalankan puasa satu hari lagi.

Berlanjut sampai hari lebaran yang jatuh pada hari Sabtu, malam takbir saya kembali membuat ketupat karena yang dibuat hari Kamis sudah habis. Kalau malam takbiran gak buat ketupat, khawatir besok ada saudara dan teman yang datang, terus masa gak diajak makan ketupat. Ketupat hasil malam takbiran itu baru habis hari Senin pagi.

Dan Selasa ini, ketika kami silaturahmi ke rumah yang di kota Cianjur, Fahmi sudah pesan ia ingin sarapan ketupat (lagi)!

satu porsi ketupat Singaparna

Tapi tentu saja ini bukan ketupat lebaran, melainkan ketupat penjual yang mangkal di emper toko depan alun-alun Cianjur. Namanya Ketupat Singaparna.

Ketupat Singaparna cukup terkenal seperti bubur Cianjur, atau ikan bakar Cianjur. Singaparna adalah nama tempat di Tasikmalaya. Saya sendiri tidak asing dengan olahan ketupat Singaparna ini secara pernah tinggal di sana selama tiga tahun. Jadi citarasa ketupat Singaparna sudah melekat juga di lidah saya.

Di Cianjur ini ketupat Singaparna langganan kami ya yang ada di depan alun-alun Cianjur. Ada banyak sebenarnya cabang ketupat Singaparna ini. Termasuk penjual ketupat Singaparna terdekat dari rumah yaitu di depan Jalan H. Soheh, Batas Sukataris Karangtengah. Tapi sesekali saja kami makan di sana. Seringnya ya di depan alun-alun Cianjur ini.

Bagi muslim di Indonesia, ketupat merupakan makanan khas ketika lebaran. Dapat informasi dari berbagai sumber, ketupat berasal dari kata "kupat" yang memiliki dua arti, pertama yaitu ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan kedua laku papat (empat tindakan).

Setiap buat ketupat lebaran, saya selalu berusaha untuk menyamai ketupat Singaparna ini. Maksudnya bukan penyajiannya, melainkan mengolah ketupatnya. Sehingga hasilnya lembut, harum dan memiliki rasa khas.

Isian beras pada ketupat memiliki lambang sebagai hawa nafsu. Sedangkan, janur alias daun kelapa muda sebagai kulit ketupat berasal dari kata jatining nur yang berarti cahaya sejati (hati nurani). Sehingga kata sesepuh, ketupat itu melambangkan manusia yang menahan nafsu dengan mengikuti hati nuraninya.

Sejarah Ketupat Nusantara

Ketupat sudah dikenal sejak jaman Kerajaan Demak, yaitu pada abad ke-15. Seorang ahli sejarah dari Belanda, Hermanus Johannes de Graaf, dalam bukunya yang berjudul Malay Annual, menerangkan jika ketupat pertama kali muncul di daerah jawa, tepatnya ketika kepemimpinan Kerajaan Demak.

Jadi kala itu, adalah Sunan Kalijaga yang memperkenalkan ketupat pertama kali dalam rangka untuk berdakwah menyebarkan agama Islam ke Tanah Jawa yang notabene “sulit di-Islamkan” karena masyarakat Jawa sudah punya sistem kepercayaan sendiri yang dikenal sebagai Kejawen.

Kemunculan ketupat tersebut merupakan bagian dari penyebaran agama Islam yang dibawa oleh Sunan Kalijaga.

Ketupat digunakan untuk melakukan pendekatan dakwah dalam sistem budaya. Karena, ketupat dipercaya dapat menjadi alat yang lebih familiar bagi masyarakat Jawa yang kental pada saat itu.

Hingga, ketika agama Islam mulai diterima secara luas, ketupat akhirnya melekat sebagai hidangan yang khas saat perayaan Islam, tepatnya saat perayaan Idulfitri.

Ketupat Singaparna, legend nya ketupat depan alun-alun Cianjur

Terdapat beberapa macam jenis ketupat sesuai bentuk, bahan baku, dan jenis pembungkusnya.

Ada Ketupat Pulut dari Medan. Ketupat pulut adalah ketupat yang terbuat dari beras ketan. Biasanya dimakan dengan lauk rendang atau gulai kambing.

Lalu Ketupat Kapau sebagai ikon Kota Pekanbaru, Riau. Penggunaan daun kapau tersebut diyakini dapat membuat ketupat bertahan lebih lama.

Ketupat Palas adalah ketupat yang dibuat dari daun palas atau daun lontar muda. Ketupat ini juga dibuat menggunakan beras ketan, dihidangkan bersama rendang dan aneka kari.

Ada Ketupat Landan berasal dari Banjarnegara. Untuk memasak ketupat landan biasanya menggunakan air rendaman abu pelepah kelapa.

Ketupat Pandan sesuai namanya ketupat ini dibuat dari daun pandan, daun pandan yang digunakan adalah daun yang berukuran besar dan memiliki duri. Bukan pandan kecil untuk pewangi atau pewarna alami bahan makanan ya.

Ini penampakan ketupat Singaparna

Terus ketupat yang saya buat masuknya ke jenis ketupat mana ya? Secara cangkangnya terbuat dari daun kelapa muda, bikinnya juga mengikuti tradisi turun temurun sesepuh dan nenek moyang leluhur.

Tak bosan-bosannya makan ketupat meski di rumah sudah berhari-hari makan ketupat juga

Cara Bikin Ketupat

Untuk membuat ketupat Singaparna, bahan-bahan yang perlu disiapkan antara lain:

  • Kulit ketupat siap pakai
  • Beras secukupnya
  • Air
  • Air kapur
  • Garam

Untuk membuat ketupat, berikut langkah-langkah yang biasa saya lakukan:

  • Cuci beras hingga bersih, lalu tiriskan.
  • Masukkan satu sendok air kapur dan garam secukupnya, diamkan supaya meresap.
  • Siapkan kulit ketupat, lalu masukkan beras sebanyak setengah bagian dari kulit ketupat.
  • Setelah terisi, ikat ketupat dengan rapat agar tidak bocor ketika direbus nanti.
  • Panaskan air dalam panci, rebus ketupat selama 15 menit dulu. Lalu matikan kompor dan diamkan ketupat dalam panci yang masih tertutup selama 30 menit.
  • Selanjutnya, panaskan kembali ketupat selama 15 menit dengan api besar. Setelah matang, angkat ketupat, tunggu hingga dingin dan memadat.
  • Ketupat pun siap disajikan bersama dengan berbagai hidangan khas lebaran.

Rasanya yang kenyal di mulut tapi lembut dan terasa memiliki rasa di lidah pasti bakal ketagihan. Seperti Fahmi putra saya, yang sudah habis ketupat di rumah, jajan ketupat Singaparna kemudian.

Read more ...

Kamis, 20 April 2023

Menutup Aib Tetangga Rese

Sedang menunggu waktu isya di masjid Yonif Raider 300 ada pesan masuk dari kakak ipar, mengatakan kalau tetangga depan rumah mencari. Katanya paralon air mereka patah, dan menuduh kami, yang tinggal di belakang sebagai pelakunya. Bahkan katanya akan dirundingkan dengan RT setempat.

Segera saya informasikan kepada suami. Karena kami tidak merasa, suami menyanggupi untuk menemui mereka setelah isya.

Saat di jalan pulang, jujur saya gak bisa diam. Mulut ini terus ngomel saking ga bisa menahan amarah pada tetangga itu. Kok bisa paralon airnya rusak, langsung menuduh kami pelakunya? Pakai gaya mau merundingkannya dengan aparat setempat pula. Dia pikir dia gak ada salah apa pada kami tetangga belakang rumahnya? Selama ini kami diam saja dizalimi mereka, bukan berarti kami gak mampu melawan.

“Sudah Bu, jangan diungkit kesalahan mereka. Yang akan kita hadapi ini soal paralon air nya yang rusak saja. Soal lainnya tidak usah diumbar. Ingat jaga aib orang, semoga aib kita juga dijaga oleh Allah...” suami tak henti-hentinya dengan sabar menasihati saya.

Saya yang kesal bukan main akhirnya merasa bahwa yang dikatakan suami benar juga. Ketika dituduh melakukan sesuatu tapi kita tidak merasa, cukup katakan kami tidak melakukan seperti yang dituduhkan. Itu saja. Tidak usah berniat membongkar keburukan dan kesalahan mereka kepada kami. Meski selama ini banyak ulah tetangga yang sangat menyakiti kami. Tetapi tugas kita tetap harus bisa menjaga dan menutup aibnya.

“Ayah, Ibu, aib itu apa?” putra semata wayang kami bertanya tiba-tiba.

Eh, apa sih aib itu?

Aib bisa diartikan sebagai melakukan sesuatu yang cenderung ditutup-tutupi, atau sesuatu yang akan membuat malu yang bersangkutan jika diketahui orang lain.

Perselingkuhan, perzinahan, cacat pribadi, masa lalu yang buruk, itu adalah sedikit contoh-contoh aib.

Lalu apa yang dimaksud dengan menutup aib?

Seandainya kita mengetahui aib seseorang, cukup sampai pada kita saja, jangan sampai diberitahukan lagi kepada orang lain.

Bagi Muslim, menutup aib sesama ini ada perintahnya. Jika kita melihat aib yang ada pada diri orang lain, jangan sampai kita merendahkan dan menyebarkan aib itu. Sebab, kalau kita melakukannya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun bisa dengan mudahnya akan membuka aib kita di dunia dan di akhirat. Nauzubillah...

Mengapa kita harus menutup aib?

Sesuai dengan ajaran Rasulullah

“Barang siapa menutupi aib seorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat” (HR Muslim).

Menutup aib orang lain tidak hanya memiliki keutamaan akan menutup aib kita di dunia dan akhirat, tapi juga seperti menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup. Memunculkan kehidupan baru dari seseorang yang sudah berniat bertaubat.

Apakah aib sendiri harus ditutupi?

Ya, setelah kita bertaubat dengan sungguh-sungguh, Islam menganjurkan umatnya untuk menutupi aib tersebut. Tidak hanya aib pribadi, aib saudara sesama Muslim juga harus ditutupi dengan baik.

Lalu bagaimana jika aib sendiri diumbar oleh orang lain?

Tidak usah risau. Kalau kita sudah benar-benar bertaubat dan menyadari kesalahan sepenuhnya, kita pasrahkan semuanya kepada Tuhan YME. Seandainya ada orang yang resek menyebarkan informasi tentang aib kita, lakukan hal berikut ini saja:

  • Balas dengan senyum dan doa. Semoga orang yang membuka dan menyebarkan aib kita segera mendapatkan kesadaran bahwa hal itu bagi Muslim sangat dilarang.
  • Kalau tidak sengaja berjumpa dengan orang yang membongkar aib kita, ucapkan saja terimakasih. Karena sesungguhnya jika kita sudah bertaubat dan aib kita diumbar orang, kesalahan kita di masa lalu sudah dihapuskan oleh sikap dan perbuatannya itu. Wallahu alam....
  • Kita segera fokus lagi pada taubat kita. Segera perbaiki diri khusus mengenai aib yang telah terlanjur diumbar orang lain itu
  • Jadikan pelajaran sehingga kita pun jangan sekali-kali membuka aib orang dan apalagi mengumbar kepada orang lain.

Wallahu alam, semoga bermanfaat

Read more ...

Minggu, 16 April 2023

Menu Favorit Keluarga Bringka Saat Puasa

Mendampingi anak belajar berpuasa itu godaannya berat sekali. Anak mau apa berusaha untuk dipenuhi supaya happy sehingga diharapkan bisa berpuasa dengan keikhlasan hati. Tak mau apa-apa pun dibujuk agar bisa setuju dan menyanggupi. Ya, tarik ulur gitu deh prinsipnya.

Jujur, andai tidak ada anak, tak akan seribet itu khususnya dalam mempersiapkan makanan untuk berbuka maupun untuk sahur. Ya jika saya sendiri, atau saya dan suami saja, gak harus menyediakan ini itu, apa pun bisa kami jadikan menu kesukaan yang penting bisa mengganjal perut.

Tapi dengan anak, diturut mau apa repot jadinya. Tidak dituruti, takut imbas ke puasanya gak bisa maksimal. Cukup menantang, bukan?

Tapi setelah melewati lima kali Ramadan, anak kami tak serewel dulu lagi, saat pertama kali dia belajar berpuasa. Baik dalam soal makanan, kebiasaan maupun aktivitas sekarang ini Alhamdulillah anak sudah bisa belajar disiplin dan inisiatif.

Tapi satu yang wajib kami lakukan selama Ramadan untuk bisa membahagiakan hati dan perasaan anak, yaitu acara ngabuburit. Mau hujan mau panas, jalan-jalan sore untuk mempersingkat waktu menunggu bedug magrib itu harus kami lakukan. Kalau tidak, anak merajuk dan merenggut untuk sekian lama. Kan kasihan juga jadinya...

Mau tidak mau setelah mengaji sore bada ashar, kami selalu mengutamakan mengajak anak untuk ngabuburit lebih dahulu. Kebetulan untuk persiapan menu berbuka, anak dan suami memang tidak rewel lagi.

Mungkin karena saya sudah tahu apa makanan kesukaan mereka jadi sejak siang sudah mulai sat set sat set mempersiapkannya. Pun karena yang disiapkan hanya olahan sederhana, jadinya menyiapkannya pun tak pakai lama juga.

Menu Favorit Berbuka Keluarga Bringka

Entah mental gak kreatif dalam mengolah makanan, atau lidah kami terlalu standar sehingga tidak menginginkan cita rasa yang luar biasa, atau memang karena kondisi serba pas-pasan sehingga menu sederhana apapun selalu kami santap tak bersisa. Tak ada bosannya, daripada tidak ada sama sekali?

Jadilah selama Ramadan makanan favorit kami bisa dibilang itu-itu saja, sederhana dan mudah dibuat atau didapat. Apa saja makanan favorit kami itu?

Gorengan

Ya, gorengan menempati posisi pertama makanan berbuka yang jadi kesukaan kami karena kami bertiga di rumah sangat doyan gorengan.

Mau bikin atau beli, gorengan ini cukup mudah dibuat dan didapatkan. Harga pun sangat terjangkau. Di tempat saya masih dijual seribu rupiah per buah nya. Mau itu bakwan, karoket, goreng pisang, tahu isi, tempe kriuk pastel, dan lainnya.

Kolak

Sebagai makanan mengandung gula yang dipercaya bisa menambah tenaga selama menjalankan puasa, kolak tidak pernah absen dari meja makan.

Tak banyak macam pula karena menurut kami terlalu banyak bahan malah bikin bias rasa kolak itu sendiri. Biasanya saya membuat kolak berbahan satu macam olahan saja. Seperti kolak pisang, kolak ubi, kolak kolang-kaling. Itu saja, secara tiga bahan itu bisa kami dapat dan ambil dari kebun sendiri.

Es Timun Suri

Biasanya saya buat untuk minuman setelah tarawih. Bahannya sederhana. Mentimun suri yang sudah matang beli di pasar, gula putih yang sudah dicairkan, kental manis, dan biji selasih.

Paling kalau sedang ada rezeki kami beli buah naga sebagai tambahan. Warna es timunnya akan berubah makin cantik karena merah buah naga. Campur kental manis, merahnya jadi memudar, tapi legitnya tak berubah.

Es jeruk

Saat awal Ramadan membuat es jeruk tapi semakin lama kami kena flu berjamaah akhirnya es jeruk saya ganti jadi jeruk hangat.

Jeruk peras sekali beli setengah kg harga enam ribu. Itu cukup untuk seminggu. Gak beli banyak sekaligus karena rentan busuk.

Es kelapa

Sebenarnya tidak sesering membuat minuman es timun, es jeruk atau kolak. Kami buat es kelapa kalau kelapa hijau di halaman ada yang pas untuk dipetik saja.

Itupun hanya meminum airnya, lalu mengerok daging kelapanya kalau sudah ada. Tanpa dikasih pemanis buatan lagi. Jadi ya tepatnya minum air kelapa muda saja.

Nah, jadi memang semua makanan favorit berbuka kami sangat sederhana dan mudah didapat atau dibuat bukan? Bagaimana untuk makan besarnya?

Saya sempat mendapatkan informasi dari sumber bacaan, jika salah satu cara agar anak semangat belajar berpuasa adalah dengan membuatkan menu buka atau menu makan saat puasa yang lezat.

Tapi karena keterbatasan kami, kan bingung juga, yang lezat itu yang bagaimana? Bukankah lezat ini relatif?

Bisa saja orang menganggap rendang itu lezat. Tapi anak kami tidak suka makan daging, alih-alih bilang lezat, yang ada ditawarkan pun sudah menggelengkan kepalanya lebih dahulu.

Anak saya memang agak susah makan sumber protein hewani. Tapi kalau makan sayur justru tidak diragukan lagi. Karena itu hampir selama bulan puasa, panci sayur selalu tak pernah kosong.

Menu Makan Puasa untuk Anak

Sayur Asam

Bahan yang saya campurkan tak jauh dari labu siam, terong ungu, kacang panjang, jagung, daun tangkil dan buahnya. Itu saja semua sudah bisa dimakan habis karena anak justru menyukainya. Kecuali buah tangkilnya yang memang sudah dikupas dan rasanya pahit.

Sayur SOP

Pada dasarnya suka sayur, jadi sayur sop pun tak banyak drama selalu habis disantap anak dan suami. Apalagi saat makan sahur, dengan adanya kuah makan jadi lebih cepat dibanding nasi kering di piring.

Soup jagung dan soup jamur

Kedua sup ini sebenarnya sup instan dimana saya beli sachet-an di minimarket. Tidak sering pula dibuat karena hanya jaga-jaga persediaan incase anak mulai rese dan bosan dengan makanan yang sudah ada.

Perkedel kentang

Meski rada ribet, demi anak saya luangkan waktu untuk membuatnya. Jika tidak bisa, beli jadi, anak pun tetap menyukainya. Biasanya beli di warung nasi Padang pada sore hari jelang berbuka.

Ayam goreng

Sepertinya terinspirasi dari Upin Ipin sehingga yang awalnya tak suka makan daging ayam, anak mulai mengangguk saat ditawari makan dengan lauk ayam goreng. Sayangnya, makan daging ayam yang putihnya saja. Jika ada kecoklatan udah deh ga mau lanjut makannya.

Tahu dan Tempe

Alternatif makanan sekaligus camilan yang murah meriah tapi banyak gizinya. Paling simpel cukup digoreng garing. Tapi sesekali saya buat pepes, tempe orek, dan atau digoreng balut tepung.

Alhamdulillah sih ya, sekarang puasa selesai sudah. Berteman makanan favorit yang sangat sederhana dan belum tentu lezat di lidah orang ternyata kami bisa menjalankan Ramadan semuanya dengan baik-baik saja.

Read more ...

Sabtu, 15 April 2023

Rahasia Tetap Bahagia Meski Lebaran Tanpa THR

Ramadan kali ini pertama kalinya saya tidak mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya), pasca kena PHK bulan April 2022 lalu.

Sedih? Adalah, sedikit. Lebih banyaknya tetap semangat untuk menjalani kehidupan. Toh Ramadan baik dengan THR maupun tanpa THR, buat saya tidak berpengaruh banyak juga. Tidak mendapatkan THR untuk hari raya, bukan berarti lebarannya dibatalkan, bukan? THR hanya sejumlah uang tambahan selain gaji yang diberikan pada pekerja setahun sekali. Dan itu sangat membantu untuk mencukupi kebutuhan yang ada saat lebaran. Meski saya akui, tanpa THR ada perubahan gaya hidup yang harus saya sesuaikan.

Jadi, bagaimana saya menghadapi lebaran tanpa THR kali ini?

THR jadi salah satu hal yang paling dinantikan saat akan Lebaran. Karena tentu saja dengan pemasukan tambahan di luar gajian, kita dapat membeli kebutuhan-kebutuhan pangan dan sandang untuk menyambut Lebaran.

Lebaran juga jadi momen yang tepat untuk merayakan kebahagiaan bersama keluarga dan sanak saudara. Senang pastinya bisa berbagi hongpao lebaran untuk anak-anak kecil, adik dan keponakan, bahkan orang tua.

Bagaimana dengan saya yang tak mendapatkan THR apakah bisa memenuhi kebutuhan pangan dan sandang menjelang Lebaran? Bagaimana solusinya?

Saat kena PHK, saya sudah memikirkan kalau tahun depan tidak akan mendapatkan THR. Saya sempat mendengar informasi dari pakar keuangan, bagaimana cara tetap produktif menghadapi lebaran meski tanpa THR. Nah, saya ikuti saran pakar keuangan tersebut.

Meski tidak punya THR kita masih bisa merayakan lebaran dengan meriah dan asyik.

Caranya:

Menabung khusus untuk uang THR sendiri dari jauh-jauh hari

Bisa dengan cara menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk disimpan dengan berbagai cara seperti tabungan khusus, investasi emas, atau dimasukkan ke dalam celengan di rumah, sesuai keinginan saja.

Jujur buat saya yang tak menerima THR butuh tenaga ekstra serta perencanaan yang panjang supaya bisa memenuhi semua kebutuhan saat lebaran. Saya harus menyisihkan penghasilan recehan saya sejak jauh-jauh hari. Nabung ketat gitu deh, tepatnya.

Memang mau tidak mau saya harus menyiapkan THR sendiri. Jadi pas tahu nih lebaran kan adanya setahun sekali, jatuh pada bulan April. Sebelas bulan sebelumnya, saya sudah menyisihkan setiap penghasilan recehan yang saya dapat, minimal sepuluh persen, untuk dana THR.

Saya yang mengumpulkan, nanti saya sendiri yang akan menerima. Kalau tidak konsisten, risiko THR juga hangus. Gitu prinsipnya. Jadi jelas saya begitu konsisten dan berusaha disiplin dong.

Kabar menariknya, jika lebaran datang dan saya berhasil konsisten dengan tabungan untuk THR ini, yang seharusnya saya tidak mendapatkan THR, justru akan mengantongi uang sebesar dua kali lipat dari pendapatan per bulan. Wow...

Jadi mirip dengan para pegawai yang menerima THR saja, bukan? Ya meski sudah tak menerima THR dari perusahaan, tapi karena ada dana (hasil tabungan ketat selama sebelas bulan sebelumnya) akhirnya saya bisa memenuhi kebutuhan pangan dan sandang yang akan melambung menjelang Lebaran.

Jadi rumusnya sisihkan sepuluh persen dari pendapatan sampingan selama ini supaya punya THR sendiri senilai besaran yang kita inginkan untuk menyambut lebaran.

Karena itu yang tidak bekerja karena PHK, disarankan segera mencari pekerjaan sampingan. Freelance atau apapun. Apalagi saat ini marketplace online di negara kita sedang buming. Jadi reseller yang tidak memerlukan modal awal, bisa jadi pilihan.

Saya sendiri memilih dunia blog dan influencer sebagai usaha saya saat ini. Meski blog berisi curhatan emak-emak, plus folower media sosial juga masih ecek-ecek, tapi Alhamdulillah jika diseriusi meski fee nya recehan, pas lebaran bisa ngumpul jadi jutaan. Alhamdulillah...

Kalau manteman punya passion bikin kuliner, bisa banget menjadikan blog dan media sosial sebagai lapak untuk berjualan sendiri. Tapi ingat ya, apapun bisnisnya, usaha yang dibangun mesti direncanakan dengan sebaik mungkin supaya keuntungan yang diperoleh terbilang besar.

Memanfaatkan dana lebih

Misalnya menyisihkan sebagian dari uang belanja. Kalau rutin dikumpulkan bisa jadi tabungan yang lumayan. Apalagi kalau banyak pos pengeluaran yang bisa dihemat seperti dari perbaikan kendaraan, renovasi rumah, belanja, dan sebagainya.

Tidak ada sumber dana, berhematlah!

Mau tidak mau, kalau sama sekali tidak punya penghasilan atau pengeluaran yang bisa disisihkan, ya solusinya harus berhemat ekstra ketat.

Kita bisa kok menunda kebutuhan lebaran yang besar. Baju baru anak tak usah bersetel-setel, satu setel saja sudah bagus. Yang penting utamakan kewajiban menjelang lebaran aja, seperti membayar zakat dan sedekah. Lalu pilih menu makanan yang simple dan sederhana untuk lebaran. Fokus untuk memenuhi kebutuhan bulan berikutnya.

Tips Lebaran Tanpa THR, Berhemat tapi Tetap Bahagia

Tanpa THR, bukan berarti kita tidak bisa merayakan hari raya dengan maksimal. Kita masih bisa menyiasatinya dengan berhemat terhadap pengeluaran-pengeluaran yang bukan utama. Buatlah anggaran THR sendiri, yang sesuai keperluan. Hindari pengeluaran yang bisa ditunda, agar masih bisa fokus untuk memenuhi kebutuhan di bulan berikutnya, setelah lebaran usai. Merayakan lebaran dengan suka cita bersama keluarga secara sederhana bukan sebuah kehinaan kok.

Jadi meski tanpa THR karena bukan lagi pegawai, kita tetap bisa punya usaha sampingan yang juga menghasilkan dari penghasilan yang kita kumpulkan dari bisnis sampingan. Sekarang orang berbisnis sudah sangat mudah. Bisa punya toko tanpa harus punya ruko. Bisa punya lapak tanpa harus membayar lapak. Menjual barang semakin mudah. Kita (yang tak menerima THR) bisa menggunakan itu untuk cara mengumpulkan THR secara mandiri.

Jadi mana nih team yang seperti saya lebaran nya tetap asyik meski tanpa THR? Mari unjuk semangat dan saling menguatkan dimari...

Yup! Akhirnya THR sudah ditunaikan. Kini saatnya mengumpulkan kembali recehan untuk Ramadan tahun depan...

Read more ...

Kamis, 13 April 2023

Safari Tarawih

Gara-gara sakit serumah-rumah, berobat ke sana ke mari, bulan puasa tahun ini jadi banyak melakukan perjalanan antara satu tempat ke tempat lain. Walau masih di daerah Kabupaten Cianjur, tapi karena jarak lumayan jauh dan kondisi jalan masih jauh dari kata bagus, perjalanan terasa makin melelahkan. Gak bisa pulang pergi dadakan. Akhirnya harus istirahat dan menginap.

Alhamdulillah sih kalau puasa kami, saya suami dan anak, tidak terganggu insyaallah. Begitu juga dengan solat tarawih, berhasil kami tunaikan. Tapi tentu saja kalau karena sedang halangan saya absen untuk semua itu.

Karena beberapa kali bepergian itu, kami jadi mengalami melakukan solat tarawih di beberapa masjid yang berbeda.

Untuk solat tarawih lebih afdol kalau berjamaah jadi kami memilih berangkat ke masjid meski masih asing di kampung orang. Tidak seperti solat wajib lima rakaat hari biasa, di rumah pun kami bertiga masih bisa berjamaah. Tapi kalau solat tarawih hanya bertiga, walau sudah termasuk berjamaah tapi rasanya gak semangat saja. Hehe...

Jadinya solat tarawih yang kami lakukan di beberapa tempat ini memiliki kesan, dan masing-masing memiliki cerita yang saat pulang, menjadi bahan diskusi antara saya, suami dan anak.

Masjid Az Zafar Sindangkerta Pagelaran

Jika di kampung sendiri, kami biasa solat tarawih di Masjid Az Zafar yang lokasinya berada di samping rumah. Karena dekat maka kami lebih santai menunggu suara adzan, baru berangkat. Kadang karena saya kebagian beberes dapur, cek makanan, dan kunci pintu akhirnya saya terakhir berangkat dan sering masbuk untuk solat isya.

Beda lagi ketika kami mengerjakan solat tarawih di beberapa tempat yang kami singgahi berikut

Masjid Agung Cianjur

Saya dan suami beserta anak sudah di lokasi sejak sore hari. Sengaja ngabuburit di alun-alun yang berjarak dari rumah kami sekitar lima km untuk menyemangati Fahmi putra kami yang tetap bersikeras ingin puasanya jangan sampai bocor. Dengan ngabuburit di alun-alun, Fahmi bisa terlihat lebih ceria dan bersemangat.

Waktu jelang magrib, kami mendapatkan menu untuk berbuka secara gratis. Alhamdulillah tidak harus rebutan karena kami sudah duduk tertib sejak awal. Mereka di luar masjid itu sampai rebutan nasi kotak lho...

Setelah berbuka langsung solat magrib dan makan di tempat makan terdekat masjid agung yang jadi favorit anak. Sekarang tidak susah karena depan masjid agung Cianjur sudah ada MC Donald. Pasar malam dan pedagang asongan juga pedagang kali lima pun banyak berjejer di sekitar masjid.

Tak lama makan di sana karena berburu isya untuk bisa tarawih bersama. Saya terpisah dengan suami dan anak. Meski tetap satu ruangan hanya terpisah kain gorden untuk penghalang dan pembatas.

Solat tarawih di masjid agung Cianjur 20 rakaat dengan bacaan Qur’an Surat akumulatif sebanyak 1 juz. Tentu saja buat saya yang tidak terbiasa merasa ini solat terlama yang diikuti. Hihihi, secara selama ini di kampung, bacaan Qur’an Surat-nya hanya surat yang pendek-pendek saja. Mulai At Takasur ke bawah. Makanya ngarumas ketika pertama kali ikut solat tarawih di kaum Cianjur dan pertama kali juga tau kalau solatnya bisa selama itu...

Masjid Al Asykar Yonif Raider 300

Rumah kami berada di dekat markas TNI AD Yonif Raider 300 Brawijaya. Kali ini kami mencoba solat tarawih di masjid yang terkenal nyaman dan ramah terhadap para musafir. Kami menyebutnya masjid Raider.

Setelah solat magrib dari rumah kami berangkat ke masjid Raider yang berjarak sekitar 1km. Lokasinya yang strategis dan ramah pengunjung, menjadikan masjid ini tak hanya bagi para TNI dan keluarganya, melainkan juga masyarakat umum sipil lainnya juga selalu memenuhi.

Tarawih di masjid Raider sebanyak delapan rakaat. Qur’an Surat yang dibaca rata-rata surat dalam juz 30.

Setelah selesai tarawih dilanjutkan dengan kultum (ceramah tujuh menit) kemudian kembali dilanjut tiga rakaat solat witir.

Sepulang tarawih saya dan suami berdiskusi diamini oleh Fahmi yang cukup kritis dan banyak bertanya. Bagi Fahmi itu pertama kali ia mengikuti dan tahu kalau solat tarawih ada yang delapan rakaat saja (sebelas dengan witir)

Bahasan Sederhana Perbedaan Rakaat Tarawih

Suami berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sederhana. Bahwasanya di Indonesia ada dua perbedaan jumlah rakaat solat tarawih. Berharap anak tidak mempermasalahkan itu setelah mengetahuinya.

Organisasi keagamaan Muhammadiyah meyakini bahwa sholat Tarawih memiliki 11 rakaat. Hal itu disebabkan karena baik sholat tarawih atau qiyamu ramadhan, sholat tahajud, sholat witir, dan qiyamul lail adalah sama.

Yang harus anak ketahui, bahwasanya solat tarawih ini salah satu perintah yang disunnahkan untuk dilakukan oleh umat Islam ketika bulan Ramadan. Jadi saat ada perbedaan, seharusnya tidak menjadikan masalah. Karena berbeda berdasarkan sumber dalil masing-masing sama-sama kuat.

Yang harus kita permasalahan dan waspadai adalah mereka yang ngaku berpuasa tapi tidak melakukan solat wajib lima waktu. Ini contoh nyata di pengajian yang kami kelola saja. Ada banyak anak-anak yang bertahan puasa sampai lemas sekalipun. Tapi ia tidak solat subuh karena setelah sahur langsung tidur lagi. Tidak solat ashar karena lebih mendahulukan acara ngabuburit. Sangat disayangkan bukan? Padahal dalam Islam, amalan yang pertama kali dihisab adalah solat wajib lima waktunya lebih dahulu. Baru diikuti ibadah dan kebaikan lainnya.

Wallahu alam...

Read more ...

Minggu, 09 April 2023

Merindu Berburu Takjil

Selalu saya dan suami tekankan kepada anak didik mengaji, di Pondok Mengaji Al Hidayah yang kami kelola, bahwa takjil itu sebenarnya adalah bahasa Arab, yang artinya menyegerakan. Dalam arti setelah masuk waktu berbuka puasa, segerakan untuk membatalkan puasa, bisa dengan minum, atau makan sesuatu.

Arti dari kata takjil Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disebutkan kalau takjil berarti mempercepat dalam berbuka puasa.

Waktu berbuka puasa itu sendiri, masih dalam bahasa Arab istilahnya adalah iftar.

Jadi saya dan suami berharap agar anak-anak dapat memahami bahwa iftar dan takjil adalah dua istilah dari bahasa Arab yang sejatinya memiliki makna kata yang berbeda. Iftar adalah berbuka puasa, sementara takjil adalah menyegerakan buka puasa.

Namun seperti kita ketahui saat ini, orang Indonesia jadi memiliki salah persepsi. Kata takjil jadi diartikan sebagai makanan, tepatnya makanan untuk berbuka puasa.

Karena itu, berbagi takjil juga jadi salah satu tradisi khas di bulan Ramadan yang mudah dijumpai di Indonesia. Tujuan berbagi takjil adalah agar semua umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa dapat segera berbuka.

Makanan dan minuman takjil umumnya dibagikan di tepi jalan atau disediakan di masjid secara gratis. Karena itu salah satu yang saya rindukan dari Ramadan, adalah keseruan saat berburu takjil. Alias berburu makanan (gratis) untuk berbuka.

Masih ingat saja saya dan teman-teman satu kampung, kalau sore, ngabuburit itu berkeliling dari satu surau ke surau lain. Dari satu rumah orang kaya di jalan raya sana, ke rumah orang kaya lainnya, atau datang ke tempat rumah-rumah di daerah perumahan elite sana, demi mendapatkan pembagian takjil gratis.

Setelah dapat lalu kami kumpulkan. Kalau ada teman yang belum dapat pembagian dari satu tempat, segera kita kasih tahu dan yang bersangkutan terbirit-birit menuju lokasi. Kadang dapat kadang tidak karena sudah kehabisan. Kalau tidak dapat biasanya kami sorakin. Saling mengolok, tanda dia kalah berburu. Tapi itu gak jadi masalah. Gak jadi sakit hati. Namanya juga masih anak-anak. Seru aja malah dibuatnya.

Sejak kecil saya juga sudah diajarkan dan diberi tahu oleh guru mengaji kalau arti takjil dalam Islam adalah perintah untuk menyegerakan berbuka puasa. Tapi kami yang masih kecil sudah menganggap kalau takjil itu makanan untuk berbuka, mengikuti pemahaman orang dewasa.

Jadi tidak heran ya kalau dalam perkembangannya, masyarakat Indonesia kerap mengartikan kata takjil sebagai makanan untuk berbuka puasa. Takjil mengalami perluasan makna, di mana tidak sedikit yang memahaminya sebagai makanan dan minuman untuk berbuka, seperti gorengan, es blewah, bahkan kurma.

Kembali ke kenangan berburu takjil. Setelah sebentar lagi magrib berkumandang, kami segera pulang dan mempersiapkan diri berbuka puasa. Menu takjil yang bermacam-macam itu dipilih kira-kira mana yang terenak dan terunik. Itu yang dimakan duluan.

Biasanya menu takjil yang didapat tak jauh dari makanan manis-manis atau gorengan. Kolak pisang, kolak kolang-kaling, dawet, cendol, dan gorengan kampung seperti bakwan, tahu isi dan goreng pisang. Jaman saya kecil belum ada jenis minuman kekinian seperti boba atau es buah.

Anehnya, setelah makan atau minum salah satu minuman manis atau makanan takjil itu, rasa kenyang langsung terasa. Tidak meneruskan makan takjil lainnya, karena harus makan nasi sebagai makanan pokok. Kalau tidak makan nasi, bapak ibu bisa marah besar. Takut tidak kuat berpuasa keesokan harinya. Dan saya juga adik, sangat takut kalau bapak sama ibu sudah marah.

Akhirnya menu takjil sekian banyak dari beberapa tempat itu dibiarkan saja. Kalau perut masih kosong, biasa habis solat tarawih kembali dimakan. Kalau tidak, entah kemana atau dimakan siapa karena biasanya langsung tidur dan makanan hasil berburu takjil itu dibereskan ibu.

Tapi besoknya berburu takjil bersama teman-teman sebaya satu kampung masih tetap kami lakukan. Seru saja sensasinya berebutan makanan takjil bersaing dengan teman. Toh kalau suka atau tidaknya, dimakan habis tidaknya, itu urusan belakangan.

Jadi sensasi berburu takjil nya yang sangat menyenangkan buat kami saat itu, dan sampai sekarang selalu terkenang. Rindu kebersamaan dan kekompakan dengan teman-teman satu kampung lainnya.

Berburu takjil ini jadi kenangan terindah saat Ramadan masa kecil saya. Selain bisa punya baju baru dan dapat uang jajan lebih. Sekarang udah dewasa, jangankan bisa berburu takjil seperti dulu, yang ada malah malu dan saat Ramadan justru enggak kemana-mana.

Read more ...

Sabtu, 08 April 2023

Belanja Hemat Jelang Lebaran

Belanja Hemat Jelang Lebaran

Setelah tafaruqan (perpisahan pengajian) di pondok mengaji Al Hidayah yang kami kelola, Fahmi laporan kalau tisu di tempat mengaji itu habis semuanya. Mungkin saat anak-anak makan bersama banyak yang belepotan dan sebagainya sehingga menggunakan tisu lebih banyak daripada biasanya.

Saya mengatakan akan segera membelinya. Tapi tidak terburu-buru juga, toh pengajian nya juga akan libur sampai selesai lebaran ketupat, istilah untuk waktu dimana berbuka setelah menyelesaikan enam hari puasa Syawal.

Tapi karena Fahmi sehari-hari tadarus dan membaca di tempat mengaji itu, dan ia mungkin membutuhkan tisu, sehingga beberapa kali ia melapor lagi, sambil bertanya, “Ibu tahu tisu di tempat ngaji habis? Tapi kenapa ibu belum membelinya juga?”

Iya juga sih. Saya tahu, tapi tidak segerakan membelinya. Karena saya pikir pedagang lokal langganan belanja kebutuhan rumah tangga di pasar mendekati lebaran pada tutup. Paling buka tiga hari setelah lebaran. Dan saat itu saya berencana baru akan membeli tisunya.

Saat ngabuburit dan lewat minimarket, Fahmi mengingatkan untuk beli tisu di sana. Tapi saya keukeuh menggelengkan kepala. Apalagi setelah melihat harga yang dibanderolnya, satu tisu seharga 15.900. Sementara tisu yang sama bisa saya dapat di pasar dengan harga 12.500. Harganya lumayan jauh beda, bukan? Apalagi saya berniat membeli tiga buah tisu, jadi selisihnya bisa sampai sepuluh ribu rupiah!

Buat orang kaya macam kalian, sepuluh ribu itu nilainya mungkin sangat kecil. Tapi bagi saya, sungguh sangat besar. Apalagi ada amanah titipan dari donatur di dalamnya. Sebisa mungkin saya harus bisa menggunakan uang yang ada sehemat dan bermanfaat semaksimal mungkin.

Fahmi baru paham setelah saya jelaskan lebih detail dengan kalimat sederhana. Intinya tinggal sabar menunggu waktu. Jika urgent memerlukan tisu di tempat ngaji toh masih bisa ambil dulu tisu dari rumah.

Di Pasar Tradisional Kecamatan Pagelaran, ada penjual kebutuhan rumah tangga langganan namanya Mang Edi. Kalau belanja di sana, selain bisa mendapatkan harga yang lebih murah, juga bisa sama-sama mengangkat perekonomian pedagang lokal. Disamping bisa silaturahmi dan bercerita bebas, dengan sesama pelanggan lainnya.

Saya masih memberikan pemahaman kepada anak, kenapa masih bertahan belanja di pasar tradisional dan pedagang lokal? Padahal kita tahu belakangan ini, pasar tradisional mulai tersingkirkan keberadaan nya akibat makin banyaknya bermunculan minimarket. Nggak heran, keberadaan pasar tradisional mulai dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Sebagaimana definisinya, pengertian pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual lokal dengan pembeli untuk mengadakan suatu transaksi disertai tawar menawar sehingga tercapai kesepakatan harga.

Tuh kan padahal belanja di pasar tradisional banyak keuntungannya. Kita bisa tawar menawar, produknya lebih segar, atau kualitas barang sama baiknya karena berasal dari produsen yang sama, dan kita juga bisa berinteraksi secara langsung alias silaturahmi dengan para pedagang lokal itu.

Sebenarnya banyak lagi keuntungan yang bisa kita dapat kalau belanja di pasar tradisional.

1. Bisa tawar menawar

2. Lebih lengkap dan banyak pilihan

3. Membeli produk dalam negeri berarti cinta produk Indonesia

4. Produk lebih segar dan kualitas sama baik

5. Nggak perlu dandan atau pakai baju bagus

6. Jam buka lebih pagi

7. Pasar tradisional nggak kalah nyaman

8. Harga barang lebih murah

9. Bisa lebih akrab dengan pedagang

10. Membeli di pasar tradisional berarti kamu mendukung usaha kecil

Sebagai Muslim, tentu saja saya juga mengajarkan kepada anak jika akan ke pasar untuk tidak lupa membaca doa dan memperhatikan adab-adaban nya.

Doa untuk kami sangat penting sebab sebagai mahluk tidak ada daya dan upaya, kami berserah kepada Tuhan YME dan meyakini bisa melindungi dari transaksi yang tidak baik dan bisa mendatangkan berkah.

Selain itu tentu saja kita harus berhati-hati ketika sedang berbelanja. Tak bisa dipungkiri bahwa hal-hal buruk bisa saja terjadi, misalnya saja orang yang mencuri atau mencopet uang belanja.

Selain meletakkannya di tempat yang aman, sebaiknya tidak lupa untuk membaca doa masuk pasar. Tak hanya mampu memberikan perlindungan ketika sedang belanja, juga agar keberkahan pun turut hadir.

Nah, berikut adalah bacaan doa masuk pasar dan adab-adab ketika belanja yang perlu diketahui

Ketika hendak belanja di pasar, maka jangan lupa untuk membaca doa terlebih dahulu. Doa ini mampu menjauhkan dari hal-hal yang buruk saat belanja, dijauhkan dari keburukan saat transaksi, dan menghadirkan keberkahan.

Dengan membaca doa masuk pasar, maka dijelaskan dalam hadir yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, bahwasanya Allah SWT akan mencatat satu juta kebaikan dan menghapuskan satu juta keburukan, serta meninggikan untuk orang yang membacanya satu juta derajat.

Setelah mengetahui bacaan doa masuk pasar, kita juga perlu mengetahui apa saja adab yang perlu diperhatikan saat berbelanja di pasar.

Berikut beberapa adab belanja di pasar yang perlu ketahui:

Tetap berzikir di pasar

Bahkan dengan membaca zikir di pasar itu lebih baik, karena artinya berzikir di tengah orang-orang yang lalai. Di mana setiap orang sedang sibuk untuk melakukan transaksi dan jarang yang mengingat Allah SWT.

Masuk pasar seperlunya. Segera pulang setelah selesai belanja

Dalam pasar ada banyak maksiat, kecurangan, dan perbuatan yang sia-sia. Dengan begitu, amalan kebaikan di dalam pasar pun terbilang sedikit.

Tetap jujur dan amanah di pasar

Rasulullah bersabda

“ Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan berlaku jujur.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Jaga lisan dan perbuatan serta pandangan

Salah satu adab saat berbelanja di pasar adalah menundukkan pandangan. Bukan hanya terkait pemandangan yang mengundang syahwat, tapi juga kesempatan dalam menjalankan aksi kejahatan.

Jaga lisan supaya tidak menyinggung sesama yang secara kasat mata, orang-orang di dunia pasar persaingannya sangat tinggi, sensitif, dan mudah tersinggung menyebabkan pertengkaran.

Akhirnya jika belanja di minimarket tidak cukup dengan uang seratus ribu, maka saat belanja di pasar, dengan uang enam puluh ribu saja kebutuhan semua sudah terbeli lengkap.

See, Belanja di pasar tidak hanya bikin hemat anggaran pengeluaran saat lebaran, tapi juga banyak manfaat serta berkahnya untuk kita, jika mengetahui ilmu dan adabnya, bukan?

Read more ...

Jumat, 07 April 2023

Reuni: Menempatkan Mantan Pacar pada Tempatnya

Lebaran kali ini pemudik sangat melonjak. Dihapusnya aturan dan sebagainya terkait akibat adanya covid-19 menjadikan mobilisasi masyarakat tak lagi mengalami batasan. Kapan pun dan kemana pun mudiknya, lebaran kali ini bisa pergi sesuka hati.

Saya yang sudah tinggal di kampung, tentu saja merasa senang menyambut teman, sahabat dan saudara yang merantau di luar kota, luar provinsi bahkan luar pulau untuk pulang berkumpul bersama handai taulan di kampung halaman.

Kampung kami yang biasanya sepi, kini ramai mendadak banyak penghuninya. Yang lebih terlihat jelas perbedaannya saat ke Masjid, pasti ketemu wajah wajah yang serasa tidak asing, tapi lupa namanya siapa dan pernah kenal dimana. Haha... Karena tidak jarang mereka itu teman sepermainan dan teman sekolah lalu merantau dan baru kali ini lagi bisa jumpa. Setelah berpisah sekian lama, pantas kalau merasa ingat tapi lupa, aish, istilah apa itu...

Ketika mushafahah di masjid, banyak wajah asing yang baru dilihat. Menandakan banyak pemudik yang sudah berdatangan untuk merayakan lebaran di kampung halaman. Tak terkecuali teman saat sekolah, yang berasal dari Pagelaran ini.

Salah satu sahabat baik saya saat sekolah, juga mudik dari Yogyakarta beserta anak dan suaminya. Saat kami jumpa, ia mengatakan akan ada buka puasa bersama di sebuah tempat yang nanti kalau sudah fix akan diinformasikan. Ya semacam reuni kecil-kecilan gitu.

Ia mengajak saya biar ada teman karena anak dan suaminya sudah pasti tidak akan ikut-ikutan.

“Temani aku menghadapi mantan, Ti...”

Wkwkwkwkkk... Kami berdua sontak terbahak tertawa. Jadi ingat kenangan pecicilan masa berseragam abu. Secara dia dan saya memang memiliki banyak kisah yang bikin tertawa kalau dikenang. Saking usil dan reseknya kami saat itu.

Meski wajah pas-pasan, keuangan juga kerap kurang dan bahkan lebih tepatnya bisa dibilang morat-marit, tapi ternyata dulu itu kami sempat laku juga. Hihi...  Sehingga kini setelah berkeluarga, berhak menyandang istilah “punya mantan” meski bukan yang terindah.

Biasanya saat ketemuan semacam reunian begini, mau tidak mau kami bakalan ketemu mantan, selain teman dan sahabat saat sekolah, lainnya. Karena itu sahabat saya bilang untuk acara buka puasa bersama macam reuni kecil-kecilan itu, nanti ia harus mempersiapkan diri dalam rangka menghadapi mantan.

Ya, seandainya sang mantan juga ikut hadir di acara itu. Karena belum tentu juga siapa saja yang bisa hadir. Bukankah kami juga belum tahu siapa saja teman-teman yang tahun ini mudik dan berlebaran di Pagelaran, kampung halaman tempat kami tinggal?

Tapi sih ya, biasanya, kalau ingat lebaran-lebaran terdahulu, saat lebaran itu, memang sang mantan itu selalu pulang kampung. Jadinya kalau ia mudik, baik sengaja maupun tidak sengaja, ya selalu saja jumpa dengan sang mantan.

Lagi ngabuburit, berpapasan dengan mantan. Ya mau gak mau saling sapa dan tanya kabar. Secara dulu kami berpisah dengan cara baik-baik saja. Namanya juga masa-masa sekolah, gak kepikiran kehidupan kedepannya seperti apa. Jadi saat putus, ya putus aja gitu. Kini sama mantan jadinya ya seperti dengan teman-teman lainnya saja. Kalaupun berkelebat kenangan saat bersama, anggap saja itu hanya kenangan lalu.

Pas bubar solat Idulfitri semua jemaah bersalaman dari ujung ke ujung. Gak sengaja juga jumpa teman yang ternyata suaminya adalah mantan pacar waktu sekolah. Bayangkan kakunya kaya apa. Tapi kalau dipikir namanya juga jodoh, orang Sunda bilang jodo mah jorok, kurang lebih maksudnya jodoh itu gak bisa diprediksi, jadi ngapain juga mikirin mereka? Yang pasti-pasti saja kalau dia bebas berumah tangga dengan siapa saja. Demikian juga saya. Bukan begitu?

Ada lagi pertemuan yang tidak disengaja itu, saat mau beli sarapan, eh ketemu mantan yang justru malah udah hampir selesai makan di penjual sarapan yang sama. Sambil nunggu dibuatkan sarapan daripada bengong udah main hp aja di pojokan. Pas penjual bilang selesai, saya tanya dong semuanya jadi berapa?

Apa jawab di penjual?

“Udah dibayarkan semuanya sama Si Aa tadi.”

Ya ampun! Mau bilang terima kasih itu orangnya udah pulang duluan. Mau menolak, masa iya juga rezeki ditolak? Tapi ya akhirnya berprasangka baik saja, karena yang dibayar mantan pacar itu bukan satu porsi sarapan untuk saya saja. Melainkan tiga porsi sekaligus, untuk saya, suami saya dan anak saya. Haha, bukan aji mumpung loh ya. Secara dari rumah memang mau beli sarapan buat keluarga. Kalau ada yang bersedia bayarin, yan disyukuri saja. Paling berdoa balik untuk sang mantan, semoga rezekinya makin lancar.

Intinya, saya bilang ke sahabat saya, kalau kita ini seberapa banyak pun punya mantan pacar, gak akan jadi masalah kalau memang kita bisa menempatkan sesuai tempatnya.

Jadi kalau saat berbuka puasa bersama nanti ketemu mantan pacar, ya biasa saja. Yang penting kita bisa tahu diri, tahu hak dan kewajiban sebagai ibu rumah tangga dan pastinya cukup dengan bersikap sebagaimana harusnya menempatkan sang mantan pacar itu sesuai tempatnya saja.

Bagaimana dengan manteman, saat mudik lebaran ini apakah sudah jumpa dengan mantan? Ceritanya pasti seru dong?

Read more ...

Kamis, 06 April 2023

Dari Sutil Rusak Belajar Komunikasi Pasutri

Lagi anteng masak-masak, pas ngaduk tumisan, eh sutilnya malah patah. Padahal pengaduk yang digunakan untuk memudahkan saat memasak itu sangat nyaman saya pakai. Kok bisa patah sih? Mana waktunya lagi repot menyajikan makanan jelang berbuka puasa lagi.

Ternyata spatula kaleng yang saya beli sekitar tiga tahun lalu itu yang rusak hanya batangnya saja karena sering kena panas dari kompor, membuat batangnya yang terbuat dari kayu itu hangus. Ketika saya tekan agak kuat, gagangnya itu patah jadi dua. Pas dekat pangkalnya.

Kayunya memang sudah rapuh juga. Karena memang dibuat dari kayu biasa, dengan tujuan ringan saat digunakan. Jadi saat gosong kena asap dan panas dari api kompor kerapuhan nya itu makin dalam.

Sutil yang biasa enakeun dipakai yang ada di dapur hanya dua dan semuanya sudah dipakai. Ada spatula lain tapi itu khusus untuk wajah anti lengket, mau saya pakai malah takut rusak atau tidak nyaman karena bukan peruntukannya. Sementara mengaduk masakan ini dan itu butuh Sutil yang berbeda biar masakan tidak bercampur dan tidak menyebabkan basi sebelum waktunya.

Melihat jam masih ada sekitar satu jam lagi ke waktu berbuka, akhirnya saya kepikiran untuk mengganti gagang sutil itu saat itu juga.

Segera mematikan kompor, menutup wajah dengan penutup panci dan langsung mencari golok dekat tangga.

Suami sontak bertanya mau kemana dan ngapain? Saya jawab mau cari ranting daun jambu.

“Emang masak apa pakai jambu?”

Saya malah balik merasa jengkel. “Bukan masak pakai jambu, tapi mau cari ranting jambu, buat ganti pegangan sutil yang patah ini.” Jelas saya.

“Oh, gitu. Sini biar ayah bantu. Ngomong dong kan biar paham. Memotong dahan sebaiknya pakai gergaji. Simpan aja dulu itu goloknya.” Kata suami sambil segera mengambil gergaji dari tempat perkakas di dekat tangga. Tempat yang sama saat saya ambil golok tadi.

Benar juga, kenapa saya gak kasih tahu dan minta tolong saja sama suami ya? Jadi kan tidak harus mematikan kompor dan meninggalkan pekerjaan lain. Apakah karena saya merasa mampu melakukannya lalu gak harus minta tolong pada orang lain, meskipun suami sendiri?

Kadang saya punya pikiran tidak ingin merepotkan orang lain. Selagi saya mampu, saya bisa mengerjakan sendiri, ya saya lakukan. Mengganti gas, mengganti galon air, semua sudah biasa saya kerjakan. Bahkan naik atap betulin genting saja saya bisa dan mampu, kok!

Saya terbiasa mengerjakan semua itu semenjak bapak tiada. Ya sebagai anak pertama mau tidak mau saya ambil alih tugas bapak sebagai penggantinya. Gak mungkin juga nyuruh adik saya yang masih kecil meski ia anak lelaki. Sejak itu saya merasa kalau saya bisa kenapa harus minta tolong?

Tapi sepertinya pikiran itu harus saya ubah setelah saya memiliki suami. Bagaimanapun peran suami ingin diakui keberadaanya. Hal itu saya sadari ketika mengerjakan sesuatu dan segera diambil alih suami.

“Yang begini biar ayah yang ngerjain, Bu. Jangan sampai orang lain lihat, dikira ayah dholim sama istri sendiri. Ibu tinggal bilang aja. Ayah pasti bantu...”

Namun kadang saya suka lupa akan hal itu. Tetap merasa sungkan kalau harus minta bantuan. Terlebih kedudukan seorang istri yang masih tahu kalau harus “memerintah” suami. Entar muncul istilah istri menjajah suami, lagi. Meski semua itu tentu saja hanya pikiran -pikiran random dalam benak saya saja.

“Ranting ini cocok nih. Besarnya pas. Tapi agak bengkok. Mau cari yang lurus, takut gak keburu waktunya. Bagaimana ya baiknya?”

Suara suami membuyarkan lamunan saya. Saya pegang gagang yang terbuat dari ranting pohon jambu itu. Iya besarnya pas. Meski agak bengkok tapi enak dipegang dan nyaman saat digunakan untuk mengaduk atau membolak-balik sesuatu di wajan.

Saya setuju untuk menggunakan ranting pohon jambu itu saja. Suami pun langsung memakunya dan menguliti kulit pohon dari rantingnya.

“Nih, jadi juga. Lumayan ya bisa dipakai sementara sebelum beli yang baru,” setelah melihat-lihat hasil karyanya suami langsung mencucinya supaya bisa dipakai.

“Bagus. Buat sementa...hun juga ga apa. Kasihan kalau cuma sementara. Jadi anggarkan buat dipakai sampai tahunan saja,” seloroh saya yang diakhiri tawa kami bersama.

Sebelum magrib tiba, masakan untuk berbuka sudah selesai semua. Betul juga dengan bantuan suami yang membetulkan sodetan itu akhirnya proses masak memasak di dapur lebih mudah dan cepat. Kalau saya melakukannya sendiri, belum tentu masak bisa selesai tepat waktu.

Komunikasi dan informasi dengan pasangan dalam keluarga memang harus dikedepankan dan didahulukan, ya. Terciptanya komunikasi dan diskusi, insyaallah bisa menjadikan sebuah solusi yang disepakati bersama.

Read more ...

Rabu, 05 April 2023

Ayam Versus Kura-kura

Suara ayam betina yang sedang bertelur dari samping rumah membangunkan tidur saya siang ini. Berisik sekali suara petak-petok ayam itu. Saya yakin bukan saya saja yang merasa terganggu dengan kebisingan yang diakibatkan suara ayam kampung yang saya pelihara di belakang rumah ini, tapi juga tetangga sekitar rumah kami. Oh maafkan ayam kami, para tetangga...

Bangun tidur secara mendadak itu sebenarnya bikin kepala keliyengan. Setelah pikiran terkumpul semua, baru saya bangkit dan menengok dari jendela, penasaran ayam mana yang sudah bikin seberisik itu?

Dari jendela, dengan mata minus tanpa mengenakan kacamata agak susah memperhatikan ayam-ayam yang memang selalu bergerombol di sekitaran kandang.

Perlu sedikit waktu untuk memperhatikan, ternyata si putih dua yang sedang akan bertelur. Pantas ribut banget, secara si putih dua ini memang pertama kalinya ayam itu bertelur.

Saya kasih nama ayam itu si putih dua, karena memang ayam betina warna dominan putih kami ada dua. Satu ada bulu hitamnya dan badannya agak panjang satu lagi memang mirip tapi ini tubuh ayamnya agak kecil.

Mana yang mencirikan akan bertelur, ternyata ya si putih dua ini. Karena kalau dilihat dari ayam mana yang sedang bersuara, jelas hampir semua ayam di sana berbunyi saling bersahutan. Ayam jago nya saja ikut petak petok, seolah dia yang mau bertelur. Padahal dia hanya ikut so sibuk mempersiapkan telur-telur yang akan dikeluarkan ayam betina.

Begitulah ayam, satu yang akan bertelur, tapi seluruh keluarga ayam di kandang berkokok dan petak petok semuanya. Entah rasa solidaritasnya yang teramat tinggi, atau memang tradisi turun temurun ayam bertelur memang demikian?

Padahal telur yang dikeluarkan hanya sebutir, bagaimana kalau si ayam yang bertelur itu mengeluarkan banyak sekaligus? Semua ayam selebrasi kali ya ...

Sungguh sangat jauh berbeda dengan kebiasaan kura-kura. Ya, tahu kura-kura kan? Hewan reptil yang sangat unik, berjenis hewan ovipar yaitu hewan berkembang biak dengan cara bertelur.

Tidak seperti ayam yang super heboh, menggemparkan satu kandang dan rumah majikannya, kura-kura yang akan bertelur justru tak bikin gaduh sama sekali.

Hanya memang bisa dicirikan kalau kura-kura mau bertelur biasanya tampak tidak nafsu makan. Kura-kura yang sedang hamil atau bertelur biasanya tidak nafsu makan walaupun diberi makan yang banyak atau bermacam-macam.

Ya walaupun tetap makan tapi hanya sedikit. Dan kalaupun ia makan,  hanya sedikit yang di makannya bahkan di muntahkannya lagi.

Hampir sama seperti ayam, saat akan bertelur kura-kura betina bersikap hiperaktif. Tapi tentu saja hiperaktif disini bukan dengan bersuara berisik seperti ayam, melainkan biasanya si kura-kura sering berjalan-jalan di sekitar kandang atau sekitar rumahnya saja karena kemungkinan ia ingin mencari sarang atau lubang yang tepat untuk menyimpan telur-telurnya.

Kebiasaan mengali-gali tanah atau tempat lain di sekitarnya pada kura-kura menggunakan kedua kaki belakangnya itu juga menandakan bahwa kura-kura ingin bertelur. Kura-kura suka menggali-gali tanah atau lainnya disebabkan karena ia ingin menggali lubang untuk menyimpan telur-telurnya yang sangat banyak saat bertelur.

Ayam bertelur sebutir, ributnya minta ampun. Kura-kura bertelur sekian banyak, tak bikin gaduh sama sekali. Ini pelajaran untuk kita, bahwasanya dalam memberi dan berbuat baik, sekecil apapun, hendaknya tidak usah digembar-gemborkan. Cukup diam saja.

Apalagi jika mampu sedekah banyak dan rutin secara konsisten, tapi bisa diam seolah tak berbuat kebaikan itu menandakan perbuatan yang meniru gaya kura-kura. Sekaligus memberi banyak, tapi tak ada yang tahu.

Cerita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ahmad, begitu kuat kedahsyatan kekuatan sedekah dan perbuatan baik jika tangan kanan memberi, tangan kiri saja sebaiknya tidak sampai tahu.

Dalam berbuat baik, jangan seperti ayam yang selalu berisik setiap akan bertelur, tapi tirulah kura-kura dengan segala kesunyiannya.

Read more ...

Selasa, 04 April 2023

Cerita Orang Baik

“Yah, tas hitam mana?!”

Sambil meraba punggung, saya celingukan mencari tas punggung berisi semua barang penting kami.

“Astagfirullah! Gak dibawa emangnya? Masih di Alam Sunda?” Tanya suami seraya langsung membelokkan motor, putar arah menuju kembali ke rumah makan Alam Sunda cabang Cikolotok, Karangtengah. Padahal saat itu kami sudah sampai di Jebrod, sekitar 40 menit kendaraan menuju Alam Sunda.

“Iya. Ketinggalan. Ya Allah, pantas merasa ringan, ternyata tas ketinggalan,” suara saya memelas sangat ketakutan. Bagaimana tidak, jika tas itu hilang, maka ribet lah hidup kami.

Dalam tas itu ada semua ponsel kami, tab, dompet saya dan dompet suami, juga pakaian Fahmi yang baru saja kami beli. Dan pernak-pernik lainnya yang tentu saja semua penting.

Kenapa saya bisa ceroboh?

Suami menjalankan sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Berharap tas yang tertinggal masih ada. Belum ada yang mengambil. Secara tas nya memang gede. Carier Eiger, backpack yang biasa kami bawa kalau ngebolang kemanapun. Kalau ada yang ngambil, gak tahu deh. Lebaran kali ini pasti jadi lebaran yang sangat menyedihkan buat kami.

Saya hanya bisa memejamkan mata, berpegangan, sambil berdoa. Semoga masih ada rezeki kami. Semoga selalu ada orang baik yang menjaga barang kami, kepunyaan kami, orang lain. Bukan punya mereka yang menemukan.

Dalam waktu 25 menit saja kami sudah sampai lagi di lokasi rumah makan Alam Sunda tempat sebelumnya kami berbuka puasa di sana.

Saya langsung turun dan memeriksa tempat dimana tadi saya menaruh tas saat suami parkir motor. Ternyata tas itu sudah tidak ada. Tapi saya kok merasa tidak khawatir, entah kenapa, saya dengan tenangnya mendekati si Aa yang berjaga sebagai pengatur parkiran. Saya ingat dia yang membantu kami tadi saat mau pulang.

“A, punten. Lihat tas punggung warna hitam? Tadi saya di situ ketinggalan...”

“Oh, itu tas ibu? Ada saya simpan di pos sana Bu...” katanya sambil menunjuk ke parkiran kendaraan roda empat, dimana di ujung sana ada pos berukiran sekitar 2 x 2 meter.

Alhamdulillah...

Saya lihat ke arah suami dan menunjuk ke pos. Ngasih kode kalau tas ada di sana.

Dua orang petugas dalam pos bertanya identitas kami. Kami jelaskan dan mengatakan juga justru dompet dan semua identitas milik kami ada dalam tas itu. Entah kenapa mereka seperti langsung percaya saja. Tanpa membuka tas dan sebagainya mereka langsung menyerahkan tas itu kepada kami.

Kami sangat berterima kasih. Khususnya kepada si Aa penjaga parkir yang berhati mulia. Semoga dipanjangkan usia, ya A. Dimudahkan rezekinya dan selalu mendapatkan kemudahan dalam segala urusan. Aamiin. Kebaikan si Aa penjaga parkir tidak bisa kami balas dengan apapun. Hanya Tuhan YME yang bisa memberikan balasannya.

Di jaman sekarang sungguh sangat susah menemukan orang baik seperti si Aa penjaga parkir yang sudah menyelamatkan tas saya. Alih-alih membukanya, yang ada dia segera mengamankannya di pos keamanan. Coba kalau si Aa bukan orang baik, mana bisa semua barang berharga saya kembali dengan utuh?

Sebenarnya ada banyak orang baik, cuma mereka tidak terekspos. Banyak yang beranggapan kebaikan tidak perlu diperlihatkan takut jatuhnya menjadi riya. Tapi menurut saya, cerita orang baik justru harus terus diputar dan diperlihatkan, agar menjadi contoh dan teladan.

Pernah dengar anak berbuat jahat karena terinspirasi dari tontonan video dari sosial media nya? Nauzubillah. Beda lagi ceritanya kalau ada anak berbuat baik, karena mendengar dan membaca dari cerita orang baik versi saya ini.

Bayangkan jika ada anak yang mengatakan, saya membantu orang dengan ikhlas, tanpa pamrih karena membaca kisah orang baik seorang penjaga parkir yang dengan tulus menjaga dan mengembalikan tas milik blogger Cianjur yang tertinggal di Rumah Makan Alam Sunda cabang Cikolotok Karangtengah. Wah, cerita baik seperti itu pasti jadi sangat luar biasa, bukan?

Jadi mari kita kabarkan kisah-kisah para orang baik yang pernah kita temui, dengan harapan kebaikan dan ketulusan mereka terus menular dan menjadi percontohan.

Bagaimana cerita orang baik yang pernah manteman alami?

Read more ...

Senin, 03 April 2023

Memuliakan Guru Ngaji

Pesan dari seorang dengan seragam rumah sakit masuk melalui nomor aplikasi telegram. Aduh, siapa dan ada apa? Wajahnya serasa tidak asing, tapi tidak tahu ini siapa? Terkejut dan sempat pikiran jadi buyar. Secara saya merasa gak punya kenalan pegawai rumah sakit.

“Saya Endah, Bu.” Jelasnya ketika saya tanya ini nomor siapa.

Oh, ternyata Endah. Ya saya tahu, kalau Endah ini orang tuanya tetangga kami di kampung. Saat ini Endah sendiri sudah menikah dengan orang Sukanagara.

Setelah bertanya kabar dan sebagainya, Endah menyampaikan jika ia dan kelima orang teman lainnya, mengundang berbuka puasa bersama kepada suami beserta keluarga.

“Ya hanya reuni kecil-kecilan lah, Bu. Kebetulan Ai dari Jakarta juga akan pulang. Ai kan susah mudik, Bu. Saat bisa pulang kampung ini Ai bikin ide untuk mengundang Pak Iwan sebagai guru mengaji kami untuk berbuka puasa bersama. Sambil mengenang masa-masa seru mengaji kami dulu.” Jelas Endah.

Saya baru tahu jika mereka ternyata pernah diajar ngaji oleh suami. Foto-foto dan kehidupan mereka yang saya intip melalui akun sosial medianya ternyata cukup sukses di perantauan. Alhamdulillah.

Salut dengan sikap mereka ini meski sudah merantau dan sukses, tidak melupakan dengan guru mengajinya di kampung. Padahal itu sudah belasan bahkan dua puluh tahun lalu. Saat mereka masih sekolah dasar, suami pun masih melajang dan kini baik suami maupun mereka, murid mengajinya sudah bekerja dan berkeluarga.

Selama saya berumah tangga dan ikut mengelola pondok mengaji Al Hidayah yang suami kelola setelah orang tua nya meninggal dunia, hanya beberapa orang saja murid yang sudah merantau itu masih mengingat dan menyapa kepada suami, orang yang sudah mengajar ngaji kepada mereka.

Itu pun bukan anak kampung asli sini. Melainkan mereka yang orang tuanya merantau ke kampung kami atau pendatang dari kota. Mungkin rasa kesadaran dan rasa terima kasih orang kota terhadap guru mengaji jauh lebih tinggi dibandingkan orang kampung? Secara di kampung mengaji itu adalah hal biasa, tak usah bayar, bukan hal spesial.

Sementara di kota, sesuai  informasi yang saya dapat dari teman-teman, untuk bisa belajar mengaji itu perlu perjuangan dan pengorbanan. Palagi kalau mendatangkan guru ngaji privat, bayaran yang harus dikeluarkan bisa setara dengan bayaran sekolah formal lainnya. Subhanallah.

Seingat saya, yang terasa sangat menghargai kepada suami sebagai guru ngajinya (maaf, bukan berarti kami ingin dihargai) diantaranya adalah keluarga Daim yang sekarang sudah pindah ke Depok, keluarga Ani yang sudah pindah ke Cikarang Bekasi, keluarga Sifa dari Jakarta, dan keluarga Billy dari Malang.

Dihargai disini bukan hanya mereka memberikan apresiasi kepada kami, tapi juga sangat memperhatikan sejauh mana perkembangan kemampuan anak-anak mereka dalam belajar Al Quran dan ilmu fiqih lainnya selama mengaji di tempat kami.

Dengan komunikasi itu, tentu saja kami jadi merasa dianggap. Kami bisa menerima masukan bagaimana mendidik mereka supaya lebih baik lagi dan memberikan informasi kepada mereka kendala apa saja yang dihadapi si anak saat belajar bersama kami. Jadi ada timbal balik.

Kami tidak mengharap apa pun selain keridhoan Nya bahkan kami tidak menarik iuran apapun dalam kegiatan belajar mengaji ini. Meski tidak saya tutupi saya menerima donasi dari teman-teman buruh migran maupun teman-teman blogger yang menyisihkan sebagian rezekinya untuk digunakan dan diambil manfaatnya dalam kegiatan belajar mengaji di pondok yang kami kelola ini. Tapi mereka yang saya sebut di atas memang tidak lupa ketika lebaran itu mereka mengingat kami juga.

Pemberian yang sangat bermanfaat dan dipakai ibadah oleh suami seperti sarung, baju koko, sampai sendal kami terima dengan senang hati. Bahkan ketika suami masih melajang, mereka mengirim makan edisi spesial lebaran, karena tahu suami di rumahnya yang saat itu sendirian (karena ibunya sakit dan tinggal bersama anak terbesar di kota Cianjur) tidak masak masakan khas lebaran apapun.

"Karunya Cep Iwan sorangan eweuh nu mang-masakeun..." (Kasihan sendirian ga ada yang masak), begitu peribasa mereka ketika mengirim makanan.

Hal itu tentu saja sangat berkesan dan kami hanya bisa berdoa semoga apa yang sudah diberikan kepada kami mendapatkan gantinya dengan lebih.

Setelah lahir Fahmi putra kami, mereka tak hanya mengirimkan makanan dan kebutuhan lain, tapi juga ditambah parsel makanan yang sangat disukai anak. Bahkan ketika kami menolak karena tidak nyaman, mereka bilang itu pemberian untuk Fahmi kok. Nah, kalau sudah begitu, tentu saja kami tidak bisa menolak lagi.

Dan lebaran kali ini mereka murid mengaji suami yang merantau dan sudah sukses itu, setelah sebelumnya tidak bisa leluasa mudik karena pandemi, kini berkesempatan mudik dengan leluasa, mengundang untuk berbuka puasa bersama.

“Biar seperti rang-orang di kota, Bu,” seloroh Endah mewakili teman-teman. Kami pun tertawa.

“Bapak dan Ibu jangan menolak, ya. Beri kami kesempatan sedikit saja untuk berusaha memuliakan guru kami. Kami tidak mungkin membalas semua jasa-jasa para guru, tapi selagi kami bisa, kami ingin memberikan kesan terbaik.”

Terharu saya mendengar alasan mereka. Bukan karena kami tidak diberi kesempatan untuk menolak kebaikannya, tapi kami malu, karena kami sendiri belum bisa memuliakan guru-guru dan orang tua kami sendiri!

Read more ...