Lebaran plus lima kami baru bisa mudik ke kampung halaman suami di Cianjur kota. Memang mudik kami ini melawan arus. Orang biasanya mudik itu dari kota ke kampung, ini mah kami dari kampung ke kota.
Kedua orang tua suami sudah tiada dan dimakamkan di dekat tempat tinggal nenek kakeknya suami, di daerah Warung Batu, Panembong. Jadi kami silaturahmi menemui kakak kandung suami yang kedua-duanya adalah perempuan.
Kami datang hampir seminggu setelah lebaran karena keponakan suami dari kakak nomor dua yang sudah kuliah di Sumatera bisa berjumpa sekitar saat itu. Pun keponakan suami dari kakak pertama juga baru bisa datang dari Bandung sekitar seminggu dari lebaran.
Seperti biasa, setelah silaturahmi dengan keluarga besar kedua kakak, (kebetulan rumahnya berdekatan) kami langsung ziarah menuju makam mertua.
Fahmi, putra kami ini sangat antusias jika diajak ziarah ke makam Enin dan Engking nya (nenek dan kakeknya) dari pihak ayah... Bukan hanya karena bisa mengunjungi makam mereka, tetapi juga bisa sekaligus berwisata.
Makam kedua orang tua suami dan keluarga besar lainnya berada di Dawuan, sebuah tempat pengaturan air irigasi yang oleh sepupu suami (sebagai ketua karang taruna di daerah Dawuan itu) dibuat senyaman mungkin hingga banyak dikunjungi orang. Lama-lama Dawuan ini jadilah semacam lokasi wisata lokal meski lokasinya berdampingan dengan makam.

Saat kami ziarah di Minggu pertama bulan Syawal ini lokasi wisata Dawuan masih sepi bahkan terkesan berantakan. Mungkin belum ada pembersihan lagi setelah terakhir kali pengunjung berdatangan sambil ngabuburit sore hari jika cuaca acerah.
Sungai yang dibendung itu airnya dibagi ke dalam beberapa selokan untuk terus dilanjutkan ke persawahan di sekitarnya. Salah satu selokan yang melintas ke Dawuan, oleh pengelola dibendung lagi sehingga airnya cukup untuk melambungkan ban karet sehingga bisa dijadikan arena bermain papalidan (semacam hanyut terbawa arus air tapi tentu saja aman) bagi anak-anak. Itu yang salah dua bikin Fahmi dan anak-anak lainnya suka mendatangi pemakaman Dawuan ini.
Sementara bagi saya pribadi jika ziarah ke Dawuan ini paling suka saat bisa mencuci muka atau sekalian berwudhu di mata air yang jernih dan sudah terkenal sejak lama.
Mata air di Dawuan ini dulu hanya rembesan dari tanah miring. Memang di sekitarnya masih terdapat banyak pepohonan besar. Karena banyak orang yang memanfaatkan keberadaan mata air ini sebagai sumber air bersih untuk digunakan di rumah, lalu dibuat pondasi dan disalurkan melalui paralon sehingga mata air ini terkumpul dan menjadi besar.

Bagus dan uniknya mata air ini, bisa langsung diminum tanpa dimasak lebih dulu. Masyarakat sekitar awalnya ragu tapi ketika kemarau melanda, semua sumur kering, sampai sungai yang dibendung saja ikut kering, masyarakat harus membeli air mineral demi mendapatkan air bersih. Tapi mata air itu masih saja mengeluarkan air, maka sejak itu masyarakat menjadikan mata air ini sebagai sumber air bersih.
Disimpan sekian lama, air ini tetap bening, tidak mengendap, tidak berbau dan tidak berasa. Seolah kita ini menyimpan air mineral saja. Nah sejak itu masyarakat sekitar menjadikan mata air ini sebagai sumber air bersih rumah tangga.
Masyarakat banyak yang datang berziarah atau bermain ke lokasi wisata Dawuan sekaligus mengambil air dari mata air yang ada di sana. Ada yang menggunakan galon isi ulang, botol besar maupun kecil, dan ember yang bisa ditutup sehingga tidak tumpah saat dibawa.


Konon ada pihak yang pernah datang ke tokoh masyarakat setempat, ingin membeli lahan mata air itu. Tapi tokoh masyarakat dan warga setempat sepakat menolak. Daripada dikuasai pribadi dan dikomersilkan, lebih baik masyarakat tetap menjaganya bersama demi kepentingan umum.
Maha besar Allah, disaat dimana-mana dikeluhkan pencemaran lingkungan mengakibatkan krisis air bersih, di Dawuan ini justru kami disediakan sumber mat air yang cukup melimpah dan gratis pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar