Minggu, 02 April 2023

Memuliakan Guru Ngaji

Pesan dari seorang dengan seragam rumah sakit masuk melalui nomor aplikasi telegram. Aduh, siapa dan ada apa? Wajahnya serasa tidak asing, tapi tidak tahu ini siapa? Terkejut dan sempat pikiran jadi buyar. Secara saya merasa gak punya kenalan pegawai rumah sakit.

“Saya Endah, Bu.” Jelasnya ketika saya tanya ini nomor siapa.

Oh, ternyata Endah. Ya saya tahu, kalau Endah ini orang tuanya tetangga kami di kampung. Saat ini Endah sendiri sudah menikah dengan orang Sukanagara.

Setelah bertanya kabar dan sebagainya, Endah menyampaikan jika ia dan kelima orang teman lainnya, mengundang berbuka puasa bersama kepada suami beserta keluarga.

“Ya hanya reuni kecil-kecilan lah, Bu. Kebetulan Ai dari Jakarta juga akan pulang. Ai kan susah mudik, Bu. Saat bisa pulang kampung ini Ai bikin ide untuk mengundang Pak Iwan sebagai guru mengaji kami untuk berbuka puasa bersama. Sambil mengenang masa-masa seru mengaji kami dulu.” Jelas Endah.

Saya baru tahu jika mereka ternyata pernah diajar ngaji oleh suami. Foto-foto dan kehidupan mereka yang saya intip melalui akun sosial medianya ternyata cukup sukses di perantauan. Alhamdulillah.

Salut dengan sikap mereka ini meski sudah merantau dan sukses, tidak melupakan dengan guru mengajinya di kampung. Padahal itu sudah belasan bahkan dua puluh tahun lalu. Saat mereka masih sekolah dasar, suami pun masih melajang dan kini baik suami maupun mereka, murid mengajinya sudah bekerja dan berkeluarga.

Selama saya berumah tangga dan ikut mengelola pondok mengaji Al Hidayah yang suami kelola setelah orang tua nya meninggal dunia, hanya beberapa orang saja murid yang sudah merantau itu masih mengingat dan menyapa kepada suami, orang yang sudah mengajar ngaji kepada mereka.

Itu pun bukan anak kampung asli sini. Melainkan mereka yang orang tuanya merantau ke kampung kami atau pendatang dari kota. Mungkin rasa kesadaran dan rasa terima kasih orang kota terhadap guru mengaji jauh lebih tinggi dibandingkan orang kampung? Secara di kampung mengaji itu adalah hal biasa, tak usah bayar, bukan hal spesial.

Sementara di kota, sesuai  informasi yang saya dapat dari teman-teman, untuk bisa belajar mengaji itu perlu perjuangan dan pengorbanan. Palagi kalau mendatangkan guru ngaji privat, bayaran yang harus dikeluarkan bisa setara dengan bayaran sekolah formal lainnya. Subhanallah.

Seingat saya, yang terasa sangat menghargai kepada suami sebagai guru ngajinya (maaf, bukan berarti kami ingin dihargai) diantaranya adalah keluarga Daim yang sekarang sudah pindah ke Depok, keluarga Ani yang sudah pindah ke Cikarang Bekasi, keluarga Sifa dari Jakarta, dan keluarga Billy dari Malang.

Dihargai disini bukan hanya mereka memberikan apresiasi kepada kami, tapi juga sangat memperhatikan sejauh mana perkembangan kemampuan anak-anak mereka dalam belajar Al Quran dan ilmu fiqih lainnya selama mengaji di tempat kami.

Dengan komunikasi itu, tentu saja kami jadi merasa dianggap. Kami bisa menerima masukan bagaimana mendidik mereka supaya lebih baik lagi dan memberikan informasi kepada mereka kendala apa saja yang dihadapi si anak saat belajar bersama kami. Jadi ada timbal balik.

Kami tidak mengharap apa pun selain keridhoan Nya bahkan kami tidak menarik iuran apapun dalam kegiatan belajar mengaji ini. Meski tidak saya tutupi saya menerima donasi dari teman-teman buruh migran maupun teman-teman blogger yang menyisihkan sebagian rezekinya untuk digunakan dan diambil manfaatnya dalam kegiatan belajar mengaji di pondok yang kami kelola ini. Tapi mereka yang saya sebut di atas memang tidak lupa ketika lebaran itu mereka mengingat kami juga.

Pemberian yang sangat bermanfaat dan dipakai ibadah oleh suami seperti sarung, baju koko, sampai sendal kami terima dengan senang hati. Bahkan ketika suami masih melajang, mereka mengirim makan edisi spesial lebaran, karena tahu suami di rumahnya yang saat itu sendirian (karena ibunya sakit dan tinggal bersama anak terbesar di kota Cianjur) tidak masak masakan khas lebaran apapun.

"Karunya Cep Iwan sorangan eweuh nu mang-masakeun..." (Kasihan sendirian ga ada yang masak), begitu peribasa mereka ketika mengirim makanan.

Hal itu tentu saja sangat berkesan dan kami hanya bisa berdoa semoga apa yang sudah diberikan kepada kami mendapatkan gantinya dengan lebih.

Setelah lahir Fahmi putra kami, mereka tak hanya mengirimkan makanan dan kebutuhan lain, tapi juga ditambah parsel makanan yang sangat disukai anak. Bahkan ketika kami menolak karena tidak nyaman, mereka bilang itu pemberian untuk Fahmi kok. Nah, kalau sudah begitu, tentu saja kami tidak bisa menolak lagi.

Dan lebaran kali ini mereka murid mengaji suami yang merantau dan sudah sukses itu, setelah sebelumnya tidak bisa leluasa mudik karena pandemi, kini berkesempatan mudik dengan leluasa, mengundang untuk berbuka puasa bersama.

“Biar seperti rang-orang di kota, Bu,” seloroh Endah mewakili teman-teman. Kami pun tertawa.

“Bapak dan Ibu jangan menolak, ya. Beri kami kesempatan sedikit saja untuk berusaha memuliakan guru kami. Kami tidak mungkin membalas semua jasa-jasa para guru, tapi selagi kami bisa, kami ingin memberikan kesan terbaik.”

Terharu saya mendengar alasan mereka. Bukan karena kami tidak diberi kesempatan untuk menolak kebaikannya, tapi kami malu, karena kami sendiri belum bisa memuliakan guru-guru dan orang tua kami sendiri!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar