Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2024

Hafal Alfiyah Reward Ziarah Wali Songo

Sebelum Ramadan, tepatnya mulai tanggal 17-25 Februari 2024 Ponpes Al Ihtisom Choblong Warung Kondang Cianjur mengadakan wisata religi mengunjungi makam Wali Songo dan lokasi wisata religi lainnya yang dilewati di Pulau Jawa hingga Madura.

Merasa beruntung saya dan keluarga bisa ikut rombongan keluarga ponpes tersebut secara biasanya, rombongan hanya terdiri dari keluarga besar ponpes saja. Sementara saya dan keluarga, jujur saja bukan siapa-siapa. Kebetulan saja ketika suami mengikuti pengajian online yang diadakan Kang Deden Usman Ridwan (Ketua PCNU Cianjur) ada informasi kalau masih ada kursi kosong untuk wisata religi tahun 2024 ini. Maka segeralah suami mendaftarkan diri. Hingga akhirnya saya dan keluarga bisa nyempil menjadi bagian dari rombongan keluarga besar ponpes.

Wisata religi di setiap ponpes ini biasanya diadakan setahun sekali. Di ponpes Al Ihtisom Choblong Warung Kondang Cianjur ini, momen ziarah Wali Songo sekaligus menjadi perjalanan religi santri dan santriwati yang lulus. Malah informasinya katanya santri dan santriwati yang berprestasi dengan nilai tertinggi justru mendapatkan reward perjalanan religi Wali Songo ini gratis.

Lulusan pesantren yang mengikuti ziarah ini sekaligus mempraktikkan hafalan Kitab Alfiyah untuk membacakannya di setiap makam wali atau ulama yang dikunjungi.

Bagi yang belum tahu, kitab Alfiyah Ibnu Malik adalah kitab nahwu shorof lengkap berbentuk nadhom atau syair yang terdiri atas 1.002 bait, itulah kenapa kitab ini dinamakan dengan alfiyah yang berarti seribu.

Kitab Alfiyah banyak dipelajari oleh santri-santri di pondok pesantren, biasanya dipelajari setelah mereka belajar Jurumiyah dan Imriti.

Hafal Alfiyah Reward Ziarah Wali Songo
Di sekitar makam Sunan Gunung Jati Cirebon

Oke kita kembali ke awal, mengenai wisata religi ini berangkat dari Cianjur malam hari dan sampai di tujuan pertama di makam Sunan Gunung Jati.

Suasana sangat crowded ketika turun dari bis. Maklum saya itu menjelang subuh, waktunya semua pengunjung bersiap untuk menghadap Sang Pencipta.

Sayangnya, fasilitas toilet dan tempat untuk berwudhu sangat tidak sebanding dengan pengunjung yang membludak. Malah airnya mati sehingga tidak bisa berwudhu sama sekali.

Mau ke toilet umum yang berbayar di dekat parkir bis, takut malah terpisah dari rombongan. Dan itu juga jaraknya cukup jauh.

Iseng, saya yang berpisah dari anak dan suami, setelah masuk kamar mandi dan di sana tak bisa berwudhu apalagi bersih-bersih karena airnya mati, melipir ke belakang dekat kolam. Ternyata di sana ada seperti pancuran darurat yang dibuat baru. Terhalang tenda dan kursi undangan.

Belakangan saya tahu dari spanduk yang ada di parkiran kalau kemarin di lokasi itu sudah ada tabligh akbar dan tenda serta kursi yang belum dibereskan itu adalah bekasnya yang belum dibereskan.

Saya coba buka keran air paling sisi, Alhamdulillah walau kecil ada air untuk berwudhu. Kebetulan nya lagi, anak dan suami tiba-tiba menghampiri saya. Langsung saja saya suruh segera wudhu di tempat saya tadi wudhu, sebelum airnya habis dan banyak orang lagi yang datang.

Alhamdulillah meski sangat darurat kami bisa menjalankan solat subuh di masjid besar Abdurrahman tersebut. Setelahnya lalu melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati.

Hafal Alfiyah Reward Ziarah Wali Songo
Setelah dari Demak kami ke Makam Sunan Kudus

Perjalanan terus berlanjut. Satu persatu makam wali kami ziarahi sesuai urutan jarak yang terdekat dari arah barat ke timur. Selain di Cirebon, semuanya berjalan aman dan tertib. Baik waktu solat, makan maupun saat melakukan ziarah.

Di setiap akhir ziarah itulah, para santri Al Ihtisom yang tahun ini lulus mondok itu pun membacakan Alifah secara serentak dan semangat bersamaan.

Malam menjelang sampai di Makam Sunan Muria, kami menginap di penginapan yang berada di ujung terminal. Keesokan paginya baru melanjutkan ziarah ke atas. Ada yang jalan kaki, ada yang mengendarai ojek kendaraan bermotor. Ongkos per orang dua puluh ribu rupiah.

Hafal Alfiyah Reward Ziarah Wali Songo
Foto bareng di halaman Masjid Agung Tuban

Sekarang menuju makam wali dari parkiran bus itu kebanyakan disarankan untuk naik ojek, becak atau kendaraan khusus macam DAMRI yang disediakan pemerintah daerah. Mungkin untuk memberdayakan masyarakat setempat.

Mau tidak mau kita harus menyiapkan uang ongkos pulang pergi sekitar sepuluh sampai empat puluh ribu rupiah per orang di setiap lokasi ziarah makam wali.

Malam berikutnya kami tidur dalam bis mengingat kunjungan dari satu makam ke makam lain lumayan berjauhan. Sepulangnya dari Madura kami baru akan menginap di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur.

Hafal Alfiyah Reward Ziarah Wali Songo
Di Ponpes Lirboyo Kediri Jawa Timur

Sebelum ke Lirboyo kami sempat mampir ziarah ke Jombang dimana makam Abdurrahman Wahid alias Gus Dur berada. Selanjutnya perjalanan berikutnya ke kota Kediri.

Putra putri pengurus Ponpes Al Ihtisom Choblong Warung Kondang Cianjur banyak yang mondok di Lirboyo dimana Kang Deden Ustman sendiri selaku pemimpin pondok dulunya belajar di Ponpes Lirboyo ini sampai belasan tahun!

Keesokan harinya, setelah ziarah ke makam sesepuh ponpes Lirboyo Kediri kami menyaksikan ratusan bis yang terparkir di lapangan pesantren. Bus itu membawa para santri yang akan mudik ke kampung halaman masing-masing.

Suara klakson telolet saling bersahutan dari satu bisa dengan bis lainnya. Perjalanan satu per satu bis keluar lapangan pondok membawa santri di dalamnya yang sudah merindukan keluarga dan kampung halaman.

Santri yang bertugas menjadi panitia pun terlihat wara-wiri sibuk dengan handy talky di tangan mengkoordinasikan semua supaya lancar. Bayangkan, puluhan ribu santri yang akan pulang itu tentu saja harus dipastikan kenyamanan serta keamanan nya.

Pemandangan ini sungguh sangat mengharukan dan bisa jadi bagi para santri dan santriwati hal itu jadi sebuah memori yang sangat berkesan.

Setelah menjemput putra putri pengurus Ponpes Al Ihtisom Choblong Warung Kondang Cianjur rombongan ziarah kami pun melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Di sini kami mampir di kampung halamannya KH Badruddin Ilham, salah satu pengurus dan pengajar di ponpes Al Ihtisom Choblong Warung Kondang Cianjur.

Hafal Alfiyah Reward Ziarah Wali Songo
Ziarah di makam keluarga besar KH Badruddin Ilham Mlingi Yogyakarta

Barulah setelah itu kami bisa sedikit bersantai seperti jalan ke Malioboro, atau main ke Prambanan.

Kami menghabiskan waktu kepulangan dengan main ke pantai Parangtritis. Setelah puas bermain air dan pasirnya barulah kami pulang ke Cianjur.

Lega rasanya ketika kami sampai dengan selamat di Cianjur berpisah dengan rombongan ziarah dan para santri santriwati dengan meninggalkan banyak kenangan

Hafal Alfiyah Reward Ziarah Wali Songo
Fahmi, Aqil dll mandi di Parangtritis
Read more ...

Kamis, 28 Maret 2024

Tradisi Unik Ramadan Papajar di Rumah Abah Jajang

Tiba-tiba terdengar cekikikan anak-anak perempuan di belakang padahal saat itu semua sedang ma’mum solat witir.

Mungkin karena ada beberapa orang kurang fokus, jadi ketika imam membaca doa qunut di rakaat terakhir setelah ruku’, mereka kira langsung ke gerakan sujud. Alhasil karena kekeliruan itu gerakan solat berjamaah jadi agak kacau. Ada yang tetap berdiri ada yang langsung mau sujud tapi tidak jadi, jadi bangkit berdiri lagi. Karena itulah mungkin anak-anak itu cekikikan. Menertawakan sedikit kesemrawutan.

Tradisi di daerah kami, di momen separuh akhir Ramadan bagi pengikut madzhab Syafi’i memang ditandai dengan adanya imam membaca doa qunut pada saat rakat ketiga salat witir. Membaca doa qunut pada salat witir ini adalah sunnah.

Meski banyak perbedaan karena menganut madzhab yang berbeda namun itulah tanda indahnya Islam yang mengedepankan persatuan. Tidak usah diperdebatkan.

Seperti kita tahu di beberapa daerah di nusantara ini kita bisa menemukan beberapa tradisi unik dan satu sama lain berbeda untuk menandai separuh akhir Ramadan.

Selain pembacaan doa qunut tadi ada juga yang menandai dengan mengganti bacaan surah pada rakat pertama tarawih setelah bacaan surah Al Fatihah, imam kemudian membaca surah Al Qadr. Begitupun pada saat rakat kedua setelah bacaan surah Al Fatihah, imam membaca surah At Takasur.

Ada juga yang tepat pada malam ke enam belas, pengurus masjid setelah lepas witir mengadakan makan bersama dengan menu ketupat opor ayam atau lainnya.

Di masjid Agung Cianjur saya pernah tarawih di sana, makan bersamanya dengan hidangan nasi liwet. Sederhana tapi begitu semarak. Yang masak nasi liwet para pengurus dan penjaga masjid.

Memang beruntung ya sebenarnya kita menjadi warga negara Indonesia. Di negara kita ini memang sangat banyak ditemukan keunikan.

Termasuk keunikan dalam merayakan menyambut Ramadan maupun merayakan ketika Ramadan akan pergi.

Tradisi nyadran, munggahan, dan lain-lainnya bisa kita saksikan jika akan memasuki Ramadan. Di Cianjur tradisi Munggahan disebutnya papajar. Istilah boleh beda tapi ternyata tradisi ini punya kesamaan makna, dimana intinya adalah ngumpul-ngumpul makan bersama didahului dengan membacakan doa untuk arwah dan leluhur ditambah dengan nyekar ke makam keluarga.

Tradisi Unik Ramadan di Rumah Abah Jajang
Papajar, tradisi menyambut Ramadan dengan cara kumpulan lalu makan bersama

Di tempat saya tinggal dan sekitarnya, seolah kompak untuk papajar awal Ramadan kemarin itu kok banyak masyarakat yang menjadikan Rumah Abah Jajang (yang viral setelah diberitakan sebagai rumah surga di pedesaan dengan pemandangan air terjun di depannya namun sang pemilik yang seorang kakek bernama Jajang menolak untuk menjualnya padahal ditawari harga sekitar Rp2,5 miliar) sebagai lokasi tujuan papajar.

Saking membludaknya tamu yang mau papajar ke sana, harus bergantian dan sebagian yang jauh harus reservasi dulu. Gaya betul ya, hehe...

Namun begitulah masyarakat kita. Merasa senang dan bangga kalau tak tertinggal dari hal yang kekinian. Mungkin ada kepuasan tersendiri ketika bisa upload foto sedang papajar di lokasi rumah Abah Jajang. Bisa jadi ke depannya papajar di Pasirkuda Cianjur Selatan ini jadi sebuah sebuah tradisi juga.

Tradisi Unik Ramadan di Rumah Abah Jajang
Baru kekinian kalau sudah punya foto di rumah Abah Jajang

Tapi tidak bagi murid-muridnya suami tahun ini dimana yang di pegang adalah kelas 9C. Mereka berinisiatif papajar ngajak wali kelas, justru bukan di rumah Abah Jajang melainkan rumah kami.

Mungkin karena mereka lahir, tumbuh, besar dan sekolah di sekitar wilayah Curug Citambur jadi suasana rumah Abah Jajang tak begitu spesial lagi. Wong sehari-harinya disana disana juga.

Lucunya sebelum makan bareng ketika papajar di rumah kami, si ketua kelas inisiatif bikin vlog dengan voice over:

Papajar di rumah Abah Jajang ❎

Papajar di rumah wali kelas ☑️

(Baca: papajar di rumah Abah Jajang no, papajar di rumah wali kelas well)

Tradisi Unik Ramadan Papajar ke Rumah Abah Jajang
Rumah Abah Jajang yang sempat viral masuk pemberitaan

Jadilah ketika masuk sekolah saat bulan Ramadan, anak kelas 9C dan suami yang ngajar di sekolah menengah di dekat Curug Citambur itu jadi bahan bulian dan candaan diantara para guru, kalau katanya kelas 9C anak Pak Iwan is well, haha ... Ada ada saja.

Sayangnya tradisi buka puasa bersama yang juga diinginkan murid kelas suami batal diadakan dikarenakan kondisi cuaca yang selalu tidak kondusif. Hujan selalu turun dengan derasnya. Cukup repot jika dipaksakan karena rumah setiap murid satu sama lain saling berjauhan dan tidak setiap anak punya kendaraan bermotor.

Tradisi Unik Ramadan di Rumah Abah Jajang
Anak kelas 9C mengaku bosan dengan lingkungan rumah Abah Jajang, mereka Papajar justru memilih di rumah wali kelasnya

Kami yang tinggal di kampung, pada jelang sepuluh malam terakhir Ramadan ini juga mulai menjumpai wajah-wajah baru yang mana mereka adalah sanak saudara warga setempat yang merantau dan baru datang mudik.

Khususnya di masjid suasananya semakin ramai karena sekaligus menghidupkan qiyamul lail. Begitu juga dengan ibadah i’tikaf yang juga ramai dihadiri oleh berbagai warga wajah baru stok lama, mereka yang baru pulang dari beberapa daerah di ibukota.

Beberapa tradisi menyambut dan berpisah dengan bulan Ramadan ini menambah syahdu bulan Ramadan yang mungkin tidak akan kita temukan di negara-negara lain.

Sesungguhnya masyarakat seluruh Nusantara ini perlu merawat tradisi ini sebagai sebuah kekayaan. Selain merawat tradisi, ini juga merupakan bagian daripada moderasi beragama dimana kita perlu akomodatif dengan budaya lokal.

Tradisi Unik Ramadan di Rumah Abah Jajang
Kedepannya bisa jadi Papajar ke sini jadi sebuah tradisi Ramadan

Budaya-budaya lokal yang berbeda satu sama lain ini jangan  dianggap sebagai sebuah ancaman, akan tetapi anggaplah sebagai bagian untuk memperkaya ritual keagamaan.

Hal yang perlu kita tangkap adalah substansinya, karena di dalamnya ada nilai-nilai kebersamaan, silaturahim dan sosial.

Kita berharap Ramadan kali ini tidak berlalu begitu saja, harus ada perbaikan amal dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga generasi muda bisa melestarikan tradisi-tradisi lokal ini sehingga menjadi bahan cerita yang seru untuk anak cucu kelak.

Read more ...

Senin, 18 Maret 2024

Mengenal Tiga Jenis Jajanan Khas Ramadan. Yang Terakhir ini Fenomenal Banget!

Jajanan khas Ramadan yang ketiga ini memang lejend banget, deh ... Sampai anak saya semangat katanya gak sabar lagi untuk menanti bulan Ramadan. Karena jajanan khas ini emang adanya saat bulan puasa saja

Setelah bubar mengaji sore, anak saya bilang ia mau beli syrup untuk berbuka dari Mama Hafidza. Saya sedikit berpikir dulu, Mama Hafidza jualan? Jualan apa? Dimana?

Setahu saya dia ibu rumah tangga biasa. Maksudnya ya kesehariannya gak berjualan. Jadi ketika anak saya bilang mau jajan di sana, saya sedikit bertanya-tanya.

“Ibu, Mama Hafidza itu jualan jajanan khas Ramadan, Bu... Nih lihat di story WhatsApp nya. Siapa yang mau pesan nanti dilist. Gitu Bu...” jelas anak saya sambil memperlihatkan ponselnya.

Oh saya paham.

Kecamatan Pagelaran Kabupaten Cianjur tempat saya tinggal ini bisa dibilang daerah transisi yang mana masyarakatnya mulai terlihat mengikuti perkembangan daerah mengikuti kehidupan di perkotaan meski kondisi wilayah Pagelaran sebagian besar masih terdiri dari perkampungan persawahan dan kebun lokal.

Adanya internet masuk desa dipastikan perlahan tapi pasti mulai mengubah kebiasaan dan gaya hidup masyarakat pinggiran ini menjadi gaya hidup kekinian seperti di kota besar.

Orang mulai memahami dan mempraktikkan apa itu namanya digital marketing. Berjualan dengan menawarkan dagangannya melalui jaringan internet.

Salah satunya kekuatan media sosial lah yang berperan serta begitu besar dalam mengubah perilaku orang kampung mengikuti trend masyarakat kota. Entah itu dari pergaulan, gaya hidup, pola makan sampai etika kehidupan bermasyarakat lainnya. Termasuk berjualan jajanan khas Ramadan dengan mempromosikannya melalui WhatsApp dan media sosial.

Jajanan khas Ramadan di kampung tehokti

Nah, seperti yang dilakukan Mama Hafidza ini. Pada bulan puasa memang bisa jadi waktu yang tepat untuk memanfaatkan bagaimana geliat ngabuburit versi kampung menuju semi perkotaan ini mulai berubah dan beralih.

Terlebih cuaca sehari-hari di tempat kami ini siang memang cukup cerah, tapi lewat dhuhur sampai magrib, hujan sering turun. Bikin mager dan banyak orang memilih diam di rumah saja.

Tapi namanya juga bulan puasa, gak seru kalau gak ngabuburit sekaligus berburu makanan untuk berbuka (yang di Indonesia diistilahkan dengan takjil, ya). Tapi kalau cuacanya tidak memungkinkan, kan emang lebih baik membeli secara online. Pesanan tinggal terima di tempat.

Sayangnya, di Cianjur Selatan sistem pembelian online secara resmi itu belum masuk. Entah kenapa. Jadi yang namanya gojek atau grab itu emang belum sampai. Jadi kalaupun mau ya dengan sistem manual seperti jualan online yang dilakukan Mama Hafidza tetangga saya. Secara pribadi melalui status WhatsApp atau media sosial.

Meski masih sederhana, tapi ini jelas sangat membantu. Saling menguntungkan. Penjual bisa tetap menawarkan dagangannya, pembeli dapat memilih apa saja yang diinginkan sesuai dengan informasi yang ditawarkan.

Meski jualan jajanan khas ini terkesan musiman, tapi mungkin ya inilah namanya berkah Ramadan. Berjualan jajanan khas Ramadan jadi kesempatan untuk mencari cuan.

Apa saja jajanan khas Ramadan yang biasa dijual?

Pada umumnya menjadi dua pilihan jajanan berupa makanan dan jajanan berupa minuman.

Minuman Khas Ramadan

Minuman khas sebagai jajanan Ramadan di tempat kami tak jauh dari es campur, minuman dingin, kolak, dan sejenisnya. Sedikit berbeda, posisi kolak tergeser dengan minuman boba dan sejenisnya yang mulai muncul berbarengan dengan minuman dingin sejenis franchise berupa teh.

Jajanan khas Ramadan di kampung tehokti

Makanan Khas Ramadan

Kalau makanan khas Ramadan masih didominasi oleh gorengan. Hihi, saking seringnya ketemu gorengan sampai ada yang bilang bukan di Indonesia kalau tidak jumpa dengan camilan yang bisa jadi teman dalam berbagai suasana ini. Emang camilan terdiri dari bakwan, tahu isi, karoket, pastel, dan sejenisnya itu begitu nikmat disantap saat sedang lapar.

Selain ada jajanan jadul lainnya berupa martabak, dawet, makanan tradisional berupa kue basah dan jajanan anak kekinian seperti sostel, bilor, cilor, tahu krispi, dan sebagainya.

Jajanan Khas Ramadan yang Fenomenal

Dan bagi anak-anak di kampung kami, ada jajanan lain yang selalu dinanti dan jadi jajanan Khas Ramadan yang bukan merupakan makanan maupun minuman, yaitu kembang api dan petasan. Ya petasan yang aman untuk anak-anak pastinya ya. Bukan petasan besar yang memang dilarang oleh pemerintah.

Petasan yang dijual di pasar dan dijual lagi oleh pedagang eceran ini mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Petasan masih berupa obat bentol, dimana akan mengeluarkan bunyi kalau kita pukul atau dilempar sekeras mungkin, cecengekan alias petasan sebesar cabe rawit, dan gasing yang hanya berputar sambil mengeluarkan percikan ditambah kembang api.

Justru kalau tidak ada permainan kembang api dan petasan kecil oleh anak-anak itu rasanya kok sepi dan seolah bukan suasananya Ramadan. Apakah ini fenomena yang hanya terjadi di daerah tempat saya tinggal saja?

Jajanan khas Ramadan di kampung tehokti

Mungkin karena di kampung masih sepi, jadi kalau ada yang bakar petasan kembang api agak besar dipastikan hampir satu kampung mengetahui (melihatnya). Dan biasanya kembang api yang ditembakkan ke langit itu hanya mampu dibeli oleh orang bercukupan secara finansial.

Puncak pembakaran kembang api dan petasan biasanya terjadi pada malam takbiran. Di daerah kami yang kontur kampung nya masih berbukit-bukit jika cuaca bagus senang sekali bisa melihat kembang api yang dibakar di kampung lain, pun mungkin sebaliknya jika di kampung saya ada yang membakar kembang api mereka yang tinggal di kampung lain pun bisa melihat juga.

Dan karena itu adalah jajanan khas Ramadan, setelah memasuki bulan Syawal, secara sendinya kembang api pun hilang dari peredaran. Sudah seperti itu bawaannya jajan kembang api kali ya. Hingga keberadaannya begitu fenomenal. Hehe ....

Read more ...

Kamis, 30 November 2023

Nonton Bareng Jaman Dulu dan Kekinian

Di pabrik penggilingan padi samping rumah terdengar obrolan para pekerja membicarakan piala dunia u 17 yang pertandingan nya akan berlangsung akhir pekan ini. Meski hujan turun rintik-rintik suaranya tak mampu mengalahkan kerasnya obrolan mereka hingga sampai terdengar oleh saya yang berada di belakang rumah.

Terdengar juga keluhan dari mereka, bagaimana jengkelnya ketika siap nonton tiba-tiba layar televisinya kena sensor. Bagaimana gak kesal kalau di siaran di televisinya diarahkan untuk membayar paket bulanan terlebih dahulu.

Jaman sekarang apa-apa memang harus serba pakai duit. Beda jaman dulu tuh, televisinya masih jarang yang punya tapi nonton bisa sepuasnya. Lah sekarang setiap rumah punya televisi, tapi mau nonton ya harus bayar lagi. Keluh seseorang yang diiyakan oleh pekerja lainnya.

Memang ya sebelumnya nonton acara sekelas nasional atau internasional bebas-bebas saja. Bahkan karena itu sering diadakan nonton bareng dimana sekelompok masyarakat bisa nonton sebuah tayangan di arena terbuka biar lebih seru dan lebih banyak lagi orang yang bisa menyaksikan bersama-sama tayangannya.

Kini nonton bareng atau nobar sebagai hal yang pada umumnya banyak dilakukan untuk gelaran acara sepakbola mulai banyak pembatasannya. Seperti karena ada pemenang lisensi hak siar dari sebuah acara, maka pihak tersebut yang berhak menayangkan acaranya. Lisensi itu didapat tentu saja tidak gratis. Jadi mereka memang berhak “menjual” lagi siaran tayang yang mereka miliki jika ingin dikonsumsi lagi oleh masyarakat lebih luas.

Nonton bareng jaman dulu dan kekinian sumber detik.com

Karena itu kegiatan nonton bareng tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Apalagi untuk acara pertandingan sekelas piala dunia atau liga Inggris yang memang ekslusif.

Jaman sekarang untuk menyelenggarakan nobar bagi acara khusus seperti pertandingan bola begitu perlu ada langkah-langkah yang dilakukan terkait pelaksanaannya. Agar nobar yang dilaksanakan bisa aman dan tak melanggar hukum atas hak siar yang dimiliki pihak tertentu.

Beda dengan acara nobar jaman dulu yang jangankan satu lingkup area tertentu seperti hotel atau kafe, nobar ditonton masyarakat sekaligus beberapa desa pun tak masalah.

Apalagi nobar nya nonton bareng layar tancap, hahaha, kalau bioskop keliling ini diadakan oleh pihak yang punya hajatan, alias tontonan yang disediakan memang gratisan, tentu saja siapa pun bisa ikut menyaksikan tanpa ada batasan usia, domisili dan sebagainya. Beda kalau nonton bareng layar tancap nya berbayar, ya pastinya yang mampu beli karcis itulah yang bisa menonton.

Ngomongin soal nonton dan layar tancap jadi teringat kenangan jadul masa tiga tahun selama saya berada di Tasikmalaya yang kalau teringat suka bikin senyum-senyum sendiri.

Layar tancap yang juga disebut bioskop keliling pokoknya pernah jadi hiburan yang sangat diminati masyarakat pada masanya. Gak salah kalau ada yang bilang layar tancap jadi ikon Indonesia. Meski karena perubahan zaman kini bioskop layar tancap itu mungkin sudah gulung tikar, walau tidak juga dibilang punah tapi memiliki kenangan tersendiri bagi saya.

Iya kenangan jadul saya di Tasikmalaya memang ada banyak namun yang sering teringat karena relevan dengan kondisi saya sekarang itu misalnya ada keseruan marak (mencari ikan secara masal) di sungai, belajar bikin cangkang ketupat karena banyak pohon kelapa yang ditebang dan daunnya berserakan di jalanan, sampai kenangan nonton layar tancap propaganda pemerintah di lapangan Desa Neglasari.

Nonton bareng jaman dulu dan kekinian
Nonton layar tancap kekinian film Jenderal Soedirman sumber jatengprov.go.id

Ingat saja itu kalau mau nonton layar tancap, habis isya paman dan bibi sudah bersiap. Saya yang masih anak bawang mau aja disuruh ini itu mempersiapkan bekal untuk semalam suntuk.

Bener semalaman? Ya, karena nonton layar tancap biasanya (kalau kuat) selesai sampai dini hari. Pernah pulang ke rumah berbarengan dengan suara bedug subuh. Secara film yang diputar itu bukan hanya satu judul, tapi beberapa sekaligus.

Tak melihat usia, tua muda sampai lansia kalau kuat ya nonton saja. Meski bagi saya, menonton filmnya tak pernah serius (apalagi kalau udah pernah lihat sebelumnya) saya justru lebih antusias melihat para penonton itu sendiri. Mengamati bagaimana masyarakat berbondong-bondong datang ke lapangan desa dengan perbekalan masing-masing.

 Ada yang bawa obor, bawa tikar atau alas duduk lainnya, bawa gembolan yang dipastikan isinya bermacam-macam mulai bekal makanan, kain atau kebutuhan anak lainnya.

Ada yang dandan biasa saja, ada yang dandanannya cetar membahana (untuk ukuran masyarakat kampung saat itu) bahkan ada yang tak mempermasalahkan soal penampilan.

Jika tahu saya akan ikut nonton layar tancap, paman dan bibi suka membekali saya uang buat jajan. Jajanan yang sering saya beli kacang tanah rebus, uli bakar, atau bakar jagung. Mana ada jualan sosis bakar ya jaman itu. Hehe...

Pada jaman itu layar tancap juga berkembang menjadi sarana untuk menunjukkan gengsi seseorang. Siapa bisa mengundang layar tancap saat hajatan pernikahan atau sunatan, sudah barang tentu dianggap Film Maker Indonesia, secara yang bersangkutan punya gengsi lantaran dianggap berduit banyak.

Film yang ditayangkan orang hajatan jelas beda dengan film yang dibawakan team propaganda atau iklan jualan produk tertentu. Meski saat itu masih belum mengenal istilah drama korea tapi kalau film serial alias berjilid sudah lumrah. Contohnya film Rhoma Irama.  Ibarat rekomendasi drama seri itu film Rhoma Irama pada masanya beneran jadi film bersambung yang banyak diminati penonton.

Biasanya film keluaran terbaru akan muncul di acara orang hajatan dan itu yang sangat dinantikan. Beda kalau film yang dibawakan para pedagang seringkali menayangkan film lama yang sudah berkali-kali ditonton.

Nonton bareng jaman dulu dan kekinian

Namanya juga tontonan rakyat, jadi ya gitu deh. Kalau mau nonton rada elit gitu biasanya harus ke kota kabupaten. Nonton di bioskop meski nyatanya di dalamnya masih menggunakan sejenis layar tancap juga sih. Tapi karena dalam ruangan dan tak perlu berdesakan jadi bayar dan agak mahal. Makanya kalau mau yang mudah dan murah, nonton layar tancap propaganda ini pilihannya, atau nunggu ada orang kaya hajatan.

Read more ...

Jumat, 03 November 2023

Sayur Babanci, Kuliner Tradisional Langka Betawi

Sayur Babanci salah satu makanan tradisional khas betawi yang sudah langka. Alasannya karena bumbu-bumbu pembuatnya yang semakin lama sulit ditemukan. Padahal sih saya lihat dari resepnya, semua bumbu sayur ini masih bisa didapatkan dengan mudah.

Memang dalam sayur babanci terdapat rempah Indonesia cukup lengkap, konon jumlahnya saja bisa mencapai 21 bahan. Nah masalahnya setengah dari jumlah rempah itu kini sulit ditemukan di pasaran.

Membaca Jurnal Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI dengan judul “Conservation Models for Sayur Babanci as A Potential Culinary Tourism of Betawi” (2019), disana disebutkan kalau nama babanci merujuk pada penggabungan kata dari Baba-Enci (panggilan khas orang China). Pas jadinya secara sayur Babanci emang bisa dibilang sebagai hidangan peranakan China-Betawi.

Sayur Babanci Kuliner Khas Betawi

Saya sengaja angkat Sayur Babanci dalam artikel ini terinspirasi dari film pendek yang dibuat blogger Indonesia, Dewi Puspa dengan judul Ngidam di acara Jakarta Film Week 2023 yang berlangsung 25-29 Oktober kemarin.

Dari sekian banyak film yang ditayangkan, yang bisa saya lihat adalah film pendek kebanggaan warga KOMIK (Komunitas penyuka film di Kompasiana), yang berjudul Ngidam ini.

Film Ngidam ini ditayangkan di CGV dan Kineforum Taman Ismail Marzuki. Tapi saya di kampung cukup meramaikan nonton film Ngidam ini di layar ponsel saja. Karena film Ngidam ini ditayangkan secara daring melalui platform Vidio.

Betul, melalui Vidio di ponsel lah saya dua kali menyaksikan film hasil karya Mbak Dewi Puspa dan teman-teman KOMIK ini.

Sayur Babanci kuliner khas Betawi

Ngidam dengan kisahnya yang sederhana, tetapi sangat menarik dan penuh dengan pesan yang cukup mendalam. Mengangkat kuliner tradisional Betawi salah satunya Sayur Babanci.

Jalan cerita film sesuai dengan judulnya, yaitu Ngidam. Mengisahkan seorang lelaki bernama Abdul yang harus memenuhi banyak keinginan istrinya, Lela, yang sedang ngidam.

Sebagaimana kepercayaan masyarakat kita, keinginan istri yang sedang ngidam itu sebisa mungkin harus dituruti oleh suami agar anaknya nanti tidak ngeces, alias ngiler terus menerus dalam jangka waktu tertentu.

Suami gak boleh menolak, apalagi mengeluarkan umpatan atau kekerasan verbal yang justru sangat dipantang, takutnya terjadi hal tidak diinginkan dengan janin dan ibu yang mengandungnya.

Karena itu meski harus pintar mengelola emosi, Abdul pontang panting ke sana ke mari untuk memenuhi permintaan Lela. Bahkan permintaan yang beraneka ragam ini pun didukung penuh oleh keluarga termasuk mertua Bang Abdul yang diperankan oleh blogger Indonesia juga yaitu Dennis Sihombing.

Sayur Babanci khas Betawi

Kebanyakan yang diceritakan permintaan makanan tradisional khas Betwai. Dari yang masih mudah didapat seperti Nasi Uduk, Es Selendang Mayang hingga pada puncaknya adalah Abdul harus mencari Sayur Babanci yang konon sudah langka. Selain jarang yang jual, bahan untuk membuat sayur Babanci ini pun memang sudah lumayan sulit dicari apalagi di kota besar seperti Jakarta.

Untungnya Abdul dibantu oleh teman sekantornya yaitu Roochim membuat sendiri Sayur Babanci, walau dengan bahan yang tidak lengkap-lengkap amat. Setidaknya Abdul masih bisa menuruti kemauan dan permintaan Lela yang sedang ngidam. Sip, Abdul selamat lagi kali ini memenuhi keinginan ngidamnya Lela.

Akan tetapi di akhir cerita, ada adegan yang membuat penonton (khususnya para konten kreator) senyum-senyum sendiri. Bikin yang nonton berdecak selain bisa menebak kalau Lela sebenarnya memanfaatkan kondisinya yang sedang hamil untuk meminta berbagai jenis makanan, termasuk yang langka dengan harapan suami tersayang yang dipanggil abang itu terus menurutinya.

Bisa dibilang cerita Ngidam ini berakhir dengan happy ending karena dalam film ini sama sekali tidak ada konflik yang berarti antara Abdul dan Lela.

Sedikit bocoran penampakan dalam film ini, meski namanya sayur, tampilan sayur babanci bisa dibilang lebih mirip gulai atau lontong cap go meh menurut saya mah. Sajian ini justru tidak mengandung bahan sayuran sama sekali, melainkan kuah gulai dengan tambahan daging yang berasal dari kepala sapi, lidah sapi, dan cingur.

Menuntaskan penasaran, bisa langsung searching aja info lengkapnya terkait Sayur Babanci di kolom pencarian gugel ya. Hehe ...

Read more ...

Selasa, 24 Oktober 2023

Kumaafkan Belum Tentu Kulupakan

Namanya manusia, pasti tidak lepas dari salah. Sudah hukum alamnya secara benar selalu bukan malaikat, salah melulu juga bukan setan yang dilaknat.

Ada banyak kesalahan yang dibuat teman, orang terdekat, atau bahkan pasangan, yang sampai sekian lama masih saja menghantui pikiran.

Menurut psikolog beberapa kesalahan yang tidak mudah termaafkan seperti tindakan melakukan kekerasan fisik, selingkuh alias pengkhianatan, berbohong yang berkepanjangan, pelecehan baik psikis maupun emosional, dan kelakuan tidak bertanggung jawab lainnya.

Meski ada saja orang yang bisa dengan mudah memberikan maaf dan pengampunan kepada pelaku tindakan tersebut namun tidak mudah sebenarnya untuk bisa melupakan semuanya.

Lalu kenapa dimaafkan kalau tidak bisa mengikhlaskan?

Ada banyak hal yang menyebabkan kita sebagai manusia harus saling maaf dan memaafkan. Sewaktu masa pandemi covid-19, saya pernah ikut kajin dan salah satu tema yang dibahas terkait maaf memaafkan serta ikhlas dan mengikhlaskan ini.

Adalah Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc.,MA yang menuliskan tentang puluhan sebab kenapa harus memaafkan.

Menurutnya, sifat memaafkan bukanlah sifat yang patut disepelekan, melainkan sifat mulia karena memaafkan adalah sifat yang agung dan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan bahwa perangai ini merupakan salah satu dari ciri-ciri penghuni surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan hal memaafkan ini dalam firman-Nya

“(yaitu) Orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

(QS. Ali-’Imran : 134)

Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfrman

“Dan memaafkan itu lebih dekat kepada takwa.”

(QS. Al Baqarah : 237)

Masih ada firman lainnya: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. An-Nur : 22)

Secara langsung diperintahkan Allah SWT, menandakan jika begitu pentingnya sifat memaafkan. Sebagaimana sifat pemaaf Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menurut Ustadz Firanda, manusia hendaknya bisa memaafkan dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala yang menciptakan perilaku seorang hamba, sehingga benar atau salah sesungguhnya ada Dia yang membolak-balikkan hati.

Meyakini bahwa musibah menimpa karena dosa-dosa yang dimiliki, jika sudah memahami kesalahannya bukankah manusia berkesempatan untuk memperbaikinya juga?

Sebaiknya yakini juga bagaimana besarnya ganjaran Allah Subhanahu wa ta’ala atas orang-orang yang memaafkan, sehingga sekeras apapun hati kita, jika keridhoan Allah yang dicari tak mungkin kita membangkang.

Banyak kisah dan pengalaman yang menggambarkan bahwa memaafkan akan membersihkan hati dari penyakit-penyakit hati terhadap orang lain. Dengan memaafkan, hati menjadi lebih lapang dan tenang.

Orang yang mampu memberikan maaf, pasti hatinya meyakini bahwa memaafkan akan menambah kemuliaan seseorang, kemuliaan yang muncul dari dasar hati.

Orang yang memaafkan juga diyakini kesalahannya akan dimaafkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sebaliknya, jika kita tidak memberikan maaf, apalagi sampai balas dendam dan membalas kezaliman orang lain, sesungguhnya itu hanya akan membuang-buang waktu, dan memungkinkan hilangnya maslahat yang besar sepanjang kehidupan ini.

Apalah kita, jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja Beliau tidak pernah melakukan pembelaan terhadap dirinya. Karena sesungguhnya balasan itu dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Padahal orang yang memaafkan akan dicintai dan diridhai, serta akan dibersamai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Orang-orang diyakini akan mudah memberikan maaf jika tahu sifat bersabar itu  adalah separuh iman.

Sifat orang yang mau memaafkan akan melatih dirinya untuk bisa mengendalikan hawa nafsu. Kemuliaan nya orang yang bersabar dan memaafkan akan ditolong oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Meski memaafkan itu tidak mudah, tapi sudah banyak kejadian dengan memaafkan akan menghentikan kezaliman orang kepada diri kita sendiri dan lingkungan sekitar.

Sebaliu, melakukan membalas kezaliman hanya akan menambah kezaliman orang lain terhadap diri kita. Membalas kezaliman hanya akan menjerumuskan seseorang kepada kezaliman pula. Sementara kezaliman yang dialami seseorang justru akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat seseorang tersebut.

Bisa dibayangkan jika si A melakukan kezaliman kepada kita, lalu kita tidak memaafkannya dan bahkan balik menzaliminya, ia yang kemudian merasakan (balasan) kezaliman kita, justru akan dihapuskan dosa-dosanya dan bahkan diangkat derajatnya. Bukankah jika demikian, kita sendiri yang merugi?

Memang mending segera memberikan maaf meskipun tidak diminta, karena memaafkan adalah kekuatan untuk melawan orang yang berbuat zalim.

Dengan memaafkan akan membuat orang yang menzalimi menjadi merasa rendah. Sehingga dengan satu perbuatan memaafkan saja, sudah akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang banyak yang mengiringinya.

Maaf dan memaafkan sudah menjadi nasihat baik yang diajarkan dalam agama Islam. Bahwa sesama manusia harus saling memaafkan atas kesalahan yang pernah diperbuat. Di mana orang yang membuat kesalahan harus mengakui dan memohon maaf dengan tulus, sama juga dengan orang yang menerima perlakuan buruk juga wajib memaafkan dengan ikhlas.

Tapi pada kenyataannya, meski begitu, dalam hubungan sesama manusia, tentu maaf dan memaafkan bukan suatu hal yang gampang dilakukan.

Di mana sebagian orang mungkin merasa sulit untuk memaafkan seseorang yang telah melakukan kesalahan besar padanya. Apalagi jika kesalahan tersebut telah menyakiti hati atau membawa kerugian lainnya. Hehe, ini mah murni curhat saya...

Sementara dalam Islam sudah dijelaskan jika setiap umat muslim diharuskan untuk meneladani sifat mulia Allah yaitu pemaaf.

Namun, Allah SWT juga tidak melarang jika hamba-Nya tidak ingin memaafkan kesalahan seseorang. Sebab, hal ini sudah hak dari setiap manusia, meskipun pada akhirnya orang yang tidak memaafkan akan mendapatkan kerugian seperti yang sudah diuraikan di atas.

Jika posisi kita berada dalam kondisi yang melakukan kesalahan, minta maaf lalu katanya tetap tidak dimaafkan, apa yang harus dilakukan?

Islam sudah mengatur semuanya . Dijelaskan bagi orang yang tidak dimaafkan, Rasulullah telah mengajarkan bacaan doa khusus yang bisa diamalkan untuk mendapatkan pertolongan dari Allah.

Doa Saat Kesalahan Tidak Dimaafkan

Rasulullah SAW menganjurkan sebuah doa yang bisa dibaca ketika kita tidak mendapatkan maaf dari orang lain. Berikut bacaan doa saat kesalahan tidak dimaafkan :

“Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki dosa kepada-Mu dan dosa yang kulakukan kepada makhluk-Mu. Aku bermohon Ya Allah, agar Engkau mengampuni dosa yang kulakukan kepada-Mu serta mengambil alih dan menanggung dosa yang kulakukan kepada makhluk-Mu.”

Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa maaf dan memaafkan adalah anjuran yang diajarkan dalam agama Islam. Meskipun begitu, Allah tidak melarang setiap hamba-Nya untuk tidak memaafkan orang lain yang berbuat salah. Sebab, itu sudah menjadi hak dari setiap manusia dalam bersikap dan berperilaku pada orang lain.

Tentu, bagi orang yang melakukan kesalahan dan tidak dimaafkan, ini menjadi hal yang sulit. Ketika upaya untuk meminta maaf sudah dilakukan dengan baik, namun tidak dimaafkan oleh orang yang dituju, maka jalan satu-satunya adalah memohon pertolongan dari Allah.

Dari bacaan doa tersebut, dapat dipahami bahwa Allah lah yang menjadi penolong hamba-Nya yang mengalami kesulitan. Dengan doa tersebut bisa memohon ampunan kepada Allah, sekaligus meminta pertolongan agar bisa membukakan pintu maaf dari orang yang dimaksud.

Jika orang tersebut tidak juga memaafkan, tenang saja, doa tersebut dapat membantu untuk memohon kepada Allah agar memberikan imbalan kebaikan dan pengampunan doa pada orang yang dimaksud. Toh walaupun ada pihak yang sangat mudah memberikan maaf, tapi belum tentu dapat mengikhlaskan semuanya. Dengan begitu, semoga kondisi hati bisa sedikit merasa lebih lega, ya.

Wallahualam

Read more ...

Rabu, 18 Oktober 2023

3 Prestasi Siti Atikoh Mendukung Pola Asuh Karakter Baik Anak

“Anaknya kan udah besar, gak mau nambah lagi?”

“Pantas manja, kalau belum punya adik, emang suka gitu...”

“Kalau anak cuma satu, ntar udah tua ditinggal anak kesepian, lho!”

Masih banyak lagi komentar mereka terkait setua ini saya hanya memiliki satu orang anak laki-laki usia 10 tahun-- yang semuanya itu saya tanggapi dengan senyum saja.

Urusan anak kan hak prerogatif Tuhan. Mau minta banyak kalau dikasih satu, mau bagaimana? Yang menggunakan kontrasepsi saja kalau saatnya kebobolan ya jadi anak juga.

Kalau saya ladeni mereka, bisa sakit sendiri. Sementara keuntungan dan kerugian toh gak ngaruh ke kondisi kita, bukan? Jadi buat apa ditanggapi?

Yang penting nih biar anak cuma semata wayang, sebagai orang tua bisa mendidik dan menjaganya sebagai amanah Tuhan. Anak itu tergantung didikannya. Anak manja sekalipun kalau di tangan orang tua yang tepat, ia akan punya etika, berakhlak baik dan menjadikan kekaguman bagi yang lain.

Saya jadi ingat berita viral akhir-akhir ini di kalangan para Nyai/Ning (sebutan atau gelar bagi keturunan kyai bagi perempuan, istri dan putri pengasuh pondok pesantren) dimana salah satu sosok tersebut yaitu Siti Atikoh Supriyanti yang berhasil mencuri perhatian sebagian banyak para Nyai dan Ning karena pola pengasuhan yang diterapkannya kepada putra semata wayangnya memunculkan banyak kekaguman.

Btw sudah tahu kan siapa Siti Atikoh itu? Beliau adalah istri gubernur Jawa Tengah periode 2013-2023, Ganjar Pranowo. Pasangan yang melangsungkan pernikahan pada tahun 1999 ini dikaruniai seorang putra bernama Muhammad Zinedine Alam Ganjar.

Nah, yang bikin dikagumi itu, adalah pola pengasuhan Siti Atikoh terhadap putra semata wayangnya Alam Ganjar itu. Siti Atikoh dinilai berhasil mendidik Alam menjadi anak yang pandai menjaga akhlak.

Siapa tidak kagum terhadap sosok ibu dari Alam Ganjar, ketika Siti Atikoh melarang sopir membukakan pintu untuk anaknya, termasuk tidak diperbolehkan membawakan barang pribadi anaknya. Mungkin bagi sebagian orang itu hal kecil tapi itu justru inspiratif sekali. Patut dicontoh untuk membiasakan anak bisa hidup mandiri dan menghargai orang yang lebih tua.

Pola asuh Siti Atikoh terhadap Alam tidak biasa. Apalagi bagi keluarga yang menjadi tokoh publik di mana kemewahan bisa dengan mudah didapat.

Tidak heran banyak orang tua meniru pola pengasuhan yang dilakukan Siti Atikoh dengan harapan anak sendiri bisa menjadi seperti Alam Ganjar yang tumbuh dengan baik, sosok sederhana dan apa adanya.

Karenan banyak para ibu yang mengagumi putra Siti Atikoh tersebut, saya juga jadi kepo ingin tahu bagaimana cara mendidik sehingga menjadi seperti yang kita lihat, anaknya pintar dan akhlaknya sangat dijaga.

Begitulah sosok Siti Atikoh Supriyani atau kerap disapa dengan panggilan Atikoh yang lahir 52 tahun silam, tepatnya pada tanggal 25 November 1971 di Purbalingga, Jawa Tengah.

Ternyata selain mendampingi suami, saat bertugas, Siti Atikoh juga memiliki peran lainnya.

Selama mendampingi suaminya menjadi orang nomor satu di Jawa Tengah, Siti Atikoh memiliki banyak prestasi dalam memajukan provinsi yang beribukota Semarang itu. Siti Atikoh sering terlihat melakukan sosialisasi dan edukasi kepada perempuan di Jateng.

Berikut tiga prestasi gemilang yang telah diraih oleh Siti Atikoh sosok simbol juang Kartini masa kini

Prestasi Siti Atikoh Dalam Memajukan Kesejahteraan di Jawa Tengah

1. Menurunkan Angka Stunting

PKK Jawa Tengah berperan aktif dalam melakukan pendampingan dan pembinaan keluarga serta ibu-ibu di wilayahnya.

Upaya itu berhasil menurunkan angka stunting hingga mencapai 11,9 persen pada tahun 2022, menurut perhitungan elektronik - Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (ePPGBM).

Program "Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng" yang digagas Siti Atikoh bertujuan menjaga kesejahteraan ibu dan bayi serta mengurangi Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), serta mengatasi masalah stunting.

2. Mencegah Perkawinan Dini

Siti Atikoh dan PKK Jateng mengimplementasikan program Jo Kawin Bocah. Program ini bertujuan mencegah perkawinan dini yang masih kerap terjadi di Jawa Tengah.

3. Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Bullying

Siti Atikoh menerima penghargaan sebagai Bunda Forum Anak Jawa Tengah oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Bintang Puspayoga sebagai pengakuan atas dedikasinya dalam melindungi anak-anak di Jawa Tengah melalui program "Jogo Konco”

Program Aplikasi Jogo Konco, atau Jaga Anak dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Jateng dan TP PKK Jateng dalam upaya melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan.

Siti Atikoh Supriyanti

Itulah sosok Siti Atikoh yang terus menjalankan perannya sebagai istri dan seorang ibu dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak.

Beliau tidak hanya memiliki program atau teori tetapi sekaligus mengimplementasikan langsung terhadap anak dan keluarganya sendiri.

Jadi mau anak satu atau berapa pun, yang penting sebagai orang tua, kita harus bisa mendidik dan menjaganya sehingga anak bisa tumbuh dan berkembang dengan memiliki karakter baik dan hidup sesuai dengan ajaran kebenaran.

Read more ...

Jumat, 06 Oktober 2023

Semarak Bulan Musim Kawin

Semarak bulan musim kawin benarkah jika disebut juga sebagai bulan musim kebobolan?

Pagi-pagi udah ada yang ketuk pintu. Ternyata tetangga belakang rumah, mengantar hidangan serta kue yang katanya kiriman dari besan. Minggu lalu kami memang baru saja mengantarkan anak bungsunya menikah ke tetangga kecamatan. Mungkin hantaran munjungan itu yang kini dibagikan lagi kepada kami.

“Sengaja pagi-pagi langsung dibagikan, biar bisa dinikmati saat sarapan. Iya, jadi jangan dulu ngabubur. Ini aja buat sarapan ya...” Ucap tetangga yang sudah seperti saudara itu sambil tergelak.

Saya hanya nyengir. Tahu aja dia, kalau hari Jumat ini kan hari pasar di kecamatan tempat tinggal kami ini. Biasanya, saya, suami dan anak kalau hari pasar memang suka sarapan bubur di pasar sekaligus belanja untuk kebutuhan sehari-hari.

Gerak cepat juga tetangga saya itu. Memang benar kalau saja ia agak siang sedikit mengantarkan makanan dan kue-kue itu, bisa-bisa kami keburu berangkat ke pasar. Beruntung banget kan kami akhirnya bisa menikmati hidangan gratis. Hihi, jadinya hemat pengeluaran...

Hemat?

Btw, sebenarnya gak hemat juga. Kalau boleh jujur bulan ini, justru kami ini bisa dibilang kebobolan. Bagaimana tidak, bulan ini di tempat saya bisa dibilang sebagai bulan musim kawin. Banyak banget undangan pernikahan yang kesemuanya tentu saja butuh dana untuk memenuhinya.

Jika biasanya musim kawin jatuh pada bulan Syawal dan Dzulhijjah di Tahun Hijriah, atau bulan Desember di tahun Masehi, maka entah kenapa sekarang di bulan Rabiul Awwal dan jelang Rabiul Akhir yang bertepatan dengan bulan Oktober ini justru dipilih sebagai waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan.

Memang setiap waktu juga baik ya, hanya mungkin di saat bertepatan dengan Rabiul Awwal bulan kelahiran orang terpilih sebagai teladan semua umat yaitu Rasulullah Saw maka dipercaya akan membawa keberkahan dan kebaikan. Dan masyarakat yang masih mempercayai perhitungan Jawa Kuno memilih saat itulah untuk melangsungkan niat baik seperti acara lamaran atau pernikahan.

Momen yang dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang sebelumnya sangat jarang ditemui. Termasuk memilih menyelenggarakan acara hajatan atau lamaran.

Begitu banyaknya hajatan pernikahan di bulan-bulan ini hingga membuat bulan ini dikenal oleh masyarakat sebagai musim kawin. Warga banyak yang memplesetkannya sebagai bulan musim kebobolan. Haha ...

Semarak Bulan Musim Kawin

Di kampung saya aja, bulan ini ada lima orang pemuda yang menikah, otomatis tabungan keluar banyak untuk bisa memenuhi undangan mereka. Mau menghindar mana bisa, secara kelimanya itu mereka dulu mengaji di tempat kami. Jadi tidak hanya kenal karena rumah kami bertetangga, tapi juga ada ikatan lebih yang tidak akan lekang, yaitu hubungan antara guru dengan muridnya, termasuk guru dengan wali muridnya.

Mau bagaimana lagi, meski harus kebobolan, tetap harus kami syukuri. Mereka menikah untuk menyempurnakan agama dan kebahagiaan kita sebagai orang tua (guru) bukankah ada pada kebahagiaan mereka juga?

Selama bulan ini sudah tiga kali diajak rewang (membantu keluarga yang hajatan) dan selama itu pula kebahagiaan terpancar dari setiap orang.

Kami para ibu-ibu cukup membantu saat memasak untuk acara syukuran saja. Secara untuk acara resmi lain macam seserahan, resepsi, dan sebagainya sudah dipercayakan kepada wedding organizer. Jadi tidak terlalu repot dan kelelahan seperti dulu. Kini segala urusan sudah jauh lebih praktis.

Tiga pemuda yang sudah kami antar menikah dengan istri pilihannya itu lulusan SMK dan bekerja di perusahaan kontraktor di Kalimantan. Dari segi materi untuk biaya pernikahan mereka semua menduga sudah lebih dari mampu. Tidak heran untuk persiapan pernikahan mereka banyak melihat referensi dan rekomendasi dari internet agar lebih kekinian.

Dua orang pemuda yang baru akan melangsungkan pernikahan tanggal 14 Oktober dan 23 Oktober besok, juga menggunakan jasa wedding organizer untuk kelancaran acaranya. Salah satu teman suami yang berkecimpung di dunia dokumentasi fotografi dan videografi acara pernikahan bilang, mereka itu sudah mencari konsep yang cocok sejak beberapa bulan sebelumnya.

Berbagai artikel terkait pelaksanaan pernikahan terus dibidik. Termasuk artikel dari para travel blogger yang merekomendasikan banyak lokasi bagus untuk gelar acara pernikahan atau lamaran seperti hotel, resort dan sebagainya.

Kami para orang tua di kampung ini, tentu saja hanya tinggal menyetujui pilihan mereka dan atau memberikan masukan jika ada hal yang kurang cocok dengan kebiasaan maupun tradisi setempat. Sungguh keberadaan lokasi yang mampu melengkapi acara seperti yang diinginkan para calon mempelai seperti hotel, resto reviewer ini sangat membantu sekali.

Kecanggihan teknologi mau tidak mau harus kita imbangi supaya kita tidak diam di tempat, atau bahkan jauh tertinggal.

Masih ingat saat saya pertama kali diboyong suami ke kampung ini, mereka pemuda-pemuda yang sekarang menikah itu masih berseragam SD dan getol-getolnya ngaji jadi santri kalong (santri yang tidak menetap). Kini, mereka telah dewasa dan beranjak berumah tangga, adik adik mereka, bahkan anak-anak mereka lah yang bergantian datang untuk mengaji. Seperti itulah kehidupan, datang dan pergi silih berganti.

Semarak Bulan Musim Kawin

Begitu juga dengan keuangan. Seharusnya saya tidak perlu resah menghadapi bulan kawin ini. Saat ada rejeki dan diperuntukkan untuk memenuhi undangan mereka, berarti itu memang rezeki mereka melalui tangan kita. Jadi kenapa harus resah ya?

Toh buktinya selalu ada kebaikan yang mengikuti jika kita pada awalnya berbuat dengan disertai niat baik pula. Seperti hantaran makanan dan kue dari tetangga pagi ini. Bukankah sudah membantu meringankan pengeluaran yang seharusnya dikeluarkan untuk sarapan?

Jadi gak begitu kebobolan juga kali ya, hehe...

Read more ...

Sabtu, 19 Agustus 2023

Helaran Seni Budaya Cianjur 2023

Dalam rangka HUT RI Ke 78 sekaligus Hari Jadi Cianjur ke 346 pemerintah Kabupaten Cianjur mengadakan acara Helaran Seni dan Budaya 2023 pada Sabtu ini, 19 Agustus 2023.

Festival Budaya Daerah (Helaran) di Cianjur ini dimeriahkan oleh penampilan kesenian dan budaya dari sejumlah instansi, sekolah lanjutan tingkat atas dan komunitas yang berlangsung mulai dari Lapangan Prawatasari dan berakhir di Alun-alun Cianjur melalui pintu barat.

Dulu pengertian dari kata helaran terfokus pada acara mengarak pengantin atau anak yang dikhitan. Kini istilah helaran sudah lebih luas, bisa memiliki arti lain seperti berjalan dengan suguhan atraksi seni daerah yang diiringi musik dan tari dengan usungan alat musik tradisional oleh masing-masing perwakilan.

Untuk menggali potensi seni dan budaya, Kabupaten Cianjur memiliki ragam kesenian yang bervariatif karena didukung oleh luasnya wilayah yang membujur dari Utara ke Selatan. Perwakilan dari 32 kecamatan di Cianjur, ditambah sekolah lanjutan tingkat atas dan berbagai komunitas membuat helaran ini begitu panjang dan banyak diminati masyarakat.

Calung Pagelaran

Dari kecamatan Pagelaran tempat saya tinggal, pada kesempatan ini team sepakat mengirimkan helaran seni Sunda Calung.

Helaran Seni Budaya Cianjur 2023

Calung adalah alat musik pukul yang terbuat dari bambu. Alat musik purwarupa jenis idiofon ini bisa dibilang saudaranya alat musik angklung. Sama-sama terbuat dari bambu, hanya angklung dibunyikannya dengan cara digoyang.

Sementara cara memainkan alat musik calung adalah dengan memukul bilah atau ruas bambu yang sudah tersusun menurut titi laras da-mi-na-ti-la (tangga nada pentatonik) yang sudah biasa digunakan dalam alat musik masyarakat Sunda.

Jenis calung sendiri ada dua terdiri dari calung rantay (bukan rantai ya) dan calung jinjing.

Calung rantay bilah tabungnya disimpan dalam posisi dideretkan dengan ikatan oleh tali kulit waru. Posisinya berjejer dari yang terbesar sampai yang terkecil. Biasanya jumlahnya 7 wilahan (7 ruas bambu). Tapi ada juga yang lebih.

Kalau jenis calung jinjing berbentuk deretan bambu bernada yang disatukan dengan sebilah kecil bambu (paniir). Calung jinjing cukup ringan dibawa karena biasanya terdiri atas empat atau lima buah ruas bambu.

Cara memainkannya dipukul dengan tangan kanan memakai pemukul, dan tangan kiri menjinjing/memegang alat musik tersebut. Sedangkan istilah teknik menabuhnya antar lain dengan cara dimelodi, dikeleter, dikemprang, dikempyung, diraeh, dirincik, dirangkep, salancar, kotrek, dan solorok.

Unik-unik ya istilahnya, secara semua itu dalam bahasa tradisional, dan saya jujur saja susah menjelaskannya kalau secara teori. Kalau sambil praktik langsung, insyaallah agak bisa. Ada beberapa yang masih saya ingat secara saat sekolah, saya juga gabung menjadi Team Seni dan suka ikut manggung kalau ada yang ngundang.

Sebagaimana jenis calung yang sekarang berkembang dan dikenal secara umum yaitu calung jinjing maka kecamatan Pagelaran pun membuat pertunjukan calung jinjing yang formasinya dibagi terdiri dari beberapa orang pemain calung jinjing, penabuh kendang, kecrek, dan beberapa orang penyanyi tentu saja. Disamping ada official dan teknisi.

Meski seni calung (sepertinya) sudah tidak banyak diminati masyarakat modern, beda dengan antusias masyarakat saat menyambut iring-iringan anak SMK yang menampilkan dan membawakan kreasi unik kebanggaan mereka, namun ada juga request dari masyarakat yang kebetulan saat macet, tim peserta helaran dari kecamatan Pagelaran berhenti dan mereka mengajak interaksi. Meski terdengar rada keluar jalur, seperti minta dibawakan lagu ikan dalam kolam yang sedang hits itu, (mana sempat belajar membawakan lagu dangdut dengan alat musik calung?) tapi pemain calung dengan pedenya memenuhi permintaan tersebut.

Yang penting penyanyi menguasai lirik dan lagu. Sisanya nada dari calung itu sendiri bisa disesuaikan. Tak apa nada tak sama, toh tidak begitu terdengar jelas (jika penonton tidak sangat jeli) karena suara musik dari peserta lain dan suara penonton serta kendaraan saja sudah sangat bising. Yang penting suara penyanyinya oke, dan suara tabuhan kendang pas di akhir hentakan, penonton sudah terlihat puas dengan ikut berlenggak lenggok bergoyang.

Karena itu kemacetan tidak bisa dihindarkan. Selain karena masyarakat seolah tumplek ke jalan raya dimana helaran berlangsung mulai pagi hingga sore harinya, juga banyak masyarakat yang ikut berjoget sehingga memadati jalan yang seharusnya dilewati peserta helaran.

Helaran (atau ada juga yang menyebutnya arak-arakan) kali ini memang terasa lebih spesial karena selain menampilkan kesenian dan atraksi dari perwakilan tiap kecamatan sebagai agenda setiap menyambut hari jadi Cianjur yang diperingati setiap tanggal 12 Juli juga ditampilkan atraksi perjuangan kemerdekaan yang mencirikan khas peringatan HUT RI pada 17 Agustus.

Perayaan yang digabung dalam momen helaran budaya ini, selain memeriahkan dua momen besar tersebut, ada juga yang menjadikannya sebagai kesempatan untuk meraih simpati demi meluluskan pemilu nanti, lho!

Tapi sudahlah, ga usah dibahas. Namanya juga usaha kali ya...

Kita bahas yang memukau saat helaran budaya ini saja ya, yaitu atraksi kuda kosong.

Tentang Kuda Kosong

Atraksi Kuda Kosong adalah budaya khas Cianjur sebagai seni istimewa karena hanya ditampilkan pada kesempatan tertentu.

Informasi dari Disbudpar Cianjur yang saya terima sewaktu mengikuti program Haci dari bupati sebelumnya, Irvan Rivano Mochtar,  pertunjukan Kuda Kosong ini menghubungkan dengan sejarah pembentukan Kabupaten Cianjur di bawah pemerintahan Raja Mataram. Saat itu, Cianjur harus memberikan upeti kepada Mataram.

Helaran Seni Budaya Cianjur 2023

Istilah “Kuda Kosong” muncul karena kuda yang menjadi bagian dari upeti dari Raja Mataram untuk Dalem Cianjur tidak dinaiki ketika dibawa ke Cianjur. Ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dalem Cianjur.

Kuda Kosong ini pun tentu saja ditampilkan dalam Helaran Budaya 2023. Tak hanya sebagai simbol sejarah Cianjur dengan kehebatan diplomasinya tetapi juga terdapat filosofi yang kental di dalamnya.

Kuda tanpa penunggang yang dihiasi dengan jubah hijau itu selalu menjadi magnet utama dalam penyelenggaraan helaran budaya Cianjur.

Dalam iringan Kuda Kosong itu, juga disertai dengan pasukan berpakaian pengawal zaman kerajaan. Selain itu terdapat juga tiga orang pengawal yang memegang kotak berisikan tiga butir biji cabai, tiga butir beras dan tiga butir pedes atau lada.

Penjelasan budayawan sekaligus sejarawan Cianjur, Luki Muharam atraksi kuda kosong ini diambil dari peristiwa diplomasi Cianjur dengan Mataram.

Pada jaman dahulu, Cianjur diminta tunduk kepada Mataram. Namun bupati Cianjur saat itu yakni Raden Wiratanu II mengirim utusan untuk menyampaikan pesan yang berisikan cabai, lada, dan beras.

Secara filosofis, beras mengartikan Cianjur merupakan daerah yang subur, lada menyimbolkan Cianjur merupakan daerah baru terbentuk, dan cabai mengartikan meskipun masih baru Cianjur siap untuk memberikan perlawanan.

Bukannya marah, Mataram malah takjub dengan diplomasi yang digunakan pemerintah Cianjur. Diplomasi itu berbuah pengakuan Mataram jika Cianjur bukan sebagai negeri taklukan tapi sahabat. Bahkan Cianjur diberi hadiah, yang salah satunya kuda balap dengan perawakan tinggi besar.

Selama sebulan perjalanan dari Mataram ke Cianjur, kuda yang gagah itu tidak ditunggangi oleh utusan. Sebab kuda itu dihadiahkan untuk sang Bupati Cianjur.

Bupati Cianjur membuat kebijakan untuk memamerkan kuda hadiah tersebut pada masyarakat, setelah sebelumnya kuda tersebut dirias kemudian di arak mengitari jalan raya Cianjur.

Kamonesan itu pun dikenal dengan Kuda Kosong lantaran saat diarak kuda tersebut tidak ditunggangi, sama halnya seperti ketika kuda itu dibawa dari Mataram ke Cianjur.

Namun pada 1950-an, terjadi pergeseran budaya, dimana kuda kosong diidentikan dengan hal mistis. Banyak orang menganggap kuda tersebut tidak benar-benar kosong. Tapi ada penunggangnya yang tidak terlihat yaitu Raden Suryakencana, leluhur Cianjur.

Oleh karena itu, warga Cianjur berantusias melihat Kuda Kosong lantaran kisah mistis ini.

Helaran Seni Budaya Cianjur 2023

Ritual yang dianggap bertentangan dengan agama itu pun membuat Kuda Kosong dilarang tampil pada tahun 1997. Namun setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya budaya pawai kuda kosong pada tahun 2005 kembali diizinkan untuk ditampilkan dengan tidak melakukan ritual yang bertentangan.

Kuda Kosong saat ini sebatas ditujukan sebagai tontonan atau pertunjukan budaya. Meski masyarakat yang meyakini jika kuda tersebut ditunggangi Raden Suryakencana masih banyak.

Helaran sebagai promosi kemampuan sekolah lanjutan

Selain adanya atraksi Kuda Kosong yang sangat dinanti masyarakat (karena sebagian masyarakat masih percaya akan hal mistisnya) menurut saya yang menarik pada helaran kali ini juga adalah munculnya beragam kreativitas anak sekolah.

Mereka beneran totalitas dalam membuat karya untuk diperlihatkan kepada masyarakat umum sesuai keahlian atau jurusan di sekolahnya tersebut.

Helaran Seni Budaya Cianjur 2023

Jelas harus totalitas, secara pertunjukan seni dan budaya dari SMA, dan SMK yang terdaftar ini, bukankah bisa jadi sekaligus juga sebagai ajang promosi bagaimana sekolah tersebut memberi kontribusi dalam mengisi pembangunan yang sudah 78 tahun ini?

Selain pawai merah putih dan barisan pembawa bendera, ada juga anak sekolah  yang fokus membawakan lagu nasional dengan group drumband nya.

Tidak hanya sembarang pawai, para pelajar ini juga serius menampilkan keahlian masing-masing baik dalam bidang seni, teknologi, digital, bahkan medis dan sastra.

Yang ambil jurusan otomotif, mereka membuat dan mendesign kendaraan bunga. Tidak hanya dipenuhi bunga potong yang masih segar, tapi di sisi kendaraan ini juga dipenuhi doodle dan ilustrasi yang sangat mirip aslinya.

Helaran kali ini (setelah tiga tahun sebelumnya vakum karena dampak pandemi) bagai pihak sekolah bukan saja sebagai ajang memperlihatkan pertunjukan seni dan budaya, tapi juga ajang mempromosikan jurusan sekolah lanjutan masing-masing sekaligus memperlihatkan profesi apa yang bisa dicapai kelak setelah lulus sekolah sehingga bisa menarik minat calon siswa.

Helaran Seni Budaya Cianjur 2023
Read more ...

Senin, 03 Juli 2023

Asal Usul Istilah Orsel alias Korsel, Sebutan Hiburan Pasar Malam di Sunda

Sejak kecil setiap ada hiburan pasar malam di lapangan desa, sudah terbiasa menyebutnya dengan istilah “Korsel” (bukan Korea Selatan pastinya ya).

Pokoknya kalau mau main ke pasar malam, tidak anak tidak orang tua, mereka akan bilang mau main ke korsel...

Padahal semakin saya besar, semakin berpikir, dan sadar di pasar malam itu sendiri tidak ada tulisan atau yang memiliki nama korsel. Jadi istilah korsel ini dari mana asalnya?

Setelah punya anak, giliran saya yang harus menjelaskan pertanyaan anak. Kenapa pasar malam di Sunda disebut korsel? Jangan sampai saya menjadi narasumber yang salah kaprah untuk anak saya. Karena itu saya selalu mencari informasi terkait asal usul nama korsel ini.

Bianglala di korsel Pagelaran Juli 2023

1 Juli 2023 kemarin, di lapangan Desa Pagelaran Kecamatan Pagelaran Cianjur resmi dibuka korsel alias pasar malam sebagai wahana hiburan masyarakat setempat. Informasi yang didapat, korsel ini akan berlangsung selama sebulan, hingga awal bulan Agustus nanti.

Semua anak-anak bahkan para orang tua sangat antusias dengan hiburan masyarakat ini. Maklumlah, sejak adanya pandemi covid-19, hingga sekarang ini hiburan seperti korsel ini baru hadir lagi. Bertepatan pula waktunya dengan liburan Iduladha, plus libur panjang kenaikan kelas di sekolah.

Ditambah lokasi lapangan desa Pagelaran yang sangat strategis, bisa mudah dijangkau dari desa lainnya seperti Buniwangi, Bunijaya, Padamaju, Kertaraharja dan Sindangkerta, bahkan dari kecamatan tetangga seperti Tanggeung dan Pasirkuda. Tidak heran jika pengunjung tumplek di lapangan desa Pagelaran ini.

Saat malam Minggu malam pembukaan itu tukang parkir di Desa Pagelaran saja dikatakan mendapatkan uang dari sepeda motor dan mobil pengunjung sampai jutaan rupiah! Belum yang parkir ilegal alias nyelip di sana sini asal aman tapi gratis. Membuktikan kalau pengunjung korsel kali ini memang cukup banyak.

Tidak semua warga mampu keluarin duit ratusan ribu buat menikmati wahana menantang dan mengasyikan kaya di Dufan, atau Jungle Land. Tidak semua berkesempatan main ke Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang sangat fenomenal dan modern itu, apalagi buat orang kampung yang jaraknya ratusan kilometer ke ibukota. Pilihan penduduk Cianjur Selatan salah satunya ya wahana korsel dan pasar malamnya ini saja sebagai hiburannya. Anggap aja ini PRP, Pekan Raya Pagelaran, hahaha...

Cuaca juga sangat mendukung. Sebelum solat Iduladha di wilayah Pagelaran memang ada mendung tapi tidak turun hujan. Hari Jumatnya malah cerah lagi dan Sabtu pas pembukaan pameran sekaligus pasar malam ini cuaca kembali cerah, seolah merestui kegembiraan masyarakat yang begitu antusias menikmati hiburan untuk cuci mata ala ala.

Seperti wahana korsel pada umumnya, di sana kita dapat menikmati berbagai wahana permainan yang bisa diikuti oleh anak maupun dewasa. Berbagai penjual pun turut meramaikan mulai dari kuliner, pakaian, perabot rumah tangga, peralatan sekolah, hingga game yang berhadiah sangat menggiurkan.

Semua rela antri untuk bisa naik wahana permainan bianglala, goyang ombak, kora-kora, komidi putar, dan permainan lainnya ini jauh lebih seru dan jauh lebih memacu adrenaline dibandingkan di Dufan, secara di Dufan keamanan sudah standar internasional, sementara di korsel ini, ya tahu sendiri lah ... Meski besi dan sarana semua permainan dicat baru, tidak tampak berkarat, namun rasa was-was itu tidak bisa hilang begitu saja, bukan? Apalagi operator dan petugas wahana disini masih banyak yang anak-anak.

Game keberuntungan di korsel Pagelaran Cianjur. Menggiurkan tapi jarang menang

Setiap wahana bisa dinikmati dengan harga karcis sepuluh ribu per orang. Anak dewasa, harga sama.

Alhamdulillah listrik di Pagelaran sekarang tidak sering mati. Jadi suasana pesta rakyat ini kesannya semakin meriah saja. Meski di korsel kali ini tidak ada rumah hantu dan tong setan. Konon dua wahana itu yang bisa dibilang cukup menakutkan dan menegangkan.

Hiburan dan refreshing sudah jadi kebutuhan primer untuk mengobati kepala yang cenat cenut sehari-hari akibat perjuangan keras dalam mencari nafkah, menghadapi permasalahan keluarga dan kejenuhan hidup lainnya. Mendatangi korsel alias pasar malam, saya akui bisa melupakan semua permasalahan itu walau hanya sejenak.

Permainan tak kalah menarik adalah game-game semacam mesin capit yang mempertaruhkan keberuntungan. Seperti jika berhasil memecahkan tujuh balon, akan mendapatkan boneka beruang super besar.

Karcis Korsel Pagelaran. Entah berapa nominal harga aslinya

Dua hari pasar malam berlangsung belum ada yang berhasil memenangkan hadiah itu. Padahal harga untuk tujuh kali kesempatan memecah balon itu sepuluh ribu rupiah. Terbayang dong keuntungan sang bandar sebesar apa.

Meski sifatnya untung-untungan, tapi antusias para pengunjung tidak sedikit. Kebanyakan yang mencoba dan penasaran adalah remaja hingga bapak-bapak.

Adanya korsel alias pasar malam ini juga mendongkrak usaha masyarakat setempat. Banyak tetangga yang kecipratan rezeki berjualan makanan, minuman, buah-buahan hingga pakaian dan peralatan lainnya. Alhamdulillah rezekinya mereka.

Selama di korsel anak saya tidak bosan jajan sosis, popcorn, dan minuman es berperasa. Padahal saya sangat mengkhawatirkannya secara kita tahu pewarna dan pemanis buatan itu dampaknya sangat rentan untuk kesehatan. Apalagi di Pagelaran ini masih jarang ada dokter spesialis anak. Kalau sampai anak sakit kan repot juga.

Salut dengan orang tua yang sangat memperhatikan kesehatan anak dengan selalu menyiapkan bekal sehat untuk mereka. Bukan berarti tidak boleh jajan, hanya dibatasi dan tetap mengutamakan makanan sehat dari rumah.

https://www.instagram.com/reel/CuOJLmyr3ZL/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==

Jadi kembali kepada pertanyaan di awal, kenapa pasar malam disebut “Orsel” atau “Korsel” oleh orang Sunda?

Ternyata jawabannya cukup sederhana, karena pasar malam di Jawa Barat umumnya ada carousel atau komidi putar. Kata korsel sendiri merupakan Sundanisasi dari kata carousel atau komidi putar.

So, sekarang saya sendiri bisa menjelaskan dengan mudah kepada anak kenapa di tempat kami ini pasar malam disebut korsel... Ternyata hanya karena bahasa lidah ya yang jadi alasannya.

Komidi putar (bahasa Inggris: merry-go-round) atau disebut juga korsel (bahasa Inggris: carousel)

Korsel alias pasar malam Juli 2023 di Pagelaran Cianjur
Read more ...

Selasa, 25 April 2023

Jenis Ketupat Singaparna

“Sarapan ketupat ya, Bu? Yang depan alun-alun itu,” pesan Fahmi setelah solat subuh di hari ke tiga lebaran.

Ini anak gak bosen apa ya makan ketupat? Padahal sejak hari Kamis, saya udah bikin ketupat sendiri. Sampai kemarin Senin ketupat di rumah baru saja habis, hari ini udah pesan mau sarapan ketupat lagi.

Saat teman-teman mengabarkan lebaran hari Jumat, dan pemerintah baru akan melaksanakan sidang isbat Jumat sorenya, Mak sejak Kamis pagi saya sudah mempersiapkan ketupat dan hidangan pelengkap lainnya. Berjaga-jaga kalau lebaran jatuh pada hari yang sama.

Ternyata pemerintah memutuskan sesuai kesepakatan semua jika lebaran jatuh pada hari Sabtu. Mau tidak mau, daripada mubadzir, ketupat untuk lebaran beserta teman-temannya sejak Kamis akhirnya sudah kami cicipi, dong. Padahal masih menjalankan puasa satu hari lagi.

Berlanjut sampai hari lebaran yang jatuh pada hari Sabtu, malam takbir saya kembali membuat ketupat karena yang dibuat hari Kamis sudah habis. Kalau malam takbiran gak buat ketupat, khawatir besok ada saudara dan teman yang datang, terus masa gak diajak makan ketupat. Ketupat hasil malam takbiran itu baru habis hari Senin pagi.

Dan Selasa ini, ketika kami silaturahmi ke rumah yang di kota Cianjur, Fahmi sudah pesan ia ingin sarapan ketupat (lagi)!

satu porsi ketupat Singaparna

Tapi tentu saja ini bukan ketupat lebaran, melainkan ketupat penjual yang mangkal di emper toko depan alun-alun Cianjur. Namanya Ketupat Singaparna.

Ketupat Singaparna cukup terkenal seperti bubur Cianjur, atau ikan bakar Cianjur. Singaparna adalah nama tempat di Tasikmalaya. Saya sendiri tidak asing dengan olahan ketupat Singaparna ini secara pernah tinggal di sana selama tiga tahun. Jadi citarasa ketupat Singaparna sudah melekat juga di lidah saya.

Di Cianjur ini ketupat Singaparna langganan kami ya yang ada di depan alun-alun Cianjur. Ada banyak sebenarnya cabang ketupat Singaparna ini. Termasuk penjual ketupat Singaparna terdekat dari rumah yaitu di depan Jalan H. Soheh, Batas Sukataris Karangtengah. Tapi sesekali saja kami makan di sana. Seringnya ya di depan alun-alun Cianjur ini.

Bagi muslim di Indonesia, ketupat merupakan makanan khas ketika lebaran. Dapat informasi dari berbagai sumber, ketupat berasal dari kata "kupat" yang memiliki dua arti, pertama yaitu ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan kedua laku papat (empat tindakan).

Setiap buat ketupat lebaran, saya selalu berusaha untuk menyamai ketupat Singaparna ini. Maksudnya bukan penyajiannya, melainkan mengolah ketupatnya. Sehingga hasilnya lembut, harum dan memiliki rasa khas.

Isian beras pada ketupat memiliki lambang sebagai hawa nafsu. Sedangkan, janur alias daun kelapa muda sebagai kulit ketupat berasal dari kata jatining nur yang berarti cahaya sejati (hati nurani). Sehingga kata sesepuh, ketupat itu melambangkan manusia yang menahan nafsu dengan mengikuti hati nuraninya.

Sejarah Ketupat Nusantara

Ketupat sudah dikenal sejak jaman Kerajaan Demak, yaitu pada abad ke-15. Seorang ahli sejarah dari Belanda, Hermanus Johannes de Graaf, dalam bukunya yang berjudul Malay Annual, menerangkan jika ketupat pertama kali muncul di daerah jawa, tepatnya ketika kepemimpinan Kerajaan Demak.

Jadi kala itu, adalah Sunan Kalijaga yang memperkenalkan ketupat pertama kali dalam rangka untuk berdakwah menyebarkan agama Islam ke Tanah Jawa yang notabene “sulit di-Islamkan” karena masyarakat Jawa sudah punya sistem kepercayaan sendiri yang dikenal sebagai Kejawen.

Kemunculan ketupat tersebut merupakan bagian dari penyebaran agama Islam yang dibawa oleh Sunan Kalijaga.

Ketupat digunakan untuk melakukan pendekatan dakwah dalam sistem budaya. Karena, ketupat dipercaya dapat menjadi alat yang lebih familiar bagi masyarakat Jawa yang kental pada saat itu.

Hingga, ketika agama Islam mulai diterima secara luas, ketupat akhirnya melekat sebagai hidangan yang khas saat perayaan Islam, tepatnya saat perayaan Idulfitri.

Ketupat Singaparna, legend nya ketupat depan alun-alun Cianjur

Terdapat beberapa macam jenis ketupat sesuai bentuk, bahan baku, dan jenis pembungkusnya.

Ada Ketupat Pulut dari Medan. Ketupat pulut adalah ketupat yang terbuat dari beras ketan. Biasanya dimakan dengan lauk rendang atau gulai kambing.

Lalu Ketupat Kapau sebagai ikon Kota Pekanbaru, Riau. Penggunaan daun kapau tersebut diyakini dapat membuat ketupat bertahan lebih lama.

Ketupat Palas adalah ketupat yang dibuat dari daun palas atau daun lontar muda. Ketupat ini juga dibuat menggunakan beras ketan, dihidangkan bersama rendang dan aneka kari.

Ada Ketupat Landan berasal dari Banjarnegara. Untuk memasak ketupat landan biasanya menggunakan air rendaman abu pelepah kelapa.

Ketupat Pandan sesuai namanya ketupat ini dibuat dari daun pandan, daun pandan yang digunakan adalah daun yang berukuran besar dan memiliki duri. Bukan pandan kecil untuk pewangi atau pewarna alami bahan makanan ya.

Ini penampakan ketupat Singaparna

Terus ketupat yang saya buat masuknya ke jenis ketupat mana ya? Secara cangkangnya terbuat dari daun kelapa muda, bikinnya juga mengikuti tradisi turun temurun sesepuh dan nenek moyang leluhur.

Tak bosan-bosannya makan ketupat meski di rumah sudah berhari-hari makan ketupat juga

Cara Bikin Ketupat

Untuk membuat ketupat Singaparna, bahan-bahan yang perlu disiapkan antara lain:

  • Kulit ketupat siap pakai
  • Beras secukupnya
  • Air
  • Air kapur
  • Garam

Untuk membuat ketupat, berikut langkah-langkah yang biasa saya lakukan:

  • Cuci beras hingga bersih, lalu tiriskan.
  • Masukkan satu sendok air kapur dan garam secukupnya, diamkan supaya meresap.
  • Siapkan kulit ketupat, lalu masukkan beras sebanyak setengah bagian dari kulit ketupat.
  • Setelah terisi, ikat ketupat dengan rapat agar tidak bocor ketika direbus nanti.
  • Panaskan air dalam panci, rebus ketupat selama 15 menit dulu. Lalu matikan kompor dan diamkan ketupat dalam panci yang masih tertutup selama 30 menit.
  • Selanjutnya, panaskan kembali ketupat selama 15 menit dengan api besar. Setelah matang, angkat ketupat, tunggu hingga dingin dan memadat.
  • Ketupat pun siap disajikan bersama dengan berbagai hidangan khas lebaran.

Rasanya yang kenyal di mulut tapi lembut dan terasa memiliki rasa di lidah pasti bakal ketagihan. Seperti Fahmi putra saya, yang sudah habis ketupat di rumah, jajan ketupat Singaparna kemudian.

Read more ...