Tampilkan postingan dengan label Gempa Cianjur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gempa Cianjur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2023

Es Cekek VS Tumbler: Program Relawan Bencana Ramah Lingkungan

Kegiatan ngeblog di dalam atau di luar rumah pasti membutuhkan banyak minum, apalagi kalau ngeblog nya di lokasi pengungsian bencana. Nah, supaya semangat minum, saya akan share cerita ala momblogger tentang botol minum atau gelas para penyintas gempa Cianjur, melalui kegiatan dan program kerja yang dilakukan Mang Yadi, salah satu aktivitas lingkungan hidup Cianjur pasca bencana gempa di Cianjur. Penasaran bagaimana ceritanya?

Es Cekek (plastik minum sekali pakai) VS tumbler botol minum favorit anak

Jadi kami di Cianjur (jauh sebelum adanya bencana gempa) memiliki group WhatsApp CIANJUR BEBAS SAMPAH yang beranggotakan terdiri dari aktivis dan orang-orang yang peduli lingkungan dan minimalisir sampah. Digawangi Mang Yadi dan Teh Nia beserta kawan-kawannya dari Ceu Lalah (cegah pilih dan pilah sampah).

Setelah gempa terjadi, para aktivis ini jadi semakin peduli dengan masalah sampah yang selalu menumpuk di setiap tenda pengungsian. Greget rasanya melihat plastik bekas mie instan, minuman instan, bahkan sampah popok sekali pakai dan sebagainya yang sudah tidak bisa dihindari lagi.

Peperangan batin tingkat tinggi rasanya ketika dihadapkan dengan dua belah mata pisau yang keduanya justru berakhir dengan sakit dan membahayakan. Mau ditolak, masa rezeki donasi tak diterima. Mau diterima, ujungnya ya masalah sampah itu tadi... sungguh berat, Beib...

Akhirnya para aktivis lingkungan yang saat pasca gempa merangkap sekaligus menjadi relawan gempa, mereka mengadakan aksi relawan gempa dengan konsep Progam Relawan Bencana Ramah Lingkungan.

Anak-anak penyintas gempa di tenda pengungsian tetap diajarkan mencintai kebersihan dan menjaga lingkungan dengan membuang sampah kepada tempatnya

Ternyata, gerakan ramah lingkungan di tempat lokasi pengungsian gempa Cianjur ini mendapatkan banyak dukungan dari banyak pihak. Ada banyak program di dalamnya. Seperti minimalisir sampah organik dan non-organik, ketahanan pangan, konsep daur ulang pakaian yang tidak layak pakai, dan sebagainya. Tapi yang akan saya bahas, fokus ke Es Cekek VS Tumbler dulu sesuai dengan judul artikel ini, ya ...

Jadi kami prihatin ketika donasi datang, khususnya donasi dari sanak saudara penyintas, mereka banyak yang memberi anak-anak uang jajan. Selain praktis, juga mungkin pikir mereka sesekali meski saat bencana (bukan hanya lebaran saja) kasih uang jajan ke anak bikin mereka bahagia, apa salahnya. Ya memang tidak mengapa. Malah syukur Alhamdulillah. Hanya yang jadi masalah ketika anak-anak membelikan uang mereka itu jajan makanan dan minuman pabrikan yang tidak hanya menambah tumpukan sampah, tapi sekaligus membahayakan kesehatan mereka sendiri.

Hidup dalam tenda pengungsian dengan segala macam keterbatasan bikin anak lebih rentan kena penyakit. Ditambah jajan camilan dan minuman yang tidak terjamin kesehatan, kebersihan, pemanis dan pewarna buatan, bikin mereka mudah kena flu, batuk, radang tenggorokan dan sakit amandel.

Kami berpikir itu harus segera dicegah dan lebih jauh lagi menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak-anak sejak dini. Sudah cukup saat alam rusak biaya jauh lebih mahal bahkan nyawa pun harus dibayar. Jangan sampai menjemput ajal dengan menyepelekan masalah yang jika dibiarkan akan menumpuk jadi duri dalam daging.

Taukah begitu dahsyatnya sampah makanan pabrikan yang berakhir di lokasi gempa? Kemasan plastik sekali minum menjadi salah satu yang mendominasi. Padahal kemasan minuman seperti tetrapack adalah sampah yang unik berbeda dengan sampah lainnya. Tetrapack di dalamnya memiliki jenis 3 unsur, adanya plastik sedotan, kertas dan alumunium voil.

Sedangkan jangankan di tenda pengungsian, di perumahan normal saja, masih sangat jarang pengelolaan sampah ini yang berakhir jadi residu.

Berniat kuat ingin sedikit menyelamatkan lingkungan di lokasi musibah alam, relawan gempa harus sigap ambil sikap dan cepat bertindak.

Diam-diam kami juga mengamati banyak anak-anak penyintas gempa di pengungsian yang terindikasi minuman yang dikonsumsi orang dewasa seperti kopi dan minuman berenergi lainnya termasuk minuman penambah stamina dari posko. Sebenarnya kalau untuk para relawan team SAR dan relawan lain ya tidak masalah, mereka memang membutuhkan itu saat bekerja dengan keras setiap harinya. Tapi kalau anak-anak? Kopi dan minuman penambah stamina sama sekali tidak diperuntukkan bagi mereka, bukan?

Meski minuman stamina di posko itu ada yang menyehatkan juga lho, seperti madu, kunyit, jahe, lemon, dan gula merah. Tapi yang meracik itu tidak banyak. Lebih banyak beralih kepada (lagi-lagi) minuman instan pabrikan.

Akhirnya koordinasi dengan relawan logistik, khusus untuk anak-anak yang berada di training centre pengungsian di Cisarua Cilaku, relawan mencoba mempraktikkan metode Home Education, dengan cara meminta dikirim buah-buahan untuk dibuat minuman segar sehat (juice).

buah-buahan siap disulap jadi minuman sehat

Tidak lupa relawan juga berkoordinasi dengan donatur untuk membeli Tumbler seadanya yang nantinya akan dibagikan juga kepada anak-anak. Tumbler alias botol minum itu akan diberi nama dan dimiliki oleh setiap anak. Sehingga akan dibiasakan memiliki atau membawa tempat minum sendiri. Selain praktis juga mengajarkan mereka untuk meminimalisir sampah.

Tumbler yang diharapkan jadi botol minum favorit menggantikan plastik sekali pakai

Dengan buah kiriman seadanya, relawan bekerja sama mengupas, memotong, memblender hingga membuat juice sebagai minuman sehat sederhana untuk anak-anak.

Selesai sore harinya relawan langsung membagikan jus bersama wadah Tumbler yang disediakan untuk seluruh anak anak di kampung Cisarua.

Tampak keceriaan dari setiap raut wajah manakala mereka menerima pembagian Tumbler sebagai pengganti botol minum sekali pakai. Meski tidak terlalu mahal, tapi diharapkan botol minum itu bisa jadi wadah favorit mereka dan sedikit mengalihkan keberadaan plastik es cekek yang jadi wadah minuman sebelumnya.

Mang Yadi membagikan Tumbler kepada anak-anak penyintas gempa semoga bisa terus menggantikan plastik sekali pakai

Program-progam Relawan Bencana Ramah Lingkungan lainnya selain kisah Es Cekek VS Tumbler ini, ada pada kategori Gempa Cianjur lainnya ya...

Read more ...

Selasa, 27 Desember 2022

Ini Tentang Kita

Jelang meninggalkan tahun 2022 banyak kisah di sekitar saya, berupa bahagia, tawa, juga duka. Jelang tutup tahun, duka disempurnakan dengan bencana yang menimpa Cianjur --kabupaten tempat dimana saya dan keluarga besar tinggal --sangat membuat saya tertegun. Bagaimana tidak, ini tentang kita, setelah gempa melanda, selanjutnya keluarga saya pun kena banjir bandang di Kecamatan Sukanagara. Rumah ibu dan masa kecil saya disana dihabiskan. Sungguh sebuah ujian yang sudah begitu membuat saya terasa sangat terhimpit.

Saya tahu saya tidak sendiri. Bahkan ada banyak saudara kita yang mendapatkan cobaan melebihi dari kesedihan yang saya rasakan. Masih bersyukur saat ujian mendatangi saya melalui gempa dan banjir bandang, saya berada di lingkungan orang yang sangat peduli dan mengasihi. Saya merasa tidak sendiri. Karena selalu ada cerita yang menguatkan tentang kita yang sama-sama berjuang, tentang kita yang sama-sama bertahan, dan tentang empati kita, tentang kepedulian kita terhadap sesamanya.

Rumah di Cianjur Kota kena gempa
kampung halaman di Sukanagara yang tergenang kena banjir bandang Jumat 16 Desember 2022

Saya percaya, sebagai mahluk sosial, Tuhan menciptakan kita ini untuk saling melengkapi dan berbagi. Saya percaya, dengan adanya banyak kisah di sekitar kita ini, baik berupa kebahagiaan, tawa, juga bangga. Bahkan lelah, masalah, dan rasa bersalah, adalah bentuk penggemblengan pribadi kita untuk terus menjadi yang terkuat, terbaik dan berakhlak mulia.

Mungkin saja duka ini sedang kita alami bersama. Sehingga banyaknya ribuan bahkan jutaan tangan yang terulur untuk saling menguatkan itu adalah bentuk kepedulian satu sama lain yang tidak usah kita ragukan lagi ketulusannya.

Selaku penyintas bencana gempa dan banjir bandang, saya yakin, semakin kita membantu orang lain, semakin juga kita menyadari, betapa kita sedang membantu diri kita sendiri. Ketika kita tidak punya banyak stok logistik, tapi tetangga kelaparan dan dengan semangat kita membaginya, siapa sangka Tuhan menggantinya seribu persen dengan nominal yang tidak saya duga tiba-tiba masuk ke rekening atas nama kepedulian teman. Pintu itu terbuka bukan karena tidak ada jalannya, tapi memang sudah kita bingkai sejak lama, melalui keikhlasan saat menyisihkan apapun, dengan niat tulus tanpa imbalan.

Mungkin, sesuatu yang kita cari dalam perjalanan hidup ini, ada dekat dengan kita. Bukan tentang seberapa jauh pencapaian itu. Melainkan seberapa ikhlas dan konsisten kita melakukannya...

Sebagaimana penyintas bencana lainnya di Cianjur ini, saya pun merasakan apa yang sedang mencuat sekarang, rumor bantuan gempa Cianjur yang tidak transparan dan tidak tepat sasaran sehingga menimbulkan kegaduhan berujung pengaduan pihak terkait ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nyata adanya.

Yang mendapatkan bantuan itu orang yang punya koneksi dengan pihak tertentu. Tidak merata. Seharusnya apapun alasannya termasuk akses jalan yang sulit, semua penyintas tidak dibedakan. Rasanya tidak berlebihan jika masyarakat suatu kampung mengatakan jika rasa kemanusiaan itu ada karena disorot depan kamera. Karena setelah switch off, keserakahan dan KKN tetap berjalan.

Tapi sudahlah saya sadar. Ini tentang kita. Tidak seharusnya saya merusak niat baik uluran tangan yang tulus itu dengan praduga tidak berkesudahan. Saya tetap meyakini hidup ini adalah sebuah kebersamaan.

Tidak seharusnya bertanya berapa banyak saya dapat, melainkan seberapa banyak saya sudah berbagi? Seberapa dekat saya sudah saling membersamai? Ini tentang kita. Kita bisa melakukan sesuatu yang baik, mencoba untuk menolong orang lain, dan berkorban untuk orang lain. Dalam kondisi terdesak atau dimiskinkan sekalipun. Bukankah sudah saya alami langsung bayaran dari Tuhan itu muncul dari pintu yang tidak terduga?

Salut dengan para relawan yang Tuhan turunkan hidayah kepadanya. Mereka datang ke Cianjur bukan untuk saya sendiri. Dengan ragam perbedaan dalam satu persamaan. Dengan upaya dan percaya, bahwa dukungan kemanusiaan kita turut menguatkan satu sama lain.

Gempa dan banjir bandang yang saya alami di penghujung tahun 2022 ini semoga jadi momentum pelecut diri supaya bisa lebih optimis besok menyongsong tahun baru 2023.

Pertemuan tidak sengaja dengan Bang Bojek relawan DMC (Disaster Management Center) dari Dompet Dhuafa sudah lebih membukakan mata hati saya jika masih banyak yang peduli kepada kami, melalui uluran tangan keihklasan yang sudah dirancang Dompet Dhuafa melalui beberapa program.

Bang Bojek, relawan Dompet Dhuafa yang selalu berbagi kasih

Setidaknya ada 4 program sorotan Dompet Dhuafa pada Humanesia yang dijalankan tahun ini. Di antaranya adalah:

  • Indonesia Siap Siaga,
  • Kado Anak Yatim,
  • Perempuan Tangguh, dan
  • Wakaf untuk Bunda

Program itu jadi salah satu empat upaya Dompet Dhuafa dalam dedikasi Indonesia Siap Siaga untuk membantu korban bencana di Cianjur.

Sedangkan ajakan-ajakan camapign-nya dibingkai dalam tujuh program, yaitu:

  • Cianjur Bangkit
  • Sedekah Menolak Bala
  • Kado Akhir Tahun
  • Wakaf Untuk Bunda
  • Kado untuk Ibu Tangguh
  • Zakat Akhir Tahun, dan
  • Kado untuk Yatim.

Sesuai dengan pemikiran saya jauh sebelum bertemu Bang Bojek, jika pemikiran sederhana ini tentang kita ternyata sejalan dengan Dompet Dhuafa yang mengusung tagline Ini Tentang Kita. Makna ‘Kita’ disini berarti semua pihak. Baik itu pihak Dompet Dhuafa sendiri, para relawan, donatur, penerima manfaat, jaringan kemitraan, dan semua orang.

Ini tentang kita menggambarkan jika semua pihak dari berbagai latar belakang, status, pekerjaan, juga usia adalah memiliki kedudukan yang sama jika berdasarkan kemanusiaan. Untuk bersama terlibat aktif dalam merawat kebaikan kolektif, lebih dekat dan melekat.

Saya salut dengan Bang Bojek yang sudah sebulan lebih menjadi team relawan di Cianjur. Juga dengan para relawan lainnya tentunya. Begitu mulia hati dan tujuan mereka. Padahal mereka para relawan pun memiliki permasalahan dan ujiannya masing-masing.

Kita yang masih sehat, masih muda, masih kuat, tidak kah tergerak hati untuk sedikit saja menyingsingkan lengan baju berbuat kebaikan?

Hei, sekarang jaman serba digital. E wallet bisa mewakilinya jika kamu malas tangan halusmu itu kena kotoran debu. Tidak harus berjuta-juta, asal kamu ikhlas, sepuluh ribu atau seratus ribu yang kamu sisihkan, jika dikumpulkan nanti akan menjadi besar dan semakin bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan.

Apakah tidak tergerak hatimu juga jika kami disini di Cianjur memiliki banyak bantuan uluran tanganmu? Untuk apa? Untuk bantu Cianjur pulih...

BANTU CIANJUR PULIH

Ratusan nyawa tewas akibat gempa. Ratusan ribu lainnya terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian. Dukungan kamu akan jadi harapan bagi para penyintas untuk bisa melanjutkan kehidupan.

Upaya Dompet Dhuafa dalam mendampingi masyarakat Cianjur untuk Bangkit terbagydalam dua tahap, yaitu recovery dan Shoecial Movement.

RECOVERY

Pembangunan Masjid/Mushalla

Membangun dan memperbaiki musholla yang rusak karena bencana

Pembuatan MCK

Membuat fasilitas MCK untuk masyarakat yang kena bencana

Recycle House

Membangun kembali rumah rumah warga yang hancur akibat bencana

Pombuatan Sumur

Membuat sumur untuk kubutuhan air masyarakat yang terdampak bencana

Pembangunan Sekolah Tahan Gempa

Membangun sekolan tahan gempa dan memperbaiki sekolah yang rusak akibat bencana

SHOECIAL MOVEMENT

Berbagi 1000 Sepatu untuk Anak Cianjur Memberikan bantuan berupa sepatu kepada anak-anak Cianjur yang terdampak bencana

Kado Anak Yatim

Memberikan hadiah  untuk anak Yatim berupa kodo yang berisi peralatan sekolah seperti tas, buku, seragam sekolah dll.

Tidak hanya untuk gempa Cianjur, Dompet Dhuafa juga memiliki banyak program lain terkait ini tentang kita, yang mana semuanya tentu saja berdasarkan saling bantu atas dasar kemanusiaan dan saling memberi manfaat.

ZISWAF DOMPET DHUAFA

Ada banyak program baik yang mengundang kita untuk menjadi salah satu good people di dalamnya, seperti:

Kado Akhir Tahun Yatim

Kirim kado untuk yatim yuk! Kado berupa perlengkapan sekolah, pakaian dan sembako ini akan didistribusikan untuk bahagiakan para yatim yang ada di berbagai daerah di Indonesia.

Perempuan Tangguh

Menjadi wanita dengan peran ganda sungguh tak mudah. Lembut sosoknya dibalut dengan tangguhnya mengais pundi rupiah. Dukungan kamu bisa jadi pengungkit semangat mereka untuk tetap berdaya. Para perempuan hebat ini akan diberikan modal usaha dari rezeki yang kamu sisihkan itu, sehingga mereka bisa lebih produktif dan berdaya.

Zakat Akhir Tahun

Rasanya baru kemarin tahun 2022. Hari ini nyatanya kita sudah di penghujung tahun. Gak berasa ya? Beragam kebaikan telah tercipta berkat zakat yang kita keluarkan. Mari tutup tahun dengan kebaikan melalui Zakat Akhir Tahun. Belum tentu akhir tahun depan, usia kita masih ada.

Wakaf untuk Ibu

Berikan wakaf untuk ibu sebagai hadiah pahala abadi untuk ibu tercinta. Cantumkan nama beliau sebagai wakif atau wakaf yang diberikan. Wakaf terbaik untuk wanita terbaik. Pasti kamu akan bangga begitu juga ibu kita...

Sedekah Menolak Bala

Bencana layaknya misteri, datangnya tak bisa diprediksi. Semoga dengan sedekah, bisa jadi salah satu ikhtiar kita untuk melindungi diri, keluarga serta harta dari bencana yang akhir-akhir ini melanda. Aamiin...

Ayo sedekah!

Sejatinya, membantu orang lain sama dengan membantu diri sendiri. #IniTentangKita, dengan ragam perbedaan dalam satu persamaan. Bersama saling merasa dan kuatkan dengan kebaikan.

Sebagai penyintas gempa dan banjir bandang saya mengajak semuanya untuk memulai kebaikan dari sekarang. Jangan tunggu merasakan jadi penyintas dulu seperti saya.

Ini saya cerita karena ini tentang kita. Saya merasakan sekecil apapun bantuan yang datang sangat bermanfaat dan membahagiakan. Sungguh!

Salurkan kebaikanmu melalui jalan yang tepat. Sejak tahun 1993, Dompet Dhuafa sudah membentang kebaikan ZISWAF kepada lebih dari 25 juta penerima manfaat. Sekarang mari kita bersama tumbuhkan ZISWAF untuk berdayakan umat.

Call center Dompet Dhuafa: +622127874080

Read more ...

Selasa, 20 Desember 2022

Idola Relawan Bencana

Hujan terus mengguyur. Hawa dingin tidak bisa dihindari. Tapi tangan ini justru merasa panas dan keras. Efek dari kena air kotor mungkin, dan terus-terusan pegang air karena pasca banjir bandang Jumat 17 Desember lalu. Banyak banget barang yang harus saya cuci... menimbulkan kulit jadi kering, mengelupas, gatal dan sakit karena kulitnya pecah-pecah.

Tapi saya usahakan untuk terus bisa menyelesaikan artikel ini. Karena ada banyak idola yang ingin saya temui. Meski tidak banyak apa saja yang akan dilakukan jika bertemu, selain mengucapkan terima kasih dan mungkin mendoakan semoga kebaikan berlebih selalu melimpah kepada mereka.

Kamu harus tahu, idola saya bukan artis, musisi, atau bintang film. Idola saya saat ini adalah mereka para team relawan di Gempa Cianjur dan Banjir Bandang Sukanagara Cianjur Selatan.

Semua mungkin sudah tahu, jadi relawan itu sesungguhnya tidak mudah. Panggilan kemanusiaan tanpa imbalan dan jasa ini tidak bisa diikuti oleh sembarang orang. Hanya manusia terpilih yang punya keberanian tinggi dan keikhlasan yang mumpuni yang bisa melaluinya.

Padahal jadi relawan tidak memiliki upah layaknya bekerja pada umumnya. Yang ada, jadi relawan itu banyakan dukanya daripada sukanya.

Team relawan tidak hanya berjibaku dalam lingkup itu saja. Dalam masa tanggap darurat gempa Cianjur kemarin, relawan juga banyak yang mendirikan dapur umum, membantu proses pencarian orang hilang atau SAR, membantu menyalurkan logistik, trauma healing, hingga bantuan komunikasi.

Relawan pun mengumpulkan donasi dari pihak lain untuk membantu masyarakat terdampak gempa. Mulai bantuan logistik, pakaian baru dan bekas layak pakai, terpal, sembako, kasur, popok bayi, oba-obatan hingga susu bayi.

Cerita seorang relawan yang mengisahkan suka duka menjadi relawan di Gempa Cianjur. Menurutnya sukanya jadi relawan mungkin saat bisa membantu korban karena setelah itu ada kepuasan batin tersendiri. Karena relawan pada dasarnya bekerja tanpa imbalan. Jadi walaupun cape tapi terbayarkan dengan wajah gembira mereka yang merasa terbantu dengan adanya team relawan ini.

Berbanding terbalik dengan dukanya yang bila diabsen, ternyata cukup banyak juga. Masalah pribadi saja, mulai istirahat yang sebentar dan tempat jauh dari kata nyaman karena cuma di tenda, penghuninya banyakan, plus cuaca buruk sering dialami bikin tidur tidak maksimal.

Ada kisah duka juga dari soal makan yang dijatah dan sedapatnya bergantung dari kiriman dari relawan dapur umum, dan pakaian sendiri yang istilahnya dicuci karena air hujan, lalu kering saya dipakai melekat di badan.

Belum lagi duka dari kondisi di tempat gempa itu sendiri. Seperti kendala untuk menjangkau desa yang aksesnya sulit, padahal harus ke sana untuk mengantarkan bantuan. Team relawan pasti bingung untuk transport ke sana karena aksesnya tidak mudah.

Memang bukan hal mudah menjangkau pengungsi gempa Cianjur yang masih minim menerima bantuan baik berupa makanan atau kebutuhan darurat lainnya. Lokasi pengungsi yang tersebar dan minimnya akses jalan membuat pendistribusian logistik untuk penyintas gempa Cianjur mengalami kendala.

Bahkan relawan pun harus berjalan kaki cukup jauh untuk memberikan bantuan. Sampai akhirnya logistik pun gagal terkirim hari itu dan baru bisa sampa hari berikutnya. Bagaimana tidak sedih?

Selain jalan di lokasi bencana sempit, puing-puing rumah pun banyak yang menghalangi jalan sehingga akses transportasi menjadi tersendat.

Relawan gempa Cianjur tidak hanya identik dengan membantu mencari korban. Tapi ada juga para chef cantik karena mereka adalah perempuan-perempuan tangguh yang mau meluangkan waktu, keahlian dan tenaga demi kemanusiaan.

Ya, para relawan ini adalah juru masak yang notabene ibu-ibu senior dalam hal dunia memasak. Mereka pun ikut andil dari sisi meramu masakan menjadi makanan yang sehat dan bergizi bagi siapa pun khususnya para relawan lainnya.

Terharu mendengar kisah para ibu hebat ini. Mereka berani datang ke lokasi bencana yang saat itu masih sering terjadi gempa susulan. Dukungan dan doa dari keluarga pastinya selalu menyertai. Mereka bukan mengenyampingkan tanggung jawab terhadap keluarga, tapi panggilan ibu pertiwi membulatkan tekad untuk mengabdi.

Mereka para relawan dapur ini memperhitungkan nilai gizi agar para relawan yang bertugas mencari korban, membantu mengangkat puing-puing rumah yang roboh atau siapa pun yang menikmati makanan merasa kenyang, lezat, sehat dan nikmat.

Terima kasih juga ingin saya sampaikan kepada kakak relawan yang jadi idola anak-anak. Banyak kaum milenial yang tergerak hatinya untuk memberikan pemulihan terhadap para korban gempa Cianjur, khususnya anak-anak.

Meski banyak kakak relawan yang tidak memiliki bekal ataupun latar belakang ilmu psikologi yang mumpuni untuk membantu pemulihan mental korban gempa, tapi mereka tetap semangat mendampingi anak-anak korban gempa dengan tulus.

Berbekal niatan ingin ikut membantu trauma healing sebelum menuju lokasi pengungsian, banyak kakak relawan yang lebih dahulu menyiapkan segala perbekalan yang dibutuhkan. Mulai dari kertas gambar, krayon, mainan, hingga hadiah untuk anak-anak korban gempa. Semua inisiatif sendiri, hasil urunan relawan maupun para donatur yang ingin menitipkan bantuan.

Dalam menjalankan aksinya, para relawan sangat antusias mengajak bermain anak-anak di pengungsian. Mulai dari bernyanyi bersama, senam dan olahraga, menggambar hingga mewarnai, sampai permainan tradisional yang dilakukan dengan kekompakan. Tidak lupa menyisipkan ilmu peduli lingkungan supaya anak terbiasa sejak dini membuang sampah pada tempatnya dan tidak merusak lingkungan.

Semuanya dilakukan secara bergantian sesuai urutan hingga akhirnya ditutup dengan pembagian hadiah untuk masing-masing anak.

Wajah bahagia terpancar jelas ketika anak-anak sedang bermain dan bercanda di sekitar tenda pengungsian. Gelak tawa tak henti bersahutan selama agenda pemulihan.

Adanya program trauma healing ini berharap semua anak yang sempat sangat trauma pasca insiden gempa menjadi lebih bahagia dan memahami kondisi.

Banyak anak yang awalnya hanya menangis karena ketakutan kini mulai tersenyum dan ceria. Karenanya, siapa pun pasti ingin berterima kasih terhadap para relawan yang mau bersusah payah memulihkan trauma anak-anak korban gempa. Termasuk saya.

Tersebut hanya sebagian relawan yang saya bisa ceritakan. Karenanya, jika ada idola yang ingin saya temui, merekalah yang saya inginkan. Para relawan dari berbagai kalangan. Tidak banyak yang ingin saya lakukan, karena selain tak mampu melakukan apapun, saya hanya bisa mengucapkan terimakasih...

Terima kasih para relawan, idola di lokasi bencana untuk semua dedikasinya...

Read more ...

Rabu, 07 Desember 2022

Orang Tua Kedua

Saat gempa menimpa wilayah Cianjur dan ternyata itu cukup parah (saya awalnya mengira gempa biasa, apalagi listrik dan internet mati membuat tidak bisa akses media informasi dengan maksimal) banyak teman dan saudara yang begitu menghawatirkan kondisi kami. Terbukti dengan banyaknya pesan dan telepon yang masuk, menanyakan kabar kondisi kami.

Keesokan harinya saya baru tahu kalau di wilayah Cianjur Utara, sebagai pusat terdampak gempa mengalami kerusakan parah bahkan puluhan orang meninggal. Hari berikutnya informasi kematian meningkat menjadi ratusan. Sungguh sangat menakutkan. Kejadian gempa yang sangat besar itu (meski dilihat dari kekuatan amplitudonya hanya 5,6) telah membawa kesedihan yang sangat dalam.

Pantas banyak orang baik yang begitu menghawatirkan keadaan saya dan keluarga. Secara saya dan keluarga besar baik dari pihak saya maupun suami banyak berdomisili di Kabupaten Cianjur.

Alhamdulillah saya dan keluarga diberikan kesempatan sehat dan selamat. Kondisi rumah di Cianjur yang terdampak gempa bisa dibilang tidak sebanding dengan nikmat sehat dan selamat yang saya dapat.

Lebih lagi saya dikelilingi orang-orang baik, orang yang langsung peduli akan kondisi saya, padahal sebagian besar dari orang-orang baik ini secara pertalian darah, kami tidak ada kaitannya. Mungkin saja baik atas dasar kemanusiaan, tapi saya menganggap lebih dari itu. Karena saya merasa kebaikan ini sungguh sampai ke hati. Bukan karena pencitraan.

Saya merasa banyak memiliki keluarga. Banyak memiliki orang tua. Saya tidak bisa membalas kebaikan dan perhatiannya. Mungkin kini selain orang tua kandung, saya memiliki beberapa orang tua kedua (lagi), orang yang secara usia lebih tua dari saya dan sangat berjasa dalam kehidupan ini.

Tidak salah karena sebelumnya selain orang tua kandung dan mertua, saya mengakui memiliki orang tua kedua selain mereka, yaitu bos (majikan) tempat saya pernah bekerja.

Bukan mau mengenyampingkan posisi orang tua sesungguhnya. Saya anggap majikan sebagai orang tua kedua saya ini semata-mata karena kebaikan dan perhatiannya saja. Ketulusannya kepada saya dan keluarga bisa dibilang kalua dilihat secara kasat mata lebih dari orang tua saya sendiri. Dialah majikan saya saat saya bekerja di Taiwan.

Saya terlambat membuka pesan dari majikan saya itu karena tidak seperti yang lain. Jika yang lain mengirim pesan melalui WhatsApp dan atau telepon langsung, majikan melalui messenger yang mana justru jarang sekali saya buka. Terlebih setelah saya tidak lagi bekerja.

Seperti yang lain, orangtua kedua saya ini bertanya bagaimana kondisi saya dan keluarga. Tapi sepertinya ia sudah tahu kalau saya dan keluarga baik-baik saja melihat dari status yang saya buat.

Sehingga meski saat itu pesan belum saya baca dan tidak berbalas, ia sudah mengatakan akan membantu saya sehingga saya pun bisa membantu orang terdekat lainnya.

Kadang saya tidak habis pikir. Mengapa ada orang sebaik dia, dengan pemikiran yang begitu terbuka dan tidak mendiskriminasikan apapun meski secara fisik, sosial dan budaya jelas kami sangat jauh berbeda.

Awal saya bekerja padanya, ada desas-desus jika keluarga majikan ini, sebagaimana keluarga majikan pada umumnya yang suka dikatakan pelit lah, cerewet lah, pokoknya bikin gak enak gitulah dengan pekerja. Tapi yang saya lihat dan alami ternyata tidak.

Ibunya majikan yang orang bilang cerewet, saya rasa biasa saja. Saya pikir setiap nenek memang bawel. Ibu saya, uwa perempuan saya, dan mama mertua saya pun pastinya ada dalam kondisi itu jika menghadapi perempuan dengan segala kekhawatirannya. Saya justru bisa berkomunikasi dengan ibunya majikan ini karena meski keturunan Chinese tapi ia bisa Bahasa Melayu.

Memang banyak kosakata bahasa Melayu dan bahasa Indonesia yang beda, tapi saya bisa paham, belajar dari nenek majikan saat saya bekey di Singapura. Di sana para orang tua baik keturunan India maupun Chinese tetapi mayoritas mereka bisa Bahasa Melayu.

Kata orang keluarga majikan saya ini pelit. Alhamdulillah yang saya rasa justru kebalikannya. Bukan mau membuka (pamer) kebaikan orang lain, tapi sungguh saya akui jika saya dan keluarga sudah banyak terbantu dari segi perekonomian setelah saya berjodoh bisa bekerja kepadanya.

Saat saya sudah tidak berkerja lagi dengannya pun, meski dia tahu saya punya pekerjaan sampingan sebagai momblogger majikan dan keluarganya tetap selalu ada membantu saya. Terlebih saat ini ketika bencana yang datang sudah ikut merusak atap dan dinding rumah. Tanpa bertanya saya perlu apa, pun meski dia tahu saya dan keluarga sehat selamat dan baik-baik saja majikan tetap memberikan bantuan tanpa banyak kata.

Ini bikin saya selalu terharu dan merasa takut ketika banyak pihak minta kerjasama menitipkan bantuan untuk korban gempa Cianjur. Takut saya tidak bisa menyampaikan sesuai keinginan yang memberikan bantuan. Saya lebih baik menghindar dengan tidak membawa ponsel ketika di luar. Toh kalau niat mau membantu mereka bisa kirim lewat organisasi atua lembaga resmi.

Sampai muncul gempa lebih besar kekuatannya di Garut, lalu muncul bencana lain seperti banjir di Karawy, lalu erupsi Semeru di Jawa Timur, mereka pastinya pun memerlukan bantuan. Saya harap orang-orang baik yang menjadi orang tua kedua saya tidak muncul di hadapan say saja. Tapi juga ada buat mereka, saudara kita yang juga kena bencana dan sama-sama memerlukan pertolongan.

Read more ...

Selasa, 06 Desember 2022

Terapi Musik Kecapi Suling

Siapa tidak sedih, satu-satunya lahan sawah yang jadi sumber penghasilan rusak berat kena dampak gempa Cianjur Senin 21 November 2022 dengan kekuatan 5,6 magnitudo. Meski total ada sekitar 317 hektare lahan sawah yang rusak akibat gempa dan menurut Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur itu tidak berpengaruh pada hasil produksi, namun tetap saja bagi petani kecil goncangan itu telah memberikan efek takut dan trauma berkepanjangan.

Pemerintah memang sigap. Bantuan terus berdatangan. Warga yang terdampak gempa dan tempat tinggalnya berada di atas patahan sesar direlokasi.

Paman dan sepupu yang rumahnya di Kampung Mangun, Desa Mangunkerta, Kecamatan Cugenang rubuh dalam waktu dekat akan mendapat hunian baru dengan spesifikasi tahan gempa. Tapi mereka kebingungan untuk mencari pendapatan, sebab tempat relokasi jauh dari lahan pertanian yang menjadi mata pencaharian utama selama ini.

Keluarga saya memiliki mata pencaharian sehari-hari sebagai petani sayuran. Sedangkan di tempat yang baru di Sirnagalih Cilaku, tidak memungkinkan untuk bertani karena suhu udara yang berbeda.

Kalau pun tetap bertani ke sana, susah juga karena jarak cukup jauh. Kalaupun tetap garap lahan di Mangun, tidak bisa setiap hari dipantau. Kalau bertani di Cilaku juga susah, beda suhu udara, tidak cocok untuk sayuran. Jadi bingung setelahnya, cari penghasilan dari mana?

Solusi dari Pemda Cianjur saat ini masih jadi bahasan. Bupati masih membahas terkait jaminan usaha bagi korban yang direlokasi yang rencananya para korban yang direlokasi diberi modal dan pelatihan kewirausahaan dan diarahkan jadi pelaku UMKM. Tapi saudara saya tetap bingung, perlu adaptasi tinggi dari petani menjadi pengusaha, bukan?

Kami pun yakin, bantuan tidak akan berapa lama lagi juga akan berhenti dengan sendirinya. Apalagi bencana di negeri kita ini juga terjadi dimana-mana. Setiap daerah perlu penangangan maksimal.

Dampak kerusakan pada sawah kami ini juga teramat kompleks. Jika diamati berdasarkan penampakan visual sawah, tidak hanya retak dan tanaman tertimbun longsor, tapi juga ada pergerakan lahan bahkan ada yang tahah sawahnya “hilang” karena mungkin bergeser cukup jauh.

Lahan pertanian yang hancur karena gempa berkekuatan 5,6 amplitudo di Cianjur. Sumber gambar antaranews.com

Sedih, bingung itulah yang kami rasakan.

Saya hanya bisa menahan air mata manakala melihat hamparan lahan yang awalnya subur menghijau kini  memerah karena tanahnya terbalik. Suasana persawahan yang sangat dibanggakan kini sudah hilang. Berlari-lari di galengan (jalan tanah pembatas antar sawah) sambil nangkap belalang, diam di saung sambil mendengarkan suara kecapi suling semua tinggal kenangan...

https://youtu.be/4fCNRDVEaWU
Main di sawah sambil mendengarkan musik kecapi suling semoga tidak hanya tinggal kenangan

Semua sudah terjadi. Kami tidak boleh berlarut dalam keadaan selalu terpuruk. Mungkin mereka butuh pendampingan hingga duka itu sembuh. Perlu tetapi supaya sakit segera pergi.

Sudah hampir seminggu (sejak anak masuk sekolah lagi) saya bisa lebih banyak waktu sendiri di depan rumah sambil memandang sawah. Suara musik seni Sunda Kacapi Suling sengaja saya setel melalui ponsel. Mendengarkan musik kecapi suling sebagai sebuah seni tradisional Sunda yang berasal dari daerah Cianjur ini tidak hanya bentuk ikut melestarikan adat seni budaya leluhur, tapi juga yang saya rasakan musik yang dihasilkan dari perangkat waditra Sunda ini banyak memberikan kekuatan.

Sejak kecil saya sudah terbiasa mendengar berbagai seni dan budaya Sunda seperti wayang golek, Kacapi suling Cianjuran, dan seni waditra lainnya

Di kota alunan musik kecapi suling di pendengaran mungkin sudah hampir tiada. Tapi di daerah Cianjur ini, masih banyak siaran radio lokal yang menyiarkan termasuk musik kecapi suling yang menjadi bagian dari pilar budaya Cianjur yaitu Maos, Mamaos dan Maenpo. Secara tidak langsung pemerintah daerah juga menjadikan seni musik kacapi suling Cianjuran ini sebagai tradisi yang harus dipertahankan.

Maos memiliki arti seni mengaji dimana masyarakat Cianjur masih kental suasana tradisi Islam-nya. Bahkan memiliki julukan kota santri dan program Gerbang Marhamah (pembangunan masyarakat berakhlakul karimah) yaitu proses implementasi syariat Islam di Cianjur dalam konteks sosial-politik lokal.

Mamaos adalah seni tembang sunda Tembang Cianjuran yang lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti.

Seni mamaos ini terdiri dari alat kecapi besar dan kecapi rincik (kecapi kecil) serta sebuah suling yang mengiringi panembangan atau juru lagu.

Yang ketiga, Maenpo yaitu seni bela diri pencak silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan. Cianjur terkenal dengan kaulinan (jurus) Cimande.

Kembali ke musik Kacapi dan Suling yang disajikan secara instrumental maupun bersama vocal. Alunan ritmik kecapi yang bertempo lambat, dihasilkan oleh petikan dawai yang menyatu menjadi musik yang lembut ketika bersatu dengan melodi dari suling atau vocal yang bersifat melismatis membuat hati dan jiwa terasa lebih damai dan tenang saat mendengarnya.

Tidak salah kalau saya anggap musik kecapi suling ini bisa jadi sebagai musik terapi yang dapat menstimulan kerja otak dan syaraf untuk efek kesehatan lainnya pada manusia. Karena yang saya rasakan sendiri saat memejamkan mata sambil mendengarkan alunan musik ini hati menjadi lebih tenang.

Buat saya sendiri, alunan musik hasil dari elemen-elemen musikal kecapi suling ini sangat berpotensi menjadi musik terapi karena efek relaksasinya itu.

Musik yang dihasilkan oleh kecapi dan suling lalu didengar sambil memandang hamparan sawah tidak hanya sebagai musik terapi yang menyentuh efek kejiwaan, tetapi juga jadi warna musik tradisional yang seharusnya kami (warga Cianjur khususnya) lestarikan.

Read more ...

Rabu, 30 November 2022

Ambulance Kosong dan Cowok Unik

Penghuni dapur umum mini ribut karena persediaan gas melon alias elpiji 3 kg habis. Ga ada api ya gak bisa masak. Sementara nasi bungkus harus siap diantar tepat pada jam makan siang. Beberapa tabung yang kosong berjejer. Gak mungkin ditenteng satu per satu, kecuali semua orang di dapur mini berangkat ke warung demi menukar eh membeli gas tersebut. Tapi ya gak segitunya juga kan, masa ga ada orang di dapur karena semua keluar beli gas?

Bu RT kasih saran bawa dua tiga biji aja pakai motor. Yang lain menyarankan sekaligus aja dibawa pakai kendaraan roda empat. Biar hemat waktu. Secara dalam kondisi darurat begini semua kudu serba gerak cepat. Kalau enggak bisa gigit jari. Betul itu.

Gasna beak, pareum...

Masalahnya ga ada kendaraannya. Ada mobil tetangga (maaf, ga tahu namanya) tapi ga bisa keluar karena pintu garasinya jebol kena gempa dan kalau diangkat, bisa-bisa atapnya bakal runtuh karena pagarnya itu bergeser dan jadi penyangga tembok sebelah yang sudah retak. Ribet dah kalau dirunutkan keterkaitannya. Pokoknya mobil ga bisa keluar sebelum ada tukang yang bisa handle dulu bangunan runtuhnya itu.

“Bu, si Alif nganter ayahnya Bu Darma tuh, nebeng aja biar pulang pergi dibawain,” saran seorang gadis, yang juga saya gak tahu siapa namanya. Jujur sebagai salah satu penghuni rumah di Kavling Randu Asri tapi banyak menetap di Pagelaran, saya gak pernah kenal dengan tetangga di perumahan ini. Kalau gak ada gempa, sepertinya saya pun tidak akan interkasi banyak seperti sekarang. Ikut terjun langsung di dapur umum mini yang diinisiasi ibu ibu satu komplek.

“Jangan! Ntar melanggar aturan ah!” tolak Bu RT.

“Tapi ini kan serba darurat Bu. Lagian kita ambil gas belum tau mau ke depan mana. Selamat dan Hemat (toko serba ada di Cianjur) pada tutup lho. Jadi cari yang jual sekalian banyak meski jauh kalau pakai mobil kan gak terlalu repot,” saran ibu lainnya.

Saya hanya menyimak.

“Iya deh. Si bapak baru datang juga paling nanti siang, pas mau ambil nasinya. Terserah deh,” nyerah juga itu ibu RT.

“Iya, ini suruh si Alif ke sini aja ya,” si gadis lalu pergi. Kami tetap melanjutkan pekerjaan. Mengupas kentang, mengupas bawang. Semua dikerjakan.

Gak lama si gadis datang bareng dua orang pemuda. Gas melon kosong dibawa semuanya ke depan.

“Bu Darma ikut?” tanya Bu RT ke salah satu pemuda itu.

“Ikut. Katanya mau mastikan dirawat dimana dulu. Semoga di Sayang ada tempat.”

“Ya udah titip beli gas ya, Lif. Usahakan dapat, terserah mau belinya dimana saja. Uangnya udah di Kang Ujang. Bilang aja buat gas dapur kita.” tekan Bu RT.

Setelah mengiyakan mereka menuju jalan. Tak lama terdengar suara sirine ambulans. Saya melongo dan berlari ke depan jalan. Jadi mobil yang dipakai nebeng beli gas itu mobil ambulance?

🤐🤐🤐

“Ani gimana gasnya dapat?” seorang ibu yang mengambil jemuran daun menyambut gadis yang tadi bersama dua pemuda mengangkut gas kosong. Gadis itu ternyata namanya Ani.

“Dengan perjuangan akhirnya dapat.” Bangga Ani sambil terkekeh, menyerahkan tabung gas. Ia segera balik lagi. Katanya mobilnya buru-buru mau dipake. Harus standby. Saya yang selesai cuci tangan segera memburunya. Ikut mengeluarkan gas melon dan membawanya ke belakang.

“Gimana perjuangan dapetin gasnya? Pasti seru!” saya pengen tahu ceritanya. Sok akrab saja sama Ani. Padahal tahu namanya aja baru saja setelah bantu bantu di dapur umum mini ini.

“Seru, Bu. Pas udah anter Bu Darma dan orang tuanya ke RSUD, giliran mau beli gas, putar balik kena macet. Konyolnya Si Alif nyalain sirine. Haha, pada minggir lah itu orang. Untung aja ga ada yang nyegat. Kalau diperiksa ketahuan ga ada pasiennya, si Alif ngasih ide saya suruh tidur di belakang, jadi pasien. Gak mau lah. Takut gitu ... Beruntung saja gak diperiksa. Sempat muter lagi kan yang jualan pada tutup. Sampai ke Ramayana Muka baru ada. Baliknya udah tenang. Cuma si Alif ya harus segera balik standby lagi.” Panjang lebar Ani menjelaskan.

Saya ikut menarik nafas lega. Sambil meletakkan gas, saya ajak Ani minum. Kami menuju teras. Menunggu gas dipasang dan sebelum mulai menggoreng saya ajak dulu Ani ngobrol.

Alif sebenarnya anak Bogor. Ia ngontrak dekat Batas Muka-Sukataris di kontrakan dekat Pengisian Air Isi Ulang. Pas ada gempa ia merasa tergerak untuk ikut membantu proses pencarian dan evakuasi korban gempa Cianjur. Bisa nyetir Alif langsung bergabung dengan relawan sebagai sopir ambulans. Lupa gak nanya Alif kerja di mana.

Ani cerita kalau awalnya Alif ikut relawan untuk proses pencarian. Tapi karena sudah banyak orang di sana, jadinya bergabung membantu mengemudikan ambulans.

Tugasnya ya satu, mengantarkan korban gempa ke rumah sakit. Entah dalam kondisi selamat atau meninggal dunia, ia dituntut untuk sesegera mungkin tiba di rumah sakit. Dan itu bukan hal mudah.

Tahu sendiri pas kabar gempa tersiar banyak orang yang kemudian berbondong-bondong menuju Cianjur. Tujuan dari mereka banyak yang mulia, menyalurkan bantuan logistik bagi mereka yang terdampak. Tapi pendistribusian bantuan yang tidak terpusat, justru membuat ruas jalan menjadi sangat riuh dengan kendaraan. Akibatnya, laju kendaraan medis, seperti ambulans, jadi tidak optimal.

Pertama kami ke Cianjur kota ini pasca gempa, pas mau lihat kondisi keluarga di Warung Batu Panembong (Jalan Ir. H Djuanda) riuh suara sirine ambulans, tidak pernah ada hentinya. Hal itu bikin merinding tapi lama-lama jadi pemandangan yang biasa. Ambulans hilir mudik mengangkut korban, logistik dan lainnya.

Jalanan begitu macet karena kendaraan relawan dan kendaraan petugas TNI, Polri, Basarnas, Tim Medis, termasuk mobil pengirim bantuan yang terus beriring-iringan menuju pengungsian. Suasananya begitu memilukan. Orang pada sibuk dengan duka dan tujuannya.

relawan sopir ambulans selalu standby

Suara sirine sempat kalah menghilang saat ada helikopter yang berputar melayang di sekitar kompleks perumahan yang memang berdampingan dengan markas TNI Yonif Raider 300.

Saya gogodeg, ingat tadi Bu RT sempat melarang, takut jadi masalah katanya. Sstt! Yang bikin parah dan masalah ternyata ya kami ini salah satunya. Hehe! Ambulans nakal yang ikut menyalakan sirine padahal tidak dalam keadaan bertugas. Cuma semata-mata demi bisa bawa gas berisi ke dapur mini biar tiba lebih cepat. Wkwkwkwkkk...

“Gak aneh lah, Bu.” Ani membela ide gilanya.

“Seperti itu udah banyak digunakan para donatur saat penyaluran bantuan biar  mereka lebih cepat. Cari aman mereka gak menggunakan pengangkut logistik, justru menggunakan ambulans dan sirinenya. Ya biar lebih cepat.”

Saya meringis.

 Saya tahu niatnya baik, banyak ambulans yang mengantarkan sumbangan. Tapi mereka menyalakan sirine, rotatornya juga, jadi menghambat tugas ambulance lain yang seharusnya.

Karena sering kejadian demikian maka polisi kerap memeriksa ambulance. Banyak ambulance yang sedang jalan dengan sirine yang dinyalakan lalu diberhentikan oleh petugas kepolisian. Diperiksa apakah benar ada pasien/jenazahnya atau membawa bantuan. Atau malah justru ambulance kosong. Mau ga mau ambulance yang beneran bawa jenazah pun harus antri diperiksa dulu.

Karenanya, sopir ambulans pembawa bantuan diharap untuk tetap tertib saat berada di jalan raya agar tidak menghambat proses evakuasi korban. Maksud mereka baik bawa bantuan. Cuma, tidak perlulah pasang sirine dan rotator kalau enggak urgent sekali.

Di sepanjang jalan raya, di setiap instansi, apalagi di posko tempat relawan berbagai spesialis kumpul, ambulans selalu ada terparkir. Gak semua sopir ambulans nakal. Cerita Ani, ada banyak relawan ambulance yang justru unik dan bikin tersentuh.

Adi, sopir ambulan relawan dari Helix Corps yang standby di Posko Wahana Muda Indonesia, tugasnya juga ya mondar-mandir mengantar korban dan bantuan logistik.

Adi begitu sibuk dengan ambulans. Diakuinya kerap terjebak kemacetan saat membawa korban. Namun, relawan dan petugas lainnya membantu memperlancar arus lalu lintas ambulans. Kalau macet terbantu sama masyarakat dan TNI-Polri, jadi macetnya gak lama. Situasi begitu darurat. Semua gak bisa  memilih penumpang, pasien yang kritis, pasien luka ringan, maupun jenazah korban gempa jika memerlukan wajib diangkut.

Adi memang unik. Sama seperti Alif, berani melawan para pengendara yang membandel, dalam artian tak menghormati ambulans saat melintas. Langsung diserempet saja kalau ada yang gak mengalah. Alif cerita seperti dikatakan Ani, ia jalan dari tempat evakuasi ke rumah sakit punya target waktu, sekitar lima menitan saja.

Adi yang berencana menetap di Cianjur menjadi relawan selama dua mingguan di kantong kanan celananya selalu menyimpan makanan kucing kering. Sementara itu, kantong bajunya menyimpan makanan kucing basah. Adi selalu menyempatkan diri memberi makan kucing!

Bener juga. Di perumahan ini aja, yang kena gempa tidak begitu parah, saya melihat begitu banyak kucing liar maupun peliharaan yang terpisah dari pemiliknya. Kondisinya sangat memprihatinkan.

Manusia saja masih ada yang belum dapat makan dan bantuan, apalagi kucing. Salut bener sama Adi yang selain standby dengan ambulan kosong juga standby dengan makanan kucing. Bener kata Ani, cowok unik.

Saat ada bencana, dalam keadaan darurat seperti ini sudah pasti kita akan berhadapan dengan banyak orang yang bersikap serakah, temperamental, panik, trauma, dan sebagainya. Jarang lho yang masih segitu pedulinya sama hewan seperti kucing.

Benar kata Mbak Alaika Abdullah, seorang blogger perempuan sekaligus Narasumber Literasi Digital yang sempat bilang sebagaimana pengalamannya berdasarkan lesson learned saat tsunami di Aceh dulu. Jika saat ada bencana, berbagai karakter asli manusia akan muncul di depan kita dan bisa dengan mudah kita kategorikan masuk dalam sikap yang mana.

Read more ...

Minggu, 27 November 2022

Menerapkan Hal Kecil di Pengungsian untuk Dampak Besar Kemudian

Gempa Cianjur yang disebut sebagai duka Indonesia memberikan banyak pelajaran hidup dan kesempatan untuk mempraktikkan ilmu yang dimiliki sehingga bisa diambil manfaatnya. Dalam hal ini saya ibarat jadi jarum dalam tumpukan jerami. Ada namun tak berpengaruh.

Tapi tidak membuat saya kecil hati. Karena saya yakin dari hal-hal kecil yang dilakukan bisa memberi pengaruh dan bahkan menjadi hal besar.

Mau tahu contohnya? Lanjut baca cerita saya terkait kehidupan di pengungsian pasca Gempa Cianjur ini dan mari kita buktikan apa yang bisa kita dapat dari hasil saya belajar dalam menghadapi musibah ini.

Seperti kita ketahui, ibarat sudah mendarah daging, saling tolong menolong dan gotong royong alias kerja sama sebagai sebuah kearifan lokal masyarakat Indonesia tidak bisa kita sanggah apalagi saat ada bencana. Semangat masyarakat Indonesia sangat tinggi untuk meringankan beban saudaranya yang tertimpa musibah. Tapi tidak bisa dipungkiri juga, seringkali tingginya semangat itu tidak dibarengi dengan cermatnya perhitungan.

Sehingga yang terjadi di lapangan justru timbul masalah baru. Banyaknya bantuan yang datang secara serentak pada satu titik, mengakibatkan adanya penumpukan nasi bungkus. Padahal nasi dengan campuran lauk pauk tidak bisa bertahan lama. Akhirnya banyak tidak kemakan hingga mubadzir karena basi. Menyedihkan bukan?

Ada lagi, sampai viral parodi bapak-bapak di pengungsian menggunakan pakaian ibu-ibu seperti daster, gamis, jilbab dan sebagainya. Karena banyaknya kiriman pakaian layak pakai tanpa perhitungan yang matang. Asal kirim pakaian, tanpa memikirkan manfaat dan kegunaan. Salah siapa kalau akhirnya terjadi pembuangan baju bekas donasi yang tidak layak pakai, atau memakan tempat dan disingkirkan karena kurang kemanfaatannya?

Masih lebih baik menghormati kaum bapak yang mengunakan daster dan atau pakaian perempuan lainnya karena mereka memiliki alasan merasa sayang kalau pakaian yang jauh jauh didatangkan itu lalu misalkan dibuang.

Selama hampir lima hari bolak balik ke penampungan saya diam-diam mempelajari ilmu kehidupan. Ilmu dari orang-orang yang datang dari berbagai daerah, dengan berbagai macam sifat, watak dan perilakunya.

Salah satunya mempraktikkan ilmu di lapangan ketika ada bencana yang saya pernah pelajari dari komunitas relawan. Aksi peduli dari mereka, meski tidak ada hubungan kekerabatan tetap nomor satu atas dasar kemanusiaan. Mereka langsung bergerak membantu masyarakat terdampak gempa. Dan saya semampunya mempraktikkan itu ketika gempa datang di Cianjur.

Semoga ini bisa jadi contoh bagi teman-teman lain yang terlibat di lapangan dalam penanganan bencana, kapanpun dan  dimanapun. Tentu saja sih harapannya jangan sampai ada bencana lagi ya.

Seperti diberitakan media dan sumber rilis pemerintah, lokasi prioritas pemberian bantuan Gempa Cianjur ada pada Desa Cijedil, Desa Sela Kawung, Desa Cugenang, Desa Warung Kondang, Desa Gasol, Desa Nagrak, Desa Tapal Kuda, Desa Buni Kasih, Desa Pacet, Desa Ciputri, Desa Mekaria, dan Desa Limbang Sari. Padahal masih ada banyak daerah lain yang juga sama terkena gempa dan mereka pun memerlukan bantuan.

Untuk penyaluran bantuan sejauh ini ada beberapa cara, pertama dengan datang  langsung ke tenda pengungsi, atau datang langsung atau dikirim ke posko logistik pusat, dan bisa juga dikirim ke lembaga atau organisasi penggalangan dana & logistik.

Seperti yang saya lihat bantuan logistik alhamdulillah sepertianya cukup bahkan menumpuk di posko kota Cianjur. Permasalahan yang ada justru minim yang mendistribusikannya, terutama ke daerah-daerah terpencil.

Jelas ini perlu relawan distribusi logistik. Butuh pengantar logistik yang bisa menggunakan trail karena itu satu-satunya akses ke daerah yang akses jalannya tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.

Desa Sarampad tempat sepupu dan keponakan menuntut ilmu luput dari tinjauan. Kami harus menjemput anak-anak Karena pihak sekolah menelepon mengabarkan sekolah roboh, anak didik semua dirumahkan secepatnya. Tidak ada kendaraan karena akses tertutup longsor. Akhirnya kami keliling. Kakak saya naik ojek turun ojek demi keselamatan bersama meski harus membayar per ojeg ratusan ribu rupiah.

Desa Mangunkerta yang juga masih berada di wilayah Cugenang sebagai titik pusat dampak gempa pun tidak menjadi daerah prioritas bantuan. Padahal banyak rumah rata dengan tanah dan korban meninggal dunia. Termasuk keluarga besar suami baik dari pihak ayah maupun ibu.

Kami ingin menjemput mereka tapi terkendala akses yang tertutup longsor dan kerentanan kesehatan para orang tua. Saat sepupu memilih bikin tenda sendiri secara ala-ala pun, banyak masyarakat sekitar kehilangan harta benda. Bagaimana jika rumah ditinggalkan ke pengungsian? bisa-bisa barang yang tak seberapa tapi hanya itu yang kami punya itu juga ikut lenyap.

Sebagai ibu rumah tangga satu keahlian yang bisa saya lakukan dengan sat set sat set adalah urusan dapur. Maka karena itu yang saya bisa, saya pun secara sederhana bikin gerakan dapur umum mini. Ya, paling enggak bisa memasok makanan buat keluarga di tenda manualnya. Syukur syukur bisa lebih dan dibagikan kepada sesama korban gempa juga.

Rumah almarhum mertua yang retak dan genting berjatuhan bisa segera ditutup supaya tidak membahayakan atau bikin rusak isi rumah. Dapur umum mini pun tercipta dengan peralatan sederhana juga.

Selanjutnya saya diantar suami yang sudah BDR sejak diumumkan Dinas Pendidikan pasca Gempa Cianjur belanja bahan makanan non instant dari pasar terdekat. Penting ya saya tekankan ini makanan non instan. Jika makanan instan sudah biasa maka saya ingin beda. Tepatnya ingin mereka yang kena bencana juga masih berkesempatan makan dengan menu normal. Bukan mie lagi-mie lagi. Alih-alih bisa sehat dan bahagia, yang ada bisa mengundang sakit pada dirinya.

Selain kirim makanan nasi bungkus yang sehat dan bernutrisi (meski tidak selalu dengan buah) dalam beberapa hari di awal bencana, kepada tenda pengungsi juga sebisa mungkin kirim gas, kompor, galon dan membelikan peralatan memasak sehingga mereka selanjutnya tidak bergantung kepada pemberian relawan.

Tahu sendiri orang tua dan anak-anak itu perut mereka tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Atau jika dipaksakan bisa, siap siap saja diikuti hal lain karena ketidak biasaan siklus hidup yang mereka jalani sebelumnya.

Tidak lupa juga memberikan bantuan peralatan mandi, membawakan selimut, alas tidur dll. Meski di rumah mereka ada, tapi rusak dan basah karena rumah kena gempa, lalu hujan terus mengguyur menjadikan isi rumah tak banyak bisa diambil manfaatnya lagi.

Bantuan makanan instan seperti yang kita lihat di media, dan saya lihat sendiri di lapangan, sesekali diperbolehkan. Daripada tidak ada makanan, bukan? Tapi saya juga ingin mempraktikkan jika para korban bencana juga harus makan sehat dan bergizi, agar pulih kondisi mereka tetap fit.

Begitu juga para relawan. Mie instant menurut penjelasan relawan lapangan itu malah kurang baik karena minim nutrisi dan butuh sangat banyak air. Padahal persediaan air minum bersih saat bencana ini langka.

Hal itu mungkin bagi pihak lain cukup ribet, merepotkan dan gak praktis. Tapi bayangkan dampak kedepannya?

Satu lagi, meski dalam kondisi bencana, kita tetap harus disiplin dalam penanganan sampah. Salut dengan relawan dari Dompet Dhuafa yang selain mengirim tenaga spesialis mereka juga memiliki team kebersihan sehingga lokasi dapur umum, penampungan dan posko selalu terjaga kebersihannya.

Jangan berpikir, ah lagi darurat bencana ini, jangan dulu mikirin soal sampah lah. Hust! Apa gak sadar, bisa saja bencana yang terjadi seperti banjir tuh salah satu penyebabnya juga adalah karena sampah? Selain sudah takdir Tuhan pastinya.

Sebagai emak rumah tangga yang bisanya sat set sat set di dapur saya mempelajari beberapa cara masak dan belanja bahan masakan agar minim sampah:

Beli minyak goreng dalam jerigen. Pakai galon untuk air minum dan persediaan air bersih, beli sayuran dalam karung, beras dalam sak, beli telur ayam dengan wadah dalam kotak kayu. Semua belanjaan itu jadi minim sampah plastik bukan?

Saat belanja bahan makanan, pilih bahan yang tahan lama disimpan tapi bergizi tinggi seperti kacang tanah, kacang hijau dll.

Demi menghemat harga dan meminimalisir sampah, sebaiknya membeli kemasan yang besar bukan saset-an. Jadi meski tetap ada yang kemasan, keukeuh masih bisa kita minimalisir ya.

Saat mendapatkan sumbangan bahan makanan basah, segera dahulukan untuk diolah dan dikonsumsi pada hari itu. Sehingga nutrisi masih bagus dan menghindarkan kerusakan sebelum diolah.

Dengan begitu, Insyaallah hal hal sepele itu akan membawa dampak yang cukup besar.

Intinya, sekecil apapun yang bisa kita lakukan, selama itu dalam kebenaran jangan kecil hati untuk menyuarakan dan bertindak. Mungkin kita bisa dibilang beda dengan yang lain. Tapi bukankah kita harus membiasakan yang benar, bukan membenarkan kebiasaan?

Read more ...

Kamis, 24 November 2022

Blogger di Pengungsian

Saat tahu dari WhatsApp Group jika paman kami kena dampak gempa Cianjur, saya dan suami langsung mencari informasi bagaimana kondisinya. Namun pencarian informasi melalui saluran telepon tidak bisa maksimal karena selain sinyal timbul tenggelam, juga entah kenapa banyak saudara yang justru susah dihubungi. Mungkin tidak membawa ponsel, mungkin terlalu larut dalam kesedihan sehingga malas ngapa-ngapain, termasuk megang hapenya. Bahkan akhirnya saya tahu ada banyak yang hape tidak bersama pemiliknya karena tertinggal dalam reruntuhan atau hilang saat terjadi kepanikan akibat gempa. Karena itu sulit dihubungi.

Akhirnya suami memutuskan untuk datang langsung ke kampung tempat paman dan keluarga besarnya berada di Mangunkerta. Kampung yang memang cukup parah terkena dampak gempa, bisa dilihat kondisinya di berbagai liputan media, ya.

Meski Kamis ini H+3 dari hari kejadian gempa, tapi bagi kami tidak ada kata terlambat untuk terus mencari informasi. Bukan tidak ingin saat begitu kejadian gempa kami langsung terjun ke lapangan, tapi kan itu tadi, akses komunikasi terputus karena listrik mati dan internet juga ikut hilang, ditambah instruksi dari dinas pendidikan kabupaten Cianjur adanya Belajar Di Rumah (BDR) baru berlaku Kamis ini. Jadi otomatis suami dan anak baru bisa leluasa jadi team bringka lagi ya hari ini.

Sejak subuh kami sudah menyiapkan apa saja yang sekiranya diperlukan oleh paman dan saudara lainnya. Pokoknya yang ada dan sekiranya dibutuhkan serta bisa kami bawa langsung kami packing.

Ada kabar Presiden RI Kamis ini akan berkunjung ke RSUD Cianjur. Jika benar otomatis jalan-jalan di Cianjur tidak akan bisa leluasa dilalui. Kami mencoba berangkat lebih pagi. Menggunakan jalan tikus Alhamdulillah bisa melewati berbagai pos. Kalau lewat jalan utama ditutup dan dijaga aparat.

Hasil dari terobos sana terobos sini, hingga bisa menyaksikan sendiri, bangunan yang lebaran kemarin kami kunjungi masih berupa rumah keluarga dengan halaman dipenuhi sayur-mayur itu kini porak poranda. Yang terlihat dominan oleh mata hanya warna genting yang berserakan di depan kami. Rumah paman merata dengan tanah. Saya merasakan merinding dan air mata tidak bisa saya tahan, sangat deras bercucuran.

Kemana paman dan sepupu kami?

Sekian lama kami hanya diam dalam tangisan. Sampai matahari mulai nampak, orang berseragam orange mulai banyak berjalan hilir mudik. Mereka team rescue dan Basarnas. Banyak juga petugas berseragam lain. Semakin siang semakin banyak orang mungkin mereka relawan. Salah seorang bertanya kepada suami, kenapa kami ada di lokasi dan apa ada yang bisa mereka bantu?

Suami menjawabnya jika kami kehilangan paman dan sepupu. Rumahnya di lokasi yang kami injak ini, yang bangunannya semua rata dengan tanah.

Mereka tampak saling menghubungi pihak lain. Suami tetap ngobrol dengan mereka dan sempat-sempatnya bercerita jika dulu suami juga sering ikut acara Basarnas bersama Indonesia Mountain. Atau ikut latihan memanjat bareng di vertikal rescue. Ah mereka malah bernostalgia segala...

Sambil nunggu informasi itu saya bikin konten. Niatnya buat pribadi dan keluarga saja. Jadi saya gak memikirkan caption, angel, atau pencahayaan. Langsur hajar ngomong sambil rekam dan foto saja.

Biasanya kalau buat konten saya dibantu Fahmi, anak semata wayang. Tapi seperti memahami suasana berkabung, saat itu Fahmi menggelengkan kepalanya ketika saya ajak bikin vlog. Jadilah saya action sendiri.

Eh mungkin rupanya ada yang memperhatikan. Karena setelah merasa cukup saya ngerusuh sendiri, ada yang nanyain, Teteh katanya yutuber ya?

Saya tertawa dan jawab jujur saja, saya bukan yutuber, tapi saya blogger. Dia melongo. Lalu bertanya lagi emang blogger itu pa?

“Tadi saya lihat Teteh bikin video kan?”

Oh, saya baru paham. Mungkin karena saya bikin konten tadi makanya dia ngira saya yutuber.

“Enggak kok. Saya emang bikin video dan ambil foto tapi bukan buat diupload di YouTube. Saya buat untuk dokumentasi pribadi kami saja, buat penunjang tulisan saya di blog nanti.” Bisa saja video ini juga saya upload di TikTok atau Reels Instagram, yang nantinya saya embedded ke artikel di blog, bukan?

“waduh, bingung saya” katanya sambil garuk kepala.

Saya hampir melengos. Jaman now gitu lho, masa sih ada yang belum tahu juga apa itu blogger?

Sepertinya dia penasaran apa itu blogger. Tapi suami keburu memanggil saya mengatakan kalau ada informasi jika penghuni rumah di RT ini. Diungsikan ke tenda BNPB dan sebagian di tenda darurat dekat SD. Suami mengajak saya dan anak segera ke sana. Siapa tahu ketemu paman dan semua saudara.

“Saya pamit dulu ya. Kalau masih bingung dengan profesi blogger boleh main ke blog tehokti.com ya...”

Cus, Lah! Ga tahu dia paham apa enggak. Biarlah. Nanti kalau urusan saya di pengungsian selesai dan kami bisa bertemu lagi, dengan senang hati akan saya jelaskan lebih detail apa itu blogger dan kenapa saya lebih bangga menyebut diri seorang blogger daripada yutuber.

Bersambung gak?

Read more ...

Gempa Cianjur 2022

Blogger Cianjur bercerita terkait gempa...

Kejadiannya hari Senin (21/11) sekitar setengah dua siang. Seminggu kemudian Sabtu (26/11), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 318 orang lebih meninggal dunia. Sebanyak 12 korban gempa dilaporkan masih hilang.

Korban yang mengalami luka lebih dari 7.300 orang, terdiri dari hampir 600 mengalami luka berat dan sisanya mengalami luka ringan. Sementara korban luka berat yang dirawat di rumah sakit sebanyak 108 orang. Rumah sakit umum daerah Cianjur tidak bisa menampung semua itu, karenanya sebagian dirujuk ke Cimacan Cipanas, Sukabumi dan atau Bandung.

Sama sekali tidak menyangka gempa yang “hanya” berskala lima itu telah memporak-porandakan Cianjur bagian Utara khususnya sebagai titik pusat gempa. Saya sendiri saat kejadian sudah berada di Pagelaran, Cianjur Selatan.

Sehari sebelumnya, kami memang di Cianjur Utara juga, sebagaimana kalau hari libur kami menempati rumah peninggalan mertua sekaligus silaturahmi dengan keluarga besar yang kebanyakan memang tinggal di Cianjur Kota.

Senin itu seperti biasa pulang sekolah SD sebelum berangkat Sekolah Agama saya dan anak bersantai depan tv. Suami berangkat sekolah ngajar di Madrasah Aliyah Ponpes Citiis jam satu lewat. Tiba-tiba perabotan dekat tv berbunyi karena bergoyang. Lampu juga menimbulkan bayangan seolah diayunkan. Gelas di meja makan berdenting keras, bergetar. Bumi bergoyang!

“Ya Allah, Fahmi lini. Ieuh, lini, Fahmi!” saya berteriak sambil membaca kalimat tahlil dan kalimat istirja’. Bergegas menubruk Fahmi, yang terkaget-kaget dan hampir menangis karena ketakutan.

“Ibu, sieun... Hikz!” katanya ketakutan dan memeluk saya erat.

Tiba-tiba listrik mati. Tv yang sedang menyala langsung padam. Lini dalam bahasa Sunda yang artinya gempa sudah berhenti.

“Coba Ami lihat dimana ada gempanya,” katanya sambil search di kolom pencarian setelah dirinya merasa lebih tenang. Namun tidak bisa karena ternyata internet mati, secara di rumah kami menggunakan IndiHome yang akan mati kalau listriknya mati.

“Ya udah nanti saja. Sekarang sekolah agama dulu,” saya pikir listrik mati tidak akan lama. Fahmi pun mandi dan berangkat sekolah agama.

Saat sendiri saya tidak berminat ngecek pusat gempa di hape sendiri yang terkoneksi dengan kuota, saya pikir listrik mati sayang hape bisa cepat abis baterei nya. Tapi sempat lihat di Twitter nya BMKG dikatakan kalau pusat gempa sekitar barat daya dari Cianjur. Saya pikir gempa biasa saja...

Tapi tidak lama kok banyak notifikasi di hape saya. Saya buka ternyata banyak yang memention saya terkait bencana gempa baru saja. Sempat bingung kenapa teman-teman seakan serentak bertanya terkait kondisi kami di Cianjur? Sambil membalas semampunya satu persatu jika saya aman selamat. Alhamdulillah.

Niat saya mau bereskan jemuran dan masak nasi tertunda karena jadi sibuk membalas pertanyaan, termasuk mengangkat telepon yang tiba-tiba juga datang dari berbagai teman dan daerah.

Ya Allah, saya bingung kenapa begitu banyak orang yang sangat memperhatikan saya sebagai Blogger Cianjur? Terharu sekaligus bingung.

Ya, secara saya selama ini memang selalu membranding diri dengan istilah blogger Cianjur dalam berbagai acara blogger atau kegiatan online lainnya. Lalu saat ada gempa barusan apakah orang-orang lalu otomatis mengingat saya?

Bu Alida Rachmawati, Bu Nanik Nara, Kang Dede Diaz, Teh Nchie Hani, Pak Darpan, Mas Eko, Mak Dewi Nuryanti, Bunda Elisa Koraag, Bu Hani Widyatmoko, Pak Adi Chandra, dan masih banyak lagi teman teman di WhatsApp group yang menanyakan kabar saya sebagai orang Cianjur terkait gempa yang baru saja terjadi.

Komunitas Emak Blogger melalui Mak Elly Nurul yang juga mengontak saya, padahal putranya juga tengah sakit. Komunitas ISB, Bloggercrony dan teman-teman blogger kesehatan, Blogger Bandung, Blogger Semarang, komunitas RTIK daerah regional dan pusat, teman-teman di Wag Dompet Dhuafa, teman dan saudara di Hongkong dan Taiwan, wah, saya sampai kewalahan menjawab semua kekhawatiran mereka.

Benar kata Umi Ade Ufi, saya sebaiknya hemat baterai ponsel. Tahu saja kalau hape ini betreinya udah pernah hamil, lalu ganti dan kembali ngedrop.

Akhirnya saya memilih bikin status di Facebook, mengabarkan kalau saya dan keluarga baik sehat selamat. Supaya teman dan saudara tahu dan tidak khawatir jika ada telepon atau pesan yang belum sempat saya balas.

Hujan masih belum berhenti. Listrik ternyata mati hingga malam hari. Saya masih bisa komunikasi dengan teman dan saudara mengandalkan kekuatan daya power bank. Jam sepuluh malam listrik nyala. Semua gadget saya isi dan sempat lihat tv jika rusak parah akibat gempa berada di Cianjur bagian Utara. Tapi mau menghubungi kakak dan keluarga besar di Cianjur Kota kok ya semua tidak bisa dihubungi? Eh tak lama lima belas menit kemudian listrik mati lagi. Tapi ya lumayan cadangan power bank sempat bertambah.

Hari Selasa subuh alhamdulillah listrik sudah menyala. Langsung lihat berita kaget banget akibat gempa di Cianjur meninggal pagi itu hingga 70 orang lebih. What? saya merasa kehilangan informasi yang berharga karena listrik dan internet dari pas kejadian gempa mati total.

Sedihnya saya tidak bisa menghubungi keluarga yang lokasinya diberitakan hancur parah. Mungkin mereka juga panik dan hp abis baterai?

Sama sekali tidak menyangka, bencana gempa menimpa wilayah Cianjur dan sekitarnya pada Senin (21/11) pukul 13.21 WIB itu meninggalkan banyak duka dan air mata.

Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa 5,6 Magnitudo itu terletak di darat pada koordinat 107,05 BT dan 6,84 LS, berjarak sekitar 9,65 km barat daya Kota Cianjur atau 16,8 km timur laut Kota Sukabumi dengan kedalaman 10 km menyebabkan rumah saya dindingnya retak, gentingnya berjatuhan.

Saat sekolah dirumahkan kami segera ke Cianjur Kota. Rumah kakak Alhamdulillah aman. Rumah paman dan sepupu di Mangun ambruk rata dengan tanah, bersama puluhan ribu unit rumah lainnya yang rusak total.

Akses susah karena jalan kena longsor dan kami harus berkeliling menggunakan jalan desa demi bisa sampai di lokasi teman dan saudara.

Isak tangis tak bisa dicegah. Meratap dan menyesal pun tiada gunanya. Ini semua ujian dan peringatan. Kita harus ikhlas dan terus memperbaiki diri.

Paman dan sepupu saat belum tahu mereka berada di penampungan mana...

Hati harus tegar manakala setiap siang mendengar suara sirine ambulans yang hampir tanpa jeda. Apalagi kalau berada di jalan provinsi Cianjur - Puncak, mata bisa sekaligus melihat berbagai kendaraan TNI dan Polisi berseliweran. Ditambah kesibukan para relawan baik yang standby di dapur umum, logistik, suasana sangat mencekam. Seolah beginikah kondisi saat berperang? Bedanya kali ini di Cianjur tidak ada kepulan asap dan suara letusan bom.

Banyak terlihat ambulan yang selalu standby
Suasana genting di jalan utama kabupaten Cianjur
cuaca buruk, rintik hujan, udara dingin, dan segala keterbatasan tak menjadikan para relawan gentar menolong korban

Di sekitar rumah kami yang berbatasan dengan Yonif Raider 300 suara helikopter terus terdengar menambah kegetiran. Team rescue Basarnas, TNI dan Polri menjangkau lokasi gempa yang sulit diakses menggunakan helikopter dan menjadikan lapangan Raider 300 sebagai landasan. Selanjutnya pendistribusian logistik pun dilakukan melalui helikopter. Beberapa hari kemudian ditambah motor trail demi bisa menjangkau masyarakat korban gempa di perkampungan pedalaman.

Helikopter TNI naik dan landas di Yonif Raider 300 terlihat dari jendela

Sedih sekali melihat semua itu. Bantuan sulit didapat warga di pelosok Cugenang karena akses ke perkampungan kena kerusakan akibat gempa itu tadi. Mungkin inilah jalan Tuhan memperlihatkan kepada dunia, bagaimana akses lokasi di Cianjur begitu susahnya. Itu di wilayah Utara yang bisa dibilang kota. Apalagi kami di Cianjur Selatan yang lebih pelosok? Seandainya tidak ada gempa, mana bisa masyarakat luar tahu seperti apa terbelakangnya wilayah kami ini?

Pembangunan di Cianjur memang masih jauh dibandingkan kota kabupaten lainnya di Jawa Barat ini. Banyak struktur bangunan tidak memenuhi standar aman gempa. Kontur tanah naik turun tapi banyak masyarakat yang memilih lokasi permukiman di sana sekaligus usaha berdagang sebagai sumber penghasilan.

Mereka dan pemerintah daerah mungkin tidak mengindahkan bagaimana risiko berada pada tanah lunak (local site effect-efek tapak) dan perbukitan (efek topografi).

Meski rumah kami masih berdiri tapi tidak disarankan berada di dalam mengingat masih kami rasakan beberapa kali gempa susulan yang masih menakutkan. Banyak tenda pengungsi didirikan. Kami bergabung demi keamanan. Meski saya dan suami memilih pulang pergi karena khawatir dengan barang yang tak seberapa tersisa di rumah.

Jangan salah, dalam keadaan bencana, kejahatan bisa saja terjadi lho. Tetangga saya kehilangan sepeda motornya ketika mereka keluar mengambil bantuan di posko. Apalagi barang elektronik lainnya yang bisa dengan mudah digasak.

Malam hari para bapak setiap tetanggaan bikin aturan ronda mengantisipasi kehilangan harta benda di rumah yang kena gempa

Selain itu kami tidak nyaman hanya diam di pengungsian. Saya sehat dan bisa melakukan apa saja. Termasuk gabung di dapur umum dan bantu-bantu sebisanya.

Beberapa amanah dari teman-teman blogger dan komunitas sudah saya sampaikan saat itu juga. Tidak ada dokumentasi. Saya tidak tega memberi lalu memfotonya seolah hal itu dilakukan demi konten. Saya percaya teman-teman yang menitipkan rezekinya melalui saya saat ini tidak perlu bukti, tapi cukup pahala dari Nya, bukan?

Read more ...