Tampilkan postingan dengan label Backpacker Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Backpacker Stories. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 September 2026

Travel Blogger Terbaik

 

12 Travel Blogger Indonesia yang Wajib Kamu Ikuti, Siapa Tahu Bikin Kebelet Liburan!


12 travel blogger Indonesia terbaik



Pernah nggak, baru buka HP sebentar, tiba-tiba sudah melihat foto pantai, gunung, hotel cantik, kuliner menggoda, lalu dalam hati berkata, "Kayaknya aku juga butuh liburan, nih."

Padahal saldo rekening berkata lain.

Tenang, kayanya kamu dan aku serta kita semua pernah mengalami konflik batin semacam itu. 😆

Kalau belum bisa langsung jalan-jalan, salah satu cara paling aman adalah jalan-jalan lewat tulisan. Caranya gampang: baca cerita para travel blogger Indonesia.

Selain bisa mendapatkan inspirasi destinasi, kita juga bisa belajar soal itinerary, transportasi, kuliner, penginapan, tips perjalanan, bahkan cerita-cerita unik yang mungkin tidak ditemukan di brosur wisata.

Nah, berikut 12 travel blogger Indonesia yang menarik untuk manteman ketahui. Daftar ini bukan soal siapa yang paling hebat, karena setiap blogger punya warna dan gaya cerita masing-masing, ya. Urutan dibuat hanya secara acak saja.



1. TravelFoodPedia – Traveling Sekalian Berburu Makanan

TravelFoodPedia

Kalau nama blognya saja sudah menggabungkan travel dan food, rasanya kita sudah bisa menebak bahwa perjalanan di sini tidak akan jauh-jauh dari tempat makan. 😋

TravelFoodPedia ini blog milik Rini Novita Sari, yang banyak bercerita tentang perjalanan bersama suaminya. Menariknya, mereka bukan cuma mengejar destinasi wisata, tetapi juga kuliner, hotel, kafe, itinerary, hingga tips perjalanan.

Blog ini cocok untuk manteman yang kalau traveling punya prinsip:

"Yang penting jalan-jalan. Tapi jangan lupa makan."

Kontennya juga cukup beragam. Ada cerita tentang Bali, Lombok, Malang, Surabaya, Tulungagung, Kebumen dan berbagai destinasi lainnya. Bahkan ada tulisan yang membahas itinerary Lombok, hotel, kuliner, hingga hidden gem.

Keunikan TravelFoodPedia adalah perjalanan terasa seperti pengalaman pasangan yang sedang jalan-jalan bersama. Jadi bukan sekadar "datang ke tempat wisata, lalu pulang", tetapi ada cerita dan pengalaman di balik perjalanan tersebut.

Blog ini cocok untuk para pecinta wisata + kuliner + itinerary praktis.


12 travel blogger Indonesia terbaik
Rini Novita Sari dan suami 



2. OvaJourney – Kalau Mau Healing, Mari Cari Tempatnya

OvaJourney

OvaJourney adalah blog milik Ova Forlendy yang menghadirkan cerita traveling dengan gaya personal dan santai.

Salah satu hal yang menarik dari blog ini adalah pilihan destinasinya. Tidak selalu tempat yang terlalu mainstream.

Ada cerita lengkap tentang Situ Cipondoh, Tanjung Gelam Karimunjawa, Danau Pauh Jambi, Batam, hingga Pantai Merak Banten.

Bahkan ada tulisan tentang pantai yang bisa dijangkau dari Stasiun Merak. Ini menarik buat manteman yang ingin liburan tetapi tidak ingin membuat perjalanan seperti ekspedisi mencari harta karun.

Gaya tulisannya Kak Ova terasa seperti sedang ngobrol dengan teman:

"Yuk, kita cari tempat buat healing."

Dan tiba-tiba sudah buka Google Maps aja. Haha!

Keunikan blog OvaJourney ada pada cerita perjalanan yang relatable dan pilihan destinasi untuk short escape.

Cocok untuk manteman yang senang mencari destinasi dekat, short trip, dan healing singkat.



3. TehOkti – Traveling Bukan Cuma Foto-Foto

TehOkti

Kalau manteman mencari blog yang mengulas perjalanan dari sisi yang lebih luas, blog saya ini menarik untuk masuk daftar bacaan. Heuheu, jumawa nih ceritanya. Pede aja mempromosikan blog sendiri. Wajar ya? Gak ada yang bakal nyinyir kan? Baiklah, saya siap dihujat kok. Wkwkwkwkwk...

Blog saya memiliki berbagai kategori seperti travel, kuliner, budaya, gunung dan alam, Cianjur sebagai tempat domisili, cerita perjalanan kehidupan, hingga cerita masyarakat lokal.

Gak heran kalau segala ada secara tagline blognya  memperkenalkan diri sebagai ruang untuk Travel, Eat, Read, Write, sekaligus membawa semangat backpacker dan style citizen journalist.

Yang (kata orang) menarik, perjalanan yang dilakukan saya dan suami beserta anak semata wayang --sebelum anaknya merantau untuk mondok-- sering bersinggungan dengan budaya dan kehidupan masyarakat lokal.

Misalnya ketika membahas Kampung Adat Miduana di Cianjur, pembaca tidak hanya diajak melihat tempatnya, tetapi juga mengenal tradisi dan kehidupan masyarakat di dalamnya.

Jadi kalau travel blogger lain membuat kita ingin berkata:

"Wah, tempatnya bagus!"

Saya siap bisa membuat manteman lanjut berkata:

"Oh, ternyata kondisi masyarakat di sana sebenarnya punya cerita seperti itu."

Dan menurut saya, itu yang membuat sebuah perjalanan menjadi lebih bermakna.

Buat generasi jaman now mungkin hal itu membosankan, gak menarik atau apalah istilahnya. Tapi tenang, di blog saya ini ada banyak cerita soal lain yang tak kalah seru juga kok.

Kisah pengalaman pendakian ekstrim karena naik Gunung Semeru saat usia kandungan 3 bulan bersama Medina Kamil dan Riani Djangkaru. Naik Gunung Rinjani saat hamil 6 bulan. Hingga kisah mengantarkan anak semata wayang jadi pendaki cilik (pada masanya) karena sejak usia 3-6 tahun sudah dibawa ke puncak Gunung Gede, Pangrango, Ciremai, Slamet, Sindoro, hingga gunung api tertinggi di NKRI yaitu Gunung Kerinci.

Jika sang suami berperan sebagai porter dalam setiap pendakian keluarga yang dilakukan maka saya mendapatkan gelar koki gunung karena saya selalu jadi tim logistik sendirian.

Masih banyak lagi informasi di blog saya terkait lokasi wisata yang ada di Kabupaten Cianjur dan sekitarnya karena pada tahun 2019 saya dan suami terpilih jadi Duta Wisata Cianjur dalam acara HACI (Hayu Ameng ka Cianjur) yang digagas Bupati Irvan Rivano Moechtar.

Jadi kalau boleh dikategorikan blog saya ini cocok jadi referensi bacaan untuk para petualang sekaligus pecinta budaya, cerita lokal, wisata alam, dan perjalanan yang punya nilai sosial.



4. RuangUmma – Traveling Bareng Keluarga, Nggak Harus Sultan

RuangUmma

Kalau kamu mengira liburan keluarga harus menginap di hotel mahal dan makan di restoran mewah, RuangUmma bisa memberikan perspektif berbeda.

Blog ini dekat dengan kehidupan keluarga, parenting, lifestyle, dan pengalaman traveling.

Salah satu hal yang menarik adalah cerita liburan keluarga yang sederhana. Misalnya menikmati pantai, bermain pasir, duduk di saung, kemudian makan seafood bersama.

Tidak harus: "Check-in hotel bintang lima." Tapi kadang cukup: "Anak senang, orang tua santai, perut kenyang." Selesai. 😆

Keunikan blog RuangUmma ada pada family traveling yang realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Jadi liburan tidak harus terlihat mewah di Instagram. Yang penting pulangnya membawa cerita, bukan membawa utang.

Blog travel blogger yang cocok banget dibaca oleh keluarga, ibu, parenting, dan wisata sederhana.


12 travel blogger Indonesia terbaik



5. Melukis Senja – Jalan-Jalan Sambil Menikmati Cerita

Melukis Senja

Namanya saja sudah "Melukis Senja". Jadi jangan heran kalau membaca blog ini terasa sedikit lebih syahdu. 😄

Blog milik Kak Erin ini memiliki fokus pada traveling, kuliner, dan environmental sustainability.

Kak Erin sendiri menyukai perjalanan alam, mendaki gunung, menyusuri hutan, tracking, sampai menikmati udara sejuk sambil mendengarkan suara burung.

Menariknya, cakupan perjalanannya tidak hanya Indonesia. Ada juga cerita tentang Jepang dan Korea Selatan.

Jadi kalau manteman sedang mencari inspirasi perjalanan dari wisata alam Indonesia sampai luar negeri, blog ini bisa menjadi teman membaca yang menyenangkan.

Selain traveling, Melukis Senja juga memiliki perhatian pada kuliner dan konservasi alam.

Artinya, jalan-jalan bukan cuma: lihat → foto → upload → pulang.

Tetapi juga bisa: lihat → belajar → menikmati → ikut peduli.

Cocok dibaca untuk para pecinta alam, kuliner, Jepang, Korea, dan isu lingkungan.



6. JourneyJournalKu – Hidup Itu Perjalanan, Bukan Cuma Tujuan

JourneyJournalKu

JourneyJournalKu memiliki tagline yang menarik:

"A Story of My Every Quarter Miles Step in Life."

Blog ini dikelola oleh Manda Dea, blogger, writer, dan parenting enthusiast. Menariknya, traveling hanyalah salah satu bagian dari blognya yang juga membahas lifestyle, parenting, kesehatan, teknologi, keuangan, otomotif, dan berbagai topik lainnya.

Jadi jangan heran kalau awalnya datang untuk mencari artikel wisata, tiba-tiba malah membaca artikel parenting.

"Eh, kok sudah 30 menit?"

Nah, itu jebakan blog personal. 😆

Keunikan JourneyJournalKu adalah traveling yang ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Cerita wisata tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan pengalaman, keluarga, lifestyle, dan kehidupan sehari-hari.

Cocok untuk para pembaca yang suka travel sekaligus lifestyle dan cerita personal.



7. SiswiyantiSugi – Ketika Traveling Berubah Menjadi Cerita yang Punya Kenangan

SiswiyantiSugi

Blog SiswiyantiSugi menarik karena pengalaman pribadi penulis menjadi bagian kuat dari cerita perjalanan.

Salah satu tulisan yang menarik adalah tentang Ternate.

Bukan cuma membahas tempat wisata, tetapi juga pengalaman penulis yang pernah tinggal di Ternate selama beberapa tahun.

Dari sana pembaca diajak mengenal Batu Angus, Kedaton Ternate, Benteng Tolukko, hingga kuliner seperti cakalang fufu, popeda, ikan kuah kuning, dan gohu ikan.

Nah, ini yang membedakan cerita perjalanan berdasarkan pengalaman dengan sekadar mengambil informasi dari internet.

Ada rasa: "Saya pernah tinggal di sini, jadi saya punya cerita." Hasilnya, destinasi terasa lebih hidup.

Keunikan blog SiswiyantiSugi ada pada cerita personal yang membuat sebuah kota atau daerah terasa punya kenangan.

Cocok untuk dibaca oleh orang yang suka wisata daerah, sejarah, budaya, dan pengalaman personal.


12 travel blogger Indonesia terbaik
Perkenalkan ini pemilik siswiyantisugi



8. Anggita Ramani – Traveling dengan Kacamata Eco Mom

Anggita Ramani

Kalau biasanya travel blogger membuat kita ingin packing, Anggita Ramani juga bisa membuat kita berpikir: "Kalau traveling, lingkungan jangan sampai jadi korban."

Anggita Ramani dikenal sebagai Eco Mom Blogger. Blognya tidak hanya membahas traveling, tetapi juga parenting, lingkungan, beauty, kuliner, teknologi, blogging, hingga home and decor.

Salah satu daya tariknya adalah pembahasan traveling yang dikaitkan dengan lifestyle dan isu lingkungan.

Ada juga pembahasan mengenai ide konten dari destinasi yang belum banyak dibahas kreator. Ini menarik bagi para content creator yang ingin mencari sudut pandang berbeda ketika bepergian.

Keunikannya adalah traveling tidak berhenti pada "ke mana kita pergi", tetapi juga bagaimana kita melihat perjalanan dari sisi lingkungan dan kehidupan.

Cocok untuk para eco traveler, ibu, content creator, dan pencinta lifestyle.



9. MeiMoodaEma – Traveling dengan Rasa Peduli

MeiMoodaEma

MeiMoodaEma punya warna tersendiri karena travelingnya bersinggungan dengan lingkungan, budaya, masyarakat lokal, dan voluntourism.

Jadi, perjalanan bukan cuma untuk mendapatkan foto bagus. Ada juga keinginan untuk memahami tempat yang dikunjungi.

Salah satu contoh menarik adalah tulisan tentang Pantai Rio by The Beach di Lampung Selatan, yang membahas suasana pantai, fasilitas, rute, tiket, hingga pengalaman selama berada di sana.

Buat pembaca, informasi seperti ini tentu membantu. Karena sebelum berangkat, pertanyaan klasik biasanya muncul:

"Tiket masuk berapa?"

"Parkirnya di mana?"

"Ada toilet nggak?"

"Bisa makan nggak?"

Dan pertanyaan paling penting:

"Bagus nggak?" 😆

Keunikan Ari blog MeiMoodaEma adalah menggabungkan pengalaman traveling dengan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat lokal.

Cocok untuk dibaca para traveler yang ingin jalan-jalan sekaligus mendapatkan insight tentang lingkungan dan budaya.



10. Elva Nasira – Traveling Bareng Anak Tanpa Harus Panik

Elva Nasira

Traveling sendirian itu satu cerita. Traveling bersama anak kecil? Levelnya naik satu tingkat. 😅

Nah, Elva Nasira menarik karena banyak membagikan pengalaman traveling yang berkaitan dengan keluarga dan anak.

Salah satu tulisannya membahas pengalaman pergi ke Pantai Panjang Bengkulu bersama anak usia satu tahun. Travel Blogger ini juga membahas barang dan persiapan yang perlu diperhatikan ketika bepergian bersama balita.

Ada juga cerita tentang bagaimana merencanakan liburan keluarga agar tetap menyenangkan tetapi tidak membuat keuangan berantakan.

Dengan kata lain, Elva menunjukkan bahwa traveling bersama keluarga itu bisa dilakukan dengan persiapan. Karena kalau tidak dipersiapkan, bisa saja yang dibawa ke pantai bukan cuma anak dan tas.

Tapi juga: mainan, pakaian cadangan, makanan, obat, perlengkapan bayi, dan satu rumah sekalian. 😂

Keunikan yang bisa ditemukan di blog Elva Nasira adalah tips traveling keluarga yang berasal dari pengalaman nyata.

Tulisan dan pengalaman yang cocok untuk dibaca para ibu, keluarga muda, dan traveler yang membawa anak.



11. NYKNote – Dari Jalan Kaki Sampai Naik Gunung

NYKNote

NYKNote adalah blog personal yang memiliki cerita perjalanan dengan sentuhan pengalaman pribadi.

Salah satu cerita yang menarik adalah tentang awal mula penulis menyukai aktivitas mendaki gunung.

Menariknya, perjalanan tersebut tidak dimulai dari ambisi menjadi pendaki profesional. Kadang hidup memang begitu, ya. Awalnya cuma jalan kaki. Tahu-tahu: "Kok sekarang sudah naik gunung?"

😆

Cerita seperti ini membuat perjalanan terasa lebih manusiawi. Ada proses, ada pengalaman, ada rasa penasaran, dan tentu saja ada cerita yang bisa dibawa pulang.

NYKNote cocok untuk pembaca yang senang melihat perjalanan dari sisi personal, termasuk pengalaman kuliner dan aktivitas di alam.

Keunikan yang bisa kita temukan di blog ini adalah cerita perjalanan yang terasa seperti catatan pengalaman pribadi, bukan sekadar panduan wisata.

Cocok untuk pecinta cerita personal, kuliner, alam, dan aktivitas outdoor.



12. DiBukaBox – Traveling dengan Perspektif yang Lebih Lebar

DiBukaBox

Yang terakhir kisah travel blogger dari DiBukaBox. Blog milik Ednadus Harjaka Setiawan ini cukup menarik karena topiknya tidak berhenti di traveling. Ada juga pembahasan teknologi, lifestyle, keuangan, otomotif, dan berbagai hal lainnya.

Nah, kalau blog lain mungkin mengajak kita bertanya: "Mau ke mana?" DiBukaBox bisa membuat pertanyaannya berkembang menjadi:

"Setelah sampai sana, kita bisa belajar apa?"

Salah satu hal menarik dari blog ini adalah pembahasan tentang Sekolah Seniman Pangan, yang membawa pembaca melihat pangan lokal, masyarakat, dan sisi ekonomi di baliknya.

Ini membuat perjalanan tidak hanya soal destinasi, tetapi juga soal manusia, budaya, makanan, dan kehidupan yang ada di balik sebuah tempat.

Keunikan DiBukaBox adalah perspektif lintas topik yang membuat perjalanan bisa dilihat dari banyak sisi.

Bacaan yang cocok untuk para pembaca yang suka travel sekaligus teknologi, lifestyle, ekonomi, dan isu sosial.


12 travel blogger Indonesia terbaik




Jadi, Travel Blogger Mana yang Paling Cocok Buat Kamu?

Dari 12 blogger di atas, jelas bahwa masing-masing punya "rasa" sendiri. Ada yang suka kuliner. Ada yang senang mencari hidden gem. Ada yang suka wisata alam. Ada yang membawa keluarga. Ada yang mengangkat budaya lokal. Ada yang peduli lingkungan. Ada juga yang melihat perjalanan dari sisi sosial dan kehidupan masyarakat.

Dan semuanya punya satu kesamaan: Mereka membuat kita ingin pergi...

Masalahnya kalau saya cuma satu. Setelah membaca artikel mereka, wishlist liburan biasanya bertambah cepat. Tapi sayangnya saldo rekening belum tentu ikut bertambah. 😂

Kalau kamu suka traveling sekaligus kuliner, TravelFoodPedia bisa jadi pilihan.

Kalau mencari short escape, OvaJourney menarik untuk diikuti.

Kalau ingin mengenal budaya dan cerita masyarakat lokal, blog saya tehokti salah satunya yang bisa dibaca.

Untuk family traveling, RuangUmma dan Elva Nasira punya banyak cerita yang relatable.

Kalau suka alam dan lingkungan, Melukis Senja, Anggita Ramani, dan MeiMoodaEma punya perspektif menarik dan buat rujukan.

Sedangkan JourneyJournalKu, SiswiyantiSugi, NYKNote, dan DiBukaBox menawarkan pengalaman perjalanan dengan sudut pandang yang lebih personal dan beragam. Ga ada pengalaman itu di blogger lain.

Pada akhirnya, travel blogger bukan cuma soal menunjukkan tempat yang indah. Mereka membantu kita melihat bahwa setiap perjalanan punya cerita.

Kadang ceritanya tentang pantai. Kadang tentang gunung. Kadang tentang makanan. Kadang tentang budaya.Dan kadang... tentang dompet yang menangis setelah pulang liburan. 😆

Jadi, daripada cuma bilang "kapan-kapan kita liburan", coba mulai dari satu hal sederhana: buka salah satu blog di atas, cari destinasi yang manteman suka, lalu mulai bikin wishlist.

Siapa tahu, perjalanan berikutnya bukan lagi cuma ada di wishlist.



Kenapa Disarankan Baca Artikel dari Travel Blogger?

Travel blogger sebenarnya bukan cuma orang yang hobi jalan-jalan lalu memamerkan foto.

Di balik sebuah tulisan perjalanan biasanya ada pengalaman, riset, biaya, waktu, dan cerita yang bisa membantu pembaca.

Dari travel blogger, kita bisa mendapatkan: inspirasi destinasi wisata, rekomendasi tempat makan, ide itinerary perjalanan, tips traveling hemat, referensi wisata keluarga, hingga cerita budaya dan masyarakat lokal sampai informasi tentang hidden gem.

Termasuk inspirasi perjalanan ke luar negeri, tips memilih penginapan, sudut pandang baru tentang sebuah daerah dan masih banyak lagi...

Jadi, sebelum membeli tiket pesawat, tiket kereta, atau bahkan membeli koper baru, tidak ada salahnya membaca pengalaman para blogger ini terlebih dahulu. Siapa tahu kita menemukan tempat yang selama ini tidak pernah masuk radar.



Siap Jadi Travel Blogger Selanjutnya?

Pada akhirnya, traveling bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi seberapa banyak cerita yang kita bawa pulang.

Ada yang pulang membawa foto.

Ada yang membawa oleh-oleh, ada yang membawa pengalaman. Dan ada juga yang pulang membawa tagihan kartu kredit. 😆

Nah, dari 12 travel blogger Indonesia di atas semoga bisa menjadi teman virtual sebelum manteman menentukan destinasi berikutnya.

Jadi, daripada hanya berkata: “Kapan ya kita liburan?” Mending mulai cari destinasi dari sekarang.

Cuss siapkan itinerary. Cek transportasi. Hitung budget. Dan yang paling penting... pastikan saldo rekening tidak ikut pergi duluan. 😂

Selamat menjelajah!

Read more ...

Kamis, 11 Juni 2026

Garut Sukabumi Berakhir di Bakso Buver

Ngahuleng ketika membaca tema terakhir yang diberikan Teh Ani Berta dalam kegiatan rutinan ngeblog di komunitas ISB beberapa waktu lalu.

Udahlah saya terlambat mengerjakannya karena kemarin-kemarin tuh blognya dimaintenance, ditambah saya tertinggal banyak dibanding teman-teman satu group program ini yang sudah pada setor. Jadi makin gemeteran kan…

Tugasnya “Tulis pengalaman traveling yang belum sempat dituliskan di blog”

Waduh, kan jadi mikir, selama ini saya pergi kemana saja ya? Apakah ada yang belum pernah saya tulis?

Di era digital seperti sekarang, yang apa-apa serba upload di sosmed rasanya sulit menemukan kegiatan yang belum dipublikasikan. Minimal di sosial media ada aja yang diunggah.

Tapi kalau mau diceritakan di blog, kan mikirnya paling enggak kisah yang agak berbobot, memiliki kesan atau ada manfaat yang bisa dibagikan. Kalau sekedar bepergian berupa rutinitas sehari-hari macam saya di kampung, seperti ke kebun, ke rumah mertua, ke rumah almarhum ibu, rasanya gak ada yang menarik juga untuk diceritakan. Walau tidak menutup kemungkinan jika memang ceritanya bagus walau hanya rutinitas sehari-hari bisa jadi ajang journaling seperti Catatan Harian Rani R Tyas 

Sementara saya ini, sejak anak masuk pondok, bareng suami hampir tidak pernah melakukan traveling. Kegiatan sehari-hari ya begitu-begitu saja. Mungkin saking gak kepikiran pergi kemana, sampai saya jadi lupa? Haha, pikun…

Karena beneran blank, pengen tahu beberapa waktu terakhir ini kemana saja saya pernah bepergian, cara paling mudah adalah dengan melacak rekam jejak digital yang ada di ponsel.

Cara Lacak Rekam Jejak Digital Melalui Ponsel

Ada beberapa metode yang bisa kita gunakan:

1. Menggunakan Linimasa Google Maps (Android)

Karena saya menggunakan ponsel Android, Google Maps secara otomatis merekam riwayat perjalanan saya. Duh, nuhun pisan ya Gel. Kamu teh meni pengertian pisan…

Cara supaya saya tahu selama ini saya ngider kemana aja, buka aplikasi Google Maps, lalu ketuk foto profil atau inisial akun kita di sana.

Pilih menu Linimasa Anda (Your Timeline). Pilih tanggal atau bulan tertentu untuk melihat rute perjalanan dan lokasi yang pernah kita singgahi.

Tara…! Akhirnya saya ngeh, kalau saya pernah pergi ke Garut dan pergi ke Sukabumi. Yeay! Ternyata saya pernah traveling lagi setelah sekian puluh purnama terlewati dan berasa hanya diam di rumah kampung saja.




Dua perjalanannya itu bareng suami menggunakan sepeda motor dan menggunakan jalan alternatif alias jalan tikus (bukan kami dan sepeda motor mengecil masuk lubang tikus ya…)

Ke Garut, kami naik motor berangkat dari Cianjur Kota. Terus ke Bandung, ke Cileunyi ke Nagreg sampai Leles Garut. 

Tujuan kami ke Pondok Pesantren Alfutuhat. Di sana suami silaturahmi sekaligus ikut belajar selama sekitar semingguan. Ponpesnya walau menganut sistem salafi tapi sudah modern. Ada penginapan khusus suami istri seperti kami, juga minimarket yang dikelola santri.

Pertama kali belanja kaget kok ini namanya Alfu Mart? Apa salah cetak?

Ternyata emang bener. Alfu Mart diambil dari nama pesantrennya Alfutuhat Mart.

Pulang dari Alfutuhat kami tidak lewat Nagreg lagi, melainkan lewat Cijapati. Terus ke Soreang, Ciwidey hingga ke Rancabali. Jadi kami pulang ke Pagelaran Cianjur lewat lintas tengah selatan. Alhamdulillah perjalanan lancar dan nambah pengalaman.

Waktu ke Sukabumi kami mengendarai kendaraan bermotor juga dari Cianjur kota. Start dari rumah warisan mertua seperti biasa. Tujuan ke pondok pesantren juga yang lokasinya di daerah Gunungpuyuh.

Di ponpes ini suami ikut pasaran. Rencana sepuluh harian kami belajar tapi baru tiga hari suami sakit. Akhirnya kami pulang. Dan jalan yang kami lewati kembali asruk-asrukan melipir ke perkebunan teh mulai dari Gunungpuyuh ke Gegerbitung lanjut ke Takokak, Sukanagara sampai deh di Pagelaran.

Di Gunungpuyuh antara santri putra dan putri terpisah. Saya yang tidak ikut pasaran (tidak seserius santriwati asli, maksudnya) lebih banyak ke memperhatikan pola dan tingkah laku para santriwati.

Kehidupan di kobong (asrama) yang teramat sederhana menjadikan mereka tidak lagi jaga image. Tapi yakin kalau di rumah masing-masing mereka pasti sudah dididik dengan tips parenting modern.

Saking sederhananya kami di kobong saat itu, makan bersama iuran per orang lima ribu rupiah untuk lima hari. Satu kelompok ada sepuluh orang. Jadi untuk beli lauk makan tiga kali sehari selama lima hari ada 50 ribu rupiah. Bayangkan, lauk apa yg bisa bertahan selama lima hari dengan uang 50 ribu untuk 10 orang?

Kalau beras kebetulan ada yang bawa, jadi tidak usah beli. Saya pikir santri-santri ini hemat amat. Yang seperti ini nih seharusnya mendapatkan jatah MBG.

Makan memang sangat sederhana. Tapi ternyata jajannya, wow… luar biasa! Seblak, gorengan, bakso, cilok dan semua pedagang yang lewat maupun jajanan di warung hampir semua mereka borong. Tepok jidat saya jadinya.

Gak heran waktu masak yang bagian piket asal-asalan. Alasan gak bakalan ada yang makan. Lah bagaimana mau makan kalau kebanyakan pada kenyang jajan?

Mungkin hanya sebagian yang bekalnya menipis yang larinya baru ke dapur. Makan seadanya itu.




Saya jadi kasihan ke suami. Dan kepikiran apa penyebab dia sakit juga karena soal makanan ini?

Secara di rumah kan terbiasa makan cukup dan teratur. Walaupun lauknya sederhana tapi kenyang. Lah di pondok ini makan bareng (bisa dibilang rebutan) mana suami tipe pendiam dan pemalu. Bisa saya bayangkan dia mah daripada makan bareng-bareng gitu lebih baik nahan lapar… 




Saya sendiri gak bisa menyediakan atau bantu secara kami kan terpisah. Susah komunikasi juga karena sinyal timbul tenggelam.

Waktu Fahmi anak kami nelepon dari Solok Sumatera Barat saja sampai berkali-kali gagal hingga anak kecewa. Padahal saya udah berusaha mencari sinyal. Mencari tempat yang diperkirakan bisa dengan baik menerima telepon maksudnya.

Tiga hari kemudian karena suami sakit itu tadi kami izin pulang, deh.

Cara selanjutnya mengetahui kemana aja kita pernah bepergian dengan melihat rekam jejak digital yang ada di ponsel untuk pengguna iPhone.

2. Menggunakan Fitur Tempat di iPhone (iOS)

Pengguna perangkat Apple memiliki fitur bawaan untuk melihat riwayat lokasi.

Caranya buka aplikasi Peta (Maps) di iPhone. Ketuk menu Tempat, lalu pilih Pernah Dikunjungi.

Manteman bisa memfilternya berdasarkan tanggal, kategori, atau kota.

3. Cek Riwayat Foto dan Video

Galeri ponsel kita menyimpan metadata lokasi yang akurat berdasarkan Geo-tagging.

Buka aplikasi Google Foto atau Apple Foto. Cari berdasarkan nama kota atau tempat di bilah pencarian. Jika kita pernah mengambil foto di sana, foto tersebut akan muncul lengkap dengan tanggal dan lokasi pastinya. Jadi kita bisa tahu pernah ke mana aja dan itu kapan.

4. Cek Histori Transaksi (Riwayat Pembelian)

Bukti transaksi digital juga bisa menjadi penunjuk yang kuat.

Periksa riwayat pemesanan di aplikasi tiket perjalanan (seperti Traveloka, Tiket.com, atau KAI Access)

Cek mutasi atau riwayat transaksi di aplikasi perbankan (seperti M-Banking) pada tanggal tertentu untuk melihat pembayaran di lokasi tertentu.

---

Nah dengan demikian kita jadi tidak lagi lupa selama ini pernah ke mana aja. Termasuk saya, selain ke Garut dan Sukabumi, yang terbaru berdasarkan foto dan video geo-tagging saya dan suami juga ternyata pernah makan ke Bakso Buver.




Hal yang tidak akan terlupakan disini adalah ketika sedang asyik menikmati bakso dan juice mangga eh listrik mati. Dan karena di bakso itu tidak ada lampu emergency jadinya kami makan sambil gelap-gelapan. Hihi… pakai lampu penerang dari ponsel sih, tapi tetap tidak maksimal. Walaupun begitu makan baksonya tetap lancar dan habis dong.



Read more ...

Jumat, 26 Desember 2025

Fakta Menarik Umeda Sky Building

Ini 8 Fakta Menarik Umeda Sky Building yang Harus Kamu Tahu Sebelum Berkunjung!

Umeda Sky Building adalah salah satu landmark terkenal di Osaka yang sering kali menjadi tujuan wisata wajib bagi banyak orang yang berkunjung ke kota ini.

Dengan desain arsitektur yang unik dan pemandangan menakjubkan, tidak heran kalau Umeda Sky Building sering jadi objek foto favorit, baik bagi turis maupun penduduk lokal.

Nah, bagi manteman yang belum tahu banyak tentang bangunan ini, saya akan mengulas berbagai fakta menarik mengenai Umeda Sky Building yang pastinya bakal bikin kita makin penasaran untuk mengunjunginya!

Fakta Umeda Sky Building di Osaka

Jika manteman sudah riset soal harga tiket pesawat Jakarta Osaka dan tertarik mengunjungi bangunan ini nanti, sebaiknya simak fakta-faktanya berikut ini dulu, ya!

1. Desain Arsitektur yang Unik

Salah satu hal pertama yang pasti menarik perhatian saat melihat Umeda Sky Building adalah desainnya yang sangat berbeda dari bangunan-bangunan lainnya.

Dibangun dengan konsep "dual towers," gedung ini terdiri dari dua menara bertingkat yang saling terhubung di bagian puncaknya.

Pada bagian atas menara, terdapat sebuah jembatan besar yang menghubungkan keduanya yang disebut sebagai "Floating Garden Observatory.”

Desain yang futuristik ini membuat Umeda Sky Building terlihat seperti sebuah kapal luar angkasa yang siap meluncur ke luar angkasa dan memang bangunan ini telah menjadi simbol modernitas kota Osaka.

Dibangun pada tahun 1993, Umeda Sky Building memiliki ketinggian sekitar 173 meter, dengan 40 lantai yang menawarkan berbagai fasilitas dan atraksi.

Desain arsitektur yang inovatif ini menggabungkan elemen modern dengan ruang terbuka, menjadikannya salah satu contoh desain kontemporer terbaik di Jepang.

Umeda Sky Building
Sumber gambar istockphoto.com

2. Floating Garden Observatory: Pemandangan Osaka dari Ketinggian

Puncak dari Umeda Sky Building adalah Floating Garden Observatory, sebuah dek observasi yang terletak di lantai 39 dan 40 yang menyuguhkan pemandangan 360 derajat kota Osaka.

Kita bisa melihat seluruh kota Osaka, termasuk kawasan pelabuhan, distrik perbelanjaan, serta pegunungan yang mengelilingi kota.

Tak hanya itu, kalau cuaca cerah, kita juga bisa melihat pemandangan yang sangat indah hingga ke kota Kobe yang terletak di seberang Teluk Osaka.

Yang lebih menarik lagi, Floating Garden Observatory ini tidak hanya terbuka untuk pengunjung, tetapi juga memiliki sebuah jembatan melengkung yang menghubungkan dua menara di bagian atas, memberi kesan seolah-olah kamu sedang berjalan di langit.

Jembatan ini juga terkenal karena keindahannya, terutama saat matahari terbenam atau malam hari ketika lampu kota mulai menyala, menciptakan suasana yang magis dan romantis.

3. Koleksi Seni yang Menarik di Dalam Gedung

Selain pemandangan yang menakjubkan, Umeda Sky Building juga memiliki berbagai koleksi seni yang menarik di dalamnya. Salah satu yang paling terkenal adalah instalasi seni yang terletak di lantai dasar yang sering berganti sesuai dengan pameran yang sedang berlangsung.

Gedung ini juga memiliki berbagai galeri seni dan ruang pameran yang menampilkan karya seniman lokal maupun internasional.

Bagi siapapun yang suka seni dan desain, berkeliling di dalam Umeda Sky Building bisa menjadi pengalaman yang tak kalah menarik. Setiap sudut di dalam gedung ini menawarkan detail arsitektur yang artistik dan memperlihatkan bagaimana seni dan desain bisa berbaur dengan kehidupan urban modern.

4. Taman Mengambang yang Dikenal Romantis

Floating Garden Observatory ini sering dijadikan tempat untuk pasangan yang ingin menikmati pemandangan malam kota Osaka.

Suasana yang romantis dengan latar belakang lampu kota yang berkilauan membuat tempat ini sangat cocok untuk dijadikan tempat berkencan atau bahkan melamar seseorang.

Banyak pengunjung yang datang ke sini untuk menikmati waktu berkualitas dengan orang yang mereka cintai sambil menikmati keindahan Osaka dari ketinggian.

Selain itu, banyak turis yang mengatakan bahwa Umeda Sky Building adalah salah satu tempat terbaik di Osaka untuk menikmati pemandangan matahari terbenam.

Dengan atmosfer yang tenang dan pemandangan yang menawan, pengalaman ini pasti akan membuat kita sangat terkesan.

Jika berencana datang ke Osaka dengan orang terkasih, pastikan untuk mampir ke gedung ikonik, ini ya. Jadi, siapkan diri dan cek harga tiket pesawat Jakarta Osaka biar kamu bisa merencanakan kedatangan dari jauh hari.

Umeda Sky Building
Sumber gambar istockphoto.com

5. Umeda Sky Building sebagai Pusat Perbelanjaan dan Hiburan

Selain menjadi tempat wisata, Umeda Sky Building juga memiliki beberapa fasilitas hiburan dan perbelanjaan yang menarik. Di lantai dasar dan beberapa lantai lainnya, terdapat berbagai restoran, kafe, dan toko yang menawarkan makanan, minuman, serta oleh-oleh khas Osaka.

Mulai dari restoran yang menyajikan hidangan lokal Jepang hingga pilihan internasional, manteman pasti bisa menemukan tempat makan yang sesuai dengan selera.

Tak hanya itu, di bagian bawah Umeda Sky Building juga terdapat taman yang asri, cocok untuk berjalan-jalan santai atau sekadar duduk menikmati suasana.

Jadi, jika kita berkunjung ke sini, pastikan untuk meluangkan waktu sejenak untuk menikmati tempat-tempat seru di sekitar gedung.

6. Akses Mudah dan Lokasi Strategis

Salah satu keuntungan berkunjung ke Umeda Sky Building adalah lokasinya yang sangat strategis di pusat kota Osaka.

Gedung ini terletak tidak jauh dari Stasiun Osaka yang merupakan salah satu pusat transportasi utama di kota. Jadi, kita bisa dengan mudah mengaksesnya menggunakan kereta, bus, atau taksi dari berbagai penjuru kota.

Bahkan jika kita hanya memiliki waktu terbatas di Osaka, mengunjungi Umeda Sky Building bisa menjadi pilihan yang tepat karena mudah dijangkau dan menawarkan banyak hal menarik yang bisa dilihat dalam waktu singkat.

Di sekitar gedung juga terdapat banyak tempat wisata lain yang bisa kita kunjungi, seperti Grand Front Osaka dan banyak pusat perbelanjaan lainnya.

7. Tips Mengunjungi Umeda Sky Building

● Waktu Terbaik untuk Berkunjung:

Sebaiknya mengunjungi Umeda Sky Building saat cuaca cerah agar bisa menikmati pemandangan yang maksimal. Selain itu, datanglah pada hari kerja untuk menghindari keramaian yang biasanya terjadi pada akhir pekan atau liburan nasional Jepang.

● Harga Tiket Masuk:

Tiket masuk untuk mengakses Floating Garden Observatory sekitar 1.500 yen per orang (sekitar Rp200.000). Harga ini bisa bervariasi tergantung pada musim atau acara khusus yang diadakan di sana

● Bawa Kamera:

Jangan lupa untuk membawa kamera karena banyak spot di dalam dan sekitar Umeda Sky Building yang sangat Instagramable.

Pemandangan dari Floating Garden Observatory juga sangat memukau, jadi pastikan memori sepenuhnya siap untuk mengambil foto-foto kenangan.

● Bawa Jaket:

Walaupun Osaka terkenal dengan cuaca hangat, bagian atas Umeda Sky Building bisa terasa lebih dingin, terutama saat angin kencang berhembus. Jadi, pastikan juga membawa jaket atau sweater untuk kenyamanan saat berkunjung.

Umeda Sky Building
Sumber gambar istockphoto.com

8. Menikmati Keindahan Osaka di Malam Hari

Jika berencana untuk mengunjungi Umeda Sky Building pada malam hari, kita akan disuguhi pemandangan kota yang benar-benar spektakuler.

Lampu-lampu kota Osaka yang bersinar terang dari ketinggian menciptakan suasana yang sangat memukau dan romantis.

Pemandangan ini sangat cocok untuk manteman yang ingin menikmati keindahan kota Osaka dari sudut pandang yang berbeda.

Umeda Sky Building di Osaka adalah salah satu destinasi wisata yang sangat menarik dengan desain arsitektur yang unik, pemandangan yang memukau, dan banyak fasilitas yang dapat dinikmati pengunjung.

Baik untuk berfoto, menikmati suasana, atau sekadar berjalan-jalan, tempat ini menawarkan pengalaman yang tidak bisa dilewatkan.

Jadi, pastikan Umeda Sky Building ada di daftar perjalananmu saat berkunjung ke Osaka, ya!

Pastikan kamu sudah cek harga tiket pesawat Jakarta Osaka dan melakukan pembelian agar bisa segera mendapatkan pengalaman mengeksplorasi Umeda Sky Building! Bye-bye...

Read more ...

Minggu, 10 Desember 2023

Si Wajah Tangki

Saya jadi teringat masa sekolah di Tasikmalaya ketika sedang menunggu suami isi bensin di stasiun pengisian bahan bakar umum dekat rumah. Saat itu ada truk tangki Pertamina yang sedang menurunkan bahan bakar. Si wajah tengki, julukan itu pun langsung teringat dalam pikiran dan bikin saya mesem-mesem tersenyum sendiri.

Jadi dulu itu setelah lulus sekolah dasar di Bandung saya melanjutkan sekolah menengah pertama di Tasikmalaya. Tepatnya di SMPN 1 Salawu.

Saat itu, jarak dari rumah di Sukaratu Neglasari (Kampung Naga) ke sekolah di Warung Peuteuy cukup jauh. Dari semua anak sekolah di desa orang tuanya tidak ada yang memiliki kendaraan pribadi. Memiliki sepeda motor saja masih termasuk kalangan orang kaya. Bukan kalangan biasa seperti saya.

Kendaraan yang bisa dinaiki jika akan ke sekolah adalah elf jurusan Garut Singaparna Tasikmalaya, dan atau kendaraan colt yang akan membawa penumpang ke pasar di Singaparna. Tapi tak setiap kendaraan mau membawa anak sekolah yang ongkosnya hanya seratus rupiah. Mereka lebih memilih mengangkut para penumpang yang akan ke pasar atau ke kota karena ongkosnya jelas lebih besar.

Jangan heran meski sepagi apapun berangkat dari rumah, tapi sampai sekolah tetap saja kesiangan karena memang tidak ada kendaraan yang membawa.

Entah bagaimana awalnya, karena anak-anak berseragam masih juga berkumpul di pinggir jalan padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh, pemuda dan masyarakat sepanjang jalan raya Rancak (sekarang tempat parkir Kampung Naga) membantu anak-anak memberhentikan kendaraan apa pun supaya mau membawa anak sekolah.

Akhirnya ada juga yang membawa satu dua anak sekolah hingga lama-lama anak sekolah semuanya terangkut. Termasuk saya dan rombongan kawan-kawan sekampung meski sampai sekolah tetap kesiangan.

Keesokan harinya sejak pagi kami mencoba melambaikan tangan tanda menyetop kepada semua jenis kendaraan roda empat dan lebih. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Tapi kami tidak putus asa. Terus mencoba nyegat kendaraan apa pun supaya tidak kesiangan terus sampai sekolah.

Meskipun di depan truk tangki Pertamina tertulis hurup begitu besar DILARANG MENUMPANG, tapi nekatnya truk tangki pun kami cegat. Haha...

Tapi ada juga ternyata sopir tangki Pertamina yang baik hati. Mau berhenti dan membawa rombongan kami ke sekolah. Supaya kami yang berjumlah tujuh orang terbawa semua, sampai kondektur yang sedang tidur di kursi belakang bangun dan mengalah memberikan tempat istirahatnya itu untuk kami tempati.

Gara-gara numpang truk tangki dijuluki si wajah tengki

“Naik semuanya. Gak apa berdesakan ya daripada kesiangan,” kata sopirnya memerintah.

Sambil cekikikan, sambil ketakutan, semua rasa bercampur terlihat dari raut wajah teman-teman satu kampung barengan saya

“Tenang Neng, ga akan kami culik kok.” Seolah mengerti isi hati teman-teman Pak Sopir mengatakan itu sambil terus ngajak ngobrol.

Entah mencairkan suasana, atau orangnya memang mudah akrab, pak sopir bercerita banyak, termasuk menjelaskan kalau mobil truk tangki Pertamina ini jenisnya berbeda dan tugasnya juga tidak sama karena ada yang mengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kendaraan pada umumnya hingga bahan bakar untuk pesawat terbang.

Pak sopir bertanya ada yang tahu berapa jenis mobil truk Pertamina? Kami semua diam, menggelengkan kepala karena tidak tahu jawabannya. Duh pak, di kelas memang tidak diajarkan soal itu. Hehe...

Pak sopir bicara lagi katanya paling tidak ada 4 jenis mobil tangki Pertamina jika dilihat pada perbedaan warna dan bentuknya.

Ada mobil tangki warna merah putih seperti yang sedang kami naiki, tugasnya mengangkut BBM ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan Pertashop.

Ada mobil tangki warna biru putih yang akan lebih sering ditemui di kawasan-kawasan industri karena tangki ini tugasnya mengantar BBM bagi konsumen industri alias Business-to-business (B2B).

Jenis ketiga ada mobil skid tank, yang memiliki ciri khas tangki berbentuk tabung di belakangnya. Bukan untuk BBM, mobil skid tank bertugas menyalurkan Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE).

Jenis terakhir ada truk refueller. Warnanya masih merah putih tapi mobil refueller mengangkut avtur yang merupakan bahan bakar pesawat terbang.

Gara-gara numpang truk tangki dijuluki si wajah tengki

Pak sopir terus mengajak kami bercerita meski sebagian besar kami hanya diam dan melihat ke luar jendela.

Hingga tak terasa, truk yang mengangkut kami sampai di depan gerbang sekolah. Kami beramai-ramai bilang kiri, minta berhenti.

“Ayo turun pelan-pelan. Santai aja. Jangan sampai jatuh ...”

Ketika truk tangki sudah berhenti di depan gerbang sekolah, Pak sopir tangki Pertamina kembali mengingatkan melihat salah satu teman saya mau turun sampai terburu-buru dan menginjak kaki teman lainnya. Padahal pintu saja belum dibuka oleh si bapak kondekturnya.

Lagian bener kata Pak sopir, kalau tidak pelan dan hati-hati, kami bisa jatuh. Bayangkan anak SMP yang masih pendek (meski bukan karena stunting) menggunakan rok sekolah yang panjang, harus bergelantungan naik turun melalui pintu truk tangki yang cukup tinggi dan pijakan serta pegangan nya berjauhan. Untuk orang dewasa mungkin sampai. Lah bagi kami anak kecil tentu saja banyak kesulitan.

Turun dari truk tangki kami disambut wajah melongo teman-teman dan sebagian kakak kelas yang kelasnya memang berada di bagian depan gedung sekolah. Ada yang menertawakan, ada yang biasa saja. Jujur saya malu banget, tapi ya mau bagaimana lagi, daripada kesiangan kan ya, naik kendaraan ekstrim pun tak jadi masalah. Meski sejak itu banyak yang mengejek saya dan teman-teman dengan julukan si wajah tengki. Gara-gara saya berangkat ke sekolah numpang truk tangki Pertamina. Yah, cuek saja. Apapun nyinyiran orang anggap saja motivasi diri untuk bisa lebih baik lagi di waktu selanjutnya.

Naik truk tangki juga pernah saya alami juga waktu saya hendak ke pelabuhan di daerah Jawa Timur. Saat itu kami dari stasiun mau ke pelabuhan karena hendak ke pelabuhan di Lombok. Saat itu kami mau naik gunung Rinjani. Kami saat itu melakukan perjalanan ramai-ramai ala backpacker. Mulai dari Jakarta ke Surabaya, terus ke pelabuhan dan nanti naik kendaraan yang bisa kami tumpangi saja. Terus aja begitu hingga sampai di Sembalun.

Nah di Surabaya ini dari stasiun ke pelabuhan kami nyegat kendaraan sembarang dan truk tangki yang ikhlas mempersilakan kami naik numpang truknya hingga ke pelabuhan.

Saat itu belum kenal blogger Surabaya macam Mbak Maria Tanjung, kalau sudah mungkin bisa chat beliau buat cari informasi dan tanya-tanya soal seputar transportasi di daerah sana.

Gara-gara numpang truk tangki dijuluki si wajah tengki

Naik truk tangki juga pernah saya dan teman-teman lakukan ketika turun dari Gunung Semeru. Saat itu saya lagi hamil, mau main dulu dan mampir di Candi Jago. Karena kesorean, saat itu kami nginap di Polsek Tumpang. Tepatnya di halaman belakang di masjidnya. Duh terimakasih banyak pak polisi Polsek Tumpang yang saat itu sedang bertugas, baik banget sama saya dan suami juga empat teman saya lainnya.

Saat mau ke Stasiun Malang kesorean ga ada kendaraan, akhirnya kami nekat nyegat sembarang kendaraan dan akhirnya bisa numpang lagi naik truk tangki. Ga ada pilihan lagi karena takut ketinggalan kereta. Beruntung meski kesorean masih ada truk tangki yang jalan dan mau membawa kami.

Dalam kondisi seperti itu rasanya bersyukur juga ada truk tangki bekerja 24 jam secara tugasnya kan ngangkut BBM yang sangat dibutuhkan masyarakat. Bayangkan jika tidak ada kendaraan tangki itu, selain saya bisa kesiangan ke sekolah, ketinggalan kapal ferry saat mau ke pelabuhan, pun bisa tertinggal kereta saat akan pulang ke Jakarta sepulangnya dari Malang.

Meski dulu sempat merasa malu, dijuluki si wajah tengki, karena sering numpang naik di atasnya tapi sekarang justru merasa kalau si truk tangki ini sungguh sangat berjasa.

Terimakasih banyak untuk pak sopir yang mengendarai tangki yang saya dan teman-teman tumpangi kala itu. Semoga sehat selalu panjang usia dan berkah ya Pak...

Read more ...

Sabtu, 09 Desember 2023

Mata Kuliah Manajemen Keuangan dari Majikan

Singapura, Hong Kong dan Taiwan menjadi negera yang penuh sejarah bagi perjalanan hidup saya. Krisis moneter tahun 98/99 sekaligus runtuhannya rezim orde baru yang menyebabkan kondisi dalam negeri begitu sulit mendapatkan pekerjaan --jangankan mendapatkan, yang sudah bekerja saja diphk masal—membuat saya nekat pergi untuk menjadi TKI demi bisa memperpanjang kehidupan.

Tahun 2000 ketika pertama kali menginjakkan kaki di negara orang tidak semudah yang dibayangkan, meski tak semenakutkan yang dibicarakan mereka, para TKI yang dikembalikan ke penampungan. Cerita mereka yang dipulangkan kan begitu serem. Dan konyolnya banyak yang mempercayai. Kecuali saya, karena saya pikir, gak mungkin mereka dipulangkan kalau tak ada masalah (kasus) berat. Bukankah pengirim tenaga kerja juga gak mau rugi? Bukankah ongkos tiket, biaya makan dll itu pakai uang?

Meski saya nol pengalaman, bahasa hanya sekadar paham dan belum bisa berkomunikasi dengan lancar (sekalipun bahasa Upin Ipin alias Bahasa Melayu) tapi saya yakin, sebagai buruh migran yang legal saya punya kekuatan tersendiri.

Benar, ketika job kerja di luar kontrak, saya mungkin terbilang nekat ngomong ke majikan hingga saya dikembalikan ke agency. Sampai nginap di salah satu rumah pekerjanya karena sekian hari masih belum juga mendapatkan majikan pengganti.

Tapi ada hikmahnya juga. Rumah yang saya tempati berada di Yishun, bagian Utara Singapura. Sementara kantor yang menjadi agency majikan berada di pusat kota. Jadilah setiap hari saya pulang pergi jalan-jalan naik MRT. Berasa keren, secara tahunn 2000 bisa naik MRT ibarat mimpi.

Dipulangkan ke agency bukan sebuah aib, pun misalkan dikembalikan ke penampungan di tanah air, jika kita berada dalam koridor kebenaran. Bahkan sebenarnya agency maupun majikan rugi besar kalau harus memulangkan tenaga kerja ke Indonesia, jika memang tidak memiliki kesalahan fatal, seperti TKI itu mencuri, atau kena kasus berat lainnya.

Dua tahun di Singapura cukup membuka mata hati saya jika bekerja sebagai TKW tak serendah yang sering digunjingkan tetangga. Rasa penasaran dan jiwa petualang saya malah semakin terpompa untuk kembali mendapatkan pengalaman baru.

Dengan proses mandiri, saya dilepas derai air mata ibu dan adik untuk kembali bekerja ke Hong Kong. Awalnya mau langsung ke Taiwan, tapi saat itu pengiriman tenaga kerja ke Taiwan sedang tutup. Banyak yang menyarankan Hong Kong bisa jadi pilihan. Cuss... Bersama teman di penampungan yang sudah akrab bahkan sudah saling menganggap seperti saudara akhirnya kami berangkat.

Kontrak kerja di Hong Kong tidak memiliki kendala. Kalaupun ada masalah saya bisa menyelesaikan dengan pihak bersangkutan. Yang ada saya semakin banyak teman, banyak tahu dan banyak mencoba...

Di Hong Kong ini masa muda saya benar-benar diuji. Tidak munafik, saya bergaul dengan banyak kalangan baik itu sesama buruh migran, sesama tenaga kerja asing, bahkan sampai warga lokal.

Kelakuan dan sifat mereka memberikan saya banyak ilmu dan wawasan, baik yang positif maupun yang negatif. Tahu sendiri, Hong Kong negara yang bebas. Mau jungkir balik atau bergaya apapun selama tidak merugikan pihak lain dan tidak menganggu ketertiban, tak masalah.

Dan saya yang selalu penasaran, mencoba masuk ke semua kondisi itu. Tentu saja dengan disertai iman dan taqwa. Karena meksipun saya suka main ke Neptune di Admiralty, tapi saya juga tidak lupa untuk ikut kajian bersama Pak Muhaimin di Masjid Ammar and Osman Ramju Sadick, Wan Chai.

Merasa hidup dalam kebahagiaan yang semu dan tiada ujungnya saya menyudahi bekerja di Negeri Bertabur Dollar itu dengan niat memulai dari awal ke negara Formosa alias Taiwan.

Cukup percaya diri memulai kerja di Taiwan meski pada kontrak kerja pertama langsung kena kasus pekerjaan di luar job yang tertera pada kertas kontrak kerja.

Majikan saya yang seorang janda, justru banyak membantu di masa-masa sulit saya ketika pertama kali masuk lingkungan tempat kerja seperti menolong membeli simcard, membela saya ketika agency justru menyalahkan saya yang katanya ribet ga mau sabar, dan memberitahu mana makanan halal dan tidak.

Meski gaya bicaranya yang keras dan termasuk kasar untuk seorang perempuan (sampai saya sempat mikir pantas menjanda terus, laki-laki mana ada yang mau dekat kalau galak begitu, haha...) tapi saya merasa sedih juga ketika akhirnya saya harus meninggalkannya dan mencari pekerjaan lain.

Hingga saya mendapatkan pekerjaan pada sebuah keluarga pasangan muda, dengan profesi pramugari dan pramugara pesawat China Airlines untuk merawat dan menjaga ayah majikan pria yang menderita stroke.

Mungkin karena wawasan yang luas dan pemikiran terbuka, majikan perempuan banyak mengajarkan kepada saya kalau saya harus disiplin dan gigih dalam mencapai tujuan hidup. Utamanya saya harus pintar dalam mengelola keuangan.

Ah, pokoknya ini tipe majikan the best banget deh versi saya dan teman-teman sesama buruh migran yang sering saling tukar kabar. Sampai sekarang, hampir 13 tahun saya berpisah dengan mereka tapi kami masih tetap berkomunikasi dan saling memberi kabar.

Masih selalu teringat apa yang selalu dinasihatkan majikan kepada saya ketika saya masih kerja di sana.

Bahwa apapun pekerjaan kita, tetap harus pandai dalam mengelola keuangan. Jika mendapatkan rezeki, sisihkan sebagian untuk membantu sesama, terlebih kepada orang dekat yang sedang membutuhkan.

Jika memiliki skill atau kemampuan, terus asah dan kembangkan. Saat sudah tidak bekerja (formal) memiliki uang yang ditabung saja tidak cukup. Karena belum tentu kamu akan jadi bos, tapi yang diperlukan adalah kemandirian dalam hal finansial.

Dan tentu saja hal itu tidak mudah kita dapat kecuali melalui kerja keras, disiplin, dan belajar terus untuk berlatih.

Ketika bekerja di mana pun dan apa pun pekerjaannya, tetap terapkan gaya hidup hemat. Terlebih saat menjadi TKI. Ingat sekaya apa pun kita di luar negeri, kalau pulang ke Indonesia tanpa persiapan itu akan menambah 1 pengangguran di tanah air, bukan?

Saat memiliki uang dan kebebasan, jangan terbuai iming-ming investasi atau belanja yang nggak jelas. Apalagi hura-hura foya-foya menghabiskan uang tak jelas. Boleh bepergian ke tempat wisata asal jelas maksud dan tujuannya seperti yang dicontohkan travel blogger Medan Mbak Suci. Cuba saja lihat di blognya, meksipun ia kerap wara-wiri menjelajah banyak tempat, tapi semuanya bermanfaat, gak sampai boncos. Malah jadi pemasukan sampingan alias jalan-jalannya menghasilkan cuan.

Jadi soal pengelolaan keuangan ini bagi kaum buruh sangatlah rentan. Bukan hanya di tempat bekerja saja tapi juga di kampung halaman. Banyak lho kirim uang jor-joran eh gak tahunya itu uang dipakai suami buat kawin lagi. Ngenes, kan?

Majikan saya tahu itu. Meskipun saat bekerja padanya saya belum menikah, tapi ia sangat mewanti-wanti kalau uang yang saya dapat harus dikelola sendiri. Perhatian majikan makin keras ketika marak kasus penipuan yang menyasar para pekerja migran.

Terlebih kepada saya seorang perempuan yang saat itu belum menikah, majikan sangat gamblang mengingatkan, jangan dulu beli-beli hal tidak penting seperti kendaraan, fashion, dan kosmetik. Secara tidak langsung itu akan mengundang lelaki yang mengincar harta. Bukankah lelaki baik justru yang akan memberikan semua itu kelak pada istrinya?

Kesuksesan para TKI bukan seberapa banyak duit yang dibawa pulang. Tapi sepintar apa dia mengelola keuangannya, dan sejauh mana ide serta pemikirannya terbuka untuk menjalani kehidupan baru setelah tidak mendapatkan penghasilan tetap.

Read more ...

Rabu, 07 Juni 2023

Panduan Lengkap Bulan Madu di Amed Bali

Siapa gak tertarik untuk bulan madu di Amed, saat disajikan panorama pantai yang indah dan jauh dari keramaian disertai berbagai aktivitas pantai menyenangkan. Siapapun pastinya akan tertarik, bukan?

Manteman mungkin sudah tidak asing dengan kawasan wisata ramai yang berpusat di bagian selatan Bali, namun ada banyak bagian lain di pulau dewata ini yang patut dieksplorasi. Berlokasi di bagian timur pulau Bali, kawasan Pantai Amed bisa menjadi destinasi bulan madu yang tenang.

Tema bulan madu di Amed menawarkan suasana yang tenang dengan panorama pantai yang indah, baik di permukaan hingga keindahan bawah lautnya yang masih jernih. Jika manteman dan pasangan suka kegiatan seru dan mencari lokasi bulan madu yang tenang, kawasan Pantai Amed Bali ini bisa jadi alternatif yang tepat.

Berikut beberapa hal yang perlu manteman ketahui jika ingin bulan madu di Amed.

Akses Transportasi dari Bandara Ngurah Rai ke Amed

Dari ujung selatan menuju ujung timur Bali, jarak antara Bandara Ngurah Rai ke Amed sekitar 97 km jauhnya. Perjalanan darat ke kawasan pantai di timur Bali tersebut bisa memakan waktu kurang lebih 2 hingga 3 jam. Tidak ada kendaraan umum seperti bus atau angkutan yang bisa kita pilih untuk menekan budget. Naik mobil umum atau pribadi merupakan pilihan paling nyaman yang patut kita siapkan dalam rencana bulan madu di Amed.

Seperti biasa kita juga bisa memesan taxi dari booth yang tersedia di Bandara Ngurah Rai. Namun pilihan kendaraan satu ini bukan alternatif. Kenapa? Pertama karena tarifnya bisa sangat tinggi. Untuk tarif yang nyaris sama dengan tingkat kenyamanan yang lebih, kita bisa memesan jasa jemputan dari hotel yang sudah dibooking. Kita juga bisa menyewa jasa antar jemput agensi (satu rute, bandara - hotel) dengan kisaran tarif mulai Rp 600.000.

Bulan Madu di Bali

Pilihan Hotel Bulan Madu di Amed

Sebagai lokasi pantai yang masih menjadi kawasan wisata berkembang, sudah cukup banyak penginapan romantis dan cukup mewah bisa kita temukan di Amed. Amed juga terkenal dengan deretan hotelnya yang menawarkan panorama pantai dengan penawaran harga murah. Tak sedikit hotel di sini memiliki tarif di bawah 1jt rupiah per malam. Cukup terjangkau untuk budget bulan madu, yekan? Kita bisa menginap beberapa malam dengan tarif yang tidak terlalu mahal jika dibandingkan hotel di kawasan Bali selatan.

Berikut bocoran rekomendasi beberapa pilihan hotel bulan madu di Amed yang memiliki suasana asri dan romantis.

  • Seamount Hotel Amed: Penginapan satu ini memiliki akses private ke Pantai Amed. Kita juga bisa bersantai di area kolam renangnya dengan pemandangan gunung yang menyejukan. Seamount memiliki tema dekorasi minimalis kayu yang modern sekaligus hangat. Ada banyak lokasi outdoor yang bisa jadi tempat nongkrong santai bersama pasangan di area hotel ini.
  • Amed Dream: Satu lagi hotel dengan akses private ke pantai adalah Amed Dream. Hotel ini memiliki tema dekorasi yang modern elegan. Selain area kolam renang yang menghadap ke laut, hotel ini juga memiliki area balkon dengan deretan kursi dan sofa yang nyaman untuk nongkrong. Nikmati pemandangan matahari terbenam sambil menikmati hidangan resto hotel di area balkon bersama pasangan. Hotel ini menyajikan aneka hidangan kontinental dan sarapan khas Amerika. Wuih, betah pastinya ya...
  • Aquaterrace Amed: Untuk suasana hotel yang tenang dan super romantis sebagai akomodasi bulan madu di Amed, manteman bisa booking penginapan di Aquaterrace Amed. Penginapan satu ini memiliki dekorasi khas yang memadukan warna biru laut dan putih sebagai aksen utama. Menghidupkan nuansa sejuk bagai oase di tengah teriknya Pantai Amed. Meski tidak memiliki akses private ke pantai, kita bisa menikmati pemandangan laut lepas di area balkon kolam renangnya yang menawan.
  • Kubu Kangin Resort: Hanya berlokasi 6 menit dari kawasan pantai terdekat, Kuba Kangin menyajikan suasana resort yang asri dan sejuk dikelilingi alam hijau Amed. Resort ini memiliki tema dekorasi dengan material kayu dan batuan yang memberikan suasana tradisional khas Bali. Selain kamar yang nyaman, nikmati hidangan hotel dengan penyajian cantik dipinggir kolam kawasan resort. Penginapan satu ini bisa jadi salah satu yang paling romantis untuk bulan madu di Amed.
  • Palm Garden Amed Beach & Spa Resort Bali: Mendengar ‘palm garden’, kita pasti memiliki ekspektasi penginapan tropis yang elegan dan menawan. Resort satu ini tak hanya memiliki area resort yang menawan, ada juga fasilitas spa yang bisa kita nikmati untuk menyegarkan diri. Nikmati sunbath nyaman di area kolam renang dengan pemandangan Pantai Selang.
Rekomendasi hotel di Amed, Bali

Rekomendasi Restoran Fine Dining di Amed

Memang belum banyak tempat makanan fine dining yang bisa ditemukan di kawasan Pantai Amed. Namun hal tersebut tidak mengurangi kesempatan kita untuk makan romantis dengan hidangan yang memanjakan lidah. Berikut beberapa rekomendasi restoran di Amed.

  • Bliss Cafe: Menyajikan aneka makanan lokal, seafood, hidangan internasional lainnya, Bliss Cafe tak hanya menyuguhkan menu dengan harga relatif murah. Restoran ini juga memiliki lokasi yang sejuk di pinggir pantai untuk suasana yang nyaman ketika kamu bersantap bersama pasangan.
  • The Cup Cafe: Bisa jadi spot makan siang yang menyenangkan, The Cup Cafe memiliki spesialitas dalam menu kopinya. Resto ini juga menyediakan pemandangan tepi pantai untuk menikmati hidangan lokal, seafood, dan kudapan Eropa.
  • Restaurant Bukit Segara: Untuk rencana makan malam romantis ketika bulan madu di Amed, Bukit Segara bisa menjadi resto fine dining yang cukup elegan dengan aneka sajian lintas cuisine dengan penyajian berkelas. Restoran ini berlokasi di pinggir pantai dengan tema dekorasi semi outdoor dan aneka aksen kayu yang hangat.
  • Sails Restaurant: Tempat makan satu ini juga memiliki pemandangan pantai yang indah. Baik di siang hari hingga matahari terbenam. Restoran ini menyuguhkan menu khas Indonesia dan aneka hidangan eropa. Sails merupakan tempat makan di Amed yang mendekati standar fine dining.
Restaurant makan malam bulan madu di Amed

Aktivitas Bulan Madu di Amed

Bulan madu di Amed menyajikan waktu istirahat dan bersantai yang benar-benar tenang di resort atau hotel. Jangan lewatkan kesempatan merasakan pasir pantai yang biasanya tak jauh dari beberapa penginapan. Ada berbagai aktivitas menarik yang bisa kita lakukan bersama pasangan untuk merangkai kenangan indah di Amed, Bali.

  • Melihat Pemandangan Sunset di Pantai Amed: Awali hari dengan menyempatkan diri melihat pemandangan matahari terbit di Pantai Amed. Ada banyak pantai terkenal di Bali, dan pantai merupakan salah satu yang masih jarang didatangi oleh wisatawan. Jadi suasananya lebih tenang, apalagi di pagi hari. Kita bisa menikmati pemandangan sunset di tengah laut di atas perahu.Tarif sewa perahu sekitar Rp 350.000 untuk dua orang. Paket wisata ini buka pada jam 5.00 pagi, kemudian akan kembali membawa kita ke pesisir pada 7.30. Momen ini bisa menjadi saat romantis tak terlupakan ketika bulan madu di Amed.
  • Snorkelling & Freediving: Buat manteman dan pasangan yang menyukai olahraga air, kawasan pantai Amed merupakan lokasi sempurna untuk snorkelling dan freediving. Karena masih termasuk sepi, keindahan bawah laut di kawasan ini masih sangat bersih untuk kita bisa melihat biota laut. Beberapa lokasi yang menyediakan paket aktivitas air dengan spot indah di antaranya; Teluk Jemeluk, Pantai Lipah, Pantai Selang, dan garis pantai dekat Kembali Beach Bungalows.
  • Memancing: Kalau takut menyelam, manteman bisa memancing di perahu sambil menikmati ketenangan di tengah laut. Tak perlu bingung bawa pancing sendiri, nelayan setempat akan menyediakan jasa penyewaan alat pancing dan perahu. Kita juga bisa minta saran spot strategis untuk memancing.
Panduan lengkap bulan madu di Amed Pulau Bali

Nah, itu tadi berbagai informasi yang perlu manteman ketahui sebelum memutuskan untuk bulan madu di Amed, Bali. Kalau perlu tips tambahan mengenai honeymoon di area lain di Bali, manteman jangan ragu bisa cek di www.balihoneymoonguide.com.

Baiklah! Selamat menikmati liburan romantis bersama pasangan tercinta ya...

Read more ...

Selasa, 04 April 2023

Cerita Orang Baik

“Yah, tas hitam mana?!”

Sambil meraba punggung, saya celingukan mencari tas punggung berisi semua barang penting kami.

“Astagfirullah! Gak dibawa emangnya? Masih di Alam Sunda?” Tanya suami seraya langsung membelokkan motor, putar arah menuju kembali ke rumah makan Alam Sunda cabang Cikolotok, Karangtengah. Padahal saat itu kami sudah sampai di Jebrod, sekitar 40 menit kendaraan menuju Alam Sunda.

“Iya. Ketinggalan. Ya Allah, pantas merasa ringan, ternyata tas ketinggalan,” suara saya memelas sangat ketakutan. Bagaimana tidak, jika tas itu hilang, maka ribet lah hidup kami.

Dalam tas itu ada semua ponsel kami, tab, dompet saya dan dompet suami, juga pakaian Fahmi yang baru saja kami beli. Dan pernak-pernik lainnya yang tentu saja semua penting.

Kenapa saya bisa ceroboh?

Suami menjalankan sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Berharap tas yang tertinggal masih ada. Belum ada yang mengambil. Secara tas nya memang gede. Carier Eiger, backpack yang biasa kami bawa kalau ngebolang kemanapun. Kalau ada yang ngambil, gak tahu deh. Lebaran kali ini pasti jadi lebaran yang sangat menyedihkan buat kami.

Saya hanya bisa memejamkan mata, berpegangan, sambil berdoa. Semoga masih ada rezeki kami. Semoga selalu ada orang baik yang menjaga barang kami, kepunyaan kami, orang lain. Bukan punya mereka yang menemukan.

Dalam waktu 25 menit saja kami sudah sampai lagi di lokasi rumah makan Alam Sunda tempat sebelumnya kami berbuka puasa di sana.

Saya langsung turun dan memeriksa tempat dimana tadi saya menaruh tas saat suami parkir motor. Ternyata tas itu sudah tidak ada. Tapi saya kok merasa tidak khawatir, entah kenapa, saya dengan tenangnya mendekati si Aa yang berjaga sebagai pengatur parkiran. Saya ingat dia yang membantu kami tadi saat mau pulang.

“A, punten. Lihat tas punggung warna hitam? Tadi saya di situ ketinggalan...”

“Oh, itu tas ibu? Ada saya simpan di pos sana Bu...” katanya sambil menunjuk ke parkiran kendaraan roda empat, dimana di ujung sana ada pos berukiran sekitar 2 x 2 meter.

Alhamdulillah...

Saya lihat ke arah suami dan menunjuk ke pos. Ngasih kode kalau tas ada di sana.

Dua orang petugas dalam pos bertanya identitas kami. Kami jelaskan dan mengatakan juga justru dompet dan semua identitas milik kami ada dalam tas itu. Entah kenapa mereka seperti langsung percaya saja. Tanpa membuka tas dan sebagainya mereka langsung menyerahkan tas itu kepada kami.

Kami sangat berterima kasih. Khususnya kepada si Aa penjaga parkir yang berhati mulia. Semoga dipanjangkan usia, ya A. Dimudahkan rezekinya dan selalu mendapatkan kemudahan dalam segala urusan. Aamiin. Kebaikan si Aa penjaga parkir tidak bisa kami balas dengan apapun. Hanya Tuhan YME yang bisa memberikan balasannya.

Di jaman sekarang sungguh sangat susah menemukan orang baik seperti si Aa penjaga parkir yang sudah menyelamatkan tas saya. Alih-alih membukanya, yang ada dia segera mengamankannya di pos keamanan. Coba kalau si Aa bukan orang baik, mana bisa semua barang berharga saya kembali dengan utuh?

Sebenarnya ada banyak orang baik, cuma mereka tidak terekspos. Banyak yang beranggapan kebaikan tidak perlu diperlihatkan takut jatuhnya menjadi riya. Tapi menurut saya, cerita orang baik justru harus terus diputar dan diperlihatkan, agar menjadi contoh dan teladan.

Pernah dengar anak berbuat jahat karena terinspirasi dari tontonan video dari sosial media nya? Nauzubillah. Beda lagi ceritanya kalau ada anak berbuat baik, karena mendengar dan membaca dari cerita orang baik versi saya ini.

Bayangkan jika ada anak yang mengatakan, saya membantu orang dengan ikhlas, tanpa pamrih karena membaca kisah orang baik seorang penjaga parkir yang dengan tulus menjaga dan mengembalikan tas milik blogger Cianjur yang tertinggal di Rumah Makan Alam Sunda cabang Cikolotok Karangtengah. Wah, cerita baik seperti itu pasti jadi sangat luar biasa, bukan?

Jadi mari kita kabarkan kisah-kisah para orang baik yang pernah kita temui, dengan harapan kebaikan dan ketulusan mereka terus menular dan menjadi percontohan.

Bagaimana cerita orang baik yang pernah manteman alami?

Read more ...

Sabtu, 21 Januari 2023

Menjelajah Tiga Negara Dapat apa?

Sepuluh tahun lebih bekerja di luar negeri banyak sekali makna hidup yang saya temukan. Mulai dari terbukanya mata hati dan pikiran, mengenal pergaulan dunia luar, interaksi penduduk lokal Singapura, Hongkong dan Taiwan, bertambahnya teman dan saudara bahkan bertambah orang tua, sampai soal pendidikan dan finansial. Tidak tertinggal permasalahan seputar jodoh!

Sepertinya cukup menarik untuk diulas satu per satu, bukan? Teh Ani memang keren nih dalam mengambil topik untuk setiap tema berbeda pada ODOP awal tahun ini. Yang pasti, buah dari perjalanan itu, bukan hanya semata dapat pemandangan indah yang bisa kita lihat, tapi juga makna lain yang bisa kita gali lebih dalam.

Jadi kembali ke pengalaman saya saja berangkat ke luar negeri sebagai TKW, makna yang saya dapat diantaranya:

Terbukanya mata hati dan pikiran

Sedikitpun tidak ada cita-cita jadi TKW. Sejak sekolah SD sampai SLTA, saya belajar keras demi bisa mendapatkan beasiswa dan mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Kondisi keluarga saya memang kurang mampu. Tanpa beasiswa mungkin saya belum tentu memiliki ijazah.

Tahun 99, tahun kelulusan saya itu bertepatan dengan lengsernya rezim Orde Baru dan diikuti krisis moneter melanda Indonesia bahkan dunia. Jangankan melanjutkan sekolah, atau mencari pekerjaan, yang sudah bekerja saja banyak yang kena PHK massal. Penjarahan terjadi di kota besar, berdampak pada perekonomian hampir semua rakyat.

Sebagai tulang punggung keluarga, tidak mungkin saya membiarkan ibu dan adik saya terus berhutang dan kelaparan. Sementara mendapatkan pekerjaan di pabrik tidak juga mendapatkan panggilan. Saya harus segera mengambil keputusan atau semua akan berantakan.

Saat itu banyak calo tenaga kerja dengan iming-iming uang dan mudahnya pekerjaan. Meski banyak diberitakan jika nasib TKW banyak yang menyedihkan. Saya dilema. Saya berpikir keras. Harus bekerja, mendapatkan uang yang cukup, tapi tidak beresiko seperti TKW di Timur Tengah.

Setelah istikharah, saya merasa ingin lebih memperlancar bahasa Inggris. Nah, mantap lah saya nekat gak apa jadi TKW, asal ke negara yang minim perlakuan buruknya majikan. Kawasan Asia dan Asia Pasifik saat itu jadi negara penempatan yang minim kabar buruknya. Meski ada, tapi peran pemerintah kedua belah pihak bisa diandalkan, tidak seperti di Arab Saudi dimana pemerintah kalah oleh kuasa majikan karena di sana sistemnya pekerja sudah dibayar oleh majikan jadi majikan mau berbuat apa, orang luar tidak bisa ikut campur.

Singapura jadi tujuan saya karena belum ada pengalaman jadi tidak diperkenankan bekerja langsung ke Taiwan atau Korea. Hidup prihatin berjauhan dari saudara dan orang tua pun saya jalani. Mendapatkan gaji hasil dari tetes keringat sendiri itu rasanya luar biasa. Apalagi ini pengalaman kerja yang pertama.

Selanjutnya saya berminat bekerja lagi ke negara lain, menambah pengalaman sekaligus nambah tabungan karena untuk kontrak kerja kali ini, hampir semuanya saya pakai untuk keluarga.

Di Hong Kong dengan gaji lebih besar dan kehidupan yang lebih bebas membuat saya mati-matian harus bisa menahan diri dan melawan arus. Tidak munafik, saya menikmati semuanya tentu saja selama dalam batas wajar. Menambah pengalaman hidup dan semua permasalahan menempa saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Di Taiwan, saya merasakan kecukupan. Puas melihat dunia luar karena saat bekerja di Taiwan internet sudah bisa diakses dengan mudah dan lebih baik. Badan saya bisa saja terkurung di rumah majikan, tapi jiwa saya sebenarnya berkelana. Belajar dan terus belajar hingga mata hati saya terbuka dengan sendirinya.

Jadi TKW memang jalan saya untuk bisa mendapatkan tiket menjelajahi banyak penjuru daerah dengan segala sisi uniknya.

Mengenal pergaulan dunia luar

Di Singapura setiap minggunya saya ikut kelas. Tidak boleh tidak, karena berangkat dan pulang dengan majikan. Di sana saya mendapatkan teman baik sesama TKW, maupun penduduk lokal. Tanpa mengurangi keimanan dan keyakinan, saya belajar bersosialisasi dengan orang yang berkeyakinan lain. Tidak ada yang buruk jika kita terus memperbaiki hati. Tidak pula ada yang sempurna karena semua memiliki kekurangan. Yang jadi poinnya saya harus bisa membawa diri.

Kelak saya akan begitu paham kenapa akidah dan akhlak harus ditanamkan sejak dini sehingga bisa kokoh dan terus berakar kuat. Karena godaan di luar sana, akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya usia.

Di Hong Kong pergaulan bebas kembali saya temukan. Saya berteman dengan yang aktif di kegiatan keagamaan, tapi saya juga berteman dengan mereka yang mengakui (maaf) melakukan hubungan sejenis. Saya berteman dengan kaburan, berteman dengan pedagang, berteman dengan WNI yang menikah dengan warga negara lain, bahkan berteman dengan mereka yang bangga memiliki majikan sekaligus sebagai simpanannya. Ngeri bukan?

Di Taiwan, Tuhan mempertemukan saya dengan berbagai realita tentang rumah tangga. Mulai perselingkuhan; hak asuh anak; harta gono gini; hubungan anak, menantu dan mertua; kawin kontrak; pernikahan beda agama; termasuk kekuatan TKW dalam membeli majikan demi izin tinggal.

Semua interaksi itu saya lalui dengan perasaan sangat beruntung. Pengalaman yang sangat berharga, kemungkinan tidak akan saya dapatkan jika saya tidak nekat jadi TKW.

Interaksi penduduk lokal Singapura, Hongkong dan Taiwan

Merasa mimpi ketika bingung bagaimana berkomunikasi, nenek majikan yang asli keturunan Chinese bisa berbahasa Indonesia. Belakangan saya ketahui kalau itu sebenarnya bahasanya Upin Ipin alias bahasa Melayu. Jadi ketakutan saya kesulitan berkomunikasi mulai memudar. Meski banyak yang beda, tapi bisa paham.

Tidak hanya Ama dan Bobo yang bisa bahasa Melayu. Tapi juga hampir semua orang tua yang seangkatan usia dengan mereka bisa cakap bahasa Melayu. Itu saya ketahui ketika main di pasar malam dan food court. Berbagai kalangan ada di sana baik termasuk etnis Chinese, Pakistan dan India yang bisa berbahasa Melayu. Konon, mereka bisa interaksi cakap Melayu karena dulu selalu bersama-sama menghadapi kolonial penjajah. Selama itu banyak mendengar dan mulai paham hingga bisa mengucapkan.

Sikap mereka warga lokal ini mayoritas baik terhadap para pekerja dari Indonesia. Karena selain merasa berasal dari satu rumpun nenek moyang yang sama bagi etnis Melayu, pekerja dari Indonesia juga banyak yang sama beragama Islam.

Di Hong Kong cukup sulit untuk mengenal masyarakat lokal. Kecuali para lansia, orang yang katanya miskin, atau justru orang yang berpendidikan tinggi sekalian, dalam arti mereka yang memiliki pemikiran yang sudah terbuka dan modern. Tidak lagi membedakan kasta pekerja dan dirinya.

Mungkin karena etos kerja yang sangat tinggi dan kesibukan lainnya, sehingga masyarakat lokal Hong Kong pada umumnya tidak ada waktu untuk sekedar berbasa-basi dengan tetangga flat. Hanya pengangguran dan lansia saja yang bisa kita temui dan justru mereka terlihat senang jika kita sapa. Merasa ada yang memberi perhatian, mungkin.

Di Taiwan saya beruntung diajak majikan bisa mengenal masyarakat asli Taiwan dari suku aborigin. Ada sekitar lima belas suku lebih, saya lupa lagi. Kebetulan majikan perempuan berasal dari Taitung Taiwan Selatan. Ketika liburan berkunjung ke sana, saya diajak berinteraksi langsung dengan mereka. Sebagian saya lihat, mereka mirip suku Dayak di Indonesia. Dulu saya ngerti bahasa daerah suku mereka sebagian. Sekarang lupa semuanya. Haha ...

Bertambahnya teman dan saudara

Ke Singapura, teman satu kelas yang akrab di penampungan ada lima orang, Silvia Valentino Dark Worang, Ani, Lufi, Tuti Pujianti Astuti, dan Maria (siapapun kalian yang saya maksud dan baca artikel ini, tolong hubungi saya ya...) Selama di Singapura kami sempat bertemu beberapa kali karena libur kami tidak bersamaan.

Saya lebih dekat dengan Maria. Setiap hari kami berkirim surat (saat itu belum ada hp) pakai telepon rumah gak dibebaskan kecuali jika ada kepentingan saja.

Sepulangnya ke tanah air, saya hanya sempat ketemu dengan Tuti. Tapi karena saya kembali bekerja ke Hong Kong, semua hilang kontak sampai sekarang.

Di Hong Kong seleksi alam pertemanan dan saudara mulai terlihat jelas. Sekian banyak teman saat suka, tapi hanya segelintir orang yang mau tetap berteman saat kita berduka bahkan sedang celaka.

Saya tidak akan lupa dengan teman dari Jakarta. Lupa nama aslinya siapa, tapi kami memanggilnya pakde (meski ia seratus persen ibu-ibu). Ketika saya belum gajian, tetapi butuh uang untuk kirim ke Indonesia, pakde memberi pinjaman uang gajinya seribu HKD$ tanpa syarat. Ya Allah, serasa mimpi. Padahal saat itu sedang marak pinjam meminjam uang bermodalkan paspor dan itu berbahaya karena banyak yang terjerat akhirnya jadi kasus. Pakde malah menawarkan lagi ketika saya gajian dan membayar hutang saya.

Ada Septi, Sumsiyah, Silo, Andi, Aldi dan Muji yang selalu bareng saat kita libur. Belajar bareng di kantor IMWU dan Kotkiho. Makan tidak makan kami tetap kumpul. Rela jalan kaki dari Causeway Bay kemanapun termasuk ke Jordan daripada naik teng-teng. Padahal jauh dekat ongkosnya cuma 2 HK$. Alasannya dua dolar nya mending dibelikan nasi bungkus bisa dimakan bersama. Meleleh pokoknya kalau ingat kebersamaan ini.

Saya diperbolehkan main ke rumah Romi, kontrakan yang disewa secara patungan setelah dikenalkan Kevin, anak flat depan yang sering main ke taman bawah rumah majikan, karena ia kerjanya mengurus hewan peliharaan yang setiap hari harus dibawa jalan-jalan. Meski saya tidak punya pasangan, Alhamdulillah saya bisa dianggap keluarga oleh mereka. Bisa main, istirahat, dan cerita bebas ketika memiliki masalah.

Setelah selesai kontak kerja di Hong Kong, yang masih komunikasi dengan saya hingga saat ini hanya Septi, Andi, Aldi, dan Sumsiyah.

Pertemanan dan persaudaraan di Taiwan lebih erat hingga kini karena saat itu selain komunikasi sudah menggunakan ponsel juga sudah mengenal akun sosial media. Meski saat itu belum ada komunitas blog seperti Blogger Bandung, tapi saya sendiri sudah belajar banyak terkait blog dan lingkupnya dari blogger Multiply.

Tidak disangka di Taiwan saya jumpa lagi dengan Sumsiyah, Aldi dan Septi. Tidak setiap libur ketemuan karena tempat kerja berjauhan juga kami sudah punya nomor telepon masing-masing dan berteman di sosial media.

Semakin bertambah umur, semakin mengerucut lingkaran pertemanan saya. Bukan lagi para ABG melainkan para ibu rumah tangga, para nenek dan para janda yang jadi teman saya. Mbak Yati asal Yogyakarta sampai sekarang masih komunikasi. Saat gempa Cianjur kemarin ia tercepat beberapa setelah teman blogger yang ngontak saya bertanya kabar.

Teh Lia yang sekarang menikah dan jadi warga Taiwan, tidak akan terlupakan ia ikut mengumpulkan pernak pernik berbau tengkorak gara-gara ia baca blog saya yang di sana saya ceritakan saya mengoleksi apapun tentang tengkorak.

Aldi yang sempat ketemu di Masjid Daan Taipei sepulangnya ke kampung halaman ia tahu saya akan menikah mengirim kado peralatan masak anti pecah. Ia tahu kalau saya dan suami katanya akan sering naik gunung.

Nani dan Alin yang tidak sengaja saya kenal waktu di acara Indosuara di Taipei ternyata asal Cianjur juga. Meski hanya kontrak pertama bareng sama mereka (karena mereka kaburan jadi blacklist masuk ke Taiwan lagi) tapi setelah di kampung halaman kini kami sudah seperti adik kakak. Saling mengunjungi dan selalu saling support.

Masih ada banyak teman rasa saudara yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu di blog ini. Tapi percayalah semua kalian tertulis dan teringat indah di hati saya ini.

Bertambah Orang Tua

Majikan saya di Singapura sangat disiplin, pelit dan keras. Tapi begitu karena ia memang mendidik saya sebagai anak tertua. Saya saat itu berusi 18 atau 19 dianggap sebagai anak tertua dari anak kandung mereka yang berusia 12, 9 dan 5 tahun.

Sampai sekarang semua sistem pengasuhnya melekat kuat dalam benak saya. Yang bagus saya praktikan yang tidak sesuai saya adopsi untuk bisa diambil sisi baiknya.

Majikan di Hong Kong malah seusia dengan saya. Orang tua majikan baik dari pihak laki-laki maupun perempuan yang justru menganggap saya sebagai anak mereka juga.

Kakak majikan perempuan, Sanjo cukup akrab dengan saya. Ia pintar berbahasa Inggris jadi kami lebih mudah ngobrol.

Saat saya bekerja di Taiwan mereka liburan dan menghubungi saya. Sampai saya finish kontrak di Taiwan, keluarga majikan di Hong Kong ada tiga kali liburan ke Taiwan dan kami berjumpa.

Majikan di Taiwan ini yang menjadi orang tua kedua saya. Hingga saat ini. Usia majikan tiga tahun di atas saya. Perlakuan orang tuanya ke saya seperti ke anaknya juga. Ibunya majikan yang aktif di Yayasan Tzu Chi Pusat, merekomendasikan saya bekerja di Yayasan Tzu Chi Indonesia di Jakarta. Hanya dengan berat hati saya menolak karena sudah nyaman bekerja di Indosuara.

Sebelum covid-19 kalau ke Jakarta atau Bali majikan selalu menelepon dan jika memungkinkan kami bertemu. Pernah mereka liburan bersama anak-anak ke Indonesia dan saya beserta anak dan suami diundang mereka ke sana untuk liburan bareng. Majikan sering membaca berbagai review hotel untuk memudahkan rencana liburan kami.

Boss besar saya di Indosuara adalah malaikat tidak bersayap versi saya. Ia katanya bisa melihat kelebihan saya sejak saya masih berstatus migran di Taiwan. Saat itu saya dikenal karena kasus perpanjangan paspor KDEI Taiwan yang terbongkar bersama aktivis Ade Ipang dan Elis Lee. Nama saya juga mulai menghangat manakala tulisan saya terkait mie instan sudah bikin gaduh pembaca Kompas di tanah air.

Saat saya tidak bisa menghadiri undangan jumpa presiden RI yang masih dijabat SBY saat itu karena tidak mendapatkan cuti kerja, saat saya batal jadi TKW teladan karena job kerja tidak sesuai dengan kontak kerja, maka boss besar ini berani mengajak saya bergabung menjadi kontributor biro Indonesia untuk Indosuara. Seolah ia menjamin kehidupan saya selanjutnya sepuluh tahun kemudian di tanah air ini.

Saat saya menikah ia memberikan kenaikan gaji. Saat saya hamil dan melahirkan, istri boss besar mengirimkan pakaian bayi dan anak dan pernak pernik lainnya.

Setiap pondok mengaji yang saya dan suami kelola membutuhkan dana, dengan dalih menyisihkan sebagian uang jajan anaknya, boss besar dengan segera mengirim dengan harapan apa yang bisa dilakukannya bisa membantu banyak orang. Luar biasa, bukan?

Terakhir kemarin saat Cianjur kena Gempa, meski saya sudah tidak bekerja sejak April 2022 majikan langsung hubungi saya via messenger. Karena saya tidak install aplikasinya jadi pesan itu agak terlambat saya baca. Dikiranya saya jadi korban bencana. Mereka sangat mencemaskan kami. Setelah saya jelaskan mereka mengerti dan langsung kirim bantuan. Padahal saya bingung, saya kan gak minta?

Pendidikan

Lingkungan dengan adat dan kebiasaan yang berbeda dengan sendirinya sudah membentuk saja menjadi pribadi yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman. Tiga negara yang berbeda, beberapa keluarga beda atnis dan adat istiadat yang jadi tempat saya tinggal sudah menjadikan tuntutan saya untuk bisa mempelajari semua.

Di Singapura saya berkesempatan belajar banyak tentang kepribadian di Sekolah Minggu, memperdalam bahasa Inggris, mempelajari banyak pekerjaan rumah tangga, dan pola pengasuhan dengan sistem demokratis.

Di Hong Kong saya berkesempatan bergaul, belajar pertama kali mengenal internet dan gadget, belajar jurnalistik sistem jarak jauh, magang menjadi kontributor dan ikut berbagai kursus saat memiliki waktu luang.

Sementara di Taiwan, berbekal pelajaran yang sudah saya miliki sejak awal, saya bisa lanjut memperdalam ilmu pola pengasuhan anak, perawatan lansia, belajar menjadi pribadi yang lebih baik dengan terus mengasah pola management diri dan keluarga. Disamping terus belajar ilmu kehidupan melalui menulis dan membaca.

Lebih dari satu dasawarsa saya habiskan untuk merantau ke luar negeri, pulang tidak hanya bertambah usia, tapi juga harus bertambah skill dan kemampuan!

Financial

Niat awal berangkat ke luar negeri karena memang kerja untuk mendapatkan uang. Alhamdulillah, bisa bayar hutang, bisa memperbaiki perekonomian keluarga, dan sedikit tabungan.

Dari kesemuanya, yang sangat berharga adalah pendidikan finansial yang bisa saya pelajari baik secara langsung dari materi para penyuluh pembekalan akhir pemberangkatan (PAP) maupun secara otodidak saya pahami dari pengalaman sendiri.

Sebagai TKW alias pekerja perempuan, sekuat apapun peran suami dalam rumah tangga, tetap harus bisa mandiri dengan tidak mengenyampingkan peran suami sebagai kepala rumah tangga. Setidaknya, miliki rekening pribadi, sisihkan uang gaji sesuai dengan pos yang sudah ditentukan, lakukan sistem pembagian supaya tidak jomplang, seberapa persen untuk tabungan, berapa persen untuk kebutuhan dan berapa persen untuk investasi.

Jodoh

Seluruh warga kampung tahu jika hampir belasan tahun di luar negeri membuat saya dengan sendirinya mendapatkan gelar perawan tua. Bagaimana tidak, teman seangkatan saya semua sudah pada menikah, pada memiliki anak, dan bahkan ada yang sudah menjanda, dan menikah lagi!

Saya sih percaya kalau jodoh adalah takdir. Memasuki usia tiga puluh untuk warga di pedesaan wajar dianggap perawan tua. Ya emang saya juga mengakui kalau saya sudah tua. Hehe. Tapi bukan berarti tidak laku juga. Gini-gini mantan saya ada beberapa. Haha... Saya harus minta maaf kepada mereka, karena bukan mereka yang tidak serius, tapi memang saya yang memilih tetap bekerja dan malah tambah kontrak.

Hingga jodoh itu datang, kami dipertemukan dan menikah tahun 2012 silam. Semoga saja langgeng sampai maut memisahkan. Aamiin.

Kemanapun pilihanmu untuk bepergian asal jangan pergi untuk menghindari kenyataan

Banyak suka duka selama saya bekerja di luar negeri. Apalagi saat itu belum ada pembenahan sistem ketenagakerjaan seperti sekarang. Saya pun beberapa kali tersandung kasus, mulai perdagangan manusia (human trafficking), job di luar kerja, sampai overstay alias kelebihan izin tinggal dan harus segera angkat kaki karena kalau tidak bisa dideportasi. Semengerikan itu?

Tapi tidak ada yang lebih berharga dari sebuah pengalaman. Benar kata pepatah, Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Sepuluh tahun lebih saya bekerja, tidak percuma saya melancong selama itu karena kini saya sendiri bisa dengan lega merasakan semua manfaatnya.

Read more ...