Rabu, 05 April 2023

Dari Sutil Rusak Belajar Komunikasi Pasutri

Lagi anteng masak-masak, pas ngaduk tumisan, eh sutilnya malah patah. Padahal pengaduk yang digunakan untuk memudahkan saat memasak itu sangat nyaman saya pakai. Kok bisa patah sih? Mana waktunya lagi repot menyajikan makanan jelang berbuka puasa lagi.

Ternyata spatula kaleng yang saya beli sekitar tiga tahun lalu itu yang rusak hanya batangnya saja karena sering kena panas dari kompor, membuat batangnya yang terbuat dari kayu itu hangus. Ketika saya tekan agak kuat, gagangnya itu patah jadi dua. Pas dekat pangkalnya.

Kayunya memang sudah rapuh juga. Karena memang dibuat dari kayu biasa, dengan tujuan ringan saat digunakan. Jadi saat gosong kena asap dan panas dari api kompor kerapuhan nya itu makin dalam.

Sutil yang biasa enakeun dipakai yang ada di dapur hanya dua dan semuanya sudah dipakai. Ada spatula lain tapi itu khusus untuk wajah anti lengket, mau saya pakai malah takut rusak atau tidak nyaman karena bukan peruntukannya. Sementara mengaduk masakan ini dan itu butuh Sutil yang berbeda biar masakan tidak bercampur dan tidak menyebabkan basi sebelum waktunya.

Melihat jam masih ada sekitar satu jam lagi ke waktu berbuka, akhirnya saya kepikiran untuk mengganti gagang sutil itu saat itu juga.

Segera mematikan kompor, menutup wajah dengan penutup panci dan langsung mencari golok dekat tangga.

Suami sontak bertanya mau kemana dan ngapain? Saya jawab mau cari ranting daun jambu.

“Emang masak apa pakai jambu?”

Saya malah balik merasa jengkel. “Bukan masak pakai jambu, tapi mau cari ranting jambu, buat ganti pegangan sutil yang patah ini.” Jelas saya.

“Oh, gitu. Sini biar ayah bantu. Ngomong dong kan biar paham. Memotong dahan sebaiknya pakai gergaji. Simpan aja dulu itu goloknya.” Kata suami sambil segera mengambil gergaji dari tempat perkakas di dekat tangga. Tempat yang sama saat saya ambil golok tadi.

Benar juga, kenapa saya gak kasih tahu dan minta tolong saja sama suami ya? Jadi kan tidak harus mematikan kompor dan meninggalkan pekerjaan lain. Apakah karena saya merasa mampu melakukannya lalu gak harus minta tolong pada orang lain, meskipun suami sendiri?

Kadang saya punya pikiran tidak ingin merepotkan orang lain. Selagi saya mampu, saya bisa mengerjakan sendiri, ya saya lakukan. Mengganti gas, mengganti galon air, semua sudah biasa saya kerjakan. Bahkan naik atap betulin genting saja saya bisa dan mampu, kok!

Saya terbiasa mengerjakan semua itu semenjak bapak tiada. Ya sebagai anak pertama mau tidak mau saya ambil alih tugas bapak sebagai penggantinya. Gak mungkin juga nyuruh adik saya yang masih kecil meski ia anak lelaki. Sejak itu saya merasa kalau saya bisa kenapa harus minta tolong?

Tapi sepertinya pikiran itu harus saya ubah setelah saya memiliki suami. Bagaimanapun peran suami ingin diakui keberadaanya. Hal itu saya sadari ketika mengerjakan sesuatu dan segera diambil alih suami.

“Yang begini biar ayah yang ngerjain, Bu. Jangan sampai orang lain lihat, dikira ayah dholim sama istri sendiri. Ibu tinggal bilang aja. Ayah pasti bantu...”

Namun kadang saya suka lupa akan hal itu. Tetap merasa sungkan kalau harus minta bantuan. Terlebih kedudukan seorang istri yang masih tahu kalau harus “memerintah” suami. Entar muncul istilah istri menjajah suami, lagi. Meski semua itu tentu saja hanya pikiran -pikiran random dalam benak saya saja.

“Ranting ini cocok nih. Besarnya pas. Tapi agak bengkok. Mau cari yang lurus, takut gak keburu waktunya. Bagaimana ya baiknya?”

Suara suami membuyarkan lamunan saya. Saya pegang gagang yang terbuat dari ranting pohon jambu itu. Iya besarnya pas. Meski agak bengkok tapi enak dipegang dan nyaman saat digunakan untuk mengaduk atau membolak-balik sesuatu di wajan.

Saya setuju untuk menggunakan ranting pohon jambu itu saja. Suami pun langsung memakunya dan menguliti kulit pohon dari rantingnya.

“Nih, jadi juga. Lumayan ya bisa dipakai sementara sebelum beli yang baru,” setelah melihat-lihat hasil karyanya suami langsung mencucinya supaya bisa dipakai.

“Bagus. Buat sementa...hun juga ga apa. Kasihan kalau cuma sementara. Jadi anggarkan buat dipakai sampai tahunan saja,” seloroh saya yang diakhiri tawa kami bersama.

Sebelum magrib tiba, masakan untuk berbuka sudah selesai semua. Betul juga dengan bantuan suami yang membetulkan sodetan itu akhirnya proses masak memasak di dapur lebih mudah dan cepat. Kalau saya melakukannya sendiri, belum tentu masak bisa selesai tepat waktu.

Komunikasi dan informasi dengan pasangan dalam keluarga memang harus dikedepankan dan didahulukan, ya. Terciptanya komunikasi dan diskusi, insyaallah bisa menjadikan sebuah solusi yang disepakati bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar