Tampilkan postingan dengan label HACI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HACI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Agustus 2023

Reuni Mini Di Balik Helaran Budaya Cianjur

Senang banget tiba-tiba berjumpa dengan kawan satu perjuangan ketika mengikuti kegiatan “Hayu Ameng Ka Cianjur” (HACI) tahun 2018 di acara Helaran Budaya Cianjur 2023 yang diselenggarakan Sabtu, 19 Agustus 2023.

Putri, tiba-tiba memeluk saya sambil menjerit. “Teteeeh...!” diantara hingar bingar musik yang mengiringi helaran, saya sempat kaget. Baru ngeh itu Putri, seorang selebgram Cianjur yang kini sudah jadi ASN di lingkungan pemerintah daerah Kabupaten Cianjur.

Jadi awal perkenalan kami itu tahun 2018, saat Cianjur masih dipimpin Bupati Irvan Rivano Mochtar, dinas pariwisata dan kebudayaan mengadakan program HACI, yang bertujuan mengenalkan berbagai lokasi wisata yang ada di Cianjur guna mengedukasi masyarakat serta menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara.

Dalam program ini, panitia mengajak blogger, blogger, influencer, selebgram dan relawan TIK untuk sama-sama menyukseskan acara.

Saat itulah saya bertemu Putri, salah satu selebgram Cianjur yang ramah dan tak sombong. Saya tahu Putri seorang brand ambassador dari sebuah media di Cianjur. Tapi ia dengan rendah hati mau belajar bagaimana ngeblog dan mengenal dunia blogging lebih dalam.

Selama seminggu kami melakukan perjalanan mulai dari lokasi wisata yang ada di Cianjur Utara, Cianjur Kota, hingga Cianjur Selatan untuk mempromosikan setiap lokasi wisata yang kami singgahi itu melalui kepiawaian kami masing-masing.

Saya yang membranding diri sebagai blogger Cianjur, tentu saja mempromosikan pariwisata Cianjur dengan artikel reportase maupun story telling sebisa saya di blog ini. Sementara Putri tentu saja membuat foto dan caption yang menarik untuk kemudian diabadikan dalam akun instagramnya. Saat itu belum buming reels seperti sekarang.

Baik saya maupun Putri, mengerjakan tugas disela-sela istirahat hanya menggunakan smartphone.

Yang bikin video kebanyakan anak-anak relawan TIK, dimana mereka memiliki gadget mumpuni sekaligus drone yang mampu memaksimalkan perjalanan kami. Beruntung kami juga dikasih salinan video buatan mereka, sih. Jadi meski gak bisa bikin video bagus, ada back-up dari mereka.

Selesai progam HACI itu, tahun berikutnya program tersebut tidak berlanjut karena pergantian pemimpin daerah ditambah adanya masa pandemi. Sampai tahun 2023 ini dinas pariwisata dan kebudayaan Cianjur belum mengabarkan lagi bagaimana tindak lanjutnya.

Eksplorasi Istana Presiden Cipanas Cianjur melalui HACI 2018

Hampir selama lima tahun itu, saya dan Putri berkomunikasi hanya melalui telepon dan sosial media. Selama pandemi, Putri beneran belajar menulis dan ngeblog hingga meski di rumah saja, ia pun tetap merasa produktif.

Melalui akun instagramnya saya tahu jika Putri sudah menikah dan memiliki seorang putra. Ya, meski kami sama-sama memiliki KTP domisili Cianjur, tapi tempat tinggal kami cukup jauh. Putri di Cianjur Kota, sedangkan saya di Cianjur Selatan. Perlu waktu hampir tiga jam kendaraan jika kami ingin bertemu satu sama lain.

Selama silaturahmi jarak jauh kami itu setelah menyelesaikan kuliahnya, Putri mengabarkan dibantu kenalan teman-teman di pemerintahan daerah untuk melamar kerja meski awalnya mau tidak mau menjadi honorer di lingkungan Pemda.

Ingat aja waktu itu Putri curhat dan minta rekomendasi portofolio yang sekiranya bisa dijadikan penunjang karir kedepannya. Ia pun memperlihatkan surat lamaran kerja yang dibuatnya. Selain minta doa supaya semuanya dilancarkan.

Saat itu membuat surat lamaran kerja masih minta saran dan pendapat senior, gak seperti sekarang mau buat surat apapun tinggal kunjungi SuratPlus dan langsung mendapatkan solusinya. Secara SuratPlus kan website generator untuk surat digital.

Melalui SuratPlus kita bisa bikin surat apa saja karena di sana terdapat lebih dari lima puluh template surat yang bisa kita pakai secara gratis.

SuratPlus sangat direkomendasikan karena memiliki banyak kelebihan seperti

  • Membuat surat apapun jadi mudah dan cepat
  • Tanpa harus repot mengatur layout, desain, dan format, surat yang dibutuhkan otomatis bisa dibuat
  • Tidak Perlu Install Aplikasi
  • Surat yang dibuat tersimpan otomatis
  • Akses mudah karena berbasis penyimpanan cloud, kapanpun dan diperangkat manapun surat kita tetap bisa diakses
  • Keamanan data yang kita isikan pada surat terjamin keamanannya sesuai protokol transfer data secure.

Dengan adanya SuratPlus siapapun bisa membuat surat secara otomatis dengan hanya memasukkan data-data yang diperlukan. Kita tidak perlu lagi memikirkan bagaimana mengatur margin, kata pembuka, isi surat, penutup, dan lain sebagainya karena semua sudah tersedia di SuratPlus.

Bagi pelamar kerja kabar baiknya di SuratPlus kita juga bisa buat CV ATS  secara profesional.

Buat yang belum tahu apa itu CV ATS, di SuratPlus juga kita bisa bikin CV ATS tersebut, lho!

Menyesuaikan dengan kecanggihan teknologi dan perkembangan jaman, dimana hampir semua aspek dijalankan dengan serba digital, maka tidak heran jika perusahaan banyak yang menggunakan jasa sistem ATS (Applicant Tracking System) dalam merekrut calon pekerja.

Sistem ATS berupa perangkat lunak yang digunakan oleh perusahaan untuk menyaring, melacak, dan mengelola lamaran kerja yang masuk, mampu membantu HRD menyortir CV secara otomatis berdasarkan kata kunci, skill, pengalaman, dan lainnya.

Jadi saat kita menggunakan CV ATS maka peluang diterima makin besar karena besar kemungkinan terdeteksi oleh sistemnya, bukan?

Di SuratPlus bisa melihat seberapa profesional CV ATS yang dibuat sebagai persyaratan lamar kerja

Beruntung Putri lolos seleksi dan testing sehingga tidak lama kemudian saya dikabari jika dia sudah mendapatkan SK pengangkatan PPPK di pendopo. Tentu saja saya ikut senang.

Karena itu bagaimana tidak terkejut jika secara tiba-tiba saya dan Putri dipertemukan tidak sengaja saat sama-sama menonton Helaran Budaya Cianjur dalam rangka memperingati Hari Jadi Cianjur ke 346 dan HUT RI ke 78 di sekitar Alun-alun Cianjur dengan kondisi yang berbeda.

Dulu jumpa Putri ia masih single dan terkesan tomboi. Tapi kini, ia sudah menjadi seorang ibu dan sekaligus abdi negara.

Sayangnya pertemuan reuni mini kami siang itu tidak bisa berlangsung lama karena baik Putri maupun saya sudah memiliki rencana masing-masing. Semoga saja nanti kita bisa jumpa lagi dengan suasana yang lebih baik ya, Put...

Read more ...

Sabtu, 10 Desember 2022

Wisata Air Terjun Panas Alami Tanpa Bau Belerang di Cianjur Selatan

Pada umumnya sumber air panas dari dalam bumi selalu memiliki bau belerang. Nah, di Cianjur Selatan, ada sumber air panas alami non belerang yang mengalir dari ketinggian sehingga jatuh membentuk air terjun panas. Unik bukan?

Apalagi beberapa orang yang pernah mandi dan berendam di sana mengaku merasakan banyak khasiat yang didapat. Seperti keluhan yang sebelumnya dialami menjadi berkurang dan mendekati kesembuhan. Mungkin air panas itu mengandung khasiat?

Wisata air terjun panas (Curug Cipanas) yang masih sangat alami ini terletak di Desa Sukasirna Kecamatan Leles Kabupaten Cianjur. Jarak dari kota Cianjur sekitar 80 Km atau sekitar lima jam kendaraan. Kenapa selama itu? Karena akses jalan nya masih banyak yang jauh dari kata mulus.

Banyak masyarakat yang berkunjung ke sana. Mulai dari yang penasaran dengan air terjun yang airnya panas alami, sampai yang ingin berobat karena air panas dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti penyakit kulit dan sebagainya.

Saya dan suami termasuk yang penasaran ini. Jujur kami baru tahu adanya wisata alam air terjun panas ini beberapa bulan terakhir. Padahal keberadaan air terjun panas ini sudah sejak lama, lho! Sebagai keluarga petualang yang suka traveling, kami jadi merasa mulu...

Akhirnya saya dan suami sepakat untuk berpetualang mengunjungi air terjun panas alami non belerang itu pada sebuah hari Minggu yang cukup cerah.

Karena akses ke Curug Cipanas di Leles ini dari tempat saya di Pagelaran masih cukup jauh, memerlukan waktu sekitar 2 jam kendaraan, maka kami mempersiapkan semuanya sematang mungkin.

Meski jalan roda dua dan roda empat sudah sampai ke dekat lokasi air terjun panas ini namun keadaan jalan dan fasilitas umum lainnya masih minim. Masih ada bekas longsoran yang sewaktu-waktu bisa saja mengganggu perjalanan.

Kami berangkat jam tujuh pagi. Membawa perbekalan alakadarnya karena rencana akan membeli di pasar Kecamatan Tanggeung atau sepanjang jalan ke Leles.

Saya belum pernah melakukan perjalanan ke kecamatan Leles. Baru sampai ke Pertigaan menuju kecamatan Agrabinta yang mana dari situ masih sekitar 9 Km lagi menuju pusat kecamatan Leles nya. Dan itu jalannya cukup menantang.

Diakui di Cianjur Selatan ini banyak lokasi wisata alam yang sangat unik dan menarik. Namun yaitu tadi karena masalah jalan rusak, akhirnya semua seolah terbengkalai. Curug Ngebul, Curug Citambur, dan masih banyak lagi jadi sepi pengunjung karena akses jalan yang semakin buruk.

Padahal jika masyarakat setempat jeli atau pemerintah daerah berkeinginan memajukan perekonomian daerah dengan memanfaatkan adanya potensi wisata ini, tidak menutup kemungkinan lokasi itu jadi desa wisata yang banyak dikunjungi mengingat masih sangat sulit ditemukan air terjun yang airnya panas alami, tidak mengandung belerang sama sekali alias tidak berbau sebagaimana air panas di pegunungan lainnya.

Mungkin pekerjaan terbesar memajukan destinasi wisata di Cianjur Selatan adalah memperbaiki akses, infrastruktur dan fasilitas. Jalan memang sering diperbaiki, apalagi jelang pemilu, namun tidak lama rusak kembali. Itu mencirikan jika kualitas pembangunan tidak sesuai standar. Akhirnya jalan mulus hanya sesaat. Sisanya hancur bikin enggan menggunakan kalau tidak terpaksa dan tidak ada pilihan.

Tidak ada papan penunjuk arah menuju lokasi wisata ini kecuali satu plang milik Pemda yang berada di pertigaan persimpangan ke arah kiri dari jalan kecamatan. Lokasinya depan sebuah pesantren. Namun plang ini pun terbilang kecil sehingga hampir tidak terlihat.

Bermodalkan bertanya ke penduduk setempat untuk bisa melewati banyak persimpangan jalan desa akhirnya kami tiba di lokasi air terjun panas non belerang ini.

Saat tiba, posisi parkiran ada di atas. Turun dari kendaraan kita sudah langsung bisa melihat ke bawah dimana pada sebuah lembah tak hentinya mengepul asap putih. Itu asap yang keluar dari air terjun panas.

Masuk lokasi bayar Rp. 10.000. Bayar parkir motor Rp. 5.000. Saya tidak tahu berapa tarif parkir kendaraan roda empat dan lupa juga gak bertanya.

Menuju lokasi, berjalan menuruni undakan sekitar beberapa puluh meter. Sudah ada beberapa saung yang bisa disewa untuk beristirahat atau berteduh. Bayar sewanya tertulis 10.000

Untuk menuju air terjun panas, kita harus menyebrangi dulu sungai. Air dari air terjun panas ini larinya ke sungai tersebut. Sungai ini sangat landai kok. Bahkan dasarnya seperti tidak berbatu sehingga kaki mudah melangkah.

Oleh pengelola, air panas dari air terjun ada yang dialirkan melalui pipa tradisional yang terbuat dari bambu yang setiap bukunya ditatah lalu ditampung di sebuah kolam. Di kolam itu kita bisa berendam.

Menuju air terjun dan atau kolam air panas kita harus menyeberangi sungai

Ada pula yang dialirkan melalui bambu lebih kecil, lalu airnya dibiarkan mengucur percis seperti air pancuran. Yang kuat dengan panasnya bisa mandi langsung di bawah air pancuran ini.

Namun saya lihat lebih banyak yang berendam di sungai tepat dimana air panas dari air terjun itu bersatu dengan air dingin. Selain tempatnya lebih luas, tempat itu banyak difavoritkan mungkin juga karena di sana bisa menikmati sensasi pertemuan dua arus antara air panas dan air dingin.

Saya, anak dan suami penasaran dengan sumber air panas di atas air terjunnya. Kami berjalan kaki mendaki bukit yang sangat licin ingin melihat bagaimana permukaan sumber air panas ini.

Ternyata sumber air panas muncul dari dalam tanah yang sekelilingnya sudah disemen. Air yang keluar itu kemudian dialirkan dan jatuh sehingga jadi air terjun. Suami iseng mencelupkan jari tangan ke permukaan air itu.

“Aduh panas!” reflek suami mengibaskan tangannya sambil meringis. Meniup-niup tangannya beberapa kali. Saya dan Fahmi tak bisa menahan tawa. Di bawah saja airnya sudah begitu terasa panas. Apalagi ini yang baru muncul dari sumbernya.

“Kalau kita rebus telur, sebentar saja pasti matang nih,” kata suami.

Sumber mata air panas alami di atas air terjun

Puas melihat sumber air panas itu, kami pun turun lagi dan memilih berendam di aliran sungai.

Lewat tengah hari kami baru beranjak bersiap pulang. Mengingat cuaca selalu tidak bisa diprediksi, target suami sebelum turun hujan kami harus sampai di Gunung Bitung atau Patrol. Disana sudah banyak rumah penduduk, warung dan bahkan penginapan. Seandainya kemalaman atau kejebak hujan, kami tidak terlalu khawatir.

Spot favorit, pertemuan air panas dan air dingin

Senang berendam dan bermain dalam air panas, Fahmi minta liburan sekolah nanti bisa main lagi ke air terjun panas ini. Saya dan suami menyanggupi selama cuaca bagus dan sikon memungkinkan.

Ada yang mau berkunjung ke air terjun panas ini juga? Yuk kita jalan bareng. Tidak usah memikirkan bagaimana makan dan tidur, kalau mau apa adanya rumah kami siap menerima, kok. Penginapan terdekat dari tempat saya juga ada atau kalau mau nginap di kota juga bisa. Banyak hotel di Cianjur yang bisa jadi referensi.

Read more ...

Minggu, 03 April 2022

Rekomendasi Ngabuburit di Pedesaan

Rekomendasi ngabuburit di pedesaan siapa tahu kamu tertarik...

Bukan mall, bukan kafe, bukan pula restoran atau sentral wisata kuliner. Tempat ngabuburit favorit saya adalah kebun, pinggir sungai yang ada air terjun (meski tidak tinggi) sehingga terdengar suara air, hamparan sawah dan irigasinya hingga daerah perkampungan yang meski berada di satu kecamatan tapi belum pernah saya lewati. Saking luasnya darah di Cianjur Selatan ini. Buat kamu yang merasa apa serunya ngabuburit ke lokasi yang saya sebutkan itu, baiklah akan saya jelaskan.

Kebun

Jangan bayangkan perkebunan teh, kopi atau palawija lainnya yang luasnya sampai hektaran. Kebun yang saya maksud adalah kebun mini yang alhamdulillah sudah lunas pembayarannya dan sekarang resmi kami miliki. Percaya atau tidak, saya nabung seribu dua ribu dari hasil ngeblog dan ngeinfluencer selama beberapa tahun ini.

Sekarang kebun kami itu ditanami kapol. Jadi seperti tidak terurus karena emang belum terlihat mana tumbuhan dominan di sana.

Yang bikin senang ke sana adalah lokasinya yang berada di ketinggian, sementara di bawahnya menghampar desa Pagelaran tempat saya tinggal. Dari kebun ini saya bisa melihat pasar Pagelaran, masjid besar kecamatan Pagelaran, beberapa kampung dan pesawahan yang menghampar sebelum mentok di perbukitan yang menjulang di kejauhan sana. Katanya itu masuk ke wilayah Kecamatan Pasirkuda dan selanjutnya daerah Kabupaten Bandung.

[caption id="attachment_12152" align="aligncenter" width="300"] Manjat pohon di kebun[/caption]

Ibarat berdiri di puncak, sejauh mata memandang hanya penghijauan yang saya lihat jika cuaca sedang bagus.

Suami pernah bilang, kalau ada rezeki di kebun ini ingin bikin saung (semacam dangau) untuk istirahat dan simpan barang-barang jika tengah main ke kebun.

Saya dan anak memang suka main ke kebun sampai kadang lupa waktu saking betahnya. Nah jadi cocok kan ke kebun untuk ngabuburit yang mana justru ingin waktu cepat berputar sampai mendekati waktu maghrib?

Sungai

Sungai yang melewati desa Pagelaran adalah sungai Cijampang. Beberapa Minggu lalu sempat viral secara di Cijampang ini ada pemancing yang hanyut dan jenazahnya baru ditemukan di Kecamatan Agrabinta (hampir ke muara laut selatan Jawa) setelah team SAR melakukan pencarian beberapa hari lamanya.

Sungai Cijampang cukup lebar dengan aliran air yang tenang. Banyak bebatuan alami sehingga enak untuk duduk atau sekedar bermain air sambil selonjoran.

Sebagian masyarakat menjadikan sungai Cijampang sebagai sumber usaha dengan mengambil pasir dan bebatuannya untuk diolah lagi jadi bahan bangunan.

Sebagian aliran sungai Cijampang memiliki kedalaman tertentu dan jadi tempat ikan menetap. Makanya selalu banyak yang mancing.

Di pasir yang memanjang itu saya suka mengajak anak untuk bermain-main. Semilir angin dan gemercik air jadi perpaduan suara alam yang sangat indah didengar. Suasana udara pedesaan yang masih bersih bikin paru-paru kembali bersih.

Jika ada air yang sedikit menukik (anak saya menganggapnya sebagai air terjun) biasanya kami duduk berlama-lama. Memperhatikan riak air, mendengarkan bisingnya gelora air yang ditimbulkannya namun terasa nyaman kami dengar, adalah hiburan yang tidak pernah kami dapatkan di daerah manapun.

https://www.instagram.com/p/BcPNYhKHV6E/?utm_medium=copy_link

 

Sawah

Meski tergantung kepada musim tanam padi, tapi melihat hamparan sawah dengan segala keindahan alaminya sungguh tidak bikin bosan. Fahmi sejak usia tiga tahun selalu mengajak saya main ke sawah yang ada batu besar di tengahnya. Masyarakat setempat bilang sih jangan main ke sana katanya ada penunggunya! Saya percaya Allah SWT sebagai Tuhan saya saja. Lah anak saya suka dan betah mau gimana?

Memang dari atas batu itu kami bisa melihat desa Pagelaran dan sekelilingnya. Waktu masih kecil untuk sampai di atas batu Fahmi seperti memanjat tebing saja, kesulitan. Sekarang sih udah besar bisa manjat dengan sendirinya.

Biasanya main ke sawah sore hari selepas ashar. Makanya cocok untuk ngabuburit. Soalnya kalau pagi dan siang, panas banget secara tidak ada pepohonan atau lainnya untuk menyaring sinar matahari.

Kalau musim panen, di batu ini banyak capung dan serangga lainnya. Seru deh menandakan kalau lingkungannya memang masih alami.

https://www.instagram.com/p/BapgDs4HDVM/?utm_medium=copy_link

 

Keliling kampung

Ini biasanya kami lakukan kalau pak suami lagi bisa diajak jalan. Soalnya kami harus naik sepeda motor dan banyak jalan yang masih berupa bebatuan. Meski ada dana desa untuk bikin cor, tapi banyak juga yang jalannya gak bertahan lama, akhirnya malah ancur-ancuran.

Yang bikin seru dan betah sepanjang perjalanan kita selalu bercanda dan bikin obrolan seru. Jadi perjalanan yang menyakitkan bagai naik roller coaster itu jadi tidak begitu terasa lama. Biasanya kami muter-muter aja. Menerabas masuk kampung satu, nanti keluar kampung mana. Kalau beneran ga tahu arah, baru tanya ke warga setempat.

Sampai bisa nyasar gitu di kampung? Iya, pernah. Haha... Tapi kami tidak takut, namanya di daerah sendiri. Jadi malah seru aja. Ketemu banyak orang baru dan banyak yang jadi saudara karena kenal seperti itu.

Ngabuburit keliling kampung seperti itu kami lakukan ya kalau cuaca sedang bagus. Kalau hujan bagaimana? Ya kami ngabuburit nya di rumah saja. Sambil ngasih makan ikan di kolam, ayam di kandang, atau memeng si anabul yang tidak pernah jauh dari kasur.

Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Meski kami tinggal di kampung tapi selalu bahagia dengan semua yang kami miliki. Alhamdulillah Yuk, ikut ngabuburit bersama kami sore ini...

 

Read more ...

Selasa, 01 Februari 2022

Paket Komplit Liburan di Ciwidig Camping Ground dari segi Fasilitas dan Pemandangan

Ciwidig Camping Ground

 

Ada apa di Ciwidig Camping Ground? Selain tempat ngecam, karena lokasinya strategis, berada di dekat jalan utama lintas pantai selatan, jalan raya Ciwidig Cidaun Kabupaten Cianjur Jawa Barat --dekat pertemuan Pantai Laut Selatan dan dan Sungai Ciwidig-- maka ada banyak pilihan aktivitas yang bisa kita ambil ketika berlibur kemari.

Mau eksplorasi lokasi pantai bisa, Pantai Ciwidig ada sekitar 200 meter dari lokasi camping. Pantainya masih bersih dan alami. Karena dekat, saat kemping di Ciwidig ke pantai bisa jalan kaki sekaligus bisa dijadikan olahraga ringan untuk menyambut matahari terbit atau menyaksikan keindahan saat matahari terbenam.

 

Ciwidig Camping Ground Cianjur Senja di Ciwidig Camping Ground

 

Mau ambil lokasi treking ke bukit juga ada. Di belakang lokasi camping ground ada jalan setapak yang jika kita telusuri menuju kebun milik perhutani yang dikelola masyarakat.

Jika ingin cepat sampai kita bisa menggunakan kendaraan bermotor karena jalan setapak cukup lebar. Bahkan jalan setapak itu yang digunakan untuk mengangkut hasil kebun menggunakan kendaraan bermotor yang didesain khusus.

Bukit di belakang lokasi kemping itu masih milik Perum Perhutani. Lahannya yang sangat luas ditanami palawija oleh masyarakat yang mengelola sesuai dengan musim. Saat kami datang di akhir bulan Januari 2022 penduduk sedang memanen jagung dan kacang tanah.

Mau menelusuri sungai Ciwidig dengan perahu atau ban juga bisa banget. Bahkan jika sudah mahir mau berenang pun tidak mengapa. Tapi harus extra hati-hati karena kedalamannya lebih dari tiga meter. Belum lagi semakin dekat ke muara, arus air semakin deras dan kuat.

 

Sungai Ciwidig Cidaun Cianjur

 

Percis depan lokasi tempat mendirikan tenda, kita bisa melihat kegiatan masyarakat sebagai bentuk kearifan lokal yang masih dipertahankan yaitu nelayan setempat yang sedang menjaring ikan menggunakan alat khusus yang masih tradisional. Anco namanya.

 

Anco alat menangkap ikan tradisional di Ciwidig Camping Ground Rumah Anco tempat nelayan menunggu saat menangkap ikan di Ciwidig Camping Ground

 

Banyaknya berbagai jenis ikan di perairan Ciwidig ini mengundang masyarakat yang hobi mencari ikan datang untuk mencoba keberuntungan. Ada banyak masyarakat yang menjelang malam menaruh umpan untuk mencari kepiting dan atau ikan khas dari muara di Cidaun menggunakan jaring milik pribadi. Cukup dengan menaruhnya ke dalam aliran sungai dan tidak lupa talinya yang panjang diikatkan dengan kencang supaya jaring tidak hanyut dan memudahkan untuk mengambilnya kembali.

 

Kavling tenda VIP di Ciwidig Camping Ground Melihat anco yang masih tradisional di Ciwidig Camping Ground

 

Mau wisata kuliner di Ciwidig Camping Ground juga bisa. Kuliner khas dari Cidaun ada ikan muara terdiri dari udang kecil atau ikan kecil disebut berenyit. Jika diolah dengan ahlinya rasanya sangat gurih dan enak dijadikan lauk teman makan nasi. Mau jajan juga bebas soalnya namanya pinggir jalan raya, banyak warung dan orang jualan.

 

Berenyit khas Ciwidig Cidaun Cianjur

 

Mau mengendarai ATV, di sini disediakan juga. Bahkan yang mau naik kuda pun sudah tersedia. Pasti berkesan menyusuri pantai sambil mengendarai kuda. Foto-foto hasilnya pasti keren, ya.

ATV Ciwidig Camping Ground

 

Meski Ciwidig Camping Ground baru diperkenalkan namun fasilitas umum sudah tersedia. Listrik, toilet, dan musholla ada meski masih sederhana.

Kami sendiri memilih wudhu di sungai dan solat di depan tenda, selain malas ke toilet dan musholla juga biar terasa hidup di alamnya. Jarang-jarang kan hal seperti itu kami lakukan, berharap anak bisa mendapatkan pengalaman baru. Secara hampir setiap saat di rumah dia menghabiskan magrib sampai isya di pengajian bersama teman-teman santri lainnya.

Tidak usah repot berat dan ribet bawa perlengkapan camping kalau ingin praktis karena di Ciwidig ada tempat sewa perlengkapannya seperti tenda dan lainnya.

Tidak harus susah-susah membawa jaket atau selimut karena cuaca di Ciwidig tidak sedingin di daerah pegunungan. Tapi bukan berarti cuacanya panas, karena malam jelang subuh, suhu justru bisa drastis turun. Saat saya semalam tidur di tenda tanpa selimut, eh tahu-tahu di sepertiga malam terakhir terbangun karena badan menggigil kedinginan. Dekat pantai meski dilindungi banyak bangunan dan pepohonan anginnya tetap terasa kencang.

Menghangatkan diri dengan segelas kopi panas depan tenda bisa jadi salah satu solusi menghilangkan dingin. Atau biar praktis tinggal pesan minuman panas sekaligus camilannya ke kedai di area camping saja.

Camping Mengangkat Kebiasaan Masyarakat Jadi Lebih Baik Bisa ikut camping di Ciwidig ini berkat ajakan Kang Arocki, pemilik dari arocki.com Sebagai putra daerah asli Cidaun ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memajukan daerah dan potensi pariwisatanya. Tidak heran kalau Ciwidig Camping Ground yang sebenarnya belum diresmikan ini sudah terlihat memiliki potensi yang tinggi.

 

[caption id="attachment_11728" align="aligncenter" width="300"]Perintis Ciwidig Camping Ground di Cianjur Kang Arocki berkaos putih[/caption]

Tangan dinginnya memang tidak bisa dianggap enteng. Sudah jadi rahasia umum banyak lokasi wisata di Cianjur yang berhasil buming berkat rintisan,  promosi dan kepiawaiannya. Sebut saja Pokland di Kecamatan Haurwangi di perbatasan Cianjur dan Kabupaten Bandung Barat, atau beberapa lahan hutan pinus yang ikut disulapnya jadi tempat bermain kekinian seperti Patrol Valley di Kecamatan Cibinong dan atau The Reungit Forest di Sukanagara.

Hatinya sangat tersentuh ketika melihat potensi di tempat kelahirannya banyak disalahgunakan untuk kesenangan semu. Akhirnya setelah bisa merangkul karang taruna desa setempat dan beberapa pihak yang dilibatkan seperti Komunitas Explore Cianjur Selatan, Ciwidig yang asalnya tidak terawat kini mulai bersinar.

Tidak hanya sebagai lokasi camping, tapi bisa dijadikan tempat untuk gathering, pesta ulang tahun, dan acara lainnya.

Pemuda desa setempat pun sekarang memiliki kesibukan dan terus berlatih menjadi event organizer yang baik. Penampilan musik akustik yang dibawakan mereka pun tidak kalah bagus dibanding group band yang sudah wara-wiri di televisi.

 

Musik Akustik Ciwidig Camping Ground

 

Beruntung banget saya dan keluarga bisa ikut meramaikan acara Kemah Babarengan yang diselenggarakan 29-30 Januari 2022 kemarin.

Selain nambah pertemanan dan nambah wawasan juga mempererat tali silaturahmi karena tidak terduga di Ciwidig Camping Ground kami bisa jumpa dengan tetangga dan murid suami yang sama-sama suka akan petualangan di alam. Padahal sebelumnya satu sama lain kami sama sekali tidak janjian, lho.

 

Suasana malam di Ciwidig Camping Ground

 

Read more ...

Selasa, 04 Januari 2022

Pantai Pribadi Kekuasaan Fahmi

[caption id="attachment_11636" align="aligncenter" width="300"] Pantai pribadi dikuasai Fahmi. Saking sepinya, nih anak main sendiri[/caption] Setelah drama kerewelan yang dilakukan Fahmi sebagai protesnya akan suasana tidak nyaman (maksudnya cuacanya terlalu panas) di lokasi wisata Ocean View Karang Potong Cianjur kami tanggapi dengan segera keluar dari lokasi wisata itu, akhirnya wajah cemberutnya bisa pudar dengan sendirinya. Mukanya kembali cerah dan sumringah.

“Ami gak kuat Bu, di sana panas. Makanya tidak sabar mau main air di pantai Jayanti saja,” alasannya ia kemukakan juga saat kami sedang perjalanan menuju Pantai Pelabuhan Jayanti sambil merasakan segarnya kesejukan semilir angin yang menerpa kulit wajah ketika menerobos keteduhan pepohonan di sepanjang jalan Sindangbarang-Cidaun yang cukup mulus.

Seperti sudah saya sampaikan di cerita kemarin, kalau karena terlalu panjang, cerita dan niat di awal mau main ke Pantai Pelabuhan Jayanti belum bisa dipublikasikan. Cerita bermain ke Pantai Pelabuhan Jayanti akhirnya dilanjutkan di sini ya...

Selain sifatnya pemalu, putra kami Fahmi memang tidak suka berada dalam suasana ramai dan kebisingan. Ia akan memilih main ke gunung, daripada jalan ke mall. Termasuk kalau dikasih pilihan mau ke gunung atau ke pantai, dipastikan ia akan memilih wisata ke gunung.

Namun bukan berarti ia anti pantai. Jika ia sudah nyaman dalam arti lokasinya tidak terlalu panas, tidak bising dan tidak banyak pengunjung, terbukti ia bisa berkali-kali datang ke pantai yang sama, dan selalu mengatakan gak sabar ingin bermain lagi ke sana. Ialah pantai Pelabuhan Jayanti, di Cidaun Cianjur Selatan yang berhasil menarik perhatian Fahmi. Seolah pantai ini pantai pribadi Fahmi, karena di sini ia merasa nyaman, dan sesuai dengan kepribadiannya.

[caption id="attachment_11637" align="aligncenter" width="300"] Entah apa yang mereka obrolkan. Setengah jam lebih posisi dadapangan begitu gak beranjak juga. Saya yang nungguin sampai kesel jadinya, haha...[/caption]

Sudah tidak terhitung berapa kali Fahmi dibawa main ke Pantai Pelabuhan Jayanti ini. Yang pasti sejak dibawa pertama kali ke pantai ini ia tidak rewel, tidak nangis, kami merasa anak ini betah, cocok dan menyukainya. Benar saja, karena setelah bisa mengemukakan pendapat, ia bilang sendiri kalau suka dan betah jika bermain di pantai Jayanti ini. Padahal di pantai lainnya, baik yang berada di Cianjur, maupun di daerah lain, ia selalu nangis, gelisah, gak mau lepas dari gendong. Mungkin kalau sudah agak besar seperti sekarang ia akan ngomong tidak nyaman, sebagaimana ia tidak ingin berlama-lama di Ocean View Karang Potong sebelumnya.

Ketika saya tanya kenapa suka main air di pantai Pelabuhan Jayanti? Jawaban Fahmi enteng saja: abisnya sepi, enak tidak banyak orang. Juga ada menaranya jadi bisa berteduh. Kalau lapar tinggal beli udang bakar.

Hemm... Ternyata itulah alasannya kenapa Fahmi selalu betah kalau bermain air di pantai Jayanti.

[caption id="attachment_11639" align="aligncenter" width="576"] Adanya menara ini jadi daya tarik tersendiri untuk Fahmi. Ia betah ngiuhan (berteduh) di bawah/kolongnya[/caption] Ya seperti ia bilang, setiap kami datang ke pantai ini, mau hari kerja maupun hari libur kebetulan selalu sedang sepi pengunjung. Jadi pantai ini seolah pantai pribadi miliknya saja. Ia bisa bebas puas bermain bola dengan ombak, tanpa malu dilihat pengunjung lain. Padahal sekarang ini sebenarnya dimana-mana diberitakan lagi cuaca ekstrim ya...

Jika lelah ia akan mendatangi saya yang telah menggelar tikar di bawah menara pandang pelabuhan. Menara ini kemungkinan sudah tidak berfungsi karena untuk sampai di puncak harus memiliki alat khusus. Tangga untuk naik sudah rusak bahkan sekarang tidak ada. Sangat susah untuk sampai di atas kalau tidak memiliki tangga yang sempurna.

[caption id="attachment_11640" align="aligncenter" width="300"] Kalau di Jember ada kafee kolong, di pelabuhan Jayanti Cianjur ada lesehan kolong🤪[/caption]

 

Di bawah menara ini saya menggelar tikar dan menyimpan perbekalan. Kenapa memilih tempat di kolong menara, padahal di belakang menara berjejer bangunan berderet untuk istirahat. Ya semacam gazebo gitulah. Dulu hanya berupa saung bambu lima petak. Sekarang sudah dibangun dengan bata dan keramik. Hampir ada sepuluh petak. Alasannya tentu saja kalau di sana bayar, kalau di kolong menara ini gratis. Hehe...

Alasan lebih tepat karena lebih dekat saja. Jadi bisa memantau anak langsung juga kalau ada kebutuhan bisa dengan cepat melaksanakan.

Meski dari pagi sampai sore di bawah menara ini kita tetap teduh karena terlindungi dari sinar matahari.

[caption id="attachment_11642" align="aligncenter" width="300"] Tiang menara yang penuh dengan coretan hasil tangan jahil[/caption]

 

Saat anak dan ayahnya main bola bersama ombak, saya memilih tiduran atau berselancar karena sinyal cukup stabil. Kalau sudah mendekati waktu makan, saya segera menuju Kedai Ikan Bakar Uwa Utis di belakang menara untuk memesan ikan bakar kesukaan.

Sebenarnya bukan ikan sih yang kami pesan, melainkan cumi-cumi dan udang. Cumi-cumi untuk kami, sementara Fahmi memilih makan udang. Mungkin karena lelah dan haus, mereka selalu makan lahap. Padahal kalau di rumah masak udang, susah sekali mau menghabiskan makannya itu.

Di dekat kedai bakar ikan ada toilet umum dan terhalang dua kedai ke kanan ada mushola. Jadi lokasinya emang strategis ya. Setelah cukup lelah bermain air, bisa langsung mandi membersihkan diri lalu solat dan melakukan hal lain masih di sekitar menara juga.

Sekitar pukul tiga sore, atau saat anak dan suami sudah kelelahan bermain bersama ombak, kami membereskan bekal bersiap pulang.

Membeli ikan sebagai oleh-oleh pulang, biasanya kami lakukan sambil jalan pulang. Penjual ikan laut emang tidak banyak, tapi setidaknya sudah ada yang jual ikan rasanya senang banget.

Hanya karena perjalanan cukup jauh, jadi kalau beli ikan, meski udah dikasih es, tetap saja akan tercium bau anyir, bau khas ikan gitulah. Jadi siap-siap saja kalo bawa ikan saat pulang itu orang terdekat biasanya menutup hidung dan celingak-celinguk sambil ngedumel ini bau bangkai apa ya? Katanya...

Tentu saja tidak kami hiraukan. Terus melaju saja. Bukan disengaja pula kalau bau ikan menyeruak dan bikin heboh. Tujuan kami hanya ingin segera sampai rumah. Berbaring untuk meluruskan punggung dan pinggang, secara enam jam pulang pergi duduk di jok sepeda motor dengan kontur jalan buruk di kecamatan Pagelaran, Tanggeung, Cibinong dan sebagian Sindangbarang itu sesuatu banget...

Meski sampai rumah pada tepar, tapi saat ditanya masih mau main lagi ke Pantai Pelabuhan Jayanti? Jawabannya enteng banget, “ Iya mau...! Itu kan pantai Ami. Jadi Ami bebas main di sana.”

[caption id="attachment_11643" align="aligncenter" width="169"] Kalau betah bermain,
disuruh gaya gokil mau saja[/caption]

Haduh nih anak gak tahu apa masuk ke sana juga kan dua kali bayar. Karcis masuk Pemda sebesar tiga ribu per orang dan sepeda motor dua ribu. Ada lagi biaya parkir “pemuda setempat” untuk sepeda motor sebesar sepuluh ribu. Tuh, biaya parkirnya aja lebih mahal dari biaya parkir di Karang Potong dong ya...

 

Read more ...

Senin, 03 Januari 2022

Karang Potong Ocean View Cianjur

 

Saat pemberitaan di kota tengah didominasi oleh pro kontra sekolah tatap muka 100% yang sudah dimulai hari Senin ini, saya dan suami justru berkesempatan mengantar anak untuk main air di pantai.

Senin ini kalau di kota khususnya Provinsi DKI Jakarta memang sudah masuk kerja dan masuk sekolah, dimana PTM terbatas di Jakarta mulai diberlakukan sejak hari pertama masuk sekolah di semester genap tahun ajaran/tahun akademik 2021/2022, yakni Senin, 3 Januari 2022, tapi kami di Cianjur Selatan, anak dan suami masih liburan. Mereka baru masuk sekolah lagi Senin besok, alias tanggal 10 Januari.

Jadi bisa dibilang aji mumpung juga. Saat orang lain kembali bekerja dan sekolah, kami justru bisa piknik tipis-tipis meski masih di dalam wilayah. Ketika orang kota kembali ke asal dari masa liburannya, kini giliran masyarakat lokal mencicipi sedikit kelegaan dari padatnya pengunjung yang berdatangan.

[caption id="attachment_11631" align="aligncenter" width="500"]Lokasi wisata kekinian di Cianjur. Ocean View Karang Potong yang banyak dikunjungi oleh wisatawan dari ibukota dan sekitarnya Lokasi wisata kekinian di Cianjur. Ocean View Karang Potong yang banyak dikunjungi oleh wisatawan dari ibukota dan sekitarnya[/caption]

 

Hiburan saat liburan sekolah Fahmi sebelumnya biasanya diisi dengan melakukan pendakian gunung. Namun karena pandemi, mau tidak mau kegiatan itu kami hentikan sudah mau dua tahun ini. Sebagai gantinya, kami mengunjungi lokasi wisata lain terdekat saja. Selain murah di biaya, juga tidak khawatir ada razia pemeriksaan sudah vaksin atau belum.

Sebagai lokasi pengganti pegunungan, di daerah terdekat kami ada banyak lokasi wisata pantai dan air terjun. Liburan kali ini Fahmi minta mau bermain air di pantai. Karena kalau main di air terjun sudah sering juga sih meski cuma air terjun lokal yang lokasinya di dekat kebun. Cuss lah kami bertiga berangkat. Alasannya mau antar anak main ke pantai, padahal yang ngantar juga sebenarnya udah gak sabar mau pelesiran. Wkwkw...

[caption id="attachment_11622" align="aligncenter" width="300"] Bocoran foto keseruan main air di Pantai Pelabuhan Jayanti Cianjur[/caption]

Tujuan kami mengantar anak main air ke Pantai Pelabuhan Jayanti yang ada di ujung selatan Kabupaten Cianjur. Meski berada di ujung dunia, eh ujung wilayah Cianjur maksudnya, tapi kami memilih main ke pantai ini karena disini ada dijual ikan laut hasil tangkapan nelayan. Jadi meski jauh, lelah agak terbayar karena ketika pulang nanti hati senang bisa membawa oleh-oleh ikan laut segar. Kalau beli...

Pantas kalau daerah pantai Pelabuhan Jayanti ini dijuluki perbatasan Cianjur dan Australia, soalnya pantainya emang langsung ke Samudera Hindia yang mengarah ke Australia.

Dari Pagelaran tempat saya tinggal, untuk sampai di Pelabuhan Jayanti melewati empat kecamatan yaitu kecamatan Tanggeung, Cibinong, Sindangbarang, dan Cidaun.

Jadilah Senin tanggal tiga ini setelah subuh dan beres-beres kami langsung berangkat. Harus lebih pagi selain perjalanan cukup jauh yaitu menghabiskan waktu tiga jam kendaraan, juga biar di jalan masih sejuk, belum panas. Main pun bisa sampai puas karena diperkirakan waktu ashar baru akan pulang.

Sampai di Sindangbarang sekitar pukul delapan lebih, saat matahari sedang hangat-hangatnya, kami melewati lokasi wisata yang sedang hits dan kekinian yang sudah dibuka sejak Juli 2021 lalu. Yaitu Karang Potong Ocean View. Ayahnya Fahmi tiba-tiba membelokkan sepeda motor dan bertanya kepada salah satu penjaga warung.

“Punten, Karang Potong ini dibuka tidak ya?” tanya suami.

“Dibuka Pak, silakan masuk saja.” Jawabnya sangat ramah.

“Gimana kalau kita mampir dulu ya, Mi?” tanya suami.

“Hayu...” antusias juga kami menyetujuinya.

Akhirnya kami berbelok ke sebelah kanan jalan, lalu menelusuri bukit yang sudah bertebaran banyak sampah plastik di sana-sininya. Itu pasti sisa dari pengunjung yang datang pada saat tahun baru tanggal satu dan dua, Sabtu Minggu kemarin. Begitulah, tidak orang kota ataupun orang kampung, yang pasti masih banyak yang kurang adab dalam hal membuang sampah.

Memasuki pintu masuk, suasana masih lengang tapi panas matahari sudah terasa begitu terik. Disambut satpam yang ramah kami pengendara motor dipersilahkan jalan terus menuju parkiran di bagian sisi lokasi Ocean View, sebelah kiri di bawah.

Harga tiket masuk per orang kalau weekday lima belas ribu rupiah. Kalau weekend dua puluh ribu. Kami bertiga dengan parkir motor membayar lima puluh ribu pas. Sebagai tanda bukti kami diberi gelang kertas dengan logo Ocean View Karang Potong yang harus dikenakan. Kami boleh keluar masuk lokasi selama menggunakan gelang tersebut dari pertama kali masuk sampai jam enam sore pada hari itu.

Tidak boleh membawa makanan dari luar, kalau terlanjur bawa barang, bisa dititipkan di samping pintu masuk.

Di dalam sudah tersedia penjual makanan ringan dan minuman dengan sistem memesan dan membayar dulu di kasir lalu membawa tanda bukti bayar ke penjual makanan atau minuman yang kita inginkan.

Sistem seperti itu kalau pengunjung sedikit cukup nyaman saja. Tapi kalau pas pengunjung membludak, dipastikan bakal terasa ribet. Kasihan kalau anak sudah kehausan, pasti harus menunggu lebih lama dengan sistem pembelian seperti itu.

Ada juga yang menjual topi dan kacamata serta aksesoris di pantai pada umum lainnya. Gak heran kalau di Instagram banyak yang berfoto sangat ciamik. Karena lokasi Ocean View Karang Potong ini lokasinya bagus ditambah propertinya juga sangat mendukung.

[caption id="attachment_11623" align="aligncenter" width="300"] Penjual makanan dan minuman[/caption] Seperti yang sudah viral di sosial media, lokasi wisata selfie yang sudah dibuka sejak Juli 2021 ini menyediakan lokasi spot foto yang instagramable dengan layar belakang lautan luas yang membentang. Ditambah birunya langit yang sangat memukau. Lokasinya sangat terbuka. Dalam arti belum ada pohon yang bisa melindungi kita dari sengatan panas. Ada beberapa pohon yang ditanam, sayangnya hanya sejenis pohon kelapa, jadi ga bisa menjadi bahu tempat untuk bersandar, eh berteduh maksudnya.

 

[caption id="attachment_11632" align="aligncenter" width="300"] Panasnya beneran full[/caption]

Ada banyak spot lokasi foto yg bisa kita jelajahi satu persatu. Sayang karena kami datang masih pagi, panas matahari justru sangat terasa terik, Fahmi malah jadi tidak nyaman. Keringat sudah mengucur di seluruh wajahnya. Ia sudah minta pulang padahal baru foto di beberapa lokasi saja.

Saatnya kami datang, pengunjung emang masih sedikit. Masih leluasa foto tanpa banyak bocoran. Namun karena suasana panas, lokasi foto yang sedikit teduh, seperti bangunan menyerupai rumah, itu malah dijadikan tempat berteduh oleh pengunjung lain. Kami yang mau foto jadi gak enak dong...

Pas lagi kesal gitu, kebetulan ada satpam lewat. Saya langsung lapor saja kalau merasa tidak nyaman dengan kondisi itu. Dengan ramah Pak Satpam meminta maaf dan dengan halus pula ia memberikan informasi kepada mereka yang duduk-duduk itu supaya menjaga ketertiban dengan tidak lesehan di lokasi foto. Kasihan yang antri mau berfoto. Alhamdulillah mereka mau berpindah dan kami bisa foto di sana.

[caption id="attachment_11618" align="aligncenter" width="225"] Di spot foto seperti ini memang teduh, tampak kami di foto sedikit lebih gelap, bukan? Kondisi seperti itu dimanfaatkan sebagian pengunjung untuk berteduh. Ini bisa foto disini, setelah ada satpam yang mempersilahkan[/caption]

 

Tapi kami tetap keukeuh tidak bisa leluasa foto ke sana ke mari karena Fahmi tidak kalau keukeuh rewel ngajak pulang. “Ami gak kuat panas, Bu. Makanya Ami mah suka naik gunung kalau naik gunung kan udah sepi banyak tempat teduhnya juga.” Katanya udah mulai putus asa. Diajak foto malah cemberut dan marah-marah. Wah, udah gak bakalan bener nih. Karena cuaca emang terasa sangat panas, bikin nih anak tidak nyaman sama sekali.

Akhirnya kami keluar dari lokasi setelah membeli minuman es kelapa dan duduk lesehan terlebih dahulu di rumput sintesis yang memang disediakan.

Harga makanan dan minuman di Ocean View Karang Potong masih bisa dibilang harga standar di lokasi wisata. Satu cup es kelapa yang biasanya lima ribu rupiah, disini dihargai sepuluh ribu.

Kalau saja Fahmi tidak rewel, mungkin bisa menjelajahi semua spot foto di Ocean View Karang Potong ini, atau menikmati camilan lain yang dijual di dalam. Boro-boro bisa ngelayap lagi, yang ada nih anak ga mau beranjak.

Belajar dari pengalaman pertama ini, kalau mau nyaman, datang ke lokasi ini waktu yang tepat diperkirakan ashar menjelang sore. Saat matahari mulai turun dan sekaligus kita bisa menyaksikan matahari terbenam. Jadi suasana akan terasa lebih teduh dan semilir angin sore bakal memperindah suasana.

“Ke sini lagi nanti harus menginap ya,” celetuk suami memberi kode. Hahay, masa iya harus bawa tenda buat menginap kaya mau kemping?

Enggak dong. Soalnya di samping Ocean View ini kedepannya akan ada resort dan penginapan. Saat kami ke sana sebagian sedang dalam tahap penyelesaian. Penginapan yang sudah ada dan bisa ditempati sejak malam tahun baru semacam kabin box gitu. Harga per malam saat ini sekitar tujuh ratus ribuan.

Hemm... Kita lihat saja nanti deh. Yang pasti kami buru-buru keluar dari lokasi Ocean View ini dulu, biar Fahmi tidak marah dan cemberut terus. Tidak sabar ia ingin main air bisa jadi salah satu alasannya juga.

Karena terlalu panjang, cerita dan niat di awal mau main ke Pantai Pelabuhan Jayanti dipublikasikan terpisah disini ya. Cerita hari ini sampai disini saja dulu ya...
Read more ...