Tampilkan postingan dengan label Cerita Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juni 2026

Keterampilan Paling Dicari Perusahaan Saat Ini: Peluang bagi Lulusan SMA dan SMK di Pedesaan

Peluang Kerja Lulusan SMA dan Kejujuran


Persaingan dunia kerja saat ini semakin ketat. Perusahaan tidak hanya mencari pelamar yang memiliki ijazah, tetapi juga keterampilan yang dapat langsung digunakan dalam pekerjaan.

Perubahan teknologi, perkembangan bisnis digital, dan kebutuhan industri yang terus berkembang membuat perusahaan lebih selektif dalam memilih tenaga kerja.

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan, kondisi ini sering menjadi tantangan tersendiri. Banyak lulusan SMA dan SMK yang ingin segera bekerja setelah lulus, sementara kesempatan kerja di daerah masih terbatas.

Di sisi lain, lulusan sarjana umumnya memilih merantau ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan yang lebih sesuai dengan bidang studinya.

Meski demikian, bukan berarti lulusan sekolah di pedesaan tidak memiliki peluang. Dengan membekali diri dengan keterampilan yang tepat, kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan atau bahkan menciptakan lapangan kerja sendiri tetap terbuka lebar.

Keterampilan yang Paling Dicari Perusahaan Saat Ini

Beberapa perusahaan membutuhkan sumber daya manusia dengan keterampilan lebih. Seperti:

1. Kemampuan Komunikasi yang Baik

Hampir semua perusahaan membutuhkan karyawan yang mampu berkomunikasi dengan baik, baik kepada pelanggan, rekan kerja, maupun atasan.

Kemampuan ini meliputi cara dan etika berbicara dengan sopan dan jelas, mampu bekerja dalam tim, sampai bisa mendengarkan dan memahami instruksi.

Banyak pelamar gagal bukan karena kurang pintar, tetapi karena kesulitan berkomunikasi saat wawancara kerja.

2. Kemampuan Mengoperasikan Komputer Dasar

Meskipun bekerja di luar bidang perkantoran, keterampilan komputer semakin penting.

Minimal menguasai Microsoft word, Microsoft Excel, email,sampai pencarian informasi melalui internet.

Saat ini banyak pelatihan gratis maupun video pembelajaran yang dapat diakses melalui ponsel. Kalau mau upgrade diri tidak ada lagi alasan terkendala karena di desa fasilitas pelatihan tidak tersedia.


Peluang Kerja Lulusan SMA dan Kejujuran
Walau lulusan SMA SMK tapi dengan memiliki skill lainnya insyaallah kesempatan bisa diterima kerja akan lebih luas


3. Keterampilan Digital

Perusahaan mulai mencari pekerja yang memahami dunia digital meskipun bukan lulusan teknologi informasi.

Contohnya dibutuhkan orang yang mampu mengelola media sosial, mampu membuat konten sederhana. Termasuk bisa benggunakan aplikasi desain dasar dan memasarkan produk secara online.

Keterampilan tersebut bahkan dapat digunakan untuk membuka usaha sendiri dari rumah.

4. Kemampuan Beradaptasi dan Belajar

Perubahan teknologi membuat perusahaan lebih menyukai orang yang mau belajar dibandingkan mereka yang merasa sudah tahu segalanya.

Sikap yang dicari perusahaan antara lain orang yang mau menerima masukan, cepat dalam mempelajari hal baru. Serta tahan banting baik fisik maupun mental jadi tidak mudah menyerah saat menghadapi masalah.

5. Keterampilan Teknis Sesuai Bidang

Bagi lulusan SMK, keterampilan praktik tetap menjadi nilai jual utama.

Misalnya:

• Teknik kendaraan bermotor.

• Pengelasan.

• Instalasi listrik.

• Tata boga.

• Tata busana.

• Teknik pendingin dan AC.

Keterampilan seperti ini masih sangat dibutuhkan dan sering kali lebih mudah menghasilkan pendapatan dibandingkan hanya mengandalkan ijazah.

Tantangan Lulusan Sekolah di Pedesaan

Salah satu masalah utama adalah terbatasnya lapangan kerja formal di desa. Banyak perusahaan besar berada di kota atau kawasan industri sehingga lulusan SMA dan SMK harus bersaing dengan ribuan pencari kerja lainnya.

Selain itu, beberapa kendala yang sering dihadapi adalah:

• Kurangnya informasi lowongan kerja.

• Keterbatasan akses pelatihan.

• Minimnya pengalaman kerja.

• Keterbatasan biaya untuk merantau.

Akibatnya, tidak sedikit lulusan sekolah yang akhirnya bekerja di sektor informal atau menganggur cukup lama setelah lulus.


Peluang Kerja Lulusan SMA dan Kejujuran
Walaupun tinggal di desa, jika memiliki keterampilan kesempatan kerja akan mudah ditemukan 


Solusi untuk Lulusan SMA dan SMK di Pedesaan

Daripada nunggu mendapatkan pekerjaan impian yang belum tentu kesampaian lebih baik coba beberapa hal berikut:

Mengembangkan Keterampilan yang Dibutuhkan Pasar

Jangan berorientasi hanya fokus mencari pekerjaan, lulusan sekolah sebaiknya terus meningkatkan kemampuan melalui:

• Kursus online gratis.

• Pelatihan dari pemerintah.

• Balai latihan kerja (BLK).

• Program pelatihan dari perusahaan swasta.

Sertifikat tambahan dapat meningkatkan nilai saat melamar pekerjaan.

Memanfaatkan Internet untuk Mencari Penghasilan

Saat ini banyak pekerjaan yang bisa dilakukan hanya dengan ponsel dan koneksi internet, seperti:

• Admin media sosial.

• Penulis konten.

• Reseller produk online.

• Editor video sederhana.

• Desainer grafis pemula.

Pekerjaan seperti ini memungkinkan seseorang tetap tinggal di desa tanpa harus langsung merantau.

Mengembangkan Potensi Lokal

Setiap desa memiliki potensi ekonomi yang berbeda-beda.

Misalnya di bidang pertanian, peternakan, perikanan, kerajinan tangan, sampai wisata desa. Dengan bantuan pemasaran digital, produk desa dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Membentuk Kelompok Usaha Bersama

Daripada bekerja sendiri, pemuda desa dapat membentuk kelompok usaha untuk mengembangkan produk atau jasa lokal. Selain memperbesar peluang sukses, cara ini juga membantu membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Merantau dengan Persiapan yang Matang

Jika memilih bekerja di kota, sebaiknya lakukan persiapan terlebih dahulu:

• Pelajari keterampilan yang dibutuhkan industri.

• Siapkan dokumen kerja.

• Cari informasi perusahaan yang terpercaya.

• Bangun jaringan pertemanan dan informasi lowongan.

Merantau tanpa bekal keterampilan sering kali berakhir dengan pekerjaan yang tidak sesuai harapan.

Masa Depan Dunia Kerja Ada pada Keterampilan

Saat ini banyak perusahaan lebih menghargai kemampuan nyata dibandingkan sekadar ijazah. Lulusan SMA dan SMK yang memiliki keterampilan, disiplin, dan kemauan belajar sering kali mampu bersaing bahkan dengan lulusan pendidikan yang lebih tinggi.

Karena itu, generasi muda di pedesaan tidak perlu merasa minder. Dengan memanfaatkan teknologi, mengikuti pelatihan, dan mengembangkan potensi daerah masing-masing, peluang untuk mendapatkan pekerjaan atau menciptakan usaha sendiri tetap terbuka lebar.


Peluang Kerja Lulusan SMA dan Kejujuran
Meskipun kerja di pabrik, kalau bisa memanajemen waktu bisa sambil kuliah dan meningkatkan karir


Jadi buat adik-adik fresh graduate...

Keterampilan adalah aset yang semakin penting dalam dunia kerja modern. Bagi lulusan SMA dan SMK di pedesaan, tantangan memang ada, tetapi peluang juga semakin banyak. Kunci utamanya adalah terus belajar, mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan pasar, dan berani memanfaatkan peluang yang ada di sekitar.

Kalau sudah memiliki pekerjaan, bisa sambil melanjutkan kuliah untuk memperkuat posisi karir atau mengejar cita-cita impian yang belum tercapai sebelumnya. Keduanya bisa dijalankan selagi mampu, ya.

Karena di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, mereka yang memiliki keterampilan dan kemauan untuk berkembang akan memiliki peluang lebih besar untuk meraih masa depan yang lebih baik, baik di desa maupun di kota.




Read more ...

Senin, 04 Mei 2026

Memilih Teman di Usia 40-an


Jumpa seseorang secara tiba-tiba yang sempat kenal dan akrab sekitar 30 tahun yang lalu itu surprise banget. Kaget. Berasa mimpi. Beneran ini sobat begadang waktu jaman sekolah?


Mencari teman di usia 40-an


Jadi ceritanya Minggu lalu saya ikut suami yang mewakili sekolahnya membimbing Pramuka penggalang lomba di sekolah lanjutan tingkat atas. Lokasinya jangan ditanya, pokoknya di ujung dunia. Padahal masih satu kecamatan.

Dari rumah ke kota kabupaten cianjur saja, pakai kendaraan sekitar 2 jam. Nah ini dari rumah ke sekolah yang mengadakan acara lomba itu, 2 jam juga! Malah lebih.

Jaraknya sih tak sampai puluhan kilometer. Yang bikin lama itu kondisi jalannya. Rusak parah. Jadi walaupun naik kendaraan, bisa disamakan dengan jalan kaki. Malah lebih repot. Luar biasa pokoknya jalannya itu. Udah naik turun melipir bukit, tanpa aspal melainkan masih tanah merah dan berbatu. Pas berangkat cuaca hujan pula, percis deh seperti mengendarai kendaraan di sungai! Luar biasa ya kabupaten Cianjur ini ternyata di pelosok nya itu masih ada jalan kemiskinan…

Tapi sudah lupakanlah soal itu. Karena saya mau cerita soal ketemu besti yang tidak terduga itu tadi.

Sedang memantau dari jauh peserta didik ikut lomba pionering, eh tiba-tiba lewat seseorang yang kalo dari wajah gak asing lagi. Cuma penampilan udah tua, terlihat dari rambut yang memutih, plus keriput  di wajah gak bisa bohong.

Ketika saya melongo sambil menunjuk padanya, dia juga terlihat terkejut dan nunjuk pula ke saya. Fix, berarti dia juga kenal saya.

Setelah saya tanya memastikan apakah benar dia teman waktu di Sukanagara? Dan dia bilang iya. Tapi maaf katanya kamu siapa, saya lupa lagi. Ya Gusti, segitunya… hihi … padahal saat itu saya termasuk primadona lho, teganya dia melupakan saya. Haha.

“Kok bisa ada di sini? Di ujung dunia?” tanya saya udah gak canggung lagi. Begitu pun dia udah mulai kembali ke setingan jaman dulu, kembali suka bercanda dan jailin saya.

“Kamu lulus aku tuh masih di Sukanagara. Sering main ke rumah tapi kamunya gak ada. Sampai bertahun-tahun. Nasibku kurang baik. Tetap gagal ikut pengangkatan hingga ada seleksi PPPK akhirnya lolos. Tapi yaitu nyangkutnya di ujung dunia ini.” Katanya sambil tertawa-tawa.

Banyak banget yang saat itu ingin kami kenang. Tapi karena suasananya tidak memungkinkan jadinya obrolan kami akhiri.

“Aku gak banyak komunikasi sama teman-teman. Malu lah. Selain itu udah tua juga. Haha … titip salam aja buat semua teman-teman ya…” pesan nya sebelum kami berpisah. Tidak lupa kami sempat selfi bertiga dulu bersama suami.

Sambil memantau jalannya acara lomba Pramuka itu saya jadi kepikiran. Apakah salamnya itu saya sampaikan di group alumni saja? Ntar bagaimana kalo ada yang minta no kontaknya, sementara saya aja gak dikasih. Lagian jujur aja, di group juga saya tidak pernah interaksi. Bukan sombong, tapi ya gimana ya, merasa kalau tidak penting lebih baik saya diam saja.

Bahkan saat ponsel saya eror dan nomor WhatsApp hangus, saya keluar otomatis dari semua group, saya tidak berusaha masuk lagi. Tapi salah satu teman yang jadi kontak saya tiba-tiba mengundang saya lagi. Jadinya saya bergabung lagi walau itu tadi, banyak diamnya.

“Okti kunaon ayeuna mah jadi cicingeun?” banyak teman satu frekuensi jaman dulu menyelidiki. Mungkin merasa heran kenapa saya sekarang “membatasi” diri padahal jaman sekolah saya itu orangnya bawel, gak mau diam dan pecicilan.

Bingung mau jawab apa. Tapi mungkin bagi yang sudah berusia 40 ke atas, sedikit banyak sudah kepikiran bagaimana menyikapi pergaulan dan bagaimana harus ambil keputusan saat bergabung dengan sebuah circle?


Mencari teman di usia 40-an


Saya sendiri merasa udah beda jamannya, udah terjadi seleksi alam kenapa bisa pertemanan saya batasi. Walau tidak bisa saya bilang semakin bertambah, malah berkurang, atau stagnan. Karena dalam kehidupan, datang dan pergi itu sudah biasa terjadi.

Memasuki usia 40 sering kali dianggap sebagai “masa puber kedua,” tetapi secara biologis dan psikologis, ini adalah fase transisi besar yang menuntut penyesuaian gaya hidup. Bukan berarti masa muda telah berakhir, justru ini adalah waktu untuk menjadi lebih strategis dengan kesehatan dan kesejahteraan diri.

Mau diakui atau tidak di usia 40-an, tubuh tidak lagi se-fleksibel usia 20-an. Metabolisme mulai melambat, dan massa otot cenderung menurun.

Daripada main-main mending mulai rutin memeriksa tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, dan fungsi jantung. Bagi wanita, mending lakukan pemeriksaan mammogram dan pap smear daripada ketemuan gak jelas sambil makan-makan dan pamer perhiasan, sementara pria mungkin sudah perlu memperhatikan kesehatan prostat daripada ikut lomba memancing toh ujungnya ikan yang dikonsumsi tetap aja hasil beli di pasar.

Karena risiko sarkopenia (penyusutan otot), latihan beban secara rutin sekarang jadi lebih penting daripada sekadar senam di lapangan sambil jalan bareng teman-teman sekadar menjaga kepadatan tulang dan metabolisme.

Berkaca pada penyakit yang diderita almarhumah ibu, saya fokus mengurangi asupan gula dan karbohidrat olahan. Lebih ke meningkatkan serat dan protein berkualitas tinggi untuk mendukung regenerasi sel. Belajar fokus dengan pilihan mengonsumsi itu bukan tidak mau gabung sama teman di acara-acara ngaliwet, arisan dan sebagainya.

Terlebih pada penjagaan kesehatan mental dan emosional, di usia 40-an banyak orang mengalami apa yang disebut “mid-life crisis” masa di mana seseorang mulai merenungkan pencapaian hidup.

Usia 40 biasanya merupakan puncak karier sekaligus puncak tanggung jawab keluarga (mengurus anak remaja sekaligus orang tua yang menua). Meditasi atau hobi yang menenangkan sangatlah penting.

Karena itu daripada wara-wiri gak jelas, walaupun difasilitasi teman yang kaya, saya memilih fokus pada kualitas hubungan daripada kuantitas.

Saya mulai belajar berkata “tidak” pada hal-hal yang menguras energi mental tanpa memberi nilai tambah.

Memilih diam dan tidak mengikuti kegiatan yang diselenggarakan teman-teman kalau sekiranya tidak memberikan manfaat untuk saya.

Saya lebih memilih mengupgrade diri dan gaya hidup dengan jalan sederhana sebisa yang saya lakukan.

Memprioritaskan tidur 7-8 jam per hari karena istirahat itu kunci pemulihan sel otak dan tubuh.

Membangun komunitas yang positif. Karena kesepian di usia tua kelak itu bermula dari pengabaian relasi di usia tengah ini.

Memasuki usia 40 bagi saya bukan tentang menjadi tua, tetapi tentang menjadi “sadar”. Ini adalah waktu terbaik untuk membuang kebiasaan buruk yang dulu dimaafkan oleh tubuh kita saat masih muda.

Memasuki lingkaran pertemanan (circle) yang baru di usia matang memang terasa lebih menantang dibandingkan saat kita masih sekolah atau kuliah.

Di usia menuju setengah abad, saya cenderung lebih selektif dan tidak memiliki banyak waktu untuk basa-basi yang tidak perlu.

Namun, membangun koneksi di usia tua justru sangat krusial untuk menjaga ketajaman kognitif dan kebahagiaan emosional.

Strategi untuk menemukan dan memasuki circle yang tepat saya lakukan berdasarkan seleksi. Mencari teman berdasarkan “Interest”, bukan sekadar “Usia”


Mencari teman di usia 40-an


Pertemanan yang langgeng di usia dewasa biasanya disatukan oleh kegiatan atau visi yang sama, bukan hanya karena seumuran.

Komunitas hobi bisa jadi salah satu alternatif. Suka nonton, gabung dengan komunitas Blogger Film Bandung, misalnya. Suka baca, berteman dengan teman-teman klub buku. Hobi yang sama bisa menciptakan topik pembicaraan instan walau beda usia.

Dengan koneksi internet kita akan lebih mudah mengikuti lokakarya keterampilan baru sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki semangat tumbuh (growth mindset).

Karena itu di usia tua saya ini, saya tidak butuh 100 teman nongkrong. Saya cukup butuh 3-5 orang yang “berisi” saja. Karena terbaik adalah kualitas di atas kuantitas.

Yang paling penting saya perhatikan adalah nilai-nilai moral dan etika mereka apakah sejalan dengan saya? Circle yang benar adalah yang mendukung kesehatan mental, bukan yang penuh dengan drama atau ajang pamer (toxic). Membawa kita ke arah yang lebih baik bukan sebaliknya malah menjerumuskan.

Saya tidak akan ragu masuk ke lingkaran yang membuat saya merasa bersemangat setelah bertemu mereka, bukan justru merasa lelah secara mental.

Orang dewasa sangat menghargai mereka yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi. Ini adalah “tiket” termudah untuk diterima di lingkaran mana pun.

Salah satu hambatan bergaul di usia tua adalah gengsi atau rasa sungkan. Padahal menurut saya justru harus ditanamkan rasa berani untuk menegur duluan.

Senyuman dan sapaan sederhana seperti, ”Saya sering baca artikelnya waktu blogwalking. Ingin sekali berteman dengan blogger rafahlevi. Salam kenal ya?” kalimat seperti itu bisa menjadi pembuka pintu circle yang luar biasa. Tentu saja kalau pertemanan nya disambut. Tidak ditolak.

Terkadang banyak orang yang terlalu menjaga citra karena posisi atau jabatan. Saya lihat sebagian teman-teman saya seperti itu. Makanya hasilnya juga bisa dilihat seperti hampa. Padahal menurut saya pribadi apa susahnya sih tinggal mencoba tampil sebagai diri sendiri yang manusiawi dan apa adanya?

Circle kita sudah benar atau belum itu relatif. Plus dan minusnya mengurangi circle pertemanan juga tergantung dari persepsi pribadi masing-masing. Tapi kalau terlihat isinya tentang bahas ide dan rencana masa depan yang lebih baik, saling mendukung gaya hidup sehat, menghargai batasan (boundaries) masing-masing serta jujur namun tetap sopan saat memberi saran, fix, itu salah satu contoh circle yang bermanfaat dan bernilai positif.

Sebaliknya saya akan segera meninggalkan circle pertemanan yang terlalu banyak bergosip atau membicarakan orang lain. Saling menjatuhkan atau kompetisi yang tidak sehat. Selalu memaksakan kehendak atau meminjam uang secara tidak sehat. Hanya memuji di depan tetapi mencela di belakang. Uh, langsung say goodbye aja kalo gitu.

Gak merasa kaku ketika dimintai titip salam oleh teman lama yang baru jumpa sementara saya sendiri gak berteman banyak dengan teman-teman lama dan justru banyak lingkaran pertemanan yang saya tinggalkan.

Mungkin gara-gara jumpa teman lama kemarin itu sepulang dari acara lomba Pramuka saya kembali melakukan reconnecting. Demi bisa menyampaikan amanah yang dititipkannya. Terkadang circle terbaik adalah teman-teman lama yang sempat terputus kontaknya. Mengirim pesan singkat untuk sekadar bertanya kabar bisa membuka kembali pintu pertemanan yang sudah memiliki pondasi sejarah yang kuat.


Read more ...

Sabtu, 02 Mei 2026

Bestiku Sekaligus Keponakanku Generasi Zoomers

Gak sengaja nguping obrolan suami dengan keponakan sore itu.

“Dit, laptop Amang sigana eror. Kapan pulang? Tolong dilihat…”

Saya bisa nebak, kalau gak Sabtu atau Minggu keesokannya, selanjutnya, pasti suami ngajak ke kota, ketemuan sama kakaknya, sekaligus nemuin Adit, keponakan nya itu. Satu lagi, dipastikan bakalan dibawa itu laptopnya. Karena ketemu sodaranya itu hanya alibi, tujuan utamanya biar dicek masalah laptopnya itu kenapa.

Mungkin itu salah satu keuntungan punya keponakan yang masuk ke golongan generasi Zoomers alias gen z?

Bestiku Sekaligus Keponakanku Generasi Zoomers


Generasi Z itu kelompok orang yang lahir sekitar tahun 1997–2012, (maaf kalau ada perubahan tahun) generasi itu dikenal sebagai generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di era internet, smartphone, dan media sosial.

Mungkin karena itu juga mereka ini sering disebut “digital natives” karena sejak kecil sudah akrab dengan teknologi digital. Beda dengan saya dan suami kelahiran tahun 80an ini, sudah 20 tahun an lewat baru kenal internet dan media sosial.

Tapi walaupun saya masuk ke golongan generasi milenial (yang lahir antara rentang waktu sebelum kelahiran generasi Zoomers itu tadi) justru merasa bangga dan memiliki keanekaragaman pengalaman. Karena masa pada generasi Milenial ini hanya kami yang mengalami transisi dari analog ke digital, sedangkan Gen Z sudah lahir di dunia digital.

Walaupun usia paman dan keponakan ini beda sekitar belasan tahun, tapi karena diasuh sejak kecil akhirnya udah seperti adik kakak saja. Jadi tempat berbagi ide dan curhat. Lebih tepatnya udah seperti best friend aja alias besti.

Tidak mudah sebenarnya ngasuh keponakan yang memiliki karakteristik Gen Z ini. Karena mereka masuk di dunia digital native alias anak-anaknya udah pada melek teknologi, terbiasa dengan smartphone, media sosial, dan informasi instan lainnya.

Mau tidak mau pamannya itu kudu bisa multitasking. Dalam arti kudu bisa mengimbangi mengerjakan banyak hal berbau teknologi sekaligus, seperti berpindah aplikasi dan gadget dengan cepat. Iya kalau enggak gitu ya bakalan ketinggalan sama kemampuan sang keponakan.

Asyiknya punya keponakan yang masuk di golongan generasi Zoomers ini mereka itu rata-rata terbuka terhadap keragaman. Jadi bisa lebih inklusif dan peduli isu sosial. Begitu juga dalam memilih karir, lebih pragmatis dan hati-hati. Mungkin karena pemikiran mereka lebih terbuka kali ya, jadi lebih realistis dalam memilih karier, berusaha menghindari kesulitan generasi sebelumnya.

Kalau jaman suamiku sebagai paman nya kan masih ada dalam kungkungan kepercayaan yang kolot, kalo mau masa depan bagus itu ya jadi PNS, atau abdi negara. Ngono...

Sementara keponakan kami ini tidak lagi percaya dengan iming-iming bahagia bila jadi PNS. Mereka lebih suka ke hal-hal yang kolaboratif atau bahkan gerakan sosial. Bisa dilihat saat memilih jurusan, karena sejak dini keponakan terlihat suka bekerja dalam tim, menghargai kepemimpinan non-hierarkis gak sangka ambil jurusan sepertinya ikut teman-temannya. Bukan mengikuti saran pihak orang tua dan jajarannya.

Tapi salutnya walau di keluarga besar kami mereka para keponakan ini adalah termasuk generasi perintis, tapi mereka beneran bisa beradaptasi.

Walaupun harus ambil sekolah di luar pulau, harus ngekos dan semuanya ngurus sendiri, tapi Alhamdulillah mereka mudah menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi dan tren baru di tempat barunya itu.

Meski begitu, tetap ada risiko yang bakalan ditemukan. Seperti karena keseharian bergulat dengan dunia digital, dirasa atau tidak bakalan ada semacam tekanan media sosial, termasuk risiko kecemasan sosial dan paparan layar berlebihan.

Dalam hal karir dan pekerjaan juga sebenarnya dikhawatirkan karena cenderung ke memiliki ketidakpastian karier. Beda dengan pegawai tetap dan mendapatkan tunjangan gitu. Keponakan lebih cenderung ke bisnis dan wirausaha. Tentunya juga banyak menghadapi persaingan global.

Karena mereka para keponakan kami ini punya karakteristik unik sebagai generasi digital, pendekatan yang tepat bisa membuat komunikasi lebih lancar dan kolaborasi lebih produktif salah satunya dengan menggunakan jasa keahlian mereka sehingga mereka beneran merasa dibutuhkan oleh keluarga.

Yang harus dimengerti kalo butuh bantuan para keponakan ini ajakan atau tawaran yang kita ajukan harus fleksibel. Kudu sabar dan paham kalo sistem kerja mereka generasi Z ini lebih suka sistem kerja hybrid semaunya mereka.

“Tenang Mang, yang penting beres. Simpen aja laptopnya di si mamah. Ntar Adit pulang langsung dikerjakan…” begitu jawabannya dengan mudah ketika pada akhir pekan ternyata dia gak pulang-pulang sementara pamannya udah jauh-jauh dari kampung datang dengan harapan supaya lekas jumpa dan laptop yang bermasalah segera didapatkan solusinya.

Begitulah punya keponakan seumuran gen z. Tidak bisa mengekang melainkan beri mereka ruang untuk brainstorming dan partisipasi aktif.

Jadi, kiat bersahabat dengan Gen Z dalam dunia kerja, antara beradaptasi dengan karakter mereka, sama-sama belajar, dan tetap mendidiknya, kalau antara paman dan keponakan ini malah jadi besti, itu karena kuncinya adalah komunikasi yang cepat, transparan, berbasis teknologi, dan penuh makna. Gitu aja.


Read more ...

Sabtu, 11 April 2026

Blog: Jaman Lawas vs Jaman Now

Sepuluh tahun lalu, dan sebelumnya dunia blogging masih sangat personal dan intim. blog dipakai sebagai diary digital, tempat curhat, berbagi pengalaman, dan membangun komunitas kecil. Blog lebih menekankan cerita pribadi daripada monetisasi, berbeda dengan tren sekarang yang lebih fokus pada branding dan cuan.

Lain jaman lain juga kebiasaannya ya…



Jika sepuluh tahun lalu blog dipakai sebagai diary online maka sekarang blog digunakan sebagai branding diri atau bisnis.

Dulu banyak blogger menulis layaknya buku harian, membagikan cerita sehari-hari, pengalaman kuliah, pekerjaan, atau bahkan curhat pribadi. Blogspot dan WordPress gratisan jadi rumah utama.

Kini blog sudah lebih modern. Blogger banyak menggunakan top level domain alias domain berbayar supaya tampil lebih baik dan terpercaya.

Monetisasi blog juga jadi tren. Blog berubah dari ruang ekspresi menjadi alat branding, afiliasi, dan bisnis.

Dulu komunitas blogger bisa dibilang ruang lingkupnya kecil tapi hangat.

Blogger saling berkunjung, meninggalkan komentar, dan membangun jaringan pertemanan tanpa harus diminta. Tak heran kalau blogger Cianjur macam saya bisa mengenal Blogger Surabaya dan lainnya. Interaksi terasa lebih personal dibanding media sosial sekarang.

Kalau sekarang kan istilah Blogwalking lebih ke karena tuntutan kebutuhan. Blogger perlu setoran data dan insight kepada klien. Blogwalking jadi utang piutang karena kalau tidak, bisa ditagih dan jika tidak memenuhi keinginan si empunya blogger wajib mengganti komentar. Menjurus ke komentar yang disetting.

Dulu tema dan desain blog sangat sederhana tapi banyak yang memberatkan. Banyak yang masih alay, pasang lagu, gambar berukuran besar dan perintilan lainnya dengan ukuran yang memberatinya sehingga tampilan blog jadi berat saat dibuka.

Template bawaan blogspot atau WordPress sering dipakai banyak modifikasi. Walau tidak sedikit blogger yang tetap fokusnya pada isi tulisan, bukan tampilan.

Kini banyak teori dan ilmunya yang mengemukakan bagaimana cara supaya blog ringan dibuka sehingga tidak bikin bete pembaca ketika menggunakan ponsel sekalipun. Membaca tetap nyaman dan tampilan blog bisa menyesuaikan mengikuti gadget yang dipakai.

Jaman saya mengenal blog tahun 2008 sesungguhnya SEO belum dikenal sama sekali. Yang penting curhat eh nulis, udah gitu aja. Haha…

Gak heran kalau banyak tulisan lebih jujur dan apa adanya, belum terlalu dioptimasi untuk mesin pencari. Popularitas datang dari blogroll dan rekomendasi antar-blogger.

Kalau sekarang kan ilmu SEO udah harus dipakai karena kalau enggak konon blog kita akan sulit masuk tampilan kolom mesin pencari.

Biar semangat tetap ngeblog dulu ada tren “One Week One Post” sekarang juga masih ada sih ya. Walau ada modifikasi di sana sini tapi intinya tetap supaya menyemangati dan terjadwal update menulis blog.

Dulu sesama blogger punya komitmen rutin menulis, bukan untuk trafik, tapi untuk menjaga konsistensi dan ekspresi diri. Sekarang ya tahu sendiri lah, saya aja semangat nulis itu kalau ada cuannya. Kalau nulis yang organik malas banget. Hahaha…

Perbandingan era blogging dulu vs sekarang kalau berdasarkan pengalaman pribadi kadang bikin senyum-senyum sendiri. Meski sekarang satu dasawarsa kemudian bahkan lebih dunia blog sudah lebih modern dan dipenuhi dukungan Artificial Intelligence (AI) alias Kecerdasan Buatan.

Hal itu tentu saja menjadikan adanya semacam tantangan dan perubahan

Seperti sekarang ini keberadaan media sosial banyak mengambil alih. Adanya Facebook, Instagram, dan Twitter (X) membuat orang lebih memilih update singkat di sosmed daripada menulis panjang di blog.

Sebagai blogger yang juga banyak membranding diri sebagai konten kreator, adalah sesuatu yang menantang pastinya untuk menghidupkan kembali semangat personal blogging—menulis dengan jujur, membangun komunitas yang hangat, dan menjadikan blog sebagai ruang ekspresi, bukan sekadar strategi SEO dengan berbagai tips yang keren.

Tapi siapa tahu hal itu justru bisa jadi nilai unik di era konten serba instan sekarang ini?


Read more ...

Senin, 30 Maret 2026

Blog Hijrah

Hijrah dalam Islam berarti meninggalkan sesuatu menuju yang lebih baik, baik berupa perpindahan fisik maupun perubahan spiritual.

Secara historis, hijrah merujuk pada perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M, sementara secara maknawi hijrah juga berarti meninggalkan dosa dan menuju ketaatan.

Pengertian Hijrah

Secara bahasa: Hijrah berasal dari kata Arab hajara (الهجر) yang berarti meninggalkan atau berpindah.

Secara istilah syariat: Hijrah adalah berpindah dari negeri syirik menuju negeri Islam, agar seorang Muslim dapat menampakkan dan menjalankan agamanya dengan bebas.

Secara makna luas: Hijrah tidak hanya perpindahan fisik, tetapi juga mencakup perubahan spiritual, akhlak, dan gaya hidup menuju kebaikan.

Makna Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari

Hijrah dalam kehidupan sehari-hari kita saat ini banyak dipahami sebagai transformasi diri. Peralihan. Seperti:

- Hijrah spiritual: Meninggalkan syirik, dosa, dan maksiat menuju iman, taqwa, dan amal saleh.

- Hijrah akhlak: Berubah dari perilaku buruk (misalnya suka berbohong, iri hati) menuju akhlak mulia dan lebih baik.

- Hijrah sosial: Berpindah dari lingkungan yang merusak menuju komunitas yang mendukung kebaikan.


Blogger hijrah


Bentuk Hijrah Modern

Bentuk hijrah ternyata mengalami perubahan juga, menyesuaikan dengan perkembangan jaman kali ya...

Bentuk hijrah secara fisik lebih menekankan ke perpindahan dari tempat yang menghalangi ibadah ke lingkungan yang lebih islami

Bentuk hijrah secara spiritual ditandai dengan mulai meninggalkan kebiasaan buruk seperti meninggalkan shalat, lalu mulai istiqamah

Bentuk hijrah secara akhlak misalnya dengan mengubah gaya hidup konsumtif menjadi sederhana dan bermanfaat

Ada juga bentuk hijrah dalam dunia digital nih... Yaitu menghindari konten negatif di media sosial, beralih ke konten edukatif dan Islami

Hijrah dari Blog Lama ke Blog Baru

Nah, mungkin saya memiliki kisah hijrah juga nih terkait dengan dunia blog alias rumah kedua saya ini. Mulai dari awal perjalanan hingga nanti saya ingin yang lebih baik juga dong ya.

Setiap tulisan memiliki rumahnya sendiri. Blog lama saya dengan domain sama tehokti.com adalah tempat healing sekaligus mencari cuan. Di sana saya bisa leluasa menata kata, menyalurkan keresahan, dan berbagi cerita. Mulai dari lajang, menikah sampai jadi seorang ibu. Dari saat masih jadi ibu bekerja sampai jadi tulen ibu rumah tangga biasa.

Di sana saya seakan tumbuh, jatuh bangun, dan menemukan suara yang perlahan menjadi ciri khas alias branding. Namun, seiring waktu, saya merasa harus realistis. Bukan ruang di blog lama itu mulai sempit. Tapi ada hal-hal lain yang harus diprioritaskan, termasuk dari segi budget.

Tahu sendiri saat ini dunia blog sedang meredup dan saya hampir kewalahan untuk mengcover semua biaya. Padahal semangat menulis tidak pernah padam. Malahan begitu banyak gaya tulisan dan kisah yang ingin tercurah, tetap ingin ada pembaca yang bisa saya ajak berdialog lebih luas.

Karena itu saya memilih budget yang lebih miring, dengan sedikit perintilannya. Satu lagi, seandainya saya meninggal dunia, dan domain ini tidak diperpanjang, insyaallah domain tld akan kembali ke setingan awal yaitu blog gratisan. Dalam arti tulisan saya tetap ada. Tetap bisa dibaca walaupun bukan dengan nama tehokti.com lagi...

Mengapa Hijrah?

Hijrah bukan berarti saya meninggalkan blog masa lalu, melainkan melanjutkan perjalanan dengan arah yang lebih jelas.

Blog baru ini buat saya adalah simbol:

- Penyegaran identitas – memberi wajah baru pada tulisan agar lebih relevan dengan pembaca masa kini.

- Ruang ekspresi yang lebih luas – memungkinkan eksplorasi tema-tema baru, dari minimalisme hingga spiritualitas.

- Komitmen untuk berkembang – menandai tekad untuk menulis lebih konsisten, lebih mendalam, dan lebih bermanfaat. Doakan ya...

Tantangan dan Harapan

Tentu ada rasa berat meninggalkan jejak lama di wordpress. Tulisan-tulisan di blog sebelumnya adalah bagian dari perjalanan yang berharga. Namun saya percaya, setiap hijrah membawa harapan.

Harapan akan pembaca baru yang menemukan inspirasi dari tulisan-tulisan segar, harapan akan konsistensi dalam menulis, bukan sekadar hobi, melainkan sebuah panggilan jiwa, hingga insyaallah sampai akhir hayat saya blog ini tetap dirawat dan dijaga.

Harapan akan makna – agar setiap kata yang tertulis menjadi cahaya kecil bagi siapa pun yang membacanya.

Blog baru TehOkti.com di blogspot adalah ruang hijrah saya—tempat saya meninggalkan jejak lama dan menata langkah baru. Di sini, setiap tulisan tetap lahir dari niat untuk bertumbuh, berbagi, dan memberi makna.

Saya percaya kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan jembatan yang menghubungkan hati, pikiran, dan pengalaman beserta dunia luar. Termasuk interaksi dengan sesama blogger baik blogger dalam negeri maupun luar negeri. Termasuk Blogger Banjarmasin.

Semoga blog baru ini bisa tetap hadir untuk menyegarkan identitas dan memperluas cakrawala. Menyuarakan cerita yang inklusif, hangat, dan penuh makna. Terlebih bisa menyalakan semangat agar setiap pembaca menemukan inspirasi dalam keseharian.

Hijrah dari blog lama ke blog baru bukan sekadar perpindahan alamat digital. Ini adalah perjalanan batin, sebuah keputusan untuk terus bertumbuh. Semoga blog baru ini menjadi rumah yang lebih hangat, lebih luas, dan lebih hidup bagi setiap cerita yang lahir dari semua aktivitas saya.



Blogger hijrah


⚠️ Catatan

- Hijrah bukan sekadar tren, melainkan komitmen jangka panjang untuk hidup sesuai syariat.

- Kunci sukses hijrah: Niat ikhlas, istiqamah, mencari lingkungan yang mendukung, serta memperkuat ilmu agama. Karena itu, mohon doanya supaya saya bisa istiqomah dalam membagikan artikel yang bermanfaat. Aamiin.

Read more ...

Sabtu, 07 Maret 2026

Jadi Pemulung Bermartabat di Jerman

Saya punya akun Youtube, tapi jarang main di sana. Apakah terlalu memaksakan diri kalau bilang hanya saya saja yang tidak punya YouTube Channel yang sering dikunjungi?

Tapi bukan berarti saya tidak pernah melihat video-video yang jadi pendorong untuk menjadikannya rekomendasi channel --karena memang isinya bermanfaat dan bisa jadi inspirasi— Saya banyak saved video yang sekiranya bermanfaat dan menginspirasi supaya saat mencari tayangan favorit itu bisa dilakukan segera dengan mudah. Tapi bukan di YouTube.

Akhir-akhir ini saya mainnya sering di tiktok dan sedang merintis, membesarkan akun baru di Instagram pengganti akun-akun yang sudah hangus. Jadi walau tidak punya channel yang direkomendasikan di YouTube, saya punya akun tiktok yang direkomendasikan yang isinya sangat mempengaruhi jalan kehidupan dan pemikiran saya dan juga lingkungan sekitar lainnya.

Saya akan ceritakan satu video saja dari salah satu akun yang saya anggap memiliki keunggulan itu. Apakah ada manfaat langsung yang didapatkan atau tidak setelah menonton video tersebut, itu kembali ke penilaian masing-masing ya…

Adalah akun tiktok Kang Andri yang saat ini sedang tinggal bekerja di Jerman. Mungkin karena basic awalnya saya juga TKW, jadi cerita hidup tentang perantauan WNI di luar negeri itu banyak saya koleksi karena sangat menarik buat saya.

Yang unik dari video Kang Andri ini adalah ketika dia membagikan kisah inspiratif mengenai memulung kaleng bekas di Jerman jadi peluang cuan!

Intinya kalau gak punya uang ga ada makanan, asal mau mulung itu sudah cukup bisa jadi sumber penghasilan!

Jadi ceritanya saat tidak bekerja, dia sengaja keluar rumah untuk memulung kaleng dan botol bekas minuman yang dibuang orang sembarangan. Siapa kira beberapa jam memulung, pulang membawa uang sebesar sekitar 74 ribu rupiah!

Saking niatnya dan memang kegiatan itu dilakukan seringkali sehingga dia juga mempersiapkan tas belanja cukup besar untuk membawa kaleng dan botol bekas minuman nanti yang ditemuinya.

Jadi di Jerman bisa jadi pemulung? Bisa. Dan pemulung di sana bermartabat keren banget. Cuma mulung beberapa biji kaleng dan botol bekas minum aja, itu udah bisa jadi uang beberapa Euro.

Mata uang resmi Jerman saat ini adalah Euro (€). Digunakan secara resmi di Jerman sejak 1 Januari 2002, menggantikan Deutsche Mark (DEM) dengan kode mata uang EUR.

Satu Euro dibagi menjadi 100 sen euro. Pecahan uang kertas Euro terdiri dari €5, €10, €20, €50, €100, €200, dan €500. Sedangkan uang koinnya terdi dari 1sen, 2sen, 5sen, 10sen, 20sen, 50sen, €1, dan €2. Nilai tukar Euro ke Rupiah berdasarkan data Maret 2026, 1 Euro (EUR) bernilai sekitar Rp19.000 – Rp20.000 (fluktuatif).

Kembali ke laptop video Kang Andri yang sedang mulung, disana digambarkan kalau pertama-tama dia menemukan dua kaleng bekas minuman. Langsung diambil dan masuk tas belanja. Tak lama menemukan lagi beberapa kaleng bekas minuman dan botol air mineral. Keduanya diambil karena sama-sama berharga walaupun nilai besaran harganya tidak sama.

Harga jual kaleng atau botol bekas minuman juga dihitung per buah, bukan per kilogram seperti di negara kita. Jadi walaupun cuma dapat mulung satu dua kaleng atau botol saja itu udah bisa menghasilkan uang.

Tempat penjualan atau penukaran kaleng atau botol bekas minum itu juga sudah canggih karena menggunakan mesin yang tersedia di beberapa minimarket atau swalayan setempat. Bukan semacam tukang pengepul seperti di kampung saya yang sering disebut juragan rongsokan ya… jadi beneran anti korupsi calo dan tidak ada permainan harga.

Tidak ada tawar menawar. Semua harga transparan karena disertai kwitansi dan kwitansi itu bisa jadi uang maksudnya bisa ditukar sebagai alat pembayaran saat berbelanja di minimarket.

Singkat cerita Kang Andri udah mengumpulkan beberapa kaleng dan botol. Lalu ia menuju sebuah minimarket yang menyediakan mesin penampungan kaleng dan botol bekas minuman tadi.

Setiap kaleng dan botol yang ditukar harganya berbeda-beda. Cara menukarkan kaleng atau botolnya kita tekan tombol on pada mesin penukaran. Setelah lampu pendeteksi alias sensor berjalan lalu masukan kaleng atau botol bekas ke tempatnya. Alat sensor akan mencatat dan mengeluarkan berapa harga tukar kaleng atau botol bekas minuman itu.

Satu kaleng ditukar dengan harga sekitar 25 sen. Sementara harga botol air mineral atau semacam ice tea gitu sekitar 15 sen. Sekali mulung pagi itu Kang Andri mengumpulkan sekitar 3 Euro 70 Sen (dalam bentuk kwitansi, bukan uang cash ya). Kalau dirupiahkan sekitar 74 ribu rupiah.

Karena Kang Andri membutuhkan telur untuk lauk makan di tempat tinggalnya, maka ia akan membeli telur di minimarket tersebut. Satu pak telur harganya 2 Euro 40 cen dibayar dengan kwitansi hasil dari penukaran kaleng dan botol bekas minuman tadi. Karena satu pak telur harganya sekitar 2 Euro 40 cen maka ada sisa sekitar 1 Euro 30 cen.

Sisa uang itu diberikan kasir sebagaimana kembalian belanja pada umumnya. Jadi hasil usaha mulung pagi itu Kang Andri pulang membawa satu pak telur dan uang 1 Euro 30 cen.

Sebegitu mudahnya ya mencari uang di Jerman?Saya sudah bilang di atas kalau cuma mulung beberapa biji kaleng dan botol bekas minum aja, itu udah bisa jadi uang beberapa Euro. Jadi bayangkan sekali mulung kalau saja mendapatkan 2 Euro berarti udah dapat sekitar 40 ribu rupiah. Di Indonesia, harga satu karung penuh botol bekas hanya dihargai sekitar delapan ribu! Wadidaw, jomplang banget kan ya?

Yang bikin seru adalah komentar para netizen. Sampai ngakak saya bacanya karena banyak komen yang absurd dan konyol.

Ada yang ngajak kita mulung aja di Jerman, ada yang membayangkan seandainya sampah di Indonesia bisa jadi uang dengan menghasilkan seperti itu.

Ada juga yang bilang kalau sampah di Indonesia dihargai sebesar itu masyarakat gak bakalan buang sampah sembarangan lagi dan kemungkinan Indonesia bisa bebas sampah sebagaimana di Jerman sana. Bagaimana pendapatmu?

Read more ...

Minggu, 01 Maret 2026

Dilema Mengontrakkan Rumah Masa Kecil

Sebelum memasuki bulan puasa sudah menjadi tradisi di tempat saya tinggal ini untuk membersihkan rumah dan sekelilingnya. Mulai membersihkan sarang laba-laba di atap, mencabut rumput liar yang numpang hidup di sela-sela tembok, sampai mencuci kain gorden semua jendela.

Alhamdulillah, selain rumah yang saya bangun bersama suami di Pagelaran ini, kami juga mendapatkan amanah untuk merawat rumah mama mertua di Karang Tengah Cianjur kota, dan sekarang ditambah rumah peninggalan ibu saya di Sukanagara setelah sekitar dua bulan lalu beliau meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Jadilah memasuki euforia Ramadan saya estafet membersihkan tiga rumah. Capek sih, malah sempat kepikiran mau mengontrakkan rumah peninggalan ibu di Sukanagara setelah berembug dengan adik. Daripada kosong kan ya, mending ada yang menempati dan merawat.

Karena berjauhan, membersihkan rumahnya bergantian. Pertama rumah tempat tinggal kami sehari-hari di Pagelaran. Cukup repot karena banyak printilan punya anak yang sedang mondok. Super lengkap seperti Blog Tulisandin yang memiliki banyak informasi di dalamnya.

Saya tidak bisa sembarangan memilah apalagi membuang barang-barang (yang walau menurut saya sudah tidak akan dipakai lagi) karena semuanya diamanahkan anak. Sebelum berangkat ke pondok anak memang menitipkan semua barang-barangnya.

“Awas jangan sampai ada yang hilang atau mati ya, Bu…” pesannya. Bilang begitu karena yang dititip selain barang-barang berupa mainan sejak jaman ia homeschooling sampai sekolah formal, lulus dan berangkat mondok, ada juga peralatan dan hewan peliharaan seperti lele albino, ikan di akuarium dan di kolam serta kucing kesayangannya yang terus bertambah.

Karena di rumah sendiri ini hampir setiap hari dibersihkan jadi tidak begitu terasa kotor dan memakan waktu banyak untuk membereskannya.

Rumah peninggalan mama mertua yang jadi bagian suami menjadi prioritas kami selanjutnya untuk dibereskan karena kebetulan sepuluh hari sebelum Ramadan anak pulang libur Ramadan dari pondok. Kami yang menjemputnya seperti biasa sebelum berangkat ke ibukota nginap dulu di sana. Nah, saat mampir nginap itulah sekaligus membereskan rumah dan isinya.

Selain mencuci gorden, menyapu dan ngepel seperti biasa saya lakukan dengan satset. Tidak ada barang banyak di rumah ini karena sudah sejak sepuluh tahun lebih rumahnya memang kosong.

Selanjutnya menuju rumah almarhumah ibu saya di Sukanagara. Jarak terdekat dengan tempat tinggal dibandingkan rumah mertua di Cianjur Kota.

Sejak ibu tiada, saya yang ambil alih membersihkan rumah dan isinya. Ada adik yang juga tinggal di Sukanagara tapi dia sibuk karena bekerja dan merasa masih sedih katanya kalau ke rumah ibu kami itu.

Bagaimanapun sebelumnya dia memang yang merawat ibu sehari-hari. Jadi saat ibu tiada, adik dan istrinya masih merasa shock, merasa terbayang-bayang dan keinget terus. Sementara saya karena ikut suami tinggal di kecamatan sebelah malah jarang ketemu. Jadi saat ibu tiada, saya tidak merasa begitu kehilangan.

Beberes di rumah ibu ternyata lebih cepat dibanding di rumah sendiri. Saya baru sadar ternyata di rumah ibu tidak banyak barang dan sebagainya. Yang ada hanya perabotan penting yang setiap hari dipakai.

Tetangga sebelah yang masih kerabat mengatakan kalau selama ini, selama sakit ibu saya sering beberes dan memberikan barang-barang yang sekiranya tidak dipakai di rumah untuk diberikan kepada yang membutuhkan.

“Selain rumah tidak sesak, kalau diberikan kepada yang membutuhkan, kelak saat dihisab kita jadi tidak punya banyak tanggung jawab.” Begitu ibu saya bilang sebagaimana disampaikan kerabat kepada saya.

Saya merasa terharu. Walau dulu saya sering kesal karena baju atau barang saya yang sekiranya sudah tidak terpakai diberikan kepada saudara yang menginginkan. Tapi kini meyakini kalau itu lebih baik daripada disimpan-simpan tapi saya sendiri tidak memakainya.

Dibanding saya, ibu saya itu memang sudah menerapkan pola hidup minimalis sejak lama. Sebuah gaya hidup yang berfokus pada kesederhanaan, dengan tujuan mengurangi hal-hal yang tidak penting agar bisa lebih menghargai apa yang benar-benar bermakna.

Hal itu bisa saya yakini karena melihat ditemukan banyak hal yang telah dilakukan almarhumah ibu saya sebagai ciri utama hidup minimalis.

Ciri Utama Hidup Minimalis

✳️ Mengurangi barang tidak perlu: Fokus hanya pada benda yang benar-benar bermanfaat.

✳️ Memprioritaskan kualitas dan makna: Lebih memilih sedikit barang, tapi berkualitas dan bermakna.

✳️ Kesadaran lingkungan: Mengurangi konsumsi berlebihan yang berujung pada sampah.

✳️ Ketenangan batin: Ruang yang lebih rapi dan sederhana membantu mengurangi stres.

✳️ Fokus pada pengalaman: Lebih menghargai hubungan, kesehatan, dan waktu daripada kepemilikan materi.

Dari kebiasaannya itu, banyak hal positif yang didapatkan yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan tapi juga untuk manajemen keuangan.

Manfaat Hidup Minimalis

🌀 Kesehatan mental: pikiran jadi lebih entang. Itu bisa mengurangi rasa cemas dan stres.

🌀 Keuangan lebih sehat: karena belanja lebih bijak, tidak boros. Daripada beli barang baru lebih baik memperbaiki selagi masih bisa diperbaiki

🌀 Produktivitas meningkat: Pikiran lebih jernih karena tidak terbebani hal-hal yang tidak penting. Sebagai orang tua, ibu saya memilih fokus untuk mendekatkan diri kepada Nya daripada ngurusin soal dunia dan isinya.

Banyak orang salah kaprah menganggap minimalisme itu hidup serba sedikit dan membosankan. Padahal, sebenarnya ini adalah strategi menata hidup agar lebih ringan, fokus, dan bermakna.

Saya sadari itu ketika beres-beres rumah peninggalan ibu saya yang ternyata tidak kalah cepat selesainya mengingat isinya sangat minimalis dan sudah tertata dengan baik.

Jadi kepikiran soal mau mengontrakkan rumah peninggalan ibu sekaligus rumah masa kecil saya itu. Galau, takutnya dapat orang yang jorok, atau tidak bisa merawat rumah sebagaimana ibu saya menjaganya. Bukannya terawat, yang ada nanti malah rusak. Bagaimana, ya?

Read more ...

Jumat, 13 Februari 2026

Mengisi Kesendirian Menuju Usia Senja

Sejak anak berangkat mondok, di rumah tersisa saya dan suami. Saat suami kerja atau ada kegiatan pengajian dan sebagainya, otomatis tinggal saya sendirian sebagai penunggu tempat tinggal.

Senin sampai Selasa, waktu saya sendirian bertambah panjang, mulai pagi sampai jelang magrib karena suami sepulang sekolah langsung mendapatkan pengabdian di pesantren Mazroatul Ulum Citiis.

Jadi sepulang dari sekolah tempat mengajar, suami langsung ke ponpes karena kalau pulang dulu ke rumah malah tambah jauh dan makin kesorean sampai di Madrasah Aliyah nya.

Tuh, jadinya cukup banyak waktu saya sendirian di rumah, bukan? Nah, banyak yang nanya dan atau mengira-ngira ngapain aja nih saya waktu sendirian saja di rumah?

Saya bukan tipe orang yang suka main ke tetangga. Haha… padahal ketika masih lajang, saya tipe yang suka keluyuran. Tidak bisa sebentar saja diam di rumah karena bawaannya bosan.

Tapi setelah berumah tangga apalagi sesudah memiliki anak, saya drastis berubah jadi ibu rumahan saja. Rasanya malas keluyuran lagi. Malas keluar rumah kalau tidak berkepentingan.

Pun jangan salah, ketika di rumah saja, saya juga tidak hanya rebahan atau puas-puasin main gadget aja lah ya... Alhamdulillah, ada saja kegiatan produktif lainnya, selain me time yang sesekali saya lakukan sebagai mood booster atau penghargaan atas pencapaian diri selama ini.

Jika sendirian di rumah, saya mengisi waktu sendirian itu dengan kegiatan yang sekiranya bisa membuat saya terkoneksi dengan diri sendiri sebagai upaya merasa diri ini jadi lebih hidup.

Ada banyak cara untuk menjadikan waktu sendirian di rumah sebagai momen untuk benar-benar “terhubung” dengan diri sendiri. Kuncinya adalah memilih kegiatan yang bukan sekadar mengisi waktu, tapi juga bisa memberi ruang kepada kita untuk refleksi, ekspresi, dan memiliki kehadiran yang penuh.

Kegiatan saya di rumah yang membantu terkoneksi dengan diri:

Menulis

Mau di blog, mau di sosial media, bahkan di kertas bekas ulangan anak didik suami yang selalu dibawa pulang --karena bisa digunakan sebagai kertas buat corat-coret-- mau dimanapun tempat nya saya berusaha meluangkan waktu untuk menulis.

Mencatat apa yang ada di pikiran, perasaan, atau hal-hal kecil yang disyukuri hari itu. Apa saja saya tulis untuk menyalurkan emosi. Gak berharap banyak jadi Mindful Lifestyle Blogger yang sukses sih, hanya setidaknya dengan menulis setelah saya meninggalkan dunia, kelak ada sedikit jejak yang bisa dikenang orang lain.

Membaca

Duduk tenang, fokus pada bahan bacaan, kadang sambil mendengarkan musik instrumental lembut. Semua yang membantu menenangkan pikiran dan menyadari keberadaan diri bisa saya jadikan teman saat membaca.

Memilih buku yang memberi inspirasi atau menenangkan. Membaca perlahan, merenungkan kalimat yang terasa bisa “menghentikan waktu” saya. Begitulah, kalau sudah asyik membaca, kadang sampai lupa waktu dan lainnya.

Memasak dengan penuh kesadaran

Alih-alih satset sekadar menyiapkan makanan, saya sesekali mencoba memperlakukan proses memasak sebagai ritual. Seperti mulai dari memilih bahan yang segar, merasakan tekstur ketika mengolahnya, hingga menikmati aromanya.

Mendekorasi atau merapikan ruang atau halaman

Menata ulang sudut rumah, menambahkan elemen alami seperti kayu, tanaman, batu, atau membuat DIY kecil.

Aktivitas seperti itu sedikit banyak memberi rasa kontrol dan kreativitas bagi saya.

Mendengarkan musik dengan penuh perhatian

Memilih lagu yang benar-benar menyentuh hati, lalu mendengarkan tanpa distraksi. Menyimak lirik, nada, dan merasakan bagaimana tubuh ini bereaksi.

Belajar membuat kue

Tidak perlu berekspektasi untuk dapat hasil sempurna—biarkan tangan dan pikiran bergerak bebas aja. Saya percaya aktivitas kreatif sering membuka pintu ke sisi diri yang jarang muncul. Begitu pula kue yang dibuat, kadang tercipta karena ketidaksengajaan.

Olahraga

Bisa berupa olahraga ala-ala berinstrukturkan tutorial dari internet. Kebanyakan berupa peregangan, atau bahkan menari bebas mengikuti musik.

Tubuh yang bergerak selaras dengan perasaan membuat energi lebih hidup. Seperti itu yang saya rasakan.

Begitulah kegiatan saya di rumah sebagai salah satu cara supaya bisa terkoneksi dengan diri sendiri sebagai upaya untuk lebih merasa lebih hidup dalam menjalani hari. Apapun kegiatannya pastikan lakukan hal berikut supaya hasilnya terasa lebih bermakna:

Tips agar kegiatan sehari-hari terasa lebih hidup

🩸 Lakukan satu kegiatan dengan penuh perhatian, bukan multitasking.

🩸 Matikan distraksi digital (TV, notifikasi ponsel, dan sebagainya) untuk memberi ruang hening.

🩸 Tutup dengan ritual penghargaan kecil: misalnya menyalakan lilin, membuat teh hangat, atau menulis satu kalimat tentang apa yang dirasakan.

🩸 Jangan lakukan semua sekaligus; pilih 2–3 kegiatan tiap hari agar terasa ringan.

🩸 Anggap ini sebagai “ritual pribadi” bukan rutinitas kaku—biarkan fleksibel sesuai mood.

🩸 Jika ada kegiatan yang terasa paling menyentuh, jadikan itu inti dari kegiatan yang dilakukan.

Begitulah, meksipun saya dilihat orang kerap menyendiri, namun sebenarnya di usia saya yang sudah tidak muda ini saya mengerjakan banyak hal yang bikin saya sendiri merasa ketagihan.

Mulai bangun pagi saat meniatkan diri membuka hari, dimulai dengan bangun dengan hening. Maksudnya tidak langsung pegang ponsel, melainkan duduk sebentar, tarik napas dalam, minum air putih.

Setelah sholat subuh, membiasakan diri menuliskan 3 hal syukur di jurnal, termasuk perencanaan family & personal journey apa saja, sekecil apa pun kesyukuran itu tetap saya catat.

Lanjut ke dapur, anggap saja sebagai pergerakan tubuh ringan. Bekerja sekaligus melakukan peregangan. Biar tidak monoton sesekali temani dengan murotal, atau kajian, atau sambil mendengarkan musik lembut.

Saat siang menjelang, ketika suami sudah bekerja, mulailah bersiap untuk menyatu dengan aktivitas. Seperti memasak dengan penuh kesadaran untuk mempersiapkan makan siang sendiri dan makan malam bersama dengan suami.

Tetap santai, menikmati prosesnya, dan ketika harus makan siang sendiri, makan dengan perlahan disertai syukur.

Jika cuaca bersahabat, berkegiatan di halaman selalu jadi pilihan. Menyapu dan merapikan sudut rumah, menyiangi tanaman, dan kegiatan lain.

Waktu sendiri menurut saya adalah waktunya untuk berkreativitas bebas. Apa saja hobinya, puaskan diri dengan melakukannya tanpa menuntut hasil sempurna.

Jika malam menjelang saatnya untuk menutup hari, sempatkan untuk mengisi jurnal malam. Saya biasa menulis satu kalimat tentang apa yang membuat saya merasa “hidup” hari itu. Simple tapi membuat hidup saya yang mungkin tidak berapa lama lagi ini insyaallah lebih bermakna.

Bagaimana dengan kegiatan keseharian mu manteman? Gambaran kegiatan saya saat sendiri tersebut semoga bermanfaat ya …

Read more ...

Sabtu, 03 Januari 2026

Touring ke Resepsi Santri di Ujung Dunia

Baru juga mau istirahat sebentar setelah solat ashar yang udah sedikit mendekati akhir waktu, kamis sore hari pertama di tahun baru itu tetangga sebelah rumah ketuk pintu, menyampaikan undangan dari Pondok Pesantren Mazroatul Ulum Citiis.

Kamis pagi sampai ashar, kami memang tidak ada di rumah, udah tiga minggu setiap Kamis saya berangkat ke rumah almarhum mama di Sukanagara, untuk membantu adik dan saudara lain menyiapkan tahlil ibu saya malam jumatnya.

Ternyata undangan itu untuk acara resepsi dari murid suami di ponpes tempat mengajar di tingkat Madrasah Aliah. Hari nya Sabtu 3 Januari. Lokasinya di kampung Sidamukti Desa Girimukti, Pasirkuda.

“Wah, jauh itu Girimukti mah, udah mau ke perbatasan Bandung. Sekitar satu jam dari sini. Itu baru ke desanya aja. Dari desa ke kampungnya ini sekitar satu jam lagi. Mana belum tahu juga akses jalannya bagaimana…” Kata suami mengeluhkan.

“Tapi kalau gak hadir, malu sama sesepuh pondok, secara pengantin perempuan adalah murid di MA, dan pengantin laki-lakinya adalah pengurus pondok. Kita lihat guru-guru di Aliah aja, Bu. Kalau mereka berangkat kita ikut. Kalau mereka tidak, kita juga batal saja.” Pertimbangan suami demikian karena memikirkan akses jalan ke Sidamukti yang masih rusak terutama dari persimpangan Rawa Getok nya (dekat Curug Citambur).

Resepsi Santri
Terlihat Curug dari berbagai puncak bukit. Sampai jam sepuluh lebih cuaca cukup cerah

Apalagi akhir-akhir ini hujan terus menerus turun, bikin jalan pasti becek, licin dan kemungkinan ada longsoran di perjalanan mengingat ke Sidamukti itu melewati beberapa puncak bukit.

Tidak disangka guru-guru MA di group justru mengabarkan untuk janjian berangkat bareng. Terutama guru-guru wanita, mereka malah menyarankan pulangnya sekalian main ke air terjun Citambur.

“Gak bosan apa main ke Citambur melulu?” suami membalas pesan di wag MA.

“Ih enggak atuh Bapak. Apalagi suamiku kan kemarin gak ikut. Jadi ini momen kami bertiga. Seperti Bapak, Ibu dan Fahmi kemarin, gitu loh.” Balas Bu Soni diiringi emoticon tertawa.

Resepsi Santri
Pencarian pada maps hanya sampai di Desa Girimukti. Bertanya kepada masyarakat setempat, dari desa Girimukti ke Sidamukti sekitar setengah jam lagi...

Memang waktu awal September 2025, pas Fahmi pulang liburan dari pondok (libur semester pertama berdasarkan penanggalan tahun Hijriah) teman-teman ngajar suami di MA Mazroatul Ulum Citiis ini mengadakan piknik ala-ala ke Citambur. Ya bukan piknik sebenarnya karena banyak yang udah tahu dan lokasi juga sangat dekat. Bisa dibilang silaturahmi mempererat persaudaraan sesama guru MA aja gitu.

Dan saat itu, yang datang tidak semuanya. Personil lengkap hanya kami (saya suami dan Fahmi) lalu Bu Rini beserta suami yang juga guru MA dan dua anaknya, Bu Mala beserta suami dan putrinya. Bu Syifa dan Pak Opik (keduanya ngajar di MA) beserta putranya. Sementara Bu Soni hanya beserta putrinya karena suami sedang kerja.

Yang tidak hadir saat itu Bu Ruruh, Pak Asep 1, Pak Asep 2 (ada dua nama Asep guru di MA) dan Pak Kamil.

Karena itu kesempatan main ke daerah Desa Girimukti yang bertetangga dengan Desa Pusakajaya dimana Curug Citambur berada ini dijadikan kesempatan untuk sekaligus mampir lagi ke Curug Citambur.

Resepsi Santri
Baru empat motor. Menjemput dua motor kemudian di depan

Ternyata hari Jumat sore hingga malam hujan turun hampir tidak berhenti.

“Bisa jadi ke Sidamukti nya batal nih” ucap suami sambil menerawang ke luar rumah dari balik jendela.

Saya pun tidak mempersiapkan pakaian dan lainnya seperti biasa kalau mau ke acara pernikahan. Dipikir buat apa dipersiapkan kalau besar kemungkinan bakalan batal.

Sabtu pagi ternyata hujan masih turun. Kami malah lesehan sambil nonton dan mendengarkan pengajian lewat streaming. Suami sesekali cek wag MA, takut ketinggalan info.

"Jam berapa kita berangkat? Cuaca agak cerah nih.” Salah satu teman suami bertanya di group.

Memang jam tujuh lewat di tempat kami juga hujan tidak turun lagi. Sinar matahari muncul dengan terangnya dibalik awan.

"Jam 10 ya, saya mau isi bensin dulu di SPBU Pagelaran” jawab Bu Soni.

“Bu, mereka jadi berangkat, gimana kita ikut saja?” suami meminta jawaban.

"Ya ayo ikut saja. Semoga cuaca bagus sampai kita pulang nanti.” Jawab saya sambil segera mencari pakaian yang cocok.

Saya pikir karena kondisi jalan banyak yang rusak, mana becek dan siapa tahu di tengah perjalanan turun lagi hujan, akhirnya saya memilih mengenakan setelan touring saja, rok celana dengan tunik dan jilbab warna senada. Sendal juga sendal karet biasa, supaya saat kena kotoran air hujan bisa dengan mudah dibersihkan. Kaos kaki tentu bawa cadangan.

“Kami tunggu di pertigaan Pasir Haur” kata Pak Opik menginformasikan.

“Kami udah selesai isi bensin.” Kata Bu Soni.

Dan tiba-tiba beliau japri nomor suami, jadi berangkat gak katanya?

“Siap Bu. Kami meluncur ke Pasir Haur ketemu Pak Opik di sana,” balas suami. Padahal dia belum mandi. Hihi, tapi bilangnya udah otw.

Lima belas menit kemudian saya dan suami pun berangkat. Tidak lupa membawa jas hujan.

Resepsi Santri
Saat depan minimarket Desa Kubang cuaca cukup cerah, matahari muncul dan udara jadi terasa panas. Bahkan gerah...

Sampai di Pasir Haur bertepatan dengan keluarnya sepeda motor Pak Opik beserta Bu Syifa. Kami turun bersamaan dan bersalaman. Buat saya ini pertemuan terbaru setelah liburan bersama Fahmi September lalu itu.

Senang waktu menyapa Zulfikar, putranya Pak Opik dan Bu Syifa yang berusia 4 tahun masih mengenali saya.

Lebih senang lagi melihat pakaian yang saya pakai warnanya senada dengan seragam yang dipakai Bu Syifa, dan juga pastinya buibu guru lainnya. Padahal saya dan mereka tidak janjian.

Resepsi Santri
Danau (rawa) Getok

Tidak lama Bu Soni dan putrinya beserta suami juga muncul. Beriringan dengan Pak Asep 1. Jadilah empat motor kami berangkat menuju pertigaan Rancagoong menunggu Bu Ruruh.

Di minimarket dekat Desa Kubang, kami berhenti karena ada yang mau belanja. Saat itu kami diskusi dan mengumpulkan donasi eh uang untuk disatukan. Jadi nanti diatasnamakan dari guru-guru MA. Yang pegang tentu saja Ketua Squad, siapa lagi kalau bukan Bu Soni. Hihi…

Dari obrolan depan minimarket sambil nunggu yang belanja saya tahu kalau Bu Rini dan Suami gak bisa ikut karena takut cuaca tidak bersahabat. Dengan anak dua laki-laki yang masih kecil mungkin memang diperlukan perjuangan banget ya kalau mau bepergian. Bu Mala juga tidak ikut bersama kami.

Selesai diskusi dan belanja kami lanjutkan perjalanan menjemput Bu Ruruh. Cuaca di Kubang saat itu panas. Kami sampai kegerahan saat berhenti depan minimarket tadi.

Di depan brilink pertigaan Rancagoong sesuai yang dijanjikan, ternyata Bu Ruruh belum ada. Dihubungi oleh Bu Soni, katanya masih ini, masih itu, dll. Akhirnya kami turun lagi menunggu sambil bersenda gurau. Saat itu cuaca sudah berubah mendung lagi. Bahkan ketika Bu Ruruh sampai dan saya sempatkan bersalaman dulu karena ini pertama kalinya saya dan beliau bertemu bertatap muka langsung, rintik hujan sudah mulai turun.

“Di Pertigaan Simpang, ada Pak Asep 2 ya,” kata Bu Soni menginformasikan sebelum kami melanjutkan perjalanan. Walaupun laki-laki tapi namanya tidak tahu lokasi, memang lebih baik berangkat bareng kan ya. Apalagi ini membawa nama satu instansi, Guru MA. Jadi bagusnya emang bareng-bareng berangkatnya.

Ketika lewat pertigaan Simpang, Pak Asep 2 sudah standby. Kami tidak berhenti karena hujan sudah mulai turun.

Enam motor akhirnya beriringan menerjang hujan. Padahal itu menurut suami belum setengah jalan. Waduh, masih lama ini perjalanan? Untung saya pakai setelan balap. Bukan gamis kaya Buibu guru MA itu. Jadi saya lebih leluasa membonceng suami walau kondisi hujan.

Lama-lama kepikiran juga, kalau menembus hujan yang semakin deras, pakaian bisa basah, bisa malu datang ke resepsi dalam kondisi jibrug alias basah kuyup. Mana jalan juga berbahaya. Dingin juga kalau naik sepeda motor dalam cuaca hujan bisa menyebabkan sakit.

Akhirnya kami semua berteduh di daerah Cimaja. Depan sebuah bangunan ruko yang baru setengah jadi.

Resepsi Santri
Berteduh di depan ruko yang masih setengah jadi sambil jajan jasuke, bakso, sampai crepes dan cireng juga ada

Gak disangka ada penjual jajanan sudah mangkal di sana. Si mamang jualan Sosis bakar, bakso bakar, jagung susu keju, dan cireng semua dalam satu motor.

Awalnya Zulfikar putra Bu Syifa yang jajan jasuke. Diikuti putrinya Bu Soni. Lalu putrinya Bu Ruruh. Kami bersenda gurau jadinya dengan celotehan yang absurd,. Sebelum makan di resepsi yang entah kapan sampainya karena hujan justru malah semakin besar, mari kita jajan dulu sepuasnya. Yang diuntungkan si mamang yang jualan dong.

Tergoda dengan jagung yang panas dengan keju yang lumer saya akhirnya jajan juga. Berdua dengan suami karena porsinya cukup banyak.

"Borong Bu, mumpung si Ade Fahmi ga ada. Nanti kalau Ade Fahmi pulang, ibunya kan yang puasa." Seloroh Bu Syifa. Kami semua tertawa.

Sambil jajan dan bercanda ditemani hujan yang tidak mereda saya lihat jauh ke perbukitan di sana masih tertutup awan dan kabut hujan. Entah kapan bisa berakhir.

"Bisa-bisa kita solat duhur disini nih," kata bapak-bapak sambil bercanda.

"Asal jangan nginep disini, kadung udah pergi dan ngasih tahu kita guru MA mau datang nih," timpal Bu Soni. Dan sampai adzan duhur terdengar, bener saja kami masih terjebak di depan ruko setengah jadi itu.

Setelah berdiskusi akhirnya sepakat untuk tetap berangkat melanjutkan perjalanan meksipun hujan dan harus pakai jas hujan. Bu Soni dan Bu Ruruh sampai membeli jas hujan sekali pakai di pinggir jalan demi kenyamanan putri-putrinya.

Resepsi Santri
Menembus hujan dengan jalan berbatu dan banyak kubangan

Enam motor kembali beriringan menerjang hujan. Sampai pertigaan menuju rawa getok (danau getok) jalan masih mulus. Tapi lewat pertigaan itu, asli jalan terjal berbatu ibarat sungai yang kekeringan (dan kali ini jadi sungai kering yang kehujanan) sampai berkali-kali mesin sepeda motor suami terbentur bebatuan jalan saking menonjolnya.

Tidak lama melewati rawa getok, jalanan mulai berkelok menurun curam. Saya sampai berpegangan dengan erat saking khawatir jatuh. Walaupun sebagian jalan sudah dicor tapi karena terhalang rimbunnya pohon bambu sehingga tumbuh banyak lumut dan menyebabkan jalanan licin.

Jembatan Rawa Getok penghubung beberapa desa yang terisolir ke kecamatan dan jalan nasional

Habis turunan yang curam itu (tandanya baru melewati satu bukit) kami melewati jembatan rawa getok. Jembatan cukup kuat dan bagus. Hanya jalan setelahnya masih banyak yang hancur.

Habis turun terbitlah nanjak. Ya setelah melalui jembatan rawa getok jalan kembali menanjak dan berbelok dengan tajam. Sampai kaget ketika di belokan yang sempit dari arah berlawanan ada kendaraan bak terbuka yang sedang melaju juga. Mobil itu segera menepi karena kami yang menanjak membutuhkan ruang lebih banyak.

Baru tahu kalau tanjakan itu ternyata tanjakan Sukalaksana yang viral karena banyak netizen yang bikin konten di tanjakan curam seperti cacing tersebut.

Baru tahu saat sudah di tempat resepsi kemudian, kalau paginya, saat mengantar calon pengantin laki-laki kendaraan dari Ponpes Mazroatul Ulum Citiis, hampir semuanya tidak bisa menyelesaikan tanjakan curam yang berkelok itu. Para santri pun sigap standby di pinggir jalan lalu mendorong kendaraan yang tidak melaju sehingga akhirnya bisa melewati tanjakan viral tersebut.

Resepsi Santri
Salah satu tanjakan curam yang kami lewati menuju resepsi santri di "ujung dunia". Ini mending jalannya sudah dicor. Tanjakan lain masih berbatu, bikin ngeri...

Ketika sampai di depan Kantor Desa Girimukti (yang ada di maps) ada persimpangan jalan. Takut salah, kami bertanya ke penduduk setempat dan ditunjukan jalan kalau mau ke kampung Sidamukti ambil arah yang ke kiri.

Berkali-kalai melewati jalan naik turun lagi hingga kami sampai di puncak bukit yang entah keberapa dan disini selain banyak pohon pinus banyak pula di bawahnya ditanam pohon kopi.

Resepsi Santri
Pemandangan dari atas awan. Melintasi beberapa bukit yang lokasinya tidak ada dalam Gugel Maps

Dari sini saya baru berani melihat pemandangan sekitar karena hujan mulai mereda. Masyaalloh... ternyata posisi saat itu beneran berada di puncak bukit. Melihat ke bawah sana, terlihat begitu kecil jalan tadi yang sempat dilewati. Rasanya takjub banget.

Melihat awan putih bergerak berarak di bawah sana seolah kami ini berada di atas awan. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Berasa beneran bepergian ke ujung dunia saja. Haha...

Ternyata dari situ menuju ke lokasi resepsi masih harus mengendarai sepeda motor sekitar setengah jam. Jalan lumayan bagus karena sudah diaspal sebagian. Sebagian lagi ya rusak gitu deh. Apalagi kalau ada yang longsor, biasanya kan tidak segera diperbaiki jadinya ya rusaknya merembet.

Resepsi Santri
Naik turun berkelok-kelok. Perjuangan menuju resepsi di ujung dunia...

Hingga jam 13.00 wib akhirnya kami tiba di masjid Jami kampung Sidamukti. Di sana sudah banyak santri yang menunggu kami. Karena sebelumnya mereka selalu berkomunikasi dengan Bu Soni.

Kami memarkirkan sepeda motor, menanggalkan jas hujan dan tanpa benerin make up langsung menuju kampung di bawah sana menuju lokasi resepsi. Iya, masih harus jalan kaki lagi... wasai... beneran perjalanan menuju resepsi di ujung dunia banget ini mah...

Jalan kaki dengan kondisi menurun yang licin bikin kami merayap sambil berpegangan. Terlihat gamis para guru wanita udah kotor dan basah, ah cuek saja. Boro-boro memperhatikan penampilan, selamat di perjalanan aja udah bersyukur banget.

Dan hal yang tidak diinginkan beneran terjadi. Bu Soni yang berjalan depan saya tidak mampu menahan berat badan hingga saat menginjak jalan tanah yang basah licin berlumut akhirnya terjatuh. Blug!

Astagfirullah... saya langsung menjerit dan berusaha membangunkannya. Walau ga bisa karena postur tubuh Bu Soni jelas lebih tinggi besar daripada saya. Setelah datang suaminya yang berjalan di belakang akhirnya bisa bangun dan mencoba melanjutkan perjalanan.

Pakaian kotor tidak begitu terlihat karena ditutup kardigan dengan warna senada. Padahal menuju tempat resepsi sekitar 50 meteran lagi. Namanya musibah ga ada yang tahu ya. Yang dikhawatirkan jatuh di perjalanan tadi saat mengendarai motor, eh ternyata malah jatuhnya di halaman rumah.

Sesampainya di depan rumah pengantin dan panggung resepsi lantunan sholawat serentak dibawakan para santri menyambut kedatangan kami. Ada rasa haru, ada rasa sedih semua menyatu mengingat perjuangan perjalanan menuju resepsi di ujung dunia ini.

Resepsi Santri
Akhirnya sampai juga di resepsi santri di ujung dunia

Saat berfoto bersama saya lihat di ponsel, ternyata lokasi kampung itu tidak terdeteksi alias belum muncul di gugel. Pantesan lihat di maps hanya sampai Desa Girimukti saja. Kampung Sidamukti nya ini tidak terlacak radar rupanya. Beneran berada di ujung dunia. Di Kabupaten Cianjur ternyata masih banyak pelosok yang belum dikenal Gugel nih... Padahal katanya dari sini itu ke wilayah Kabupaten Bandung udah lebih dekat.

Selesai foto bersama (saya sengaja tidak ikut dan seperti biasa memilih jadi tukang foto saja) kami dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah tersedia. Tentu saja kami segera menyerbunya. Udah perjalanan jauh dengan kondisi tubuh kadinginan akibat hujan pastinya lapar tidak tertahan. Alhamdulillah selesai makan hujan mereda.

"Bu, kita pulang duluan saja. Mumpung tidak hujan. Kalau keburu kita sholat di rumah saja. Sholat di jalan juga ini pada basah dan kotor kan?" Suami berbisik disela obrolan bersama keluarga besar ponpes. Saya menyetujuinya. Langsung berkemas.

Resepsi Santri
Ketika pulang cuaca berubah cerah. Pemandangan sejauh mata melihat tampak jelas tanpa tertutup kabut

Sesampainya di atas dekat masjid Jami Sidamukti tempat kendaraan diparkir, cuaca benar terlihat cerah. Awan putih bergeser menjadi langit yang biru. Karena itu jas hujan semua dilipat saja. Kami berpamitan pulang tanpa mengenakan jas hujan lagi.

Kami pulang duluan karena tidak ikut rekan-rekan guru lainnya yang mau main dulu ke Curug Citambur. Saat berangkat, waktu menunjukkan pukul 13.33 wib. Target suami setengah tiga sore itu kami harus sudah sampai di rumah, supaya bisa menjalankan sholat duhur walau hampir akhir waktu.

Saya kira saya dan suami saja yang pulang lebih dahulu. Ternyata duo Pak Asep juga mengikuti kami di belakang. Bedanya duo Pak Asep itu setelah lewat Rawa Getok mampir dulu di masjid untuk solat duhur.

Resepsi Santri
Sekian lama menerjang jalan berbatu akhirnya sampai di pertigaan Rawa Getok lagi. Hati senang ketika bertemu jalan cor nasional dan muncul kendaraan elf Ciwidey Kab Bandung - Pagelaran

Saya dan suami tiba di rumah pukul 14.25 wib. Kalau pulang berasa cepat banget ya? Hehe... Cuaca juga cerah. Dasar... tapi ya alhamdulillah, kami kembali ke rumah dengan sehat dan selamat setelah menghadiri acara resepsi murid santri di ujung dunia...

Read more ...