Lebaran tiba! Senangnya bisa menikmati aneka hidangan khas lebaran sepuasnya, ya. Alhamdulillah. Walau kebutuhan pokok seperti sembako harganya melambung tinggi tapi hidangan khas lebaran yang bikin ketagihan sukses juga kita buat dan sajikan di meja hidangan keluarga, bukan?
Lihatlah, tak hanya ada makanan wajib saat lebaran seperti opor ayam, lontong sayur, sambal goreng ati plus petai, rendang, ketupat, semur daging, sate dan gulai nangka, tapi ada juga aneka jenis kue baik kue populer maupun kue tradisional.
Jadi penasaran, kue apa aja yang biasanya ada pas lebaran di rumahmu atau tempatmu ada pada umumnya?
Di tempat saya karena masih di kampung, selain kue modern seperti nastar, kastengel, putri salju dan sebagainya, juga masih ada kue tradisional Indonesia. Seperti kue apem, arem-arem, awug, bacang ketan, cucur, kue ali, dadar gulung, wajit dan rengginang.
Bahkan salah satu orang tua santri mengirimkan makanan tradisional berupa tape ketan hitam dan uli pada saat bulan Ramadan kali ini.
Jadilah di meja makan kami semakin lengkap saja aneka kudapannya. Dan ketika saya periksa kue-kue tersebut (takutnya ada semut atau ada rumahan yang tumpah) ternyata ada beberapa toples kue yang sudah hampir kosong alias habis dimakan!
Tahukah kalau toples yang hampir kosong itu isinya kue nastar? Ya, nastar, kue khas Indonesia yang paling terkenal saat lebaran tiba itu paling disukai anak saya. Setiap habis tarawih selalu jadi camilannya. Gak heran kalau cepat habis.
Beruntung deh saya beli kue nastar beberapa kg alias beberapa toples. Ya, ketahuan deh kalau saya emang malas (bahkan ga bisa) bikin kue lebaran dan makanya beli ke saudara atau tetangga yang menawarkan kuenya itu. Saya pikir ya sekalian membantu memajukan usaha mereka. Hihi, bisa aja nih ngelesnya ya...
Kue nastar yang bagi sebagian orang sudah menjadi tradisi Lebaran yang tidak bisa dipisahkan emang jadi favorit anak saya. Mungkin karena banyak yang suka sampai ada yang menyimbolkan belum sah lebarannya kalau belum ada kue nastar.
Btw tahu gak dari mana asal kue nastar ini dan bagaimana sejarahnya? Saya malah baru tahu setelah search di kolom pencarian... Hihi... Dasar kudet!
Jadi menurut informasi dari beberapa artikel yang saya baca di internet, kalau Kue Nastar memang jadi salah satu kue kering yang menjadi primadona dan merupakan menu khas saat Lebaran di Indonesia. Tapi ternyata kue berbentuk bulat dengan isian selai nanas di tengahnya ini merupakan kue yang berasal dari Negeri Kincir Angin, alias Belanda.
Menurut Siti Nur Azzura dalam Merdeka.com (2015) kata nastar merupakan kata serapan dari bahasa Belanda yaitu dari kata nastaart, gabungan dari kata ananas yang berarti nanas dan taart yang berarti kue atau pie.
Saking banyak disukai berbagai macam kalangan, kue nastar ada yang menggolongkan menjadi dua bagian. Kue nastar klasik dan kue nastar premium.
Apa bedanya kue nastar klasik dan kue nastar premium?
Mungkin yang membedakan hanya bahan pembuatannya saja. Berbeda dengan membuat nastar biasa, nastar premium dibuat dengan menggunakan butter wijsman dan nanas segar tanpa pengawet.
Untuk bahan lainnya sama dengan membuat nastar biasa yaitu adonan yang terdiri dari campuran tepung terigu, susu bubuk, garam, vanili bubuk dan kuning telur yang diuleni sampai adonan kalis, lalu adonan dipipihkan, tinggal diisi selai nanas dan dibentuk sesuai selera. Panggang hingga matang. Selesai.
Segitu khasnya nastar pada saat perayaan hari Lebaran sampai hampir semua orang tidak pernah tidak ada nastar di rumahnya, bukan?
Bahkan beberapa perusahaan besar menjadikan kue nastar jadi isian hampers yang dibagikan kepada kolega dan karyawannya.
Jadi teringat sudah sejak tahun lalu, saya sudah dua kali dengan Ramadan kali ini mendapatkan hampers lucu dan unik dari salah satu lembaga amal terkemuka di tanah air kita ini. Isinya sangat bermanfaat mulai kerudung, sajadah, kartu e-money, keripik ubi ungu, teh bunga lang dan tentu saja satu toples kue nastar premium. Alhvamdulillah...
Jangan sedih kalau ga ada kue nastar di rumah, toh lebaran nya mah tetap jadi, ya kan ya?
Sudah dua hari terakhir jelang lebaran cuacanya panas. Langit begitu cerah membiru. Matahari juga terik bersinar. Kendaraan yang digunakan orang yang mudik lebaran 2024 makin banyak berseliweran. Memanfaatkan cuaca bagus untuk bepergian.
Pemandangan yang sangat mengharukan, melihat betapa angkaribung nya para pemotor juga kendaraan roda empat yang nambah bagasi dadakan di atap mobil, karena bagaimanapun mereka rela menempuh perjalanan panjang dengan cuaca yang sangat terik disebabkan karena pasti sangat merindukan keluarga di kampung halaman, dengan barang bawaan yang beraneka macam. Buah tangan dan bekal untuk keluarga di kampung.
Apakah saya ikut mudik? Masih ada ibu di Sukanagara, tetangga kecamatan Pagelaran tempat kami tinggal di Cianjur ini, mengunjunginya masih jadi rutinitas saya selaku anak perempuan pertama. Apalagi delapan bulan terakhir ini ibu saya menderita diabetes, membuat pola makan dan kebiasaannya banyak yang diubah. Saya dan adik jadi sering berkunjung untuk melihat kondisinya.
Mau tidak mau ibu saya harus mau mengikuti anjuran dokter yang selalu melalui anak dan mantunya sampaikan. Baik soal makanan apa yang boleh apa yang tidak boleh dimakan, soal pola tidur yang disarankan termasuk olahraga ringan yang sesuai dengan usianya. Meski untuk semua itu tentu saja disertai banyak drama.
Sehari jelang lebaran saya mudik ke rumah ibu. Berangkat pagi, pulang setelah ashar. Sengaja memasak sedikit karena semua anak menantu beserta cucu dan cicit ibu saya sepakat kalau lebaran ini tidak akan makan bersama di rumah ibu seperti biasa. Pertama karena tidak enak dengan kondisi ibu yang begitu banyak pantangan makanan, selanjutnya saya dan keluarga juga tidak akan menginap.
Hari lebaran setelah solat Eid di kampung dan bersilaturahmi dengan seluruh tetangga saya suami dan anak kembali mudik ke rumah ibu. Berangkat sekitar jam sembilan pagi. Cuaca sangat cerah dan karena itu kami tidak membawa jas hujan. Padahal biasanya jas hujan apapun cuacanya selalu sedia dalam bagasi motor.
Sebentar lagi menuju ashar, cuaca tiba-tiba mendung. Seharusnya tidak aneh mengingat di Sukanagara tempat ibu saya tinggal lokasinya yang lebih banyak perkebunan teh memang sering diselimuti kabut. Tapi kali ini beda. Kami merasa jika tak segera pulang maka akan kerepotan karena kuburu hujan turun bahkan mungkin akan kemalaman.
Akhirnya saya dan suami beserta anak nekat pulang. Berharap tidak kehujanan di jalan. Tapi apa daya, baru seperempat perjalanan, hujan turun di daerah Cijatem. Terpaksa kami mencari tempat untuk berteduh.
Kebetulan dekat SD ada ruko yang tutup. Di sana sudah ada dua sepeda motor yang berteduh lebih dulu. Suami langsung parkir motor di sana juga.
Sambil menuju hujan reda satu sama lain yang berteduh ini saling bertanya asal dan tujuan. Entah kebetulan atau bagaimana, ternyata dua pengendara yang lebih dulu berteduh itu tujuannya juga mau ke Pagelaran.
Yang satu ke Desa Gelar Anyar, mudik ke rumah orang tua sangat istri. Yang satu lagi ke daerah Pasirkuda. Dulu memang wilayah kecamatan Pagelaran tapi sekarang sudah ada pemekaran dan Pasirkuda berdiri menjadi kecamatan sendiri terpisah dari Pagelaran. Keduanya menuju ke Pagelaran coret alias ke pelosok nya lagi.
Suasana menjadi lebih akrab, ketika tahu mereka para bapaknya itu berprofesi sebagai satpam di Cianjur kota. Mereka baru saja menyelesaikan kerja shift malam. Makanya siang ini baru bisa mudik. Secara pagi setelah solat Eid mereka bilang tidur dulu untuk mengembalikan stamina dan kesegaran menempuh perjalanan sekitar 3 jam kendaraan. Sayangnya baru sampai di Sukanagara ini mereka malah kejebak hujan.
Sebenarnya bisa saja mereka menerobos hujan, tapi karena bawa anak kecil dan istri ditambah parcel serta kue lebaran plus pakaian anak yang rawan rusak akhirnya mereka memilih berteduh.
Lebih seru obrolannya ketika tiba-tiba datang lagi sebuah sepeda motor dan ternyata mereka saling kenal karena satu profesi juga.
Saya pikir apakah semua pekerja bagian security bernasib sama yaitu baru bisa mudik di hari H lebaran? Mengingat tugas orang dengan profesi yang sama ini kok bisa barengan begitu?
Yang baru datang itu bercerita kalau semalam ia bersama warga di tempatnya kerja berhasil menangkap maling di sebuah rumah kosong. Makin seru deh obrolan mereka. Saya dan suami nyimak saja. Sesekali menimpali. Sementara anak saya anteng aja main game di ponselnya.
Tak terasa hampir satu jam kami berteduh dan menyimak obrolan mereka. Melihat hujan mulai mereda, saya dan suami berkemas untuk meneruskan perjalanan. Toh kami sebenarnya yang paling dekat dan tak membawa barang yang rentan rusak secara jika mereka baru akan mudik, saya dan keluarga justru telah mudik balik.
Setelah berpisah dengan mereka seolah pemikiran saya semakin terbuka. Mempersiapkan segala sesuatu seperti jas hujan jadi pelajaran juga. Jangan hanya melihat cuaca cerah atau perjalanan dekat, lalu abai dengan perlengkapan berkendara pribadi. Masih mending cuma jas hujan. Bisa neduh, nambah silaturahmi, dll. Coba kalau yg lupa bawa itu hal yang begitu penting lainnya? Intinya jangan menyepelekan!
Mudik lebaran 2024 kali ini rasanya cukup berkesan karena terjebak hujan kami jadi bisa mengetahui bagaimana suka duka profesi jadi penjaga keamanan yang mana mereka rela mengalah menghanguskan waktu spesial bersama keluarga karena pekerjaan.
Semoga kalian bisa ambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman mudik ala-ala saya ini ya...
Citambur dan Rumah Abah Jajang jadi tempat wisata favorit di Cianjur Selatan khususnya bagi mereka yang sedang menghabiskan liburan lebaran. Fasilitas apa saja yang ada di sana?
Jauh sebelum lebaran, tepatnya sebelum tahun baru 2024 akses jalan ke Curug Citambur yang juga sekaligus menuju ke rumah Abah Jajang diperbaiki. Jalan yang semula hancur karena aspalnya sudah mengelupas bahkan hilang menyisakan bebatuan yang menonjol menyebabkan kendaraan yang melewatinya seperti berada dalam kondisi guncangan gempa itu berganti dengan cor mulai dari Sinagar Kecamatan Tanggeung sampai Cipelah Pasirkuda Perbatasan Cianjur dengan Kabupaten Bandung.
Pemerintah Cianjur berdalih pengecoran jalan itu dilakukan untuk meningkatkan pariwisata. Meski saya dan masyarakat setempat banyak yang senyum sinis dengan wacana itu. Kenapa baru sekarang hendak pemilu pengecoran jalan itu dilakukan, bukan sejak dulu, jelas-jelas jalan rusak itu sangat menyiksa masyarakat. Kalau bukan karena kepentingan pribadi demi melancarkan pemilihan yang diusung partainya, mau alasan apa lagi?
Konon katanya pemerintah Kabupaten Cianjur, menyiapkan anggaran Rp 50 miliar untuk pengecoran jalan beton ruas jalan Sinagar-Cipelah sepanjang 16 kilometer yang membentang di Kecamatan Pasirkuda itu. Lebih dari itu juga wajar toh bukan pakai uang pribadi. Lagian masyarakat juga bayar pajak bukan? Justru miris kalau negara ini hampir seratus tahun merdeka sementara jalan kabupaten di Cianjur ini masih hancur gitu aja. Jomplang dengan jalan di perbatasan setelahnya seperti Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sukabumi yang justru lebih dulu sudah halus dicor permanen.
Pemandangan dari rumah Abah Jajang ke Curug Citambur
Asal tahu saja kalau jalan yang diperbaiki ini memang melintasi sejumlah obyek wisata air di wilayah selatan Cianjur. Tak heran kalau salah satu alasan yang diungkapkan saat melakukan pengecoran jalan beton yang dimaksudkan katanya untuk meningkatkan perekonomian dan angka kunjungan wisatawan.
Pengecoran jalan kabupaten Sinagar-Cipelah II sepanjang 7,5 kilometer dari Kampung Ciparaya - Batujadi, Desa Simpang, sudah dilakukan lebih dulu. Untuk jalan kabupaten Sinagar-Cipelah I sepanjang 8,95 kilometer dilakukan beberapa hari kemudian.
Dulu target pengecoran jalan kabupaten Sinagar-Cipelah sepanjang 16 kilometer itu, dapat tuntas dan dilalui kendaraan di akhir tahun tepatnya bulan Desember, sehingga dapat meningkatkan angka kunjungan ke sejumlah obyek wisata terutama air terjun. Meski nyatanya lewat Januari 2024 jalan itu baru bisa dilalui secara normal.
Di sepanjang jalur Sinagar-Cipelah, terdapat obyek wisata air terjun dan rumah abah Jajang yang sempat viral karena memiliki pemandangan langsung ke Curug Citambur yang memiliki pesona alam tersendiri serta sejumlah obyek wisata penunjang lainnya.
Memang sejak jelang Ramadan banyak sekali pengunjung yang datang ke Curug Citambur dan Rumah Abah Jajang untuk berwisata. Ada yang sengaja untuk papajar alias munggahan (tradisi menyambut bulan suci Ramadan yang diisi dengan silaturahmi dan makan bersama) ada pula yang berwisata menikmati keindahan alam secara pemandangan maupun bermain air.
Di Curug Citambur, selain bisa menikmati keindahan air terjunnya juga ada beberapa spot foto Instagramable dan tetapi ikan. Tarif karcis masuk lima ribu rupiah per orang. Parkir kendaraan roda dua lima ribu, roda empat sepuluh ribu.
Di lokasi air terjunnya banyak terdapat warung yang menyediakan jajanan khas lokasi wisata. Makanan berat dan kopi juga ada.
Di rumah Abah Jajang, saking banyaknya pengunjung yang datang setelah viral itu keluarga Abah Jajang mengkoordinasi memfasilitasi penyediaan makanan khas perkampungan bagi pengunjung seperti nasi liwet, lalapan dan sambal dengan harga terjangkau. Bisa dirata-ratakan per orang bayar dua puluh ribu rupiah aja.
Saking banyaknya tamu yang datang jelang Ramadan bagi yang ingin datang papajar ke Rumah Abah Jajang sampai harus bikin reservasi dulu lho.
Sekarang saat lebaran pengunjung yang datang pun tak kalah banyaknya. Curug Citambur dan Rumah Abah Jajang saat ini masih mendominasi jadi tempat wisata favorit di kampung saya khususnya bagi masyarakat sekitar yang sedang liburan.
Sebelum Ramadan, tepatnya mulai tanggal 17-25 Februari 2024 Ponpes Al Ihtisom Choblong Warung Kondang Cianjur mengadakan wisata religi mengunjungi makam Wali Songo dan lokasi wisata religi lainnya yang dilewati di Pulau Jawa hingga Madura.
Merasa beruntung saya dan keluarga bisa ikut rombongan keluarga ponpes tersebut secara biasanya, rombongan hanya terdiri dari keluarga besar ponpes saja. Sementara saya dan keluarga, jujur saja bukan siapa-siapa. Kebetulan saja ketika suami mengikuti pengajian online yang diadakan Kang Deden Usman Ridwan (Ketua PCNU Cianjur) ada informasi kalau masih ada kursi kosong untuk wisata religi tahun 2024 ini. Maka segeralah suami mendaftarkan diri. Hingga akhirnya saya dan keluarga bisa nyempil menjadi bagian dari rombongan keluarga besar ponpes.
Wisata religi di setiap ponpes ini biasanya diadakan setahun sekali. Di ponpes Al Ihtisom Choblong Warung Kondang Cianjur ini, momen ziarah Wali Songo sekaligus menjadi perjalanan religi santri dan santriwati yang lulus. Malah informasinya katanya santri dan santriwati yang berprestasi dengan nilai tertinggi justru mendapatkan reward perjalanan religi Wali Songo ini gratis.
Lulusan pesantren yang mengikuti ziarah ini sekaligus mempraktikkan hafalan Kitab Alfiyah untuk membacakannya di setiap makam wali atau ulama yang dikunjungi.
Bagi yang belum tahu, kitab Alfiyah Ibnu Malik adalah kitab nahwu shorof lengkap berbentuk nadhom atau syair yang terdiri atas 1.002 bait, itulah kenapa kitab ini dinamakan dengan alfiyah yang berarti seribu.
Kitab Alfiyah banyak dipelajari oleh santri-santri di pondok pesantren, biasanya dipelajari setelah mereka belajar Jurumiyah dan Imriti.
Di sekitar makam Sunan Gunung Jati Cirebon
Oke kita kembali ke awal, mengenai wisata religi ini berangkat dari Cianjur malam hari dan sampai di tujuan pertama di makam Sunan Gunung Jati.
Suasana sangat crowded ketika turun dari bis. Maklum saya itu menjelang subuh, waktunya semua pengunjung bersiap untuk menghadap Sang Pencipta.
Sayangnya, fasilitas toilet dan tempat untuk berwudhu sangat tidak sebanding dengan pengunjung yang membludak. Malah airnya mati sehingga tidak bisa berwudhu sama sekali.
Mau ke toilet umum yang berbayar di dekat parkir bis, takut malah terpisah dari rombongan. Dan itu juga jaraknya cukup jauh.
Iseng, saya yang berpisah dari anak dan suami, setelah masuk kamar mandi dan di sana tak bisa berwudhu apalagi bersih-bersih karena airnya mati, melipir ke belakang dekat kolam. Ternyata di sana ada seperti pancuran darurat yang dibuat baru. Terhalang tenda dan kursi undangan.
Belakangan saya tahu dari spanduk yang ada di parkiran kalau kemarin di lokasi itu sudah ada tabligh akbar dan tenda serta kursi yang belum dibereskan itu adalah bekasnya yang belum dibereskan.
Saya coba buka keran air paling sisi, Alhamdulillah walau kecil ada air untuk berwudhu. Kebetulan nya lagi, anak dan suami tiba-tiba menghampiri saya. Langsung saja saya suruh segera wudhu di tempat saya tadi wudhu, sebelum airnya habis dan banyak orang lagi yang datang.
Alhamdulillah meski sangat darurat kami bisa menjalankan solat subuh di masjid besar Abdurrahman tersebut. Setelahnya lalu melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati.
Setelah dari Demak kami ke Makam Sunan Kudus
Perjalanan terus berlanjut. Satu persatu makam wali kami ziarahi sesuai urutan jarak yang terdekat dari arah barat ke timur. Selain di Cirebon, semuanya berjalan aman dan tertib. Baik waktu solat, makan maupun saat melakukan ziarah.
Di setiap akhir ziarah itulah, para santri Al Ihtisom yang tahun ini lulus mondok itu pun membacakan Alifah secara serentak dan semangat bersamaan.
Malam menjelang sampai di Makam Sunan Muria, kami menginap di penginapan yang berada di ujung terminal. Keesokan paginya baru melanjutkan ziarah ke atas. Ada yang jalan kaki, ada yang mengendarai ojek kendaraan bermotor. Ongkos per orang dua puluh ribu rupiah.
Foto bareng di halaman Masjid Agung Tuban
Sekarang menuju makam wali dari parkiran bus itu kebanyakan disarankan untuk naik ojek, becak atau kendaraan khusus macam DAMRI yang disediakan pemerintah daerah. Mungkin untuk memberdayakan masyarakat setempat.
Mau tidak mau kita harus menyiapkan uang ongkos pulang pergi sekitar sepuluh sampai empat puluh ribu rupiah per orang di setiap lokasi ziarah makam wali.
Malam berikutnya kami tidur dalam bis mengingat kunjungan dari satu makam ke makam lain lumayan berjauhan. Sepulangnya dari Madura kami baru akan menginap di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur.
Di Ponpes Lirboyo Kediri Jawa Timur
Sebelum ke Lirboyo kami sempat mampir ziarah ke Jombang dimana makam Abdurrahman Wahid alias Gus Dur berada. Selanjutnya perjalanan berikutnya ke kota Kediri.
Putra putri pengurus Ponpes Al Ihtisom Choblong Warung Kondang Cianjur banyak yang mondok di Lirboyo dimana Kang Deden Ustman sendiri selaku pemimpin pondok dulunya belajar di Ponpes Lirboyo ini sampai belasan tahun!
Keesokan harinya, setelah ziarah ke makam sesepuh ponpes Lirboyo Kediri kami menyaksikan ratusan bis yang terparkir di lapangan pesantren. Bus itu membawa para santri yang akan mudik ke kampung halaman masing-masing.
Suara klakson telolet saling bersahutan dari satu bisa dengan bis lainnya. Perjalanan satu per satu bis keluar lapangan pondok membawa santri di dalamnya yang sudah merindukan keluarga dan kampung halaman.
Santri yang bertugas menjadi panitia pun terlihat wara-wiri sibuk dengan handy talky di tangan mengkoordinasikan semua supaya lancar. Bayangkan, puluhan ribu santri yang akan pulang itu tentu saja harus dipastikan kenyamanan serta keamanan nya.
Pemandangan ini sungguh sangat mengharukan dan bisa jadi bagi para santri dan santriwati hal itu jadi sebuah memori yang sangat berkesan.
Setelah menjemput putra putri pengurus Ponpes Al Ihtisom Choblong Warung Kondang Cianjur rombongan ziarah kami pun melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Di sini kami mampir di kampung halamannya KH Badruddin Ilham, salah satu pengurus dan pengajar di ponpes Al Ihtisom Choblong Warung Kondang Cianjur.
Ziarah di makam keluarga besar KH Badruddin Ilham Mlingi Yogyakarta
Barulah setelah itu kami bisa sedikit bersantai seperti jalan ke Malioboro, atau main ke Prambanan.
Kami menghabiskan waktu kepulangan dengan main ke pantai Parangtritis. Setelah puas bermain air dan pasirnya barulah kami pulang ke Cianjur.
Lega rasanya ketika kami sampai dengan selamat di Cianjur berpisah dengan rombongan ziarah dan para santri santriwati dengan meninggalkan banyak kenangan
Dengan berat hati harus saya sampaikan, pada Ramadan kali ini, tidak ada bingkisan maupun THR buat santri mengaji di Pondok Al Hidayah yang kami kelola. Suami saya selaku pengelola juga menyetujuinya.
Padahal sebelumnya, jangankan untuk Hari Raya Idul Fitri, untuk acara Maulid Nabi ataupun Isra Miraj Rasulullah, serta peringatan Tahun Baru hijriah 1 Muharram saya selalu mengupayakan memberikan bingkisan ala-ala kepada semua anak didik mengaji sebagai reward dan penyemangat atas semangat mereka untuk bisa konsisten mengaji.
Kendala yang menyebabkan hilangnya kebiasaan membagikan bingkisan buat anak santri dan santriwati yang utama tidak adanya dana pada kas keuangan pondok. Memang sudah dua tahun terakhir ini saya tidak aktif mencari donatur lagi.
Sejak gempa Cianjur lalu, mungkin waktu itu terakhir kali masuknya donasi untuk pondok. Yang sebenarnya itu sumbangan untuk bantuan gempa kepada saya dari teman-teman dunia maya. Tapi karena saya merasa tidak begitu terdampak, maka donasi yang masuk saya alokasikan untuk operasional pondok.
Kebetulan di pondok papan tulisnya sudah rusak. Jadi saya berinisiatif membeli papan tulis baru untuk kegiatan belajar mengajar. Tentu saja saya informasikan kepada donatur yang bersangkutan, jika donasi yang ditransfer saya gunakan untuk apa pada realisasinya.
Sejak itu, saya tidak menghubungi lagi para donatur yang biasanya ikut mendanai jika di Pondok Ngaji Al Hidayah ada kegiatan. Alasannya karena melihat kondisi perekonomian di negara kita pada umumnya yang sedang tidak stabil.
Bisa kita rasakan bukan harga sembako naik melambung secara terus-terusan. Belum BBM juga naik, semua pada menjerit terhimpit akan kebutuhan yang terus meningkat sementara pendapatan diam di tempat.
Atas pemikiran itu saya niatkan ada atau tidak ada donasi yang masuk, saya tetap tidak akan mengajukan proposal atau permintaan sumbangan.
Untuk kegiatan belajar mengajar di pondok ngaji semampunya saya danai dari uang pribadi. Alhamdulillah meski di rumah saja, walau recehan jika ada rezeki sedikit demi sedikit bisa nambah-nambah uang kas untuk pondok. Besar kecil dari pendapatan itulah operasional pondok berlangsung.
Saya dan suami menyadari jika pondok ini kami kelola semata-mata untuk mendapatkan kebaikan. Kami yang mendirikan, maka kami yang harus bertanggung jawab.
Maka bukan berarti kami anti berkegiatan sosial di Bulan Ramadan ini jika saya lebih banyak tidak mengikuti, karena sesungguhnya sudah setiap hari kami sudah dimintai pertanggungjawaban untuk membayar operasional semua kegiatan di pondok.
Saya lebih memilih mememprioritaskan anak santri yang kami didik terlebih dahulu berdasarkan keterangan bahwasanya orang yang paling utama menerima sedekah adalah Keluarga Terdekat. Dan bagi saya anak santri di rumah itu adalah keluarga saya juga.
Karena itu, jika saya diberikan rezeki lebih jangan dulu menjangkau yang jauh melainkan anak santri sendiri di rumah karena sejatinya itu yang lebih utama.
Saya tidak ikut berbagi takjil kepada yang jauh karena di rumah masih ada para santri yang lebih membutuhkan makanan. Saya tidak ikut menyumbang ini itu di luaran, karena di rumah sendiri ada puluhan kepala yang juga menjadi tanggungan saya.
Maka saat ada rezeki, kepada para santri pondok ngaji Al Hidayah dahulu saya mengutamakan bersedekah kebutuhannya.
Sedekah menjadi ladang pahala bagi kita. Hal itu telah dijanjikan oleh Allah Swt dalam surah Al-Hadid ayat 18 yang menyebut bahwa Allah akan melipatgandakan balasan dan memberi pahala yang mulia bagi hamba-Nya yang bersedekah.
Di masa ini, sedekah bisa dilakukan dengan mudah, namun jangan sampai diberikan kepada orang yang salah. Lantas, siapakah orang-orang yang paling utama yang berhak menerima sedekah?
Yang paling utama menerima sedekah berdasarkan Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad Saw: keluarga terdekat, tetangga terdekat, korban bencana dan orang fakir yang membutuhkan.
Keluarga Terdekat
Simak hadits berikut yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud, yang artinya, “Dari sahabat Abu Hurairah RA, ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah sedekah yang paling utama?’ Rasul menjawab, ‘Sedekah orang sedikit harta. Utamakanlah orang yang menjadi tanggung jawabmu,’” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Maksud dari orang menjadi tanggung jawab disini ialah kerabat keluarga. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan An-Nasa’i dan At-Tirmidzi, yang artinya, “Dari Salman bin Amir RA, dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda, ‘Sedekah kepada orang miskin (bernilai) satu sedekah. Tetapi sedekah kepada kerabat (bernilai) dua sedekah, pertama pahala sedekah, kedua pahala (jaga) silaturrahim.’” (HR An-Nasai dan At-Tirmidzi).
Berdasakarkan hadis Rasulullah Saw di atas, dapat disimpulkan bahwa penerima sedekah yang paling pertama dan utama adalah keluarga. Sebelum memberikan sedekah kepada orang lain yang membutuhkan, tengok terlebih dahulu keluarga sendiri.
Tetangga Terdekat
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad Saw bersabda: “Dia tidak akan masuk surga yang tetangganya tidak aman dari perbuatannya yang zalim.”
Rasulullah Saw menganjurkan umatnya agar melindungi dan membuat tetangga mereka merasa aman dan nyaman. Perintah itu juga meliputi soal bersedekah. Maka apabila tetangga terdekat kita membutuhkan bantuan, kita wajib menjadi penolongnya, dengan cara-cara yang baik. Namun, mengapa tetangga terdekat terlebih dahulu yang harus ditolong? Karena, Nabi Saw pernah bersabda:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu: “Aku berkata, wahai Rasulullah, aku punya dua tetangga, kepada siapakah aku memberikan hadiah?” Beliau (Rasul Saw) bersabda: “Yaitu kepada (tetangga) yang paling dekat pintu rumahnya darimu.” (HR al-Bukhari)
Tetangga terdekat adalah orang pertama yang akan menolong kita dalam kesusahan, untuk itu kita juga perlu melakukan hal yang sama agar kerukunan dan kenyamanan dapat terjaga dengan baik.
Korban Bencana
Para korban bencana sebagian besar kehilangan hal-hal dasar untuk kehidupan mereka yang paling dibutuhkan, seperti bahan makanan, tempat untuk tidur, hingga kesulitan air bersih. Kondisi seperti ini tentunya terasa sangat sulit dan menyedihkan bagi mereka. Oleh karena itu, memberikan sedekah untuk korban bencana menjadi salah satu yang utama.
Orang Fakir dan Membutuhkan
Kemiskinan masih menjadi masalah yang sulit diurai di negara kita. Masih ada banyak orang-orang fakir, baik itu dari segi ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan. Orang-orang tersebut sangat layak untuk diberikan sedekah, sehingga mereka mampu keluar dari kemiskinan.
Jadi sudah jelas ya, jika akan melakukan kegiatan sosial utamakan sedekah terhadap kerabat keluarga. Bersedekah terhadap kerabat keluarga dapat menjaga tali silaturahim antar keluarga. Namun, bersedekah kepada orang lain juga harus diutamakan, ya.
Tiba-tiba terdengar cekikikan anak-anak perempuan di belakang padahal saat itu semua sedang ma’mum solat witir.
Mungkin karena ada beberapa orang kurang fokus, jadi ketika imam membaca doa qunut di rakaat terakhir setelah ruku’, mereka kira langsung ke gerakan sujud. Alhasil karena kekeliruan itu gerakan solat berjamaah jadi agak kacau. Ada yang tetap berdiri ada yang langsung mau sujud tapi tidak jadi, jadi bangkit berdiri lagi. Karena itulah mungkin anak-anak itu cekikikan. Menertawakan sedikit kesemrawutan.
Tradisi di daerah kami, di momen separuh akhir Ramadan bagi pengikut madzhab Syafi’i memang ditandai dengan adanya imam membaca doa qunut pada saat rakat ketiga salat witir. Membaca doa qunut pada salat witir ini adalah sunnah.
Meski banyak perbedaan karena menganut madzhab yang berbeda namun itulah tanda indahnya Islam yang mengedepankan persatuan. Tidak usah diperdebatkan.
Seperti kita tahu di beberapa daerah di nusantara ini kita bisa menemukan beberapa tradisi unik dan satu sama lain berbeda untuk menandai separuh akhir Ramadan.
Selain pembacaan doa qunut tadi ada juga yang menandai dengan mengganti bacaan surah pada rakat pertama tarawih setelah bacaan surah Al Fatihah, imam kemudian membaca surah Al Qadr. Begitupun pada saat rakat kedua setelah bacaan surah Al Fatihah, imam membaca surah At Takasur.
Ada juga yang tepat pada malam ke enam belas, pengurus masjid setelah lepas witir mengadakan makan bersama dengan menu ketupat opor ayam atau lainnya.
Di masjid Agung Cianjur saya pernah tarawih di sana, makan bersamanya dengan hidangan nasi liwet. Sederhana tapi begitu semarak. Yang masak nasi liwet para pengurus dan penjaga masjid.
Memang beruntung ya sebenarnya kita menjadi warga negara Indonesia. Di negara kita ini memang sangat banyak ditemukan keunikan.
Termasuk keunikan dalam merayakan menyambut Ramadan maupun merayakan ketika Ramadan akan pergi.
Tradisi nyadran, munggahan, dan lain-lainnya bisa kita saksikan jika akan memasuki Ramadan. Di Cianjur tradisi Munggahan disebutnya papajar. Istilah boleh beda tapi ternyata tradisi ini punya kesamaan makna, dimana intinya adalah ngumpul-ngumpul makan bersama didahului dengan membacakan doa untuk arwah dan leluhur ditambah dengan nyekar ke makam keluarga.
Papajar, tradisi menyambut Ramadan dengan cara kumpulan lalu makan bersama
Di tempat saya tinggal dan sekitarnya, seolah kompak untuk papajar awal Ramadan kemarin itu kok banyak masyarakat yang menjadikan Rumah Abah Jajang (yang viral setelah diberitakan sebagai rumah surga di pedesaan dengan pemandangan air terjun di depannya namun sang pemilik yang seorang kakek bernama Jajang menolak untuk menjualnya padahal ditawari harga sekitar Rp2,5 miliar) sebagai lokasi tujuan papajar.
Saking membludaknya tamu yang mau papajar ke sana, harus bergantian dan sebagian yang jauh harus reservasi dulu. Gaya betul ya, hehe...
Namun begitulah masyarakat kita. Merasa senang dan bangga kalau tak tertinggal dari hal yang kekinian. Mungkin ada kepuasan tersendiri ketika bisa upload foto sedang papajar di lokasi rumah Abah Jajang. Bisa jadi ke depannya papajar di Pasirkuda Cianjur Selatan ini jadi sebuah sebuah tradisi juga.
Baru kekinian kalau sudah punya foto di rumah Abah Jajang
Tapi tidak bagi murid-muridnya suami tahun ini dimana yang di pegang adalah kelas 9C. Mereka berinisiatif papajar ngajak wali kelas, justru bukan di rumah Abah Jajang melainkan rumah kami.
Mungkin karena mereka lahir, tumbuh, besar dan sekolah di sekitar wilayah Curug Citambur jadi suasana rumah Abah Jajang tak begitu spesial lagi. Wong sehari-harinya disana disana juga.
Lucunya sebelum makan bareng ketika papajar di rumah kami, si ketua kelas inisiatif bikin vlog dengan voice over:
Papajar di rumah Abah Jajang ❎
Papajar di rumah wali kelas ☑️
(Baca: papajar di rumah Abah Jajang no, papajar di rumah wali kelas well)
Rumah Abah Jajang yang sempat viral masuk pemberitaan
Jadilah ketika masuk sekolah saat bulan Ramadan, anak kelas 9C dan suami yang ngajar di sekolah menengah di dekat Curug Citambur itu jadi bahan bulian dan candaan diantara para guru, kalau katanya kelas 9C anak Pak Iwan is well, haha ... Ada ada saja.
Sayangnya tradisi buka puasa bersama yang juga diinginkan murid kelas suami batal diadakan dikarenakan kondisi cuaca yang selalu tidak kondusif. Hujan selalu turun dengan derasnya. Cukup repot jika dipaksakan karena rumah setiap murid satu sama lain saling berjauhan dan tidak setiap anak punya kendaraan bermotor.
Anak kelas 9C mengaku bosan dengan lingkungan rumah Abah Jajang, mereka Papajar justru memilih di rumah wali kelasnya
Kami yang tinggal di kampung, pada jelang sepuluh malam terakhir Ramadan ini juga mulai menjumpai wajah-wajah baru yang mana mereka adalah sanak saudara warga setempat yang merantau dan baru datang mudik.
Khususnya di masjid suasananya semakin ramai karena sekaligus menghidupkan qiyamul lail. Begitu juga dengan ibadah i’tikaf yang juga ramai dihadiri oleh berbagai warga wajah baru stok lama, mereka yang baru pulang dari beberapa daerah di ibukota.
Beberapa tradisi menyambut dan berpisah dengan bulan Ramadan ini menambah syahdu bulan Ramadan yang mungkin tidak akan kita temukan di negara-negara lain.
Sesungguhnya masyarakat seluruh Nusantara ini perlu merawat tradisi ini sebagai sebuah kekayaan. Selain merawat tradisi, ini juga merupakan bagian daripada moderasi beragama dimana kita perlu akomodatif dengan budaya lokal.
Kedepannya bisa jadi Papajar ke sini jadi sebuah tradisi Ramadan
Budaya-budaya lokal yang berbeda satu sama lain ini jangan dianggap sebagai sebuah ancaman, akan tetapi anggaplah sebagai bagian untuk memperkaya ritual keagamaan.
Hal yang perlu kita tangkap adalah substansinya, karena di dalamnya ada nilai-nilai kebersamaan, silaturahim dan sosial.
Kita berharap Ramadan kali ini tidak berlalu begitu saja, harus ada perbaikan amal dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga generasi muda bisa melestarikan tradisi-tradisi lokal ini sehingga menjadi bahan cerita yang seru untuk anak cucu kelak.
Kulit kusam rentan dialami selama Ramadan, lalu bagaimana cara menggunakan skincare yang tepat saat puasa menurut ahli?
Adakah perubahan yang dirasakan di kulit wajah selama menjalankan ibadah puasa Ramadan kali ini?
Saya sendiri tidak merasa mengalami perubahan. Kecuali merasa kulit lebih dingin karena selama bulan Ramadan kali ini hampir setiap hari hujan terus mengguyur.
Otomatis karena hujan jadi tidak sering bepergian ke luar rumah. Kalaupun ada kepentingan, badan dan wajah tidak terkena sinar matahari langsung. Secara saat hujan, matahari tidak menampakkan kegarangannya dalam menyinari bumi yang dimana di sana ada hujan turun.
Banyak para beauty blogger bilang penggunaan skincare di bulan puasa bisa berbeda dengan produk perawatan kulit yang biasa dilakukan saat sedang tidak berpuasa. Hal itu dikarenakan adanya perubahan pola makan, minum, dan perubahan kebiasaan waktu tidur selama puasa yang dapat berpengaruh pada kesehatan kulit.
Kita tahu kalau secara umum salah satu masalah yang sering terjadi saat berpuasa adalah dehidrasi atau kekurangan cairan.
Dehidrasi ini bisa memberikan dampak negatif pada kelembaban kulit, lho. Wajah pun akan terasa menjadi lebih kering, lebih kasar, bahkan suka muncul garis halus di beberapa bagian.
Itulah kenapa banyak pihak yang sangat menyarankan kalau sedang berpuasa sebaiknya tetap menjaga asupan cairan di tubuh dengan minum air putih yang cukup.
Cukupi cairan dalam tubuh bisa dipercaya dapat menjaga kelembaban kulit kita dari dalam. Namun itu saja tidak cukup karena kita juga bisa menghidrasi kulit dari luar sekaligus.
Bagaimana mencukupi kelembaban kulit dari luar selama berpuasa?
Caranya dengan menerapkan basic skincare khusus selama Ramadan dengan beberapa produk pilihan yang sudah aman dan terpercaya.
Basic Skincare Rutin Saat Bulan Puasa
Pada hari biasa atau saat tidak berpuasa, basic skincare untuk wajah sebenarnya hanya memerlukan tiga tahap, yaitu membersihkan wajah dengan pembersih muka, mengaplikasi moisturizer, dan memakai sunscreen yang hanya dipakai saat pagi hari terutama ketika akan ke luar ruangan.
Nah, khusus selama bulan puasa, ada beberapa produk yang sebaiknya ditambahkan pada basic skincare routine kita itu agar kulit lebih terhidrasi.
Berikut rekomendasi basic skincare saat puasa seperti dikutip dari website Theraskin
Cleanser
Cleanser atau pembersih muka adalah tahap awal dari basic skincare. Fungsinya untuk membersihkan kotoran maupun minyak berlebih pada kulit wajah.
Sesuaikan cleanser yang cocok dengan wajah kita. Apakah cleanser berbasis minyak untuk tipe kulit kering, atau cleanser berbasis air jika jenis kulitnya berminyak dan berjerawat.
Kalau kulitnya jenis normal, bebas aja sih ya bisa memilih cleanser jenis apa saja, tapi disarankan memilih oil based cleanser karena lebih lembut dan memberi hidrasi ekstra pada kulit.
Disarankan mencuci muka hanya 2-3 kali sehari. Terlalu sering cuci muka justru akan menghilangkan minyak alami kulit dan membuat wajah menjadi lebih kering.
Eye Cream
Tahap selanjutnya adalah pemakaian eye cream. Kulit di sekitar mata cenderung lebih tipis dan sensitif. Tak hanya itu, kerutan juga umumnya lebih sering muncul di area mata sehingga membutuhkan perawatan ekstra.
Eye cream merupakan produk skincare yang berfungsi untuk melembabkan sekaligus menutrisi kulit area mata. Kulit pun akan jadi lebih halus sekaligus terhindar dari dark circle maupun tanda penuaan dini seperti garis halus dan kerutan.
Moisturizer
Moisturizer atau pelembab wajah adalah basic skincare yang tidak boleh terlewat. Bahkan, kulit berminyak sekalipun tetap butuh moisturizer agar wajah tetap terhidrasi dengan baik. Moisturizer tak hanya untuk melembabkan, tapi juga membuat kulit lebih halus, kenyal, dan sehat.
Jika memiliki jenis kulit kering, pilihlah moisturizer berupa cream atau balm. Bagi pemilik kulit berminyak, disarankan untuk memilih moisturizer yang konsistensinya lebih cair dan ringan seperti gel.
Sunscreen
Sunscreen atau tabir surya berfungsi melindungi kulit dari bahaya sinar matahari. Pilih sunscreen yang mampu memberikan perlindungan ganda atau broad spectrum karena bisa melindungi kulit dari sinar UVA dan UVB.
Perlindungan UVA ditandai dengan label PA yang diikuti tanda plus (+). Semakin banyak tanda plus, maka semakin tinggi level perlindungannya.
Sementara perlindungan UVB ditandai dengan label SPF. Usahakan memilih sunscreen dengan minimal SPF 30 atau lebih tinggi demi mencegah terjadinya sunburn.
Lip Balm
Tak hanya kulit wajah, bibir pun perlu mendapat perawatan agar tidak kering dan pecah-pecah selama puasa. Lip balm merupakan produk yang bisa melembabkan sekaligus menutrisi bibir.
Memakai lip balm ini bisa kapan saja, khususnya saat bibir terasa kering. Hindari membasahi bibir dengan ludah karena hal itu justru bisa membuat bibir semakin kering saat sedang berpuasa.
Salah satu masalah kulit yang kerap dialami saat bulan Ramadan adalah kulit kusam yang disebabkan oleh kulit kering dan dehidrasi.
Dehidrasi kulit merupakan keadaan sementara yang disebabkan oleh berkurangnya kadar air pada lapisan atas kulit, sedangkan kulit kering disebabkan oleh berkurangnya produksi minyak dan lipid.
Lantas, bagaimana cara mengatasi kulit kusam yang sering terjadi pada saat berpuasa?
Perawatan Kulit saat Puasa
Penting untuk dipahami bahwa berpuasa bisa menyebabkan tubuh kekurangan air dalam waktu lama. Hal itu dapat membuat kulit kita mengalami dehidrasi yang menyebabkan tekstur kulit menjadi kasar atau kusam.
Disarankan untuk tetap menggunakan perawatan kulit yang lembut dengan fokus pada menghidrasi fungsi pelindung kulit. Hindari penggunaan pembersih berbusa dan eksfolian kimia jika kulitnterasa kencang dan kering.
Pembersih berbentuk krim yang lembut akan menghilangkan penumpukan minyak, sel kulit mati, kotoran dan polusi dari kulit tanpa membuatnya terasa kering dan kencang.
Melembapkan juga langkah penting dalam mengurangi kekeringan. Pilih pelembap yang mengandung humektan, misalnya asam hialuronat, ceramide, dan gliserin yang merupakan bahan utama dalam menghidrasi kulit.
Untuk menjaga hidrasi pada kulit sepanjang hari, penggunaan facial mist juga akan membantu menjaga kulit tetap lembap.
Penggunaan tabir surya setiap hari juga penting dalam melindungi kulit dari sinar ultraviolet yang berbahaya.
Banyak produk skincare di luaran yang sudah terdaftar di BPOM dan telah memiliki sertifikat HALAL salah satunya Theraskin.
Kenapa disarankan menggunakan produk Theraskin? Karena terbukti kalau Theraskin brand pilihan pakar dermatologi sejak 2011.
Theraskin dikembangkan sebagai medical skincare untuk memenuhi kebutuhan skincare di klinik dokter dan apotek di berbagai penjuru Indonesia.
Didukung tim yang inovatif, Theraskin menawarkan rangkaian produk skincare dan body care yang efektif, sudah terdaftar di BPOM sehingga aman dan halal dengan harga terjangkau.
Jadi tidak ada alasan lagi kulit kita jadi terlihat kusam walaupun sedang berpuasa, ya. Asal kita tahu tips dan rahasianya itu tadi...
Mengenang momen Ramadan tak terlupakan yang pernah saya alami ketika tinggal di Bandung, Tasikmalaya, Cianjur, Singapura, Hongkong dan Taiwan ini ternyata tidak mudah. Mungkin saking dalam kenangannya, saat menuliskannya tidak sadar saya sampai ikut tertawa dan bahkan berderai air mata...
Tidak semua kenangan masa kecil saat menjalani bulan Ramadan cukup kuat dalam ingatan. Tapi ada beberapa potongan memori yang bertahan dengan jelas, terbayang seolah kejadiannya bisa diputar berulang.
Pertama kali menjalankan ibadah puasa Ramadan yang saya ingat itu ketika masih tinggal di Bandung. Kebetulan rumah yang ditempati berada di samping Masjid Jami At Taufik di Jalan Gumuruh Gatot Subroto yang mana di sana salah satu tempat saya mentahbiskan masa kecil yang tidak akan terlupakan.
Bersama teman masa kecil ada adik kakak Angga dan Anggi, Ari, Nia dan adiknya Agus (sama dengan saya memiliki adik bernama Agus) lalu ada Hani dan Desty, dan Hendi yang kesemuanya selalu bermain bersama manakala mengaji di masjid atau bermain di lapangan rumput depan masjid menunggu waktu berbuka.
Bermain sarung, bermain ayunan di pagar masjid, jalan pagi dan sore ke Martanegara atau ke Lapangan Seskoad (saat itu Neneknya Nia kerja di sana), semua selalu terbayang menjadi kenangan manis yang tidak terlupakan. Dibarengi candaan dan kejahilan masa-masa anak kecil jaman dulu tanpa terkontaminasi gadget pastinya.
Masih ingat juga ketika saya entah kelas satu atau dua SD, melihat adik yang puasa sampai setengah hari dan berbuka sendiri makan dengan sayur, saya ikut tergoda. Lalu diam-diam menyendok sayur langsung dari pancinya dan memakannya dengan sembunyi-sembunyi. Tentu saja pada ibu dan bapak mah saya bilangnya masih berpuasa. Haha... Namanya juga masih kecil, saya ceritakan ini bukan mau buka aib ya. Supaya jadi pelajaran yang tidak terlupakan saja. Jangan sampai anak sekarang mengikuti hal buruk seperti yang saya lakukan diam-diam kala itu ya...
Kenangan lainnya kalau cuaca bagus, diajak bapak ngabuburit ikut ke pasar Kiaracondong. Di sana bisa beli jajanan khas Ramadan. Apalagi kalau bukan kolek dan kembang api. Sementara saya selain jajan itu juga keukeuh minta ke bapak dibelikan majalah anak bekas. Dan bapak gak bisa menolak walau uangnya gak cukup, ia sampai minjam ke temannya sesama yang berjualan.
Ah, semoga segala kebaikan dan kasih sayang almarhum bapak saya itu mendapatkan balasan dari Allah SWT. Aamiin... Sungguh, saya rindu Bapak di momen Ramadan ini, Pak...
Ramadan selanjutnya saya alami di Tasikmalaya karena saya melanjutkan sekolah di sana ikut nenek dari pihak bapak.
Masih terbayang juga pertama kali ikut pengajian pesantren kilat bersama teman sepermainan sekaligus sekolah di SMP. Ada Nelis, Rini, dan kawan laki-laki lainnya.
Saat itu saya masih bisa dibilang polos. Sementara teman-teman lain di kampung sudah pada tahu tentang pacaran. Ya semacam cinta monyet gitu lah. Jadi antara santri putri dan santri putra itu saling menaksir. Lalu diam-diam saling berkirim surat cinta. Haha... Masih ingat saja kalau saya lah yang menjadi kurir nya.
Sementara ke saya sendiri ga ada tuh yang ngasih surat. Hehe, kenapa saya jadi iri, ya? Ternyata belakangan diketahui kalau semua itu ulah sepupu dan paman-paman saya yang menjaga saya.
Jadi kalau ada surat berbau-bau love-love gitu buat saya mereka langsung jegal. Alasannya katanya karena amanat dari bapak saya, kalau saya sangat diwanti-wanti dititipkan pada mereka. Jadi sepupu dan paman saya yang sangat takut sama bapak (bapak saya anak pertama) manut banget.
Sebagai pengalihannya, saya diajak main ke sawah, ke sungai, ke desa sebelah dengan alasan mengunjungi saudara hingga pulangnya membawa kelapa muda, ikan hasil memancing dan sebagainya.
Tidak takut meski hanya saya anak perempuan satu-satunya dalam rombongan yang abring-abringan itu, karena kebanyakan dari mereka adalah para paman dan saudara yang usianya sudah lebih dewasa dari saya. Mereka itulah yang menjaga saya selama saya tinggal bersama nenek.
Terbayang tertawa sampai terpingkal-pingkal ketika nongkrong di anak tangga Kampung Naga, sambil praktik bahasa Inggris ketika ada turis yang lewat. Niat hati mau speaking English apa daya bahasa belepotan, jadinya malah jadi bahan bercandaan...
Sebagian lain berolahraga berlari naik turun tangga Kampung Naga yang jumlahnya lebih dari empat ratus anak tangga. Ya meski puasa, para paman dan sepupu saya itu sudah terbiasa berkeringat karena memang jalan itu satu-satunya akses keluar masuk kampung.
Menginjak remaja saya sekolah pindah lagi ke Sukanagara di Cianjur. Disini cuacanya lebih sejuk malah kadang bikin saya menggigil karena daerahnya perkebunan teh yang sering diselimuti kabut. Tak banyak kenangan saat Ramadan selain saya harus sudah mandiri, alias masak sahur sendiri.
Jadi kondisinya saat di Cianjur ini bapak sudah tidak ada, ibu saya merantau di ibukota cari nafkah bersama saudara-saudaranya. Saya dan adiklah berdua di rumah. Makanya beban saya seolah udah jadi pengganti bapak dan ibu saja. Berat aja menjalani Ramadan bersama adik kali itu.
Selama Ramadan saat sekolah di Cianjur saya hampir tak pernah ikut ngabuburit karena memilih diam di rumah saja. Selain udaranya menurut saya terlalu dingin, juga karena saya jomblo akut. Haha, gak enak kan kalo cuma jadi penonton mereka yang jalan-jalannya berpasangan. Selebihnya ya saya memilih menyiapkan semuanya di rumah daripada main keluyuran.
Selanjutnya saya lalui belasan Ramadan di luar negeri. Disinilah rasanya perjuangan saya ketika mempertahankan keimanan benar-benar diuji.
Ramadan di Singapura tidak begitu banyak kenangan karena lingkungan Melayu masih begitu kental. Walaupun majikan nonis (non Islam) saya masih bisa menjalankan puasa dan merasakan hawa Ramadan tetap kental di sekitar.
Yang bikin lucu itu anak majikan, namanya Jonathan. Saat itu usianya 4 tahun. Dia heboh bilang ke ibunya yang baru pulang dari Amerika kalau katanya sekarang Jiejie Lili baru bisa makan kalau sudah mendengarkan lagu. Rupanya yang dimaksud Jonathan lagu adalah kumandang adzan yang saya dengar dari radio. Ah, dasar bocah nonis...
Kalau Ramadan di Hongkong meski saya alami hanya dua kali, tapi rasanya terlalu banyak kenangan hingga saya sulit untuk menjelaskannya.
Saya bisa menjalankan ibadah puasa. Bahkan sering ikut kajian di Islamic Center di Masjid Omar di Wan Chai bersama teman-teman lain. Tapi semuanya kok terasa biasa saja. Mungkin karena perjuangannya kurang greget?
Barulah ketika menjalani Ramadan di Taiwan titik balik menjadi muslimah itu seolah saya alami dengan sesungguhnya.
Saya sempat adu mulut dengan orang tua majikan yang melarang saya berpuasa, dengan alasan dia takut saya mati di rumahnya kalau tidak makan. Baru ketika majikan turun tangan menjelaskan, mereka mulai paham dan membiarkan saya menjalankan puasa Ramadan dengan pengawalan yang ketat. Saya yang punya job jaga jompo, saat Ramadan kok jomponya yang malah jagain saya, haha...
Selama beberapa kali menjalani Ramadan di Taiwan, bersamaan waktunya dengan geliat literasi kepenulisan di dunia maya yang saat itu sedang semarak bermunculan. Saya bersama 24 penulis muslim WNI yang ada di berbagai negara di dunia berhasil membuat buku antologi tentang pengalaman menjalankan puasa di perantauan, lho.
Buku antologi pengalaman menjalankan puasa di perantauan yang saya terbitkan di Taiwan. Ini versi cetak ke dua setelah sebelumnya cetak pertama di Hong Kong tidak ada kabarnya sama sekali
Alhamdulillah hasil menerbitkan bukunya di Taiwan dengan sistem jual putus dengan perusahaan Indosuara itu saya bisa membagikan sedikit royalti ke puluhan kontributor yang tersebar di berbagai negara termasuk buku hasil cetaknya.
Waktu pulang saya sempat bawa beberapa eksemplar buku cetaknya itu dan saya bagikan ke Kompasianer senior kalau ga salah... Secara mereka juga yang membimbing saya dan berinteraksi di dunia blogging kala itu. Sebelum saya punya domain sendiri ini.
Masih banyak kenangan pengalaman momen Ramadan saya yang tidak terlupakan, tapi mungkin saya ceritakan lebih detail nya nanti dalam artikel terpisah ya. Untuk saat ini segitu saja dulu bernostalgia nya...
Gimana bisa ngabuburit saat Ramadan kalau sekarang ini setiap hari hujan terus mengguyur? Bisa gak ya ngabuburit nya sambil berteman hujan?
Hampir dua Minggu di awal Ramadan ini hujan selalu turun dari siang hingga malam. Buyar sudah rencana ngabuburit yang sudah dibayangkan. Mau bagaimana lagi, dengan kondisi jalan di perkampungan yang masih banyak rusaknya itu, kalau hujan banyak genangan yang membahayakan, jelas tidak memungkinkan untuk keluar sekadar jalan-jalan.
Sempat misuh-misuh karena gak bisa bermain keluar rumah, anak saya bisa menerima juga pada akhirnya ketika ia melihat berita di televisi banyak daerah kena banjir, termasuk makam Sunan Demak dan Sunan Kudus di Jawa Tengah.
Akhir bulan lalu, kami sekeluarga sempat berziarah ke sana. Alhamdulillah saat itu lancar dan banyak meninggalkan kesan mendalam. Makanya siapa sangka ketika banjir bisa merendam areal makan bersejarah itu, anak saya sampai kaget berkepanjangan.
Merasa beruntung ketika ziarah ke sana semua masih baik-baik saja. Merasa bersyukur meski dilancarkan hujan terus-menerus tapi wilayah tempat tinggal kami relatif cukup aman. Kami masih bisa bersantai, bisa beribadah dengan tenang dan aman. Karena menyadari itu merasa tidak ada seujung kukunya jika hanya karena hujan dan tak bisa jalan-jalan lalu kami harus merajuk?
Dan jika ditelaah lagi, ngabuburit itu tidak serta merta hanya berisi kegiatan jalan-jalan sore sambil menunggu magrib saja. Karena ternyata banyak juga kegiatan lain yang tetap bisa seru saat kita lakukan sambil menunggu waktu untuk berbuka.
Ngabuburit sambil membaca Al Quran
Satu juz dengan bacaan tartil itu bisa menghabiskan waktu sekitar empat puluh menit sampai satu jam. Dari ashar sampai waktu magrib jika mampu bisa menyelesaikan bacaan minimal tiga juz. Wow, bayangkan kalau setiap hari kita minimal membaca tiga juz, satu bulan bisa berapa kali khatam Al Quran, bukan?
Pasti senang sudahlah mendapatkan pahala, bacaan dan hafalan pun siapa tahu akan semakin lancar.
Ngabuburit dengan bikin kue bersama keluarga
Biasanya jelang sepertiga akhir Ramadan, kesibukan di rumah bertambah dengan adanya rutinitas membuat kue. Tentu saja ini pengecualian untuk yang mau praktis tinggal beli.
Pengalaman keluarga kecil kami, hanya dengan bikin kue bawang saja, dari abis duhur sampai ashar itu rasanya waktu tidak terasa berlalu begitu saja. Itu karena kami kerjakan diselingi canda dan tawa.
Anak dan suami juga mau bantuin daripada diam dan mau aktivitas di luar rumah juga hujan masih turun terus-menerus. Jadi ngisi waktu ngabuburitnya sambil bikin kue, lebih bermanfaat, bukan?
Ngabuburit dengan membaca buku, novel atau komik
Yang hobi membaca, daripada keluyuran di luar apalagi cuaca hujan kan emang lebih baik di rumah saja sambil menamatkan bacaan. Apalagi kalau di rumah bisa sambil gogoleran alias rebahan. Saat punya bacaan seru, tak terasa waktu itu terasa cepat berlalu lho, percayalah...
Ngabuburit sambil menjalankan hobi
Meski di luar hujan belum juga berhenti, bukan berarti aktivitas kita ikut terjebak ya. Kita masih bisa mengisinwaktu dengan melakukan hobi seperti bikin kreasi, merawat tanaman, menulis, mendengarkan musik, bermain dengan hewan peliharaan dll. Bukankah kalau mengerjakan apa yang kita sukai pasti akan mengerjakannya dengan happy dan tak terasa waktu berlalu begitu saja?
Ngabuburit sambil ikut kajian, pengajian , atau pesantren kilat
Jaman sekarang ketika teknologi sudah semakin canggih, belajar tidak harus datang ke lokasi saja. Kita bisa ikut belajar secara online.
Dan di Ramadan lali ini banyak pihak yang menyelenggarakan kajian atau pengajian secara online sehingga bisa kita ikuti meski kotanya di rumah saja.
Intinya banyak kegiatan yang lebih bermanfaat daripada sekadar bengong sambil nunggu hujan reda menuju waktu berbuka puasa.
Dan satu lagi, meski ngabuburitnya di rumah saja, tapi kita juga tetap bisa belanja jajanan khas Ramadan (yang istilahnya di Indonesia disebut takjil) secara sekarang mau beli atau pesan apa, tinggal ceki-ceki status WhatsApp teman saja. Bukannya di sana banyak yang promosi jualannya?
Hujan memang bisa menghentikan kegiatan kita di luaran. Tapi hujan juga bisa memberikan kita waktu yang berkualitas baik untuk dihabiskan bersama keluarga, waktu untuk introspeksi diri, dan waktu untuk memperbaiki semuanya.
Ngabuburit atau tidak, sama sekali tidak masalah selama hilal THR sudah terlihat jelas ya... Haha, apakah hubungannya?
“War Takjil” atau berburu takjil di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di kawasan perkotaan ternyata kejadian juga di kampung saya. Mirisnya saya salah satu pelakunya. Akward gak sih...
Berasa gak percaya kalau mengingat pengalaman tentang berperang berburu takjil di hari pertama puasa Selasa minggu lalu. Apalagi saya hampir adu mulut berkepanjangan karena kesal menghadapi sesama pembeli yang tidak antre, dan parahnya belakangan baru diketahui kalau ia yang berperang dengan saya adalah salah satu orang tua murid yang diajar suami. Haha! Malunya...
Jadi ceritanya anak saya mau beli salah satu merk ayam goreng yang baru buka gerai di kecamatan tempat kami tinggal. Maklum baru buka, yang beli banyak banget sementara si penjual gak siap menghadapi pembeli yang membludak.
Melihat situasi seperti itu saya sarankan pada anak untuk pergi saja, cari penjual ayam goreng lain yang tidak penuh. Tapi anak maunya ayam goreng yang baru buka itu. Katanya pengen mencoba.
Saya akhirnya mengikuti keinginan anak. Kasihan juga kalau ditolak, mana hari pertama puasa. Anggap saja mendapatkan ayam goreng penuh perjuangan dan kesabaran ini reward berpuasa untuknya.
Sepakat kalau anak dan suami memilih membeli minuman untuk berbuka lainnya dan akan menunggu di sepeda motor jika nanti saya belum selesai mendapatkan ayam goreng yang diincar. Jadi dengan penuh semangat saya maju mengantri bersama pembeli yang lain.
Namun gitu deh etika dan budaya antri di kampung masih rendah. Saya diserobot seorang ibu muda yang katanya anaknya udah nangis menunggu. Mana rumahnya jauh pula katanya takut kemagriban di jalan.
Hello, jelas saya tidak terima dengan semua alasannya itu. Dia pikir yang lain gak punya alasan seperti dirinya? Jelas saya tidak mau posisi pesanan saya diambil alih. Saya ngotot ke penjual minta keadilan dan sedikit menekan melalui ucapan kalau sekali penjual mengecewakan pembeli maka selanjutnya tidak akan ada lagi pembeli yang datang.
Si ibu muda tetap tidak terima. Saya pun. Apalagi melihat anak saya sudah gelisah bersama ayahnya menunggu sekian lama. Jiwa pemberontak saya langsung keluar. Main sikut ayo, main melotot mata sampai cakar-cakaran juga ayo. Demi kebenaran, siapa takut ...
Ketika ayam goreng sudah sedia, masih panas karena baru diangkat dari penggorengan, saya nekat masuk ke bagian dalam dan mengambil penjepit yang dipegang penjual. Seolah menjadi pelayan mereka, saya bilang saya mau menyiapkan sendiri saja pesanan saya.
Dengan cekatan saya memilih beberapa potong ayam goreng kesukaan anak, beberapa bungkus kentang yang sudah disediakan salah satu pelayan lain dan memasuki semuanya ke dalam plastik khusus. Lalu sambil minta sausnya saya minta dilihat dan dihitung karena mau saya bayar langsung.
Banyak pembeli yang bengong melihat aksi saya itu. Saya cuek saja. Toh saya juga membeli. Justru dengan menyiapkan sendiri saya ini udah meringankan pekerjaan pelayan, bukan?
Pelayan aja sampai ga bisa ngomong. Tapi tetap mengerjakan permintaan saya sampai memberikan uang kembalian. Setelah mengucap ijab kabul jual beli saya langsung menerobos antrian. Khusus di depan ibu muda yang tadinya mau menyerobot pesanan saya, saya mendekatinya.
“Maaf ya Teh, jangan sampai karena kurang adab dan etika, kita berperang memperebutkan gorengan ayam. Pahala puasa bisa hilang. Antri kalau mau aman dan sadar diri kalau datang belakangan.” Ucap saya kepadanya secara khusus.
Lega meninggalkan kerumunan mereka menuju parkiran disambut anak dan suami yang sekian lama menanti.
“Ada bicara apa sama orang yang baju hitam itu?” tanya suami. “Sepertinya itu orang tuanya si anu dari daerah anu. Ibu kenal?”
Hah? Saya melongo. Jadi yang nyerobot antrian dan saya kasih kuliah satu menit tadi itu orang tua nya dari murid suami?
Untung nya sih saya tidak kenal. Tapi kalaupun ujungnya bakal ketemu lagi, saya pastikan dia yang bakal malu. Bukan saya.
Ketika saya ceritakan kejadiannya pada anak dan suami, mereka tertawa. “Si ibu mah wanian ih,” celetuk anak saya. Mengatakan kalau katanya saya pemberani.
Ialah buat menyenangkan anak soleh satu-satunya di rumah selagi benar saya ini gak mau jadi pembeli merangkap pelayanan dan gak takut kalau cuma ngasih kuliah satu menit pada mereka yang bikin onar. Sombong saya sambil memeluknya gemas.
Sekarang kalau ingat kejadian perang berburu takjil ini jadi suka meringis sendiri. Tapi ya kita ambil hikmahnya aja, ya.
Dengan adanya war takjil, mungkin kita dapat mengatrol pergerakan ekonomi kreatif atau usaha kecil dan menengah (UMKM). Pedagang takjil tentu meningkat omset penjualannya karena banyaknya permintaan pasar. Hal itu juga membawa pengaruh pada usaha penyedia bahan pembuat takjil tersebut.
Selanjutnya ada siprit keagamaan pula dari masyarakat yang mampu atau instansi lainnya, mereka jadi banyak yang menyediakan menu berbuka puasa secara gratis bagi masyarakat dan musyafir.
Ngomong-ngomong akibat tren takjil yang dipopulerkan oleh netizen yang rata-rata dari kalangan genzi ini, pada tahu gak sih sudah terjadi pergeseran arti kata dan makna takjil?
Dalam bahasa Arab ada istilah ta’jil yang diartikan menyegerakan berbuka, tetapi dalam masyarakat Indonesia takjil justru diartikan malah berbagai makanan khas berbuka puasa.
Kata takjil berakar dari kata ‘ajila dalam bahasa Arab yang memiliki arti menyegerakan, sehingga takjil bermakna perintah untuk menyegerakan untuk berbuka puasa.
Hanya setelah mengalami berbagai penyesuaian kata Takjil jadi diartikan sebagai istilah yang digunakan untuk menyebut makanan atau minuman ringan yang dikonsumsi saat berbuka puasa pada bulan Ramadan.
Istilah takjil ini jadi merujuk kepada makanan atau minuman yang dimakan atau diminum untuk menyegarkan tubuh setelah berpuasa seharian penuh.
Tuh, jauh banget bedanya kan? Gap apa. Yang penting dipahami kalau telah terjadi perubahan makna takjil dari perbuatan ke makanan.
Takjil juga berbeda dengan iftar ya. Apa bedanya takjil dan ifthar?
Kita lihat dulu apa arti dari iftar atau ifthor. Kata Ifthor berasal dari bahasa Arab yang artinya buka puasa.
Jika takjil mengajarkan untuk bersabar menunggu waktu berbuka puasa sambil mengendalikan diri untuk tidak tergoda mengonsumsi makanan atau minuman sebelum waktu yang ditentukan. Sementara iftar mengajarkan untuk bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan dengan memulai kembali aktifitas makan dan minum setelah berpuasa.
Bulan Ramadan waktu yang penuh berkah dan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu momen yang dinantikan adalah berbuka puasa. Ucapan happy iftar selama bulan Ramadan ini cocok digunakan untuk mengucapkan selamat berbuka puasa dengan gaya lebih kekinian khususnya di media sosial.
Jadi kalau ingin memberikan ucapan berbuka puasa antimainstream, bisa menggunakan ucapan happy iftar ini aja.
Melihat kejadian itu semua moga semakin memberi keyakinan penuh bagi kita, bahwa Ramadhan adalah bulan keberkahan dan memberi rahmat bagi semua umat manusia sejalan dengan istilah bahwa Islam rahmatan lil’alamin bagi umat manusia di dunia ini ya...
Jajanan khas Ramadan yang ketiga ini memang lejend banget, deh ... Sampai anak saya semangat katanya gak sabar lagi untuk menanti bulan Ramadan. Karena jajanan khas ini emang adanya saat bulan puasa saja
Setelah bubar mengaji sore, anak saya bilang ia mau beli syrup untuk berbuka dari Mama Hafidza. Saya sedikit berpikir dulu, Mama Hafidza jualan? Jualan apa? Dimana?
Setahu saya dia ibu rumah tangga biasa. Maksudnya ya kesehariannya gak berjualan. Jadi ketika anak saya bilang mau jajan di sana, saya sedikit bertanya-tanya.
“Ibu, Mama Hafidza itu jualan jajanan khas Ramadan, Bu... Nih lihat di story WhatsApp nya. Siapa yang mau pesan nanti dilist. Gitu Bu...” jelas anak saya sambil memperlihatkan ponselnya.
Oh saya paham.
Kecamatan Pagelaran Kabupaten Cianjur tempat saya tinggal ini bisa dibilang daerah transisi yang mana masyarakatnya mulai terlihat mengikuti perkembangan daerah mengikuti kehidupan di perkotaan meski kondisi wilayah Pagelaran sebagian besar masih terdiri dari perkampungan persawahan dan kebun lokal.
Adanya internet masuk desa dipastikan perlahan tapi pasti mulai mengubah kebiasaan dan gaya hidup masyarakat pinggiran ini menjadi gaya hidup kekinian seperti di kota besar.
Orang mulai memahami dan mempraktikkan apa itu namanya digital marketing. Berjualan dengan menawarkan dagangannya melalui jaringan internet.
Salah satunya kekuatan media sosial lah yang berperan serta begitu besar dalam mengubah perilaku orang kampung mengikuti trend masyarakat kota. Entah itu dari pergaulan, gaya hidup, pola makan sampai etika kehidupan bermasyarakat lainnya. Termasuk berjualan jajanan khas Ramadan dengan mempromosikannya melalui WhatsApp dan media sosial.
Nah, seperti yang dilakukan Mama Hafidza ini. Pada bulan puasa memang bisa jadi waktu yang tepat untuk memanfaatkan bagaimana geliat ngabuburit versi kampung menuju semi perkotaan ini mulai berubah dan beralih.
Terlebih cuaca sehari-hari di tempat kami ini siang memang cukup cerah, tapi lewat dhuhur sampai magrib, hujan sering turun. Bikin mager dan banyak orang memilih diam di rumah saja.
Tapi namanya juga bulan puasa, gak seru kalau gak ngabuburit sekaligus berburu makanan untuk berbuka (yang di Indonesia diistilahkan dengan takjil, ya). Tapi kalau cuacanya tidak memungkinkan, kan emang lebih baik membeli secara online. Pesanan tinggal terima di tempat.
Sayangnya, di Cianjur Selatan sistem pembelian online secara resmi itu belum masuk. Entah kenapa. Jadi yang namanya gojek atau grab itu emang belum sampai. Jadi kalaupun mau ya dengan sistem manual seperti jualan online yang dilakukan Mama Hafidza tetangga saya. Secara pribadi melalui status WhatsApp atau media sosial.
Meski masih sederhana, tapi ini jelas sangat membantu. Saling menguntungkan. Penjual bisa tetap menawarkan dagangannya, pembeli dapat memilih apa saja yang diinginkan sesuai dengan informasi yang ditawarkan.
Meski jualan jajanan khas ini terkesan musiman, tapi mungkin ya inilah namanya berkah Ramadan. Berjualan jajanan khas Ramadan jadi kesempatan untuk mencari cuan.
Apa saja jajanan khas Ramadan yang biasa dijual?
Pada umumnya menjadi dua pilihan jajanan berupa makanan dan jajanan berupa minuman.
Minuman Khas Ramadan
Minuman khas sebagai jajanan Ramadan di tempat kami tak jauh dari es campur, minuman dingin, kolak, dan sejenisnya. Sedikit berbeda, posisi kolak tergeser dengan minuman boba dan sejenisnya yang mulai muncul berbarengan dengan minuman dingin sejenis franchise berupa teh.
Makanan Khas Ramadan
Kalau makanan khas Ramadan masih didominasi oleh gorengan. Hihi, saking seringnya ketemu gorengan sampai ada yang bilang bukan di Indonesia kalau tidak jumpa dengan camilan yang bisa jadi teman dalam berbagai suasana ini. Emang camilan terdiri dari bakwan, tahu isi, karoket, pastel, dan sejenisnya itu begitu nikmat disantap saat sedang lapar.
Selain ada jajanan jadul lainnya berupa martabak, dawet, makanan tradisional berupa kue basah dan jajanan anak kekinian seperti sostel, bilor, cilor, tahu krispi, dan sebagainya.
Jajanan Khas Ramadan yang Fenomenal
Dan bagi anak-anak di kampung kami, ada jajanan lain yang selalu dinanti dan jadi jajanan Khas Ramadan yang bukan merupakan makanan maupun minuman, yaitu kembang api dan petasan. Ya petasan yang aman untuk anak-anak pastinya ya. Bukan petasan besar yang memang dilarang oleh pemerintah.
Petasan yang dijual di pasar dan dijual lagi oleh pedagang eceran ini mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Petasan masih berupa obat bentol, dimana akan mengeluarkan bunyi kalau kita pukul atau dilempar sekeras mungkin, cecengekan alias petasan sebesar cabe rawit, dan gasing yang hanya berputar sambil mengeluarkan percikan ditambah kembang api.
Justru kalau tidak ada permainan kembang api dan petasan kecil oleh anak-anak itu rasanya kok sepi dan seolah bukan suasananya Ramadan. Apakah ini fenomena yang hanya terjadi di daerah tempat saya tinggal saja?
Mungkin karena di kampung masih sepi, jadi kalau ada yang bakar petasan kembang api agak besar dipastikan hampir satu kampung mengetahui (melihatnya). Dan biasanya kembang api yang ditembakkan ke langit itu hanya mampu dibeli oleh orang bercukupan secara finansial.
Puncak pembakaran kembang api dan petasan biasanya terjadi pada malam takbiran. Di daerah kami yang kontur kampung nya masih berbukit-bukit jika cuaca bagus senang sekali bisa melihat kembang api yang dibakar di kampung lain, pun mungkin sebaliknya jika di kampung saya ada yang membakar kembang api mereka yang tinggal di kampung lain pun bisa melihat juga.
Dan karena itu adalah jajanan khas Ramadan, setelah memasuki bulan Syawal, secara sendinya kembang api pun hilang dari peredaran. Sudah seperti itu bawaannya jajan kembang api kali ya. Hingga keberadaannya begitu fenomenal. Hehe ....
Sejak ibu saya dinyatakan memiliki penyakit gula, banyak perubahan yang mau tidak mau harus saya dan keluarga sesuaikan khususnya dalam pola makan dan kebiasaan.
Penyakit gula yang lebih banyak diketahui istilahnya dengan Diabetes ini seperti kita tahu penyakit yang diakibatkan karena terlalu banyak kadar gula dalam darah (glukosa darah tinggi).
Apa yang terjadi kalau terkena penyakit gula?
Pernah baca dari sebuah platform kesehatan, kalau diabetes yang tidak ditangani dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, kebutaan, dan kerusakan saraf di kaki.
Ya, separah itu diabetes bisa menimbulkan berbagai komplikasi, baik yang terjadi mendadak (akut) maupun dalam jangka panjang (kronis).
Komplikasi yang dapat muncul bagi penderita diabetes adalah stroke, penyakit jantung, gagal ginjal kronis, neuropati diabetik, gangguan penglihatan, katarak, bisa depresi, demensia, gangguan pendengaran, frozen shoulder, hingga luka dan infeksi yang sulit sembuh. Masih ada juga kemungkinan kerusakan kulit atau gangrene akibat infeksi bakteri dan jamur, termasuk bakteri pemakan daging.
Ibu saya sempat abai dengan pola hidup sehatnya sehingga kenaikan kadar gulanya yang tinggi menyebabkan ia harus mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran. Ditambah gatal di sekujur tubuhnya dan sakit kaki di area persendian.
Meski masih bisa melihat dan beraktivitas tapi ibu saya sudah tidak bisa membaca dengan benar karena apa yang dilihat secara dekat katanya terlihat kabur. Rangkaian huruf terlihatnya semua menyatu.
Begitulah kini ibu saya tidak bisa ikut acara tadarusan rutin sebagaimana biasanya dilakukan pada saat bulan Ramadan. Karena huruf Hijaiyah dalam rangkaian surat tidak bisa ia bedakan. Meski begitu, ibu saya tetap memaksakan diri hadir dan hanya bisa menyimak bacaan dari teman-temannya saja.
Sesedih itu rasanya ketika sebagai anak saya tidak bisa banyak membantu mengupayakan untuk kesembuhannya.
Siapa sangka jika gejala yang sering dikeluhkan ibu saya dulu seperti katanya sering merasa haus dan lapar tapi badan terasa lemas walau sudah makan, beser alias sering buang air kecil pada waktu tidur malam hari, dan mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, pandangan kabur, kena penyakit gatal-gatal di seluruh tubuh, nyeri pada kaki, jika semua kondisi itu justru pertanda ketika glukosa dalam darah berada di atas rentang normal tetapi tidak cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes.
Tapi ternyata, kemungkinan kala itu ibu saya sebagai prediabetes yang karena kami abai tidak menangani dengan baik sehingga akhirnya ibu saya didiagnosa menderita diabetes.
Gimana cara mengatasi penyakit gula?
Yah, bersyukur ibu saya memiliki keyakinan pada kalimat tidak ada kata untuk terlambat. Ibu saya masih bersemangat mengikuti apa anjuran dokter dan anak-anaknya supaya kadar gula dalam tubuhnya masih bisa dikendalikan hanya dengan alasan ia ingin memiliki waktu lebih lama untuk membersamai anak cucunya.
Sup herbal ayam. Biasanya ibu hanya meminum supnya saja
Meski lemah, ibu rutin berolahraga dengan jalan santai, ikut senam kesegaran jasmani di lapangan kecamatan kalau cuacanya bagus, mengikuti saran dokter yang disampaikan lagi oleh anak menantunya untuk menjaga pola makan sehat. Disamping melakukan pengecekan gula darah secara berkala dan berusaha untuk tidak banyak pikiran (mengelola stress).
Apakah penderita penyakit gula bisa sembuh?
Dokter dimana ibu saya konsultasi dan berobat bilang sih diabetes tidak dapat disembuhkan. Tapi penyakit ini dapat ditangani dan dikontrol, yang berarti penderita bisa mempertahankan kadar gula darah tetap dalam kadar normal sehingga tidak menyebabkan komplikasi (penyakit lanjutan yang lebih berat dari penyakit awal).
Bagaimana cara agar terhindar dari penyakit diabetes?
Untuk mengurangi risiko penyakit diabetes yang diderita ibu, beberapa cara yang kami dilakukan, yaitu mencoba menerapkan pola makan sehat yang bisa kami jangkau dan banyak minum air putih.
Maksud pola makan sehat yang bisa kami jangkau disini adalah merujuk pada kemampuan kami. Tentu saja namanya di kampung dengan perekonomian kami yang berada di kelas bawah banyak hal yang tidak bisa kami capai. Solusinya ya kami menyesuaikan atau paling tidak ya bisa mendekati.
Diabetes pantangan makan apa?
Sejak awal baik dokter maupun teman sahabat dan saudara sudah memberikan informasi kalau penderita diabetes sebaiknya menghindari konsumsi nasi putih, roti putih, dan kentang goreng. Hindari juga makanan yang mengandung banyak gula.
Untuk memenuhi asupan karbohidrat, ibu saya disarankan makan nasi dari beras merah, atau ubi jalar yang dipanggang.
Lauk apa saja untuk penderita diabetes?
Untuk penderita diabetes, ikan dan makanan laut bisa menjadi pilihan lauk yang sangat baik karena kandungan omega-3 yang tinggi. Asam lemak omega-3 dikenal dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan membantu mengatur kadar lipid dalam darah.
Bukan berarti tidak boleh makan makanan lain ya, hanya dikurangi dan untuk yang mengandung kadar gula tinggi sebaiknya memang dihindari.
Ikan bumbu sederhana, dikukus di rice cooker
Meski tidak selalu dengan lauk laut, setidaknya kami bisa mengganti dengan ikan air tawar yang bisa kami dapatkan dengan lebih mudah.
Adapun informasi yang saya dapat dari Eating Well, minuman penurun gula darah tinggi yang bisa menurunkan kadar gula adalah air putih, kopi, teh hitam, teh hijau, dan jus tomat.
Nah, karena peduli akan kesehatan ibu saya itulah, saat bulan Ramadan sekarang saya mencoba hal yang tidak biasa dilakukan para bulan puasa pada umumnya untuk sajian menu berbuka dan menu sahur ibu.
Menu sahur praktis untuk ibu yang menderita diabetes pun saya coba rancang sebisanya.
Jika nasi merah yang dimasak secara tradisional (dibuat pera dulu lalu dikukus) sudah sedia karena masak sekalian untuk menu berbuka dan sahur sekaligus, maka untuk lauknya saya pilih yang simpel dan mudah saja namun tetap bisa mengontrol kadar gula yang dikonsumsi.
Seperti ketika ibu memilih ikan untuk teman makan nasi merah, maka saya buat steam ikan dengan bumbu sederhana. Hanya melumurinya dengan garam, lalu dikasih daun salam supaya tidak tinggi bau amisnya.
Jika dengan lauk seperti itu ibu sudah mulai bosan, maka saya pilih ikan masa kecil ibu yaitu beunteur (ikan wader). Ikan ini menjadi kenangan yang tidak dilupakannya karena saat kecil katanya ia sering ikut kakek mancing dan ambil ikan di sungai yang mana kebanyakan beunteur itu yang didapat.
Beunteur siap dikukus masih menggunakan rice cooker
Supaya agak lain rasa dan packaging nya, saat masak beunteur ini saya kasih bumbu kuning dan dibungkus pakai daun pisang.
Cara mengukusnya juga tidak perlu ribet, cukup mengunakan rice cooker dengan memanfaatkan alat penghangat lauknya saja. Bisa dimasak saat menanak nasi untuk saya dan keluarga lainnya sekaligus atau terpisah, sesuai keinginan dan kebutuhan waktunya saja.
Begitu juga dengan sayuran yang bisa dikonsumsi ibu. Tinggal dikukus menggunakan rice cooker juga jadi bisa sekaligus masak nasi. Tetap praktis dan keburu untuk makan sahur ibu walaupun saya bangun untuk masak sekitar jam tiga. Selama ini yang sering kami kukus adalah pare muda dan wortel.
Jika buat sayur bening maka daun kelor sering jadi pilihan. Karena khasiatnya banyak, juga kebetulan kami nanam sendiri jadi tinggal ambil kalau perlu secukupnya.
Untuk tumisan, saya buat yang paling simpel yaitu fan cie cau tan (tumis tomat dengan telur). Sebenarnya ini resep masakan Chinese yang saya dapat saat kerja di Taiwan. Tapi ternyata sekarang ibu saya justru menyukainya. Mungkin saja sih tidak begitu suka tapi demi menjaga kadar gula dan kesehatannya jadi ibu diam saja, pura-pura suka? Hehe...
Labu muda siap dikukus. Sebagai sayur dan lalapan makan ibu yang menderita diabetes
Yang pasti baik ibu maupun kami anak menantunya saat ini harus banyak stok sabar dan bersyukur karena meski sempat ngedrop ibu masih bisa sembuh lagi. Meski dengan menu sahur dan berbuka yang sederhana, praktis bahkan tidak bikin berselera tapi untuk kesembuhan ibu yang menderita diabetes kami berusaha untuk terus mengupayakan.
Teman-teman bisa kasih info menu praktis lainnya untuk ibu saya yang menderita diabetes supaya tetap semangat menjalankan ibadah puasanya? Feel free to share ya ...