Sabtu, 15 April 2023

Rahasia Tetap Bahagia Meski Lebaran Tanpa THR

Ramadan kali ini pertama kalinya saya tidak mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya), pasca kena PHK bulan April 2022 lalu.

Sedih? Adalah, sedikit. Lebih banyaknya tetap semangat untuk menjalani kehidupan. Toh Ramadan baik dengan THR maupun tanpa THR, buat saya tidak berpengaruh banyak juga. Tidak mendapatkan THR untuk hari raya, bukan berarti lebarannya dibatalkan, bukan? THR hanya sejumlah uang tambahan selain gaji yang diberikan pada pekerja setahun sekali. Dan itu sangat membantu untuk mencukupi kebutuhan yang ada saat lebaran. Meski saya akui, tanpa THR ada perubahan gaya hidup yang harus saya sesuaikan.

Jadi, bagaimana saya menghadapi lebaran tanpa THR kali ini?

THR jadi salah satu hal yang paling dinantikan saat akan Lebaran. Karena tentu saja dengan pemasukan tambahan di luar gajian, kita dapat membeli kebutuhan-kebutuhan pangan dan sandang untuk menyambut Lebaran.

Lebaran juga jadi momen yang tepat untuk merayakan kebahagiaan bersama keluarga dan sanak saudara. Senang pastinya bisa berbagi hongpao lebaran untuk anak-anak kecil, adik dan keponakan, bahkan orang tua.

Bagaimana dengan saya yang tak mendapatkan THR apakah bisa memenuhi kebutuhan pangan dan sandang menjelang Lebaran? Bagaimana solusinya?

Saat kena PHK, saya sudah memikirkan kalau tahun depan tidak akan mendapatkan THR. Saya sempat mendengar informasi dari pakar keuangan, bagaimana cara tetap produktif menghadapi lebaran meski tanpa THR. Nah, saya ikuti saran pakar keuangan tersebut.

Meski tidak punya THR kita masih bisa merayakan lebaran dengan meriah dan asyik.

Caranya:

Menabung khusus untuk uang THR sendiri dari jauh-jauh hari

Bisa dengan cara menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk disimpan dengan berbagai cara seperti tabungan khusus, investasi emas, atau dimasukkan ke dalam celengan di rumah, sesuai keinginan saja.

Jujur buat saya yang tak menerima THR butuh tenaga ekstra serta perencanaan yang panjang supaya bisa memenuhi semua kebutuhan saat lebaran. Saya harus menyisihkan penghasilan recehan saya sejak jauh-jauh hari. Nabung ketat gitu deh, tepatnya.

Memang mau tidak mau saya harus menyiapkan THR sendiri. Jadi pas tahu nih lebaran kan adanya setahun sekali, jatuh pada bulan April. Sebelas bulan sebelumnya, saya sudah menyisihkan setiap penghasilan recehan yang saya dapat, minimal sepuluh persen, untuk dana THR.

Saya yang mengumpulkan, nanti saya sendiri yang akan menerima. Kalau tidak konsisten, risiko THR juga hangus. Gitu prinsipnya. Jadi jelas saya begitu konsisten dan berusaha disiplin dong.

Kabar menariknya, jika lebaran datang dan saya berhasil konsisten dengan tabungan untuk THR ini, yang seharusnya saya tidak mendapatkan THR, justru akan mengantongi uang sebesar dua kali lipat dari pendapatan per bulan. Wow...

Jadi mirip dengan para pegawai yang menerima THR saja, bukan? Ya meski sudah tak menerima THR dari perusahaan, tapi karena ada dana (hasil tabungan ketat selama sebelas bulan sebelumnya) akhirnya saya bisa memenuhi kebutuhan pangan dan sandang yang akan melambung menjelang Lebaran.

Jadi rumusnya sisihkan sepuluh persen dari pendapatan sampingan selama ini supaya punya THR sendiri senilai besaran yang kita inginkan untuk menyambut lebaran.

Karena itu yang tidak bekerja karena PHK, disarankan segera mencari pekerjaan sampingan. Freelance atau apapun. Apalagi saat ini marketplace online di negara kita sedang buming. Jadi reseller yang tidak memerlukan modal awal, bisa jadi pilihan.

Saya sendiri memilih dunia blog dan influencer sebagai usaha saya saat ini. Meski blog berisi curhatan emak-emak, plus folower media sosial juga masih ecek-ecek, tapi Alhamdulillah jika diseriusi meski fee nya recehan, pas lebaran bisa ngumpul jadi jutaan. Alhamdulillah...

Kalau manteman punya passion bikin kuliner, bisa banget menjadikan blog dan media sosial sebagai lapak untuk berjualan sendiri. Tapi ingat ya, apapun bisnisnya, usaha yang dibangun mesti direncanakan dengan sebaik mungkin supaya keuntungan yang diperoleh terbilang besar.

Memanfaatkan dana lebih

Misalnya menyisihkan sebagian dari uang belanja. Kalau rutin dikumpulkan bisa jadi tabungan yang lumayan. Apalagi kalau banyak pos pengeluaran yang bisa dihemat seperti dari perbaikan kendaraan, renovasi rumah, belanja, dan sebagainya.

Tidak ada sumber dana, berhematlah!

Mau tidak mau, kalau sama sekali tidak punya penghasilan atau pengeluaran yang bisa disisihkan, ya solusinya harus berhemat ekstra ketat.

Kita bisa kok menunda kebutuhan lebaran yang besar. Baju baru anak tak usah bersetel-setel, satu setel saja sudah bagus. Yang penting utamakan kewajiban menjelang lebaran aja, seperti membayar zakat dan sedekah. Lalu pilih menu makanan yang simple dan sederhana untuk lebaran. Fokus untuk memenuhi kebutuhan bulan berikutnya.

Tips Lebaran Tanpa THR, Berhemat tapi Tetap Bahagia

Tanpa THR, bukan berarti kita tidak bisa merayakan hari raya dengan maksimal. Kita masih bisa menyiasatinya dengan berhemat terhadap pengeluaran-pengeluaran yang bukan utama. Buatlah anggaran THR sendiri, yang sesuai keperluan. Hindari pengeluaran yang bisa ditunda, agar masih bisa fokus untuk memenuhi kebutuhan di bulan berikutnya, setelah lebaran usai. Merayakan lebaran dengan suka cita bersama keluarga secara sederhana bukan sebuah kehinaan kok.

Jadi meski tanpa THR karena bukan lagi pegawai, kita tetap bisa punya usaha sampingan yang juga menghasilkan dari penghasilan yang kita kumpulkan dari bisnis sampingan. Sekarang orang berbisnis sudah sangat mudah. Bisa punya toko tanpa harus punya ruko. Bisa punya lapak tanpa harus membayar lapak. Menjual barang semakin mudah. Kita (yang tak menerima THR) bisa menggunakan itu untuk cara mengumpulkan THR secara mandiri.

Jadi mana nih team yang seperti saya lebaran nya tetap asyik meski tanpa THR? Mari unjuk semangat dan saling menguatkan dimari...

Yup! Akhirnya THR sudah ditunaikan. Kini saatnya mengumpulkan kembali recehan untuk Ramadan tahun depan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar