Akhirnya ada satu momen dalam hidup ini yang diam-diam mengubah cara pandang saya dan keluarga dalam melihat dunia lain. Kami menemukannya dalam masa liburan kenaikan kelas anak. Senang banget karena membawa banyak pelajaran hidup mengenai dimensi yang berbeda tersebut daripada sekadar liburan bersenang-senang.
Jika selama ini saya dan keluarga suka melakukan kemping di gunung, maka kali ini beneran beda, karena kami kemping di dunia lain yang kondisinya bertolak belakang dengan gunung, tentu saja ini membawa pengalaman luar biasa buat saya dan keluarga.
Etapi tunggu! Yang saya maksud “dunia lain” di sini bukan dunia kasat mata atau alam lain yang berkaitan dengan konteks dimensi lain atau dunia gaib ya...
Melainkan perjalanan liburan mengenal lebih jauh tentang dunia air! Nahlo, jika selama ini kemping di gunung maka kali ini kemping di air. Seru, toh?
Liburan Tidak Biasa
Ya, bakalan jadi pengalaman tidak terlupakan pokoknya setelah merasakan bagaimana serunya kemping dalam air atau di bawah laut.
Beneran camping di bawah laut? Emang bisa?
Makanya saya tulis pengalaman ini biar manteman bisa tau bagaimana serunya ikut liburan Camping Under The Sea di unit rekreasi Sea World Ancol.
Siapa saja bisa ikut liburan di Camping Under The Sea atau selanjutnya kita sebut CUTS, ini, ya. Karena CUTS ini kegiatannya emang diselenggarakan saat liburan sekolah. Malah emang hanya ada di saat waktu liburan sekolah saja, kok! Jadi anak-anak maupun keponakan semua bisa ikut.
Kegiatan CUTS ini berkonsep liburan dengan kemping atau menginap di area indoor Sea World Ancol selama 1 malam.
Tidak hanya menginap, sih. Karena sebelum malam tiba, para peserta liburan CUTS ini akan dibawa untuk menyaksikan beragam kegiatan edukasi seperti mengenal satwa di rekreasi Samudra Ancol, melihat aneka burung unik di Jakarta Bird Land, dan lain sebagainya.
Sedangkan saat malam menjelang, juga tak kalah banyak dihadirkan beragam kegiatan seru di Sea World Ancol ini. Seperti makan malam bersama, dan kegiatan seru lainnya. Dan pastinya kita bisa melihat kehidupan di dunia lain (baca dunia air) yaitu spesies ikan nocturnal alias spesies ikan yang beraktivitas hanya di malam hari seperti Hiu Buto, ikan pari dan beberapa ikan laut lainnya.
Meet and greet with Octi dkk
EVENT SPECIAL LIBUR SEKOLAH SEA WORLD: CAMPING UNDER THE SEA
Camping Under The Sea adalah kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Ancol yang sudah berlangsung sejak lama dan menjadi salah satu program unggulan Sea World Ancol.
Peserta tidak hanya dari wilayah Jabodetabek saja tapi juga dari seluruh penjuru Nusantara.
Kegiatan pengisi liburan ini ternyata emang banyak diminati anak dan orang tua mungkin karena konsepnya masih unik, jarang kan ya liburan yang mengedepankan nilai edukasi dan konservasi dalam laut dimana setiap operasional rekreasinya sesuai dengan misi Sea World Ancol sebagai wahana edukasi dan konservasi.
Sebagai wahana edukasi dan konservasi terdepan Sea World Ancol menghadirkan kegiatan kemping yang tidak biasa ini untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan hiburan yang tidak hanya menyenangkan tapi juga mendidik.
Kegiatan CUTS day 1
Dengan konsep inovatif ini Sea World Ancol berhasil menonjol di tengah banyak kompetitor dalam menawarkan pengalaman yang tak terlupakan sekaligus meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya menjaga kelestarian laut. Hal itu sesuai dengan tujuan awal diadakannya CUTS kegiatan pengisi liburan sekolah ini.
Tujuan Camping Under The Sea
Memberikan nilai edukasi dan konservasi Laut
Membuat kegiatan yang berkontribusi untuk dunia pendidikan dan konservasi
Menyediakan kegiatan rekreasi yang unik dan berbeda
Meningkatkan pendapatan Sea World Ancol melalui infaq revenue
Menjaga eksistensi Sea World Ancol dalam rekreasi yang berbasis pada edukasi dan konservasi.
Solat berjamaah di sela acara
Kegiatan apa saja yang dilakukan peserta saat Camping Under The Sea?
Jadi kita tuh nanti bakal diajak kemping dua hari satu malam dengan banyak kegiatan seru baik yang dilakukan secara mandiri, kerja sama, hingga kelompok.
Pastinya peserta juga diajak untuk mengenal lebih jauh tentang dunia laut dan belajar mandiri serta berorganisasi.
Peserta juga akan diajak untuk mengenal lingkungan sekitar seperti berkegiatan di samudra dan Jakarta Bird Land. Terbayang serunya bagaimana, bukan?
Dan CUTS pada liburan kenaikan kelas tahun ini akan dibuka pada tgl 5-6 Juli 2025
Rencana kegiatan hari pertama akan diisi dengan kegiatan Edutainment, Dolphin dan Alpaca Education, feeding burung unta dan free flight bird show.
Berdoa menuju Jakarta Bird Land
Rencana kegiatan hari kedua akan diisi dengan restorasi kerang hijau, meet and great with sharky, octi (bukan Okti ya...) & twirly. Lanjut rewarding dan closing.
Nah, tunggu apa lagi, yuk bergabung menjadi petualang di dunia bawah laut. Mulai dari Sea World Ancol, Samudera sampai Jakarta Bird Land.
Harga tiket 750 ribu rupiah per orang. Sudah termasuk eksplorasi tiga tempat rekreasi, farming, api unggun dan treasure hunt, restorasi kerang hijau, meet and great with Sharky, and twirly (robot) feeding ostrich and free flight bird show.
Peserta terbatas ya. Jadi segera daftar supaya tidak kehabisan tiket. Jangan sampai nyesek kalau kehabisan seat. Sungguh kami juga jadi ketagihan pengen ikutan lagi liburan istimewa kemping di dunia lain ini, lho! Haha...
Oya info lengkap bisa cek di www.ancol.com aja ya...
Meski sekarang berada di jaman serba digital, namun kegiatan analog masih sangat penting untuk dilakukan.
Kegiatan analog adalah aktivitas yang tidak melibatkan perangkat digital. Jadi, lupakan gadget, putuskan sejenak koneksi dengan internet. Sementara hentikan kegiatan live dan update sosmed nya...
Untuk Apa Kegiatan Analog?
Kenapa kita harus tetap melakukan kegiatan analog? Selain supaya kita tidak ketergantungan, juga kegiatan analog ini membawa banyak manfaat.
Manfaat yang bisa kita dapat saat melakukan kegiatan analog, selain terus meningkatkan keterampilan dan kreativitas juga dapat meningkatkan kesehatan fisik.
Otomatis bisa meningkatkan kesehatan mental dan sosial juga. Sisi lainnya kita bisa mengembangkan keahlian praktis, tanpa meminta bantuan gugel. Hehehe... Yakan?
Keuntungan lainnya dari kegiatan analog ini bisa jadi sebagai hiburan dan relaksasi juga.
Intinya kegiatan analog ini tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental tetapi juga membantu mengurangi ketergantungan pada teknologi.
Kegiatan analog apa yang saya tekuni saat ini? Selain suka mendaki gunung, saya juga suka asruk-asrukan ke kebun. Bukan kebun macam untuk gaya-gayaan tapi emang kebun semi hutan yang tidak banyak dijamah manusia.
Di kebun tanpa sinyal ini saya bisa menginjak humus dan melupakan semenan beton
Mungkin karena emang passion dan tuntutan kehidupan di kampung kali ya secara di sini masih banyak kebun dan lahan kosong jadi asruk-asrukan ke hutan dan berkebun buat saya itu ibarat kegiatan pesan aplikasi online bagi orang yang tinggal di perkotaan.
Alhamdulillah dengan mendaki gunung atau berkebun, saya bisa terus melatih kesabaran, belajar hidup apa adanya menyatu dengan alam, sering berpijak langsung dengan humus tanah dan itu semua membawa perubahan meningkatkan kebahagiaan suasana hati.
Aktivitas berkebun yang saat ini yang saya dan keluarga lakukan adalah menanam pohon jati India (Tectona grandis)
Pembibitan mandiri pohon jati India
Kegiatan Analog Menanam Pohon Jati India
Tectona grandis nama ilmiah dari pohon jati India dikenal juga sebagai teak wood, menjadi pilihan saya dan suami sebagai pengisi waktu hidup di kampung karena kegiatan ini kami percaya membawa banyak manfaat.
Menanam pohon jati India kami pilih karena jenis ini bernilai tinggi secara ekonomi, ramah lingkungan, dan mudah dirawat.
Secara sederhana berikut langkah-langkah dan panduan menanam pohon jati India ala-ala kami, keluarga bringka.
Persiapan Lahan
Pilih lokasi yang tepat karena pohon jati India membutuhkan tanah subur, drainase yang baik, dan sinar matahari penuh.
Beberapa waktu lalu kami membeli lahan yang dianggap kurang produktif oleh pemiliknya dengan harga cukup miring. Insyaallah jika diolah dengan tepat bisa jadi sumber investasi sekaligus perlindungan area sekitar.
Orang lain tidak ada yang berminat dengan lahan itu karena cukup jauh dari pemukiman dan mungkin karenanya di sana susah sinyal (bahkan sering hilang).
Tapi buat saya dan suami lahan ini justru memiliki daya tarik tersendiri. Seolah kami ini jadi pemilik pabrik oksigen saking masih terasa bersihnya udara di lahan ini.
Langkah awal yang kami lakukan adalah pembersihan lahan dengan cara menyingkirkan gulma, batu, atau sisa tanaman lain.
Lalu mendiamkan beberapa hari untuk menetralisir kondisi tanah. Selanjutnya pak suami mempersiapkan tanah untuk penanaman dengan lebih dulu menggemburkannya. Kedalaman sekitar 30–40 cm.
Kami melakukan itu secara manual ya, menggunakan alat perkakas sederhana cangkul dan garpu. Oya, saat penggemburan tanah ini pastikan pH tanah berkisar antara 6–7.2.
Memilih Bibit
Bibit jati India bisa dibeli atau dengan melakukan pembibitan sendiri (ngabungbung).
Perbanyakan bibit bisa dilakukan melalui biji, stek, atau pembibitan langsung. Saya dan suami melakukan pembibitan sendiri dengan cara mengumpulkan buah pohon jati India yang sudah tua (warna kuning) lalu menyemai hingga tumbuh bakal pohon.
Biji pohon jati India yang disemai mulai tumbuh
Kriteria bibit yang baik, pilih bibit yang sehat dengan batang lurus, daun hijau segar, dan tinggi minimal 30 cm.
Setelah lahan dan bibit siap maka langkah selanjutnya adalah penanaman.
Penanaman
Awali dengan menggali lubang. Buat lubang dengan kedalaman 30–40 cm dan diameter sekitar 20–30 cm.
Jarak lubang untuk tanam antara satu pohon dengan pohon lainnya idealnya 2,5–3 meter antar tanaman untuk memberikan ruang tumbuh optimal.
Saat melakukan penanaman letakkan bibit di dalam lubang, lalu timbun dengan tanah campuran pupuk organik. Pastikan akar tertutup rapat.
Perawatan
Lakukan penyiraman secara teratur, terutama di musim kemarau, untuk menjaga kelembapan tanah. Karena kami menanam di lahan yang cukup jauh dari rumah maka penyiraman hanya mengandalkan air hujan saja.
Gunakan pupuk organik atau pupuk NPK setiap 3–6 bulan untuk mendukung pertumbuhan pohon jati India.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Awasi serangan hama seperti ulat daun atau penyakit jamur, dan gunakan pestisida alami bila diperlukan. Kami sering menemukan ulat di daun dan itu bisa mematahkan bahkan mematikan bibit yang baru ditanam.
Bibit jati India daunnya rawan kena hama
Setelah pohon tumbuh dengan baik kami melakukan penyiangan secara rutin. Membersihkan gulma secara rutin ini dilakukan untuk menghindari persaingan nutrisi. Sehingga nanti pohon bisa tumbuh dengan baik dan lurus.
Masa Panen
Pohon jati India umumnya siap dipanen setelah 10–20 tahun, tergantung pada tujuan pemanfaatan kayunya.
Wah, berarti apa yang saya dan suami tanam ini belum tentu bisa menghasilkan secepatnya dong? Betul. Hal itu sudah kami pikirkan sebelum menanam pohon jati India ini.
Perlu diketahui tujuan saya dan suami menanam pohon bukan untuk keuntungan semata melainkan untuk melestarikan tanah dan alam juga.
Kami menanam pohon lillahitaala. Bisa kami panen ya syukur, jika tidak pun (bisa saja kami keburu meninggal) toh masih bisa jadi peninggalan untuk bekal anak dan cucu.
Memanen pohon jati India yang sudah cukup umur, kayu yang dihasilkan nya terkenal kuat, tahan lama, dan bernilai jual tinggi, sehingga ideal untuk furnitur, lantai, dan konstruksi. Semakin berumur semakin bagus dan bernilai tinggi.
Kalaupun apa yang kami tanam belum sempat berbakti (dipanen) tetapi kami sudah meninggal, tetap kami tidak kecil hati karena manfaat dari menanam pohon jati India ini sudah lebih dahulu bisa diambil dan dirasakan.
Manfaat Menanam Pohon Jati India
Dengan menanam pohon jati India saya dan suami bisa ikut menjaga kelestarian lingkungan karena pohon jati India bisa menyerap karbon dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Secara tidak langsung keluarga kami juga membantu konservasi tanah karena akar pohon jati India membantu mencegah erosi.
Suasana kabut di kebun bikin betah dan kadang bikin lupa deadline. Hehe...
Dengan perawatan yang tepat, menanam pohon jati India dapat menjadi investasi jangka panjang sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.
Dan kembali ke bahasan awal mengenai kegiatan analog, dengan melakukan penanaman pohon ini, secara tidak langsung kegiatan kami di kebun ini bisa melupakan sejenak gadget dan turunannya.
Bayangkan saat kami ke kebun, di sana tidak ada sinyal. Jadi bawa gadget juga hanya busa digunakan untuk senter atau melihat jam (waktu) saja.
Lebih lengkap bagaimana kami menanam pohon jati India, sempat direkam disini https://vt.tiktok.com/ZS6jE9JgX/
Jadi manteman kegiatan analog apa nih yang sering kalian lakukan? Pastinya bermanfaat dong ya...
Okedeh, selamat menjalankan kegiatan analog nya ya...
Three Days One Post (Tridop) gagasan Ani Bertha kali ini temanya Membuat Draft Buku.
Seorang penulis atau blogger pasti berkeinginan memiliki buku hasil tulisan sendiri kan? Nah, semua peserta ditantang untuk membuat draft buku yang ingin diterbitkan. Bebas menulis buku apa saja. Dengan draft singkat, siapa tahu bisa berlanjut. Walau tidak lanjut setidaknya punya bahan dasar.
Saya jadi teringat masa-masa ketika pertama kali mendaki gunung. Pengantin baru naik gunung saat itu jadi perbincangan yang panas diantara teman dan saudara.
Bagaimana tidak, bayangkan hari Rabu menikah, hari kamis diboyong ke rumah mertua, hari Jumat nya saya dan suami juga teman-teman dari milis (saat itu dari Yahoo) berangkat mendaki gunung Gede. Pulang Minggu malam, sampai rumah Senin pagi. Uwow...
Teman mendaki semuanya 7 orang laki-laki. Kocak dan konyol bikin perjalanan dibarengi tawa canda. Mereka dibawa oleh Mas Ari, teman yang saya kenal melalui milis. Mas Ari dan kawan-kawan tidak tahu kalau saya dan suami baru menikah dua hari ketika bertemu mereka untuk pertama kali di basecamp Gunung Putri Cipanas.
Sepulangnya dari mendaki Mas Ari dan temannya yang akhirnya tahu kalau kami pengantin baru bilang pengalaman mendakinya coba dibukukan. Paling tidak untuk kenangan sendiri.
Saya jawab insyaallah saja. Belum kepikiran untuk buat buku berdasarkan pengalaman karena meskipun saat itu buku saya yang berjudul Kinanti (novel) udah diterbitkan oleh Leutika Prio tapi itu kan fiksi.
Tersentil oleh tema Tridop Ani Bertha kali ini lah, seolah diingatkan saya jadi kepikiran benar juga ya, apa yang dibilang Mas Ari dkk, kenapa tidak pengalaman mendakinya dibuat draft buku? Walau awalnya hanya untuk memenuhi tema Tridop, tapi saya membuatnya tentu saja tidak asal-asalan.
Draft Buku Keluarga Pendaki
Judul Buku
Keluarga Pendaki: Petualangan dan Nilai Kehidupan dari Rumah ke Gunung
Sinopsis
Keluarga Pendaki mengisahkan perjalanan saya dan suami yang memulai bahtera rumah tangga hingga memiliki seorang anak --sebuah keluarga-- yang menjadikan gunung sebagai bagian dari kehidupan.
Ayah, ibu, dan anak kami Fahmi menjadikan menjelajahi gunung di tanah air bukan hanya untuk mencari keindahan alam, tetapi juga untuk membangun kebersamaan, menanamkan nilai-nilai kehidupan, dan menghadapi tantangan bersama.
Melalui kisah ini, pembaca akan diajak untuk menyelami petualangan seru, momen-momen haru, hingga refleksi mendalam tentang arti keluarga dan alam.
Ada juga ilmu parenting yang dipraktekkan langsung di alam yang hasilnya justru diingat kuat oleh anak.
Daftar Isi
Bab 1: Langkah Pertama ke Puncak
Kisah awal saya dan suami bulan madu ke gunung dan mengenal dunia pendakian.
Bagaimana saya dan suami menemukan cinta (kami menikah tanpa pacaran) hingga menemukan kecintaan terhadap alam dan petualangan.
Bab 2: Gunung dan Tantangan Pertama
Pendakian pertama bersama sebagai pengantin baru dan keluarga.
Suami istri yang masih canggung satu sama lain tapi harus tidur satu tenda di Kandang Badak dengan segala kondisi.
Pelajaran tentang kerja sama, kesabaran, dan keberanian di saat rasa egois dan merasa diri benar masih kuat satu sama lain
Bab 3: Puncak Kebersamaan
Makna mendaki bersama sebagai sebuah keluarga.
Mendaki Gunung Rinjani saat usia kehamilan 3 bulan
Mendaki Gunung Semeru saat usia kehamilan 7 bulan
Bagaimana ibu hamil menemukan pengalaman dan kekuatan dalam pendakian
Bagaimana suami siaga mendampingi ibu hamil mendaki gunung
Bab 4: Pelajaran dari Alam
Pertama kali bawa anak usia 3.5 tahun naik Gunung Slamet
Kisah tentang nilai-nilai kehidupan yang dipelajari dari gunung bersama anak
Pentingnya mendidik anak melestarikan alam dan menghormati kehidupan.
Bab 5: Kejadian Tak Terduga
Ketegangan saat menghadapi badai di tengah pendakian di puncak Rinjani
Mimpi Unik di Ranu Pani
Kesukaan ibu hamil menaklukan Tanjakan Cinta
Tersesat di Gunung Pangrango
Bagaimana kami saling menguatkan dan mengatasi krisis bersama.
Bab 6: Gunung dan Keindahan
Keindahan yang didapat dari petualangan di gunung
Budaya lokal yang mengajarkan makna keberagaman
Bab 7: Puncak yang Tak Selalu Indah
Menghadapi kegagalan mencapai puncak
Pelajaran tentang menghargai proses, bukan hanya hasil
Mendidik anak pendaki
Pemahaman Puncak bukan segalanya
Bab 8: Keluarga Pendaki Sejati
Refleksi perjalanan keluarga. Bagaimana gunung telah membentuk kami menjadi keluarga yang kuat, kompak, dan penuh cinta. Mulai dari awal mengenalkan, membawa anak mendaki hingga mengantarkan anak ke puncak gunung api tertinggi di Indonesia.
9. Epilog: Pendakian Adalah Kehidupan
Makna gunung bagi kehidupan dan pesan untuk pembaca.
Kata tambahan dari teman team pendakian dari seluruh Indonesia
Contoh Isi Bab
Bab 5: Mimpi Unik di Ranu Pani
“... Lewat tengah malam saya masih belum bisa tidur. Hujan terus mengguyur. Suami juga tidak bisa tidur karena selalu menemani saya. Team mendaki menyarankan saya untuk tidur di masjid...
Pendaki lain memberikan ruang untuk saya ketika suami bilang kalau saya sedang hamil tiga bulan...
Berbagai reaksi saya terima. Ada kekaguman ada juga nyinyiran...
Dalam tidur saya mendengar begitu jelas ada suara tangis bayi. Saya bangunkan suami, tapi ternyata saya hanya mimpi. Melihat jam dinding di dekat mimbar jarum pendek menunjukkan pukul satu malam...
Tiba-tiba saya kembali mendengar suara tangis bayi begitu dekat. Lagi-lagi saya membangunkan suami. Tapi mana ada bayi di jam dua dini hari begitu apalagi di Ranu Pani ini sejak siang semua peserta adalah pendaki dewasa, tidak ada yang bawa bayi...
Sampai mimpi yang sama terjadi untuk ketiga kalinya di jam tiga pagi! Suara bayi menangis dan diakhiri tawa begitu riang sangat jelas saya dengar. Suami menyarankan saya untuk tidak tidur lagi tapi langsung mengambil air wudhu dan melakukan solat malam..."
Target Pembaca:
Keluarga yang ingin menjelajahi aktivitas outdoor.
Penggemar petualangan dan pendakian.
Pembaca yang mencari inspirasi tentang kebersamaan dan nilai-nilai keluarga.
Peminat dunia parenting dan praktek langsung di alam terbuka.
Nah, untuk sementara, sederhananya itu saja dulu draft buku Keluarga Pendaki yang saya konsep. Bagaimana nih manteman apakah ada bagian yang perlu dikembangkan lebih lanjut? Atau tambahan ide lainnya untuk memperkaya (draft) buku ini? Ditunggu masukannya ya...
Pernahkah manteman merasa meskipun tidak menjadi yang terdepan, kontribusi kita sebenarnya tetap penting dan bermakna?
Banyak orang yang ingin terlihat di permukaan, namun tidak sedikit juga yang memilih berada di belakang layar. Manteman memilih posisi yang mana nih? Hehe...
Saya sendiri akan memilih tergantung situasinya saja. Karena bagaimana kontribusi kita mungkin akan tergantung kepada kemampuan dan kapasitas diri masing-masing. Sebagaimana keahlian setiap orang, satu sama lain kan berbeda-beda ya...
Dan saya mau berbagi cerita tentang pengalaman kami, bagaimana meskipun berada di belakang layar, tapi kontribusi tetap menunjang sebuah kesuksesan.
Pernah mendaki gunung?
Atau tahu bagaimana prosedur naik gunung yang baik dan benar sehingga bisa meminimalisir hal tidak diinginkan?
Atau pernah dengar (membaca) berita terkait kecelakaan yang dialami para pendaki gunung? Baik itu yang tersesat di hutan, yang kena hipotermia, atau lemas karena kehabisan bekal? Atau kegagalan pendaki yang sama sekali tidak sampai di puncak, padahal persiapan sudah kelewat maksimal demi puncak yang dituju?
Sebenarnya semua hal tidak diinginkan (kecuali takdir kematian) bisa kita hindari jika mematuhi aturan dan ketentuan. Dengan begitu kesuksesan sesuai harapan pun bisa diraih dengan mudah dan gemilang.
Terbukti ketika ada teman dan saudara dari Bekasi pernah minta ikut naik gunung ketika melihat Fahmi berhasil naik Slamet saat berumur tiga tahun setengah.
Fahmi, ketika usia lima tahun di puncak Gede
Jujur saya dan suami bingung. Melihat teman dan saudara saya ini semuanya pemula dalam dunia pendakian. Tapi karena mereka keukeuh, maka suami memberikan rekomendasi untuk naik gunung Gede Pangrango saja. Sekalian mengajak Kiting sebagai besti alias teman seperjalanan mendakinya Fahmi, putra kami.
Gede Pangrango jadi pilihan dengan alasan lokasinya dekat dari kami di Bekasi dan Cianjur, serta antisipasi hal lain jika ada hal tidak diinginkan mengingat di Gede Pangrango cukup strategis untuk evakuasi bantuan dan sebagainya (di Puncak Gunung Gede kadang ada penjual kopi, gorengan dan nasi bungkus).
Rombongan dari Bekasi terdiri dari saudara saya Alin, dan teman saya Ana dan putra-putrinya (satu perempuan anak SD dan dua laki-laki udah sekolah lanjutan, satu cowok si sulung udah kuliah).
Buat saya dan Alin yang biasa tinggal di kampung berjalan kaki berkilo-kilo meter sudah biasa. Naik turun bukit adalah jalan sehari-hari apalagi saat sekolah di Sukanagara yang wilayahnya berupa perkebunan teh. Cuaca dingin, jalan terjal dan kabut menghalangi pemandangan sudah tidak asing lagi.
Tapi bagi Ana dan keluarga, yang lahir dan besar di kota, kemana-mana terbiasa naik turun kendaraan, terbiasa dengan udara sejuk dari AC, plus makanan sehat dan bergizi yang selalu tepat waktu disediakan asisten rumah tangga, melakukan perjalanan naik gunung (apalagi untuk pertama kalinya) pasti bakalan ada ngarumas-nya. Sepintas orang berpikir anak manja begitu mana bisa sampai di puncak?
Bersama Ana dan keluarga menuju Gede Pangrango
Nah, saya dan suami yang akhirnya ketiban beban, memikirkan bagaimana cara supaya bisa membawa keluarga sultan ini bisa sampai di Puncak Gunung?
“Atur seperti biasa aja, Teh. Kita pasti bisa...” Semangat dari Kiting yang sedia mendampingi ketika saya hubungi membuat saya dan suami sepakat untuk buat group koordinasi.
Sebagaimana kita tahu banyak sekali masalah yang terjadi di gunung diakibatkan oleh tidak terorganisirnya kelompok pendakian.
Padahal mendaki itu bukanlah hal yang bisa dilakukan secara sembarangan. Oleh karena itu, kelompok pendakian harus diorganisir dengan baik serta harus dipersiapkan dan itu harus dijalankan selama pendakian.
Sebelum berangkat mendaki gunung, saya kirim pesan ke group koordinasi mengenai peran yang ada dalam kelompok pendakian agar kelompok pendakian dapat terorganisir dengan baik serta komunikasi berjalan dengan lancar. Saya tekankan mau tidak mau harus mengikuti peran tersebut kalau tidak pendakian lebih baik batal.
Kiting bertugas sebagai navigator (guide) sekaligus leader (pemimpin pendakian). Kami menempatkan Kiting bukan asal-asalan melainkan melihat kemampuan dan kapasitasnya selama kami sering mendaki bareng.
Meski badannya cungkring tapi tenaganya jangan disepelekan. Sudah tiga tahun terakhir setiap akhir tahun Kiting jadi Guide di Gunung Rinjani. Terbayang bawaan bekal ke Rinjani yang minimal buat empat malam lima hari itu segimana...
Kiting dan keluarga bringka sepulangnya dari Gunung Kerinci
Sebagai leader, Kiting memiliki tugas yang paling berat. Sebagai pemimpin dalam suatu kelompok pendakian, semua tindakan dan keputusan yang diambil selama pendakian berada di tangannya.
Meski begitu Kiting juga harus tetap berdiskusi dengan kami sebagai anggota kelompoknya.Tidak hanya bertanggung jawab sekaligus memastikan bahwa pendakian berlangsung sesuai rencana yang telah dibuat, Kiting juga diminta selalu memberikan informasi terkait gunung yang akan didaki kepada setiap anggota kelompok pendakian.
Saya dan suami juga bergantian saling membackup untuk menambahkan informasi mulai dari durasi perjalanan, jalur yang akan ditempuh beserta kondisinya, dan tempat yang berpotensi bahaya.
Hal itu dilakukan jauh-jauh hari sebelum pendakian agar setiap anggota pendakian dapat mempersiapkan diri dengan baik.
Termasuk menjelaskan peralatan dan perlengkapan kebutuhan selama pendakian, mana yang bisa disewa, mana yang lebih baik punya sendiri.
Tidak lupa menjelaskan apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan untuk dilakukan selama pendakian. Hal ini dilakukan agar setiap anggota pendakian memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang aturan tersebut.
Saya sendiri seperti biasa bertugas sebagai chef alias koki gunung sekaligus merangkap sebagai team logistik bersama Alin karena keterbatasan orang. Tidak repot karena logistiknya sendiri dibagi untuk dibawa oleh setiap pendaki yang ikut. Jadi cukup ringan karena masing-masing punya bagian.
Sebagai manager basecamp alias perdapuran saya tidak hanya bertugas mengatur logistik selama perjalanan tapi juga sekaligus memastikan semua anggota rombongan dalam kondisi sehat.
Kami meminta semua tim jika menggunakan trekking pole maka gunakan dengan benar. Termasuk menginformasikan bagaimana menyusun isi tas kerier yang dibawa dengan tepat supaya punggung tidak sakit.
Peringatan keras mengenai sampah juga jadi hal yang wajib. Sampah dari barang yang kita bawa seperti logistik harus dikumpulkan dan dibawa turun lagi.
“Sudah jadi tanggung jawab setiap pendaki untuk membersihkan sampah yang dia bawa, ya. Ingat itu.” Tegas Kiting.
Ana dan putra-putrinya masuk di barisan Follower. Meskipun ketiga putra Anna sesekali merangsek maju jalan bersama Kiting, dan bahkan mundur jauh di belakang ibu dan adik perempuannya. Banyak saja alasannya mereka itu, ambil foto dulu lah, ngerokok dulu lah, istirahat dulu lah, dan banyak alasan lain.
Karena tahu anak-anak Ana ini pemula, baru mengenal dunia pendakian, serta tidak mengetahui medan dan pengetahuan tentang dunia pendakian masih sedikit maka suami sebagai sweeper tidak pernah membiarkan mereka berhenti lama-lama.
Ya, saat pendakian kali itu suami yang berada di paling belakang bersama Fahmi putra kami, bertugas sebagai sweeper.
Suami yang memastikan rombongan pendakian kami tidak ada yang tertinggal.
Belajar dari para senior dan guru di Indonesia Mountain Specialist (IMOSA) yang dipimpin Bang Ardeshir Yaftebbi menjadikan kami terdidik untuk tidak egois ketika melakukan pendakian demi kesuksesan bersama yaitu keselamatan semua peserta pendaki hingga kembali sampai ke rumah masing-masing.
Arif Faturrahman (Kang Arfan) dan Bang Ardeshir Yaftebbi, senior sekaligus guru mendaki di IMOSA
Saat orang awam berlomba ingin menjadi yang pertama mencapai puncak, pemikiran kami justru bertolak belakang. Keselamatan semua anggota rombongan adalah kesuksesan sebenarnya. Puncak bukan segalanya!
Sweeper alias orang yang berangkat paling belakang tentu saja tidak berambisi sampai puncak kecuali semua tim rombongan sudah sampai di sana. Karena tugas yang berada di belakang ini tidak hanya memastikan seluruhnya dalam keadaan baik, dari segi anggota kelompok pendakian, barang bawaan, dan lain-lain, tapi juga jadi tim penenang ketika ada anggota rombongan yang mopo (lelah hingga putus asa) sekaligus jadi tim penyemangat.
Para pendaki senior yang banyak ilmu itu selalu mengajarkan kepada kami akan kerendahan hati ketika sedang berada di alam terlebih saat melakukan pendakian.
Baik Kiting maupun suami, berkali-kali tak lelah menyemangati Ana dan putrinya jika capek itu cuma dipikiran. Jangan dirasakan. Saat berjalan disarankan langkahnya kecil-kecil saja, nggak usah buru-buru biar nggak cepat capek.
Kalau kaki pegal, istirahat dengan memberitahukan kepada teman lain dalam rombongan. Luruskan kaki, terus pijat ke arah atas, mendekat ke jantung. Itu yang saya dan suami sampaikan sebagaimana disampaikan senior di Sekolah Mendaki Gunung IMOSA, dulu.
Dari sekian banyak ilmu mendaki yang kami turunkan, satu pelajaran penting yang saya dan suami tegaskan kepada Alin, Ana dan keluarganya bahwa bukan soal bagaimana bisa mendaki puncak atau bagaimana cara bertahan hidup di tengah hutan. Justru, pelajaran yang paling penting ingin disampaikan adalah bagaimana setiap pendaki untuk tetap menjadi ‘manusia biasa’.
Kalau niat naik gunung untuk menaklukkan gunungnya, itu malah jadi sombong. Kami diajarkan naik gunung (harusnya) untuk menaklukkan diri kita sendiri.
Apa lantas menjadi jago dan hebat kalau sudah mendaki gunung dan sampai di puncak? Tidak kok, biasa-biasa saja...
Dan pengalaman berat itu kejadian juga. Di atas pos Kandang Badak, Ana dan putrinya mengalami kelelahan berat dan hampir memutuskan untuk berhenti. Kami semua memotivasi ibu dan putrinya itu. Tidak lupa memberinya air dan membantu mengatur napas sambil mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk bergerak pelan.
Koki gunung sekaligus manajer basecamp
Ketika malam hampir datang sementara kami masih terjebak di perjalanan maka suami memutuskan untuk tinggal di pos tersebut bersama Fahmi, Ana dan putrinya yang kelelahan supaya tidak merasa ditinggalkan.
Sementara Kiting dan saya juga anggota rombongan lain tetap melanjutkan perjalanan.
Setelah memastikan kami aman di Lapangan Suryakencana dan Ana serta putrinya sudah cukup beristirahat, maka Kiting dan anak sulung Ana akan kembali menjemput.
Keesokannya ketika akhirnya mencapai puncak, Alin bicara kepada saya yang katanya menyadari bahwa tanpa bantuan sesama tim, perjalanan pendakian pertama mereka tidak akan semulus itu.
Peran anggota tim sebagai pendukung, navigator, dan motivator menjadi pilar penting yang membuat keseluruhan tim berhasil.
“Alhamdulillah,” itu yang bisa diucapkan. Meskipun suami dan Fahmi harus begitu terlambat sampai ke puncak gunung, begitu juga Kiting dan Keluarga Ana namun kerja sama ini berhasil memperkokoh posisi tim dan memastikan kami semua mencapai tujuan bersama.
Suami dan Fahmi, sweeper bersama keluarga Ana
Kisah ini membuktikan bahwa kontribusi di bawah tidak kalah penting dibandingkan mereka yang berdiri di puncak.
Perjalanan mendaki bukan hanya soal siapa yang sampai di atas, tetapi juga tentang bagaimana setiap anggota tim memberikan dampak positif untuk pencapaian bersama.
Begitulah, hidup yang singkat harus tetap berprogress dan dirayakan, bukan? Cerita ini mungkin tidak sedikit pun membanggakan, bagi yang lain. Tapi bagi kami yang menjalani, meraih dengan upaya mandiri dan berdampak hal ini sungguh sangat berkesan.
Dalam mendaki gunung, seandainya tidak bisa sampai ke puncak, setidaknya dapat memperkokoh posisi yang ada di bawah, artinya tetap berperan dalam pencapaian besar walau tidak menjadi pelaku utama.
Citambur dan Rumah Abah Jajang jadi tempat wisata favorit di Cianjur Selatan khususnya bagi mereka yang sedang menghabiskan liburan lebaran. Fasilitas apa saja yang ada di sana?
Jauh sebelum lebaran, tepatnya sebelum tahun baru 2024 akses jalan ke Curug Citambur yang juga sekaligus menuju ke rumah Abah Jajang diperbaiki. Jalan yang semula hancur karena aspalnya sudah mengelupas bahkan hilang menyisakan bebatuan yang menonjol menyebabkan kendaraan yang melewatinya seperti berada dalam kondisi guncangan gempa itu berganti dengan cor mulai dari Sinagar Kecamatan Tanggeung sampai Cipelah Pasirkuda Perbatasan Cianjur dengan Kabupaten Bandung.
Pemerintah Cianjur berdalih pengecoran jalan itu dilakukan untuk meningkatkan pariwisata. Meski saya dan masyarakat setempat banyak yang senyum sinis dengan wacana itu. Kenapa baru sekarang hendak pemilu pengecoran jalan itu dilakukan, bukan sejak dulu, jelas-jelas jalan rusak itu sangat menyiksa masyarakat. Kalau bukan karena kepentingan pribadi demi melancarkan pemilihan yang diusung partainya, mau alasan apa lagi?
Konon katanya pemerintah Kabupaten Cianjur, menyiapkan anggaran Rp 50 miliar untuk pengecoran jalan beton ruas jalan Sinagar-Cipelah sepanjang 16 kilometer yang membentang di Kecamatan Pasirkuda itu. Lebih dari itu juga wajar toh bukan pakai uang pribadi. Lagian masyarakat juga bayar pajak bukan? Justru miris kalau negara ini hampir seratus tahun merdeka sementara jalan kabupaten di Cianjur ini masih hancur gitu aja. Jomplang dengan jalan di perbatasan setelahnya seperti Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sukabumi yang justru lebih dulu sudah halus dicor permanen.
Pemandangan dari rumah Abah Jajang ke Curug Citambur
Asal tahu saja kalau jalan yang diperbaiki ini memang melintasi sejumlah obyek wisata air di wilayah selatan Cianjur. Tak heran kalau salah satu alasan yang diungkapkan saat melakukan pengecoran jalan beton yang dimaksudkan katanya untuk meningkatkan perekonomian dan angka kunjungan wisatawan.
Pengecoran jalan kabupaten Sinagar-Cipelah II sepanjang 7,5 kilometer dari Kampung Ciparaya - Batujadi, Desa Simpang, sudah dilakukan lebih dulu. Untuk jalan kabupaten Sinagar-Cipelah I sepanjang 8,95 kilometer dilakukan beberapa hari kemudian.
Dulu target pengecoran jalan kabupaten Sinagar-Cipelah sepanjang 16 kilometer itu, dapat tuntas dan dilalui kendaraan di akhir tahun tepatnya bulan Desember, sehingga dapat meningkatkan angka kunjungan ke sejumlah obyek wisata terutama air terjun. Meski nyatanya lewat Januari 2024 jalan itu baru bisa dilalui secara normal.
Di sepanjang jalur Sinagar-Cipelah, terdapat obyek wisata air terjun dan rumah abah Jajang yang sempat viral karena memiliki pemandangan langsung ke Curug Citambur yang memiliki pesona alam tersendiri serta sejumlah obyek wisata penunjang lainnya.
Memang sejak jelang Ramadan banyak sekali pengunjung yang datang ke Curug Citambur dan Rumah Abah Jajang untuk berwisata. Ada yang sengaja untuk papajar alias munggahan (tradisi menyambut bulan suci Ramadan yang diisi dengan silaturahmi dan makan bersama) ada pula yang berwisata menikmati keindahan alam secara pemandangan maupun bermain air.
Di Curug Citambur, selain bisa menikmati keindahan air terjunnya juga ada beberapa spot foto Instagramable dan tetapi ikan. Tarif karcis masuk lima ribu rupiah per orang. Parkir kendaraan roda dua lima ribu, roda empat sepuluh ribu.
Di lokasi air terjunnya banyak terdapat warung yang menyediakan jajanan khas lokasi wisata. Makanan berat dan kopi juga ada.
Di rumah Abah Jajang, saking banyaknya pengunjung yang datang setelah viral itu keluarga Abah Jajang mengkoordinasi memfasilitasi penyediaan makanan khas perkampungan bagi pengunjung seperti nasi liwet, lalapan dan sambal dengan harga terjangkau. Bisa dirata-ratakan per orang bayar dua puluh ribu rupiah aja.
Saking banyaknya tamu yang datang jelang Ramadan bagi yang ingin datang papajar ke Rumah Abah Jajang sampai harus bikin reservasi dulu lho.
Sekarang saat lebaran pengunjung yang datang pun tak kalah banyaknya. Curug Citambur dan Rumah Abah Jajang saat ini masih mendominasi jadi tempat wisata favorit di kampung saya khususnya bagi masyarakat sekitar yang sedang liburan.
Ke libur natal dan tahun baru (yang juga otomatis liburan semester buat anak sekolah) emang masih lama... tapi persiapannya udah dilakukan sejak bulan Agustus lalu. Maklum hobi anaknya emang tidak biasa. Untuk mendaki gunung Rinjani jelang akhir tahun 2023 nanti, keriweuhannya udah dimulai sejak lima bulan sebelumnya! Hihi...
Ya, hobi anak saya memang tidak biasa. Tapi itupun emang diturunkan dari orangtuanya juga sih. Jadi walau beda dari anak lainnya, ya kami dukung saja. Toh kami pun ikut menikmati perjalanan menjalankan hobinya itu.
Anak saya hobi mendaki gunung. Sebenarnya mungkin bukan hobi, tapi karena udah terbiasa, jadi pas ada libur agak lama, dipakailah waktu itu untuk mendaki gunung, hobi yang saya dan suami kenalkan kepada anak, sejak anak masih dalam kandungan!
Sekedar informasi saja, saat saya hamil, ngidamnya itu naik gunung Semeru dan gunung Rinjani lho. Apakah ini karena hari kamis saya dan mantan pacar menikah lalau hari Jumat nya kami langsung naik gunung Gede? Ga ada kolerasinya juga sih ya.
Tapi emang saat usia kandungan tiga bulan, saya naik gunung Semeru. Malah saat itu bisa naik bareng sama Medina Kamil dan Riani Djangkaru. Ada yang tahu siapa mereka berdua itu? Yang pasti mereka suka dengan pendakian gunung ya.
Ada mitos kalau di tanjakan cinta berhasil melewatinya tanpa berhenti dan tanpa menengok ke belakang, maka keinginan akan terkabul. Saya berhasil melewatinya dong. Yang bikin saya semangat, cuma satu, biar ngidam terpenuhi dan kelak anaknya gak ileran. Haha...
Naik Semeru usia kandungan tiga bulan. Tanjakan Cinta berhasil saya lewati
Usia kandungan enam mau ke tujuh bulan, saya naik gunung Rinjani. Di danau segara anak, saya ingin makan ikan dari danaunya itu. Eh tiba-tiba ada sekelompok anak penduduk lokal dari Sembalun yang mancing. Dan mereka memberikan belasan ikan hasil tangkapannya itu ke saya. Mau dibayar mereka menolak keras. Hanya mereka minta foto bareng, katanya mau diupload di Facebook. Saya dan suami oke aja. Hihi ... Tapi sampai sekarang ga ada kabarnya lagi mereka itu.
Alhamdulillah selama melakukan pendakian itu lancar-lancar saja. Meski orang bilang ini itu terkait hal mistis dan sebagainya, saya sehat selamat hingga waktu melahirkan.
Tujuh orang remaja Sembalun, (gambar kanan atas) memberikan ikan untuk ibu hamil. Semoga mereka mendapatkan kebaikan sebagaimana mereka telah berbuat baik kepada saya
Meski pas usia kandungan delapan bulan, sepulangnya dari rumah Tedi Ixdiana instruktur panjat tebing yang terkenal di Indonesia itu saya yang dibonceng suami mengalami kecelakaan di perbatasan Bandung Cianjur. Beruntung saya dan suami terlempar ke kiri, jadi masuk selokan. Kalau terlempar ke kanan bisa saja kami terlindas kendaraan lain.
Nah, waktu melakukan USG di dokter Yasa spesialis anak, ketahuan kalau posisi janin dalam perut saya sungsang. Saat itu muncul deh omongan-omongan yang kurang mengenakkan ke saya dan suami. Mengaitkan kondisi kehamilan saya itu dengan pendakian gunung dan kegiatan alam yang saya lakukan sebelumnya.
Ajaibnya, setelah kami sepakat ikut anjuran dokter anak dan kandungan di Klinik Ananda untuk melakukan operasi caesar, pas mau melahirkan di RSUD Cianjur, dokter Sukardi yang menangani saya justru bilang saya bisa lahiran dengan normal, gak perlu operasi!
Dalam kepanikan dan itu kami ikut kata tim medis saja. Eh Alhamdulillah beneran anak saya yang diberi nama M Fahmi NHK ini benar-benar lahir dengan cara normal.
Dari lahir sampai usia tiga tahun, saya membesarkan anak dengan kondisi kampung yang masih asri. Anak selalu kami bawa ke kebun, air terjun, tebing dan pantai dengan kondisi alamnya sebagaimana di Cianjur Selatan yang memang masih pelosok.
Selama itu saya juga memperhatikan, apa sih kesukaan anak ini. Apakah menggambar, otak atik kendaraan, membaca, dan hobi anak pada umumnya lainnya. Saya pikir, saya kalau tahu dari awal, bisa dengan mudah mengarahkan.
Kalau anak suka baca, ya saya akan sediakan berbagai jenis buku bacaan yang sesuai dengan usianya. Kalau anak suka otak atik kendaraan, saya dan suami akan memberikan banyak mainan yang membuka peluang untuk ia bisa belajar lebih banyak. Bahkan pernah kepikiran untuk bawa anak ke museum angkut di Malang. Sesuai dengan obrolan dan rekomendasi blogger Malang selama ini jika museum angkut memang cocok dikunjungi bagi anak yang mencintai dunia otomotif.
Tapi rupanya anak saya emang sukanya dengan perjalanan menuju puncak gunung. Terlihat ia yang pendiam dan pemalu, berubah jadi antusias dan ceria bila diajak melakukan pendakian.
Ia suka banget dan begitu menikmati hawa gunung yang dingin dan bersih.
Akhirnya saat usia anak mencapai tiga tahun setengah, ia kami bawa naik gunung tertinggi di Jawa Tengah, ya, gunung Slamet.
Indahnya melihat gunung kembar Sindoro dan Sumbing yang dililit awan dari ketinggian Slamet
Selanjutnya gunung lainnya seperti Sindoro, lalu gunung Ceremai, Gede, Pangrango, dan lainnya hingga terakhir sebelum covid-19 anak berhasil menaklukkan gunung api tertinggi di Indonesia, yaitu gunung Kerinci di Sumatera.
Fahmi digendong ayahnya, merayakan HUT RI ke 74 di puncak Gunung Kerinci
Sebetulnya, ayahnya merencanakan sebelum ke Kerinci itu, anak akan kami bawa ke gunung Rinjani terlebih dahulu, di NTB. Jadi kalau dibuat grafik, posisinya berurutan dari yang landai hingga yang tertinggi. Tapi gagal karena saat itu di Lombok nya ada musibah gempa.
Nah, setelah pandemi mereda, kesempatan naik Rinjani hanya ada di akhir tahun ini. Karena akhir tahun nanti, kalau ada umur dan kesempatan, anak udah lulus SD dan berencana masuk pondok. Tahu sendiri dong, kalau udah masuk pondok (yang diinginkan anak) itu liburan pulang ke rumahnya hanya bulan Ramadan saja. Gak akan ada lagi kesempatan buat melakukan hobinya mendaki gunung itu, dong...
Jadi rencana kami, (mohon doanya semoga ada umur, sehat dan rezekinya) akhir tahun ini anak bisa memuaskan keinginannya mendaki gunung Rinjani.
Kenapa harus akhir tahun? Ya biar waktunya pas dengan liburan panjang. Perjalanan dari kami di Cianjur ke NTB (kami akan memilih jalur darat) ditambah estimasi waktu pendakian, pulang pergi itu bisa sampai seminggu lebih, lho.
Karena itu sejak Agustus kemarin kami sudah mulai riweuh mempersiapkannya. Secara teman dan saudara juga ada yang mau ikut juga. Jadi kami sudah koordinasi mengenai rencana ini.
Yang sudah dipersiapkan anak sejak sekarang pastinya stamina. Ia harus mulai latihan atau olahraga. Begitu juga dengan ayahnya. Selain mempersiapkan dana, kesiapan fisik harus diprioritaskan juga. Udah selama pandemi gak melakukan pendakian takutnya nanti tubuh kami merasa kaget kan.
Kalau saya sebagai emaknya, mulai ngatur segala deh. Mulai membagi uang yang dikasih suami untuk keperluan pokok, akomodasi transportasi, termasuk logistik alias makanan.
Jujur, selama pendakian saya tidak pernah ngasih makan anak dan suami mie instan (sebagaimana rumor lazimnya anak gunung, makanan kebesaran katanya mie instan) meski kami juga membawanya, tapi gak setiap waktu makan masak mie. Saya tetap memperhatikan gizi yang saat mendaki justru sangat dibutuhkan.
Foto suami belanja sebelum naik Semeru. maklum bawa bumil, naik gunung belanjanya selalu mangga muda hahaha... Saat mendaki gunung bukan berarti hanya bisa makan mi instan dan minum air dari mata air. Tapi kudu bisa buat kuliner kekinian sehingga nutrisi keluarga tetap terpenuhi
Istilahnya biar sehari-hari kami di rumaha makan olahan singkong tapi kalau saat melakukan pendakian, makanan mengandung karbohidrat, protein dan mineral serta vitamin wajib saya sediakan. Karena itu sejak jauh hari saya sudah menyiapkan semua.
Begitulah, namanya orang tua, saya rasa semuanya akan tetap mendukung apapun keinginan anak, selama itu tidak merugikan orang, punya sisi baik dan manfaat.
Terkejut ketika membuka pintu pagi ini, berandaku sangat berantakan. Ini pasti gara-gara ayam nyakar nyari makanan, terus menumpahkan semua isi pot bunga sampai berceceran. Ah, sudahlah. Tak apa saya biarkan sebentar, ntar pasti saya bereskan, setelah saya baca berita terbaru yang sedang saya pantau di beranda.co.id ini selesai...
Betah emang membaca berita di beranda.co.id karena selain lengkap ulasannya, ada berita ekonomi, UMKM, teknologi, tips, olahraga, startup, traveling dan lainnya, juga penyampaian informasinya langsung tanpa harus banyak membuka halaman atau klik dulu ini klik dulu itu ...
Gimana tidak penasaran, geram sekaligus jengkel membaca berita di laman beranda.co.id kalau Bukit Teletubbies di Gunung Bromo terbakar karena aktivitas pre-wedding pakai flare! Oh my God!
Sst! Flare itu adalah alat yang mengeluarkan cahaya terang dan api. Flare juga biasa disebut suar yang dalam KBBI memiliki arti nyala api (suluh, pelita) untuk tanda (isyarat).
Padahal kita tahu kan ya, orang di ibukota sementara ini pada panik dan sibuk bergulat dengan polusi, pemerintah repot menangani kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan, eh, itu orang-orang yang mementingkan egonya sendiri malah melakukan hal yang rentan membahayakan hanya untuk kepentingan dan gaya hidup pribadi.
Ini tuh musim kemarau, banyak gunung yang dikhawatirkan rusak karena ulah pencinta alam yang teledor hingga terbakar, misal karena puntung rokok yang dibuang sembarangan, bikin api unggun tanpa pengaman, dan kelalaian lainnya. Karena itu pendakian diatur seketat mungkin.
Lah ini, bikin pre wedding kok malah sengaja di wilayah yang rentan terjadi kebakaran, plus pakai flare pula. Hadeuh... tepuk jidat! Yang dicurigai para pendaki, yang ditatar terus kami para pegiat lingkungan, eh yang bikin onar ternyata lain orang.
Akhirnya bagaimana? Ya sekarang Jawa Timur sedang menghadapi kebakaran gunung. Bukit Teletubbies di Gunung Bromo menyusul Gunung Arjuno yang terbakar akibat aktivitas manusia. Sedih gak sih? Sedih sekaligus geram dan jengkel kalau saya mah...
Informasi yang saya baca dari beranda.co.id kebakaran yang terjadi di Bromo itu diakibatkan oleh aktivitas pemotretan pre-wedding yang menggunakan flare. Gak heran lah secara di musim kemarau ini, percikan api bisa terus menyambar rerumputan kering dan mudahnya terus menyebar.
Berita tentang kebakaran di Gunung Bromo di beranda.co.id
Kalau sudah kejadian api terus menjalar, hingga malam hari masih terus meluas itu, malah membuat blok savana yang mulai menguning di kemarau ini makin terbakar, mau bagaimana lagi?
Katanya sih pihak keamanan udah mengamankan pelaku. Sementara itu, wilayah Bromo ditutup untuk melakukan pemadaman. Humas Balai Besar Taman Nasional Tengger Bromo Semeru (BBTNBTS) Pak Hendra, membenarkan bahwa penyebab kebakaran adalah aktivitas pemotretan tersebut.
Jujur nih secara pribadi saya mempertanyakan itu para pelaku suka baca berita enggak ya? Tahu informasi kondisi alam dan lingkungan di negaranya ini gak sih? Terus itu mereka pada berpikir gak apa risikonya?
Saat pemerintah gencar mensosialisasikan gerakan penanggulangan kebakaran hutan, saat para blogger giat menulis dan menyebarkan artikel untuk bisa kurangi kebakaran hutan semaksimal mungkin dengan hal kecil apapun yang bisa kita lakukan, eh mereka itu yang melakukan pemotretan pre wedding malah seenaknya main-main dengan flare di daerah rawan kebakaran!
Mereka apa gak tahu kalau akhir Agustus kemarin Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sudah menghadapi kebakaran yang cukup krusial. Padahal baru saja kami para pendaki mendapat kabar gembira bahwa Semeru akan kembali dibuka.
Sekitar akhir Agustus juga Gunung Arjuno lebih dahulu terbakar di area Tamana Hutan Raya R. Soerjo akibat aktivitas manusia juga. Area yang terbakar sangat luas nyaris 4000 hektar menurut informasi dari Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Pak Gatot Soebroto.
Meski segala upaya dikerahkan untuk membantu mengendalikan kebakaran itu, tetap saja dampak kebakaran ini merugikan hingga menghabiskan sebagian besar lahan alam tersebut. Sedih gak tuh melihat wilayah yang seharusnya hijau royo-royo berubah menjadi hitam dan membara...
Yang gigit jari kan kami para pendaki nih. Rencana naik di akhir tahun ini terancam gagal lagi. Ya sebelumnya kan terhambat pandemi. Kini terkendala bencana. Kalaupun memaksa tetap ke sana, bukannya bahagia, malah prihatin dan nelangsa melihat pepohonan gosong...
Kabar kurang menyenangkan dari beberapa gunung di sekitar Kabupaten Malang dan Lumajang itu tentu saja membuat kami para pendaki, relawan yang membantu menangani karhutla dan warganet termasuk blogger yang gencar menggaungkan gerakan cegah kebakaran hutan dan lahan merasa miris.
Setelah menutup bacaan bergizi dari media online beranda.co.id sambil membereskan berandaku yang berantakan, mengisi lagi pot yang tercerai berai dengan media tanam dan bibit serta bunga yang masih bisa diselamatkan, saya bergumam sendiri, “Semoga mereka yang memicu kebakaran itu, segera mendapatkan hidayah lalu menjadi pencinta lingkungan. Tiap minggu kalau bisa mereka lakukan tanam pohon dan penghijauan!”
Kesempurnaan dari sebuah pendakian adalah sampai di puncak, bener gak sih?
Anak saya ngeyel katanya gak mau ikut pendakian kalau tidak bareng Aa Kiting. Ini tidak benar. Bisa-bisanya anak saya berpikiran demikian. Bagaimana kedepannya kalau orientasinya pendakian yang menyenangkan itu hanya dengan Kiting saja?
Kiting, nama aslinya Alfi, cowok humoris domisili di Bogor yang sudah saya dan suami anggap adik sendiri saking seringnya kami melakukan pendakian bareng.
Fahmi putra saya merasa nyaman mendaki bersama Kiting karena saya akui, Kiting orangnya humoris, mengayomi, sabar dan yang pasti meski badannya kecil ia cukup kuat untuk menggendong Fahmi, atau membawa double carrier yang isinya kulkas alias bahan logistik selama pendakian!
“Kalau sama Aa Kiting enak, Ami bisa makan sosis, seblak, kentang goreng, nugget, pokoknya enak-enak. Ami suka...”
Hadeuh. Nih anak dikira kalau emaknya gak belanja semua itu apa ia bisa menikmati semuanya? Hei, semua itu beli uangnya dari ayahmu, Mi!
Itulah kalau anak sudah merasa nyaman dengan sesuatu, susah untuk move on dan mendapatkan atau mencoba hal baru.
Memang saya dan suami akui, selama melakukan pendakian ke beberapa puncak Gunung, Fahmi sukses tanpa rewel bisa mencapai puncak jika Kiting bergabung bersama kami.
Bahkan, Fahmi seperti bukan anak kami saja karena sejak berdoa untuk naik hingga berdoa setelah turun Fahmi selalu jauh-jauh dari kami.
Entah kenapa kalau nanjak bareng orang lain, kekuatan kaki tuh anak bisa jadi berkali-kali lipat. Kami masih di pos dua, ia udah istirahat di pos tiga. Seperti tidak ada lelahnya. Tapi jika berjalan bareng saya atau ayahnya, rewelnya bukan main. Manja, minta ini itu, capek deh...
Fahmi sudah terlanjur nyaman nanjak bareng Kiting, si carrier biru
Banyak pendaki yang berpapasan saya tanya, apakah melihat anak kecil dengan ciri-ciri seperti Fahmi di jalur naik? Mereka jawab ada, bersama pendaki dengan carrier biru sedang buka bekal di pos tiga.
Nah, itu pasti Fahmi bareng Kiting. Dan ketika saya memasuki pos tiga, Fahmi dan Kiting sudah tidak ada. Mungkin sudah jalan dan kembali istirahat di pos empat? Selalu begitu...
Mungkin pada saat tidur di tenda saja Fahmi kembali nemplok di saya dan menandakan ia anak saya karena ia tidak bisa tidur di tenda Kiting yang selalu tidur larut. Fahmi juga masih harus diusap-usap badannya kalau mau tidur dan itu tidak bisa diwakilkan kepada siapapun.
Di satu sisi saya bersyukur Fahmi merasa nyaman dengan Kiting. Karena Kiting banyak mengajarkan kebaikan dengan cara tidak menggurui. Di sisi lain saya gelisah. Fahmi jangan sampai bergantung kepada Kiting. Tidak mungkin setiap melakukan pendakian Kiting bersama kami. Sesempurna apapun Kiting di mata Fahmi, anak kami harus bisa mandiri.
Fahmi harus bisa menjadi diri sendiri dan percaya akan kemampuannya. Jangan sampai ia merasa nyaman jalan ditemani Kiting, hingga ia tidak mau melakukan pendakian lagi kalau tidak bersama Kiting. Kiting pun mengetahui hal itu. Kami membicarakannya saat beberapa kali Kiting main ke rumah.
Jangan sampai Fahmi tidak mau mendaki kalau tidak ada Kiting. Itu sangat berbahaya. Lebih berbahaya dari manajemen tim pendakian yang kacau hingga membuat regu pendaki jadi tidak kompak.
Kesempurnaan dari sebuah pendakian bukanlah sampai di puncak...
Akhirnya Kiting mengajak teman-teman lainnya untuk mendaki gunung Gede Pangrango termasuk mengajak saya dan keluarga. Kami melakukan koordinasi dengan melibatkan Fahmi. Supaya ia paham siapa tugasnya apa dan apa saja tanggung jawab nya.
Semua sepakat, Fahmi berangkat di depan dengan Izay, Dennis dan Daud di belakang Kitong sebagai navigator dan ayahnya sebagai leader.
Biar gak bingung, sedikit saya perjelas dulu tentang formasi pendakian nya, ya. Jadi bentuk formasi pendakian biasanya terdiri dari satu baris regu pendaki. Urutan posisi dari depan ke belakang adalah navigator, leader, follower, logistik, chef, dan terakhir sweeper. Setiap jabatan di formasi pendakian memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Saya sebagai koki gunung alias team logistik berjalan di belakang dengan Anna dan rombongan para ladies dari Bekasi, sementara Kiting sebagai sweeper tentu saja berjalan paling belakang. Haha, kami sengaja “memisahkan” Fahmi dan Aanya itu segitu jauhnya.
Selama perjalanan, semua tidak banyak yang berubah. Fahmi tetap berjalan dan berinteraksi dengan Kitong, Dennis, Daud dan Izay dalam pantauan ayahnya. Saya ketahui itu setelah kami sama-sama istirahat di akhir tanjakan menuju pintu masuk hamparan Suryakencana sebelum melanjutkan perjalanan mendirikan tenda mendekati jalur ke puncak.
Di hamparan alun-alun Suryakencana di antara semak edelweis itu Fahmi tetap ceria dan ngobrol dengan Izay. Sepertinya mereka bisa saling mengimbangi. Usia Fahmi dan Izay hanya beda sekitar lima tahun.
Saat makan, saat tidur, saat melakukan summit dan istirahat di puncak, Fahmi ceria seperti biasa tanpa harus jalan bareng dengan Aanya lagi.
Yes. Berarti rencana kami berhasil. Fahmi sebagai pendaki pemula mulai paham tentang formasi pendakian dan peran pendaki di dalam sebuah regu. Dan Fahmi tidak lagi bergantung kepada siapa pun.
Selama pendakian kami amati komunikasi Fahmi dan sesama pendaki lain tidak buruk. Mereka bertiga yang berada di barisan follower terlihat kompak, tidak egois, dan saling interaksi dengan kondisi rekannya.
Kesuksesan sampai di puncak Gede dan Pangrango bukan karena kesempurnaan kami, melainkan karena kekompakan dan kebersamaan Kangen kalian, Dennis, Izay, Daud, Kitong, Kiting dan Bang Ndre
Saat cuaca mulai berubah atau ada seseorang kelelahan dalam perjalanan mereka tidak meninggalkan satu sama lain. Tapi saling memperhatikan dan selalu ngomong untuk koordinasi lanjutan ke ayahnya yang ada di depan sebagai leader.
Pendakian ke Gede Pangrango kali ini memang banyak membawa hasil. Semua formasi aman dan bisa sampai ke puncak. Termasuk team buibu rempong di formasi team logistik. Sungguh sebuah pendakian yang sempurna, meski kami tahu tidak ada satupun yang bisa sempurna.
Karena yang utama dalam pendakian adalah jangan egois, jangan acuh terhadap sesama anggota pendakian, jangan menyepelekan dan merasa diri paling segalanya.
Tidak ada yang sempurna sesungguhnya. Jika memang tidak bisa lanjut muncak, jangan dipaksakan. Ingat, puncak gunung tidak pergi kemana-mana. Jika tidak bisa muncak hari ini, masih ada hari esok. Bukankah mengutamakan keselamatan rekan satu tim pendakian terlebih dahulu itu lebih utama?
Menunjukkan kesempurnaan dan ketidaksempurnaan yang saling melengkapi, saling menguatkan salah satunya bisa kita temukan dalam perjalanan pendakian. Fahmi dan Kiting yang sengaja kami pisahkan, salah satu faktanya.
Fahmi di puncak gunung Kerinci
Mungkin karena itu ada pepatah, “Jika ingin tahu sifat asli seseorang, ajaklah dia mendaki gunung.” Nasihat itu ada benarnya. Karena saat di gunung, kondisi fisik, mental dan pikiran seseorang akan cenderung lengah. Dan sifat asli seseorang akan muncul tanpa dia sadari.
Jadi, jangan heran kalau ngajak teman mendaki, lalu tiba-tiba temanmu yang begitu sempurna itu terlihat berbeda dari biasanya. Hehe... Tak apa, kita balut ketidaksempurnaan nya dengan kekompakan saja, ya.
Tulisan ke-7 three day on post dari Founder Komunitas ISB, Ani Berta, dengan tema “Perfect Imperfect”
Kebanggaan tersendiri bisa melihat negara terindah di dunia dengan mata kepala sendiri dari atas ketinggian di atas permukaan laut
Notifikasi dari berbagai grup pendakian yang saya ikuti sangat ramai. Upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih dalam rangka memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus sekaligus Hari Proklamasi Kemerdekaan NKRI di puncak gunung memang banyak diselenggarakan tahun ini. Seiring dengan dihapuskannya sistem PPKM setelah Covid-19 mereda. Setiap komunitas saling berkoordinasi mempersiapkan sematang mungkin kegiatan tahunan yang dibanggakan para pencinta alam dan para pendaki gunung itu.
Bangga bisa merayakan HUT RI di puncak tertinggi gunung berapi Indonesia, Puncak Anjani Gunung Kerinci (3805 MDPL). Melihat keindahan Indonesia yang sesungguhnya dari ketinggian ini dipastikan tidak bisa semua orang dapat melakukannya.
Bukan untuk gaya-gayaan jika saya dan suami membawa anak semata wayang kami ke sana. Tapi lebih ke menanamkan pendidikan karakter sedini mungkin. Supaya sejak kecil ia bisa belajar di alam terbuka sambil melihat keindahan negara tempat dilahirkan dan dibesarkannya secara langsung. Sekaligus bisa belajar bertanggung jawab sebagai generasi muda penerus kami, yang sudah sepuh ini.
Bukankah kemerdekaan yang begitu mahal kita dapat ini, harus bisa kita pertanggung jawabkan? Karena kalau tidak, para pahlawan kemungkinan besar menangis menyaksikannya...
Pengakuan Keindahan Indonesia
Majikan saya di Taiwan, yang berprofesi sebagai pramugara dan pramugari dari sebuah maskapai penerbangan internasional mengakui kalau Indonesia adalah negara yang paling indah, dari semua negara di dunia yang pernah dikunjunginya selama 33 tahun mereka berkarier.
Mereka berpendapat keindahan pesona kilau Indonesia memang tidak ada habisnya. Bagaimana tidak, Indonesia seperti sebuah paket komplit yang memiliki daya pikat menarik perhatian semua mata. Mulai dari keindahan alamnya, dimana Indonesia memiliki salah satu hutan hujan tropis tertua di dunia yang di dalamnya terdapat ribuan keanekaragaman hayati. Flora dan fauna yang dijadikan kawasan lindung. Ditambah deretan gunung berapi aktif karena Indonesia berada di lingkaran “ring of fire”. Plus dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan sehingga memiliki banyak garis pantai, menyebabkan bisa dengan mudah dijumpai aneka ragam terumbu karang, jenis-jenis ikan, pantai yang berkilau hingga pulau-pulau nan eksotis yang selalu dapat membuat decak kagum baik wisatawan lokal maupun turis mancanegara.
Keindahan Indonesia memang tidak terbantahkan terlebih lembaga situs analisis survei asal Inggris money.co.uk, juga pernah merilis daftar peringkat negara dengan panorama dan kondisi alam terindah di dunia. Dari hasil survei tersebut majalah Time Out menobatkan Indonesia sebagai negara terindah dengan panorama alam terbanyak dan terbaik dengan menempati peringkat nomor satu, mengalahkan 49 negara lainnya, termasuk Selandia Baru, Jepang dan Perancis. Keren banget kan?
Indonesia bukan hanya memiliki destinasi wisata populer yang menyajikan keindahan alam seperti di Bali, tapi Indonesia juga memiliki hutan tropis di Sumatera dan Kalimantan termasuk cagar alam, biosfer dan sejumlah situs warisan dunia UNESCO seperti Taman Nasional Komodo.
Bahkan sekarang Indonesia juga telah memiliki sirkuit balap motor Mandalika di Nusa Tenggara Barat yang mencuri perhatian dunia karena dianggap sebagai sirkuit motor tercantik di dunia.
Melalui sirkuit Mandalika sebagai lokasi ajang internasional MotoGP, menjadi jalan lain mengundang wisatawan datang sekaligus untuk mengekspos keindahan alam keunggulan yang dimiliki Indonesia. Mantap!
Indonesia dengan iklim tropisnya membuat siapa pun tak rewel untuk mendatanginya kapan saja. Udara dan suhu tetap stabil karena hutan yang dimiliki Indonesia masih banyak yang terjaga kelestariannya.
Keberadaan hutan ternyata membawa dampak yang positif baik tidak hanya bagi manusia tapi juga untuk lingkungan dan makhluk hidup lainnya.
Sejak dini mengenalkan dan mengajak anak menanam pohon untuk kelestarian alam dan lingkungan
Manfaat Hutan Indonesia
Fungsi utama hutan yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman lebat sebagai penghasil oksigen yang memperpanjang kelangsungan kehidupan, menjadi semakin maksimal karena sekaligus memiliki fungsi untuk menyerap karbon dioksida yang dihasilkan dari pernafasan manusia, hasil pembakaran kendaraan bermotor, limbah pabrik maupun sumber-sumber lainnya.
Tidak hanya itu manfaat hutan lainnya yang tidak kalah penting adalah sebagai sumber bahan obat-obatan, sebagai penyedia sumber makanan, mencegah erosi dan banjir, tempat berlindung, sumber mata pencaharian manusia, pengontrol iklim, dan masih banyak lagi.
Fakta Kebakaran Hutan Indonesia
Sayangnya, tidak semua pihak bisa menjaga dan melestarikan hutan. Salah satu ancaman yang paling mengancam keberadaan hutan adalah kebakaran. Meski kebakaran hutan ini ada yang tidak direncanakan. Kebakaran alami yang tidak terkendali membakar lanskap bervegetasi, pepohonan hutan atau padang rumput.
Kita mungkin masih memaklumi jika kebakaran hutan terjadi secara alami karena kilat, petir dan gesekan. Namun sedihnya justru banyak kebakaran yang dipicu oleh aktivitas manusia, seperti api unggun, membuang puntung rokok sembarangan, atau bahkan sengaja dibakar untuk membuka lahan.
Dampak Kebakaran hutan Bagi iklim dan Lingkungan
Saat kemarau melanda, ancaman kebakaran hutan juga akan meningkat. Kondisi kering dan kekeringan berkepanjangan ditambah dengan perubahan iklim dapat memperburuk risiko kebakaran hutan.
Ketika terjadi kekeringan, angin kencang, dan cuaca ekstrem melanda, maka kebakaran hutan bisa menjadi lebih dahsyat dan kobaran apinya lebih kuat, lebih besar dan akan menyebabkan kebakaran lebih luas dan sulit dikendalikan.
Kebakaran hutan dan lahan berdampak pada rusaknya ekosistem dan menyebabkan musnahnya flora dan fauna yang tumbuh dan hidup di hutan. Dampak lainnya dari asap yang ditimbulkan dapat menyebabkan berbagai penyakit, seperti Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), Asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronik, penyakit jantung serta iritasi pada mata, tenggorokan dan hidung.
Kabut asap yang diakibatkan adanya kebakaran hutan juga mengganggu transportasi, khususnya penerbangan.
Tersebarnya asap dan emisi gas karbon dioksida dan gas-gas lain ke udara juga akan berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim.
Kebakaran hutan mengakibatkan hutan menjadi gundul, sehingga tidak mampu lagi menampung cadangan air di saat musim hujan, hal ini dapat menyebabkan tanah longsor ataupun banjir.
Kebakaran hutan dan lahan juga menjadi penyebab berkurangnya sumber air bersih dan bencana kekeringan, karena tidak ada lagi pohon untuk menampung cadangan air.
Fenomena Indonesia Negara Hutan Hujan Tropis Terbesar ke-3 Dunia
Meski hutan di Indonesia pernah dilanda berkali-kali bencana kebakaran hutan, dan beruntung saat ini kejadian tidak menyenangkan itu sedikit mereda—membuat geliat kehidupan hutan Indonesia pun kembali tumbuh.
Hutan Indonesia masih diakui keberadaannya sebagai hutan hujan tropis terluas nomor tiga di dunia setelah Brazil dan Afrika.
Meski kita tidak boleh lupa, jika tingkat degradasi hutan yang tinggi di Indonesia ini juga yang jadi penyebab negara kita menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.
Salah satu penyebab turunnya luasan hutan tropis di Indonesia adalah praktik perladangan berpindah. Suksesi vegetasi pasca perladangan berpindah dapat memberikan layanan ekologis berupa peningkatan tutupan vegetasi dan perbaikan sifat tanah yang jarang sekali terekspose pada tingkat lanjut.
Upaya Menjaga Hutan dan Kelestarian Alam
Hutan merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui serta mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang kehidupan ekosistem. Indonesia negara yang memiliki hutan hujan tropis paling luas di dunia mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi.
Keanekaragaman hayati yang tinggi ini dapat memberikan manfaat serbaguna dan mempunyai manfaat yang vital dan strategis, sebagai modal dasar pembangunan nasional serta sebagai paru-paru dunia yang mutlak dibutuhkan sepanjang masa.
Namun kondisi terkini dari luas hutan di Indonesia terus mengalami penurunan. Analisis Forest Watch Indonesia (FWI, yaitu organisasi yang dibangun untuk melakukan perubahan terhadap sistem dalam mengakses data dan informasi mengenai pengelolaan hutan di Indonesia) dan Global Forest Watch (GFW, yaitu platform daring yang menyediakan data dan alat untuk pemantauan hutan, sehingga siapa saja memungkinkan untuk mengakses informasi tentang tempat dan bagaimana perubahan hutan di dunia) tahun 2001 memperlihatkan bahwa laju deforestasi terus meningkat, hingga mencapai dua juta hektar/tahun periode 1996-2000.
Kerusakan hutan yang diakibatkan penurunan luasan hutan tersebut penyebab terbanyak karena upaya pembukaan hutan yang disebabkan pertambahan populasi manusia, penebangan hutan untuk diambil hasilnya, konstruksi jalan, kebutuhan komoditas internasional, kebijakan pemerintah, kebakaran hutan serta kegiatan perladangan berpindah.
Meski kita tidak tinggal di hutan, tapi kita harus tahu bagaimana cara mengatasi kebakaran hutan. #BersamaBergerakBerdaya supaya kelestarian hutan kita tetap terjaga.
Perhutani Kabupaten Cianjur sebagaimana hasil wawancara yang saya lakukan menginformasikan jika mereka sigap akan antisipasi kebakaran hutan ini dengan memiliki program Siaga Dalkarhutla (Siaga Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan) di setiap Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) atau setingkat kecamatan. Lengkap dengan pos komando-nya yang siaga 24 jam.
Selain terus melakukan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat, untuk menekan potensi kebakaran hutan, cara-cara berikut ini dapat diterapkan, nih manteman...
Jangan asal membakar apa pun di kawasan hutan yang dapat menyebabkan api menyebar, seperti rumput kering atau plastik dan lainnya.
Dilarang melakukan pembakaran di sekitar area yang rawan kebakaran.
Setelah selesai membakar sesuatu, pastikan api sudah benar-benar padam sehingga tidak ada kemungkinan api muncul kembali, menyebar dan menyebabkan kebakaran hutan.
Jika melihat ada sumber titik api atau kebakaran, segera melapor kepada petugas atau penjaga yang sedang patroli agar cepat ditangani.
Memahami peraturan setempat tentang perizinan dan pembatasan larangan pembakaran yang dikel oleh Departemen Kehutanan dan Sumber Daya Alam. Misalnya mengenai jarak minimal pembakaran, perizinan dan peraturan kegiatan kemah, peraturan pekerja di hutan, dan lain sebagainya.
Saya dan keluarga secara pribadi, ketika melakukan pendakian gunung saat musim kemarau memiliki tips untuk mencegah kebakaran hutan, yaitu dengan cara #UntukmuBumiku:
Tidak membuat api unggun jika tidak urgent. Kami memilih membawa sleeping bag agar tidak kedinginan
Jika harus membuat api karena darurat, pastikan setelahnya api benar-benar padam
Tidak merokok di kawasan hutan. Jika sudah terlanjur membawa kami menerapkan disiplin ketat supaya bertanggung jawab membawa kembali puntung rokoknya, tidak dibuang di hutan
Memilih menggunakan cooking set untuk keperluan memasak. Tidak menggunakan kayu bakar untuk menghindari kemungkinan kebakaran hutan
Jika melihat ada sumber titik api segera melapor kepada ranger atau penjaga hutan yang biasanya ada di setiap pos jalur pendakian
Jika mampu dan memiliki keterampilan memadamkan api, sambil menunggu petugas datang kita dapat membantu memadamkannya
Nah, itulah hal sederhana #UntukmuBumiku yang selalu kami tekankan kepada anak, kawan satu tim saat pendakian maupun masyarakat umum saat melakukan pendakian di musim kemarau.
Sekecil apapun upaya yang kita lakukan, Insyaallah akan membawa perubahan yang lebih baik dalam menyelamatkan hutan kita. Mari kita isi kemerdekaan yang kita jalani ini dengan lebih peduli pada alam dan tanah air.
Mari kita isi kemerdekaan ini dengan menjadi pribadi yang peduli hutan dan lingkungan. Supaya kelak anak cucu kita masih bisa merasakan keindahan dan manfaatnya.