Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juli 2023

Rekomendasi Tempat Novel Fiksi Remaja, Gratis!

Bersyukur pada hujan yang turun di halaman akhir pekan ini. Membuat saya memiliki kesempatan cukup untuk me time. Meski kegiatannya hanya baca novel fiksi remaja, main game di ponsel, atau ngemil sambil dengar radio.

Habis mau gimana lagi, hujan yang turun begitu awet ini sudah otomatis membatalkan rencana yang sudah saya dan keluarga jadwalkan. Tadinya kan akhir pekan itu kami biasa main ke kebun nengok palawija dan rencana selanjutnya jalan ke pasar malam, jajan kuliner tradisional yang mulai sulit didapatkan di pasar biasa.

Dan hujan menggagalkan semuanya. Tapi tentu saja tidak saya sesali karena meski terjebak hujan dan kami hanya bisa diam di rumah saja, ternyata not bad juga.

Me time berkualitas memang bisa bikin pikiran kembali terasa lebih segar, setelah sebelumnya begitu mumet mikirin ini itu terkait mikirin kehidupan dan kebutuhan keseharian. Ibarat baterai yang sudah lemah mendapatkan asupan energi, kekuatan dan tahan lamanya kembali bisa diadu.

Sekali duduk, sehari ini saya sudah bisa menamatkan satu judul novel fiksi remaja yang cukup bagus dan ceritanya begitu menggugah. Judul novel fiksi remaja yang baru saja saya baca itu “Hati Untuk Kenari” yang ditulis oleh YANTIE WAHAZZ.

Novel fiksi remaja yang terbagi dalam 120 Bab ini menceritakan tentang kisah cinta tokoh bernama Kenari. Nama yang bagus bukan? Apalagi panggilannya Ken, entah kenapa saya langsung suka dan seolah bisa membayangkan bagaimana sosok sang tokoh aslinya itu.

Bisa bayangkan, bagaimana Ken yang sakit hati dan trauma karena tunangannya menghamili perempuan lain sebulan menjelang pernikahannya. Ken pun bertekad untuk menutup hatinya pada lelaki. Ken belajar untuk hidup sendiri karena tak ingin merasakan sakit hati lagi.

Tapi kehadiran Adam, boss baru di perusahaan tempatnya bekerja telah melemparkan Ken ke dalam situasi paling buruk yang pernah dijalaninya. Mereka terlibat asmara semalam karena Adam sedang dalam posisi mabuk akibat melihat perselingkuhan kekasihnya.

Bagaimana Ken hendak meminta pertanggungjawaban Adam, sementara dia melihat sendiri Adam telah kembali menjalin kasih dengan mantan pacarnya itu?

Nah rumit kan ya? Akankah Ken meneguhkan langkahnya untuk pergi, sementara sebuah kehidupan telah bertumbuh subur di dalam rahimnya? Atau tetap tinggal dan meminta pertanggungjawaban lelaki itu meski tanpa cinta?

Penasaran dengan kisah dari novel fiksi remaja Hati untuk Kenari tersebut?

Rekomendasi Tempat Novel Fiksi Remaja,  Gratis!

Baca Novel Fiksi Remaja Terbaik Secara Gratis di GoodDreamer.id

Coba instal aplikasi GoodDreamer dan miliki kumpulan novel fiksi remaja yang lengkap dan menarik. Bagi pembaca yang mencari karya-karya fiksi remaja, GoodDreamer.id bisa jadi pilihan terbaik untuk membaca karya-karya terbaru dan terbaik dalam genre apapun.

Dalam kumpulan buku novel fiksi remaja di GoodDreamer.id, terdapat berbagai macam pilihan genre, mulai dari fantasi, romantis, petualangan, hingga misteri. Kumpulan novel fiksi remaja best seller juga tersedia di GoodDreamer.id. Kita dapat menemukan novel-novel yang populer dan diakui oleh banyak orang di seluruh dunia, semuanya gratis.

Web Novel Fiksi Remaja Gratis dengan Kumpulan Genre Terlengkap

GoodDreamer.id menyediakan kumpulan novel fiksi remaja yang menarik dan inspiratif untuk dibaca oleh para pembaca muda. Dalam kumpulan buku novel fiksi remaja, terdapat berbagai macam genre yang dapat dinikmati, mulai dari drama, romantis, petualangan, dan masih banyak lagi.

Novel fiksi remaja best seller juga dapat ditemukan di GoodDreamer.id. Buku fiksi remaja terbaik ini telah mendapatkan banyak penghargaan dan menjadi populer di kalangan pembaca.

Dengan bacaan bagus dan syarat manfaat ini, kita selaku pembaca dapat menemukan inspirasi dan belajar dari cerita-cerita yang penuh makna.

Kini membaca novel fiksi remaja bisa di mana saja dan kapan saja tanpa harus membawa buku fisik yang berat.

Manteman yang mencari inspirasi dan hiburan, GoodDreamer.id tempat yang tepat untuk membaca novel fiksi remaja terbaik. Dengan fitur lengkap dan mudah digunakan, membaca novel fiksi remaja online di GoodDreamer.id jelas bisa dijadikan alternatif yang tepat untuk memenuhi kebutuhan bacaan sebagai pengisi waktu me time.

Biar gak penasaran lagi, coba langsung saja kunjungi https://gooddreamer.id/novel_fiksi_remaja ya...

Read more ...

Kamis, 01 Desember 2022

Bagaimana Masa Depan Anak?

Udah lewat tengah malam lagi, udara semakin dingin ditambah sisa hujan masih terasa menetes di terpal tenda darurat yang ditempati karena gempa susulan selalu terasa dan jika memilih tidur di rumah ditakutkan malah celaka. Tapi mata ini terasa belum ngantuk juga. Kenapa ya?

Jika hanya berdua dengan anak seperti sekarang, pikiran selalu loncat kesana-kemari. Gulungan memori selama hampir sepuluh tahun anak kami terlahir ini selalu hilang dan muncul silih berganti. Menatap wajahnya yang tertidur pulas, seolah tanpa beban dan terlihat damai. Padahal di usianya yang masih belia itu, ia sudah melihat kekacauan hubungan orang tuanya yang sedikit banyak saya tahu itu sudah melukai dan merusak pikiran dan jiwanya.

Sering memikirkan kelak bagaimana ia mengahadapi istrinya secara sejak kecil ia selalu melihat bagaimana perlakuan ayahnya kepada ibunya. Perang dingin yang pecah ketika keluar kalimat-kalimat menyakitkan. Saya masih bisa tahan. Tapi bagaimana diterimanya oleh anak?

Saya tidak ingin apa yang ia alami dijadikan kebiasaan apalagi pembenaran. Saya ingin mengubah itu sejak dulu tapi ibarat bertepuk tangan tidak mungkin terjadi jika hanya sebelah tangan yang melakukan, bukan?

Saya tidak ingin egois. Saya tidak akan mengaku benar sendiri. Saya mencoba berusaha meningkatkan dan menjaga komunikasi dengan pasangan sehingga hubungan menjadi lebih baik dan harmonis. Tapi hasilnya hanya sesaat. Ibarat pepatah Sunda adat kakurung ku iga yang artinya sifat atau kebiasaan buruk yang sudah ada dan susah untuk dihilangkan. Begitu juga dengan kami. Baiknya hanya seminggu dua minggu. Beberapa saat kemudian begitu lagi. Meski karena hal sepele, atau ada perkataan yang menyinggung, langsung baper, diam dan akhirnya itu tadi, perang dingin.

Ada atau tidak ada masalah, lima tahun terakhir ini saya tidak pernah menyanggahnya. Saya tidak pernah menuduh, malah menjauhi dari keinginan untuk memperhatikan karena takutnya disalahartikan. Ngajago, ngajajah, dan masih banyak lagi istilahnya... Semenjak saya tahu jika ada semacam dendam dalam hatinya mengenai kelakuan saya di masa lalu, saya merasa harus tahu diri.

Mungkin sering mendengar adanya hubungan menantu-mertua yang tidak berjalan baik? Menantu kerap terlibat konflik dengan mertua, sehingga memengaruhi hubungan mereka dengan pasangan.

Tentu saja tidak semua hubungan menantu-mertua tidak berjalan baik. Sebab, masih ada mertua yang menyayangi menantu layaknya anak kandung, begitu pun sebaliknya.

Saya menyadari menikah itu bukan hanya menyatukan dua karakter yang berbeda, namun juga menyatukan dua keluarga yang berbeda. Pola pikir yang berbeda antara menantu dan mertua bisa menimbulkan konflik sehingga hubungan menjadi tidak harmonis.

Perbedaan pola pikir dan karakter sebetulnya wajar terjadi. Sebab, menantu dan mertua lahir pada era yang berbeda dan dibesarkan di lingkungan yang berbeda pula. Pastinya kita pun tidak dapat memilih tipe mertua sesuai keinginan, bukan?

Hal yang perlu dilakukan hanyalah memahami perbedaan kepribadian, pola pikir, hingga cara penyelesaian masalah. Sikap saling menghargai dan menghormati diperlukan guna menciptakan hubungan harmonis antara mertua dan menantu. Tapi jika itu belum dicapai, ya ujungnya jadi masalah dan fatalnya jika tetap disimpan dalam hati, jadi dendam meski sang mertua sudah tiada.

Anak bungsu yang selalu dimanja, dididik dengan kasih sayang (yang sempat diakuinya kalau itu salah) jadi faktor penyebab selanjutnya. Mungkin tidak siap melepas anaknya untuk menjalani hubungan pernikahan dengan orang lain. Ada yang bilang mertua perempuan umumnya lebih sulit melepas anak laki-lakinya untuk menikah dengan orang lain. Mungkin karena  khawatir anaknya akan melupakan dirinya dan lebih memprioritaskan istrinya. Ketidakrelaan dan ketakutan itu terus menghantui mertua perempuan, sehingga memengaruhi penilaiannya terhadap menantunya.

Salahnya saya tidak mengenal lebih jauh mertua dengan baik terlebih dahulu sebelum menikah. Saya belum sempat meyakinkan mertua bahwa anaknya tetap menyayangi orangtuanya meski memutuskan menikah dengan orang lain. Meski sudah pasti pasangan tetap memiliki waktu bersama orangtua secara kami tinggal bersamanya.

Dan mungkin justru karena kami tinggal dalam satu atap, ini yang jadi faktor utama munculnya konflik.

Mertua perempuan sering sekali merasa anak laki-lakinya adalah miliknya, sehingga dia bisa mengatur kehidupan anak laki-lakinya. Sedangkan, menantu perempuan merasa mertua terlalu ikut campur kehidupan rumah tangganya.

Salah saya juga tidak bisa menahan emosi dan tidak mencoba berkomunikasi dengan orang tua.

Berkomunikasi, ini kata kuncinya. Tapi bagaimana bisa jika orangnya saja susah diajak komunikasi. Berlindung di balik sifat pemalu, jarang bicara, pendiam, atau apalah istilahnya menjadikannya seolah terbebas dari keharusan berkomunikasi selayaknya sebagaimana seorang pemimpin rumah tangga.

Saya sudah memberikan kesempatan untuk melakukan apa saja yang sekiranya menurutnya baik. Sampai saya mengabaikan diri saya, orang tua dan keluarga saya sendiri. Nah, pada saat saya memberikan kesempatan berbicara itulah semacam dendam yang terus dipupuknya muncul kepermukaan. Setelah saya tahu itu hati saya mengkerut. Seandainya tidak ada anak, saya sudah tidak peduli lagi.

Berusaha untuk menjalin komunikasi pun hanya berasa kepura-puraan saja. Karena bisa merasakan mana yg sampai hati, mana yang hanya di permukaan saja. Pembicaraan sederhana sekalipun bisa menjadi pemicu ketidakharmonisan karena mungkin sifatnya mudah tersinggung, memiliki dendam itu tadi, atau entahlah... Sudah bawaannya begitu saja kali.

Saya hanya berusaha memperbaiki diri dengan mencoba tetap terbuka, tetap menjadikan ia teladan apalagi di depan anaknya. Karena yang saya khawatirkan hanya masa depan anak. Itu yang muncul dalam pikiran saya manakala saya berbincang dengan diri sendiri.

Read more ...

Rabu, 16 November 2022

Istri Kedua Suamiku

Harus dijelaskan lebih dulu, biar gak terprovokasi dengan judul yang mungkin bisa bikin prasangka buruk, atau bahkan menimbulkan fitnah. Judul yang saya pilih untuk artikel ini diambil dari sebuah novel online karya Feby Febriyani. Ya, judulnya memang “Istri Kedua Suamiku” dan karena saya akan bercerita soal novel sebanyak 302 Bab ini, maka sengaja judul itu yang saya pilih untuk artikel ini.

Novel ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama menceritakan tentang perselingkuhan yang dialami seorang tokoh bernama Arumi. Bayu, suaminya terang-terangan mengakui jika ia tidak bisa berpisah maupun meninggalkan Nani, perempuan yang sedang dekat dengannya. Hati Arumi tentu saja hancur-sehancur-hancurnya. Ia berusaha menyadarkan suaminya untuk kembali menjalankan rumah tangga tanpa orang ketiga. Menjadi contoh terbaik bagi putra putrinya, yang sedang beranjak dewasa, Gizka dan Raffa.

Namun rupanya Bayu lebih tertarik dengan pesona Nani, perempuannya itu. Bayu tetap jalan dengan selingkuhannya tanpa mau melepaskan Arumi. Egois, bukan?

Menyadari itu sebuah kesalahan fatal, dan ia ingin menyelamatkan kondisi diri serta anak-anaknya dari pembiaran dosa yang dilakukan suaminya, Arumi pun mengambil jalan tersulit, mengajak dua orang kakak ipar nya untuk melamarkan Nani, menjadi istri Bayu. Sambil ia mempersiapkan segala sesuatunya sehingga gugatan cerai yang ia ajukan bisa dikabulkan pengadilan. Karena bagi Arumi, lebih baik menjadi janda daripada memiliki adik madu.

Bayu sama sekali tidak menyangka pada detik-detik terakhir dia menikah dengan Nani, akta cerai dari pengadilan yang diajukan Arumi justru keluar. Begitu juga dengan Gizka yang sudah kelas tiga SMA, ia sudah paham apa dan bagaimana kondisi rumah tangga orang tuanya. Perpisahan orang tua sangat memukul dirinya. Namun Gizka pun tidak ingin mamanya terus bersedih. Jika perpisahan bisa menjadikan ibunya lebih baik, Gizka menerima bahkan bisa meyakinkan adiknya.

Meski dengan begitu mereka harus banting tulang berjualan demi bisa memenuhi kebutuhan karena seperti bisa kita duga, istri muda Bayu perlahan tapi pasti ingin menguasai semua harta Bayu. Meski di situ ada hak dua buah hatinya.

Setiap akhir pekan Arumi berjualan kue di taman kota bersama Gizka. Di sana bertemu Kenji, yang juga berjualan dimsum, hasil olahan ibu dan saudaranya. Sering bertemu dan berbagi cerita menumbuhkan rasa kagum dan suka Kenji kepada Arumi yang selalu tegar dan bekerja keras demi kehidupannya bersama buah hati.

Dari kedekatan mereka, Edward adik Kenji berhasil menemukan dalang yang akan mencelakai Arumi yang ternyata suruhan dari Nani. Dari Fakta ini Bayu tentu saja jadi orang yang paling menyesal. Bukankah ia lebih memilih kerikil daripada berlian?

Konflik pada session 1 novel ini cukup bikin deg-degan. Seolah kita ini jadi detektif yang diajak oleh penulis untuk ikut berpikir dan mencari solusinya. Meski saya tidak akan cerita bagaimana ending hubungan satu sama lain dalam kisah ini karena terlalu penasaran dengan sessions dua yang menceritakan tokoh utamanya adalah Edward dan Arumi.

Konflik yang naik turun bikin penasaran selalu muncul untuk segera menuntaskan bacaan santai ini. Mulai masalah Sugar Daddy yang dialami Gizka, masalah perebut pacar saudara yang dilakukan sepupu Kenji terhadap Edward, yang mana diketahui jika Edward adalah anak angkat di keluarga Kenji, bukan darah daging dari orangtuanya yang sangat mereka hormati.

Dan masih ada banyak lagi konflik yang terjadi diakibatkan persaingan bisnis yang belakangan diketahui jika orang tua Kenji adalah pebisnis ternama. Kenji berdagang di taman kota setiap akhir pekan hanya sebagai pelampiasan rasa kesepiannya saja pasca dikhianati.

Yang bikin saya selalu suka novel ini adalah banyak ditemukan quote terkait komunikasi pasangan, rumah tangga dan pepatah lainnya yang memang sangat bisa diterima oleh nalar.

Dari novel ini juga saya bisa mengambil point jika cinta bukanlah penjara sehingga siapapun tak harus mengekang kebebasannya. Cinta ada bukan untuk memerangkap seseorang di dalamnya, melainkan untuk membuatnya bahagia.

Cinta juga membantu seseorang berkembang menjadi lebih baik. Sebab, seharusnya cinta memberi kekuatan dan energi yang positif. Satu sama lain harus menanamkan rasa percaya. Kepercayaan itu harus ditanam sejak awal. Sehingga bisa tumbuh karena dirawat dan menguat karena proses.

Banyak perempuan mampu bertahan dengan segala ujian rumah tangga, tapi jangan pernah menguji perempuan dengan bermain perempuan lain. Termasuk kekerasan verbal dan KDRT pada wanita.

Ada masanya setiap pasangan baik lelaki maupun perempuan akan marah. Jangan memukul, tapi didik pasangan karena mendidiknya adalah kewajiban yang berpahala.

Jangan pernah membuat pasangan pergi dari rumah dengan hati yang luka. Dia mungkin bisa kembali, tapi hati dan kasih sayangnya tak akan pernah sama seperti dulu lagi.

Saat lelaki melihat wanita lain lebih dari pasanganmu, pahamilah bahwa istrimu pun cantik di mata lelaki lain. Begitu juga sebaliknya. Jika sebelum menikah selalu mengutamakan keluarga, orang tua atau saudara, setelah menikah perempuan harus mengutamakan kepentingan suami. Patuh, jaga harta dan kehormatannya. Jadilah istri yang baik, sabar dan pengertian.

Karena sejatinya jika seorang istri berhasil menjadi istri yang baik, di situ tolok ukur keberhasilan orang tua mendidik anak gadisnya dalam dunia pernikahan. Dan jika seorang suami menyakiti hati istrinya, itu tandanya ia sudah membuat buat malu orang tua yang telah membesarkan bajingan.

Suami sangat menjaga perasaan istrinya bukan berarti ia tipe suami takut istri, melainkan bisa saja ia menjaga terhindar dari dosa. Mungkin ia takut menyakiti hatinya karena dia akan mengadu pada Tuhan?

Pelajaran terkait interaksi berumah tangga yang saya dapatkan dari novel ini sangatlah ringan namun begitu dalam. Pasangan suami istri bisa mencerminkan keharmonisan komunikasinya melalui sikap yang terjaga dan berbahagia manakala mendapati pasangan tetap mendahulukannya dalam hal sepele, seperti soal makan.

Nah, mari yuk kita coba cermati apakah pasangan kita selalu memberikan bagian terbaik dari makanan yang ada untuk kita dan keluarga? Jika iya, kita patut berbahagia.

302 Bab memang tidak sedikit. Tapi seperti yang sudah saya sebutkan jika membaca novel Istri Kedua Suamiku ini sama sekali tidak membosankan. Saya selalu membuka kembali novel ini, cuma buat ngutip quotesnya saja. Lalu saya jadikan status. Haha ...

Read more ...

Rabu, 29 Juni 2022

Labirin Delapan dalam MIMDAN #8

Senang bisa menyimak acara IG Live Bincang Mimdan #8 Selasa malam 28 Juni kemarin. Selain bisa ketemu si kembar Eva dan Evi mojang geulis ti Bandung yang membocorkan informasi terkait  novela Labirin Delapan karya Eva Sri Rahayu, saya juga bisa mendapatkan banyak informasi mengenai Pandi lewat Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN).

Hayoo... kalau para blogger pasti udah tahu dong ya apa itu PANDI? Ialah Pengelola Nama Domain Internet Indonesia yang disingkat PANDI. Yaitu organisasi nirlaba yang melakukan pengelolaan nama domain di negara kita Indonesia (.id) dan domain-domain tingkat di bawahnya seperti domain yang diperuntukkan untuk website personal, my.id. PANDI ini dibentuk oleh komunitas Internet Indonesia bersama pemerintah pada 29 Desember 2006.

Acara MIMDAN yang disiarkan live dari Instagram Merajut Indonesia @merajut_indonesia ini sendiri ternyata sudah rutin dilaksanakan. Saya baru tahu dan baru bisa menyimak ketika sudah sampai di #8 saja. Satu sampai tujuhnya saya kemana aja yaaa? Tutup muka...

Padahal acara MIMDAN ini asli keren dan nambah banyak wawasan. Seperti kemarin itu, Bincang MIMDAN #8 temanya “Sejarah dan Budaya dalam Novela Platform Digital”. Yang jadi topik pembicaraan novel Labirin Delapan karya Eva Sri Rahayu, yang mana ternyata novela itu berlatar kuat sejarah Indonesia-nya. Cerita yang diangkat saja tindak tanggung -tanggung, seputar wisata sejarah Candi Borobudur yang sekarang lagi trending itu karena sempat naik harga tiket masuknya.

Jadi Labirin Delapan karya Eva Sri Rahayu ini diterbitkan di Platform Digital setelah melalui rangkaian riset yang cukup lama, sekitar tiga tahunan. So, bukan aji mumpung mentang-mentang Candi Borobudur lagi ramai jadi bahan pembicaraan lalu Eva bikin novel ini, tidak demikian. Jauh sebelum pandemi, Eva memang sudah membuat persiapan matang novel berlatar sejarah ini.

Evi Sri Rezeki, pembawa acara IG Live Bincang Mimdan #8

Fiksi sejarah terkait wisata Candi Borobudur memang unik dan terbilang langka disaat remaja jaman now banyak tertarik pada dunia korea -koreaan. Namun seperti sejarah yang tidak lekang dimakan waktu, fiksi karya Eva ini pun dipercaya akan memiliki nilai dan penggemar pada tempatnya.

Apalagi Eva sudah bergabung dengan beberapa komunitas kebudayaan dan sejarah sejak lama, sehingga ia makin fokus dalam melakukan riset baik dalam hal literatur seni budaya wisata Candi Borobudur tentang relief (ada lima seri buku yang kesemuanya tebbbal) maupun riset lapangan ke wisata candi lainnya seperti Candi Gedong Songo. Tidak sedikit pula riset literatur platform digital yang diaksesnya baik gratisan maupun berbayar.

Jika risetnya memerlukan waktu sampai bertahun-tahun, bertolakbelakang dengan proses penulisannya, Eva justru bisa menyelesaikan novela yang berceritakan tentang delapan orang tokoh dari berbagai kalangan dan usia ini terjebak dalam labirin di dalam Candi Borobudur, hanya sekitar dua-tiga bulan saja. Mulai menulis dari akhir 2021 dan selesai di awal tahun 2022.

Sungguh penasaran dengan cerita lengkapnya deh ah... Sayang saat Selasa malam ketika acara IG Live Bincang Mimdan #8 berlangsung saya tanya bagaimana cara akses atau mendapatkan novela itu, pertanyaan saya itu belum terjawab. Mungkin karena terbatasnya waktu. Sementara yang bertanya itu banyak sekali.

Eva Sri Rahayu penulis Labirin Delapan

Tidak hanya membahas tentang karyanya itu saja, Eva juga tidak pelit memberikan informasi seputar tips dan trik membuat fiksi sejarah budaya yang memang terbilang susah.

Indikator keberhasilan menulis novel sejarah budaya memang tidak mudah. Karena butuh riset yang sangat panjang dan detail. Tapi jika dilihat dari sisi si penulis sendiri, maka bisa dikatakan berhasil jika:

  1. Penulis bisa menyampaikan kalimat atau kata bermakna budaya. Sekaligus memiliki misi yang kuat untuk mengangkat budaya itu sendiri.
  2. Latar atau tempat yang diangkat memiliki unsur nilai kebudayaan yang tinggi. Bukan hanya tempelan kisah sang tokoh hidup di sekitar lokasi budaya sejarah, melainkan mampu menceritakan secara detail apa yang selama ini tidak diketahui masyarakat umum mengenai lokasi sejarah budaya tersebut. Jadi lokasi budaya tersebut mampu jadi unsur penggerak cerita.
  3. Konten yang tentu saja mengandung nilai budaya itu sendiri baik dari segi sejarah, mitologi dan sebagainya.

Supaya sang tokoh dalam fiksi budaya terkesan nyata, Eva memberikan banyak bocoran. Kelengkapan sebuah novel ditandai dengan adanya tiga hal yaitu ide utama cerita, plot, dan karakter.

Karakter ini jadi kunci. Supaya tokoh terkesan nyata penulis harus bisa membuat si tokoh:

  1.  mendapatkan banyak masalah. Masalah dari berbagai sisi secara kompleks.
  2. Beri si tokoh banyak kekurangan sehingga pembaca kelak merasa greget, simpati dan khawatir.
  3. Beri sang tokoh kebutuhan sehingga ia memaknai perjalanan dalam ceritanya. Mulai pertumbuhan, perubahan, sampai karakter akhir.

Saat ini platform online sedang marak bermunculan. Lalu bagaimana nasib percetakan selanjutnya? Menurut Eva maraknya platform online itu sebenarnya ada sisi baiknya juga. Karena penerbit justru bisa membuat platform online sendiri. Penerbit bisa mencari bibit penulis dari platform online miliknya itu. Saat ada karya yang bagus dan digemari pembaca bisa saja karya itu ditarik untuk dicetak.

Mudah tidaknya bikin novela baik secara cetak maupun platform online itu tergantung dari maping novela nya itu sendiri.

Eva sendiri menjabarkan maping novela nya dengan didahului oleh Premis (kalimat yang menggambarkan tentang novela), lalu sinopsis (termasuk di dalam ada kerangka karangan dll) lalu struktur plot.

Yang terakhir nih ada tips menulis fiksi budaya dari Eva:

  1. Tentukan visi dan misi. Khususnya ada niat dan kepedulian terhadap budaya dan sejarah. Jadi tidak hanya menjual cerita budaya saja tapi juga peduli dengan kondisinya. Ada masyarakat yang masih belum tahu tentang sejarah budaya lokasi tertentu, saat membaca cerita kita diharapkan tidak menimbulkan salah kaprah di masyarakat
  2. Sejarah harus diceritakan dengan terlebih dahulu melalui riset, membaca banyak literasi, terjun langsung ke lapangan dan sebagainya
  3. Menulis cerita baik online maupun cetak harus menyertakan tiga tulang punggungnya yaitu -> Premis -> Sinopsis -> Struktur Plot (Logika Cerita)

Tidak terasa IG Live Bincang Mimdan #8 dari Pandi lewat Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN) ini pun selesai sudah. Kita berharap lewat karya fiksi ini diharapkan sejarah dan budaya bisa diterima dengan mudah oleh generasi jaman sekarang, ya.

Sampai jumpa di acara MIMDAN selanjutnya!

Read more ...

Senin, 26 Maret 2018

Balada Warga Tak Punya Tetangga

Balada Warga Tak Punya Tetangga

Sejak adzan berkumandang jendela rumah di ujung jalan kampung itu mulai terbuka satu per satu. Sebagai rumah paling sisi di batas desa, yang lebih dekat kepada aliran sungai dari pada rumah tetangga membuat suara keciprat air lebih nyaring terdengar di sana dari pada suara televisi layaknya di rumah yang berdempeten seperti rumah kontrakan.

Asap mengepul dari lubang angin di belakang rumah. Minyak panas yang mengeluarkan bunyi khas ketika telur pecah dan isinya ditumpahkan di atasnya membawa bau harum yang mengundang lapar. Kebiasaan di pedesaan, sarapan menjadi keharusan sebelum melakukan pekerjaan apapun.

"Kuuur... Kuur... Kuuuur..."

Tidak lama keluar seorang wanita dengan sepiring dedak di tangannya. Membuka pintu kandang ayam, membagi-bagikan dedak menjadi beberapa bagian supaya ayam jantan, ayam betina dan ayam yang masih belum disapih semua kebagian rata.

Selesai mengurus peliharaan, termasuk memberi pakan ikan mujair di kolam samping kandang ayam, bergegas ia kembali ke dalam rumah. Rengekan anak semata wayangnya tidak bisa menyalip pendengaran. Apapun yang dipegang segera dilepaskan. Kecuali anaknya sudah bisa main sendiri dan ia bisa melepasnya.

"Ayah kerja dulu ya," pamit sang kepala keluarga setelah jam di dinding hampir menunjukkan pukul 7. Deru sepeda motor butut yang setia menemaninya membelah kesunyian kampung. Membuat bu-ibu tetangga di kontrakan yang dilewatinya menoleh, memastikan kalau yang mengendaranya ialah penghuni rumah di ujung jalan kampung.

"Kalau aku, suami sudah berangkat kerja, ya tinggal senangnya. Ngopi kek, ngabubur lah, ngawuduk lah. Bukannya memenjarakan diri. Macam orang tidak punya tetangga." Celetuk seorang pembeli sayur di warung tengah kampung yang dilewati deru sepeda motor penghuni ujung jalan.

Sepagi itu, mereka diantaranya penghuni kontrakan sudah pada kumpul mengerubuti warung.

"Enggak bosan kali ya mengurung diri dan anak di rumah?" Perempuan lainnya menimpali.

"Mereka sudah terbiasa, Bu. Dan di rumah juga bukan cuma nonton saja seperti kita. Mereka mah punya kegiatan."

"Tahu dari mana, Bi?" Sedikit menyelidik, jengah.

"Tahu saja. Kan saya sering ke rumahnya kalau mau ambil kayu bakar."

"Emang kerjaan istrinya itu apa? Ngasuh anak seperti kita kan?"

"Setelah selesai mencuci dan beres-beres rumah, ibunya buka internet. Memberikan pelajaran untuk anak, sambil bekerja. Itu yang sering saya lihat mah."

"Walah, orang kampung saja pakai banyak gaya."

"Itu seharian kaya gitu kerjaannya, Bi?"

"Ya tidak, Bu. Sampai sekitar jam sepuluh. Setelah itu ibunya siapkan masak untuk makan siang. Anaknya kadang ikut. Kadang main saja di halaman atau belakang. Sesekali mereka juga suka keluar kok jalan-jalan."

"Apa tadi buka internet ya? Emang kerja kitu teh dapat duit? Naon sih kerjaanna?" Si Bibi tukang warung tersenyum. "Blogger, Bu. Ya atuh kalau tidak mah mana mungkin dikerjakan, Bu..."

"Tapi kerja gitu-gitu amat meni sampai ka tidak kenal tetangga, kok bisa ya?"

"Ih, ari Ibu. Kata siapa tidak kenal tetangga? Mereka tidak mengenal kita. Tapi blogger mah mengenal dunia luar. Temannya bukan hanya tetangga di sekitar rumah. Tapi lebih banyak dari luar daerah."

"Tapi keukeuh we teu natangga ah!"

Si Bibi pemilik warung mengeryitkan bulu yang berbaris di atas matanya. Dalam hati memuji tetangganya penghuni rumah di ujung jalan kampung. Yang sudah membuat tetangga lainnya setiap pagi, setiap hari selalu bertanya kenapa tidak pernah keluar rumah, kenapa tidak pernah nongkrong-nongkrong seperti mereka.

Jadi blogger di daerah memang rentan dikira tidak gaul sama tetangga. Padahal pilihan orang mau ngapain saja kenapa juga diurusin, ya?

 

Read more ...

Rabu, 03 Januari 2018

Anakku Milih Mertuanya

Anakku Milih Mertuanya

Saat hampir sebagian besar menantu (perempuan) takut kepada (ibu) mertuanya dan cenderung lebih dekat kepada ibu kandungnya, ternyata ada loh anak perempuan yang (terlihat) lebih senang bersama ibu mertua dan keluarga besar suaminya, dari pada bersama ibu sendiri dan keluarga besar dari saudara sekandungnya.

Bagiku tidak mengapa. Bukankah mertua juga adalah orang tua kita juga?

Aku memang sudah tua dan sakit-sakitan pula. Struk membuatku berjalan tidak normal, sehingga segala aktivitas tidak bisa aku lakukan sendiri. Sejak ditinggal suami anak perempuan yang terbesar berkeluarga dan pindah ke kota. Maka aku tinggal bersama anak laki-laki, si bungsu yang selalu menggendong, memandikan, dan melakukan apa saja permintaanku.

Seharusnya (banyak yang bilang) anak perempuan yang lebih pantas mengurus ibu kandung dengan kondisiku seperti ini. Anak perempuan memandikan ibunya tentu terlihat lebih pantas dibanding anak laki-laki. Tapi mungkin anak perempuanku sudah punya keluarga sendiri, sudah ada kewajiban nya, tinggal di kota pula. Sehingga aku mengerti dia bukan tidak ingin merawatku sepenuhnya.

Pernah aku diajak tinggal di rumah anak perempuanku di kota. Namun aku yang merasa malu, menyadari sepenuhnya kondisiku yang sakit-sakitan dan tidak bisa berjalan normal. Aku hanya bisa diam. Menahan lapar kalau tidak disuguhkan makanan, menahan pipis kalau tidak ada yang memapah ke kamar mandi. Aku tahu dia anak perempuanku tapi aku juga tahu mungkin anakku malu dengan keberadaanku. Aku memilih pulang kampung saja. Tinggal di gubuk reyot dilayani oleh anak laki-laki yang lebih ngayomi.

Saat aku pulang terlihat anak perempuanku jadi lebih periang. Mungkin ia merasa lebih bebas dan tidak terbebani lagi oleh keberadaanku. Syukurlah. Sebagai orang tua, bukankah hanya kebahagiaan anak yang selalu dipanjatkan saat berdoa?

Aku mengikhlaskan ketika setiap lebaran anak perempuanku tidak bisa mengunjungiku, berlebaran denganku. Selain jarak yang jauh, di kota juga bukankah ada ibu mertuanya? Bukankah mertua juga adalah orang tua nya sendiri?

Saat aku sakit parah, panggilan dari adiknya yang memohon untuk menyempatkan lebih dulu menengokku tidak juga dipenuhi nya, aku tidak bisa berbuat apa. Anakku sudah menikah dan punya kewajiban. Aku tidak mungkin memaksa kalau tidak ada izin dari suaminya. Apalagi mertuanya di sana juga sudah tua dan banyak merasa gejala.

Ketika aku tidak berdaya, suruhannya kepada adiknya supaya aku yang sebaiknya datang ke rumahnya biar bisa berobat di kota, aku syukuri teramat dalam. Ternyata anak perempuanku masih mau merawatku. Tapi kondisiku tidak memungkinkan melakukan perjalanan jauh.

Aku memilih diam dalam dekapan si bungsu, anak laki-lakiku. Menghitung setiap nikmat dan kasih sayang Nya yang selama puluhan tahun aku terima hingga bisa membesarkan anak-anakku yang kini sudah sukses dengan kehidupannya masing-masing.

Aku bahagia melihat si sulung lebih periang dan usahanya lebih lancar. Mengantarkan cucuku sekolah di tempat ternama dan nomor satu di kotanya. Bersyukur tidak terkira melihat anakku bisa menemani jalan-jalan ibu mertuanya, adik dan kakak iparnya juga keponakan-keponakannya. Bukan hanya di kota besar yang jalannya mulus, tapi juga ke luar kota yang jalannya parah seperti jalan ke kampungnya tempat aku berada bersama adik bungsunya.

Aku hanya mengira mungkin anak perempuanku tidak lagi enak pikiran saja ketika bersikap dingin dan tidak ramah kepada adik iparnya, menantuku. Istri dari anak bungsuku yang merawat dan ikhlas mengurusku sebagaimana mengurus anaknya yang baru lahir.

Aku pikir anak sulungku belum akrab saja dengan mantuku, istri si bungsu ketika sikapnya tidak seramah kepada ipar-ipar lainnya dari pihak suaminya.

Tahun baru, anak perempuanku mengajak jalan-jalan ibu mertuanya ke luar provinsi. Macet dan cuaca buruk bukan lagi sebuah halangan. Sesuatu yang mustahil ia dikabulkan jika perjalanan itu aku yang memintanya.

Sementara itu tahun baru aku hanya sendiri dalam sepi. Tidak ada anak yang menamani. Eh! Hampir saja lupa, tahun baru sebenarnya ada paketan khusus yang dikirim anak bungsuku bersama anak istinya. Kiriman doa, bacaan ayat-ayat Al Quran bahkan hingga beberapa surat, serta salawat yang semuanya dikhususkan mereka untuk menemaniku dan meramaikan masa-masa penantianku di dalam kubur ini.

Alhamdulillah. Masih ada anak soleh yang tidak melupakan ibunya.

 

 

Read more ...

Sabtu, 03 September 2016

Hantu Karung Pos Dua

Hantu Karung Pos Dua stories Meski gelap, aku tak menyalakan headlamp. Setelah pamit kepada suami dan guide langsung menerobos semak di belakang Pos Dua. Tak kuat lama-lama menahan. Di balik pohon besar aku berjongkok gelap-gelapan. Perjalanan hampir tidak ada hentinya dari Pos 9 ke Pos 2 ini memang cukup melelahkan. Sepanjang jalan tidak ada kesempatan untuk sekedar melipir. Yah kalau pun ada kesempatan, saat siang bolong terang benderang rasanya tidak nyaman untuk melakukan hal-hal yang teramat privat.

Gunung Slamet dengan ketinggian 3428 meter di atas permukaan laut terkenal sangat sedikit sumber airnya. Pendakian nonstop saat cuaca cerah membuat peluh membanjiri sekujur tubuh. Minum setiap ada kesempatan dilakukan supaya cadangan air dalam tubuh tetap tersedia dan cairan tubuh terjaga.

Minum dan minum sepanjang perjalanan selagi masih ada persediaan air tentu saja membuat kantung urine menampung banyak cairan yang harus dibuang. Namun karena kondisi selama turun dari puncak tak memungkinkan, maka merasa lebih baik memilih untuk menahan saja hingga ketemu waktu dan kesempatan yang pas. Magrib di Pos Dua inilah sepertinya kesempatan terbaik itu aku temukan. Suasana yang sudah gelap, saat teman-teman pendaki baik yang turun maupun naik sejenak melepas carrier untuk istirahat dan sholat maghrib aku bisa melipir tanpa banyak was-was ada mata manusia yang melihat.

Di gubuk milik warga yang biasa dijadikan warung untuk berjualan kami sepakat untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos Satu. Seorang kakek tampak sedang membereskan meja dan memasukkan barang yang akan dibawanya pulang.

“Numpang istirahat ya, Kek...” Ucap Yanto, guide kami selama pendakian.

“Silahkan... Hanya maaf ini sudah beres-beres. Tidak ada minum atau cemilan. Maklum sudah mau pulang. Sudah dibereskan semuanya,” jawab si kakek sangat ramah.

“Tidak apa-apa Kek...” Kami serempak menjawab.

Si Kakek tampak sibuk dengan barang-barang dagangannya. Memasukkannya ke karung dan mengikatnya. Sementara kami sibuk melepas carrier, membuka perbekalan yang masih tersisa, dan menyelonjorkan kaki pada bangku-bangku yang dibuat dari gelondongan dahan-dahan kayu hutan.

Setelah Si Kakek pamit pulang dan berlalu dalam gelap malam aku semakin mantap merasa di Pos Dua inilah tempatnya. Aku melipir sambil menenteng tisu dan headlamp.

Yang bikin resah saat mendaki gunung itu ialah ya seperti ini, ketika mau berkebutuhan khusus seperti mau (maaf) buang air. Sudah bukan rahasia lagi jika kondisi gunung yang serba darurat memperbolehkan para pendaki melakukan kegiatan kebutuhan khusus ini di mana saja, tentunya masih dalam koridor aturan, etika dan sopan santun.

Lega dan terasa enteng saat semuanya bisa dilakukan. Meski di bawah pohon besar yang tampak menyeramkan, terdengar pula suara-suara aneh entah dari serangga jenis apa.

Deg!

Jantungku terasa hendak loncat saat menoleh ke sebelah kiri untuk mengambil tisu. Bayangan putih dengan bagian atas diikat sangat jelas terlihat membuatku hampir saja meloncat dan berteriak sekuat tenaga.

Tapi Tuhan lebih cepat memberikanku kesadaran dan keberanian. Lampu yang sejak tadi digenggam namun tak dinyalakan langsung aku senterken ke arah bayangan putih yang berdiri tegap itu. Dan ketakutanku sirna ketika pantulan cahaya dari senter yang aku pegang menyampaikan bayangan setumpuk karung di lensa mataku.

Si Kakek ternyata memilih menyimpan barang dagangannya di balik pohon besar, daripada membawa ke rumahnya di perkampungan jauh di bawah Pos Satu.

Read more ...

Sabtu, 16 Juli 2016

I Swasta Setahun di Bedahulu

I Swasta Setahun di Bedahulu I Swasta Setahun di Bedahulu

Hingga detik ini, kisah yang menceritakan seorang prajurit dari sebuah kerajaan di daerah Bali pada jaman dulu terasa masih melekat di hati. Meski hanya kisah fiktif, tapi perjalanan hidup I Swasta benar-benar sangat menginspirasi dan jadi pelajaran hidup buat saya.

Sejatinya, tokoh fiksi I Swasta ini saya dapat dari sebuah novel yang secara tidak sengaja saya temukan di perpustakaan sekolah saat saya masih SMP.  Buku cerita dengan ketebalan di atas rata-rata bagi usia anak-anak seragam putih biru ini entah mengapa di mata saya begitu menarik. Saat teman-teman enggan membaca buku yang tebal, apalagi membaca sinopsisnya saja cerita sudah ketahuan tidak seru, tapi saya berusaha membacanya dengan penuh perjuangan. Remang-remang dengan dengan penerangan cahaya lampu 5 watt dari mesin diesel kampung karena saat itu di kampung saya belum masuk listrik negara, saya tetap terus bersemangat untuk membaca hingga selesai. Saya benar-benar dibuat penasaran dengan jalan cerita I Swasta dan merasa selalu tidak sabar ingin melahap semua halaman demi halamannya.

Kisah I Swasta menceritakan seorang prajurit yang loyal serta idealis kepada pemimpinnya. Berbagai rintangan ia hadapi demi bisa melaksanakan tugas sebaik mungkin. Termasuk saat ia harus hidup terpencil dan menderita di Bedahulu. Bedahulu adalah sebuah tempat dalam kisah itu dimana I Swasta mengabdi di sana selama setahun.

Detail cerita dari kisah I Swasta Setahun di Bedahulu ini saya sendiri sudah lupa. Maklum membaca buku novel ini pada tahun 1993. Setelah itu saya tidak berhasil menemukan buku ini kembali. Malah petugas perpustakaan di beberapa sekolah, dan pustakawan di beberapa perpustakaan daerah mengaku tidak tahu dengan buku yang berjudul I Swasta Setahun di Bedahulu ini.

Loyalitas dalam bekerja, itu yang menjadi point penting yang bisa saya ambil dari kisah novel ini. Jadi pelajaran hidup yang selalu saya ingat bahwa bagaimanapun rendahnya pekerjaan kita di mata orang, namun saat kita mengerjakannya sepenuh hati dan ikhlas, maka kebahagiaan dari 'atasan' nanti yang akan jadi imbalannya. Dalam kehidupan sehari-hari, imbalan ini tidak berupa gaji atau nominal uang saja, tapi bisa berupa keberkahan usaha, kesehatan, atau relasi yang mendukung karir. Disamping juga imbalan pahala karena usaha yang disertai keikhlasan adalah sebuah ibadah.

Di akhir cerita, I Swasta merasa sedih yang teramat dalam karena ternyata, selama setahun ia tinggal di Bedahulu, selama itu pula ia dikhianati oleh orang-orang yang justru selama ini dia sangat percayai. Pelajaran yang lagi-lagi bisa saya ambil adalah saat I Swasta menyerahkan semua hanya kepada Yang Maha Kuasa. I Swasta sama sekali tidak menggunakan posisinya yang sudah bukan prajurit lagi untuk balas dendam. Padahal jika mengenai saya, sudah pasti saya akan melampiaskan semua amarah dengan jalan apa saja, termasuk kekuasaan dan kedudukan.

Itulah manusia yang taat dan mampu mengekang amarah. Segala sesuatu dipikirkan dengan kepala dingin. Tidak mentang-mentang sudah jadi atasan, lalu semaunya berbuat aniaya kepada bawahan. Gambaran itu seutuhnya ada pada I Swasta, yang mampu membuat air mata saya menitik seiring kisah ceritanya selesai.

 

Read more ...