Jumat, 07 April 2023

Reuni: Menempatkan Mantan Pacar pada Tempatnya

Lebaran kali ini pemudik sangat melonjak. Dihapusnya aturan dan sebagainya terkait akibat adanya covid-19 menjadikan mobilisasi masyarakat tak lagi mengalami batasan. Kapan pun dan kemana pun mudiknya, lebaran kali ini bisa pergi sesuka hati.

Saya yang sudah tinggal di kampung, tentu saja merasa senang menyambut teman, sahabat dan saudara yang merantau di luar kota, luar provinsi bahkan luar pulau untuk pulang berkumpul bersama handai taulan di kampung halaman.

Kampung kami yang biasanya sepi, kini ramai mendadak banyak penghuninya. Yang lebih terlihat jelas perbedaannya saat ke Masjid, pasti ketemu wajah wajah yang serasa tidak asing, tapi lupa namanya siapa dan pernah kenal dimana. Haha... Karena tidak jarang mereka itu teman sepermainan dan teman sekolah lalu merantau dan baru kali ini lagi bisa jumpa. Setelah berpisah sekian lama, pantas kalau merasa ingat tapi lupa, aish, istilah apa itu...

Ketika mushafahah di masjid, banyak wajah asing yang baru dilihat. Menandakan banyak pemudik yang sudah berdatangan untuk merayakan lebaran di kampung halaman. Tak terkecuali teman saat sekolah, yang berasal dari Pagelaran ini.

Salah satu sahabat baik saya saat sekolah, juga mudik dari Yogyakarta beserta anak dan suaminya. Saat kami jumpa, ia mengatakan akan ada buka puasa bersama di sebuah tempat yang nanti kalau sudah fix akan diinformasikan. Ya semacam reuni kecil-kecilan gitu.

Ia mengajak saya biar ada teman karena anak dan suaminya sudah pasti tidak akan ikut-ikutan.

“Temani aku menghadapi mantan, Ti...”

Wkwkwkwkkk... Kami berdua sontak terbahak tertawa. Jadi ingat kenangan pecicilan masa berseragam abu. Secara dia dan saya memang memiliki banyak kisah yang bikin tertawa kalau dikenang. Saking usil dan reseknya kami saat itu.

Meski wajah pas-pasan, keuangan juga kerap kurang dan bahkan lebih tepatnya bisa dibilang morat-marit, tapi ternyata dulu itu kami sempat laku juga. Hihi...  Sehingga kini setelah berkeluarga, berhak menyandang istilah “punya mantan” meski bukan yang terindah.

Biasanya saat ketemuan semacam reunian begini, mau tidak mau kami bakalan ketemu mantan, selain teman dan sahabat saat sekolah, lainnya. Karena itu sahabat saya bilang untuk acara buka puasa bersama macam reuni kecil-kecilan itu, nanti ia harus mempersiapkan diri dalam rangka menghadapi mantan.

Ya, seandainya sang mantan juga ikut hadir di acara itu. Karena belum tentu juga siapa saja yang bisa hadir. Bukankah kami juga belum tahu siapa saja teman-teman yang tahun ini mudik dan berlebaran di Pagelaran, kampung halaman tempat kami tinggal?

Tapi sih ya, biasanya, kalau ingat lebaran-lebaran terdahulu, saat lebaran itu, memang sang mantan itu selalu pulang kampung. Jadinya kalau ia mudik, baik sengaja maupun tidak sengaja, ya selalu saja jumpa dengan sang mantan.

Lagi ngabuburit, berpapasan dengan mantan. Ya mau gak mau saling sapa dan tanya kabar. Secara dulu kami berpisah dengan cara baik-baik saja. Namanya juga masa-masa sekolah, gak kepikiran kehidupan kedepannya seperti apa. Jadi saat putus, ya putus aja gitu. Kini sama mantan jadinya ya seperti dengan teman-teman lainnya saja. Kalaupun berkelebat kenangan saat bersama, anggap saja itu hanya kenangan lalu.

Pas bubar solat Idulfitri semua jemaah bersalaman dari ujung ke ujung. Gak sengaja juga jumpa teman yang ternyata suaminya adalah mantan pacar waktu sekolah. Bayangkan kakunya kaya apa. Tapi kalau dipikir namanya juga jodoh, orang Sunda bilang jodo mah jorok, kurang lebih maksudnya jodoh itu gak bisa diprediksi, jadi ngapain juga mikirin mereka? Yang pasti-pasti saja kalau dia bebas berumah tangga dengan siapa saja. Demikian juga saya. Bukan begitu?

Ada lagi pertemuan yang tidak disengaja itu, saat mau beli sarapan, eh ketemu mantan yang justru malah udah hampir selesai makan di penjual sarapan yang sama. Sambil nunggu dibuatkan sarapan daripada bengong udah main hp aja di pojokan. Pas penjual bilang selesai, saya tanya dong semuanya jadi berapa?

Apa jawab di penjual?

“Udah dibayarkan semuanya sama Si Aa tadi.”

Ya ampun! Mau bilang terima kasih itu orangnya udah pulang duluan. Mau menolak, masa iya juga rezeki ditolak? Tapi ya akhirnya berprasangka baik saja, karena yang dibayar mantan pacar itu bukan satu porsi sarapan untuk saya saja. Melainkan tiga porsi sekaligus, untuk saya, suami saya dan anak saya. Haha, bukan aji mumpung loh ya. Secara dari rumah memang mau beli sarapan buat keluarga. Kalau ada yang bersedia bayarin, yan disyukuri saja. Paling berdoa balik untuk sang mantan, semoga rezekinya makin lancar.

Intinya, saya bilang ke sahabat saya, kalau kita ini seberapa banyak pun punya mantan pacar, gak akan jadi masalah kalau memang kita bisa menempatkan sesuai tempatnya.

Jadi kalau saat berbuka puasa bersama nanti ketemu mantan pacar, ya biasa saja. Yang penting kita bisa tahu diri, tahu hak dan kewajiban sebagai ibu rumah tangga dan pastinya cukup dengan bersikap sebagaimana harusnya menempatkan sang mantan pacar itu sesuai tempatnya saja.

Bagaimana dengan manteman, saat mudik lebaran ini apakah sudah jumpa dengan mantan? Ceritanya pasti seru dong?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar