Bekerja bersama orang lain memang tidak selalu mudah. Setiap orang memiliki karakter, cara berkomunikasi, kebiasaan, dan cara menyelesaikan pekerjaan yang berbeda.
Ada rekan kerja yang mudah diajak berdiskusi. Namun, ada juga yang suka menyalahkan orang lain, sulit menerima kritik, berbicara dengan nada tinggi, tidak mau bekerja sama, atau bahkan sering membuat suasana tempat kita bekerja menjadi tidak nyaman. Sok hayang nakol we da mun aya nu kitu teh...
Kalau menghadapi kondisi seperti itu, kita mungkin merasa kesal, lelah, bahkan kehilangan semangat bekerja. Lalu, bagaimana cara menghadapi rekan kerja yang sulit tanpa memperbesar masalah?
Konflik di tempat kerja ternyata cukup umum
Konflik dengan rekan kerja bukanlah masalah yang hanya dialami oleh satu atau dua orang.
Sebagai gambaran, penelitian CIPD Good Work Index 2024 (Chartered Institute of Personnel and Development), organisasi ini sering diterjemahkan sebagai Lembaga Pengembangan dan Personalia Berlisensi di Inggris menemukan bahwa sekitar 25% pekerja mengalami konflik di tempat kerja dalam satu tahun terakhir.
Bentuk konflik yang dilaporkan antara lain merasa direndahkan atau dipermalukan, pertengkaran atau bentakan, penghinaan secara verbal, serta perilaku diskriminatif.
Konflik juga dapat memengaruhi kondisi pekerja. Dalam penelitian tersebut, pekerja yang mengalami konflik lebih banyak melaporkan kelelahan dan tekanan dibandingkan mereka yang tidak mengalami konflik.
Yang menarik, banyak orang justru memilih diam. Data CIPD menunjukkan 47% pekerja yang mengalami konflik memilih membiarkannya, sementara 29% membicarakannya dengan manajer atau HR. Hanya sekitar 36% yang mengatakan konflik yang mereka alami benar-benar terselesaikan.
Artinya, mengabaikan masalah memang terkadang terasa sebagai jalan paling mudah, tetapi belum tentu menyelesaikan persoalan.
Apa yang dimaksud rekan kerja yang sulit?
Rekan kerja yang sulit bukan berarti seseorang yang berbeda pendapat dengan kita.
Perbedaan pendapat sebenarnya merupakan hal biasa dalam pekerjaan. Yang menjadi masalah adalah ketika perilaku tersebut terus mengganggu pekerjaan, komunikasi, atau hubungan profesional.
Contohnya:
- sering menyalahkan orang lain ketika terjadi kesalahan;
- tidak mau menerima masukan;
- berbicara dengan nada kasar;
- suka memotong pembicaraan;
- tidak mau bekerja sama;
- sering mengambil kredit atas pekerjaan orang lain;
- menyebarkan gosip;
- sengaja menunda pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya;
- sulit diajak berdiskusi;
- atau sering merendahkan rekan kerja.
Karena itu, sebelum memberi label "orang sulit", sebaiknya lihat perilakunya, bukan hanya kepribadiannya.
7 Cara Menghadapi Rekan Kerja yang Sulit
1. Jangan langsung membalas dengan emosi
Ketika seseorang berbicara kasar atau menyalahkan kita, respons spontan biasanya adalah membalas.
Namun, membalas dengan emosi sering membuat masalah semakin besar.
Cobalah berhenti sebentar sebelum menjawab. Tarik napas dan fokus pada masalah yang sedang dibicarakan.
Misalnya, daripada berkata:
"Kamu memang selalu menyalahkan saya!"
lebih baik mengatakan:
"Mari kita lihat dulu bagian mana yang menjadi masalah supaya bisa kita perbaiki."
Kalimat kedua mengarahkan pembicaraan kembali kepada pekerjaan, bukan menyerang pribadi.
2. Bedakan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi
Tidak semua perbedaan pendapat berarti seseorang tidak menyukai kita.
Misalnya, kita mengusulkan cara baru untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi rekan kerja tidak setuju.
Jangan langsung berpikir:
"Dia memang tidak suka dengan saya."
Bisa jadi dia mempunyai alasan berbeda berdasarkan pengalaman atau tanggung jawabnya.
Cobalah bertanya:
"Menurut kamu, bagian mana yang kurang cocok dari cara ini?"
Dengan begitu, perbedaan pendapat bisa berubah menjadi diskusi.
3. Bicarakan masalah secara langsung jika memungkinkan
Jika perilaku rekan kerja sudah mulai mengganggu, berbicara secara langsung dan tenang sering kali lebih baik daripada membicarakannya kepada banyak orang.
Gunakan kalimat yang fokus pada perilaku dan dampaknya.
Contohnya:
"Ketika perubahan tugas disampaikan mendadak, saya kesulitan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Ke depan, apakah kita bisa memberi tahu perubahan lebih awal?"
Kalimat tersebut lebih mudah diterima daripada:
"Kamu selalu bikin pekerjaan orang lain berantakan."
Bedanya sederhana: kalimat pertama membicarakan masalah, sedangkan kalimat kedua menyerang orangnya.
4. Jangan ikut terlibat dalam gosip kantor
Ketika ada rekan kerja yang menyebalkan, kita mungkin tergoda menceritakan perilakunya kepada rekan lain.
Sesekali bercerita kepada orang yang dipercaya untuk mendapatkan perspektif memang berbeda dengan menyebarkan gosip.
Usahakan pembicaraan tetap berhubungan dengan solusi.
Misalnya:
Kurang baik kalau bilang: "Dia memang orang paling menyebalkan di kantor."
Lebih baik kita sampaikan: "Saya sedang kesulitan bekerja sama dengannya. Menurut kamu, bagaimana cara menyampaikan masalah ini dengan baik?"
Jadi terlihat kan kalau tujuannya bukan mencari dukungan untuk membenci seseorang, tetapi mencari jalan keluar.
5. Buat komunikasi pekerjaan lebih jelas
Konflik terkadang muncul karena informasi yang tidak jelas.
Misalnya, seseorang merasa sudah memberikan tugas kepada kita, sedangkan kita merasa tugas tersebut belum pernah diberikan.
Untuk mengurangi kesalahpahaman, biasakan mengonfirmasi pekerjaan.
Contohnya:
"Jadi, saya mengerjakan laporan bagian A dan kamu mengerjakan bagian B, ya? Targetnya Jumat sore."
Jika perlu, konfirmasi melalui pesan atau email sehingga ada catatan yang bisa dilihat kembali.
Cara sederhana ini dapat mengurangi perdebatan seperti:
"Saya kan sudah bilang!"
atau
"Saya tidak pernah menerima tugas itu."
Contoh Konflik di Tempat Kerja
Bayangkan situasi berikut: Rina dan Dedi bekerja dalam satu tim.
Rina bertugas membuat laporan, sedangkan Dedi bertugas mengumpulkan data.
Masalah muncul karena Dedi sering mengirimkan data terlambat. Ketika laporan belum selesai tepat waktu, Dedi justru mengatakan:
"Itu bukan salah saya. Rina kan yang membuat laporan."
Rina merasa kesal karena laporan memang menjadi tanggung jawabnya, tetapi bahan yang dibutuhkan berasal dari Dedi.
Respons yang bisa memperburuk masalah
Rina membalas:
"Kamu memang selalu seperti itu. Kerja tidak pernah benar!"
Dedi kemudian merasa diserang dan membalas dengan nada tinggi.
Akhirnya, masalah pekerjaan berubah menjadi pertengkaran pribadi.
Respons yang lebih konstruktif, Rina bisa mengatakan:
"Saya memang bertanggung jawab membuat laporan. Tapi saya membutuhkan data dari kamu sebelum mulai mengerjakan. Kalau datanya terlambat, laporan juga ikut terlambat. Bagaimana kalau kita sepakati data sudah dikirim setiap Rabu supaya laporan bisa selesai Jumat?"
Dalam contoh ini, Rina tidak perlu memenangkan pertengkaran. Yang lebih penting adalah mencari kesepakatan agar masalah tidak berulang.
6. Tetapkan batasan jika perilakunya sudah berlebihan
Bersikap profesional bukan berarti harus menerima semua perlakuan.
Jika seseorang terus berbicara kasar, menghina, mengancam, mempermalukan, atau melakukan tindakan yang membuat Anda merasa tidak aman, masalahnya sudah berbeda dari sekadar "rekan kerja yang menyebalkan".
ILO (International Labour Organization) mendefinisikan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja secara luas, termasuk perilaku atau ancaman yang dapat menyebabkan kerugian fisik, psikologis, seksual, atau ekonomi.
Standar ILO juga mencakup berbagai situasi yang berkaitan dengan pekerjaan, termasuk komunikasi yang berhubungan dengan pekerjaan.
Dalam kondisi seperti itu, jangan merasa harus menyelesaikannya sendirian.
Simpan bukti yang relevan, seperti pesan, email, atau catatan kejadian, lalu gunakan jalur yang tersedia di tempat kerja, misalnya ke:
- atasan langsung;
- HR;
- mekanisme pengaduan perusahaan;
- serikat pekerja jika tersedia;
- atau pihak berwenang sesuai situasinya.
7. Ketahui kapan harus meminta bantuan
Ada konflik yang masih bisa diselesaikan melalui komunikasi sederhana. Namun, ada juga masalah yang membutuhkan bantuan pihak ketiga.
Misalnya ketika:
- konflik terjadi berulang kali;
- komunikasi langsung tidak menghasilkan perubahan;
- pekerjaan mulai terganggu;
- muncul penghinaan atau ancaman;
- terjadi diskriminasi atau pelecehan;
- Kita merasa tidak aman;
- atau konflik mulai memengaruhi kondisi diri secara serius.
CIPD juga menekankan pentingnya tindakan lebih awal dalam menangani konflik, karena penyelesaian yang terlambat dapat membuat masalah menjadi lebih sulit ditangani.
Jangan Berusaha Mengubah Kepribadian Orang Lain
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika menghadapi rekan kerja yang sulit adalah mencoba mengubah dirinya. Padahal, kita tidak bisa mengendalikan karakter orang lain.
Yang lebih realistis adalah mengendalikan: Cara kita merespons + cara berkomunikasi + batasan yang kita buat + langkah yang kita ambil ketika masalah berlanjut.
Misalnya, kita tidak bisa memaksa rekan kerja menjadi lebih ramah. Tetapi kita bisa memilih untuk tetap berbicara secara profesional, menyampaikan kebutuhan dengan jelas, mencatat pekerjaan, dan meminta bantuan jika diperlukan.
Tips Singkat Agar Tetap Tenang Menghadapi Rekan Kerja Sulit
Ketika menghadapi situasi yang membuat emosi, ingat beberapa hal berikut:
- Jangan langsung membalas ketika sedang marah.
- Fokus pada masalah, bukan menyerang pribadi.
- Gunakan komunikasi yang jelas dan sopan.
- Konfirmasi tugas dan tanggung jawab.
- Hindari memperbesar masalah melalui gosip.
- Tetapkan batasan jika perilaku sudah melewati batas.
- Catat kejadian penting jika konflik terus berulang.
- Minta bantuan atasan atau HR jika masalah tidak bisa diselesaikan sendiri.
Hai teman seprofesi...
Memiliki rekan kerja yang sulit memang bisa membuat pekerjaan terasa lebih berat. Namun, menghadapi mereka dengan kemarahan biasanya tidak menyelesaikan masalah.
Cobalah mulai dari hal sederhana: tetap tenang, terapkan Gaya Hidup Mindful, pahami masalahnya, bicarakan perilakunya secara langsung, buat komunikasi lebih jelas, dan tetapkan batasan.
Tidak semua konflik harus menjadi pertengkaran. Sebagian sebagaimana hidup analog insyaallah bisa diselesaikan dengan percakapan yang tepat dan kesepakatan yang jelas.
Namun, jika perilaku sudah masuk ke dalam penghinaan, pelecehan, ancaman, diskriminasi, atau bentuk kekerasan di tempat kerja, jangan menganggapnya sebagai konflik biasa. Ada saatnya kita perlu menggunakan jalur resmi untuk mendapatkan perlindungan dan penyelesaian.
Sumber utama: CIPD Good Work Index 2024 dan International Labour Organization (ILO) Convention No. 190 serta panduan tentang kekerasan dan pelecehan di dunia kerja.





















