Tampilkan postingan dengan label Seni dan Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni dan Musik. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Juli 2023

Mengenang Kantata Takwa

Tahun 2023 di Indonesia heboh dibilang sebagai tahun konser gara-gara banyak pemusik yang tampil di negara kita. Termasuk group musik Coldplay yang bakal menggelar konser perdananya di Jakarta pada 15 November 2023 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta Pusat.

Btw konser itu, apa sih? Konser istilah untuk pertunjukan musik yang disajikan di depan penggemarnya. Selain berfungsi sebagai sarana interaksi antara musisi dan penikmat musik, konser kekinian juga dapat menjadi alat politik tertentu. Paham pastinya ya.

Manteman udah punya tiket buat nonton grup musik rock Coldplay asal Inggris yang dibentuk tahun 1997 itu?

Apa, tahun 1997? Jangan-jangan manteman malah ada yang belom lahir ya di jaman itu? Hehe...

Waktu lagu-lagu Coldplay banyak diputar di radio dan stasiun televisi, saya masih sekolah seragam putih abu. Tapi sungguh saya malah tidak begitu ngefans sama group cowok bule cakep yang saat ini beranggotakan Chris Martin sebagai vokalis, Jonny Buckland sebagai gitaris, Guy Berryman sebagai bassis, Will Champion sebagai drumer/perkusionis, dan Phil Harvey sebagai pengarah kreatif. Saat itu saya malah suka dengan group musik lokal beranggota cowok mapan alias pria dewasa: Kantata Takwa

Manteman yang belum tahu akan Kantata Takwa, salah satu grup band paling berpengaruh pada zaman orde baru, mari sedikit saya ulas dalam artikel kali ini. Buat manteman yang seumuran saya dan bahkan lebih, mari kita bernostalgia, meski mungkin tak semua generasi jadul suka akan group musik Kantata Takwa yang berisikan beberapa seniman dengan nama besar seperti W.S. Rendra, Iwan Fals, Sawung Jabo, hingga Yockie dan Setiawan Djodi.

Saya masih ingat, meski waktu itu masih mengenakan seragam merah putih, dan melihat siaran televisi di rumah tetangga karena di rumah saya memang tidak memiliki televisi, saat Gelora Bung Karno menjadi tempat dari konser Kantata Takwa yang berhasil menyedot penggemar hingga lebih dari 150.000 penonton yang membuat para penjaga keamanan kewalahan.

Mengenang Kantata Takwa
Para pria dewasa bahkan sudah jadi opa alias kakek yang menjadi idola sepanjang masa. Sumber gambar katadatatempo.co

Supergrup Indonesia Terbesar Sepanjang Masa?

Merinding saat itu bisa melihat berita bagaimana lautan manusia di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang dijejali ratusan ribu manusia. Mereka datang dari berbagai pelosok Nusantara untuk satu tujuan menonton konser akbar yang diadakan supergrup bernama Kantata Takwa yang personilnya terdiri dari Iwan Fals, W.S. Rendra, Sawung Jabo, Yockie Suryoprayogo, dan Setiawan Djody.

Pertunjukan dilangsungkan di atas panggung seluas 60 x 23 meter, lengkap dengan tiruan kepala rajawali berukuran besar serta deretan sinar laser yang membikin panggung nampak begitu megah tanpa tanding.

Orang dewasa saat itu, macam paman dan bibi saya, menyebut Kantata Takwa sebagai padepokan seni, alih-alih grup band yang membawakan pakem rock, sebagaimana band-band yang tumbuh di era Orde Baru pada umumnya.

Group musik disebut padepokan seni emang gak nyambung ya. Tapi hal itu bukan berarti tanpa alasan. Kemungkinan itu muncul karena group musik ini dilatarbelakangi oleh para personelnya yang memang ada yang berdarah seni.

Seperti W.S. Rendra, sebagai seorang penyair dan dramawan yang besar dengan Bengkel Teater; lalu ada Sawung Jabo sebagai instrumentalis yang punya reputasi mentereng; ada juga Yockie Suryoprayogo, komposer dan arranger jenius yang pernah membidani musik Chrisye hingga God Bless; dan satu lagi personel yang jadi idola legend tanahbair, yaitu Iwan Fals sebagai musisi kenamaan tanah air yang lirik lagu dan hentak musiknya selalu membakar gairah penonton.

Belum selesai, karena keempat orang berjiwa seni itu lantas disatukan oleh Setiawan Djody, pengusaha ganteng yang doyan berkecimpung di ranah kesenian.

Yang saya ingat, maaf kalau keliru, di jaman Orde Baru, nama Setiawan Djody identik dengan pengusaha kelas kakap dekat dengan penguasa pada jamannya sebelum dilengserkan.

Setiawan Djody berperan sebagai penyandang dana di samping pula jadi salah satu team kreatif Kantata Takwa.

Bagaimana Kantata Takwa Terbentuk?

Menurut sejarah dunia musik tanah air, Kantata Takwa terbentuk berawal dari perkenalan Setiawan Djody dan WS. Rendra. Djody sudah lama jadi donatur Bengkel Teater. Aliran dananya bahkan berjasa dalam membawa Bengkel Teater melakoni pementasan di negeri Abang Sam.

Dari sana, Setiawan Djodi kemudian berkenalan dengan Sawung Jabo. Djody kagum dengan sikap kritis Jabo terhadap rezim. Bersama Iwan Fals, mereka lantas mendirikan Swami, yang melejit lewat lagu bertajuk “Bongkar.”

Setiawan Djody terus menggali sisi kreatifnya. Pada satu kesempatan, ia berjumpa dengan Yockie Suryoprayogo yang saat itu telah merampungkan tur bersama God Bless. Keduanya ngobrol sampai akhirnya sepakat membentuk proyek baru.

Mereka membicarakan sayang sekali jika membuat group band tapi ya begitu-begitu saja. Bagaimana kalau menciptakan terobosan baru, group band yang punya makna lebih dalam dari sekadar main musik. Tetapi menciptakan sebuah kelompok musik yang bicara mengenai masalah sosial, politik, ekonomi, dan segala macam.

Dari situ, lahirlah Kantata Takwa.

Kantata Takwa atau Opera?

Setelah terbentuk, Kantata Takwa langsung masuk dapur rekaman. Yockie, Sawung Jabo, dan Iwan Fals bertugas menggarap aransemen musiknya. Sedangkan WS. Rendra dan Setiawan Djody lebih berfokus pada penulisan lirik.

Membaca informasi tambahan dari Jurnal Ruang. Proses rekaman saat itu tak sekadar melibatkan personel asli, melainkan juga para musisi tambahan seperti Raidy Noor, Embong Rahardjo, serta Donny Fattah.

Proses berlangsung akhirnya menghasilkan mahakarya bertajuk Kantata Takwa, yang dirilis pada tahun 1990. Lirik lagunya yang meski bukan untuk anak SD , tapi sudah membuat saya suka dan hafal.

Pada album Kantata Takwa ini memainkan banyak warna musik. Pop ada, rock pasti. Semua dikemas secara rapi dan terkonsep. Mendengarkan keseluruhan album Kantata Takwa, setelah semakin dewasa saya kepikiran seperti menyaksikan pementasan opera yang mengajak kita menyelami satu demi satu dimensi yang ada.

Coba dengarkan lagu-lagu dan lirik Kantata Takwa melalui Spotify, yutub atau apapun, selain musikalitas yang unggul, karya ini juga punya muatan kritik yang kuat.

Tiap lagi bisa diibaratkan sebagai representasi dari apa yang sedang terjadi di Indonesia pada masa itu, kala Orde Baru belum menandakan tanda-tanda bakal runtuh, dan apa yang diharapkan di masa mendatang masihlah sebatas angan.

Saya masih menyukai dan selalu mengenang lagu-lagu kebanggaan “Kesaksian,” “Balada Pengangguran,” sampai “Paman Doblang,”. Hehehe, anak jaman now mana tahu?

Hanya penggemar yang tahu jika Kantata Takwa sebenarnya menyerang perilaku buruk aparat, pemerintah yang korup, dan keculasan rezim yang menyebabkan kesengsaraan masyarakat melalui lagi lagunya itu.

Lirik-lirik lagu yang tajam, meluncur dengan cepat, dan tepat menyasar di ulu hati penguasa. Sementara kita menyanyikan nya dengan bebas, tanpa takut dikarungan!

“Kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!”

Merinding pokoknya...

Mengenang Kantata Takwa
Pada jamannya, memilikinya sebuah kebanggaan

Dengan lagu-lagu yang sengaja dibikin untuk menyerang penguasa jaman itu, konsekuensi paling buruk yang bisa mereka terima ialah dibungkam. Tapi mungkin karena pengaruh Setiawan Djody, Kantata Takwa relatif aman terkendali dari intaian rezim.

Tak semua pihak suka dengan kolaborasi yang disajikan Kantata Takwa. Itu realistis. Tapi suara-suara sumbang tak mampu menghentikan niat Eros Djarot untuk membikin film tentang Kantata Takwa.

Hasilnya film semi-dokumenter yang menggabungkan footage konser, narasi fiktif, lagu-lagu protes dan pemujaan kepada Islam, hingga monolog dari Rendra berjudul (lagi-lagi) Kantata Takwa.

Berkat pemilihan kata dari WS. Rendra, film Kantata Takwa punya energi, mimpi, sekaligus suara ketidakpuasan yang menyerang ekses Orde Baru di bawah komando Soeharto.

Tidak ada yang abadi...

Walaupun dibikin pada awal dekade 1990-an, film Kantata Takwa tak pernah bisa dinikmati sampai 2008, melewati tiga rezim kepemimpinan berbeda, dari Soeharto, Gus Dur, sampai SBY. Spekulasi ihwal mengapa film ini tak bisa diputar lantas berkembang, termasuk anggapan bahwa film Kantata Takwa dilarang beredar karena terlalu vokal menyerang Orde Baru.

Memasuki akhir 1990-an, seiring dengan kolapsnya Orde Baru, eksistensi Kantata Takwa juga ikut-ikutan memudar. Dua hal yang memicunya: kesibukan masing-masing personel dengan proyeknya serta mulai seretnya pasokan dana dari Setiawan Djody.

Padahal konser musik juga memiliki peran besar dalam ajang mempromosikan Indonesia ke masyarakat luas, bahkan hingga mendatangkan wisatawan mancanegara. Pun sebaliknya bisa mendatangkan artis luar untuk konser di dalam negeri seperti Coldplay nanti.

Secara tidak langsung hal ini menjadikan konser musik sebagai salah satu faktor pendorong kebangkitan perekonomian nasional di masa mendatang, bukan?

Artinya, mendengarkan nyanyian atau musik itu tetap sebagai aktivitas yang tidak bernilai dosa, malah ada sisi manfaatnya, bukan begitu?

Nonton konser tidak hanya memberikan rasa bahagia, tapi juga memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Kegiatan ini bisa mengurangi stres, meningkatkan daya tahan fisik, hingga membantu kita memperluas hubungan sosial. Selama menonton konser sesuai prosedur dan standar keamanan. No nonton sambil mabuk!

Tulisan ke-5 three day on post dari Founder Komunitas ISB, Ani Berta, dengan tema “Konser Musik”

Read more ...

Selasa, 06 Desember 2022

Terapi Musik Kecapi Suling

Siapa tidak sedih, satu-satunya lahan sawah yang jadi sumber penghasilan rusak berat kena dampak gempa Cianjur Senin 21 November 2022 dengan kekuatan 5,6 magnitudo. Meski total ada sekitar 317 hektare lahan sawah yang rusak akibat gempa dan menurut Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur itu tidak berpengaruh pada hasil produksi, namun tetap saja bagi petani kecil goncangan itu telah memberikan efek takut dan trauma berkepanjangan.

Pemerintah memang sigap. Bantuan terus berdatangan. Warga yang terdampak gempa dan tempat tinggalnya berada di atas patahan sesar direlokasi.

Paman dan sepupu yang rumahnya di Kampung Mangun, Desa Mangunkerta, Kecamatan Cugenang rubuh dalam waktu dekat akan mendapat hunian baru dengan spesifikasi tahan gempa. Tapi mereka kebingungan untuk mencari pendapatan, sebab tempat relokasi jauh dari lahan pertanian yang menjadi mata pencaharian utama selama ini.

Keluarga saya memiliki mata pencaharian sehari-hari sebagai petani sayuran. Sedangkan di tempat yang baru di Sirnagalih Cilaku, tidak memungkinkan untuk bertani karena suhu udara yang berbeda.

Kalau pun tetap bertani ke sana, susah juga karena jarak cukup jauh. Kalaupun tetap garap lahan di Mangun, tidak bisa setiap hari dipantau. Kalau bertani di Cilaku juga susah, beda suhu udara, tidak cocok untuk sayuran. Jadi bingung setelahnya, cari penghasilan dari mana?

Solusi dari Pemda Cianjur saat ini masih jadi bahasan. Bupati masih membahas terkait jaminan usaha bagi korban yang direlokasi yang rencananya para korban yang direlokasi diberi modal dan pelatihan kewirausahaan dan diarahkan jadi pelaku UMKM. Tapi saudara saya tetap bingung, perlu adaptasi tinggi dari petani menjadi pengusaha, bukan?

Kami pun yakin, bantuan tidak akan berapa lama lagi juga akan berhenti dengan sendirinya. Apalagi bencana di negeri kita ini juga terjadi dimana-mana. Setiap daerah perlu penangangan maksimal.

Dampak kerusakan pada sawah kami ini juga teramat kompleks. Jika diamati berdasarkan penampakan visual sawah, tidak hanya retak dan tanaman tertimbun longsor, tapi juga ada pergerakan lahan bahkan ada yang tahah sawahnya “hilang” karena mungkin bergeser cukup jauh.

Lahan pertanian yang hancur karena gempa berkekuatan 5,6 amplitudo di Cianjur. Sumber gambar antaranews.com

Sedih, bingung itulah yang kami rasakan.

Saya hanya bisa menahan air mata manakala melihat hamparan lahan yang awalnya subur menghijau kini  memerah karena tanahnya terbalik. Suasana persawahan yang sangat dibanggakan kini sudah hilang. Berlari-lari di galengan (jalan tanah pembatas antar sawah) sambil nangkap belalang, diam di saung sambil mendengarkan suara kecapi suling semua tinggal kenangan...

https://youtu.be/4fCNRDVEaWU
Main di sawah sambil mendengarkan musik kecapi suling semoga tidak hanya tinggal kenangan

Semua sudah terjadi. Kami tidak boleh berlarut dalam keadaan selalu terpuruk. Mungkin mereka butuh pendampingan hingga duka itu sembuh. Perlu tetapi supaya sakit segera pergi.

Sudah hampir seminggu (sejak anak masuk sekolah lagi) saya bisa lebih banyak waktu sendiri di depan rumah sambil memandang sawah. Suara musik seni Sunda Kacapi Suling sengaja saya setel melalui ponsel. Mendengarkan musik kecapi suling sebagai sebuah seni tradisional Sunda yang berasal dari daerah Cianjur ini tidak hanya bentuk ikut melestarikan adat seni budaya leluhur, tapi juga yang saya rasakan musik yang dihasilkan dari perangkat waditra Sunda ini banyak memberikan kekuatan.

Sejak kecil saya sudah terbiasa mendengar berbagai seni dan budaya Sunda seperti wayang golek, Kacapi suling Cianjuran, dan seni waditra lainnya

Di kota alunan musik kecapi suling di pendengaran mungkin sudah hampir tiada. Tapi di daerah Cianjur ini, masih banyak siaran radio lokal yang menyiarkan termasuk musik kecapi suling yang menjadi bagian dari pilar budaya Cianjur yaitu Maos, Mamaos dan Maenpo. Secara tidak langsung pemerintah daerah juga menjadikan seni musik kacapi suling Cianjuran ini sebagai tradisi yang harus dipertahankan.

Maos memiliki arti seni mengaji dimana masyarakat Cianjur masih kental suasana tradisi Islam-nya. Bahkan memiliki julukan kota santri dan program Gerbang Marhamah (pembangunan masyarakat berakhlakul karimah) yaitu proses implementasi syariat Islam di Cianjur dalam konteks sosial-politik lokal.

Mamaos adalah seni tembang sunda Tembang Cianjuran yang lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti.

Seni mamaos ini terdiri dari alat kecapi besar dan kecapi rincik (kecapi kecil) serta sebuah suling yang mengiringi panembangan atau juru lagu.

Yang ketiga, Maenpo yaitu seni bela diri pencak silat yang menggambarkan keterampilan dan ketangguhan. Cianjur terkenal dengan kaulinan (jurus) Cimande.

Kembali ke musik Kacapi dan Suling yang disajikan secara instrumental maupun bersama vocal. Alunan ritmik kecapi yang bertempo lambat, dihasilkan oleh petikan dawai yang menyatu menjadi musik yang lembut ketika bersatu dengan melodi dari suling atau vocal yang bersifat melismatis membuat hati dan jiwa terasa lebih damai dan tenang saat mendengarnya.

Tidak salah kalau saya anggap musik kecapi suling ini bisa jadi sebagai musik terapi yang dapat menstimulan kerja otak dan syaraf untuk efek kesehatan lainnya pada manusia. Karena yang saya rasakan sendiri saat memejamkan mata sambil mendengarkan alunan musik ini hati menjadi lebih tenang.

Buat saya sendiri, alunan musik hasil dari elemen-elemen musikal kecapi suling ini sangat berpotensi menjadi musik terapi karena efek relaksasinya itu.

Musik yang dihasilkan oleh kecapi dan suling lalu didengar sambil memandang hamparan sawah tidak hanya sebagai musik terapi yang menyentuh efek kejiwaan, tetapi juga jadi warna musik tradisional yang seharusnya kami (warga Cianjur khususnya) lestarikan.

Read more ...

Jumat, 03 September 2021

Referensi Musik Anak Indonesia dan Animasi 3D Hoala & Koala

Baru saja sampai, Fahmi putra saya langsung laporan kalau ia terpilih jadi pemain alat musik marching band di sekolahnya. Tapi ia masih bingung mau mempelajari alat musik yang mana, katanya.

 

[caption id="" align="aligncenter" width="300"]Fahmi putra saya tertarik kepada petugas Marching Band anak sekolah saat pawai agustusan yang lewat depan rumah Fahmi putra saya tertarik kepada petugas Marching Band anak sekolah saat pawai agustusan yang lewat depan rumah[/caption]

 

Di sekolahnya, penyeleksian untuk peserta pemain marching band sebenarnya sudah dilakukan sejak kelas tiga. Sementara kelas enam nanti sudah dibebastugaskan dari kegiatan ekstrakurikuler apapun.Tapi karena hampir dua tahun ini kita melakukan pembelajaran jarak jauh, jadinya kegiatan itu vakum. Saat pelajaran tatap muka mulai dilaksanakan lagi ini penyeleksian baru dilakukan.

Sejak masuk sekolah dasar, setiap jelang Agustusan Fahmi terlihat senang kalau melihat kakak-kakak kelasnya berlatih drumband. Ia tampak takjub dengan barisan anak yang memainkan beberapa lagu dengan menggunakan sejumlah kombinasi alat musik.

Ada yang ditiup, dipukul, dipetik, dan sejumlah instrumen lainnya secara bersama-sama. Belum aksi gitapati dan mayoret yang sangat memukau dengan tarian tongkatnya. Jelas memperlihatkan jika Fahmi tertarik untuk menjadi bagian dari pasukan itu, kelak kalau sudah waktunya.

Sekarang, tidak terasa anak saya ini sudah kelas empat. Dan pagi tadi ia tampak gembira harapannya jadi salah satu pemain drumband hampir terlaksana.

"Jadi mulai sekarang Ami harus banyak belajar mengenal lagu daerah, lagu nasional dan lagu anak Indonesia dong?”

Fahmi mengangguk senang. Begitupun saya. Secara kita tahu sendiri perkembangan dunia musik anak di Indonesia ini mengalami banyak kemunduran dibandingkan jaman saya seusianya dulu. Jamannya Agnes Monica masih jadi penyanyi cilik. Trio Kwek-kwek, Cikita Meidy, dll. Jadul banget deh.

Saya mendukung kegiatan marching band di sekolah Fahmi, karena mengenalkan musik pada anak banyak memberikan manfaat yang jauh lebih besar dari sekadar menghibur.

Manfaat musik untuk anak itu banyak. Selain mendukung tumbuh kembang anak juga menunjang pertumbuhan fisik dan perkembangan otak. Dapat membantu mengajarkan anak meningkatkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang disebabkan karena meningkatnya kinerja otak, daya ingat, dan kemampuan berpikir, sampai bisa lebih meningkatkan konsentrasi.

Dengan berlatih musik, mungkin anak bisa terus berkembang karakter dan keterampilan sosial serta rasa percaya dirinya.

Jadi setujukan manfaat musik bagi anak itu sangat banyak? Nah, agar lebih optimal, setiap orang tua juga perlu terlibat aktif didalamnya.

Pembentukan karakter, kemampuan belajar, serta kemampuan bermusik anak akan jauh lebih optimal jika ada peran positif dan dorongan orang tua di setiap proses pembelajaran musiknya.

Kita tak perlu menjadi seorang ahli musik untuk mengajar anak mencintai dan menikmati musik. Yang terpenting, kenalkan anak dengan musik yang sesuai sesering mungkin. Beri anak fasilitas untuk menunjang dalam memperdalam musik. Contohnya mengenalkan karakter musikal yang bernama Hoala & Koala.

 

Yuk kenalan dengan Hoala & Koala

  Hoala & Koala

 

Hoala & Koala adalah karakter di dunia musik yang divisualisasikan lewat animasi 3D. Karakter Hoala & Koala diciptakan seperti anak-anak zaman sekarang pada umumnya yang tumbuh berkembang di jaman digital.

Jadi ceritanya Hoala & Koala ini adalah sepasang sahabat yang sangat gemar menyanyi. Maka dari itu karakter ini akan terus mengeluarkan banyak lagu dan musik yang sesuai dengan karakter anak-anak.

Selain tokoh utama Hoala & Koala, ada karakter lain, seperti tokoh Ayah, Ibu, Miss Jeruk, dan lainnya yang kesemuanya juga pandai bernyanyi.

 

[caption id="attachment_11258" align="aligncenter" width="300"]Tokoh karakter Hoala & Koala Tokoh karakter Hoala & Koala
[/caption]

Penasaran dengan karakter Hoala & Koala? Langsung saja ajak anak kita melihatnya di Youtube, atau mendengarnya di Spotify dan iTunes.

Fahmi sangat antusias menonton Hoala & Koala. Ia jadi banyak belajar tentang aransemen dari musik Hoala & Koala. Banyak alat musik yang belum diketahui Fahmi sebelumnya seperti saxophone, double bass, trombon, klarinet, cello, harpa, hingga instrumen etnik Indonesia tradisional lainnya.

Saya merasa dengan menonton lagu dan musik Hoala & Koala anak kita jadi dimanjakan dengan musik modern tapi tidak menghilangkan rasa dan jati diri.

Hoala & Koala memiliki keunikan genre. Tak hanya genre children pop tapi ada juga jazz, big band, swing, jpop, hingga etnik.

 

Anak senang melihat animasi 3 D Hoala & Koala Pas dan cocok pokoknya. Saat Fahmi naik kelas empat dimana ia bisa masuk group marching band, pas juga dengan munculnya kehadiran Hoala & Koala yang bisa diakses di Youtube lagu dan animasi anak

Disela kepenatan pembelajaran dan padatnya aktivitas ekstrakurikuler anak, sesekali boleh kita ajak anak untuk melihat dan mendengarkan lagu-lagu Hoala & Koala di Youtube, Spotify dan social media Hoala & Koala lainnya sebagai referensi dunia musik anak untuk refreshing dan me time bersama.

 

Me time keluarga dengan Hoala & Koala

 

Read more ...