Tampilkan postingan dengan label Wirausaha Baru Jabar 2018. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wirausaha Baru Jabar 2018. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Mei 2025

Berikut Company Profile yang Baik: Bukan Sekadar Formalitas!

Ya, sebuah company profile yang baik itu tidak hanya sekadar formalitas. Melainkan punya kredibilitas.

Manteman yang punya bisnis pasti setuju kan kalau setiap bisnis itu pasti punya ceritanya sendiri-sendiri. Tapi taukah kalau tidak semua bisnis bisa menceritakannya dengan baik?

Bingung Company Profile itu apa?

Banyak perusahaan yang punya produk hebat, tim solid, dan pencapaian luar biasa—namun saat harus menjelaskannya ke klien atau calon investor, mereka kebingungan. Pernah denger kisah seperti itu atau malah mengalami sendiri?

Kalau saya, termasuk pengalaman. Waktu ikut pelatihan Wirausaha Baru Jabar 2018 lalu, salah satu syarat lolos ya harus bisa menjelaskan bagaimana bisnis yang akan kita lakukan itu? Tentu saja saya kelimpungan.

Selain masih belajar, saya ikut pelatihan itu justru ingin bisa. Dan pada akhirnya saya tau hal itu bukan pengalaman saya saja, tapi hampir seluruh Wirausaha Baru Jabar angkatan saya bercerita pengalaman yang sama. Bingung saat diminta presentasi menjelaskan prospek bisnis yang diajukan.

Nah, pada saat kondisi seperti itulah pentingnya keberadaan sebuah company profile yang ditulis dengan strategi dan sudut pandang yang tepat.

Company profile bukan hanya dokumen. Ia adalah wajah perusahaan kita. Cara pertama (dan kadang satu-satunya) untuk membuat kesan profesional, kredibel, dan meyakinkan supaya pihak lain percaya dengan usaha atau bisnis yang kita jalankan.

Bukan Soal Panjang Pendek, Tapi Soal Isi

Sebagian orang berpikir company profile cukup sekadar menampilkan visi, misi, dan daftar produk. Tapi kenyataannya, banyak pembaca dan bahkan klien ingin tahu lebih dari itu.

Mereka ingin melihat siapa kita, apa yang membedakan bisnis kita dengan yang lain, dan mengapa mereka harus memilih usaha yang kita jalankan?

Company profile yang efektif harus punya alur yang rapi, bahasa yang jelas, dan narasi yang membangun kepercayaan.

Tidak bertele-tele, tapi juga tidak terlalu kaku. Harus terasa manusiawi—karena pada akhirnya, yang membaca tetaplah manusia.

Company profile dari Wordsmith Group

Untuk Siapa Sebenarnya Company Profile Itu?

• Untuk klien baru yang belum kenal siapa kita

• Untuk mitra potensial yang ingin tahu seberapa serius kita menjalankan bisnis.

• Untuk investor yang mempertimbangkan potensi perusahaan kita.

• Untuk tim internal yang perlu memahami arah dan identitas perusahaan.

Yang penting intinya mau dikirim dalam bentuk PDF, dibawa ke pameran, dipasang di website, atau dipresentasikan ke stakeholder—company profile kita harus fleksibel dan tetap kuat dalam menyampaikan pesan.

Bicara dengan Gaya, Bukan Sekadar Data

Di Wordsmith Group, perusahaan yang mempercayai kalau setiap bisnis punya cerita yang layak disampaikan. Melalui layanan jasa pembuatan company profile, Wordsmith Group siap untuk membantu klien membangun narasi yang tidak hanya informatif, tapi juga menarik dan mudah diingat.

Upaya dari Wordsmith Group dimulai dengan mengenal bisnis manteman, nilai-nilai bisnisnya, dan apa yang ingin manteman tonjolkan. Lalu mereka susun kontennya—dari sejarah perusahaan, layanan, pencapaian, hingga pesan CEO—dengan pendekatan yang strategis. Sedetail dan serunut itu lho ya...

Pihak Wordsmith Group juga bekerja sama dengan desainer visual bila manteman membutuhkan tampilan layout profesional yang siap cetak atau digital.

Pokoknya semua disesuaikan dengan tone dan branding perusahaan kita.

Company profile dari Wordsmith Group

Fokus Jalankan Bisnis, Wordsmith Bantu Ceritakan

Banyak pemilik bisnis kesulitan menulis tentang perusahaannya sendiri. Itu wajar. Kadang, justru pihak luar yang bisa melihat kekuatan bagaimana kita secara objektif dan mengemasnya dengan lebih meyakinkan.

Jika manteman sedang merintis bisnis, memperkuat citra perusahaan, atau ingin mempersiapkan materi presentasi penting, kini saatnya punya company profile yang bekerja untuk kita

Kunjungi saja Wordsmith Group dan bicarakan kebutuhan kita. Siapa tahu, cerita perusahaan yang manteman jalankan justru memiliki hasil yang lebih kuat dari yang kita perkirakan. Jadi gak bingung lagi seperti pengalaman saya dulu waktu mau seleksi Wirausaha Baru ya...

Read more ...

Senin, 10 Februari 2020

Fadilah Kewajiban

 

Fadilah dari Melakukan Kewajiban

Telepon dari ibu bikin senang sekaligus bingung. Senang bisa dapat kabar kalau ibu sehat-sehat saja. Bingung karena secara tidak langsung, ibu menelepon selain tanya kabar cucunya juga kasih kabar sekaligus melaporkan apa saja yang harus dibayar. Iuran Isra Miraj, baju seragam organisasi pengajian, pajak bumi dan bangunan, listrik, dan lain-lian. Meski sebagian sudah ditalangi adik, tapi saya ngerti, itu semua harus saya ganti.

Saya hanya bisa narik nafas. Sebulan ini memang belum bisa kasih ibu uang. Ada sih beberapa job tapi bayarannya belum cair. Sungguh kalau sudah menyinggung keuangan, saya jadi sensitif. Berasa gagal jadi anak sulung yang seharusnya menjaga dan merawat orang tua, khususnya ibu yang tinggal sebelah lagi setelah ditinggal bapak sejak dua puluh empat tahun lalu.

Iseng saya buka WhatsApp yang saya tinggalkan sejak semalam. Ada beberapa pesan pribadi selain notifikasi dari group Campaign. Salah satu dari beberapa pesan pribadi adalah dari seorang penulis senior. Beliau bertanya apakah sanggup menulis satu artikel untuk tayang hari ini dengan bayaran sekian?

Wah, saya melonjak girang. Meksi entah kapan fee-nya bisa saya terima, tapi paling tidak saya sudah punya tabungan untuk diberikan kepada ibu. Sayapun menyanggupi. Meski tentu saja saya harus bekerja keras mengingat tulisan yg diminta cukup awam buat saya. Yang bikin saya berani ambil kesempatan ini adalah saya pikir saya bisa menulis dari kacamata saya pribadi. Mengambil sudut pandang berdasarkan yang terjadi di sekitar saya. Kebetulan beberapa hari lalu saya ingat saya pernah baca ulasan topik terkait yang saya yakini bisa jadi bahan diskusi.

Satu jam, dua jam sampai empat jam saya cari tulisan itu tidak juga saya temukan. Aneh. Padahal saya ingat bahasannya. Cuma saya lupa ga tahu “simpan” dimana... Cari mencari terus malah dapat bahan diskusi lain. Yah lumayan meski saya kurang sreg, dan bahan tidak percis dengan tema yang akan saya ulas, namun tidak urung saya saved juga. Mungkin ini sudah jadi alternatif bagi saya. Setidaknya saya agak lebih tenang sudah dapat banyak masukan. Tinggal mengembangkan.

Melirik jam, astagfirullah. Sudah mau jam dua siang. Saya belum melakukan kewajiban lima waktu. Segera setelah semua saya selesaikan saya menghadap Nya.

Seperti biasa kalau sedang punya deadline bawaannya tidak tenang. Apalagi saya sudah menyanggupi. Musim hujan dimana listrik sering mati mendadak saya kudu antisipasi menulis lebih awal. Jangan sampai gara-gara masalah teknis deadline lewat dan saya jadi malu dengan kesanggupan saya terhadap penulis senior tadi. Apalagi saya kepikiran bahan tulisan yang saya akan jadikan ulasan tidak juga ketemu dimana nyimpannya.

Mendadak saya buka akun medsos lebih dahulu ketika memegang smartphone. Kok tiba-tiba juga ingin buka akun satunya lagi, secara saya memang memegang akun beberapa. Ya Allah, seketika saya bahagia dan merasa inilah fadilah jika kita lebih mendahulukan kewajiban daripada pekerjaan. Bahan tulisan yang saya cari sejak pagi, akhirnya ditemukan karena ternyata saya simpan di akun saya satunya lagi itu. Memang bukan akun utama, jadi kadang seharian tidak pernah saya buka.

Semangat saya langsung kembali bergelora. Bukan lebay, tapi begitulah adanya. Saya jadi sangat bersyukur, merasa beruntung saya bisa melaksanakan kewajiban meski tidak seharusnya di awal waktu, karena tenyata dengan jalan itu saya disadarkan, bahwasanya fadilah dari melakukan kewajiban memang tidak perlu diragukan lagi.

Semoga tulisan bisa segera publish, dan fee segera cair sehingga saya bisa segera kasih ibu uang untuk kebutuhan bulanan beliau.

Read more ...

Kamis, 28 Maret 2019

Tips Atasi Kesulitan Wirausaha Kuliner

Tips Atasi Kesulitan Wirausaha Kuliner

 

Menjadi peserta Wirausaha Baru (WUB) Jabar 2018 sedikit banyak telah memberikan saya banyak ilmu dan masukan terkait berwirausaha dan segala macam perintilannya. Digodok selama 5 hari 4 malam di Bandung, beserta ratusan peserta dari 4 angkatan yang berasal dari berbagai kota kabupaten di Jawa Barat memberi saya banyak inspirasi bagaimana sebaiknya menjadi wirausaha baru yang handal khususunya dalam bidang kuliner baik makanan maupun minuman.

Karena ternyata untuk menjadi wirausaha itu tidak mudah. Kesulitan akan timbul baik di awal memulai bisnis maupun saat bisnis sedang berjalan. Tidak hanya karena kita punya produk yang bisa kita jual lantas bisa jadi pengusaha. Tetapi memang ada liku-liku serta gelombang yang harus dilalui sebelum akhirnya bisa mematenkan diri dengan sebutan wirausahawan.

Ngobrol dan tukar pikiran dengan sesama pelaku usaha dari berbagai daerah telah memberikan banyak suntikan motivasi khususunya kepada saya yang masih bisa dibilang baru masuk ke dunia wirausaha ini. Sekiranya tips dan pengalaman mereka tidak hanya berguna bagi saya sendiri, tetapi semoga bermanfaat bagi yang lain, khususunya yang berminat mau buka usaha kuliner seperti saya.

Jadi sebelum mereka terjun ke dunia bisnis wirausaha bidang kuliner, ada beberapa hal yang harus dipikirkan sehingga saat berjalan nanti usaha tidak mengalami kendala. Menurut hasil obrolan yang bisa saya rangkum beberapa tips yang perlu dicermati ketika akan terjun ke dunia wirausaha kuliner adalah:

Tips Atasi Kesulitan Wirausaha Baru Kuliner

 

Niat Minat dan Kesungguhan

Miliki tiga hal tersebut di awal. Jangan sampai terjun ke dunia wirausaha atas bujukan atau dorongan pihak lain. Seharusnya menjadi pengusaha wirausaha sudah jadi niat minat dan kesungguhan pribadi. Lebih bagus kalau sudah punya passion atau hobi dalam meracik atau mengolah makanan khas yang akan kita jual.  

Modal

Modal tidak hanya berupa kucuran dana melainkan juga termasuk modal mental. Sikap pantang menyerah dan ulet akan menempa calon wirausaha menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting.

Modal finansial bisa diusahakan dengan pihak ketiga atau modal pribadi yang disesuaikan dengan kebutuhan. Akan tetapi modal mental tidak bisa diwakilkan kepada siapapun. Hanya usahawan itu sendiri yang bisa menentukan.

 

Jenis Usaha

Sebaiknya disesuaikan dengan keahlian, minat dan kebutuhan pasar. Jika mahir dalam membuat kulit ikan krispi maka perdalam jenis usaha kuliner tersebut sehingga terus menjadi pengolah kulit ikan krispi yang memiliki cita rasa yang khas.

Lihat apakah pasar menyukai dengan produk olahan yang kita buat? Jika ya, kita bisa lanjut memikirkan bagaimana proses produksi selanjutnya. Namun jika pasar kurang minat dengan produk yang kita hasilkan sebaiknya pikirkan lagi apakah kita akan ganti produk (meski resikonya besar) atau coba cari lokasi lain yang sekiranya bisa menerima produk yang kita buat.

Atau meski tidak berpindah tempat, coba melirik pasar online. Sehingga jangkauan pasar lebih luas dan distribusi saat ini sudah semakin baik.

Tiga point itu yang oleh para peserta WUB Jabar 2018 dijadikan patokan jika kita ingin merambah dunia wirausaha kuliner bagi pemula. Adapun masalah lain seperti promosi, packaging, dan atau branding bisa dilakukan sambil jalan. Jika produk yang kita buat diterima masyarakat dengan sendirinya promosi maupun branding akan mengikuti.  

Aplikasi Kasir SPOTS

Mengikuti perkembangan teknologi yang kian hari kian pesat para wirausaha muda juga jangan sampai menutup mata. Semakin berkembang usaha yang digeluti dengan sendirinya akan muncul permasalahan seputar bisnis jual beli seperti bingung cara membuat catatan keuangan, stress memanagement pengelolaan pesanan, belum bisa memisahkan transaksi perdagangan sampai soal resi, kwitansi dan rekap transaksi harian.

Tenang, untuk mengatasi kesulitan-kesulitan itu wirausaha muda kuliner tidak perlu bingung karena sekarang sudah ada mesin kasir SPOTS.

 

Apa sih SPOTS?

SPOTS adalah perangkat multifungsi dari GOJEK untuk memenuhi sebuah kebutuhan pelaku UMKM di Indonesia. Mulai dari terima pesanan GO-FOOD, pembayaran dengan sistem GO-PAY, hingga laporan harian dari aneka ragam tipe pembayaran, dan cetak resi secara instan mudah dan cepat. Saat ini, SPOTS sudah digunakan oleh 15.000 outlet di seluruh Indonesia lho.

Dari usaha yang masih pakai gerobak, sampai yang punya booth, usaha di kantin, café, sampai restoran gede pun semua bisa menggunakan perangkat SPOTS. Karena memang SPOTS si aplikasi kasir online (sistem Point of Sale) ini ditujukan untuk mengelola pesanan penjual makanan mikro.

Dengan bantuan aplikasi kasir SPOTS, seorang wirausaha kuliner pemula dapat belajar berbisnis secara profesional sekaligus mengikuti perkembangan jaman serta teknologi. Dengan aplikasi SPOTS wirausahawan baru dapat lebih menghemat waktu untuk mengotomatisasi banyak tugas penjualan sehari-hari.

SPOTS dipasarkan dengan harga yang terjangkau, biaya aktivasi sebesar Rp. 290,000.00 dan biaya pemeliharaan Rp. 2,900 per hari.

Artikel ini didukung oleh SPOTS

Berikut video tentang SPOTS

https://youtu.be/yUK0LD8DOKk

Read more ...

Jumat, 22 Februari 2019

Membebaskan Gundah

(PUISI) Membebaskan Gundah

Berdasarkan hitungan punya uang go cap tiao
Cadangan buat bikin sendang dan bayar semesteran Tiba-tiba permintaan datang Bayar umroh sa cap tiao, bayar kuli belum kepikiran, tambah sendang dan semesteran, cukup? Oh tun! Hati menjerit, dada panas Pusing takut morat marit Dan mereka tertawa saja Mengaduk air mata Cap it an hari mengurung diri Menguras dedak resah dengan segala beban Pasrah tun yang diakui belum tentu dimiliki Ikhlas mengeluarkan harapan lekasan

 

PAGELARAN, 22 September 2019

10.00 wib

Read more ...

Minggu, 10 Februari 2019

Nasib Toko Buku

Nasib Toko Buku Jaman Now Sebatas Persinggahan

Sebuah toko buku berdiri di dekat Masjid Agung Cianjur. Sayang nasib toko buku itu hanya sebagai persinggahan sesaat saja. Dituju hanya oleh orang yang punya kepentingan pribadi, bukan karena ingin mengetahui informasi buku terbaru atau mendapatkan kesempatan membeli buku dengan harga lebih murah, tetapi karena kepentingan pribadi itu tadi...

Kepentingan pribadi yang saya maksud adalah seperti mampir ke beranda toko buku karena hendak ikut meneduh saat hujan saja, masuk sebentar ke dalam ruangan toko buku yang tertutup rapat karena menggunakan AC, sekadar merasakan suasana sejuk, lalu keluar begitu saja setelah keringat di dahi mengering... Dan tujuan serta kepentingan pribadi lainnya.

Begitulah nasib toko buku yang masih bertahan sampai sekarang. Setidaknya itulah yang bisa saya tangkap ketika diam-diam memperhatikan. Toko buku tidak lebih dari sekadar persinggahan. Bukan sebagai tujuan untuk mencari buku untuk dibeli, atau melihat buku kemudian membaca jika tersedia buku yang telah dibuka segelnya.

Saat minat baca masyarakat berkurang, berimbas terhadap kegiatan mengunjungi toko buku pun mulai menipis, bersyukur di lain pihak masih ada yang selalu peduli untuk menyediakan buku bacaan, secara gratis pula.

Toko buku di samping Masjid Agung Cianjur bisa dibilang sepi, namun kotak literasi cerdas masyarakat alias kolécér yang tersedia di alun-alun masjid cukup banyak diminati. Anak-anak, remaja dan orang tua terlihat hampir berebut mengambil buku. Padahal buku yang tersedia tentu saja sangat terbatas. Meski memang ketika saya lihat stok buku yang disediakan cukup lengkap.

Harus diakui minat masyarakat di Cianjur khsususnya mengunjungi toko buku (yang identik dengan membeli buku alias mengeluarkan biaya) masih rendah. Saya yakin tidak banyak orang Cianjur yang memiliki pengeluaran rutin menyisihkan anggaran biaya bulanan untuk biaya membeli buku (baik bekas maupun baru).

Jangankan membeli alias mengeluarkan biaya, membaca dengan gratis saja, seperti di perpustakaan daerah yang berada di bekas lokasi SMAN 2 Cianjur setiap hari sangat sepi. Padahal fasilitas cukup lengkap. Lalu apalagi mengunjungi toko buku yang rata-rata di Cianjur ini tidak difasilitasi ruang baca, air conditioner, dan atau kelengkapan lainnya?

Andai suami mengizinkan, saya sendiri ingin berlama-lama tinggal di Cianjur bagian kota ini. Ingin mengunjungi sepuasnya toko buku di samping Masjid Agung, ingin datang ke Perpustakaan Daerah Pemda Cianjur, ingin eksplor setiap kios atau bangunan yang menamakan dirinya toko buku, menjual buku, atau apalah tempatnya tapi mempersilahkan kita untuk yuk membaca.

Saya sediri selalu merasa damai dan tenang jika tengah berada di toko buku. Lupa akan urusan kerja, rumah tangga, anak dan bahkan lupa hutang, jika punya. Pokoknya saya ya fokus ke buku dan buku saja, begitu.

Toko buku jaman saya SD, tidak sebebas jaman sekarang. Mengeluarkan uang untuk membelinya, baru bisa membaca buku yang dipilih. Toko buku saat ini memiliki banyak kelonggaran. Meski tidak membeli, kita bisa mengunjungi, melihat buku pajangan, mengetahui informasi buku terbaru yang keluar, novel mana yang lagi best seller, dan membaca buku yang sudah lepas segel.

Mungkin karena banyak kelonggaran itu, toko buku saat ini seolah tidak berharga. Orang seperti jadi enggan membeli buku. Toh bisa download ebook atau baca resensi melalui internet, gitu pikirnya.

Tidak salah, memang demikian pemikiran saya juga. Saat ini saya pun jarang membeli buku dewasa. Lebih banyak membeli buku bacaan anak-anak, yang memang saya khususkan buat mereka, anak didik di sekitar rumah yang tidak pernah ke toko buku sama sekali.

Jadi jika saya tanya balik, “Apa yang dirasakan ketika berada di toko buku?” dan pertanyaan lanjutannya “Apa pendapatmu terkait toko buku sekarang?” Apa jawabanmu, teman?

Read more ...

Pendidikan Pedang Kehidupan

Pendidikan Pedang Kehidupan

Kemarin sepulang sekolah, setelah ganti pakaian dan makan camilan yang tersedia di meja, Fahmi izin main di teras rumah Salwa, anak tetangga.

“Tapi Ami mau bawa buku dan pensil, Bu.”

Ketika ditanya buat apa, jawabnya mau jadi guru. Maksudnya mungkin mereka akan belajar bersama. Hanya karena Fahmi sudah kelas dua, sementara Salwa kelas satu, maka Fahmi yang berperan sebagai guru.

“Jangan main dulu lah, bantu ibu dulu yuk,” pinta saya sedikit membujuk. Saat ini saya memang sedang repot karena sedang ada orang bekerja di belakang. Rencana kami mau bangun satu ruangan untuk tempat mengaji anak santri. Selama ini kasihan anak mengaji umpel-umpelan di ruang tamu yang sempit itu. Dan Fahmi biasanya bisa saya andalkan untuk pekerjaan ringan.

“Duh, ibu. Ami sudah janji.” Katanya merenggut.

Saya tertawa. Lalu mengangguk membiarkan ia belajar dan main ke rumah Salwa yang jaraknya hanya terhalang jalan.

“Nuhun ibu. Nanti kalau Ami terus belajar sekolah-sekolahan bisa jadi pahlawan nasional.” Katanya seraya berlari menenteng buku dan tempat pensil.

Saya tertawa. Itu anak ada saja ulahnya. Apa katanya tadi? Jadi pahlawan nasional? Ha-ha-ha. Itu pasti karena termakan cerita dari neneknya di Sukanagara. Soalnya beberapa hari lalu saat menginap di neneknya, sepupunya juga ikut menginap di sana. Mereka pasti bercerita seru soal itu.

Saya tahu karena seperti diceritakan si mamah kepada saya jaman saya kecil, si mamah selalu bercerita tentang Raden Dewi Sartika. Tidak bosan-bosan karena hanya kisah tokoh itu yang diketahui si mamah. Itu pun --sebagaimana diakuinya-- tahu dari cerita gurunya lagi saat sekolah di madrasah dulu.

Tidak heran jika setelah terus menerus saya yang dicekoki tokoh heroik perempuan Sunda itu, kini Fahmi cucunya yang juga mendapatkan cerita yang sama.

Saya sendiri merasa senang ketika si mamah dulu bercerita --tepatnya mendongeng—tentang tokoh pahlawan nasional Raden Dewi Sartika ini. Memang banyak motivasi hidup dan nilai kebaikan yang bisa diajarkan kepada anak, khususnya dalam hal semangat dunia pendidikan.

Seperti kita tahu, Raden Dewi Sartika yang lahir di Cicalengka, Bandung, 4 Desember 1884 ini adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita di tatar Sunda. Ia diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1966.

Cerita dari si mamah, juga dapat membaca dari berbagai sumber, dikatakan kalau sejak masih anak-anak, Raden Dewi Sartika selalu bermain sekolah-sekolahan dan ia yang menjadi gurunya. Hal itu selalu dilakukannya setelah pulang sekolah bersama teman-temannya.

Bagi Dewi kecil, pendidikan penting untuk mendapatkan kekuatan dan kesehatan. Anak harus sehat secara jasmani maupun rohani. Kudu ”cageur bageur” (sehat rohani, jasmani dan berkelakuan baik) selain pendidikan susila dan pendidikan kejuruan. Dewi kecil pada masa itu sudah memikirkan jika pendidikan penting untuk kaum wanita.

Dalam buku yang ditulisnya, Raden Dewi Sartika menghendaki adanya persamaan hak antara laki-laki dan wanita. Untuk bisa bekerja wanita harus diberi pendidikan.

Satu yang sangat dipegang Raden Dewi Sartika adalah pendidikan yang sesuai dengan budaya Sunda. Meskipun sebelumnya ia sudah menerima pengetahuan mengenai budaya barat namun ia tidak melupakan adat serta tradisi tatar Pasundan.

Sejarah mencatat 16 Januari 1904, Raden Dewi Sartika membuat sekolah yang bernama Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung. Sekolah tersebut kemudian direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910. (Wikipedia)

Karena banyak diminati, sekolah yang dibuatnya terus berdiri di berbagai daerah di Jawa Barat. Hingga akhirnya berkembang menjadi satu sekolah di tiap kota maupun kabupaten di Jabar. Pada September 1929, sekolah tersebut berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi. Di Cianjur sendiri ada sekolah Ibu Dewi yang beralamat di Jalan Siliwangi.

Kisah keutamaan pendidikan bagi semua kalangan itu yang terus ditekankan si mamah, sebagaimana begitu juga gurunya dulu menekankan pentingnya pendidikan kepada anak didiknya. Tidak heran kalau si mamah menerapkan hal yang sama kepada saya, dan kini kepada cucunya, Fahmi.

Ditambah dengan menikah ke almarhum bapak yang asli Tasikmalaya, si mama sempat mengunjungi patilasan makam Raden Dewi Sartika di Cineam (makamnya sudah dipindahkan) Raden Dewi Sartika memang meninggal di Tasikmalaya pada pada 11 September 1947 dan akhirnya makamnya dipindahkan ke Bandung. Maka semangat bercerita tentang Raden Dewi Sartika si mamah pun semakin bertambah.

Bagi kami, khususnya saya dan keluarga, dan mungkin umumnya urang Sunda, Raden Dewi Sartika bukan hanya sebatas pahlawan nasional, karena jadi pahlawan itu bukan tujuan beliau dalam perjuangannya menerapkan pendidikan kepada semua kalangan. Toh ia lahir dan menjalankan program sekolah keutamaan istri jauh sebelum bangsa ini merdeka. Tetapi lebih kepada keyakinannya jika pendidikan itu modal untuk mempertahankan kehidupan, karena disadari dengan pendidikan yang setara hidup akan terasa lebih mudah dijalani.

Read more ...

Selasa, 15 Januari 2019

Gregetnya Produk Kerajinan Cianjur

Gregetnya Produk Kerajinan Cianjur

Seberapa Greget Lo Mencintai Produk Kerajinan Cianjur? Kemarin gue ditanya, cinta gak sama kerajinan Cianjur? Terus? Cinta lah. Kalau enggak gue udah pindah warga negara. Berenang dari Cianjur ke laut kidul, ke Australia sana. Hahaha...!

Ada yang lebih greget dari itu?

Greget itu ketika dengar cerita jadi orang Cianjur, punya teman yang sering traveling ke luar negeri terus pas kasih oleh-oleh craft dari negara Singapura lah kok ya barangnya mirip dengan kerajinan tangan dari Gentur, Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang yang ada di Kabupaten Cianjur.

Usut punya usut memang banyak kerajinan tangan dari Warungkondang Kabupaten Cianjur yang diekspor ke luar negeri. Dan tanpa diduga, pelancong Indonesia lagi yang jadi pembelinya. Ck...ck...ck...! Gimana gak greget kalau tuh hasil kerajinan dikasih lagi ke orang Cianjur yang notabene daerah dimana kerajinan tangan itu berasal.

Lucunya lagi orang Cianjur yang jadi penerima oleh-oleh itu malah tidak tahu kalau produksi barang yang didapatnya dari luar negeri itu berasal dari daerahnya sendiri.

Memang tidak banyak orang tahu kalau Cianjur adalah penghasil kerajinan industri kreatif yang kekinian. Lampu Gentur itu salah satunya. Bentuknya yang unik, kadang orang mengira itu kerajinan buatan negara-negara Timur Tengah. Padahal, asli dari sebuah kabupaten di Jawa Barat yang bupatinya baru saja kena OTT. #eh

Kerajinan lampu gentur bisa dibilang kreasi warisan nenek moyang urang Cianjur, terbuat dari limbah kaca dan atau bahan kaleng. Meski sekarang seiring perkembangan jaman dan teknologi, ada bahan dan material lain ditambahkan menjadi bahan pembuatannya.

Serasa ditampar itu ketika saya yang memasang tagline Blogger Cianjur di blog dan akun sosial media tapi juga tidak tahu banyak tentang industri kerajinan yang dihasilkan oleh masyarakat Cianjur. Tahu tentang tauco, manisan buah, kerajinan anyaman, batik Cianjur dan lampu gentur ini pun hasil dari pencarian di internet dan media elektronik lainnya. tepukjidat [caption id="attachment_7505" align="aligncenter" width="169"] Sumber foto: MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 33, Nomor 1, Februari 2018
Pencarian Identitas Desain Lampu Gentur Cianjur
Dengan Pendekatan Teori Semiotik karya Devanny dan Liony.[/caption] Lebih malu lagi ketika justru ada orang yang notabene bukan masyarakat Cianjur tapi mereka bela-belain menggali informasi tentang produk kerajinan Cianjur. Sampai mengadakan penelitian, membuat teori, mengambil analisis dan menyimpulkan semuanya. Tidak pelit, mereka pun mempublish hasilnya dalam sebuah jurnal. Orang lain termasuk masyarakat Cianjur yang justru membaca paper (baca belajar) kepada mereka, Wow! Itu greget beneran kan?

Merekalah Devanny Gumulya, Dosen Program Studi Desain Produk, Universitas Pelita Harapan, Lippo Karawaci, Tangerang Email : devanny.gumulya@uph.edu dan Liony Amanda Lee, Mahasiswa Program Studi Desain Produk, Universitas Pelita Harapan, Lippo Karawaci, Tangerang dengan email-nya liony.lee@gmail.com yang telah meneliti salah satu produk kerajinan Cianjur ini, yaitu lampu gentur. Lampu warisan dan kebanggaan masyarakat Cianjur yang sudah banyak diminati oleh negara-negara di berbagai penjuru dunia.

Melalui penelitian mereka berdua, saya jadi tahu kalau lampu gentur pertama kali dibuat sekitar satu abad lampau, tepatnya tahun 1920. Kemudian sekitar 1965 lampu ini mendapat modifikasi yang awalnya berbahan minyak tanah beralih menjadi lampu modern. Model lampu yang sederhana dan meniru gaya perabot orang Belanda pun mulai banyak perubahan.

[caption id="attachment_7506" align="aligncenter" width="300"] Foto sumber: MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 33, Nomor 1, Februari 2018
Pencarian Identitas Desain Lampu Gentur Cianjur
Dengan Pendekatan Teori Semiotik karya Devanny dan Liony.[/caption] Ketika usaha kerajinan ini dipegang oleh generasi ketiga, ciri khas dan gaya design Timur Tengah pun semakin kuat. Seiring perkembangan jaman yang semakin modern, pemasaran lampu gentur pun kini berkembang secara online melalui website dan instagram. Devanny dan Liony bahkan sampai memikirkan apakah design lampu gentur ini sudah mencerminkan ciri khas Cianjur? Mengingat selama ini yang ditemui di pasaran, desain lampu gentur masih begitu-begitu saja. Meniru gaya Belanda dan Timur Tengah. Ga ada yang khas Cianjurnya.

Dengan latar belakang kurangnya identitas atau ciri khas kecianjurannya itulah mereka membuat penelitian dan mempublish paper hasil penelitiannya itu.

[caption id="attachment_7513" align="aligncenter" width="300"] Penelitian Devanny dan Liony untuk menemukan design lampu gentur yang khas dengan ciri khas Cianjur. Sumber MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 33, Nomor 1, Februari 2018 Pencarian Identitas Desain Lampu Gentur Cianjur Dengan Pendekatan Teori Semiotik karya Devanny dan Liony.[/caption]

Greget sama mereka berdua yang mencoba menghubungkan simbol budaya Cianjur yaitu ayam pelung dan lampu gentur. Mereka gigih melakukan pencarian identitas desain lampu gentur dengan berbagai teori. Sehingga didapatkan model bagaimana mendesain produk lampu beridentitas budaya lokal dengan ayam pelung --hewan endemik Cianjur-- sebagai inspirasinya.

Penelitian mereka tentunya tidak sebatas karena tugas, tetapi disertai kepedulian terhadap produk kerajinan kearifan lokal Cianjur yang sudah mendunia namun belum greget ciri khas dan kecianjurannya. Salah satu tanda cinta mereka kepada keanekaragaman seni dan budaya serta kearifan lokal tanah air.

Jika mereka saja berani pasang badan demi meningkatnya kualitas dan karya produk kerajinan Cianjur, lalu bagaimana cara kita khususnya urang Cianjur membuktikan kalau kita pun tidak kalah cinta dibanding mereka terhadap craft Cianjur ini?

[caption id="attachment_7507" align="aligncenter" width="212"] Penelitian menghasilkan design lampu gentur yang dinilai memiliki ciri khas Cianjur, yaitu ayam pelung, ayam endemik Cianjur. Sumber gambar dan foto: MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 33, Nomor 1, Februari 2018
Pencarian Identitas Desain Lampu Gentur Cianjur
Dengan Pendekatan Teori Semiotik karya Devanny dan Liony.[/caption]

Apa yang bisa kita lakukan sebagai tanda sangat greget mencintai produk kerajinan Cianjur?

https://www.instagram.com/p/BrZ6gbtnTwu/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=wqa2t8o9ijcl

Greget Mencintai Produk Kerajinan Cianjur itu...

1. Dengan mengenal lebih banyak sejarah, bentuk dan pemasaran produk kerajinan dari Cianjur.

2. Dengan membeli, memiliki, menggunakan dan atau merasakan manfaat dan kegunaan hasil produk kerajinan Cianjur yang mana dengan kata lain hal ini dapat ikut meningkatkan pendapatan, kesejahteraan dan kelangsungan industri pengrajin produk kerajinan Cianjur itu sendiri.

3. Menjaga, melestarikan, ikut mempromosikan aneka ragam produk kerajinan Cianjur sesuai dengan kemampuan.

4. Tidak gengsi mengenakan, menggunakan, dan bahkan ikut belajar membuat sehingga kita punya keterampilan untuk memproduksi kerajinan khas Cianjur tersebut.

5. Ada lainnya? Boleh ditambahkan... kamu juga cinta produk kerajinan Cianjur. Ye kaaan?

 

Kuy ah, kita tingkatkan rasa mencintai produk lokal sebagai salah satu upaya kalau kita memang mencintai produk dalam negeri. Yang pasti, sebagai blogger urang Cianjur saya sangat mencintai produk kerajinan khas Cianjur. Jadi kalau ditanya seberapa greget elo mencintai produk kerajinan Cianjur, jawab saya: greget banget! Saking cintanya Si Amang pengrajinnya aja saya buat pajangan jadi kerajinan juga!

Hahaha!

 

DAFTAR INFORMASI
  • Mudra P-SSN 0854-3461, E-ISSN 2541-0407 MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 33, Nomor 1, Februari 2018 Pencarian Identitas Desain Lampu Gentur Cianjur Dengan Pendekatan Teori Semiotik karya Devanny dan Liony.
Read more ...

Kamis, 02 Agustus 2018

Mudahnya Membuat Butter

Mudahnya Membuat Butter

Pelatihan Wirausaha Baru Jawa Barat 2018 yang baru saja saya ikuti minggu lalu di Bandung tidak hanya memberikan materi tetapi juga praktik langsung didampingi para ahlinya.

Salah satu praktik yang kami lakukan adalah pembuatan butter. Oya, praktik butter ini kami dapat soalnya kami termasuk pelaku wirausaha baru di bidang makanan dan minuman. Pembuatan butter yang dekat dengan bahan kue-kue, jadi salah satu materi praktik yang kami dapat. Meski sebagian pelaku wirausaha bukan bergelut di bidang kue, minuman misalnya. Namun tetap saja sama-sama ikut praktik ini. Seru dan pasti ilmunya sangat bermanfaat.

Kebanyakan peserta adalah pelaku bisnis UKM. Saya justru banyak belajar dari mereka mengenai modal usaha rumahan, cara strategi marketing dari mulut ke mulut, sampai strategi pemasaran online yang kini mulai menggeliat. Tidak sia-sia waktu istirahat atau jam tidur saya gunakan untuk berbincang dengan mereka, para pelaku bisnis UKM ini.

Adapun praktik pembuatan butter yang jadi materi dari Panitia dilakukan di Detuik Kafe, (Detuik singkatan dari deudeuieun tuang ieu katuangan, Bahasa Sunda yang artinya ketagihan makan makanannya) yang beralamat di Jl. Bojong Koneng Atas, Kampung Haur Manggung, Cikutra, Cibeunying Kidul, Cibeunying, Cimenyan, Bandung, Jawa Barat.

Lokasi Detuik Kafe sejuk, luas dan lengkap. Cocok untuk liburan bawa keluarga, anak atau rombongan kantor.

Didampingi ahli pembuat butter untuk pabrik kue kering sekelas Ina Cookies, Kang Dadan, para peserta pelatihan wirausaha baru yang berasal dari berbagai kota atau kabupaten di seluruh Provinsi Jawa Barat ini semua bergembira mengikuti tahap demi tahap rangkaian acara yang kocak, seru dan berkesan. Baiklah langsung saja kita ulas lagi praktik membuat butter nya. Tapi sebelum nya, ada yang tahu apa itu butter? Apa itu margarine? Apa bedanya butter dan margarine? Hayo yang bisa, jawab di kolom komentar ya... Membuat Butter Bahan 1. Susu Cream misal sebanyak 100 ml 2. Susu murni secukupnya 3. Es batu (untuk praktik kecil-kecilan disukai bentuk kotak-kotak yang di freezer rumah itu lho) 4-5 butir es kotak cukuplah. 4. Garam Halus secukupnya [caption id="attachment_6181" align="aligncenter" width="300"] Praktik membuat butter di detuik kafee yang masih saudaranya Ina Cookies, Bandung[/caption] Alat 1. Gelas plastik tertutup ukuran 200 ml satu buah 2. Kain saring minimal ukuran 20 x 20 cm satu helai. Kalau tidak ada kain, saringan santan juga bisa dipakai 3. Sendok teh satu buah Cara pembuatan Dibagi dua tahap Pertama Pembuatan campuran bahan. Kita campurkan bahan susu cream dan susu murni dalam satu wadah misalnya gelas atau kalau buat banyak bisa pakai ember atau baskom. Aduk sampai susu cream dan susu cair tercampur merata. [caption id="attachment_6182" align="aligncenter" width="300"] Tutup rapat lalu kocok terus[/caption] Kedua Pembuatan butter.

step by stepnya

1. Campuran bahan (susu cream dan susu murni) masukkan ke dalam gelas plastik tertutup. 2. Tambahkan es batu sebanyak 4-5 butir kemudian gelas plastik itu ditutup rapat. 3. Campuran bahan digoyang-goyang atau dikocok-kocok ke atas dan ke bawah selama beberapa menit sampai terbentuk gumpalan butter. [caption id="attachment_6183" align="aligncenter" width="300"] Ngocok ngocol dan seru![/caption]

Aslinya cukup lama. Pengalaman kami mengocok sambil berjoget diiringi lagu dangdut itu lebih dari 5 putaran lagu dangdut lho. Kalau satu lagu 5 menit saja, berarti sekitar minimal setengah jam buat ngocok hingga campuran menggumpal.

4. Setelah gumpalan butter terbentuk masukkan garam 2.5%-5% dan pengocokan lanjutkan lagi sampai semua garamnya larut 5. Saring gumpalan butter dengan kain saringan untuk memisahkan cairan yang ada sampai tidak mengandung air lagi. 6. Gumpalan butter yang dihasilkan dimasukkan ke dalam kantong plastik. 7. Butter yang dihasilkan dapat langsung digunakan atau disimpan dalam lemari es. Saat itu setelah praktik, butter yang kami buat langsung dibawa pulang lho. Dan saya bawa pulang butter sekitar sesendok itu ke Cianjur! [caption id="attachment_6184" align="aligncenter" width="300"] Setengah jam lebih ngocok gelas sambil joget, akhirnya terbentuklah butter nya...[/caption] Sebenarnya penggumpalan butter yang lebih cepat bisa menggunakan mixer. Itu tadi melakukan secara manual kan biar tahu saja. Hehehe. Kalau sudah tahu prosesnya mau pakai jalan mana silakan saja. Untuk yang mau bertanya atau konsultasi terkait pembuatan butter ini silakan hubungi langsung Kang Dadan KP di nomor 085722289619. Sekian sebagian dari ilmu dari Pelatihan Wirausaha Baru Jawa Barat 2018 yang saya ikuti. Semoga bermanfaat. Ilmu lainnya seperti tentang packaging, marketing, strategi pemasaran online dan dunia bisnis UKM lainnya menyusul saya publish ya.
Read more ...

Minggu, 29 Juli 2018

Wirausaha Baru Jabar 2018: Etika Bisnis dari Harga Teh

Wirausaha Baru Jabar 2018: Etika Bisnis dari Harga Teh

Selasa lalu saya dan seluruh peserta pelatihan Wirausaha Baru Jawa Barat 2018 khususnya kelas C alias angkatan 55 mendapat materi Etika Bisnis. Ilmu yang disampikan oleh Bu Dewi, dosen tetap dari Unikom kepada kami di kelas sangat mudah dimengerti karena yang disampikan banyak dialami dalam kehidupan dan keseharian.

Contohnya hal yang sering terjadi ketika sudah ada tukang dagang bubur di sekitar rumah, etikanya kita jangan ikut berjualan bubur di tempat itu.

Atau ketika akan melayani pembeli etikanya penjual berpakaian rapi dan sopan. Meski pada kenyataannya etika just etika... yang terjadi di masyarakat justru sebaliknya.

Jika ada tetangga yang terlihat sukses berjualan kue, maka tetangga samping nya tak mau kalah, ikut juga belajar membuat kue dan menjualnya pula di tempat yang sama.

Saat ada pembeli datang, tidak sedikit buibu keluar dengan pakaian kebesaran (masih menggunakan) daster. Kusut dan tidak profesional.

Itu kenyataan yang sering kita temukan dalam keseharian. Etika hanya etika, kalah dengan ambisi meraih untung yang (terlihat) lebih besar meski dengan cara membunuh usaha teman atau tetangga.

Lalu bagaimana cara menghadapi masalah demikian? Tanya salah seorang peserta pelatihan.

[caption id="attachment_6163" align="aligncenter" width="300"] Foto bareng dengan widyaiswara Dewi, setelah membahas materi Etika Bisnis[/caption] Dengan senyum Bu Dewi widyaiswara kami saat itu memberikan pernyataan sebelum memberi jawaban. “Mungkin mereka, baik itu teman atau tetangga kita yang ikut-ikutan melakukan bisnis seperti yang kita jalankan, karena mereka belum pernah ikut pelatihan dan belum tahu jika dalam berbisnis pun ada etikanya.”

“Iya lalu kami harus bagaimana?” tanya si penanya masih belum puas dengan penjelasan Bu Dewi.

“Ya biarkan saja. Kita tetap fokus kepada usaha atau bisnis yang kita jalankan saja. Rezeki tidak akan bertukar. Biar orang lain berusaha menyaingi atau membunuh bisnis kita, asal jangan kita yang melakukan hal demikian kepada teman atau tetangga kita. Karena kita para usahawan baru Jawa Barat sudah mendapat pelatihan. Sementara mereka belum.”

Etika Bisnis memang seperti mudah dalam teori namun susah luar biasa ketika akan mempraktikannya. Bahkan sebagian kebiasaan yang seharusnya dihindari para usahawan justru sudah ada yang menjadi kebiasaan mereka secara turun temurun.

Saya baru menyaksikan kejadian terjadinya etika bisnis dalam ruang lingkup sebenarnya sekaligus pelaku wirausaha pada hari Jumat, sehari setelah saya pulang dari pelatihan.

Ketika saatnya jumatan, saya menunggu anak dan suami duduk di sebuah bangku dekat penjual minuman botol. Sempat saya lihat kalau si bapak penjual minumannya sebelum masuk mesjid untuk shalat jumat menitipkan dagangannya kepada seorang ibu yang sedang berjualan di sekitar halaman masjid juga.

Tidak lama, ada pembeli yang datang meminta teh botol. Si ibu yang dititipi merasa bingung. Lalu bertanya kepada para pedagang lain di sekitar halaman masjid.

“Harga teh botol ini berapaan sih?”

Ada yang jawab tidak tahu,ada yang jawab mungkin delapan ribu. Si ibu ini pun galau. Delapan ribu, bukan ya?

Saya terus memperhatikan mereka. Sampai ketika si pembeli sudah selesai minum teh botolnya lalu bertanya, “Jadi berapa, Bu?”

“Sembilan ribu,” kata si ibu.

[caption id="attachment_6164" align="aligncenter" width="300"] Dari harga teh botol saya bisa mengambil pelajaran tentang Etika Bisnis[/caption]

Saya pikir si ibu akan “mengambil" keuntungan Rp.1000 kalau harga teh botol itu sebenarnya Rp.8000. Tapi ternyata dugaan saya salah.

Saat bubaran shalat jumat, si ibu “lapor” sama penjual teh botol. Kalau ia menjual teh botol dengan harga Rp.9000.

Tahu apa yang direspon si bapak penjual teh botol? Dia mengucap istighfar dan mengelus dada!

“Kenapa? Sudah untung lebih seribu, nih...” kata si ibu. Jujur.

“Bukan untung, tapi bisa-bisa justru rugi,” timpal penjual teh botol.

“Naha?” tanya si ibu heran. Sama seperti keheranan saya.

“Iya kalau pembeli itu tamu yang sekali lewat. Bagaimana kalau orang daerah sini? Dia tidak akan datang lagi membeli ke sini,” ucap pedagang teh botol menyesalkan.

Duh, sama seperti si ibu, saya diam terkesiap. Benar juga. Kalau pembeli itu pendatang, tidak masalah tapi kalau pengujung tetap di sekitar masjid ini, bisa bisa dia tidak akan beli teh botol lagi kepada si bapak.

Iyalah kalau harga umum teh botol 8000. Lalu disitu dijual 9000, bukankah itu bunuh diri, namanya?

Itulah salah satu etika bisnis juga.

Read more ...

Jumat, 27 Juli 2018

Wirausaha Baru Jabar 2018: Praktis Bikin Putri Genit

Wirausaha Baru Jabar 2018: Praktis Bikin Putri Genit Kamis ini saya dan seluruh peserta pelatihan Wirausaha Baru Jawa Barat 2018 magang ke Ina Cookies di Bandung. Nah di sana itu, kami diajarkan cara membuat Putri Genit. Seru habis pokoknya. Meski sudah emak-emak plus bapak tua, tapi kami peserta konyol bin kocak pada pede seperti usia remaja saja. Gakgak habis pokoknya.

Di Ina Cookies kami disambut oleh Pak Tito dan seluruh jajarannya. Ramah dan nyaman tempat nya. Kontur daerah Bandung bagian utara yang bergunung-gunung bikin suasana seperti di desa dan udara masih bersih. Betah.

Peserta seperti semula duduk dibagi menurut kelas masing-masing. Bahan dan peralatan semua disediakan pihak penyelenggara. Jadi kita tinggal praktik saja.

Putri Genit adalah salah satu nama kue yang diproduksi oleh Ina Cookies dari sekian banyak kue-kue kering yang jadi andalannya. Enak dan renyah jadi ciri khas kue ini. Karena genit dengan taburan warna warni yang menarik hati pada bagian atas kue ini, dipastikan sangat disukai anak-anak.

Yuk mulai saja bagaimana cara buat Putri Genit nya.

Bahan-bahan yang disediakan untuk membuat Putri Genit:

Margarine 100 gram Butter 200 gram Telur 1 butir Gula halus 100 gram Terigu 400 gram Mede bubuk 80 gram Kacang tanah 70 gram Cornflakes 20 gram Cokelat dark 340 gram Trimit 30 gram

Setelah komplit yuk muali ke praktik pembuatan kuenya: Masukan butter, margarine, gula halus dan telur ke dalam mixer. Lalu kocok hingga kalis, hingga warnanya menjadi kuning pucat. Oya ada yang tahu apa perbedaan butter dan margarine? Di Ina Cookies juga kami diajarkan cara membuat butter lho. Gampang dan cepat ternyata. Nanti caranya saya ulas di bagian lain ya. Nah setelah adonan kalis, sudah campur merata gitu, matikan mesin (mixer) lalu tuangkan adonannya ke dalam tempat yang lebih besar seperti baskom. Setelah adonan dipindahkan ke dalam wadah yang lebih besar lalu kita masukan cornflakes, terigu, mede bubuk, dan kacang tanah sambil diuleni dengan tangan sehingga adonan benar-benar tercampur rata.

Di Ina Cookies hampir semua pembuatan kue manual pakai tangan. Kecuali cetak kue tertentu dan membuat adonan di awal tadi. Jadi tidak heran kalau Ina Cookies memperkerjakan pekerja sampai ribuan orang, khususnya pas setiap empat bulan menjelang lebaran.

Lanjut ke bikin Putri Genit lagi yuk...

Kita siapkan loyang untuk proses pembentukan kue. Caranya ambil adonan secukupnya kemudian cetak menggunakan tangan sehingga berbentuk bulan sabit dan susun di loyang yang telah disediakan.

Atau bisa juga bentuknya sesuai dengan kreasi sendiri. Mau bulat, lonjong atau dicetak bentuk tertentu juga boleh.

Setelah selesai, kue dibakar dalam oven sampai matang dalam suhu 150 sampai 175 derajat Celcius kira-kira selama 35 menit. Wangi kue mulai bikin perut bertalu-talu nih...

Setelah kue matang kita siap ke proses selanjutnya yaitu menghias kue. Lelehkan cokelat dark dan kita tempatkan di mangkuk tahan panas. Satu per satu celupkan bagian punggung atas kue ke dalam cokelat. Maklum pada konyol dan iseng, ada saja di antara kami yang menyelupkan semua kue ke dalam lelehan cokelat. Dimandiin katanya!

Setelah dicelupkan cokelat, sebelum cokelat mengering segera berikan taburan terimit untuk lebih mempercantik kuenya.

Nah diamkan sampai kue dan cokelat bener-bener kering. Udah deh kue tinggal masukkan ke dalam toples atau wadah lainnya untuk disajikan. Cantik dan enak!

Ternyata mudah dan seru cara buat si putri genit ini. Apalagi bikinnya rame-rame sambil diselingi canda dan guyonan dari teman-teman yang berasal dari berbagai kota kabupaten di Jawa Barat.

Eh tunggu! Saat pulang kue hasil bikinan kita ini bisa kita bawa pulang lho. Lengkap dengan toples dan hiasan lainnya. Oleh-oleh kunjungan dari Ina Cookies ya bawa kue kering dong pastinya ya.

Pas pulang ke Cianjur Fahmi dan ayahnya juga suka. Asyik, kapan-kapan bikin sendiri yang lebih banyak lagi. Hahaha!

Read more ...

Senin, 23 Juli 2018

WUB Jabar 2018: Kenangan Bersama Ranjang

Kenangan Bersama Ranjang Apa yang muncul dalam benak ketika disodorkan sebuah kata: ranjang...? Istilah laki-laki mata ke-ranjang? Istilah turun dan atau naik ranjang? Ada lagi yang lain?

Ranjang jadi salah satu benda yang saya amati lebih detail manakala siang tadi sampai di Wisma Balatkop Soekarno Hatta Bandung. Ya, sampai hari Kamis nanti saya memang akan berada di Wisma milik Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat ini untuk mengikuti acara Pelatihan Kewirausahaan bagi Wirausaha Baru Jawa Barat tahun 2018 yang diselenggarakan oleh UPTD Pendidikan dan Pelatihan Pengoperasian dan Wirausaha.

Padatnya acara yang pada tahun 2018 ini diikuti oleh 3000 orang peserta mengharuskan semua peserta yang terbagi ke dalam 120 angkatan ini menginap di wisma yang lokasinya berada di depan Pol DAMRI Cinambo. Karena itu setelah registrasi peserta pun diberi kunci untuk menempati kamar masing-masing.

Dan betapa tertegunnnya saya ketika membuka pintu kamar yang setiap kamar diisi oleh 4 orang itu langsung melihat ranjang kayu tingkat dua berwarna cokelat tua.

Ingatan saya pun langsung melayang kepada Emma dan Ariel, dua anak saya yang kini beranjak remaja di Taiwan sana.

Ingatan saya akan anak-anak majikan yang saya rawat dan besarkan seperti anak atau adik saya sendiri itu spontan tergali secara otomatis manakala saya melihat ranjang di wisma Balatkop yang mirip dengan ranjang di kamar anak-anak yang sekaligus juga kamar saya.

Saya masih ingat, saya kebagian tidur di ranjang paling atas. Sementara ranjang di bawah tidak pernah ada yang menempati karena saat itu anak-anak masih bayi dan batita. Merek tidur dalam box bayi di kamar majikan.

Di atas ranjang itu sambil pura-pura tidur saya belajar buka internet, belajar menulis dan belajar ngeblog di Multiply. Pura-pura tidur karena kalau ketahuan majikan saya suka dimarahi. Bukan tidak boleh belajar, mereka majikan saya justru sangat mendukung saya belajar. Hanya salah saya suka kebablasan kalau sudah asyik membaca, menulis dan atau sekadar berselancar di dunia maya. Majikan tidak mau saya kurang istirahat sementara saya tetap membandel. Karena itu kalau ketahuan larut malam saya masih belum tidur, majikan akan ngomel-ngomel.

Saya sendiri yang sangat antusias belajar mengenal lebih jauh dunia maya saat itu saat dilarang justru makin penasaran. Jadinya ya sambil pura-pura tidur itu.

Untuk sampai di kasur saya di bagian atas, lebih dulu harus menaiki anak tangga yang berwarna-warni bikin hati riang gembira. Anak tangga itu sebenarnya laci. Di setiap pijakan, papan penutupnya bisa dibuka. Saya ingat setiap laci alias pijakan anak tangga itu diisi mainan anak.

Berhubung di kamar wisma Balatkop ini saya salah satu peserta yang paling duluan datang, maka saya jugalah yang pertama kali melihat suasana dalam kamar, kelengkapan selama menginap dan tentu saja saya berhak memilih tidur di ranjang yang mana.

Pilihan saya jatuh pada rak ranjang di bagian bawah. Bukan tidak ingin mengenang masa-masa tidur di ranjang atas saat di Taiwan, Tapi lebih ke supaya tidak turun naik, juga karena posisinya dekat dengan colokan listrik.

Hahaha... gak dimana gak dimana ya pasti dah kelangsungan hidup matinya ponsel ini jadi barometer kenyamanan pemilik nya  yang bergantung kepada gadget.

Kini sambil menahan kantuk yang sudah hampir tidak bisa saya bendung saya berada di ranjang yang mirip dengan ranjang anak-anak majikan yang penuh kenangan sambil kembali membayangkan berbagai kenangan terkait program eh ranjang ini.

Semoga dalam pelatihan selama empat hati ke depan ini saya bisa menyerap banyak ilmu dan lebih banyak membagikannya kembali. Amin.

Read more ...

Sabtu, 17 Februari 2018

Anugerah Sejarah

Sejarah itu Anugerah. Sudahkah Dipergunakan dengan Benar?

 

Bagaimana menjawab pertanyaan anak yang bertanya kenapa di televisi ada perang? Katanya tidak boleh memukul dan menembak orang, itu kenapa banyak yang meninggal?

Tidak setiap tontonan di layar televisi cocok untuk anak. Karena itu dampingan orang tua atau orang dewasa saat anak melihat televisi sangatlah diperlukan.

Namun bukan berarti tontonan televisi tidak boleh dilihat oleh anak karena tidak sedikit juga ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari oleh anak bersumber dari layar televisi. Baik itu tontonan berupa film, reportase acara maupun berita.

Namun yaitu tadi, kalau tanpa pendampingan maka anak akan dengan sendirinya mencari arti atau maksud dari apa yang ditontonnya. Seperti pertanyaan putra saya itu tadi, "Kenapa di tv ada perang?" Coba, mau jawab gimana tuh saya?

Padahal perang itu bagian dari kemerdekaan bangsa kita. Perang itu sejarah dan yang menjadikan manusia semakin mengenal satu sama lain serta terus belajar dari kekurangan sebelumnya. Secara tidak langsung berita seperti di tv itu telah membuat seolah sedang menyiarkan siaran ulang terkait seputar informasi.

Film perjuangan juga sejarah. Anak generasi zaman now kudu tahu supaya rasa nasionalisme dan patriotisme nya terus bertambah dan meningkat. Masalahnya masih banyak pengambilan gambar yang tidak disensor...hasilnya, seperti anak saya yang timbul rasa penasaran dan memunculkan banyak pertanyaan. Kritis, tapi belum lah saatnya karena pertempuran dan keberingasan belumlah cocok untuk usianya.

Karenanya saat anak menonton orang tua harus mendampingi supaya bisa segera menyaring apa yang bisa dilihat anak dan mana yang tidak/belum perlu. Penjelasan orang tua atau orang dewasa terpercaya yang berkaitan dengan pertanyaan atau kekritisan anak sangat diperlukan supaya anak tidak mencari tahu sendirian.

Read more ...

Jumat, 16 Februari 2018

Keberhasilan karena Kesungguhan 

Keberhasilan karena Kesungguhan  Keberhasilan selain sudah jadi ketentuan Nya, juga salah satunya ditentukan oleh sugesti dari dalam diri. Bukankah sudah dijelaskan jika Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak merubah nasibnya?
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11
 

Manusia yang diberi akal, adakalanya timbul dalam benaknya sebuah ide atau buah pikir. Jika manusia pandai mengolah idenya tidak heran kemudian hari ia akan memetik sebuah tindakan.

Tindakan yang ditanam dan dipupuk terus menerus akan berbuah kebiasaan. Dan kebiasaan yang terus dijaga ini lambat laun akan menguat sehingga menjelma menjadi watak.

Melanggengkan kebiasaan akan menimbulkan watak. Jauh di ujung watak ini ada ketentuan yang bernama nasib.

Kalau diputar lagi maka tingkatannya dimulai dari ide atau gagasan yang diwujudkan dalam tindakan. Tindakan yang dilakukan berulang menjelma jadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan kita yang dilakukan secara terus menerus konon cikal bakal yang menjadi watak. Si watak inilah yang akhirnya membawa manusia kepada nasib.

Karena itulah ada istilah nasib kita ada di tangan masing-masing  karena secara tidak langsung kita sendiri sejak awal sudah menentukan nasib kita itu sendiri.

Tidak heran kalau sesepuh di daerah termasuk para guru ngaji dan aki nini sering memberikan wejangan berupa sesuatu yang harus ditanam dalam pikiran. Sesuatu yang harus diyakini dalam hati karena mereka percaya jika diri telah percaya, maka akan timbul tindakan yang dibiasakan dan jika dilakukan secara terus menerus akan menjadi doa dan mantra.

Sejak belajar mengaji (meski sebentar dan itu pun nyambil sebagai santri kalong) di Al Istiqomah Sukaratu (yang beberapa minggu lalu baru saja dikunjungi Gubernur Jawa Barat) pak guru mengaji sudah memberikan kunci keberhasilan untuk semua anak didiknya dari awal.

Beliau menuliskannya dengan jelas di papan tulis dengan huruf latin yang sangat cantik dan rapi:

Man Jadda Wa Jada

(Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)

kalimat itu bukan hanya sekadar kata mutiara, atau motivasi bagi para santri, tapi memang mengandung "kekuatan" yang mensugesti sikap serta perilaku sehingga santri semakin semangat mencapai keberhasilan.

Belakangan sekitar tahun 2009 saya baru tahu lebih detail dengan kalimat sakti itu dari Novel Ahmad Fuadi yang berjudul Negeri 5 Menara, kemudian Ranah 3 Warna dan disusul Rantau 1 Muara.

Bahwa dalam perjalanan hidup dan karirnya ternyata juga disokong dengan kalimat sakti yang dibawa dari pesantren moderen sekelas Gontor. Man Jadda Wa Jada. Sehingga saya pun menjadi semakin tahu jika masih ada kalimat sakti selanjutnya yaitu:

Man Shobaro Zafiro (Siapa yang bersabar akan beruntung) dan Man Saaro 'Alaa Darbi Washola (Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai). 

Tidak ada ucapan sepuh atau guru kecuali punya kekuatan dan mengandung doa. Meski saat itu meski belum yakin (belum mengerti) sepenuhnya tapi saya sudah mencoba menanamkan dalam diri terkait kalimat sakti man jadda wa jada.

Saya menyadari bagaimana kondisi saya dan keluarga. Setinggi apapun cita-cita saya tapi ibarat punguk merindukan bulan, realita lebih dulu bicara dan itu jadi fakta.

Tapi dengan Man Jadda Wa Jada itu saya seolah dituntun untuk bisa fokus dan belajar konsisten. Tak apa tidak ada biaya untuk sekolah tapi sejak ada kesempatan untuk bisa menulis maka saya terus menulis. Tidak jadi soal apa yang saya kerjakan sedang tidak trend atau jauh dari sesuatu yang bisa menghasilkan uang (segera) tapi kalau terkait puisi dan prosa saya tetap berusaha rutin menjalaninya. Karena saya sudah memiliki semacam ada "kepercayaan" barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil.

Hasilnya? Mungkin saya masih jauh dari kata sukses. Tapi setidaknya kini saya sudah punya ruang dan kemampuan sendiri. Allah SWT meberikan apa yang jadi ide pikir saya menjadi sebuah kebiasaan dan ketika saya terus menerus mengasahnya kebiasaan ini menjadi watak hingga menimbulkan nasib saya saat ini.

Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang perempuan desa yang merasakan benar kekuatan magic dari kalimat Man Jadda Wa Jada. Saya merasakan benar atas keberhasilan yang telah saya capai dimulai dari kesungguhan. Itu saja.

 

Read more ...

Senin, 12 Februari 2018

Geliat Blogger Cianjur

Geliat Blogger Cianjur  Lagi ngangais Fahmi panggilan masuk dari Ketua Relawan TIK Cianjur terlihat di layar ponsel. Ga ada suara soalnya anak-anak mengaji juga belum pada pulang, masih diwurukan. Sempat mendapat penolakan dari Fahmi. Biasa dia mah kalau lagi manja maunya emaknya ini jangan pegang hape ngobrol sama siapapun. Ulah gandeng, jangan ribut pintanya.

Tapi saya gak mungkin nolak telepon dari Si Akang ini. Pasti ada sesuatu yang special.

Benar saja. Sebuah tawaran, mau gak gabung di acara sejenis workshop blogger dan peserta lain untuk acara Dinas Pariwisata Kabupaten Cianjur bla...bla...bla...

Saya melongo. Alhamdulillah setelah sadar baru mengucap syukur. Blogger Cianjur mulai dilirik pemerintah daerah (pemda) khususnya Dinas Pariwisata Kab. Cianjur? Luar biasa pisan atuh ini mah. Sesuatu yang sejak duluuu...selalu saya bayangkan. Sejak Kabupaten-kabupaten di Jawa Tengah  ngadain acara dan ngajak blogger daerahnya untuk jadi team hore. Termasuk ujungnya lomba blog. Ya persis acaranya seperti itu. Ada tuntutan para blogger diajak kerjasama mengangkat lokasi pariwisata lokal supaya lebih diketahui masyarakat luas hingga mendunia.

Meski anak masih sakit setelah memastikan beberapa point penting dan 70% oke maka saya pun menyanggupi ikut ajakan ini.

Bagaimana tidak, ini sebuah kesempatan besar. Sebuah celah yang memungkinkan bisa menjadi jalan untuk keberadaan Blogger Cianjur semakin diakui oleh pihak lain, apalagi oleh Pemda Cianjur sendiri.

Saya langsung menerima tawaran sekaligus ajakan ini bukan semata-mata karena memajukan Blogger Cianjur untuk semakin berdaya dan diakui oleh pihak luar adalah salah satu resolusi saya di tahun 2018 ini, tapi lebih karena tema yang harus dibawa blogger dalam acara nanti adalah share informasi tentang lokasi pariwisata di Kabupaten Cianjur. Bukankah itu sebuah konten yang teramat baik?

Ya, karena tema poistif atau campaign nya nanti akan membawa informasi bagus untuk netizen/follower maka saya mau mengikuti acara ini.

Sudah terbayang kan Kabupaten Cianjur yang selama ini bisa dibilang terbelakang dibanding kota/kabupaten lain di Provinsi  Jawa Barat siapa tahu dengan adanya sekian orang blogger yang share kicauan, atau live di facebook dan posting foto lokasi wisata di Instagram maka lokasi wisata di Kabupaten Cianjur akan semakin dikenal umum. Diharapkan Cianjur lebih dikenal lagi dan semakin terangkat keberadaannya sehingga bisa mengejar ketinggalan dari kota/kabupaten lain? Kesempatan bagus bukan hanya sebagai job bagi blogger tapi juga ibadah dan peran serta rakyat sebagai warga Cianjur untuk Cianjur yang lebih Jago.

Saat ini mungkin saya dan rekan blogger yang mati-matian promosi lokasi wisata Cianjur di blog dan media sosial. Tapi berapa tahun ke depan hasilnya bukan hanya untuk kami para blogger, tapi juga untuk seluruh generasi warga Kabupaten Cianjur. Kebaikan dalam diam yang jika ikhlas dan totalitas dalam melakukannya maka insyaallah akan menjadi sebuah nilai ibadah juga.

Beda lagi kalau ajakan acara blogger yang temanya terkait campaign keburukan, seperti yang menjelekkan pihak tertentu, membuat isu syara yang mengakibatkan keresahan sampai permusuhan satu dengan lainnya jelas tema campaign yang seperti itu akan saya tolak. Bukan cuma untuk blog, tapi untuk semua akun media sosial saya seperti Instagram, Facebook dan Twitter.

Kenapa saya tolak? Ya karena tidak sesuai dengan jiwa dan nurani saya. Bukankah blogger itu harus apa adanya? Kalau enggak nyaman ya bilang saja kenapa harus berbohong?

Terus misalkan ada tema campaign yang tidak sesuai dengan keinginan saya dan mau menolak tawaran kerja samanya cara menolaknya bagaimana? Buat saya mudah saja. Tinggal bilang saja, "Mohon maaf belum bisa ikut tawaran kerja samanya. Bukan menolak rezeki tapi tema campaignnya tidak sesuai dengan niche blog dan media sosial saya..."

 

Sudah gitu saja.

Read more ...

Minggu, 11 Februari 2018

Mewujudkan Mimpi

Mewujudkan Mimpi

Pernah dengar kalimat “Bermimpilah sebelum mimpi itu dilarang”? Untuk apa sih kita harus mimpi? Bukankah mimpi teh bunga tidur? Banyak mimpi yang kalau diartikan jauh dari realita. Bahkan bisa saja orang berpikir kalau disuruh mimpi terus, berarti perbanyaklah tidur. Hehehe... Padahal sudah jadi hal lumrah kalau banyak tidur itu identik dengan kemalasan yang harusnya kita jauhi.

Dilain kisah, banyak orang besar dan orang sukses baik dalam karir maupun prestasi berawal dari mimpi. Banyak mimpi dan banyak mewujudkan mimpi mimpi itu. Dengan kata lain mimpi yang jadi angan angan membawa mimpi itu menjadi cita-cita dan berkat kerja keras disertai kerja cerdas mereka bisa menjadi orang besar. Para pemimpi itu tidak akan berhenti berusaha sebelum mimpi mereka tercapai. Merekalah orang yang memiliki obsesi tinggi luar biasa.

Manusia memang tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah dipunyai. Apa yang sudah didapat dan dimiliki terus ingin ditambah, diperluas dan diperbesar. Itu sudah jadi sifat manusia.

Ibarat saat sekolah atau kuliah, semua murid atau mahasiswa ingin segera lulus dan menyelesaikan pendidikannya. Selanjutnya setelah lulus lalu ingin bekerja di perusahaan. Tapi setelah mendapat pekerjaan keinginan mulai bertambah lagi ingin bekerja dengan kedudukan yang lebih tinggi. Posisi yang lebih strategis. Dan setelah kedudukan itu dicapai, keinginan lain muncul kembali. Ingin jadi pemimpin di perusahaan, bahkan ingin jadi pemilik perusahaan.

Sudah jadi hal lumrah ketika manusia diberi kesempatan dan kemudahan dalam meraih cita-cita tidak hanya cukup sampai itu saja, manusia akan memiliki keinginan lain yang lebih tinggi, lebih baik, lebih segalanya. Itu sudah jadi sifat manusia yang memang tidak akan puas dengan apa yang sudah dimiliki. Meski sebagian tidak lupa tetap bersyukur atas segala yang telah dianugerahkan Nya.

Banyak para pengusaha besar, jauh sebelum meraih kesuksesan selalu bermimpi dengan segalanya yang lebih. Memiliki karyawan lebih banyak, supaya bisa bantu banyak orang. Punya usaha yang merekrut pekerja sebanyak mungkin supaya bisa membuka lapangan kerja seluas-luasnya sehingga bisa meringankan beban ekonomi dan membantu menyejahterakan hidup karyawannya.

Tidak sedikit orang memiliki cita-cita punya banyak usaha sehingga bisa diwariskan kepada anak cucu. Berharap generasi penerus bisa lebih bermanfaat, lebih baik dalam segala hal lebih dari orang tuanya.

Mimpi mereka tidak hanya berhenti sampai situ. Masih selalu ada mimpi lain seperti jadi pengusaha sukses yang bisa menginspirasi orang banyak dan usahanya itu bisa jadi jalan untuk berbuat kebijakan dan kebaikan. Mereka selalu terus bermimpi dan menciptakan mimpi.

Seorang pengusaha yang telah sukses pernah bercerita jika saat kecil nya dulu ia mengutarakan keinginannya untuk bisa keliling dunia seperti ayahnya yang sering bertugas ke luar negeri. Ayahnya kala itu hanya berkata jika suatu hari nanti keinginan anaknya itu akan tercapai dari hasil pekerjaan dan usahanya sendiri.

Begitu juga saat pengusaha sukses ini dulu punya keinginan untuk bisa ibadah haji dan umrah, ayahnya hanya mengamini dan memberi keyakinan kalau anak-anaknya bisa mencapai cita-cita nya itu dari hasil keringatnya sendiri. Ini jelas menggambarkan jika sang ayah, tidak pernah memberikan anak-anaknya uang atau fasilitas begitu saja tanpa ada usaha. Memberikan sesuatu tanpa prestasi mungkin bagi mereka terasa lebih sia-sia dibanding memberikan reward karena sudah ada keberhasilan yang telah dicapai. Meskipun terhadap anak sendiri.

Hampir semua pengusaha ingin usahanya menjadi nomor satu. Hampir tidak ada orang yang ingin menjadi kelas dua. Dengan impian-impian yang terus bermunculan menjadikan para pengusaha, orang hebat dan orang sukses selalu berusaha maksimal dan tidak setengah-setengah dalam mencapai dan meraih impian.

Keberhasilan bisnis banyak yang bermula dari mimpi yang kemudian diupayakan dengan usaha dan doa. Meski tidak sedikit ada orang yang masih takut untuk sekadar bermimpi. Apalagi merealisasikan dan mewujudkannya. Tidak sedikit pula orang yang takut memiliki cita-cita karena katanya kalau tidak tercapai bisa bikin stress. Padahal jika bersungguh-sungguh mimpi dan cita-cita adalah energi yang menggerakkan pikiran dan otak untuk terus berkreasi dan berinovasi demi mewujudkan impian. Jadi teruslah bermimpi bukan berarti teruslah tidur dan bermalas-malasan, melainkan terus ciptakan inovasi dan kreasi sehingga tercapai target yang bagi sebagian orang hal itu tidak mungkin.

Read more ...

Balada Blogger

Balada Blogger

Ketar ketir itu ketika deadline tinggal dua hari lagi sementara paket barang untuk properti fotonya belum juga sampai. Nasib tinggal jauh di luar area Jabodetabek mau gimana? Emang bukan salah saya, pun bukan salah jasa kurirnya, lah pengiriman dari e-commerce saja dikirim hari ini esok bisa sampai kok. Terus kalau paketan ini mepet limit upload sampainya, salah siapa?

Disaat blogger lain sudah mulai share link tugas untuk saling kunjung berkunjung, saling kasih jempol atau tanda love, saya masih harap-harap cemas berdiri di depan rumah menengok ke ujung jalan. Siapa tahu si Aa Kurir datang, bahagianya rasa hatiku. Dag dig dug der dalam dada mungkin akan segera sirna.

Begitulah nasib saya si blogger kampung blogger gunung. Blogger yang berada di Pagelaran Cianjur bagian selatan. Daerah dimana akses jalannya saja sudah bikin mabuk kendaraan, lokasi yang sulit dijangkau oleh para kurir jasa pengiriman meski sebagian sudah ada yang punya kantor cabang di daerah ini. Saat di tempat lain seragam babang ojek online sudah menghiasi setiap tempat mangkal, di tempat kami ini justru belum terlihat sama sekali.

"Aku tahu, pernah ke daerah situ. Jalannya wah horor banget..." kata salah seorang blogger kota yang sudah pernah melancong ke daerah tempat saya tinggal.

Karena itu nyadar diri saja sih sebenarnya kalau kondisi saya memang tidak memungkinkan untuk jadi blogger profesional. Dengan banyak kendala yang tidak memungkinkan apa-apa serba cepat seperti di kota.

Bagaimana mau jadi blogger profesional kalau saat ada acara gathering bersama MPR RI saja nama saya sudah dicoret koordinatornya karena domisili saya bukan di Jabodetabek. Meski saat itu blogger dari Indramayu bisa hadir juga.

Gimana mau fokus ke bikin konten positif dan bermanfaat kalau menerima produk untuk direview saja harus sport jantung duluan. Ketar ketir bakal dapat tepat waktu tidak ya, dan pikiran galau lainnya.

Dengan semua kondisi itu saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Tuhan sudah lebih dari pada adil kepada saya. Tuhan sudah banyak memberikan berbagai rezeki dan kemudahan pada saya. Dan itu sudah membuat saya teramat bersyukur.

Dengan kondisi tinggal di daerah yang tidak memungkinkan untuk datang ke berbagai acara blogger seperti rutinitas para blogger yang tinggal di Jabodetabek, atau kota besar lainnya seperti Bandung, Surabaya, Medan dan atau Makassar, saya tetap memiliki semangat untuk menulis (apa saja) demi bisa memperbaharui blog post di blog. Mungkin ini jalan Tuhan supaya isi blog saya lebih banyak organik daripada pesanan sponsor atau launching produk nya.

Dengan posisi saya sebagai ibu bekerja, disamping ibu rumah tangga menjadi blogger sudah jadi pencapaian luar biasa. Penghasilan yang setiap bulan bisa saya terima meski tidak tentu jumlahnya sudah lebih dari lembut saya bahagia dan merasa diakui.

Semakin sering mendapat job lewat teman dan komunitas semakin terpecut diri saya untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas blog.

Saya ingin membuktikan meski blogger kampung blogger gunung yang ngeblog hanya sebagai sampingan tapi memiliki kualitas dan profesionalisme tidak kalah dengan blogger hits di kota yang sudah menjadikan ngeblog sebagai jalan usaha utamanya.

Hidup memang sebuah pilihan. Menjadi blogger part time atau full time tidak bisa dipaksakan. Tapi hasil tidak akan mengkhianati niat dan usaha, bukan?

Read more ...