Tampilkan postingan dengan label Buruh Migran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buruh Migran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2026

Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim

Hampir dua belas tahun saya hidup di negara orang dengan majikan non Muslim. Mulai bekerja dari Singapura lalu Hongkong dan berakhir di Taiwan, semuanya menyisakan kenangan bagaimana suka dukanya saya mencuri-curi waktu demi bisa melakukan sahur dengan modal seadanya.

Yang paling tidak bisa terlupakan waktu kerja di Keelung Taiwan. Ketika memasuki bulan puasa saya tidak bisa leluasa masak dan menghidupkan lampu dapur sehingga terang benderang karena ada orang tua majikan yang masih kolot tidak mengizinkan saya melakukan puasa.

Padahal sehari-hari dapur adalah ruangan yang saya kuasai. Tapi sejak kedapatan oleh Ama (Nenek) saat dini hari saya nguprek di dapur untuk mempersiapkan sahur, dan mengetahui kalau saya akan menjalankan puasa, sontak dia marah dan melarang saya masak.

Saya pikir dia marah karena saya mengganggu waktu istirahatnya. Mungkin suara alat masak bikin berisik sehingga bikin Ama terbangun. Ternyata Ama melarang saya sahur, karena ia tidak ingin saya mati sia-sia gara-gara berpuasa! Wadidaw…

“Kamu kerja di sini. Kalau kamu siang hari tidak makan, bisa mati tau gak? Bikin repot saja. Besok saja makannya bareng-bareng. Ayo masuk kamar dan tidur.” Begitu ultimatum Ama.

Cari Ide Bisa Sahur yang Terlarang di Rumah Majikan

Begitulah, di sana kalau orang tua sudah berkuasa, anak cucunya tidak bisa bagaimana. Majikan sebenarnya sudah modern dan berpikiran terbuka. Mereka membebaskan saya untuk melakukan puasa asalkan tidak mengganggu pekerjaan. Hanya orang tuanya yang masih berpikiran sempit seperti itu.

Majikan menyarankan supaya saya pintar-pintar saja mengambil hati nenek, sehingga tidak tahu kalau saya tetap menjalankan puasa.

Awalnya saya sahur dengan makan roti dan air minum yang saya bawa ke kamar. Tapi gak nyaman juga secara saya terbiasa makan nasi dan lauk pauk layaknya di Indonesia.

Di rumah majikan tidak pernah ada nasi sisa semalam karena setiap makan malam semuanya harus dihabiskan. Lagian masaknya juga sedikit karena setiap orang cukup satu mangkuk kecil nasi saja. Beda dengan kebiasaan saya di kampung, makan satu piring penuh nasi itu masih harus nambah. Haha…!

Akhirnya saya bilang ke majikan, izin bawa rice cooker ke kamar. Dengan alat masak praktis ini saya bisa masak nasi sekaligus lauknya.

Tidak disangka proposal saya itu di-approve majikan. Malah dia sengaja beli alat penanak nasi yang baru, khusus untuk disimpan di kamar saya. Tentu saja tanpa sepengetahuan ibunya. Ditambah syarat lain saya harus menjaga kebersihan dan keamanannya.

Alhamdulillah. Sejak itu saya bisa menjalankan sahur dengan tenang walaupun masih secara sembunyi-sembunyi di dalam kamar.

Menu makan sahur apa saja yang bisa saya buat dengan alat terbatas berupa pengukus nasi saja ini?

Saya lebih sering bikin one pot sahur ala-ala. Maksudnya, saya masak nasi dan lauknya sekaligus dalam satu kali masak. Praktis banget pokoknya.

Lauk yang biasa saya masak bersama nasi sekaligus dalam penanak nasi modern ini seperti telur, sosis, ikan, atau sayuran dalam satu wadah.

Telur tidak hanya direbus atau dikukus bersama cangkangnya, melainkan bisa disteam dengan cara telur dikocok dulu, diberi bumbu sesuai selera dan tanak bersama nasi secara bersamaan.

Sebelum punya mangkuk anti panas, saya bungkus telur yang sudah diberi bumbu dalam plastik. Lalu taruh di atas pengukus nasi. Hasilnya setelah matang bentuknya malah seperti sosis. Not bad kan?

Begitu juga dengan ikan atau sayuran. Cukup cuci bersih, simpan dalam wadah stainless steel yang muat dalam panci penanak nasinya, kasih bumbu sesuai selera dan kukus bersama nasi. Jadi nasi matang, lauknya juga siap santap. Intinya jadi hemat waktu dan tenaga.

Beberapa kali Ramadan saya lewati dengan berpuasa secara maksimal cukup berbekal satu alat pengolah nasi ini di dalam kamar. Hingga saya pulang ke tanah air, hanya majikan yang tahu “kecurangan” saya terhadap Ama selama ini.

Tips Membuat Menu Sahur dengan Rice Cooker

Tidak mudah memasak menu untuk sahur dengan tuntutan kelengkapan gizi serta tampilan yang menarik supaya menggugah selera makan di waktu pagi buta.

Apalagi jika memasaknya hanya mengandalkan alat masak dengan segala keterbatasannya pula. Karena itu diperlukan beberapa tips dan trik supaya acara masak-memasak berjalan lancar tanpa diburu waktu imsak dengan hasil yang enak dan matang sempurna.

Beberapa hal dari pengalaman saya selama ini yang perlu diperhatikan:

🩸 Pilih penanak nasi multifungsi. Seperti Rice Cooker Miyako yang bisa digunakan untuk memasak nasi, mengukus, dan lainnya tanpa merusak lapisan anti lengket.

Saat ini banyak direkomendasikan alat pemasak nasi kesayangan Nikita Willy tersebut. Hal itu karena Miyako Nanoal sejak lama sudah terbukti awet dan irit secara harganya sangat ramah di kantong. Selain anti lengket, mudah dibersihkan, juga memiliki garansi panjang dan aman karena sudah SNI.

Masih banyak keunggulan lainnya dari brand Miyako ini yang paling saya sukai sih model fungsi 3-in 1 nya itu. Jadi cukup dengan satu alat penanak nasi, sudah bisa memasak nasi, menghangatkan, mengukus lauknya hingga membuat kue.

Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim: Satset Hanya Menggunakan Rice Cooker

🩸 Rencanakan dengan matang saat setelah tarawih untuk sahur nanti mau masak menu apa.

🩸 Gunakan bahan masakan yang cepat matang (seperti tahu, sosis, telur, sayuran potong kecil, dlsb)

🩸 Siapkan bumbu dan lauk atau sayur yang akan dimasak serta peralatan lainnya seperti air, alat makan dan sebagainya sejak sebelum tidur agar saat sahur tinggal klik tombol cook.

🩸 Kombinasikan bahan yang akan dimasak supaya memenuhi nilai gizi yang dibutuhkan tubuh selama berpuasa. Jadi selain memasak nasi sumber karbohidrat, tambah juga ikan atau telur untuk sumber protein, dan sayuran serta buah-buahan supaya kenyang lebih lama.

Tidak lupa konsumsi juga vitamin dan minum air putih lebih banyak dari hari biasa.

Pengalaman Sahur Terbatas di Negara Non Muslim: Satset Hanya Menggunakan Rice Cooker

Begitulah pengalaman saya melakukan ritual sahur yang sembunyi-sembunyi di rumah majikan karena ada orang tua boss yang tidak mengizinkan saya selaku orang yang bekerja di rumahnya melakukan puasa.

Semoga pengalaman saya ini bermanfaat bagi manteman yang ngekos, atau memiliki keterbatasan lainnya seperti pengalaman saya tapi tetap bersemangat untuk menjalankan kewajiban puasa Ramadan.

Read more ...

Senin, 09 Juni 2025

DDHK Menyulap PMI Pahlawan Devisa, Jadi Pahlawan Ilmu

Bersama Dompet Dhuafa Hong Kong Pekerja Migran si pahlawan devisa disulap jadi Pahlawan Ilmu

Sebagai mantan buruh migran alias TKW (tenaga kerja wanita) yang sekarang istilahnya disebut PMI (Pekerja Migran Indonesia) saya memiliki kenangan tersendiri bersama DDHK (Dompet Dhuafa Hong Kong) baik itu sebagai lembaga zakat Indonesia yang kiprahnya sampai di tingkat global maupun sebagai guru kehidupan yang telah memberikan banyak ilmu, petuah, wejangan dan persaudaraan.

Dompet Dhuafa adalah sebuah lembaga filantropi Islam yang berfokus pada pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) untuk memberdayakan kaum dhuafa (orang-orang yang kurang mampu atau miskin). Lembaga ini didirikan di Indonesia sejak tahun 1993.

Program Unggulan Dompet Dhuafa

🌀Pendidikan – Beasiswa, sekolah gratis, pelatihan guru, dll.

🌀Kesehatan – Klinik gratis, rumah sakit gratis untuk dhuafa, layanan kesehatan keliling.

🌀Ekonomi – Pelatihan keterampilan, pendampingan usaha mikro, koperasi.

🌀Sosial dan Kemanusiaan – Bantuan bencana, distribusi makanan, program kemanusiaan global.

🌀Wakaf Produktif – Pengelolaan aset wakaf untuk program jangka panjang yang berkelanjutan.

Sumber dana Dompet Dhuafa

Dana yang dikelola oleh Dompet Dhuafa berasal dari:

🛑 Zakat (zakat maal dan zakat fitrah)

🛑 Infak dan sedekah masyarakat

🛑 Dana wakaf

🛑 Donasi dari perorangan, perusahaan, dan lembaga

Legalitas

Dompet Dhuafa terdaftar resmi sebagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) nasional di Indonesia dan memiliki izin dari Kementerian Agama.

Yang membuat Dompet Dhuafa unik dibandingkan dengan banyak lembaga filantropi lainnya adalah kombinasi antara pendekatan keislaman, profesionalisme, inovasi, dan fokus pada pemberdayaan jangka panjang.

Semua kegiatan juga dikelola dengan sistem manajemen modern dan transparan, dilengkapi audit keuangan rutin dan laporan publik.

Dompet Dhuafa juga menggunakan teknologi dan media digital untuk edukasi zakat, transparansi donasi, dan pelaporan real-time.

DDHK
Para pekerja migran, sang pahlawan devisa yang disulap DDHK jadi pahlawan ilmu

Dompet Dhuafa Dimata Jie-jie HK

Mungkin orang hanya mengenal Dompet Dhuafa sebagai lembaga zakat besutan asli anak bangsa. Tapi bagi jie-jie di Hong Kong DD tidak hanya tempat untuk bersedekah atau wakaf, tapi lebih dari itu.

Apalagi saat organisasi Migrant Institute yang berdiri di bawah naungan DD masih ada, kami para pekerja asing di HK seolah memiliki tempat untuk berlindung bilamana mendapatkan permasalahan baik terkait kontrak kerja, penyalahgunaan job kerja sampai berbagai kasus ketenagakerjaan.

Dulu, sebelum mengenal DDHK hari libur kerja banyak diisi dengan keluyuran. Foya-foya menghabiskan gaji demi memenuhi gaya hidup dan keinginan yang tidak bermanfaat.

Tapi setelah mengenal DDHK, libur banyak diisi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan banyak memberikan ilmu dan keterampilan yang kesemuanya sangat bermanfaat ketika terjun ke masyarakat sekembalinya ke kampung halaman.

Apalagi jangkauan Migrant Institute bagian dari DD tidak hanya memberdayakan pekerja migran yang masih berada di negara penempatan, tapi juga purna pekerja migran alias mantan TKW seperti saya hingga keluarga besar para migran di kampung halaman.

Sayang sekali beberapa tahun lalu Migrant Institute ditiadakan, dilebur ke dalam divisi lain. Namun keberadaan program-program DDHK juga di negara lainnya tetap berdiri bahkan lebih kokoh.

Meski Migrant Institute sudah tiada tapi program-program untuk PMI yang dijalankan oleh Dompet Dhuafa tetap berjalan bahkan lebih fokus pada pendidikan, keagamaan, advokasi, hingga pemberdayaan. Sehingga saat PMI pulang ke Indonesia bisa lebih proaktif dan berdaya.

Tahukah kalau DD juga menyelenggarakan kuliah online untuk pekerja migran baik beasiswa maupun biaya sendiri?

Tujuan diadakannya kegiatan itu tentu saja supaya bisa memberikan akses pendidikan tinggi kepada PMI di Hong Kong dan Makau.

Bekerja sama dengan ITB Ahmad Dahlan Jakarta, sistem kuliah daring untuk PMI ini sangat fleksibel. PMI bisa kuliah sambil tetap bekerja.

Bahkan PMI yang berprestasi menerima beasiswa dari DDHK. Sesuai dengan komitmen DDHK bahwasanya DDHK ingin PMI tak hanya jadi pahlawan devisa, tapi juga pahlawan ilmu.

Dari segi pendidikan rohani, DDHK juga mengagendakan rutin Majelis Taklim dan TPQ untuk PMI.

Pengajian tematik DDHK
Kegiatan DDHK yang diikuti TKW jika ada libur

Sebuah kebanggaan tersendiri manakala sejak itu para PMI mengisi hari libur dengan pembinaan rohani dan ilmu agama. Melalui kegiatan pengajian rutin di berbagai Majelis Taklim PMI yang diselenggarakan tiap hari Minggu di lokasi strategis seperti Victoria Park, Chater Garden, dan Causeway Bay.

Saat buka Ramadan para relawan (khususnya PMI) membagikan takjil di Victoria Park, Causeway Bay. Kegiatan ini dihadiri alim ulama lokal, komunitas perburuhan serta pihak KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) dengan sajian tausiyah, tarawih, dan shalawat bersama.

Tidak hanya itu, DD juga memfasilitasi kelas kelas TPQ untuk anak-anak PMI. Termasuk mendatangkan Dai Ambassador dari Indonesia untuk mengisi pengajian tematik di Hong Kong.

Benar-benar mengimplikasikan meskipun para TKW berada di negara orang yang minoritas muslim, tapi iman dan ilmu harus terus tumbuh.

Bantuan Sosial dan Advokasi PMI dari DD pun sudah tidak diragukan lagi. Keunggulan pendampingan hukum PMI bermasalah (izin, kontrak, kekerasan) sampai bantuan darurat saat sakit, kecelakaan, atau deportasi semua sudah dipersiapkan.

Saya pernah ikut mendampingi Erwiana (kasus TKW Jatim yang disiksa majikan dan dipulangkan secara sepihak) yang saat itu sangat heboh dan menjadi pemberitaan nasional bahkan internasional.

Saat itu bersama Pak Nursalim dibawah komando Pak Adi Candra kami ikut mendampingi Erwiana bersama organisasi perburuhan di tanah air hingga Erwiana berhasil memenangkan tuntutan di pengadilan.

Permasalahan literasi keuangan dan pemberdayaan ekonomi para PMI juga jadi prioritas DDHK. Apalagi banyak dirasakan kalau akhir-akhir ini perekonomian masyarakat Indonesia memang mulai menurun.

Secara sigap DD segera merangkul para buruh ini untuk mengikuti kelas literasi keuangan syariah. Mulai dari cara menabung yang benar, investasi halal, menghindari rentenir dan sebagainya. DDHK ingin menjadikan PMI cerdas finansial, karena dengan demikian masa depan keluarga PMI bisa jadi lebih baik.

Saking pedulinya DD terhadap para pekerja migran, dibuat Program Reintegrasi Pasca-Kepulangan PMI yang dikelola langsung oleh DD pusat di Indonesia.

DDHK selalu mengupayakan dalam menghubungkan eks PMI dengan:

🔵Program UMKM Dompet Dhuafa Wirausaha.

🔵Layanan Klinik Curhat & Konseling pasca kembali

🔵Kelas lanjutan (life skill, parenting, bisnis rumahan, dll)

DDHK Dimata TKW

Dompet Dhuafa menjadikan PMI bukan hanya pekerja, tapi pembelajar, pejuang iman, dan pelopor perubahan.

Bagi para pekerja migran yang tergabung DD sudah menjadi sosok ibu yang selalu siap membimbing, ibarat sekolah untuk menyuapi ilmu pengetahuan, madrasah sebagai penguat kokohnya akidah dan akhlak, sekaligus jadi rumah sebagai tempat ternyaman untuk pulang.

Dari kegiatan pendampingan spiritual, pelatihan akademis, bimbingan ibadah, hingga bantuan sosial keseharian, Dompet Dhuafa di Hong Kong menunjukkan komitmennya untuk:

📌Mendampingi pekerja migran dalam menguatkan ilmu agama, pendidikan, dan kemandirian.

📌Membangun komunitas Islami di tempat mayoritas non‑muslim.

📌Menjadi penyambung tangan antara warga Indonesia perantauan dan tanah air.

Kalau manteman seorang PMI atau punya keluarga di luar negeri, program yang diselenggarakan Dompet Dhuafa ini terbuka untuk semua WNI yang ingin berkembang.

Jadi jika manteman ingin bertemu lembaga yang tidak hanya menyalurkan bantuan tetapi juga memberdayakan dan memiliki dampak jangka panjang, maka Dompet Dhuafa adalah contoh yang sangat kuat.

Di momen bulan Dzulhijjah ini sudahkah manteman menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi dengan mereka yang berhak membutuhkan?

Tenang, kita juga bisa kurban di Dompet Dhuafa kok. Atau jika keuangan belum cukup bisa pilih sedekah daging saja. Insyaallah berkah dan pahalanya tidak akan pernah berkurang.

Kurban di Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa tidak hanya fokus pada penyaluran materi. Tapi juga berperan aktif dalam mendidik, membimbing, dan membentuk komunitas melalui berbagai program (pendidikan, sosial, dakwah, advokasi).

Sesuai dengan tujuan didirikannya Dompet Dhuafa: yakni mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi ekonomi lemah melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan.

Read more ...

Jumat, 15 November 2024

Keilmuan Advokasi Buruh Migran

Sudah lama tidak melihat beberapa orang pemuda di kampung tempat saya tinggal. Saya pikir mungkin bekerja merantau ke kota. Secara mereka itu rata-rata lulusan SLTA.

Meski jarang ketemu, tapi namanya di kampung, satu sama lain seolah terhubung. Meski dengan tetangga tapi sudah seperti saudara. Apalagi para pemuda itu, semuanya pernah mengaji di rumah. Sudah seperti ke anak sendiri, atau seperti ke adik atau keponakan sendiri begitu deh.

Bukan kepo kalau saat ada kesempatan, saya bertanya kemana si A, kemana si B, baik ke orang tuanya langsung atau adik-adiknya yang masih mengaji bersama kami ketika tidak melihat seseorang untuk waktu cukup lama.

Mereka ada yang jawab bekerja ke kota, ada yang jawab melanjutkan ke pondok pesantren, dan jawaban lain. Saya hanya manggut-manggut saja. Semua jawabannya masih masuk akal.

Sampai suatu saat, ada salah satu tetangga kampung meninggal, putra bungsunya, salah satu pemuda yang saya kira tengah melanjutkan sekolah di kota lain, sampai orang tuanya itu dikebumikan, tidak juga kunjung datang.

Saya dan warga lain merasa heran dong, emang itu anak kerja dimana sih, sampai gak bisa izin apa sekedar pulang kampung untuk melihat orang tua untuk yang terakhir kalinya?

Bisik-bisik tetangga pun saling bersahutan. Ada yang bilang anak itu sebenarnya mau kerja ke Jepang, sekarang masuk penampungan dan tidak mudah untuk keluar masuk karena harus menyediakan uang sebagai jaminan. Jadi saat orang tua meninggal bukan tidak ada keinginan untuk pulang, tapi katanya mencari dulu uang untuk memenuhi jaminannya.

Benarkah di penampungan dalam proses pemberangkatan ke Jepang? Saya sampai curiga. Penampungan untuk bekerja ke Jepang seketat itu? Bukankah sekarang semua pemberangkatan pekerja migran sudah ditangani oleh BP2TKI? Apakah itu penampungan ilegal?

Kok bisa orang tua dan saudaranya menutupi jika benar anaknya itu sedang di penampungan dalam proses pemberangkatan kerja ke luar negeri? Karena saya ingat sewaktu saya tanya baik-baik kemana anak itu, jawabnya katanya sedang melanjutkan sekolah di kota.

Hem... Mungkin maksudnya sedang melanjutkan proses pemberangkatan kerja ke luar negeri kali ya? Sudahlah, saya juga tidak minat untuk banyak bertanya lagi. Mereka seakan menutup keadaan sebenarnya pasti memiliki alasan.

Hanya yang sangat saya sayangkan, kalau sampai tetangga saya itu (semoga tidak) tertipu oknum atau calo TKI yang tidak bertanggung jawab. Saya selaku mantan TKW, pernah aktif di serikat buruh migran, juga pernah aktif di dunia paralegal (advokasi buruh migran) ya merasa malu saja.

Bagaimana tidak, bukankah seolah saya membiarkan tetangga sendiri tertipu sementara sebelumnya, saya bela-belain kasih pendampingan dan mengurus teman-teman buruh migran yang bermasalah sampai ke luar daerah segala? Yang jauh dikejar, yang depan mata kok kecolongan?

Salah saya juga sih, secara saya kalau di kampung ya diam saja. Karena wilayah kerja saya kalau ada pendampingan justru ke luar kabupaten bahkan ke luar provinsi. Jadi kalau tetangga tidak tahu jika saya sebenarnya sedikit ngerti dalam hal perekrutan dan prosedur pendaftaran calon tenaga kerja ke luar negeri itu bagaimana, sampai urusan hak-hak buruh migran, bukan salah mereka juga.

Advokasi Buruh Migran

Dan apa yang saya khawatirkan sempat kejadian. Salah satu pemuda lainnya, mirisnya orang tua si anak ini juga adalah pekerja migran (setidaknya seharusnya tahu mana yang resmi mana yang tidak), justru ternyata kena tipu puluhan juta rupiah!

Saya tahu dari pamannya si anak. Katanya selama ini dia tidak ada di kampung itu masuk penampungan. Di sana bergabung dengan sesama calon tenaga kerja lainnya.

Ngapain? Apakah belajar bahasa? Ternyata katanya tidak. Hanya makan tidur dan menanti informasi kapan job datang, kapan bisa turun, kapan pasporan, dan informasi lain seolah keberangkatan ke negara penempatan sudah pasti saja.

Padahal kan sistem perekrutan dan alur pendaftaran tenaga kerja ke Jepang, ke Korea dan negara penempatan TKI formal lainnya saat ini yang resmi tidak seperti itu. Semua sudah jelas prosesnya seperti dijelaskan di website BP2TKI.

Dan benar saja pada akhirnya uang yang disetorkan tidak kembali sementara tiket penerbangan yang dijanjikan tidak juga kunjung diberikan. Akhirnya anak itu pulang dengan tangan kosong.

Awalnya keluarganya juga tidak banyak bicara, karena mungkin malu dan merasa rugi juga. Setelah sekian lama baru selentingan kabar itu keluar dan sampai di telinga saya.

Duh, kasihan. Hanya itu yang bisa saya ucapkan. Ya mau bagaimana, mau mengusut juga pihak keluarga sudah angkat tangan. Mereka sudah habis-habisan jual ini jual itu demi bisa melunasi uang yang harus disetor kepada oknum calo sebelumnya.

Yang bisa saya lakukan setelah mengetahui ada tetangga yang kena tipu calo TKI adalah memberitahukan kepada anak-anak mengaji di rumah secara umum, (khususnya pada beberapa anak mengaji yang sudah SLTA) jika kelak ingin menjadi buruh migran ke luar negeri, jangan mudah kena bujuk rayu calo. Jadilah TKI yang resmi, yang legal.

Sebagai orang terpelajar, harus melek digital, dimana sekarang hampir setiap anak punya ponsel yang terkoneksi dengan internet, minimal gunakan itu untuk mencari informasi.

Buka websitenya BP2TKI dan baca semua informasi serta prosedur yang resmi bagaimana mau kerja ke luar negeri. Di sana diinformasikan juga lembaga kursus mana yang resmi dan bekerja sama dengan pemerintah dalam proses pemberangkatan sampai penempatan.

Meski ada beberapa anak mengaji di tempat saya yang ibunya saat ini masih menjadi buruh migran dan memilih jadi kaburan (keluar dari kontrak kerja resmi) tapi saya selalu kasih informasi dan saran, sebaiknya jangan jadi tenaga kerja ilegal karena jika ada kejadian yang tidak diinginkan, hak-hak sebagai tenaga kerja dari pemerintah sulit untuk didapatkan. Kalau sudah begitu yang rugi kan diri sendiri.

Semua saran dan informasi yang saya sampaikan mau diterima syukur, tidak diterima pun tidak masalah. Saya hanya mencoba menyampaikan, supaya tidak ada tetangga dekat yang tertipu lagi. Itu saja.

Ibaratnya hanya menyampaikan sedikit yang saya ketahui, ajang mengisi blank spot: Bagaimana kontribusi saya saat mengisi celah keilmuan yang belum banyak diangkat dan cenderung terabaikan.

Kebetulan bidang yang saya sedikit ketahui adalah soal dunia perburuhan, itu pun kebetulan dulu saya pernah bergabung di serikat buruh dan bekerja serta aktif di Migrant Institute di bawah naungan Dompet Dhuafa. Sekarang sih Migrant Institute nya sudah tidak ada.

Berharap sedikit banyak informasi yang saya dapat itu siapa tahu bisa menjadi hal yang bermanfaat untuk orang lain.

Read more ...

Rabu, 23 Oktober 2024

Nasib Perempuan Tomboi

Sejak kecil, aku dikenal sebagai anak tomboi. Tidak punya pakaian rok kecuali seragam sekolah, bermain dengan anak lelaki termasuk kelakuan yang menyerupai perilaku anak cowok.

Melakukan hal seperti anak laki-laki sudah biasa kulakukan. Main kelereng, main layangan, panjat pohon sampai berantem meskipun harus babak belur padahal hanya karena masalah sepele.

Memasuki bangku sekolah dasar, meskipun sebangku dengan si Neng, anak bungsu dari seorang pejabat Pemda Kodya Bandung, tapi aku lebih senang bermain dengan Hendi, Ari, Lucky, Iwan dan lainnya.

Sepulang sekolah, karena bapak dan ibu tidak ada di rumah untuk bekerja, aku suka keluyuran main ke rawa dan hutan pekuburan, tentu saja bersama teman anak-anak laki-laki.

Mancing ikan serta mengambil buah jambu adalah pengisi kegiatan bersama kawan sepermainan di kampung. Saat itu Kotamadya Bandung di sekitar tahun 80-an. Masih banyak tanah kosong berupa rawa dan tegalan, belum ditanami semen dan beton seperti sekarang.

Perempuan Tomboi tetap jadi IRT

Memasuki sekolah menengah pertama meski harus pindah ke wilayah kabupaten tempat nenek tinggal tapi kebiasaan seperti anak lelaki masih melekat kuat.

Di rumah nenek aku tidak pernah mengerjakan pekerjaan anak perempuan meskipun sekadar untuk membantu nenek yang sudah sepuh. Alasannya ya karena gak bisa.

Sampai suatu hari aku mendengar omongan sepupuku, membicarakan di belakang kalau katanya aku pemalas. Sejak itu kalau mau mandi ke tampian (tempat mandi umum di kampung) aku bawa sekalian deh piring dan gelas kotor untuk dicuci. Belajar, biar kuping gak panas dinyinyiri terus.

Sepulang sekolah lagi-lagi aku lebih suka kelayapan ikutan bersama pemuda kampung yang kebanyakan sih masih saudara juga. Marak (mencari ikan) ke sungai, berburu burung ke persawahan, sampai ikut ngarit untuk membantu teman mengumpulkan pakan ternak karena di kampung kebanyakan mereka memiliki hewan peliharaan.

Saat mau berangkat ke sekolah jika naik kendaraan, aku lebih suka nangkel seperti Akang Kondektur di dekat pintu. Jika tidak ada angkutan, aku lebih berani nyegat truk atau kendaraan apapun sebagai omprengan.

Lebih serunya lagi aku dan teman-teman sering nekat nyegat tangki Pertamina supaya bisa membawa kami ke sekolah. Yah, daripada kesiangan atau harus bolos kan... Padahal jelas-jelas terpampang tulisan begitu gede: DILARANG MENUMPANG!

Melanjutkan sekolah tingkat atas, sifat tomboi ku tetap masih ada, meskipun seragam sekolahku panjang dan berhijab. Daripada main sama anak perempuan yang suka ngiri, aku lebih suka bergaul sama anak cowok yang serba easy.

Sering aku nginap di rumah orang tua teman cowok, atau main ke kostan teman cowok. Semuanya murni berteman, karena sampai aku lulus, aku tidak pernah punya pacar.

Sepertinya cowok yang mau mendekatiku udah takut duluan melihat tingkahku yang kasar dan sering nongkrong bareng anak cowok. Sungguh tidak ada manis-manisnya...

Meski tomboi sejak kecil dan terkesan urakan karena jauh dari kata perempuan yang pandai berdandan, namun dalam soal mata pelajaran dan prestasi di sekolah aku berani boleh diadu.

Sejak SD sampai SMP aku selalu rangking satu. Saat SMU pun aku tetap mendapatkan beasiswa dan masuk kelas exact saat penjurusan, bergabung dengan anak-anak yang kutu buku, jago matematika dan ahli rumus-rumusan.

Bekerja ke luar negeri, ketomboianku makin menjadi. Sejujurnya itu kalau dilihat dari penampilan fisiknya saja sih, secara aku sendiri sadar diri kalau aku ini ya perempuan normal. Rambutku dipotong pendek itu karena aturan dari perusahaan jasa tenaga kerja (PJTKI) saja sih. Dan lama-kelamaan memang terasa nyaman juga. Simple kalau mau keramas, gak ribet kalau mau bepergian karena nyisir pakai jari tangan pun jadi.

Ibu rumah tangga bisa jadi Blogger dan Influencer

Meski tidak punya pacar, bukan berarti aku tidak laku. Ada beberapa orang cowok yang nembak, bahkan serius ngajak rumah tangga tapi akunya aja yang tidak menanggapinya dengan serius. Ke teman sekolah maupun ke teman di luar sekolah, alasannya sama aku ingin fokus dulu meraih prestasi. Dan mereka percaya aja kayanya karena sampai kelulusan aku tetap ngejomblo.

Nasib yang berkata lain. Lima belas tahun kemudian sepulangnya aku dari merantau bertemu dengan teman-teman sepermainan dulu di sekolah sepertinya aku yang justru kemakan omonganku sendiri. Kualat.

Aku bertemu dengan seseorang yang sudah membersamaiku di sekolah dulu, setelah ia menjadi kandidat doktor dari sebuah universitas negeri di provinsi.

Padahal aku dan temanku itu sama-sama memiliki ambisi belajar dan permasalahan perekonomian yang minim. Bedanya aku perempuan, gak bisa leluasa mengambil keputusan, sementara dia lelaki yang memiliki visi misi dan berani.

Saat aku mengucapkan selamat atas gelar doktor yang diraihnya aku harus puas dengan pencapaianku di kisaran ibu rumah tangga saja.

Tanpa kuduga teman sepermainan dulu di kampung juga tiba-tiba muncul dan mengabarkan diri setelah hampir 30 tahun kami saling hilang kontak.

Tanpa aku ingat, ia menceritakan jika pertemuan terakhir kami adalah dalam perjalanan dari Tasikmalaya ke Bandung sekitar tahun 1996. Setelah itu ia merantau ke Melawi Kalimantan Barat dan tak ada kabar hingga beberapa hari lalu ia tiba-tiba muncul di pesan singkat yang dikirimkannya.

Banyak cerita tentang suka dukanya mengalir tanpa diminta selama ia berada di Kalimantan. Seolah dia itu Blogger IKN yang begitu antusias bercerita tentang kehidupan dan harapan baru di Kalimantan sana.

Bagaimana kisah ia berjuang dari nol di sana sampai sejengkal lagi berhasil mencapai cita-cita dan ambisi yang dulu pernah aku dan dia ungkapkan dalam harapan meraih gelar doktor meski untuk itu ia harus kembali ke Jawa untuk mendapatkan nya.

Lagi-lagi aku hanya gigit jari dan merasa ini karma bilamana mengingat kok begini amat nasib jadi perempuan diantara teman-teman laki-laki yang dulu sangat dekat.

Aku tidak akan mengatakan andai aku laki-laki aku pun pasti bisa membuktikan seperti mereka karena meski pencapaianku hanya sebagai ibu rumah tangga saja, aku yakin bisa bahagia.

Aku juga tidak berani menganggap ini nasibku sebagai perempuan karena meskipun aku ditakdirkan menjadi seorang lelaki belum tentu aku mampu menjalankan semua peran dan risikonya.

Yang bisa aku lakukan lagi-lagi hanya mengucapkan selamat buat teman sepermainanku itu dan mensyukuri atas apa yang aku dapat saat ini.

Jadi ibu rumah tangga juga not bad selagi bisa memanage emosi dan produktif sesuai porsinya. Banyak melakukan me time termasuk bekerja freelance aja sebagai hiburan.

Ambisi dan prestasi menguap setelah jadi IRT

Jika pencapaian temanku ada di bidang akademis mungkin kemampuanku ada di duniaku saat ini. Dunia ibu rumah tangga yang harus terus belajar mengenai dunia digital seperti Influencer Balikpapan yang terkenal itu Kak Aisyah Dian.

Read more ...

Sabtu, 24 Agustus 2024

Bau badan Gōngrén bikin gak Percaya Diri? Pilih Hint Solusinya

Masa remaja masa yang paling indah, tapi sayang karena tuntutan ekonomi masa remaja saya harus dilalui dengan kucuran keringat menjadi gōngrén (pekerja asing) jauh di perantauan. Sebagai tulang punggung keluarga pengganti bapak, saya harus kerja banting tulang demi bisa mendulang dolar untuk melanjutkan kehidupan Ibu dan adik di kampung.

Lulus sekolah tak bisa melanjutkan kuliah, saya memilih jadi kuli-lah sebagai buruh migran ke luar negeri demi bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan.

Sejujurnya saat melewati masa peralihan dari remaja menuju dewasa ini muncul perasaan tidak nyaman dan kurang percaya diri, secara saya memiliki masalah bau badan dan ketiak.

Nasib jadi chòu gōngrén pekerja bau badan

Sebenarnya, saya gak tahu apa penyebabnya. Tahu-tahu ketika datang ke rumah majikan, disambut mereka di depan pintu, cuping hidung Tàitài (majikan perempuan) langsung bergerak-gerak. Mengendus-endus...

Lalu dengan bahasa seadanya Xiānshēng (majikan laki-laki) menyuruh saya untuk segera membuka alas kaki, dan langsung menggiring saya ke kamar mandi.

Melalui bahasa isyarat, saya paham majikan perempuan menyuruh saya cuci kaki, mandi dan mengganti baju.

“Ni you tǐchòu, ma?” Ups! Keluar dari kamar mandi majikan perempuan bertanya apakah saya ada bau badan? Malunya...

Sekuat itukah bau badan saya hingga bos perempuan langsung mengenalinya di pertemuan pertama kami?

Bau badan yang saya alami mungkin muncul karena hormon dan beberapa hal lain. Tahu sendiri kerja sebagai buruh di luar negeri gak bisa main-main. Totalitas dalam pekerjaan itu harga mati.

Bisa saja kelenjar apokrin penghasil keringat dalam diri saya bekerja lebih aktif sesuai dengan tuntutan pekerjaan sehingga jumlah keringat di badan saya lebih banyak daripada biasanya.

Apalagi kandungan keringat dalam tubuh itu bukan terdiri dari air dan garam saja, melainkan ada juga minyak.

Akibatnya, keringat berlemak yang bercampur dengan kotoran dan bakteri bisa menyebabkan bau tak sedap pada ketiak dan badan. Mungkin karena itu pula dengan tidak berperasaan nya anak majikan sempat mengatakan saya sebagai chòu gōngrén alias pembantu bau... wadidaw!

Bau badan dan ketiak bisa disebabkan karena malas mandi atau proses mandi kurang bersih.

Apakah saya termasuk yang malas mandi? Tentu saja tidak. Tapi memang sejak bekerja di luar negeri, kebiasaan mandi saya mengalami perubahan.

Biasanya saya minimal mandi dua kali sehari. Tapi di rumah majikan, saya harus mengikuti kebiasaan mereka, mandi hanya sehari sekali itu pun pada malam hari sebelum tidur.

Padahal mandi akan menghilangkan keringat, sebum, sel-sel kulit mati, kotoran, dan bakteri penyebab bau tak sedap.

Bisa jadi karena pagi atau siang saya tidak mandi, bau badan dan ketiak semakin menjadi.

Karena mandi sehari sekali saat malam, otomatis ganti baju juga sekali saat setelah mandi.

Menyedihkan sekali bau ketiak dan badan akibat keringat berlebih ini justru bisa jadi malah semakin menyengat karena saya jarang ganti pakaian.

Apalagi kondisi pakaian yang sudah basah karena keringat, itu akan semakin  mendukung perkembangbiakan bakteri penyebab bau badan.

Tips cegah bau badan dengan HINT ZENCHA Eau de Parfum

Pekerjaan saya merawat Akong (Kakek) yang lumpuh dan makan menggunakan selang tentu saja sangat menguras aktivitas fisik. Setiap dua jam saya harus mengangkat Akong, membolak-balik badannya supaya kulitnya tidak kemerahan atau luka.

Yang terberat itu setiap pagi memindahkan Akong dari tempat tidur ke kursi roda untuk dibawa jalan-jalan dan berjemur matahari. Demikian pulangnya jelang tea break, Akong kembali saya rebahkan di kasur lalu beberapa saat setelah makan membantunya terapi.

Belum lagi saya juga harus beli sayuran bersepeda ke pasar, pulang pergi ke rumah sakit, sampai antar jemput anak majikan dari olahraga, ekstrakurikuler, bimbingan belajar, dan kegiatan lainnya yang cukup menguras tenaga dan lelah.

Aktivitas fisik seorang buruh migran dengan intensitas tinggi seperti keseharian saya pastinya akan memicu tubuh mengeluarkan banyak keringat sehingga masuk akal kalau saya lebih rentan bermasalah dengan bau badan.

Tips agar bebas masalah bau badan

Karena tidak bisa menipu diri akhirnya saya melakukan berbagai upaya untuk menjaga kesegaran aroma tubuh.

Saya tidak sakit hati ketika majikan menemukan fakta kalau saya memiliki bau badan. Yang ada justru mau mengobatinya mumpung di luar negeri yang terkenal pelayanan kesehatannya sangat bagus.

Apalagi majikan perempuan justru mengajarkan saya supaya bisa mengatasi masalah bau badan tersebut sampai tuntas dengan melakukan beberapa hal penting berikut ini:

Mengusahakan mandi minimal dua kali sehari

Karena bau badan saya bisa mengganggu majikan, akhirnya saya diberi kebebasan mandi pagi atau siang yang tidak boleh dilewatkan karena fungsinya sangat penting untuk menjaga kebersihan tubuh.

Saat mandi pun saya pastikan semua bagian tubuh sudah dibersihkan dengan benar, terutama ketiak, area kelamin, dan lipatan kulit leher, belakang paha, dan siku.

Senang sekali waktu Ama (Nenek) yang terbilang masih sehat memberikan saya sabun antiseptik untuk menghambat kemunculan bakteri penyebab bau badan.

Berganti pakaian lebih sering

Karena ada kesempatan mandi, saya juga bisa berganti pakaian. Terlebih ketika selesai mengurus Akong, dimana seluruh badan biasanya sudah banjir keringat.

Selain pakaian luar, saya juga mengganti pakaian dalam serta kaus kaki saat musim dingin supaya tidak terasa lembap.

Jika musim panas, saya memilih bahan pakaian yang menyerap keringat dan tidak gampang menimbulkan rasa gerah, misalnya bahan katun.

Menghindari makanan pemicu bau badan

Dengan adanya bau badan, saya membatasi konsumsi makanan seperti daging merah, bawang-bawangan, dan keju. Kalau di kampung pasti menghindari pete dan jengkol juga dong!

Menggunakan parfum pilihan secara tepat

Banyak yang merekomendasikan berbagai obat bau badan. Baik sesuai resep dokter maupun herbal tradisional. Di samping itu saya juga menggunakan parfum yang wanginya bikin adem dan nyaman.

Majikan dan keluarganya kerap menghadiahkan saya parfum. Namun pada akhirnya parfum pilihan saya sekarang ini jatuh pada Hint.

Percaya diri beraktivitas dengan HINT ZENCHA Eau de Parfum

HINT ZENCHA Eau de Parfum

Ya, varian ZENCHA dari HINT saat ini jadi parfum favorit saya. Wanginya khas dedaunan teh mengingatkan akan masa kecil saya di kampung Cibeureum Sukanagara Kabupaten Cianjur.

Saat perkebunan teh Nusantara (PTPN VIII) sedang jaya-jayanya, hampir seluruh warga kampung bekerja di perkebunan teh. Biasanya kaum wanita menjadi pemetik daun, dan para pria menjadi kuli panggul, pekerja serabutan di perkebunan atau jadi mandor.

Saya dan teman sebaya lainnya, sering ikut ke perkebunan baik untuk membantu bapak dan ibu atau sekadar bermain-main saja.

Karena itu wangi khas daun teh sangat akrab di diri saya. Tidak pernah bosan untuk menyesapnya yang ada justru bikin tambah semangat seakan semilir angin yang membawa keharuman teh adalah aroma terapi yang menenangkan jiwa.

HINT saat ini mengeluarkan #TeaSeries yang terdiri dari ZENCHA dan MINTEA. Hasil kolaborasi dengan Shinichiro Oba, perfumier asal Jepang. Beliau keturunan langsung Tea Grandmaster dari Shizuoka. Yang bertujuan melahirkan wangi green tea terbaik, yang cocok as an escape from city hustle life.

Zencha by HINT TEA SERIES

Setiap hari 4-5 kali saya semprotkan HINT pilihan saya, ZENCHA Eau de Parfum di bagian tubuh yang diinginkan. Biasanya saya semprotkan di belakang telinga, pergelangan tangan, dan badan.

Sebenarnya HINT menyediakan banyak varian wangi parfum berkualitas tinggi yang bisa kita pilih sesuai dengan keinginan. Sebelumnya saya juga sudah mereview Parfum HINT Topper Ultimate aroma Bold sentuhan Woody.

Perlu diketahui kalau parfum HINT itu didukung dengan berbagai teknologi aroma unik dari Ease Scent Technology dan bahan utama yang bersumber langsung dari Eropa.

Tea Series by HINT
Tea Series by HINT. sumber hintofyou.com

Manteman bisa temukan HINT of you melalui wewangiannya yang abstrak namun imersif. Bagaimana diri dan aktualisasi kamu, bisa langsung dipersonalisasikan sehingga bisa dicirikan paling menggambarkan sosok diri kita sendiri.

Bagaimana cara mendapatkan produk HINT manteman tinggal berkunjung langsung ke websitenya saja di hintofyou.com

Ada banyak penawaran menarik dari HINT mulai dari freebies hingga voucher belanja. Tidak ribet deh proses transaksinya karena pembayaran bisa dilakukan melalui berbagai metode yang kita bisa.

Jadi HINT varian mana yang manteman pilih? Kalau saya jelas HINT ZENCHA Eau de Parfum sangat saya sukai karena selain wanginya sudah akrab dalam perjalanan hidup saya semasa kecil juga sangat membantu menyamarkan terhadap keringat dan bau badan.

Qualitea Time bersama HINT ZENCHA Eau de Parfum

Qualitea Time berkat HINT ZENCHA Eau de Parfum

Pekerjaan saya merawat orang lanjut usia tidak terganggu lagi perasaan minder atau tidak nyaman karena bau badan.

Antar jemput anak majikan juga semakin senang dan anak-anak bilang kalau Jiějiě (kakak) sekarang tidak chòuchòu lagi.

Setiap hari qualitea time dengan lansia yang saya rawat dan anak-anak yang saya jaga makin maksimal. Betul sekali jika yang saya butuHINT ya HINT ZENCHA Eau de Parfum.

Menggunakan HINT ZENCHA Eau de Parfum ini tentu tak hanya mengatasi bau badan tetapi juga membantu saya bisa beraktivitas dengan percaya diri.

Sebuah penelitian yang dilakukan UCL (University College London) melaporkan jika teh (Camellia sinensis) bisa mengusir hormone stress. Selain itu, aroma teh juga dipercaya bermanfaat untuk menenangkan diri.

Menikmati wangi teh dari parfum HINT ZENCHA Eau de Parfum yang saya semprotkan di badan telah mempengaruhi komunikasi saya dengan orang lain. Saya jadi merasa lebih percaya diri dan bawaannya lebih tenang.

Demi rasa percaya diri yang harus dipulihkan ini, saya tidak hanya ingin berbagi pengalaman terkait bau badan saja, tapi juga ingin memberikan nasihat sederhana supaya siapa saja bisa konsisten membantu siapa pun untuk mengatasi masalah bau badan.

Sekarang, saatnya kita mengucapkan selamat tinggal pada masalah bau badan dan ketiak yang menurunkan rasa percaya diri. Yuk, gunakan HINT ZENCHA Eau de Parfum sehingga tubuh terbebas dari bau tidak sedap karena keringat berlebih dan menjadi lebih percaya diri karena tetap wangi sepanjang hari.

HINT ZENCHA Eau de Parfum
Read more ...

Minggu, 24 Maret 2024

Mengenang Momen Ramadan Tak Terlupakan

Mengenang momen Ramadan tak terlupakan yang pernah saya alami ketika tinggal di Bandung, Tasikmalaya, Cianjur, Singapura, Hongkong dan Taiwan ini ternyata tidak mudah. Mungkin saking dalam kenangannya, saat menuliskannya tidak sadar saya sampai ikut tertawa dan bahkan berderai air mata...

Tidak semua kenangan masa kecil saat menjalani bulan Ramadan cukup kuat dalam ingatan. Tapi ada beberapa potongan memori yang bertahan dengan jelas, terbayang seolah kejadiannya bisa diputar berulang.

Pertama kali menjalankan ibadah puasa Ramadan yang saya ingat itu ketika masih tinggal di Bandung. Kebetulan rumah yang ditempati berada di samping Masjid Jami At Taufik di Jalan Gumuruh Gatot Subroto yang mana di sana salah satu tempat saya mentahbiskan masa kecil yang tidak akan terlupakan.

Bersama teman masa kecil ada adik kakak Angga dan Anggi, Ari, Nia dan adiknya Agus (sama dengan saya memiliki adik bernama Agus) lalu ada Hani dan Desty, dan Hendi yang kesemuanya selalu bermain bersama manakala mengaji di masjid atau bermain di lapangan rumput depan masjid menunggu waktu berbuka.

Bermain sarung, bermain ayunan di pagar masjid, jalan pagi dan sore ke Martanegara atau ke Lapangan Seskoad (saat itu Neneknya Nia kerja di sana), semua selalu terbayang menjadi kenangan manis yang tidak terlupakan. Dibarengi candaan dan kejahilan masa-masa anak kecil jaman dulu tanpa terkontaminasi gadget pastinya.

Masih ingat juga ketika saya entah kelas satu atau dua SD, melihat adik yang puasa sampai setengah hari dan berbuka sendiri makan dengan sayur, saya ikut tergoda. Lalu diam-diam menyendok sayur langsung dari pancinya dan memakannya dengan sembunyi-sembunyi. Tentu saja pada ibu dan bapak mah saya bilangnya masih berpuasa. Haha... Namanya juga masih kecil, saya ceritakan ini bukan mau buka aib ya. Supaya jadi pelajaran yang tidak terlupakan saja. Jangan sampai anak sekarang mengikuti hal buruk seperti yang saya lakukan diam-diam kala itu ya...

Kenangan lainnya kalau cuaca bagus, diajak bapak ngabuburit ikut ke pasar Kiaracondong. Di sana bisa beli jajanan khas Ramadan. Apalagi kalau bukan kolek dan kembang api. Sementara saya selain jajan itu juga keukeuh minta ke bapak dibelikan majalah anak bekas. Dan bapak gak bisa menolak walau uangnya gak cukup, ia sampai minjam ke temannya sesama yang berjualan.

Ah, semoga segala kebaikan dan kasih sayang almarhum bapak saya itu mendapatkan balasan dari Allah SWT. Aamiin... Sungguh, saya rindu Bapak di momen Ramadan ini, Pak...

Ramadan selanjutnya saya alami di Tasikmalaya karena saya melanjutkan sekolah di sana ikut nenek dari pihak bapak.

Masih terbayang juga pertama kali ikut pengajian pesantren kilat bersama teman sepermainan sekaligus sekolah di SMP. Ada Nelis, Rini, dan kawan laki-laki lainnya.

Saat itu saya masih bisa dibilang polos. Sementara teman-teman lain di kampung sudah pada tahu tentang pacaran. Ya semacam cinta monyet gitu lah. Jadi antara santri putri dan santri putra itu saling menaksir. Lalu diam-diam saling berkirim surat cinta. Haha... Masih ingat saja kalau saya lah yang menjadi kurir nya.

Sementara ke saya sendiri ga ada tuh yang ngasih surat. Hehe, kenapa saya jadi iri, ya? Ternyata belakangan diketahui kalau semua itu ulah sepupu dan paman-paman saya yang menjaga saya.

Jadi kalau ada surat berbau-bau love-love gitu buat saya mereka langsung jegal. Alasannya katanya karena amanat dari bapak saya, kalau saya sangat diwanti-wanti dititipkan pada mereka. Jadi sepupu dan paman saya yang sangat takut sama bapak (bapak saya anak pertama) manut banget.

Sebagai pengalihannya, saya diajak main ke sawah, ke sungai, ke desa sebelah dengan alasan mengunjungi saudara hingga pulangnya membawa kelapa muda, ikan hasil memancing dan sebagainya.

Kenangan Ramadan Okti tak terlupakan

Tidak takut meski hanya saya anak perempuan satu-satunya dalam rombongan yang abring-abringan itu, karena kebanyakan dari mereka adalah para paman dan saudara yang usianya sudah lebih dewasa dari saya. Mereka itulah yang menjaga saya selama saya tinggal bersama nenek.

Terbayang tertawa sampai terpingkal-pingkal ketika nongkrong di anak tangga Kampung Naga, sambil praktik bahasa Inggris ketika ada turis yang lewat. Niat hati mau speaking English apa daya bahasa belepotan, jadinya malah jadi bahan bercandaan...

Sebagian lain berolahraga berlari naik turun tangga Kampung Naga yang jumlahnya lebih dari empat ratus anak tangga. Ya meski puasa, para paman dan sepupu saya itu sudah terbiasa berkeringat karena memang jalan itu satu-satunya akses keluar masuk kampung.

Menginjak remaja saya sekolah pindah lagi ke Sukanagara di Cianjur. Disini cuacanya lebih sejuk malah kadang bikin saya menggigil karena daerahnya perkebunan teh yang sering diselimuti kabut. Tak banyak kenangan saat Ramadan selain saya harus sudah mandiri, alias masak sahur sendiri.

Jadi kondisinya saat di Cianjur ini bapak sudah tidak ada, ibu saya merantau di ibukota cari nafkah bersama saudara-saudaranya. Saya dan adiklah berdua di rumah. Makanya beban saya seolah udah jadi pengganti bapak dan ibu saja. Berat aja menjalani Ramadan bersama adik kali itu.

Selama Ramadan saat sekolah di Cianjur saya hampir tak pernah ikut ngabuburit karena memilih diam di rumah saja. Selain udaranya menurut saya terlalu dingin, juga karena saya jomblo akut. Haha, gak enak kan kalo cuma jadi penonton mereka yang jalan-jalannya berpasangan. Selebihnya ya saya memilih menyiapkan semuanya di rumah daripada main keluyuran.

Selanjutnya saya lalui belasan Ramadan di luar negeri. Disinilah rasanya perjuangan saya ketika mempertahankan keimanan benar-benar diuji.

Ramadan di Singapura tidak begitu banyak kenangan karena lingkungan Melayu masih begitu kental. Walaupun majikan nonis (non Islam) saya masih bisa menjalankan puasa dan merasakan hawa Ramadan tetap kental di sekitar.

Yang bikin lucu itu anak majikan, namanya Jonathan. Saat itu usianya 4 tahun. Dia heboh bilang ke ibunya yang baru pulang dari Amerika kalau katanya sekarang Jiejie Lili baru bisa makan kalau sudah mendengarkan lagu. Rupanya yang dimaksud Jonathan lagu adalah kumandang adzan yang saya dengar dari radio. Ah, dasar bocah nonis...

Kalau Ramadan di Hongkong meski saya alami hanya dua kali, tapi rasanya terlalu banyak kenangan hingga saya sulit untuk menjelaskannya.

Saya bisa menjalankan ibadah puasa. Bahkan sering ikut kajian di Islamic Center di Masjid Omar di Wan Chai bersama teman-teman lain. Tapi semuanya kok terasa biasa saja. Mungkin karena perjuangannya kurang greget?

Kenangan Ramadan Okti tak terlupakan

Barulah ketika menjalani Ramadan di Taiwan titik balik menjadi muslimah itu seolah saya alami dengan sesungguhnya.

Saya sempat adu mulut dengan orang tua majikan yang melarang saya berpuasa, dengan alasan dia takut saya mati di rumahnya kalau tidak makan. Baru ketika majikan turun tangan menjelaskan, mereka mulai paham dan membiarkan saya menjalankan puasa Ramadan dengan pengawalan yang ketat. Saya yang punya job jaga jompo, saat Ramadan kok jomponya yang malah jagain saya, haha...

Selama beberapa kali menjalani Ramadan di Taiwan, bersamaan waktunya dengan geliat literasi kepenulisan di dunia maya yang saat itu sedang semarak bermunculan. Saya bersama 24 penulis muslim WNI yang ada di berbagai negara di dunia berhasil membuat buku antologi tentang pengalaman menjalankan puasa di perantauan, lho.

Kenangan Ramadan Okti Tidak Terlupakan
Buku antologi pengalaman menjalankan puasa di perantauan yang saya terbitkan di Taiwan. Ini versi cetak ke dua setelah sebelumnya cetak pertama di Hong Kong tidak ada kabarnya sama sekali

Alhamdulillah hasil menerbitkan bukunya di Taiwan dengan sistem jual putus dengan perusahaan Indosuara itu saya bisa membagikan sedikit royalti ke puluhan kontributor yang tersebar di berbagai negara termasuk buku hasil cetaknya.

Waktu pulang saya sempat bawa beberapa eksemplar buku cetaknya itu dan saya bagikan ke Kompasianer senior kalau ga salah... Secara mereka juga yang membimbing saya dan berinteraksi di dunia blogging kala itu. Sebelum saya punya domain sendiri ini.

Kenangan Ramadan Okti Tidak Terlupakan

Masih banyak kenangan pengalaman momen Ramadan saya yang tidak terlupakan, tapi mungkin saya ceritakan lebih detail nya nanti dalam artikel terpisah ya. Untuk saat ini segitu saja dulu bernostalgia nya...

Read more ...

Minggu, 31 Desember 2023

Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian

Beberapa teman waktu kecil dan kini sudah sama-sama tua ada yang bertanya saat kami bertemu ketika liburan akhir tahun kemarin. Katanya kok bisa saya jadi blogger? Mereka mengaku sering melihat kegiatan saya di berbagai sosial media yang memang kadang saya share link artikel blog pribadi di sana. Sebagai salah satu upaya menarik calon pembaca untuk lebih mudah mengunjungi blog saya.

Saya tertawa. Bukankah semua orang bisa banget kok jadi bloger (dan bahkan jadi apapun)?

“Terus itu bagaimana prosesnya bisa jadi bloger?” pertanyaan lebih jauh dari salah satu teman yang kini tinggal di luar Pulau Jawa membuat saya ambil keputusan untuk membuat artikel ini.

Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian

Secara jujur, bagi saya jadi bloger itu tidak bisa instan. Ibarat untuk mendapatkan job, kita butuh tips melamar kerja yang benar Jadi bloger gak bisa asal hanya punya kemampuan bisa menulis saja. Melainkan harus melalui berbagai tahapan dan jenjang (kalaupun tidak ikut pelatihan dan semacamnya). Progresnya teramat panjang...

Saya sangat ingat jika sejak kecil sudah diberi Tuhan kemudahan untuk bisa menulis dan membaca. Meski kondisi keluarga sangat kekurangan, bahkan saya hampir tak mau berangkat daftar masuk sekolah formal karena malu dan minder dengan kondisi dan keadaan, tapi selalu saja ada waktu dan kesempatan yang mendukung sehingga saya bisa memperlancar kemampuan membaca dan menulis.

Kesenangan akan membaca ini semakin muncul lebih besar manakala orang tua sering berjualan di Pasar Kiaracondong Bandung dan di sana saya menemukan lapak pedagang majalah serta koran dan buku-buku bekas yang bisa bebas saya baca walau tidak membelinya.

Selama ikut orang tua jualan, saya betah menitipkan diri di si mamang penjual majalah bekas itu. Begitu juga si mamang tak keberatan saya menemaninya di lapaknya. Bahkan dia sering mengatakan pada orang lain, menyukai anak kecil yang sudah suka membaca seperti saya.

Si mamang penjual buku dan majalah bekas sering meminjamkan majalah anak supaya saya bisa membacanya di rumah dan tak perlu mengumpulkan lagi kertas pembungkus gorengan atau koran bekas pembungkus yang sudah koyak hanya demi bisa menuntaskan rasa penasaran untuk membacanya. Hehe, memang karena saking sukanya membaca, kertas apapun sering saya pungut untuk membacanya dulu sebelum kemudian membuangnya.

Kesenangan akan membaca ini menjadikan saya lebih menyukai pelajaran bahasa Indonesia dibandingkan pelajaran lainnya. Saya sangat antusias jika ada pelajaran Bahasa Indonesia khususnya tugas mengarang.

Dulu, setelah liburan sekolah biasanya guru membuat tugas kepada semua murid untuk mengarang menceritakan pengalaman selama berlibur. Jika teman-teman lain menulis satu halaman saja tidak pernah penuh, maka saya akan meminta kertas baru sehingga bisa menulis sebanyak dua lembar atau empat halaman.

Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian

Semakin besar, saya merasa semakin tertarik dengan dunia sastra. Ketika ada tetangga yang membeli koran saya sering pinjam untuk membaca khususnya bagian cerpen cerbung dan atau puisi serta sajak.

Meski masih jauh dari kata layak, tapi saya sudah memiliki keinginan untuk mengirim karya tulis ke redaksi koran dan majalah itu. Dari sekian banyak majalah anak dan surat kabar daerah yang saya kirimi naskah, akhirnya ketika SMP ada salah satu karya kiriman saya berhasil dimuat. Senang banget pastinya. Pecah telor.

Karena terbentur masalah ekonomi, saya harus pindah domisili demi bisa melanjutkan sekolah. Ternyata hal itu justru membawa nilai positif karena dengan pindah sekolah dan tempat tinggal saya bisa tetap berkomunikasi dengan surat menyurat. Secara tidak langsung kemampuan tulis menulis dan merangkai kata saya semakin terasah.

Secara sendirinya saya juga jadi mendapatkan banyak sahabat pena. Baik yang jumpa melalui perkenalan yang berawal dari kolom pembaca di surat kabar dan atau teman sekolah dulu yang masih berlanjut berkomunikasi melalui surat menyurat hingga lulus sekolah.

Ketika saya menjadi TKI, kegiatan surat menyurat kembali meningkat. Saat itu belum ada telepon apalagi internet. Sahabat pena saya tak hanya berada di dalam negeri tapi juga beberapa di luar Indonesia.

Semakin terpacu untuk terus mengasah kemampuan menulis, saya mencoba bikin cerita dan dikirim ke radio, surat kabar dan buletin migran. Sesekali ikut lomba dan ketika berkesempatan menang, senangnya tak ketulungan.

Ketika dunia semakin marak dengan masuknya jaringan telepon saya terpacu juga untuk meningkatkan kemampuan menulis dengan belajar jurnalistik, menulis blog dan magang jadi reporter kegiatan buruh.

Dunia menulis dan membaca semakin saya sukai dan sesaat pun rasanya tak ingin terpisahkan. Terlebih ketika internet sudah bisa diakses secara bebas, niat untuk terus belajar semakin besar. Belajar otodidak di perpustakaan umum negara orang yang sudah canggih, turut menempa jiwa dan raga saya untuk semakin menguatkan diri menyukai dunia menulis dan membaca.

Pengalaman dan rintangan terus menempa saya hingga semesta memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu dengan orang baik dan diajak kerja sama menjadi kontributor media berbahasa Indonesia di negara penempatan HK, Taiwan, dan freelance liputan di media yang terbit dan beredar di Taiwan, HK dan Macau.

Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian

Saat selesai kontrak sebagai buruh migran, saya diajak bergabung menjadi jurnalis biro Indonesia untuk sebuah media yang terbit dan beredar di Taiwan. Alhamdulillah lebih dari 10 tahun saya bergabung dengan dunia media yang tak jauh dari kegiatan menulis dan membaca, hingga saya mundur teratur karena harus mulai bisa fokus mengurus keluarga.

Jadi ibu rumah tangga tak serta merta memutuskan hobi dan kebiasaan saya dalam menulis dan membaca. Didukung dengan adanya internet masuk desa, kesempatan untuk tetap bisa menulis dan membaca semakin terbuka lebar. Blog jadi salah satu pilihan saya untuk terus bisa merealisasikan semua pemikiran  keinginan dan harapan.

Disamping jika diseriusi blog juga bisa menjadi sumber penghasilan, meski tak bisa diprediksi macam gajiannya orang yang berstatus karyawan.

Jadilah aktivitas ngeblog menjadi bagian dari kehidupan saya di samping menjalankan tugas dan kewajiban sebagai istri dan seorang ibu rumah tangga.

Blogger ibu rumah tangga, lama-lama julukan itu muncul dengan sendirinya disematkan orang-orang yang melihat saya asyik dengan dunia ngeblog alias dunia tulis menulis di dunia maya.

Seiring dengan perkembangan teknologi ngeblog tak hanya lagi berisi tulisan saja, melainkan juga ada tuntutan untuk dipercantik dengan foto dan video yang menunjang tulisan. Coba lihat kreativitas di shinbi house yang siapa tahu bisa menginspirasi.

Begitulah, pelan-pelan saya pun belajar dan terus belajar. Menyicil tulisan dari dulu, hingga akhirnya bisa jadi bloger saat ini.

Perkembangan yang tidak sebentar dari awal hingga sekarang. Satu yang harus kita garis bawahi jangan sepelekan proses dan progres sekecil apa pun itu karena hidup ini bukan sulap yang cukup bermodalkan mantra sim salabim...

Bukan mengecilkan semangat para blogger baru, karena jika diniatkan dengan benar, dijalankan dengan konsisten dan penuh tanggung jawab, banyak kok blogger pemula yang bisa sukses dan bertahan. Jadi semua tergantung pada kerja keras masing-masing ya ...

Read more ...

Sabtu, 09 Desember 2023

Mata Kuliah Manajemen Keuangan dari Majikan

Singapura, Hong Kong dan Taiwan menjadi negera yang penuh sejarah bagi perjalanan hidup saya. Krisis moneter tahun 98/99 sekaligus runtuhannya rezim orde baru yang menyebabkan kondisi dalam negeri begitu sulit mendapatkan pekerjaan --jangankan mendapatkan, yang sudah bekerja saja diphk masal—membuat saya nekat pergi untuk menjadi TKI demi bisa memperpanjang kehidupan.

Tahun 2000 ketika pertama kali menginjakkan kaki di negara orang tidak semudah yang dibayangkan, meski tak semenakutkan yang dibicarakan mereka, para TKI yang dikembalikan ke penampungan. Cerita mereka yang dipulangkan kan begitu serem. Dan konyolnya banyak yang mempercayai. Kecuali saya, karena saya pikir, gak mungkin mereka dipulangkan kalau tak ada masalah (kasus) berat. Bukankah pengirim tenaga kerja juga gak mau rugi? Bukankah ongkos tiket, biaya makan dll itu pakai uang?

Meski saya nol pengalaman, bahasa hanya sekadar paham dan belum bisa berkomunikasi dengan lancar (sekalipun bahasa Upin Ipin alias Bahasa Melayu) tapi saya yakin, sebagai buruh migran yang legal saya punya kekuatan tersendiri.

Benar, ketika job kerja di luar kontrak, saya mungkin terbilang nekat ngomong ke majikan hingga saya dikembalikan ke agency. Sampai nginap di salah satu rumah pekerjanya karena sekian hari masih belum juga mendapatkan majikan pengganti.

Tapi ada hikmahnya juga. Rumah yang saya tempati berada di Yishun, bagian Utara Singapura. Sementara kantor yang menjadi agency majikan berada di pusat kota. Jadilah setiap hari saya pulang pergi jalan-jalan naik MRT. Berasa keren, secara tahunn 2000 bisa naik MRT ibarat mimpi.

Dipulangkan ke agency bukan sebuah aib, pun misalkan dikembalikan ke penampungan di tanah air, jika kita berada dalam koridor kebenaran. Bahkan sebenarnya agency maupun majikan rugi besar kalau harus memulangkan tenaga kerja ke Indonesia, jika memang tidak memiliki kesalahan fatal, seperti TKI itu mencuri, atau kena kasus berat lainnya.

Dua tahun di Singapura cukup membuka mata hati saya jika bekerja sebagai TKW tak serendah yang sering digunjingkan tetangga. Rasa penasaran dan jiwa petualang saya malah semakin terpompa untuk kembali mendapatkan pengalaman baru.

Dengan proses mandiri, saya dilepas derai air mata ibu dan adik untuk kembali bekerja ke Hong Kong. Awalnya mau langsung ke Taiwan, tapi saat itu pengiriman tenaga kerja ke Taiwan sedang tutup. Banyak yang menyarankan Hong Kong bisa jadi pilihan. Cuss... Bersama teman di penampungan yang sudah akrab bahkan sudah saling menganggap seperti saudara akhirnya kami berangkat.

Kontrak kerja di Hong Kong tidak memiliki kendala. Kalaupun ada masalah saya bisa menyelesaikan dengan pihak bersangkutan. Yang ada saya semakin banyak teman, banyak tahu dan banyak mencoba...

Di Hong Kong ini masa muda saya benar-benar diuji. Tidak munafik, saya bergaul dengan banyak kalangan baik itu sesama buruh migran, sesama tenaga kerja asing, bahkan sampai warga lokal.

Kelakuan dan sifat mereka memberikan saya banyak ilmu dan wawasan, baik yang positif maupun yang negatif. Tahu sendiri, Hong Kong negara yang bebas. Mau jungkir balik atau bergaya apapun selama tidak merugikan pihak lain dan tidak menganggu ketertiban, tak masalah.

Dan saya yang selalu penasaran, mencoba masuk ke semua kondisi itu. Tentu saja dengan disertai iman dan taqwa. Karena meksipun saya suka main ke Neptune di Admiralty, tapi saya juga tidak lupa untuk ikut kajian bersama Pak Muhaimin di Masjid Ammar and Osman Ramju Sadick, Wan Chai.

Merasa hidup dalam kebahagiaan yang semu dan tiada ujungnya saya menyudahi bekerja di Negeri Bertabur Dollar itu dengan niat memulai dari awal ke negara Formosa alias Taiwan.

Cukup percaya diri memulai kerja di Taiwan meski pada kontrak kerja pertama langsung kena kasus pekerjaan di luar job yang tertera pada kertas kontrak kerja.

Majikan saya yang seorang janda, justru banyak membantu di masa-masa sulit saya ketika pertama kali masuk lingkungan tempat kerja seperti menolong membeli simcard, membela saya ketika agency justru menyalahkan saya yang katanya ribet ga mau sabar, dan memberitahu mana makanan halal dan tidak.

Meski gaya bicaranya yang keras dan termasuk kasar untuk seorang perempuan (sampai saya sempat mikir pantas menjanda terus, laki-laki mana ada yang mau dekat kalau galak begitu, haha...) tapi saya merasa sedih juga ketika akhirnya saya harus meninggalkannya dan mencari pekerjaan lain.

Hingga saya mendapatkan pekerjaan pada sebuah keluarga pasangan muda, dengan profesi pramugari dan pramugara pesawat China Airlines untuk merawat dan menjaga ayah majikan pria yang menderita stroke.

Mungkin karena wawasan yang luas dan pemikiran terbuka, majikan perempuan banyak mengajarkan kepada saya kalau saya harus disiplin dan gigih dalam mencapai tujuan hidup. Utamanya saya harus pintar dalam mengelola keuangan.

Ah, pokoknya ini tipe majikan the best banget deh versi saya dan teman-teman sesama buruh migran yang sering saling tukar kabar. Sampai sekarang, hampir 13 tahun saya berpisah dengan mereka tapi kami masih tetap berkomunikasi dan saling memberi kabar.

Masih selalu teringat apa yang selalu dinasihatkan majikan kepada saya ketika saya masih kerja di sana.

Bahwa apapun pekerjaan kita, tetap harus pandai dalam mengelola keuangan. Jika mendapatkan rezeki, sisihkan sebagian untuk membantu sesama, terlebih kepada orang dekat yang sedang membutuhkan.

Jika memiliki skill atau kemampuan, terus asah dan kembangkan. Saat sudah tidak bekerja (formal) memiliki uang yang ditabung saja tidak cukup. Karena belum tentu kamu akan jadi bos, tapi yang diperlukan adalah kemandirian dalam hal finansial.

Dan tentu saja hal itu tidak mudah kita dapat kecuali melalui kerja keras, disiplin, dan belajar terus untuk berlatih.

Ketika bekerja di mana pun dan apa pun pekerjaannya, tetap terapkan gaya hidup hemat. Terlebih saat menjadi TKI. Ingat sekaya apa pun kita di luar negeri, kalau pulang ke Indonesia tanpa persiapan itu akan menambah 1 pengangguran di tanah air, bukan?

Saat memiliki uang dan kebebasan, jangan terbuai iming-ming investasi atau belanja yang nggak jelas. Apalagi hura-hura foya-foya menghabiskan uang tak jelas. Boleh bepergian ke tempat wisata asal jelas maksud dan tujuannya seperti yang dicontohkan travel blogger Medan Mbak Suci. Cuba saja lihat di blognya, meksipun ia kerap wara-wiri menjelajah banyak tempat, tapi semuanya bermanfaat, gak sampai boncos. Malah jadi pemasukan sampingan alias jalan-jalannya menghasilkan cuan.

Jadi soal pengelolaan keuangan ini bagi kaum buruh sangatlah rentan. Bukan hanya di tempat bekerja saja tapi juga di kampung halaman. Banyak lho kirim uang jor-joran eh gak tahunya itu uang dipakai suami buat kawin lagi. Ngenes, kan?

Majikan saya tahu itu. Meskipun saat bekerja padanya saya belum menikah, tapi ia sangat mewanti-wanti kalau uang yang saya dapat harus dikelola sendiri. Perhatian majikan makin keras ketika marak kasus penipuan yang menyasar para pekerja migran.

Terlebih kepada saya seorang perempuan yang saat itu belum menikah, majikan sangat gamblang mengingatkan, jangan dulu beli-beli hal tidak penting seperti kendaraan, fashion, dan kosmetik. Secara tidak langsung itu akan mengundang lelaki yang mengincar harta. Bukankah lelaki baik justru yang akan memberikan semua itu kelak pada istrinya?

Kesuksesan para TKI bukan seberapa banyak duit yang dibawa pulang. Tapi sepintar apa dia mengelola keuangannya, dan sejauh mana ide serta pemikirannya terbuka untuk menjalani kehidupan baru setelah tidak mendapatkan penghasilan tetap.

Read more ...

Kamis, 17 Agustus 2023

Kemerdekaan Pekerja Migran

Teringat waktu saya masih kerja sebagai pekerja migran (BMI) alias TKW di Hongkong, tanggal 17 Agustus kala itu jatuh pada hari Rabu. Tapi karena di negara Jackie Chan itu bukan tanggal merah, jadi ya tidak ada libur.

Merdeka! Merdeka!

Teriakan kecil para TKW di taman bawah flat pagi itu menandakan kalau Rabu ini hari special. Saat itu tahun 2000-an belum marak smartphone seperti sekarang. Baru ada ponsel yang bisa telepon dan SMS saja.

Tapi beberapa teman yang bisa libur dan datang ke KJRI di Causeway Bay sukses menceritakan bagaimana di kantor perwakilan negara Indonesia itu diadakan upacara HUT RI dengan cukup khidmat dan meriah dihias ornamen merah putih.

Belum lagi bisa makan prasmanan sepuasnya dengan sajian makanan khas tanah air. Kami yang kerja di bagian pelosok nya Hong Kong hanya bisa membayangkan dan memaknai kemerdekaan Indonesia seadanya. Bahkan hanya dalam angan dan bayangan.

Victoria Park Causeway Bay, surganya TKW Hongkong
Kemerdekaan Pekerja Migran
Lomba joged balon
Kemerdekaan Pekerja Migran
Lomba balap karung BMI Hong Kong di Taman Rumput Victoria Park. Foto: Aiyu Nara Saputro

Pada hari kemerdekaan RI itu saya tetap ngosek WC. Pun menyelesaikan pekerjaan membabu lainnya dengan penuh idealis. Salah satu bentuk rasa syukur saya yang mendapatkan majikan lumayan baik, adalah dengan menyelesaikan semua pekerjaan sebaik mungkin.

Saat buang sampah, teman-teman di bawah flat nanya, udah ketemu anak baru yang katanya disiksa Ama-nya? Saya menggeleng. Anak baru yang mana ya?

“Gantinya Asih yang diinterminit...”

Hah? Asih diinterminit? Kapan? Jadi nenek lampir itu beneran memulangkan Asih? Terus ngambil lagi anak Indo?

Seminggu kemarin saya memang tinggal di Lau Fau San, ngurus Akong yang jatuh dan kakinya bengkak jadi ga bisa jalan. Baru semalam pulang ke Tuen Mun ini. Dan tentu saja sangat terkejut mendapatkan kabar Asih di-PHK.

Semoga kamu mendapatkan majikan yang lebih baik, Sih. Tidak terasa mata saya jadi berkaca-kaca.

Asih, anak asal Indramayu Jawa Barat bekerja ke Hongkong belum ada pengalaman. Karena non ex itu, ia mendapatkan gaji underpay (di bawah UMR/kontrak kerja) dan tidak mendapatkan hak libur.

Majikannya tinggal di Causeway Bay, di Tuen Mun ini dia merawat nenek lampir, orang tua majikannya. Nenek lampir sebutan kami untuk nenek yang dijaga Asih, saking bencinya kami sama sikap dan perilakunya yang tidak berperikemanusiaan itu.

Nenek lampir itu terang-terangan menyuruh Asih kerja rodi, tanpa memberikan makan minum yang setimpal. Kalau di taman, ia sering memarahi Asih seolah Asih bukan manusia. Meski bicara dalam bahasa Hokien, kami sedikit mengerti kalau nenek itu menganggap Asih pekerja dari Indonesia yang waktunya di Hongkong ini ya untuk kerja, kerja dan kerja! Tuh lampir ngeyel anaknya bayar orang ya buat kerja. Jadi kumat darah tinggi nya alias ngomel mulu kalau lihat Asih, pekerja nya diem meski barang sebentar.

Tak memiliki perasaan kalau Asih perlu istirahat, perlu makan minum yang cukup supaya memiliki tenaga.

Saya dan teman-teman di flat yang sama sering sembunyi-sembunyi memberikan makanan atau minuman buat Asih.

Saya dan teman-teman yang dikoordinir Mba Diah patungan membeli baju musim dingin untuknya karena gak tega melihat Asih membiru kedinginan.

Sementara nenek lampir itu tidak memperdulikannya. Malah sering memarahi Asih yang katanya kerja lambat, bodoh, dan cacian lainnya yang membuat kita sungguh sedih mendengarnya.

Memasuki musim panas, kini Asih sudah tidak ada. Entah dipulangkan ke Indonesia, atau ke agency. Dan teman-teman bilang sudah ada gantinya Asih yang juga anak dari Indonesia.

Beberapa hari kemudian, saat saya jemput anak di bawah flat, ketemu anak baru (bisa dilihat dari penampilan dan gayanya, khususnya rambutnya yang biasanya masih berpotongan pendek seperti gaya rambut laki-laki).

Seperti linglung, si Mba yang dari perawakannya terlihat usianya jauh di bawah saya, sorot matanya sayu dengan mata panda terlihat jelas di sekitar wajah.

“Mba namanya siapa? Kerja di rumah mana?”

Tanya saya sambil celingak-celinguk, takut benar itu gantinya Asih, dan nenek lampirnya ada di bawah. Kalau benar, itu anak bisa kena marah jika kedapatan ngobrol dengan sesama TKW.

Dulu Asih sering dimarahi nenek lampirnya saat ketahuan bicara dengan kami saat ketemu di taman.

“A-aku Reni. Aku kerja di #707” katanya pelan.

Benar. Itu rumah yang ditempati mak lampir. Jadi Reni fix gantinya Asih yang dibicarakan teman-teman beberapa hari lalu.

“Saya Alisa. Tetanggamu di #0712. Kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang ya. Nenekmu lampir kan? Kamu jangan takut. Kamu harus sukses. Kalau lampir ngomel, anggap saja radio rusak, ya. Kalau kamu butuh apa, ke #0712 aja. Majikanku alhamdulillah baik.”

“I-iya Mba Alisa. Terimakasih.” Katanya masih dengan suara pelan. Jelas ia masih takut.

Kemerdekaan Pekerja Migran
Aktivitas para pekerja migran Indonesia saat libur kerja

Beberapa hari kemudian ketika ngajak anak majikan turun bermain di playground, saya lihat Reni mengikuti nenek lampir turun.

Saya perhatikan dari jauh, Reni mendapatkan perlakuan tak beda dari Asih. Entah masih baru, atau Reni beda dari Asih, meski neneknya itu cerewet dan nunjuk-nunjuk tapi Reni terlihat kalem.

Sungguh pemandangan yang mengandung bawang, disaat hari kemerdekaan diperingati di bulan ini, tapi gaya penjajahan masih jelas terasa kami dapatkan.

Ketika bola anakku menggelinding ke dekat mereka, saya mengambilnya sambil bertanya, Apakah Reni ada libur? Dia hanya menggeleng.

“Padahal aku pembalut habis Mba...” katanya tercekat.

Sudah saya duga. Nenek lampir itu mana mau mengerti kebutuhan pekerjanya. Sambil melengos menggendong anak saya bilang nanti akan saya kasih saat waktu buang sampah.

Saat anak yang saya jaga tidur siang, segera saya siapkan pembalut, kopi, mie instan, dan camilan lain yang belum tentu saya habiskan hingga libur minggu depan.

Tak lupa saya menulis surat untuk Reni. Surat berisi kalimat penyemangat supaya Reni bertahan dengan nenek lampirnya itu.

Reni harus berani melawan kalau Mak lampir semena-mena. Reni harus sukses meski gaji dibawah standar dan tanpa libur. Reni gak boleh kembali kena interminit seperti Asih dan TKW-TKW sebelumnya. Reni jangan mau dijajah!

Keenakan banget itu lampir main interminit pekerja. Tanpa mereka tahu bagaimana TKW dibuat kerja paksa selama masa potongan gaji. Kerja keras sementara gaji diperas.

Tujuh bulan masa potongan gaji lalu saat habis potongan masa kontrak diputus. Dikembalikan ke agency, lalu nyari majikan lagi, dan kembali memasuki masa potongan gaji.

Sungguh seperti kerja bakti demi menyuburkan agency dan memerah para TKW hingga ke tulang dan sum-sumnya.

Saat buang sampah satu keresek penuh berisi apa yang saya ingin kasih ke Reni langsung saya berikan. Tak lupa saya masukkan buletin informasi ketenagakerjaan berisi alamat, no hp pengaduan dan berita ketenagakerjaan lainnya yang harus Reni ketahui.

Sekalian saya sampaikan ke Mba Diah yang kerja satu flat dengan kami di lantai lima mengenai kondisi Reni. Mba Diah asal Lumajang yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun di satu majikan itu bisa dibilang senior kami di flat ini.

Ia sering membantu sesama TKW. Seperti selama ini ia yang mengkoordinir bantuan untuk Asih.

Kemerdekaan Pekerja Migran
Mba Diah ikut memeriahkan HUT RI dengan mengikuti lomba cerdas cermat tingkat Cece Hongkong. Foto: Diah Vidiawati

Bukan keinginan kami kerja jadi TKW, tapi karena tidak ada pilihan lain. Tidak semua beruntung mendapatkan majikan cukup baik seperti Mbak Diah, karena itu saat mengetahui ada sesama pekerja dari Indonesia yang menderita, minimal selama masa potongan gaji, kami sepakat untuk saling membantu semampunya.

Minggu tanggal 21 Agustus, saya baru berkesempatan libur. Di Victoria Park ramai digelar berbagai pertandingan dan permainan khas agustusan. Mulai lomba lari pakai karung/sarung, lomba makan kerupuk, lomba memasukkan pensil ke dalam botol sampai tarik tambang dan fashion show ala TKW.

Meski di negara orang tapi saat libur semua bisa mengekspresikan apapun yang diinginkannya. Kami gelar tikar dan tertawa bersama. Sambil diselingi makan dan kehebohan teman-teman dalam memeriahkan acara kemerdekaan yang sedikit tertunda.

Di ujung lapangan, di atas tenda megah dengan sokongan berbagai sponsor provider, musik menghentak diiringi lagu yang dibawakan artis dan band kenamaan ibu kota yang sengaja didatangkan panitia dari tanah air untuk menghibur masyarakat Indonesia yang sedang bekerja di Hongkong ini.

Kemerdekaan Pekerja Migran
Suasana fashion show BMI Hong Kong di Tenda Putih Victoria Park. Foto: Ida Yuna
Tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada lapangan untuk lokasi acara perlombaan, BMI Hong Kong menggelar acara di lorong bawah tanah sebuah stasiun MRT. Kalau ketahuan pakde alias polisi HK, jelas bisa dibubarkan. Foto: Ninik Colection

Dalam satu kesempatan saya mendapatkan dua kondisi nasib TKW yang berseberangan. Satu sisi bahagia menikmati kemerdekaan (kebebasan saat liburan) sisi lain ada yang terpenjara dijajah oleh majikan yang tidak berperikemanusiaan seperti yang dialami Reni, dan masih banyak TKW -TKW lainnya dengan nasib yang sama bahkan lebih parah.

Kondisi yang teramat jomplang saat perayaan HUT RI ini sungguh tak bisa terlupakan. Saat itu memang belum ada BNP2TKI atau sekarang yang diubah jadi BP2TKI. Sehingga kondisi para pekerja migran semenderita apapun banyak tidak bisa full terpantau.

Kemerdekaan Pekerja Migran

Dan sekarang, harapan saya di usia ke 78 tahun kemerdekaan Indonesia ini semoga perlindungan pemerintah untuk para pekerja migran lebih nyata adanya.

Berantas calo dan agency yang hanya memeras para pekerja dengan sistem apapun. Setidaknya meski tidak ada lapangan pekerjaan buat kami di dalam negeri, beri kami kemudahan dalam mengurus segala persyaratan dan birokrasi saat memilih mengadu nasib merantau ke luar negeri.

Read more ...