Tampilkan postingan dengan label Budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juni 2026

Makanan Murah dan Sehat Sesuai Bahan Lokal Indonesia

Makanan Sehat dan Terjangkau Bahan Lokal
Artikel ini mengenang almarhumah ibu yang drastis mengubah makanan yang dikonsumsinya setelah dinyatakan dokter memiliki angka diabetes yang cukup tinggi 


Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap makanan sehat harus mahal. Padahal, dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang mudah ditemukan di pasar tradisional maupun warung sekitar, kita bisa menyajikan makanan yang bergizi, lezat, dan ramah di kantong.

Bu Maria G. Soemitro baru saja update artikel tentang mie yang terbuat dari tepung singkong, sebagai pengganti tepung terigu. Ini kabar bagus bagi penyuka olahan mie dan turunannya sementara berjuang menghindari penganan yang berbahan terigu.

Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di pedesaan, bahan makanan lokal seperti singkong sering kali lebih mudah diperoleh dengan harga terjangkau.

Bahkan saya sendiri alhamdulillah bisa mengandalkan sayuran dari kebun, ikan air tawar dari kolam di belakang rumah, jagung, pisang dan lainnya kalau pas nanam dan ada yang sudah bisa dipanen, hingga berbagai jenis buah musiman seperti mangga,jambu, sirsak, markisa, sawo belanda dan sebagainya bisa jadi sumber gizi yang sangat baik untuk keluarga.

Belum ada telur ayam kampung yang cukup melimpah dan daging ayam kampung yang bisa kami sembelih karena terlalu banyak bikin tetangga berisik. Hihi, maafkan ayam-ayam kami yang suka bikin ulah ya wahai para tetanggaku…

Akhirnya saya mengurangi menetaskan telur dengan cara mengambil telurnya untuk dikonsumsi serta menyembelih atau menjual ayam jika ada tetangga yang mau membeli.

Makanan Sehat dan Terjangkau Bahan Lokal
Dari delapan belas telur, saya ambil sebelas butir. Semoga induk ayam gak sadar belahan jiwanya saya curi


Mengapa Memilih Bahan Lokal?

Menggunakan bahan pangan lokal memiliki banyak keuntungan. Selain harganya lebih murah karena tidak memerlukan biaya distribusi yang tinggi, bahan lokal biasanya lebih segar dan memiliki kandungan nutrisi yang masih terjaga.

Dengan membeli produk lokal, kita juga turut membantu petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Seperti di Pasar Pagelaran Cianjur Selatan, pasar yang buka seminggu dua kali ini (setiap Selasa dan Jumat) masih banyak diisi penjual dari pelosok kampung di sekitar kecamatan Pagelaran. Banyak nenek-nenek yang masih semangat berjualan walaupun dagangannya itu bukan kebutuhan jaman now.

Mereka menjual hasil kebun dan olahannya. Seperti lalapan, bumbu-bumbu, sayuran, buah-buahan sampai kuliner yang tidak bisa sembarangan orang bisa membuatnya (contoh iwung dan picung)

Saat kita membeli dari penjual kecil seperti mereka, secara tidak langsung kita sudah menglariskan dagangannya. Membantu perekonomian mereka belum lagi kalau kita niatkan sedekah.

Karena saya lihat banyak buibu yang membeli dagangan mereka padahal sebenarnya mereka tidak membutuhkan. Seperti beli picung, hanya secara tidak langsung ikut membeli karena sebenarnya di rumah tidak ada yang suka makan picung. Bahkan ga tahu cara mengolah picung itu bagaimana...

Kalau memberi uang begitu saja, belum tentu diterima (masih banyak pedagang yang menjunjung tinggi harga diri) lebih baik berdagang daripada meminta-minta, misalnya. Walaupun murni niat yang ngasih emang setulus itu. Tapi lebih enak dilihat dan terasa perjuangannya (mungkin) kalau transaksi nya melalui jual beli daripada memberi yang bisa dianggap menjatuhkan harga diri seseorang. Maaf kalau dalam hal ini saya ada kekeliruan atau salah penafsiran.


Makanan Sehat dan Terjangkau Bahan Lokal
Belanja mingguan dari pasar tradisional. Semuanya seharga 32 ribu rupiah 

Sekarang mari kembali ke laptop bahasan soal makanan lokal


Pilihan Makanan Murah dan Sehat


Sayur hijau dan tahu tempe lokal

Tempe merupakan sumber protein nabati yang kaya nutrisi dan harganya sangat terjangkau. Dipadukan dengan sayur hijau seperti bayam, kangkung, atau daun singkong, menu ini sudah memenuhi kebutuhan protein, vitamin, dan mineral harian.


Ikan air tawar

Ikan lele, nila, mujair, atau ikan mas banyak dibudidayakan di berbagai daerah Indonesia. Kandungan protein dan omega-3 pada ikan sangat baik untuk kesehatan tubuh dan perkembangan otak.


Jagung dan umbi-umbian sebagai pengganti nasi

Di beberapa daerah, jagung telah lama menjadi makanan pokok. Jagung mengandung serat yang lebih tinggi dibandingkan nasi putih dan dapat membantu menjaga rasa kenyang lebih lama.

Beberapa orang teman saya yang mengidap diabetes sekarang beralih mengonsumsi jagung dan umbi-umbian seperti talas dan singkong daripada nasi putih.

Kalaupun kangen makan nasi, beralih dari beras putih ke beras merah yang di kampung saja beras merah saat ini cukup sulit didapatkan (jarang petani yang menanam padi jenis cere/beas beureum).


Singkong dan ubi

Singkong serta ubi jalar merupakan sumber karbohidrat yang murah dan mudah ditemukan. Selain mengenyangkan, keduanya juga mengandung vitamin dan serat yang baik untuk pencernaan.

Singkong dan ubi juga bisa diolah menjadi menu olahan lainnya yang tidak kalah enak seperti peuyeum, combro, colenak, keremes, keripik dan sebagainya 


Pepes Ikan atau tahu

Pepes merupakan cara memasak yang sehat karena tidak membutuhkan banyak minyak. Dengan bumbu rempah khas Indonesia, pepes tetap lezat sekaligus lebih baik untuk kesehatan.


Lalapan dan sambal

Mentimun, kemangi, kol, daun pepaya muda, dan berbagai jenis lalapan lainnya kaya akan vitamin serta serat. Lalapan dapat menjadi pelengkap makan yang murah namun menyehatkan. Kalau tidak suka dengan lalapan (ada yg bilang itu makanan kambing), silahkan skip aja ya.


Makanan Sehat dan Terjangkau Bahan Lokal
Semoga menginspirasi 😁



Contoh Menu Sehat Hemat untuk Sehari

Karena saat ini sedang liburan sekolah maka suami tak perlu sarapan cepat-cepat. Saya bisa menyiapkan sedikit santai.

Menu sarapan ala kampung yang dibuat seperti ubi dan pisang. Keduanya sama-sama dikukus minumnya air teh panas. Tapi saya sedia juga air putih dingin. Karena singkong dan ubi di dapur berasal dari kebun sendiri jadi anggap saja gak beli ya...

Makan siang saya hidangkan nasi secukupnya (di rumah hanya saya dan suami) dengan lauk tempe goreng, sayur bening bayam, sambal dan lalapan (ini gak pernah absen selalu ada di meja makan) ditambah ikan asin atau ikan pindang.

Kerupuk kadang ada kadang tidak. Bukan kerupuk blek, tapi kerupuk kiloan yang saya goreng atau sangrai sendiri.

Beras dari sawah gadean, tempe lima ribu per papan. Dua ikat bayam dua ribu rupiah, sambal dan lalapan belinya seminggu sekali semua dua puluh ribu. Kalau buat tujuh hari jadi perkiraan tiga ribu rupiah aja ya.

Ikan asin atau pindang belinya seminggu sekali juga. Seperempat kg ikan asin lima belas ribu rupiah atau dua ikan pindang seharga sepuluh ribu rupiah. Itu lebih dari cukup untuk seminggu. Menghidangkan berganti supaya tidak bosan. Kalau diratakan sekitar per hari tiga ribu rupiah juga. 

Kerupuk seperempat lima ribu rupiah. Digoreng seminggu dua kali. Bahkan sering sisa karena tempat kerupuknya tidak terlalu besar. Anggap saja seribu per hari.

Saat makan malam (sebenarnya buat kami bukan malam, tapi sore) lauknya kalau yang siang masih ada ya tetap dihabiskan. Kalau harus masak baru, saya buat pepes (kukus) ikan dan tumis kangkung.

Ikan setengah kg dua puluh ribu ada beberapa ekor. Saya suka milih yang setengah kg ada dua. Kangkung per ikat seribuan. Ambil saja bulatnya biaya yg keluar sebelas ribu rupiah.

Buah-buahan kalau kami sedang tidak panen paling sering beli jeruk lokal. Satu kg lima belas ribu. Seminggu beli buah bisa dua kali. Kalau dianggap empat ribu rupiah per hari gak protes kan?


Makanan Sehat dan Terjangkau Bahan Lokal


Jadi perhitungan kasar untuk sarapan, makan siang dan makan sore kami per hari sebesar dua puluh sembilan ribu. Kalau ada yg protes salah hitung ntar saya update deh...

Itu saja. Menu seperti itu dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga tanpa harus mengeluarkan biaya besar kan? Sekali lagi itu hanya untuk saya dan suami ya. Kalau ada anak kecil mungkin lain lagi ceritanya. Secara makanan kesukaannya kan beda dengan orang tua.


Tips Menghemat Pengeluaran Makanan

Berdasarkan pengalaman sendiri yang tinggal di pedesaan 

1. Belanja di pasar tradisional saat pagi hari. Selain masih banyak pilihan belanja di pasar tradisional memang lebih murah. Sayuran bisa dihargai seribuan. Paling mahal lima ribu empat ikat jenis sayuran yang berbeda.

2. Pilih buah dan sayuran yang sedang musim.

3. Manfaatkan lahan pekarangan untuk menanam cabai, kangkung, bayam, atau daun bawang.

Jahe, lengkuas, kunyit, kencur, salam, pandan, daun jeruk dan serai alhamdulilah buat saya tidak usah beli. Saat memerlukan tinggal melipir ke halaman dan ambil secukupnya.

4. Kurangi konsumsi makanan kemasan dan minuman manis.

5. Masak sendiri di rumah agar lebih hemat dan sehat.

Buat yang ngekost atau sibuk, itu diluar kendali saya, ya. Haha. Jangan sampai komplain seolah saya egois bikin artikel untuk kehidupan diri saya sendiri saja.


Makanan Sehat dan Terjangkau Bahan Lokal
Bergosong-gosong ria sambil berkejaran beradu cepat dengan para ayam. Demi sesuap nasi dari gabah yang dipanen lalu harus dijemur ini...



Makan makanan lokal, berani?

Jadi mau mendapatkan makanan sehat tidak harus mahal itu bukan hanya perumpamaan. Dengan memanfaatkan bahan lokal Indonesia seperti tempe, tahu, ikan air tawar, sayuran hijau, singkong, jagung, dan buah musiman, setiap keluarga dapat menikmati makanan bergizi dengan biaya yang terjangkau.

Selain menyehatkan tubuh, insyaallah kebiasaan mengonsumsi pangan lokal juga membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha di daerah.

Mulailah dari menu sederhana sehari-hari, karena hidup sehat bisa dimulai dari dapur rumah sendiri.




Read more ...

Senin, 12 Januari 2026

Nasib Kecipir Warisan

Hujan terus menerus mengguyur bikin cambah kecipir pemberian almarhumah ibu saya cepat membusuk. Gak bisa saya pindahkan karena memang membuat pembibitan langsung di lahan kebun. Mau gimana lagi selain pasrah akan nasib kecipir itu. Tumbuh bagus, ya syukur, gak juga ya namanya juga musibah bagi petani kampung.

Sejak sepulang dari merantau dan berumah tangga, ibu saya rajin nanam apa saja di halaman. Termasuk kecipir (Psophocarpus tetragonolobus). Jaat, roay, leunca, dan lalapan lain khas Sunda selalu tumbuh subur ketika ditanam almarhumah ibu. Padahal nanamnya hanya di pot kecil dengan tanah tidak seberapa.

Nama dan Istilah Kecipir

Kecipir atau kami di Sunda biasa memanggilnya dengan istilah jaat. Ada juga yang nyebutnya dengan istilah lokal lain seperti kacang botol, kacang belimbing, kacang embing dan istilah lainnya tergantung daerah di Indonesia aja pastinya ya.

Makanya saya juga jadi penasaran di Sumatera kecipir ini disebut apa? di Kalimantan sana kecipir ini disebut dengan nama apa? Dan sepertinya harus bertanya kepada Travel Blogger Balikpapan Mbak Aisyah Dian. Atau ke komunitas lain seperti Food Blogger Balikpapan dan Beauty Blogger Balikpapan untuk mengetahui informasi tentang nama di sana untuk kecipir ini.

Secara infonya katanya kecipir ini memang bagus tumbuh di wilayah tropis Asia Tenggara, Papua Nugini, hingga India.

Di beberapa artikel yang pernah saya baca, katanya kecipir itu bukan hanya polong mudanya saja yang bisa dimakan. Tapi juga daun nya, bunga nya, dan umbi. Daun dan bunganya saya sudah sering lihat, sementara umbinya saya malah belum pernah tahu. Selama ini saya cuma konsumsi buahnya saja yang biasanya dimakan mentah sebagai lalapan atau dimasak sebagai sayur.

Nasib Kecipir Warisan
Kecambah kecipir yang mulai merambat

Kandungan Gizi Kecipir

Meski banyak orang tidak melirik tumbuhan ini tapi ternyata memiliki kandungan dan kelebihan yang bagus lho, kecipir ini.

- Protein nabati (bahkan bisa menyaingi kedelai sebagai sumber protein)

- Karbohidrat dan serat yang baik untuk pencernaan

- Vitamin A & C untuk kesehatan mata dan daya tahan tubuh

- Mineral seperti kalsium dan zat besi

Manfaat untuk Kesehatan:

- Menurunkan berat badan berkat serat tinggi yang membuat kenyang lebih lama

- Menjaga kesehatan mata karena kandungan vitamin A

- Mengurangi risiko stroke dan penyakit jantung dengan nutrisi antioksidan

- Alternatif protein nabati yang ramah vegetarian/vegan

Karena berbagai kandungan dan kelebihannya itu ditambah kebiasaan sejak kecil keluarga sudah terbiasa konsumsi kecipir, maka saya pun mengikuti jejak almarhumah si mama untuk terus menanam jenis tanaman kacang-kacangan yang sering dianggap sebagai “sayuran kampung” ini.

Meski dianggap sayuran kampung karena mudah ditanam di pekarangan, justru saya kesulitan menanam kecipir ini. Beda dengan ibu saya, yang selalu berhasil menanam hingga subur dan mereka berbakti, saya justru sering mendapatkan kegagalan dalam nanam apapun. Termasuk kecipir ini.

Bibit polong kecipir warisan ibu saya saat beliau masih ada ini saya simpan baik-baik, mengingat saya dan suami begitu suka akan kecipir muda yang selain jadi lalap bisa juga diolah menjadi tumisan, sayur bening, atau bahkan tauco kecipir.

Waktu si mama masih ada saya tidak menanamnya karena di rumahnya ada tumbuh subur. Setiap ke sana selalu panen dan saya bawa ke rumah.

Setelah mama tiada, kepikiran saya harus mempertahankan tanaman ini yang sekaligus juga berperan dalam ketahanan pangan lokal karena seluruh bagiannya bermanfaat.

Saya akui, kecipir bukan hanya sayuran tradisional yang lezat, tapi juga superfood lokal dengan potensi besar untuk kesehatan dan gizi masyarakat.

Gak heran kalau Blogger Tangsel Teh Ani Berta juga menyukainya. Dulu kalau panen kecipir melimpah saya sering ngasih tetangga. Sampai pernah kirim ke Teh Ani juga. Beberapa kali Teh Ani bertanya udah panen jaat lagi gak? Saya bilang enggak nanam. Sejak itu, kini saya baru kepikiran mau nanam lagi.

Meski saya dan suami juga neneknya dan Omnya suka kecipir, tapi tidak dengan anak saya juga keponakan (anak adik saya).

Karena itu saya sempat nyari ide, bagaimana supaya anak juga suka memakan akan si ular hijau ini.

Dulu saya search dan dapat resep kreatif berbahan kecipir yang bisa diolah jadi camilan yang disukai anak.

Nasib Kecipir Warisan

Resep Kreatif dengan Kecipir

Jadi selain jadi lalapan, kecipir juga bisa diolah dengan cara ditumis (Tumis Kecipir Pedas Manis), dijadikan Salad (Salad Tropis Kecipir), digoreng (Kecipir Goreng Tepung ala Snack) disayur (Sayur Bening Kecipir & Jagung) disambal (Kecipir Sambal Matah) dll.

Nah yang disukai anak ternyata kecipir goreng dengan tepung yang diolah seperti camilan goreng daun bayam, keripik pare, ya sejenis itulah.

Resep Kecipir Goreng Tepung ala Snack

Siapa tahu ada yang mau coba juga resepnya, bisa langsung pakai atau modifikasi sesuai keinginan dan favorit masing-masing ya…

Kalau beneran disukai banyak kalangan berarti kecipir yang sering dianggap sayuran kampung yang sederhana ini bisa naik kelas, cukup dengan sedikit kreativitas.

Kecipir bisa berubah jadi camilan modern yang renyah dan menggoda. Gak mudah menghadirkan kecipir sebagai snack gurih yang cocok untuk teman ngobrol sore, suguhan tamu, atau ide jualan rumahan tapi mana tahu kalau tidak kita coba ya…

Bahan-Bahan

- 200 gram kecipir muda, potong-potong sesuai selera

- 100 gram tepung terigu

- 50 gram tepung beras (untuk ekstra renyah)

- 1 sdm tepung maizena

- 2 siung bawang putih, haluskan

- ½ sdt ketumbar bubuk

- ½ sdt garam

- ½ sdt kaldu bubuk (opsional)

- 150 ml air es

- Minyak goreng secukupnya

Cara Membuat

1. Siapkan adonan tepung: Campur tepung terigu, tepung beras, maizena, bawang putih halus, ketumbar, garam, dan kaldu bubuk.

2. Tambahkan air es: Tuang sedikit demi sedikit hingga adonan cukup kental untuk melapisi kecipir.

3. Baluri kecipir: Masukkan potongan kecipir ke dalam adonan, pastikan terlapisi rata.

4. Goreng: Panaskan minyak, goreng ji kecipir hingga kuning keemasan dan renyah.

5. Sajikan: Angkat, tiriskan, dan sajikan hangat dengan saus sambal atau mayones.

Nasib Kecipir Warisan
Kecipir Goreng Tepung

Tips & Variasi

- Gunakan air es agar hasil gorengan lebih crispy.

- Tambahkan daun bawang cincang ke adonan untuk aroma segar. Kalau gak suka boleh diskip aja ya.

- Bisa juga dicoba dengan tepung bumbu instan untuk rasa praktis.

- Sajikan dengan sambal matah atau saus keju agar lebih kekinian.

Sekali lagi semua tergantung selera, jadi boleh otak atik sendiri itu resep dan bahannya.

Nasib Kecipir Warisan

Balik lagi ke laptop, bahasan awal akan nasib kecipir saya yang kehujanan sepanjang siang dan malam itu, tumbuh sih tumbuh tapi udah segede itu belum juga terlihat bakal bunga.

Pupuk organik dan kotoran hewan sudah diberikan, entah karena intensitas hujan yang terlalu banyak bikin semua zat dan unsur hara yang dibutuhkan ikut terbawa aliran air sebelum diserap akar? Ga tahu juga.

Kita tunggu deh beberapa waktu kedepan. Semoga saja bisa segera berbunga dan berbuah. Mohon doanya ya…

Read more ...

Rabu, 25 Desember 2024

Beranalog Investasi Hijau Pohon Jati India

Meski sekarang berada di jaman serba digital, namun kegiatan analog masih sangat penting untuk dilakukan.

Kegiatan analog adalah aktivitas yang tidak melibatkan perangkat digital. Jadi, lupakan gadget, putuskan sejenak koneksi dengan internet. Sementara hentikan kegiatan live dan update sosmed nya...

Untuk Apa Kegiatan Analog?

Kenapa kita harus tetap melakukan kegiatan analog? Selain supaya kita tidak ketergantungan, juga kegiatan analog ini membawa banyak manfaat.

Manfaat yang bisa kita dapat saat melakukan kegiatan analog, selain terus meningkatkan keterampilan dan kreativitas juga dapat meningkatkan kesehatan fisik.

Otomatis bisa meningkatkan kesehatan mental dan sosial juga. Sisi lainnya kita bisa mengembangkan keahlian praktis, tanpa meminta bantuan gugel. Hehehe... Yakan?

Keuntungan lainnya dari kegiatan analog ini bisa jadi sebagai hiburan dan relaksasi juga.

Intinya kegiatan analog ini tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental tetapi juga membantu mengurangi ketergantungan pada teknologi.

Kegiatan analog apa yang saya tekuni saat ini? Selain suka mendaki gunung, saya juga suka asruk-asrukan ke kebun. Bukan kebun macam untuk gaya-gayaan tapi emang kebun semi hutan yang tidak banyak dijamah manusia.

Beranalog di kebun
Di kebun tanpa sinyal ini saya bisa menginjak humus dan melupakan semenan beton

Mungkin karena emang passion dan tuntutan kehidupan di kampung kali ya secara di sini masih banyak kebun dan lahan kosong jadi asruk-asrukan ke hutan dan berkebun buat saya itu ibarat kegiatan pesan aplikasi online bagi orang yang tinggal di perkotaan.

Alhamdulillah dengan mendaki gunung atau berkebun, saya bisa terus melatih kesabaran, belajar hidup apa adanya menyatu dengan alam, sering berpijak langsung dengan humus tanah dan itu semua membawa perubahan meningkatkan kebahagiaan suasana hati.

Aktivitas berkebun yang saat ini yang saya dan keluarga lakukan adalah menanam pohon jati India (Tectona grandis)

Bibit jati India
Pembibitan mandiri pohon jati India

Kegiatan Analog Menanam Pohon Jati India

Tectona grandis nama ilmiah dari pohon jati India dikenal juga sebagai teak wood, menjadi pilihan saya dan suami sebagai pengisi waktu hidup di kampung karena kegiatan ini kami percaya membawa banyak manfaat.

Menanam pohon jati India kami pilih karena jenis ini bernilai tinggi secara ekonomi, ramah lingkungan, dan mudah dirawat.

Secara sederhana berikut langkah-langkah dan panduan menanam pohon jati India ala-ala kami, keluarga bringka.

Persiapan Lahan

Pilih lokasi yang tepat karena pohon jati India membutuhkan tanah subur, drainase yang baik, dan sinar matahari penuh.

Beberapa waktu lalu kami membeli lahan yang dianggap kurang produktif oleh pemiliknya dengan harga cukup miring. Insyaallah jika diolah dengan tepat bisa jadi sumber investasi sekaligus perlindungan area sekitar.

Orang lain tidak ada yang berminat dengan lahan itu karena cukup jauh dari pemukiman dan mungkin karenanya di sana susah sinyal (bahkan sering hilang).

Tapi buat saya dan suami lahan ini justru memiliki daya tarik tersendiri. Seolah kami ini jadi pemilik pabrik oksigen saking masih terasa bersihnya udara di lahan ini.

Langkah awal yang kami lakukan adalah pembersihan lahan dengan cara menyingkirkan gulma, batu, atau sisa tanaman lain.

Lalu mendiamkan beberapa hari untuk menetralisir kondisi tanah. Selanjutnya pak suami mempersiapkan tanah untuk penanaman dengan lebih dulu menggemburkannya. Kedalaman sekitar 30–40 cm.

Kami melakukan itu secara manual ya, menggunakan alat perkakas sederhana cangkul dan garpu. Oya, saat penggemburan tanah ini pastikan pH tanah berkisar antara 6–7.2.

Memilih Bibit

Bibit jati India bisa dibeli atau dengan melakukan pembibitan sendiri (ngabungbung).

Perbanyakan bibit bisa dilakukan melalui biji, stek, atau pembibitan langsung. Saya dan suami melakukan pembibitan sendiri dengan cara mengumpulkan buah pohon jati India yang sudah tua (warna kuning) lalu menyemai hingga tumbuh bakal pohon.

Persemaian bibit jati India
Biji pohon jati India yang disemai mulai tumbuh

Kriteria bibit yang baik, pilih bibit yang sehat dengan batang lurus, daun hijau segar, dan tinggi minimal 30 cm.

Setelah lahan dan bibit siap maka langkah selanjutnya adalah penanaman.

Penanaman

Awali dengan menggali lubang. Buat lubang dengan kedalaman 30–40 cm dan diameter sekitar 20–30 cm.

Jarak lubang untuk tanam antara satu pohon dengan pohon lainnya idealnya 2,5–3 meter antar tanaman untuk memberikan ruang tumbuh optimal.

Saat melakukan penanaman letakkan bibit di dalam lubang, lalu timbun dengan tanah campuran pupuk organik. Pastikan akar tertutup rapat.

Perawatan

Lakukan penyiraman secara teratur, terutama di musim kemarau, untuk menjaga kelembapan tanah. Karena kami menanam di lahan yang cukup jauh dari rumah maka penyiraman hanya mengandalkan air hujan saja.

Gunakan pupuk organik atau pupuk NPK setiap 3–6 bulan untuk mendukung pertumbuhan pohon jati India.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Awasi serangan hama seperti ulat daun atau penyakit jamur, dan gunakan pestisida alami bila diperlukan. Kami sering menemukan ulat di daun dan itu bisa mematahkan bahkan mematikan bibit yang baru ditanam.

Bibit jati India siap tanam
Bibit jati India daunnya rawan kena hama

Setelah pohon tumbuh dengan baik kami melakukan penyiangan secara rutin. Membersihkan gulma secara rutin ini dilakukan untuk menghindari persaingan nutrisi. Sehingga nanti pohon bisa tumbuh dengan baik dan lurus.

Masa Panen

Pohon jati India umumnya siap dipanen setelah 10–20 tahun, tergantung pada tujuan pemanfaatan kayunya.

Wah, berarti apa yang saya dan suami tanam ini belum tentu bisa menghasilkan secepatnya dong? Betul. Hal itu sudah kami pikirkan sebelum menanam pohon jati India ini.

Perlu diketahui tujuan saya dan suami menanam pohon bukan untuk keuntungan semata melainkan untuk melestarikan tanah dan alam juga.

Kami menanam pohon lillahitaala. Bisa kami panen ya syukur, jika tidak pun (bisa saja kami keburu meninggal) toh masih bisa jadi peninggalan untuk bekal anak dan cucu.

Memanen pohon jati India yang sudah cukup umur, kayu yang dihasilkan nya terkenal kuat, tahan lama, dan bernilai jual tinggi, sehingga ideal untuk furnitur, lantai, dan konstruksi. Semakin berumur semakin bagus dan bernilai tinggi.

Kalaupun apa yang kami tanam belum sempat berbakti (dipanen) tetapi kami sudah meninggal, tetap kami tidak kecil hati karena manfaat dari menanam pohon jati India ini sudah lebih dahulu bisa diambil dan dirasakan.

Manfaat Menanam Pohon Jati India

Dengan menanam pohon jati India saya dan suami bisa ikut menjaga kelestarian lingkungan karena pohon jati India bisa menyerap karbon dan mengurangi dampak perubahan iklim.

Secara tidak langsung keluarga kami juga membantu konservasi tanah karena akar pohon jati India membantu mencegah erosi.

Beranalog di Kebun
Suasana kabut di kebun bikin betah dan kadang bikin lupa deadline. Hehe...

Dengan perawatan yang tepat, menanam pohon jati India dapat menjadi investasi jangka panjang sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.

Dan kembali ke bahasan awal mengenai kegiatan analog, dengan melakukan penanaman pohon ini, secara tidak langsung kegiatan kami di kebun ini bisa melupakan sejenak gadget dan turunannya.

Bayangkan saat kami ke kebun, di sana tidak ada sinyal. Jadi bawa gadget juga hanya busa digunakan untuk senter atau melihat jam (waktu) saja.

Lebih lengkap bagaimana kami menanam pohon jati India, sempat direkam disini https://vt.tiktok.com/ZS6jE9JgX/

Jadi manteman kegiatan analog apa nih yang sering kalian lakukan? Pastinya bermanfaat dong ya...

Okedeh, selamat menjalankan kegiatan analog nya ya...

Read more ...

Senin, 08 Januari 2024

Antara Penolakan Sopir Angkot dan Panen Manggis

Setelah melakukan perjalanan kendaraan roda dua nonstop dari Pagelaran ke Karangtengah selama lebih dari dua jam lebih,  sampai di rumah sebelum membuka kunci pintu, mata ini terbelalak melihat pohon manggis yang ditanam di sudut pekarangan ternyata berbuah cukup lebat.

Bagaimana tidak terkejut, pohon manggis yang sudah bertahun-tahun susah payah ditanam dan dirawat (mengingat lahan kecil dan terhalang tembok rumah tetangga sehingga pertumbuhan tidak maksimal) ternyata sudah berbakti dengan memberikan buah yang cukup banyak.

Alhamdulillah ada obat haus, secara diteliti lebih lama, di pohon manggis yang sebagian besar masih mentah itu ada beberapa yang sudah berwarna ungu alias sudah matang. Bahkan ketika pandangan menyapu ke bawah pohonnya ada dua buah manggis yang sudah jatuh, tapi kondisi masih bagus. Mantap, secara itu namanya matang di pohon. Bukan matang peraman. Rasanya terbayang manisnya legit asli.

Karena penasaran, alih-alih segera membuka kunci dan masuk rumah, meletakkan semua barang bawaan-- saya dan suami diikuti anak justru malah memutar ke halaman samping dan belakang. Penasaran ingin melihat pohon manggis yang ditanam juga di halaman samping dan halaman belakang.

Antara Penolakan Sopir Angkot dan Panen Manggis
Pohon manggis di sudut pekarangan ternyata berbuah!

Yang di halaman samping ternyata berbuah juga, ada empat buah manggis yang masih mentah. Tapi dibandingkan dengan buah dari pohon di halaman depan, buah manggis yang di samping ini lebih besar-besar.

Sementara manggis yang di halaman belakang ternyata belum berbuah. Entah sudah berbuah tapi keburu ada yang ngambil, secara manggis di belakang itu tidak dipagar. Buah kelapa dan jambu yang bersisian dengan pohon manggis itu saja sudah sering kedapatan dicuri orang. Maklum, kami jarang tinggal di rumah peninggalan mertua di Cianjur kota ini. Tepatnya setelah gempa Cianjur menimpa akhir tahun 2022 lalu.

Setelah merasa puas dan bahagia dengan berbuahnya pohon manggis yang ditanam sendiri itu baru kami masuk rumah dan bersih-bersih.

Jika dihitung, mulai tanam sampai berbuah kali ini pohon manggis itu sudah berusia sekitar lima tahun. Alhamdulillah. Tuhan masih memberikan kesempatan saya dan suami menanam buah-buahan dan hasilnya bisa dipetik sendiri. Padahal sih dulunya kami berniat menanam pohon buah-buahan itu hasilnya untuk dipetik anak cucu.

Secara kalau ingat perjuangan membawa dan menanam pohon manggis itu sempat bikin drama yang bikin hati kesal dan mengumpat.

Antara Penolakan Sopir Angkot dan Panen Manggis
Manggis di samping rumah lebih sedikit tapi buahnya lebih besar

Jadi saat itu saya yang masih aktif di Migrant Institute bawahan naungannya Dompet Dhuafa setiap tahun mengadakan jambore buruh migran. Mantan buruh migran beserta keluarganya bisa hadir dan mengikuti seluruh rangkaian acara. Kebetulan saat itu jambore diadakan di Sleman Yogyakarta dihadiri oleh menteri tenaga kerja saat itu, Pak Hanif Dhakiri.

Setelah selesai acara, sebelum pulang suami yang hobi nanam apa saja jalan-jalan melihat bibit pohon salak, eh malah bertemu dengan penjual bibit buah-buahan manggis yang katanya bagus. Penjual bilang pembeli bibit buah-buahan dari dia mengatakan lima tahun saja tanaman itu sudah bisa berbuah. Saya saat itu percaya tidak percaya. Tapi suami keukeuh mau beli bibit buah manggis tiga pohon meski harga termasuk mahal.

Pengennya suami beli banyak, biar bisa nanam di kebun juga. Tapi saya ingatkan kalau beli banyak, susah membawanya secara kami saat itu ke Yogyakarta naik bus. Mau disimpan dimana itu bibit pohonnya. Di bagasi bis gak yakin bisa aman. Yang ada bisa layu duluan kena panas mesin kendaraan. Masih mending kalau  bawa kendaraan sendiri.

Akhirnya jadilah beli tiga pohon. Saat di bus, bibit itu disimpan di sisi kursi sebelah dalam di samping saya. Secara anak dan suami duduk di barisan lain.

Tahu gak selama semalaman saya hampir ga bisa tidur gara-gara “menjaga” bibit pohon manggis itu supaya tidak rusak. Penjual bilang pucuk dan daun jangan sampai rusak.

Sampai di Cianjur, dari terminal bis ke rumah harus naik angkot sekali. Saat itu di sini belum ada ojek online atau taksi online seperti sekarang.

Antara Penolakan Sopir Angkot dan Panen Manggis
Senangnya bisa memetik manggis hasil tanam sendiri

Drama pun muncul di sini. Secara ketika anak dan saya sudah naik angkot dan duduk berbenah, ketika suami mau naik terakhir dengan membawa tiga buah bibit pohon manggis  sang sopir menolak!

Katanya nanti bikin sempit penumpang lain. Suami bilang ga apa nanti dia mau duduk di dekat pintu saja dan bibit pohon manggis dipastikan tak akan mengganggu penumpang lain.

Eh, sopir angkot tetap ngotot kalau dia tak mau bawa penumpang dengan bawaan seperti bibit yang kami bawa. Padahal suami juga menawarkan akan membayar ongkosnya sebagai ganti satu orang penumpang jika memang bikin sempit penumpang lain.

Tapi malah secara tak pantasnya sopir angkot malah bilang “Kalau saya daripada bawa bibit pohon begitu bikin ribet, mending beli buahnya saja sekalian. Nanam pohon berapa lama, keburu tua. Beli buahnya tinggal makan.”

Secara tidak langsung sang sopir udah nyinyirin kami yang bela-belain repot udah bawa anak, bawa barang bawaan lain seperti tas pakaian dan kardus bakpia oleh-oleh khas Yogyakarta ditambah lagi dengan bibit pohon.

Suami mungkin tersinggung. Mengatakan ke sopir kalau gak mau angkut kami tak apa-apa, biar kami akan menunggu angkutan lain saja. Sang sopir mengiyakan.

Tapi pas tahu saya dan anak turun, sopir gak terima. Lah, masa saya dan anak naik angkot sementara suami tidak? Yang bener saja?

Sopir marah-marah karena menurutnya penumpangnya jadi berkurang. Saya dan suami hanya menahan tawa. Salah siapa gak mau bawa suami, ya saya dan anak juga gak jadi naik lah... Orang kami ini berita satu paket. Haha...

Padahal kalau dilihat bibit pohon manggis itu yang tingginya gak sampai setengah meter, juga bagian akar/pot dibungkus kertas semen dan kemudian dilapisi plastik tak akan begitu ngambil banyak tempat. Tapi ya sudahlah, kami diam saja. Sampai akhirnya ada angkot yang mau bawa kami dan tak komplain apapun hingga kami turun di jalan masuk perumahan.

Antara Penolakan Sopir Angkot dan Panen Manggis
Sambil rebahan, rasanya gak percaya kalau kisah manggis ini akhirnya berbuah manis

Membayangkan begitu jengkelnya saat itu kami berhadapan dengan sopir angkot, rasanya lupa sudah semua macam drama mengesalkan itu tergantikan dengan pohon manggis yang kini sudah berbakti memberikan kami buah yang cukup banyak dan besar-besar.

Sejujurnya kami gak paham bagaimana kami bisa mengatasi penolakan. Tapi dipikir lagi sekarang, bisa jadi penolakan yang kami terima akan ribetnya membawa bibit pohon manggis itu justru jadi berkah tersendiri dan kami anggap penolakan adalah bagian dari proses normal.

Kalau saja saat itu kami mengalah, termakan penolak sopir angkot untuk “membuang” bibit pohon manggis, mungkin sekarang kami gak bakal merasakan bagaimana bahagianya bisa memetik buah manggis hasil nanam sendiri dan menikmati rasanya yang legit sehat menyegarkan.

Sekarang, saya dan suami makin rajin nanam pohon buah-buahan. Mau cepat berbuah atau tidak, tidak masalah. Yang penting kami sudah mencoba. Syukur kalau bisa kami petik buahnya, kalaupun kami keburu meninggal dunia, anggap saja bekal kelak buat anak cucu...

Antara Penolakan Sopir Angkot dan Panen Manggis
Buah ungu hitam manis, manggis
Read more ...

Minggu, 24 Desember 2023

Pelajaran dari Panen Kuweni

Meski capek dan pegal-pegal, tangan sampai terasa kebas saking berat dan banyaknya menangkap, tapi senang juga ketika melihat tiga karung buah kaweni (Kuweni, Mangifera odorata) depan mata, hasil memetik saya dan suami dari pohonnya baru saja. Itu buah belum semua dipupu, masih ada banyak di pohonnya terutama bagian yang menghadap ke loteng rumah.

Musim mangga tahun ini, memang tidak serentak. Saya perhatikan, pohon mangga kuweni depan rumah ini berbunga sejak Juli lalu.

Pertama berbunga sekitar awal Juli, tapi sayang banyak yang jatuh karena hujan angin yang cukup sering. Lalu berbunga lagi sekitar Oktober dan November. Kali ini bunga dan bakal buah banyak yang tumbuh bagus. Mungkin karena musim kemarau cukup lama. Tak kena hujan angin seperti sebelumnya.

Nah, panen kali ini adalah buah dari bunga yang ketiga, yaitu bunga yang munculnya sekitar November.

Kok baru dua bulan udah di panen? Karena buah yang berasal dari bunga di bulan Oktober sudah pada matang. Dan sayangnya, banyak yang berjatuhan karena diganggu hama siang malam. Kalau siang habis digasak tupai. (Di halaman rumah saya banyak pohon buah-buahan, jadi tupai pada betah kali ya...) Kalau malam, buah matang sedikit langsung diincar kelelawar.

Ditambah tidak nyaman juga mendengar omongan tetangga yang selalu berisik. Seolah saya dan suami ini tak butuh mangga Kuweni karena katanya membiarkan tupai memangsanya hingga banyak mangga yang berjatuhan.

Kuweni siap dibagikan

Meski sebagian tetangga ada yang senang dengan fenomena itu karena setiap ada mangga jatuh, pasti itu sudah matang benar, kalau kondisinya masih bagus bisa mereka ambil. Siapa gak tahan sih dengan wanginya buah Kuweni yang matang? Harumnya wuih, sangat kuat dan begitu segar!

Akhirnya saya dan suami sepakat Kuweni yang menjulur ke jalan mulai dipetik saja. Nanti hasilnya, seperti biasa, akan kami bagikan kepada tetangga melalui santri mengaji, dengan lebih dahulu kami mengadakan syukuran dan lantunan doa serta pembacaan ayat suci Al-Quran secara sederhana, yang khusus kami kirimkan untuk Bapak Syarif Hidayat Bin H. Muhammad Kurdi dan Ibu Enan Solihat bin H. Djaji Amiruddin.

Mereka berdua adalah almarhum dan almarhumah mertua saya. Merekalah yang menanam semua pohon buah-buahan di halaman rumah ini. Yang kini buahnya bisa dinikmati anak cucunya, serta masyarakat kampung sekitar.

Dulu bapak mertua bekerja di perum perhutani. Ia senang menanam berbagai pohon mulai kayu hingga buah-buahan terutama jenis yang mulai langka. Tak heran kalau halaman rumah sekitar 500m² ini habis dibuat menanam berbagai jenis buah-buahan yang di tempat lain sudah mulai susah ditemui.

Mungkin karena sudah mulai langka itulah, generasi jaman now sudah mulai tidak tahu akan buah-buahan jadul ini.

Pernah ketika awal saya pindah menempati rumah peninggalan mertua ini ketika menyapu halaman, ada yang bilang (atau mengejek) ke saya dan suami, katanya buat apa mempertahankan buah leuweung ( buah hutan) macam kaweni, secara sudah tak jaman. Lebih bagus tanam buah-buahan yang mahal harganya dan bergengsi seperti buah manalagi, buah gedong gincu, dan buah arumanis.

Mangga gedong meski tak begitu lebat berbuahnya tapi siap juga dibagikan

Saya dan suami senyum-senyum saja menyikapinya. Tak mau balik mengejek ketika suatu waktu kaweni itu berbuah cukup bagus dan saya memberinya beberapa buah sekaligus satu cup juice mangga kaweni yang sudah jadi untuk langsung dicicipinya.

Mangga cengkir yang selama 12 tahun saya tinggal di rumah mertua, baru berbuah. Ini juga pohonnya hasil nanam mertua

Tak tahu malunya setelah menerima semua itu ia malah balik memuji katanya wah, wangi dan enak ternyata ya. Bagus ini sejak dulu pasti tumbuhnya disertai pupuk dan perawatan dari tangan ahli. Wuih, baru tahu rupanya dia...makanya jangan sembarang ngatain, ternyata ia juga suka, kan jadi kena batunya.

Belum tahu kalau di halaman rumah kami juga masih ada buah leweung lainnya seperti huni, kelapa hijau dan asem kranji.

Setiap buah-buahan itu berbuah, saya dan suami selalu memprioritaskan untuk bisa berbagi kepada tetangga terdekat atau paling tidak dinikmati dengan anak-anak santri di rumah. Bukan apa, tapi demi meraih berkahnya saja.

Supaya bisa mensyukuri atas apa yang telah ditanam orang tua selagi mereka ada, dan kini setelah mereka tiada, semoga apa yang mereka tanam dulu, buahnya bisa diambil manfaat dan berbagi kepada tetangga, pahalanya akan mengalir kepada mereka. Aamiin...

Panen mangga Kuweni dan Gedong hasil tanam mertua

Meksi tidak meriah apalagi wah, tapi begitulah salah satu cara sederhana kami menyampaikan kasih sayang kepada orang yang telah tiada. Selain seperti orang lain yang menggelar acara semacam haolan, pengajian memperingati seratus hari, setahun, sepuluh tahun, dan sebagainya...

Dengan menebarkan terus kebaikan dan manfaat serta hasil dari apa yang telah orang tua kami lakukan selagi hidup. Semoga amal baik dan pahala terus terucap dari orang-orang yang merasakan kebaikan dan manfaat itu kepada sumber awalnya. Aamiin.

Begitu juga ketika ada kenangan dari seseorang yang telah tiada, seperti keluarga blogger dari Jakarta yang suaminya telah meninggal dunia, mereka mengirim alat solat dan mengaji untuk dimanfaatkan oleh anak santri disini. Maka kami selalu menggunakannya dan tak lupa mengkhususkan niat semoga pahalanya sampai kepada yang bersangkutan.

Seperti itu salah satu cara saya dan keluarga memberikan kasih sayang kepada mereka yang telah tiada...

Read more ...

Jumat, 17 November 2023

Apa Kabar Janda Bolong?

Pandemi sudah berlalu, apa kabar dengan janda bolong yang saat itu sangat langka, banyak dicari bahkan memiliki berharga tinggi?

Ingat aja betapa kesalnya ketika adik ipar dan ibu saya memberitahu jika janda bolong di teras rumah hilang. Kemungkinan besar ada yang nyuri dengan pot-potnya!

Ialah, janda bolong di teras rumah kami itu sudah cukup besar dan berdaun lebat. Kami pelihara jauh sebelum pandemi. Jadi bisa dibilang jauh sebelum keberadaannya berharga. Apalagi dirawat setiap hari oleh adik ipar dan ibu saya yang dikenal tetangga bertangan dingin. Subur dan sehatlah itu si janda bolong.

Eh ketika pandemi datang tiba-tiba si janda bolong jadi naik kelas. Diserbu banyak pencinta tanaman hias hingga keberadaannya langka dan harganya melambung tinggi.

Adik dan ibu saya pernah menjual beberapa pot janda bolong yang sudah kami stek sebelumnya mulai harga puluhan ribu rupiah sampai ratusan ribu rupiah. Alhamdulillah sih pandemi membawa berkah juga. Bukan hanya si janda bolong yang naik kelas saat itu tapi ada juga tanaman lainnya yang kebetulan selama ini dirawat oleh adik dan ibu saya sebaik mungkin.

Apa kabar janda bolong

Rasanya seperti mimpi begitu dulu merasa terkejut dan kehilangan teramat sangat ketika tahu janda bolong di teras hilang, sekarang di halaman tanpa pagar di rumah saya itu si janda bolong justru banyak menjalar begitu segar.

Saking banyak dan rimbunnya seolah si janda bolong ini liar tak terurus. Seperti tanaman rambat yang tidak diinginkan. Oh, sebegitu memprihatinkan nya kah engkau kini wahai janda bolong?

Btw dulu pas tanaman hias ini harganya naik saya sempat penasaran, kenapa bisa disebut janda bolong? Mungkin karena daunnya yang bolong dan itu bikin unik? Saat ibu saya sudah menanam dan mengembangbiakkan tanaman ini malah belum tahu kalau panggilnya janda bolong. Kami nyebutnya ya daun bolong saja.

Tapi pernah baca di sebuah media, kalau ada keterangan dari seorang peneliti LIPI, Yuzammi yang menjelaskan asal nama tanaman janda bolong sebenarnya berasal dari masyarakat Jawa.

Dalam bahasa Jawa, tanaman ini disebut ron phodo bolong yang artinya daun pada bolong. Saat disingkat atau diucapkan cepat, nama ini jadi terdengar seperti rondho bolong yang artinya jadi janda bolong. Haha, ga tahu deh sahih enggaknya itu cerita. Tapi kalau menurut saya ya masuk akal juga.

Sejak pandemi berakhir, secara sendirinya pencinta tanaman hias pun berangsur menghilang. Buibu teman pengajian di kampung yang biasa merengek meminta-minta bunga kini tak peduli lagi. Jangankan minta bunga baru, bunga yang ada di halaman dan teras rumahnya saja sudah tak lagi diperhatikan.

Musim kemarau kemarin saya lihat banyak pot bunga yang dibuang karena mati kekeringan. Memang sih jangankan untuk menyirami bunga di halaman, untuk mandi saja musim kemarau kemarin banyak yang sudah ngungsi ke sungai karena air PAM sering tidak mengalir. Kasihan memang nasib bunga itu ...

Begitulah kalau melakukan sesuatu bukan dari hati. Jika hanya karena sedang trend atau modal ikut-ikutan maka tak lama apapun itu akan selesai dengan sendirinya. Beda jika kita melakukan sesuatu berawal dari hati, hobi atau sudah passion. Mau musimnya atau tidak, akan tetap melakukannya dengan senang hati. Enjoy saja melaksanakannya.

Apa kabar janda bolong

Meski sudah tidak buming, adik ipar dan ibu saya masih tetap merawat dan mengembangbiakkan tanaman janda bolong ini.

Mereka tetap melakukan stek batang setelah menemukan bibit yang dirasa cukup bagus untuk dipisahkan dari induknya.

Maksud stek batang disini ya metode yang digunakan kami untuk membibitkan tanaman itu. Caranya memotong sedikit bagian batangnya lalu ditanam baru di media tanam lain agar bisa diperbanyak tanamannya.

Meski sudah tidak musim lagi tanaman hias tapi adik dan ibu saya tetap merawat bunga bunga peliharaan di teras dan halaman rumah dengan penuh kasih sayang.

Ibu saya bilang jika selain hobi, menanam tanaman hias itu itu juga manfaat lainnya. Seperti menambah keindahan ruangan, menghadirkan sentuhan alami di dalam ruangan, membantu menciptakan suasana yang rileks dan menenangkan.

Bahkan bisa jadi pusat perhatian dikarenakan bentuk daunnya yang unik seperti janda bolong yang memang bolong-bolong itu. Jadi bolong-bolong itu bukan berarti daunnya rusak atau dimakan ulat ya...

Apa kabar janda bolong
Read more ...

Rabu, 01 November 2023

KaDO di Halaman

Baru saja hujan turun sekitar tiga kali, itu pun masih diselingi cuaca panas terik, sudah ada empat orang yang menagih janji, untuk memberikan bibit tanaman yang berkhasiat untuk obat-obatan secara alami.

Di halaman rumah saya memang banyak ditanam beberapa tanaman herbal ataupun apotik hidup. Saat musim kemarau sekitar tiga bulan kemarin, banyak tetangga yang meminta tanaman tersebut untuk mengobati penyakit yang dideritanya. Alhamdulillah meski kemarau, air sumur kami tidak kering. Jadi masih bisa dipakai untuk menyirami halaman sekitar 400m³ tersebut.

Mereka minta tanaman obat itu ke saya karena selain memang tidak punya lahan untuk menanam, mereka yang punya pun mengaku tanaman nya mati karena kekeringan. Jadi sekaligus minta bibit tanamannya. Hanya saya jawab nanti saja kalau sudah masuk musim penghujan. Secara dikasih sekarang pun kalau masih kemarau nanti takut tidak tumbuh maksimal.

Karena itu saat dua hari kemarin hujan turun di tempat kami, kemarin sore dan tadi pagi saat mau pengajian mingguan di kampung dan pesantren, buibu tetangga sudah ada yang minta bibit tanamannya. Padahal saya belum mempersiapkan sama sekali.

Secara tanaman yang dikembangbiakkan dengan distek, kan harus dipersiapkan dulu termasuk media tanamnya. Kecuali yang dikembangbiakkan dengan biji, saya memang nyimpan beberapa. Itu pun tetap harus disediakan media tanam yang bagus dan cocok sehingga bibit bisa tumbuh dengan bagus.

Jadi ingat perjalanan membawa beberapa bibit tanaman herbal dan obat itu ketika saya masih bekerja dan bolak balik ke ibukota dan sekitarnya sekitar delapan tahun lalu. Ya karena sebagian besar bibit tanaman herbal yang saya punya ini, berasal dari Kampoeng Djamoe Organik – Martha Tilaar Group.

Saat saya masih kerja di media yang berkantor pusat di Taiwan, sebagai jurnalis biro Indonesia, saya sering kebagian liputan untuk daerah luar Jabodetabek. Salah satunya ketika ada undangan launching produk kosmetika dari Martha Tilaar ini.

Saat itu semua media diundang mengunjungi Kampoeng Djamoe Organik (KaDO) Martha Tilaar sebagai pusat pendidikan pelestarian lingkungan yang beralamat di Kawasan Industri Cikarang.

KaDO di Halaman Okti

Berangkat dari meeting point di MC Donald Sarinah, rombongan media menaiki bus menuju Cibarusah Kawasan EJIP Pintu II, Cikarang Bekasi. Gak nyangka aja dulu itu, kalau di kawasan industri Cikarang masih ada lahan hijau. Suasananya beneran asri seperti di kampung saya sendiri. Gak heran sih karena ada ratusan pohon dan tumbuhan hidup di sana.

Saya senang main ke Kampung Djamoe Organik ini karena kita bisa bernapas dengan bersih dan bebas. Bukankah oksigen yang biasa kita hirup sudah hilang kualitasnya? Udara sudah bercampur polusi kerap kali membuat kita kekurangan oksigen. Di wilayah hijau oksigen bersih ini bisa kita temui.

 Suasana yang asri di tengah kawasan industri yang terus membuang polusi benar-benar sulit ditemui bahkan di ibu kota sekalipun. Semilir angin sejuk yang berembus dari rerimbunan pepohonan hijau di Kampung Djamoe Organik sudah bisa dirasakan sejak pengunjung masuk di gerbangnya.

Di kampung ini di samping kiri dan kanan dipenuhi dengan tanaman obat dan kosmetika (Toka) yang banyaknya lebih dari 650 jenis tumbuhan.

Kawasan lahan terbagi dua jenis sesuai klasifikasi tanaman, yaitu Aromatic Land dan Beauty Land.

Aromatic Land dipenuhi dengan tanaman-tanaman yang memiliki aroma. Seperti pandan, melati, som jawa, kolesom, kenanga, kamboja, kayu putih, dan masih banyak lagi.

Beberapa tumbuhan dinilai sebagai tanaman langka, dahulu bahkan dianggap mustahil dapat hidup di Indonesia seperti halnya zaitun, buah merah dan kemenyan bisa dibilang sebagai tanaman langka. Tapi ternyata dapat hidup di Kampung Djamoe Organik Martha Tilaar ini.

Lain lagi dengan Beauty Land yaitu lahan yang dipenuhi dengan tumbuhan yang bermanfaat bagi pemeliharaan kecantikan mulai dari rambut, tubuh dan kulit.

Tumbuhan yang terdapat di Beauty Land di antaranya, nanas, lavender, temu giring, jati, bengkoang, lidah buaya, dan banyak lagi.

Nanas itu baik untuk perawatan rambut, sedangkan lavender dan temu giring baik untuk perawatan kulit. Berbeda lagi dengan daun jati yang berkhasiat untuk tubuh untuk menjaga agar tidak obesitas.

KaDO di Halaman Okti

Di Kampoeng Djamoe Organik ini pengunjung diajak ke proses pemilihan dedaunan dan pengeringan tumbuhan-tumbuhan tadi yang sudah dipanen untuk dijadikan jamu. Semuanya terbuka untuk umum  agar dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.

Tidak hanya itu, di Kampung Djamoe Organik kita juga bisa mampir ke Rumah adat Manado yang mana berfungsi sebagai bangunan penyambutan juga berfungsi sebagai kedai sehat alami tempat pengunjung membeli jamu instan kemasan.

Di rumah adat inj juga dijual hidangan-hidangan yang dapat langsung disantap. Bahan baku makanannya tentu saja berasal dari hasil budidaya organik. Bukan fast food tapi slow food.

Dimana proses slow food dalam penyajian makanan di kedai ini membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk menjamin semua makanan yang akan disantap terhidang dalam keadaan hangat dan segar.

Saat pulang, kami diberi buah tangan berupa bibit pepohonan baik tanaman apotik hidup maupun tanaman obat dan kosmetika. Bebas pilih mau bawa yang mana saja. Saat itu saya membawa bibit Cangcauh (daun cincau hijau), zodia, handeuleum (daun merah), stevia, dan daun sirih.

Kecuali stevia, semuanya masih tumbuh dan bahkan sudah dikembangbiakkan. Bahkan Cangcauh udah menghasilkan uang lumayan karena daunnya sering diborong oleh penjual es cincau hijau.

Memiliki lahan ditanami tanaman obat dan kosmetika maupun apotik hidup memang banyak manfaatnya. Sebagai orang tua saya bisa melakukan hobi merawat tanaman, sekaligus menikmati alam yang asri. Sedangkan anak bisa jadi sarana edukasi untuk ikut menjaga alam.

Lebihnya ya bisa berbagi dengan kawan satu frekwensi. Berbagi kepada mereka yang juga hobi memelihara tanaman obat dan kosmetika walaupun dalam skala sederhana.

KaDO di Halaman Okti

Di kampung tempat saya tinggal, halaman rumah saya bisa dibilang memiliki tanaman obat herbal dan apotik hidup terlengkap. Dimata mereka kalau memerlukan tanaman obat atau apotik hidup tinggal datang saja ke rumah.

Saya sendiri memiliki keinginan untuk menambah ilmu dan wawasan terkait pengolahan tanaman herbal, serta apotek hidup ini dengan berbagi dengan teman-teman sesama pencinta tanaman obat dan kosmetika. Ngadain acara apa, semacam sharing gitu atau berbagi dan tukar bibit.

Keinginan yang sering muncul tapi belum pernah terealisasikan salah satunya mengunjungi Museum Jamu pertama di Indonesia Nyonya Meneer di Kaligawe Semarang Jawa Tengah.

Saat masih kerja, sering bepergian ke luar kota bahkan luar provinsi. Sambil menyelam minum air, sambil kerja bisa sekalian traveling mengunjungi lokasi wisata yang sedang ngetop.

Kini setelah murni jadi ibu rumah tangga di rumah saja, susah rasanya mau melangkah ke luar rumah itu. Untuk mendapatkan informasi lengkap seputar Museum Jamu Nyonya Meneer yang berdiri pada tanggal 18 Januari 1984 ini mungkin saya harus menghubungi Blogger Semarang.

Meski informasi bisa didapat melalui internet, tapi tetap saja datang langsung ke lokasi akan terasa beda sensasinya ya.

Apalagi museum sebagai cagar budaya untuk melestarikan warisan leluhur tak hanya bagus untuk nambah wawasan, tapi juga bisa jadi sarana edukasi dan rekreasi bagi generasi muda.

Sehingga kalau sudah tahu ilmunya, tanaman obat dan kosmetika di halaman rumah ini siapa tahu bisa diracik jadi hal yang lebih bermanfaat untuk kesehatan dan aktivitas kita.

KaDO di Halaman Okti
Read more ...

Rabu, 22 Februari 2023

Fenomena Gadai Sawah

Saya tahu suami dan anak kecewa pas mau makan, nasinya agak lembek kaya berair. Tapi mau gimana lagi daripada perut nanti kelaparan dan nasinya jadi mubadzir?

“Ini beras yang kita giling kemarin itu, ya?”

“Iya. Ini beras Bromo hasil bagi panen musim ini.”

“Masa tanam nanti coba kita bicarakan sama panyawah biar cari bibit lain yang lebih bagus. Ini kalau tahu begini kemarin mending dijual semua saja ya?”

Saya hanya mengangguk. Gak begitu tahu banyak soal benih padi dan perintilannya. Tahu jenis padi Bromo saja setelah dibilangin tetangga ketika melihat kami sedang menjemurnya di halaman pabrik penggilingan. Tetangga bilang jenis Bromo mah kurang bagus, berasnya pecah-pecah, nasi nya jadi kurang pulen.

Selama ini saya beras biasa beli di pasar. Jadi gak pernah merasakan komplen apa-apa karena emang beli beras harga standar, hasilnya lumayan pulen.

Kali ini aja mendapatkan beras pembagian hasil panen dari sawah yang kami gadai. Dan hasilnya ternyata tidak maksimal. Waktu dipanen memang belum kuning maksimal karena takut keburu masuk bulan Ramadan. Sebagian malah masih ada yang hijau tapi ya tetap dipanen. Daripada, nanggung nanti Ramadan saat puasa harus mengerjakannya.

Kebanyakan petani di kampung menghindari melakukan pekerjaan di sawah saat Ramadan. Ya biar ibadah puasa gak terganggu saja.

Sebenarnya tahun lalu juga sudah pernah sekali panen, masih dari sawah yang sama. Tapi saat itu kena serangan hama tikus. Dari lima petak sawah yang biasanya bisa menghasilkan satu ton setengah, hanya bisa terkumpul sekitar 700 kintal gabah saja. Merugi memang. Tapi daripada hangus sama sekali. Kala itu jenis padinya Sriwedari.

Terbayang rumitnya jadi petani kalau gagal panen seperti itu. Kami saja yang bukan petani dan tidak terjun langsung ke sawah udah merasa banyak khawatir dan kecewa. Dipikirin terus bisa stress dan jadi tekanan. Gak dipikirkan ya sayang banget kalau terus merugi. Bisa-bisa sering bolak-balik ke dokter buat cek kesehatan mental dan konsultasi psikiater.

Menggadai sawah di kampung memang untung-untungan. Hasil panen yang diimpikan tidak bisa diprediksi. Kalau boleh curhat, selama beberapa kali menggadai sawah belum ada satu pun yang memuaskan. Mulai kena tipu, kena hama, kena rugi, banyak banget deh drama dan fenomenanya.

Tidak sedikit bikin makan hati dan berujung percekcokan. Bikin sakit hati lah. Hanya saja sampai tidak berantem apalagi ngajak gelut. Saya dan suami memilih mengalah dan menyerahkan kepada pihak pemilik lahan untuk bisa membawanya dunia dan akhirat kalau memang sama sekali tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Dipikir lagi dari sekian banyak proses akad gadai sawah yang kami jalankan mungkin kali ini yang terbilang lumayan. Merugi hanya karena faktor alam, bukan human eror seperti pengalaman sebelumnya.

Kalau sebelum-sebelumnya bisa dibilang lebih tragis. Ada yang ngajak akad, ternyata sawah yang digadai bukan sawah miliknya, melainkan sawah pemerintah desa. Jadi boro-boro bisa bagi hasil, yang ada kami kesulitan menagih uang kembali. Sampai dicicil hingga tahunan, melibatkan keluarga dan memberikan tekanan melalui tempat mereka si suami istri itu bekerja supaya bisa mengembalikan uang kami.

Sampai uang semuanya berhasil kami ambil, hubungan kami jadi kurang baik. Jarang membalas sapaan kami kalau bertemu. Mungkin mereka marah dan malu kasusnya kami angkat ke muka umum. Padahal seharusnya kami yang harus marah, mereka yang sudah jelas-jelas menipu kami. Menggunakan aset negara buat kepentingan pribadi didukung RT dan Kades. Gak mikir memang...

Jadi bisa dibilang proses akad kali ini jauh lebih baik. Kali saja hasilnya kurang bagus, mungkin tinggal komunikasi lagi yang intens supaya bisa didiskusikan mencari bibit padi yang baik, mendapatkan pupuk yang bagus dan sesuai, termasuk pengairan dan perawatan yang maksimal.

Salah satu yang saya suka dari pesawahan itu suasananya

Saya tidak ingin anak dan suami makan nasi yang kurang bagus meski itu gratis hasil panen akadan gadai. Kalau masih bisa diupayakan hasil lebih baik, kenapa tidak?

Read more ...

Minggu, 28 Agustus 2022

Apartemen Ayam

“Kompak banget! Pasti lagi bikin apartemen ayam lagi ya?”

Haha!

Sontak saya, suami dan tetangga belakang rumah yang kebetulan lewat melihat kami sedang berkutat dengan perkakas perkayuan, tertawa bareng.

“Iya Pak Haji, biasa sekadar memanfaatkan pemotongan dahan ini. Lumayan ternyata, mumpung belum masuk musim hujan, kalau sudah jadi bisa buat berteduh para ayam nanti.” Jelas suami sambil segera meletakkan gergaji dan langsung memburu tetangga di pintu pagar. Mengajaknya bersalaman. Saya hanya mengangguk dari jauh sambil basa-basi mempersilakan beliau masuk.

“ Semoga berkah ya, sekarang bikin apartemen ayam ke depannya bisa bangun apartemen buat keluarga. Mari...”

Setelah cukup ngobrol dengan suami, tetangga pamit diiringi ucapan aamiin dari kami dan tawa tertahan.

Apa katanya tadi? Apartemen Ayam? Hehe... Bisa saja.

Jadi teringat dulu, suami menyuruh tukang untuk menebangi beberapa pohon di sekitar rumah yang memang sudah menjulang dan dikhawatirkan runtuh lalu menimpa rumah tetangga. Pohon salam, asam kranji, kelapa, jati india, mangga, jambu, dan masih banyak lagi.

Alhasil menyisakan pemotongan pepohonan yang menumpuk di halaman. Secara maraton, saya dan suami memilahnya. Memotong dan memisahkan antara dedaunan, ranting sampai batang yang cukup besar.

Dedaunan langsung kami bakar. Ranting kami tumpuk untuk stok kayu bakar nanti. Sementara batang yang besar, dipisah dengan harapan bisa digergaji lalu dibuat papan atau potongan kayu lainnya yang lebih bermanfaat.

Entah ide dari mana, suami kepikiran buat kandang ayam dari dahan-dahan yang ada. Ya, daripada berserakan di halaman tidak karuan, pikirnya. Kebetulan ayam peliharaan kami memang sudah banyak yang bertelur lagi, sehingga butuh tempat baru karena anak ayam mulai disapih induknya. Mereka harus ditempatkan di kandang terpisah, kalau enggak bisa habis dipacok terus.

Memanfaatkan bahan yang ada suami memotong dahan lalu dirakit menjadi persegi panjang. Memasang dinding, pintu dan semuanya. Meski jauh dari kata bagus, karena bahannya juga dapat dari sisa penebangan kayu yang sama sekali tidak diperhalus tapi lumayan kokoh. Saya pernah naik ke atasnya dan cukup kuat. Jika dinaiki manusia saja tahan berarti kalau untuk ayam, lebih dari kuat dong ya.

kerangka apartemen ayam dari bahan potongan dahan karya tukang insinyur pak suami 🤪

Waktu itu tetangga belakang rumah bertanya, kami ini sedang buat apa? Kami jelaskan, memanfaatkan perkayuan yang ada mau bikin kandang ayam. Nah saat itu tetangga juga berseloroh, “Kirain sedang apa heboh sekali. Ternyata membangun apartemen ayam, ya. Nanti kalau peresmian dan gunting pita, saya diundang ya,” canda tetangga. Kami pun tertawa bersama.

Makanya ketika kami gaduh lagi di halaman belakang karena dahan yang dibuat kerangka kandang dari pohon jambu yang lumayan alot, menimbulkan bunyi keras saat suami memakunya, itu menimbulkan kepenasaran dan saat tetangga lewat, dia ngomong lagi, kami ini sedang membangun apartemen untuk ayam lagi? Tapi emang bener juga sih, hehehe.

Jujur dari memelihara ayam ini, meski cuma iseng kami sudah banyak terbantu. Selain bisa makan daging ayam kampung, masak dan jual telor ayam kampung, juga bisa menjual ayam hidup sesuai permintaan pembeli.

Saat ini satu kilogram ayam kampung kami jual sekitar 45 ribu. Sementara satu ekor beratnya bisa mencapai 2kg. Bahkan kalau ayam jantan, bisa lebih.  Alhamdulillah.

Pakan yang kami berikan hanya huut alias dedak penggilingan padi yang kebetulan pabrik penggilingan nya dekat rumah, hanya terhalang sungai Cikadu. Jadi saat kami tidak memberikan pakan, si ayam sendiri sudah bisa mendapatkan makan dengan sendirinya di area sekitar pabrik itu.

Berkaca dari pengalaman, ayam yang pertama bertelur biasanya jumlahnya belasan bahkan ada yang sampai dua puluh. Tapi saya tidak menetaskan semuanya. Saya hanya menyisakan untuk dierami sekitar 8-10 butir saja. Sisanya saya ambil, lumayan kan bisa dijual atau dikonsumsi sendiri. Bisa masak menu akhir pekan dengan bahan telur dan keju untuk keluarga seperti yang dikisahkan penulis balikpapan.

Si cantik ini bertelur sampai 18 butir. Saya ambil sepuluh butir dan yang dierami sisanya delapan butir semoga menetas semua. Aamiin.

Dari sekitar delapan ekor anak ayam yang menetas, sampai siap jual itu kadang gak mulus semua. Dalam arti ada yang mati saat masih berumur mingguan. Apalagi kalau induk ayam cari makan ke pabrik penggilingan, anaknya yang belum bisa meloncat jauh sering masuk sungai. Sudah deh, kalau gitu jarang yang kembali selamat.

Si borontok ini menetaskan 10. Kini tinggal 8, dua mati karena kecemplung air dan tidak tertolong

Karena itu suami memaksakan diri membuat kandang ayam meski berbahan apa adanya. Paling tidak, ayam bisa punya tempat dan gak sembarangan cari makan sampai hanyut di sungai segala.

Diharapkan dengan membangun apartemen eh kandang ayam ini, anak ayam bisa lebih aman, terjaga mulus hingga besar. Sekitar 2-3 bulan saja, sudah bisa menjual jika ada yang membutuhkan daging ayam kampung.

Meski gak sering menjual (karena rata-rata di kampung, punya peliharaan ayam sendiri) tapi ya lumayan sekian kali menjual ayam uangnya bisa ditabung. Memenuhi kebutuhan hidup atau buat ongkos biar bisa jalan-jalan. Hehe!

Meski saya ini cuma blogger kampung blogger gunung, tapi ya mau juga dong bisa traveling seperti travel blogger Balikpapan yang pengalaman jadi traveler nya tidak diragukan lagi.

Dengan investasi bangun apartemen (baca kandang ayam) siapa tahu peliharaan ayam kami semakin berkembang dan tabungan semakin menebal. Aamiin...

Apartemen ayam sudah selesai. Penyerahan kunci sudah dilakukan kepada salah satu penghuninya, Induk Cokelat dengan anak tinggal lima dari delapan yang menetas

Oya! Apartemen ayam kami sudah selesai nih. Ada yang mau diundang untuk peresmian dan gunting pita seperti tetangga belakang rumah saya? Wkwkwkwkkk...

Read more ...

Selasa, 17 Mei 2022

Berburu Keluwek

“Buat Lebaran, mau masak apa, Ma?” Gayanya kaya mau masakin orang tua saja. Padahal nyatanya mama yang masak, saya yang angkut hasil matangnya ke rumah. Haha!

Jawabnya sungguh di luar dugaan, “Beliin Keluwek, Teh. Mama mau sambal keluwek...”

What? Lebaran mau nyambel keluwek? Nih lansia yang merangkap ibuku gak lagi ngidam, kan? Abis aneh aja, lebaran orang pada bikin opor, ketupat, sambal goreng ati, atau rendang, ini malah mau keluwek...

Masalahnya, bukan gak mau beliin, tapi keluwek sebagai bumbu masak tradisional, itu sudah cukup susah dicari, lho!

Buat yang belum paham, keluwek, atau kluwak adalah salah satu bumbu dapur yang sering digunakan untuk masakan khas Indonesia seperti rawon, brongkos, sup konro, pindang kudus, ayam kluwek, dll.

Selain sebagai penyedap masakan, tanamannya juga bisa dimanfaatkan untuk obat cacing, pengganti minyak kelapa, pestisida alami dan pengawet ikan.

Buah dan biji dari tanaman keluwek mengandung hidrogen sianida dan kolestrol tinggi yang dapat berbahaya jika dikonsumsi tanpa persiapan terlebih dahulu.

Merasa pusing dan mual adalah efek dari racun sianida yang dikandung keluwek jika memakan buah keluwek mentah alias belum diolah lebih dahulu.

Keluwek berasal dari buah yang dalam Bahasa Indonesianya disebut kepayang, pohon yang tumbuh liar atau setengah liar di hutan.

Orang Sunda menyebutnya kelewek, picung atau pucung, orang Jawa menyebutnya pucung, kluwak, atau kluwek, ngutip dari Wikipedia orang Toraja menyebutnya dengan pamarrasan.

Kluwek ini agak susah didapat, selain pengolahannya susah karena sebenarnya memiliki racun alami (itu pula yang membuat lahirnya peribahasa “Mabuk Kepayang”) artinya bukan cuma mabuk karena cinta, melainkan mabuk karena racun kepayang alias picung atau kluwek itu sendiri kalau tidak diolah lebih dulu dengan tepat.

Biasanya, yang “berani” mengolah picung atau keluwek ini adalah orang tua yang sudah berpengalaman. Mereka cukup tahu berapa lama kepayang ini direndam dalam air mengalir untuk menghilangkan racunnya. Jika sembarangan mengolah dan dimakan bisa-bisa menyebabkan kematian.

Buah keluwek biasanya dibiarkan dalam keadaan basah selama berhari-hari oleh penjualnya. Hal ini dilakukan agar cepat busuk sehingga lebih mudah untuk mengupas kulit dan sabutnya. Selain itu kandungan racun hidrogen sianidanya juga akan berkurang.

Setelah kulitnya dikupas akan terlihat biji dengan kulit yang keras mirip dengan batok kelapa. Di dalamnya ada daging yang berwarna putih, itu yang bisa kita gunakan untuk memasak.

Boleh intip ini hasil masakannya: Tumis Picung

Untuk pengolahan biji keluwek, informasi dari para orang tua di kampung pertama-tama cuci biji keluwek sampai bersih di air yang mengalir seperti di sungai. Lalu rebus selama 1 jam. Setelah itu siapkan wadah tertutup yang sudah diberi abu di dasarnya, taruh keluwek di atasnya dan tutup lagi dengan abu. Biarkan selama kurang lebih 15 hari, sesudah itu baru bisa menggunakannya setelah dicuci dengan bersih.

Cara lain dengan menguburnya di tanah dengan daun pisang dan abu setelah biji keluwek direbus selama beberapa jam. Diamkan selama 40 hari. Dalam rentang waktu itu, biji keluwek akan berubah warna dari putih krem ke coklat tua hingga hitam.

[caption id="attachment_12464" align="aligncenter" width="300"]Berburu keluwek di pagelaran Keluwek hasil buruan di pasar tradisional Pagelaran Cianjur[/caption]

Olahan keluwek setengah matang yang sudah hilang kandungan racunnya, bisa ditumis dan jadi teman makan nasi. Rasanya pulen, seperti kacang tanah. Paling enak kalau ditumis pedas.

Keluwek yang dibiarkan mengering dan warnanya jadi menghitam, itulah yang jadi keluwek alias bumbu untuk masak rawon. Ibu saya lebaran ini ingin masak sambal dengan campuran keluwek ini.

Di pasar modern Sukanagara tempat ibu saya tinggal, katanya sudah mencari keluwek ini tapi tidak dapat. Karenanya ibu saya mendelegasikan pencarian keluwek kepada saya di Pagelaran, yang pasarnya lebih tradisional, buka cuma dua kali dalam seminggu yaitu hari Selasa dan Jumat.

Ternyata di pasar tradisional pun tidak mudah mendapatkan keluwek. Setiap hari pasar Selasa dan Jumat, sejak sebelum lebaran hingga Jumat lalu, saya selalu keliling pasar Pagelaran mencari keluwek tapi belum ketemu juga.

Boleh baca dulu ini: Tumis Picung Olahan Kampung yang Nyaris Luntur

Bukan tidak ada, tapi menurut para pedagang pasar, biasanya yang menjual keluwek adalah para nenek yang sudah sepuh. Nah masih dalam suasana lebaran hingga Syawalan, mereka belum beraktivitas berdagang seperti biasa. Entah masih istirahat, atau masih berkumpul dengan anak cucunya.

Baru Selasa 17 Mei ini ketika tadi pagi saya ke pasar, akhirnya ketemu penjual keluwek di sudut pasar. Seorang ibu yang sudah sepuh tapi tetap bersemangat mencari nafkah dengan berjualan hasil bumi yang bagi sebagian orang mungkin tidak menarik.

Lalu bagaimana caranya memilih keluwek yang bagus di pasar?

1. Perhatikan batok luar

Hindari memilih batok yang berjamur. Bisa uji dengan cara mengocoknya. Pilih keluwek yang isinya terasa berat. Jika diperbolehkan minta bantuan pada penjual untuk membuka dan melihat isinya. Tapi saya tidak melakukan itu.

Keluwek yang bagus akan berwarna kehitaman dan empuk sehingga mudah untuk dihaluskan. Hindari keluwek yang masih muda, dengan warna kehijauan atau coklat muda.

Saat mencicipi keluwek, kalau rasanya agak pahit, maka itu kurang baik. Rasa pahit akan mempengaruhi masakan nantinya, bukan?

2. Hindari menyimpan kluwak di tempat lembab

Simpan keluwek dalam batok di wadah tertutup dan simpan di tempat yang kering. Kondisi yang lembab akan membuat kluwak lebih cepat berjamur.

Saat akan menggunakan keluwek, pecahkan batoknya dengan ulekan atau palu. Jangan lupa lapisi kluwak dengan kain terlebih dahulu agar tidak berantakan.

Selain keluwek, ibu penjual ini juga menyediakan bumbu dapur tradisional lain seperti kecombrang, daun jeruk, dan umbi-umbian lainnya.

Keluwek dijual dengan harga satu kg Rp.20ribu. wah cukup murah dibandingkan dengan usahanya mulai dari mengambil buah kepayang di hutan, lalu mengolahnya di aliran sungai untuk menghilangkan racun yang memerlukan waktu paling sedikit dua mingguan, belum lagi mengeringkannya hingga 40 hari.

Saya beli setengah kg keluwek untuk ibu saya. Ada sebanyak 22 buah. Lumayan banyak mengingat ibu kalau sekali bikin sambal paling banyak menggunakan tiga buah kelewek saja.

Merasa bersyukur di jaman serba modern sekarang, saat orang tua memiliki keinginan serba jadul tapi masih bisa dicari dan diusahakan. Tidak menutup kemungkinan, kelak pengolah kepayang sudah pada berpulang, keberadaan kelewek ini semakin langka dan akhirnya jadi sesuatu yang tinggal kenangan.

Read more ...