Rabu, 27 Maret 2024

Tradisi Unik Ramadan Papajar di Rumah Abah Jajang

Tiba-tiba terdengar cekikikan anak-anak perempuan di belakang padahal saat itu semua sedang ma’mum solat witir.

Mungkin karena ada beberapa orang kurang fokus, jadi ketika imam membaca doa qunut di rakaat terakhir setelah ruku’, mereka kira langsung ke gerakan sujud. Alhasil karena kekeliruan itu gerakan solat berjamaah jadi agak kacau. Ada yang tetap berdiri ada yang langsung mau sujud tapi tidak jadi, jadi bangkit berdiri lagi. Karena itulah mungkin anak-anak itu cekikikan. Menertawakan sedikit kesemrawutan.

Tradisi di daerah kami, di momen separuh akhir Ramadan bagi pengikut madzhab Syafi’i memang ditandai dengan adanya imam membaca doa qunut pada saat rakat ketiga salat witir. Membaca doa qunut pada salat witir ini adalah sunnah.

Meski banyak perbedaan karena menganut madzhab yang berbeda namun itulah tanda indahnya Islam yang mengedepankan persatuan. Tidak usah diperdebatkan.

Seperti kita tahu di beberapa daerah di nusantara ini kita bisa menemukan beberapa tradisi unik dan satu sama lain berbeda untuk menandai separuh akhir Ramadan.

Selain pembacaan doa qunut tadi ada juga yang menandai dengan mengganti bacaan surah pada rakat pertama tarawih setelah bacaan surah Al Fatihah, imam kemudian membaca surah Al Qadr. Begitupun pada saat rakat kedua setelah bacaan surah Al Fatihah, imam membaca surah At Takasur.

Ada juga yang tepat pada malam ke enam belas, pengurus masjid setelah lepas witir mengadakan makan bersama dengan menu ketupat opor ayam atau lainnya.

Di masjid Agung Cianjur saya pernah tarawih di sana, makan bersamanya dengan hidangan nasi liwet. Sederhana tapi begitu semarak. Yang masak nasi liwet para pengurus dan penjaga masjid.

Memang beruntung ya sebenarnya kita menjadi warga negara Indonesia. Di negara kita ini memang sangat banyak ditemukan keunikan.

Termasuk keunikan dalam merayakan menyambut Ramadan maupun merayakan ketika Ramadan akan pergi.

Tradisi nyadran, munggahan, dan lain-lainnya bisa kita saksikan jika akan memasuki Ramadan. Di Cianjur tradisi Munggahan disebutnya papajar. Istilah boleh beda tapi ternyata tradisi ini punya kesamaan makna, dimana intinya adalah ngumpul-ngumpul makan bersama didahului dengan membacakan doa untuk arwah dan leluhur ditambah dengan nyekar ke makam keluarga.

Tradisi Unik Ramadan di Rumah Abah Jajang
Papajar, tradisi menyambut Ramadan dengan cara kumpulan lalu makan bersama

Di tempat saya tinggal dan sekitarnya, seolah kompak untuk papajar awal Ramadan kemarin itu kok banyak masyarakat yang menjadikan Rumah Abah Jajang (yang viral setelah diberitakan sebagai rumah surga di pedesaan dengan pemandangan air terjun di depannya namun sang pemilik yang seorang kakek bernama Jajang menolak untuk menjualnya padahal ditawari harga sekitar Rp2,5 miliar) sebagai lokasi tujuan papajar.

Saking membludaknya tamu yang mau papajar ke sana, harus bergantian dan sebagian yang jauh harus reservasi dulu. Gaya betul ya, hehe...

Namun begitulah masyarakat kita. Merasa senang dan bangga kalau tak tertinggal dari hal yang kekinian. Mungkin ada kepuasan tersendiri ketika bisa upload foto sedang papajar di lokasi rumah Abah Jajang. Bisa jadi ke depannya papajar di Pasirkuda Cianjur Selatan ini jadi sebuah sebuah tradisi juga.

Tradisi Unik Ramadan di Rumah Abah Jajang
Baru kekinian kalau sudah punya foto di rumah Abah Jajang

Tapi tidak bagi murid-muridnya suami tahun ini dimana yang di pegang adalah kelas 9C. Mereka berinisiatif papajar ngajak wali kelas, justru bukan di rumah Abah Jajang melainkan rumah kami.

Mungkin karena mereka lahir, tumbuh, besar dan sekolah di sekitar wilayah Curug Citambur jadi suasana rumah Abah Jajang tak begitu spesial lagi. Wong sehari-harinya disana disana juga.

Lucunya sebelum makan bareng ketika papajar di rumah kami, si ketua kelas inisiatif bikin vlog dengan voice over:

Papajar di rumah Abah Jajang ❎

Papajar di rumah wali kelas ☑️

(Baca: papajar di rumah Abah Jajang no, papajar di rumah wali kelas well)

Tradisi Unik Ramadan Papajar ke Rumah Abah Jajang
Rumah Abah Jajang yang sempat viral masuk pemberitaan

Jadilah ketika masuk sekolah saat bulan Ramadan, anak kelas 9C dan suami yang ngajar di sekolah menengah di dekat Curug Citambur itu jadi bahan bulian dan candaan diantara para guru, kalau katanya kelas 9C anak Pak Iwan is well, haha ... Ada ada saja.

Sayangnya tradisi buka puasa bersama yang juga diinginkan murid kelas suami batal diadakan dikarenakan kondisi cuaca yang selalu tidak kondusif. Hujan selalu turun dengan derasnya. Cukup repot jika dipaksakan karena rumah setiap murid satu sama lain saling berjauhan dan tidak setiap anak punya kendaraan bermotor.

Tradisi Unik Ramadan di Rumah Abah Jajang
Anak kelas 9C mengaku bosan dengan lingkungan rumah Abah Jajang, mereka Papajar justru memilih di rumah wali kelasnya

Kami yang tinggal di kampung, pada jelang sepuluh malam terakhir Ramadan ini juga mulai menjumpai wajah-wajah baru yang mana mereka adalah sanak saudara warga setempat yang merantau dan baru datang mudik.

Khususnya di masjid suasananya semakin ramai karena sekaligus menghidupkan qiyamul lail. Begitu juga dengan ibadah i’tikaf yang juga ramai dihadiri oleh berbagai warga wajah baru stok lama, mereka yang baru pulang dari beberapa daerah di ibukota.

Beberapa tradisi menyambut dan berpisah dengan bulan Ramadan ini menambah syahdu bulan Ramadan yang mungkin tidak akan kita temukan di negara-negara lain.

Sesungguhnya masyarakat seluruh Nusantara ini perlu merawat tradisi ini sebagai sebuah kekayaan. Selain merawat tradisi, ini juga merupakan bagian daripada moderasi beragama dimana kita perlu akomodatif dengan budaya lokal.

Tradisi Unik Ramadan di Rumah Abah Jajang
Kedepannya bisa jadi Papajar ke sini jadi sebuah tradisi Ramadan

Budaya-budaya lokal yang berbeda satu sama lain ini jangan  dianggap sebagai sebuah ancaman, akan tetapi anggaplah sebagai bagian untuk memperkaya ritual keagamaan.

Hal yang perlu kita tangkap adalah substansinya, karena di dalamnya ada nilai-nilai kebersamaan, silaturahim dan sosial.

Kita berharap Ramadan kali ini tidak berlalu begitu saja, harus ada perbaikan amal dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga generasi muda bisa melestarikan tradisi-tradisi lokal ini sehingga menjadi bahan cerita yang seru untuk anak cucu kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar