Rabu, 29 November 2023

Nonton Bareng Jaman Dulu dan Kekinian

Di pabrik penggilingan padi samping rumah terdengar obrolan para pekerja membicarakan piala dunia u 17 yang pertandingan nya akan berlangsung akhir pekan ini. Meski hujan turun rintik-rintik suaranya tak mampu mengalahkan kerasnya obrolan mereka hingga sampai terdengar oleh saya yang berada di belakang rumah.

Terdengar juga keluhan dari mereka, bagaimana jengkelnya ketika siap nonton tiba-tiba layar televisinya kena sensor. Bagaimana gak kesal kalau di siaran di televisinya diarahkan untuk membayar paket bulanan terlebih dahulu.

Jaman sekarang apa-apa memang harus serba pakai duit. Beda jaman dulu tuh, televisinya masih jarang yang punya tapi nonton bisa sepuasnya. Lah sekarang setiap rumah punya televisi, tapi mau nonton ya harus bayar lagi. Keluh seseorang yang diiyakan oleh pekerja lainnya.

Memang ya sebelumnya nonton acara sekelas nasional atau internasional bebas-bebas saja. Bahkan karena itu sering diadakan nonton bareng dimana sekelompok masyarakat bisa nonton sebuah tayangan di arena terbuka biar lebih seru dan lebih banyak lagi orang yang bisa menyaksikan bersama-sama tayangannya.

Kini nonton bareng atau nobar sebagai hal yang pada umumnya banyak dilakukan untuk gelaran acara sepakbola mulai banyak pembatasannya. Seperti karena ada pemenang lisensi hak siar dari sebuah acara, maka pihak tersebut yang berhak menayangkan acaranya. Lisensi itu didapat tentu saja tidak gratis. Jadi mereka memang berhak “menjual” lagi siaran tayang yang mereka miliki jika ingin dikonsumsi lagi oleh masyarakat lebih luas.

Nonton bareng jaman dulu dan kekinian sumber detik.com

Karena itu kegiatan nonton bareng tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Apalagi untuk acara pertandingan sekelas piala dunia atau liga Inggris yang memang ekslusif.

Jaman sekarang untuk menyelenggarakan nobar bagi acara khusus seperti pertandingan bola begitu perlu ada langkah-langkah yang dilakukan terkait pelaksanaannya. Agar nobar yang dilaksanakan bisa aman dan tak melanggar hukum atas hak siar yang dimiliki pihak tertentu.

Beda dengan acara nobar jaman dulu yang jangankan satu lingkup area tertentu seperti hotel atau kafe, nobar ditonton masyarakat sekaligus beberapa desa pun tak masalah.

Apalagi nobar nya nonton bareng layar tancap, hahaha, kalau bioskop keliling ini diadakan oleh pihak yang punya hajatan, alias tontonan yang disediakan memang gratisan, tentu saja siapa pun bisa ikut menyaksikan tanpa ada batasan usia, domisili dan sebagainya. Beda kalau nonton bareng layar tancap nya berbayar, ya pastinya yang mampu beli karcis itulah yang bisa menonton.

Ngomongin soal nonton dan layar tancap jadi teringat kenangan jadul masa tiga tahun selama saya berada di Tasikmalaya yang kalau teringat suka bikin senyum-senyum sendiri.

Layar tancap yang juga disebut bioskop keliling pokoknya pernah jadi hiburan yang sangat diminati masyarakat pada masanya. Gak salah kalau ada yang bilang layar tancap jadi ikon Indonesia. Meski karena perubahan zaman kini bioskop layar tancap itu mungkin sudah gulung tikar, walau tidak juga dibilang punah tapi memiliki kenangan tersendiri bagi saya.

Iya kenangan jadul saya di Tasikmalaya memang ada banyak namun yang sering teringat karena relevan dengan kondisi saya sekarang itu misalnya ada keseruan marak (mencari ikan secara masal) di sungai, belajar bikin cangkang ketupat karena banyak pohon kelapa yang ditebang dan daunnya berserakan di jalanan, sampai kenangan nonton layar tancap propaganda pemerintah di lapangan Desa Neglasari.

Nonton bareng jaman dulu dan kekinian
Nonton layar tancap kekinian film Jenderal Soedirman sumber jatengprov.go.id

Ingat saja itu kalau mau nonton layar tancap, habis isya paman dan bibi sudah bersiap. Saya yang masih anak bawang mau aja disuruh ini itu mempersiapkan bekal untuk semalam suntuk.

Bener semalaman? Ya, karena nonton layar tancap biasanya (kalau kuat) selesai sampai dini hari. Pernah pulang ke rumah berbarengan dengan suara bedug subuh. Secara film yang diputar itu bukan hanya satu judul, tapi beberapa sekaligus.

Tak melihat usia, tua muda sampai lansia kalau kuat ya nonton saja. Meski bagi saya, menonton filmnya tak pernah serius (apalagi kalau udah pernah lihat sebelumnya) saya justru lebih antusias melihat para penonton itu sendiri. Mengamati bagaimana masyarakat berbondong-bondong datang ke lapangan desa dengan perbekalan masing-masing.

 Ada yang bawa obor, bawa tikar atau alas duduk lainnya, bawa gembolan yang dipastikan isinya bermacam-macam mulai bekal makanan, kain atau kebutuhan anak lainnya.

Ada yang dandan biasa saja, ada yang dandanannya cetar membahana (untuk ukuran masyarakat kampung saat itu) bahkan ada yang tak mempermasalahkan soal penampilan.

Jika tahu saya akan ikut nonton layar tancap, paman dan bibi suka membekali saya uang buat jajan. Jajanan yang sering saya beli kacang tanah rebus, uli bakar, atau bakar jagung. Mana ada jualan sosis bakar ya jaman itu. Hehe...

Pada jaman itu layar tancap juga berkembang menjadi sarana untuk menunjukkan gengsi seseorang. Siapa bisa mengundang layar tancap saat hajatan pernikahan atau sunatan, sudah barang tentu dianggap Film Maker Indonesia, secara yang bersangkutan punya gengsi lantaran dianggap berduit banyak.

Film yang ditayangkan orang hajatan jelas beda dengan film yang dibawakan team propaganda atau iklan jualan produk tertentu. Meski saat itu masih belum mengenal istilah drama korea tapi kalau film serial alias berjilid sudah lumrah. Contohnya film Rhoma Irama.  Ibarat rekomendasi drama seri itu film Rhoma Irama pada masanya beneran jadi film bersambung yang banyak diminati penonton.

Biasanya film keluaran terbaru akan muncul di acara orang hajatan dan itu yang sangat dinantikan. Beda kalau film yang dibawakan para pedagang seringkali menayangkan film lama yang sudah berkali-kali ditonton.

Nonton bareng jaman dulu dan kekinian

Namanya juga tontonan rakyat, jadi ya gitu deh. Kalau mau nonton rada elit gitu biasanya harus ke kota kabupaten. Nonton di bioskop meski nyatanya di dalamnya masih menggunakan sejenis layar tancap juga sih. Tapi karena dalam ruangan dan tak perlu berdesakan jadi bayar dan agak mahal. Makanya kalau mau yang mudah dan murah, nonton layar tancap propaganda ini pilihannya, atau nunggu ada orang kaya hajatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar