Jumat, 06 Oktober 2023

Semarak Bulan Musim Kawin

Semarak bulan musim kawin benarkah jika disebut juga sebagai bulan musim kebobolan?

Pagi-pagi udah ada yang ketuk pintu. Ternyata tetangga belakang rumah, mengantar hidangan serta kue yang katanya kiriman dari besan. Minggu lalu kami memang baru saja mengantarkan anak bungsunya menikah ke tetangga kecamatan. Mungkin hantaran munjungan itu yang kini dibagikan lagi kepada kami.

“Sengaja pagi-pagi langsung dibagikan, biar bisa dinikmati saat sarapan. Iya, jadi jangan dulu ngabubur. Ini aja buat sarapan ya...” Ucap tetangga yang sudah seperti saudara itu sambil tergelak.

Saya hanya nyengir. Tahu aja dia, kalau hari Jumat ini kan hari pasar di kecamatan tempat tinggal kami ini. Biasanya, saya, suami dan anak kalau hari pasar memang suka sarapan bubur di pasar sekaligus belanja untuk kebutuhan sehari-hari.

Gerak cepat juga tetangga saya itu. Memang benar kalau saja ia agak siang sedikit mengantarkan makanan dan kue-kue itu, bisa-bisa kami keburu berangkat ke pasar. Beruntung banget kan kami akhirnya bisa menikmati hidangan gratis. Hihi, jadinya hemat pengeluaran...

Hemat?

Btw, sebenarnya gak hemat juga. Kalau boleh jujur bulan ini, justru kami ini bisa dibilang kebobolan. Bagaimana tidak, bulan ini di tempat saya bisa dibilang sebagai bulan musim kawin. Banyak banget undangan pernikahan yang kesemuanya tentu saja butuh dana untuk memenuhinya.

Jika biasanya musim kawin jatuh pada bulan Syawal dan Dzulhijjah di Tahun Hijriah, atau bulan Desember di tahun Masehi, maka entah kenapa sekarang di bulan Rabiul Awwal dan jelang Rabiul Akhir yang bertepatan dengan bulan Oktober ini justru dipilih sebagai waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan.

Memang setiap waktu juga baik ya, hanya mungkin di saat bertepatan dengan Rabiul Awwal bulan kelahiran orang terpilih sebagai teladan semua umat yaitu Rasulullah Saw maka dipercaya akan membawa keberkahan dan kebaikan. Dan masyarakat yang masih mempercayai perhitungan Jawa Kuno memilih saat itulah untuk melangsungkan niat baik seperti acara lamaran atau pernikahan.

Momen yang dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang sebelumnya sangat jarang ditemui. Termasuk memilih menyelenggarakan acara hajatan atau lamaran.

Begitu banyaknya hajatan pernikahan di bulan-bulan ini hingga membuat bulan ini dikenal oleh masyarakat sebagai musim kawin. Warga banyak yang memplesetkannya sebagai bulan musim kebobolan. Haha ...

Semarak Bulan Musim Kawin

Di kampung saya aja, bulan ini ada lima orang pemuda yang menikah, otomatis tabungan keluar banyak untuk bisa memenuhi undangan mereka. Mau menghindar mana bisa, secara kelimanya itu mereka dulu mengaji di tempat kami. Jadi tidak hanya kenal karena rumah kami bertetangga, tapi juga ada ikatan lebih yang tidak akan lekang, yaitu hubungan antara guru dengan muridnya, termasuk guru dengan wali muridnya.

Mau bagaimana lagi, meski harus kebobolan, tetap harus kami syukuri. Mereka menikah untuk menyempurnakan agama dan kebahagiaan kita sebagai orang tua (guru) bukankah ada pada kebahagiaan mereka juga?

Selama bulan ini sudah tiga kali diajak rewang (membantu keluarga yang hajatan) dan selama itu pula kebahagiaan terpancar dari setiap orang.

Kami para ibu-ibu cukup membantu saat memasak untuk acara syukuran saja. Secara untuk acara resmi lain macam seserahan, resepsi, dan sebagainya sudah dipercayakan kepada wedding organizer. Jadi tidak terlalu repot dan kelelahan seperti dulu. Kini segala urusan sudah jauh lebih praktis.

Tiga pemuda yang sudah kami antar menikah dengan istri pilihannya itu lulusan SMK dan bekerja di perusahaan kontraktor di Kalimantan. Dari segi materi untuk biaya pernikahan mereka semua menduga sudah lebih dari mampu. Tidak heran untuk persiapan pernikahan mereka banyak melihat referensi dan rekomendasi dari internet agar lebih kekinian.

Dua orang pemuda yang baru akan melangsungkan pernikahan tanggal 14 Oktober dan 23 Oktober besok, juga menggunakan jasa wedding organizer untuk kelancaran acaranya. Salah satu teman suami yang berkecimpung di dunia dokumentasi fotografi dan videografi acara pernikahan bilang, mereka itu sudah mencari konsep yang cocok sejak beberapa bulan sebelumnya.

Berbagai artikel terkait pelaksanaan pernikahan terus dibidik. Termasuk artikel dari para travel blogger yang merekomendasikan banyak lokasi bagus untuk gelar acara pernikahan atau lamaran seperti hotel, resort dan sebagainya.

Kami para orang tua di kampung ini, tentu saja hanya tinggal menyetujui pilihan mereka dan atau memberikan masukan jika ada hal yang kurang cocok dengan kebiasaan maupun tradisi setempat. Sungguh keberadaan lokasi yang mampu melengkapi acara seperti yang diinginkan para calon mempelai seperti hotel, resto reviewer ini sangat membantu sekali.

Kecanggihan teknologi mau tidak mau harus kita imbangi supaya kita tidak diam di tempat, atau bahkan jauh tertinggal.

Masih ingat saat saya pertama kali diboyong suami ke kampung ini, mereka pemuda-pemuda yang sekarang menikah itu masih berseragam SD dan getol-getolnya ngaji jadi santri kalong (santri yang tidak menetap). Kini, mereka telah dewasa dan beranjak berumah tangga, adik adik mereka, bahkan anak-anak mereka lah yang bergantian datang untuk mengaji. Seperti itulah kehidupan, datang dan pergi silih berganti.

Semarak Bulan Musim Kawin

Begitu juga dengan keuangan. Seharusnya saya tidak perlu resah menghadapi bulan kawin ini. Saat ada rejeki dan diperuntukkan untuk memenuhi undangan mereka, berarti itu memang rezeki mereka melalui tangan kita. Jadi kenapa harus resah ya?

Toh buktinya selalu ada kebaikan yang mengikuti jika kita pada awalnya berbuat dengan disertai niat baik pula. Seperti hantaran makanan dan kue dari tetangga pagi ini. Bukankah sudah membantu meringankan pengeluaran yang seharusnya dikeluarkan untuk sarapan?

Jadi gak begitu kebobolan juga kali ya, hehe...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar