Kamis, 17 Agustus 2023

Kemerdekaan Pekerja Migran

Teringat waktu saya masih kerja sebagai pekerja migran (BMI) alias TKW di Hongkong, tanggal 17 Agustus kala itu jatuh pada hari Rabu. Tapi karena di negara Jackie Chan itu bukan tanggal merah, jadi ya tidak ada libur.

Merdeka! Merdeka!

Teriakan kecil para TKW di taman bawah flat pagi itu menandakan kalau Rabu ini hari special. Saat itu tahun 2000-an belum marak smartphone seperti sekarang. Baru ada ponsel yang bisa telepon dan SMS saja.

Tapi beberapa teman yang bisa libur dan datang ke KJRI di Causeway Bay sukses menceritakan bagaimana di kantor perwakilan negara Indonesia itu diadakan upacara HUT RI dengan cukup khidmat dan meriah dihias ornamen merah putih.

Belum lagi bisa makan prasmanan sepuasnya dengan sajian makanan khas tanah air. Kami yang kerja di bagian pelosok nya Hong Kong hanya bisa membayangkan dan memaknai kemerdekaan Indonesia seadanya. Bahkan hanya dalam angan dan bayangan.

Victoria Park Causeway Bay, surganya TKW Hongkong
Kemerdekaan Pekerja Migran
Lomba joged balon
Kemerdekaan Pekerja Migran
Lomba balap karung BMI Hong Kong di Taman Rumput Victoria Park. Foto: Aiyu Nara Saputro

Pada hari kemerdekaan RI itu saya tetap ngosek WC. Pun menyelesaikan pekerjaan membabu lainnya dengan penuh idealis. Salah satu bentuk rasa syukur saya yang mendapatkan majikan lumayan baik, adalah dengan menyelesaikan semua pekerjaan sebaik mungkin.

Saat buang sampah, teman-teman di bawah flat nanya, udah ketemu anak baru yang katanya disiksa Ama-nya? Saya menggeleng. Anak baru yang mana ya?

“Gantinya Asih yang diinterminit...”

Hah? Asih diinterminit? Kapan? Jadi nenek lampir itu beneran memulangkan Asih? Terus ngambil lagi anak Indo?

Seminggu kemarin saya memang tinggal di Lau Fau San, ngurus Akong yang jatuh dan kakinya bengkak jadi ga bisa jalan. Baru semalam pulang ke Tuen Mun ini. Dan tentu saja sangat terkejut mendapatkan kabar Asih di-PHK.

Semoga kamu mendapatkan majikan yang lebih baik, Sih. Tidak terasa mata saya jadi berkaca-kaca.

Asih, anak asal Indramayu Jawa Barat bekerja ke Hongkong belum ada pengalaman. Karena non ex itu, ia mendapatkan gaji underpay (di bawah UMR/kontrak kerja) dan tidak mendapatkan hak libur.

Majikannya tinggal di Causeway Bay, di Tuen Mun ini dia merawat nenek lampir, orang tua majikannya. Nenek lampir sebutan kami untuk nenek yang dijaga Asih, saking bencinya kami sama sikap dan perilakunya yang tidak berperikemanusiaan itu.

Nenek lampir itu terang-terangan menyuruh Asih kerja rodi, tanpa memberikan makan minum yang setimpal. Kalau di taman, ia sering memarahi Asih seolah Asih bukan manusia. Meski bicara dalam bahasa Hokien, kami sedikit mengerti kalau nenek itu menganggap Asih pekerja dari Indonesia yang waktunya di Hongkong ini ya untuk kerja, kerja dan kerja! Tuh lampir ngeyel anaknya bayar orang ya buat kerja. Jadi kumat darah tinggi nya alias ngomel mulu kalau lihat Asih, pekerja nya diem meski barang sebentar.

Tak memiliki perasaan kalau Asih perlu istirahat, perlu makan minum yang cukup supaya memiliki tenaga.

Saya dan teman-teman di flat yang sama sering sembunyi-sembunyi memberikan makanan atau minuman buat Asih.

Saya dan teman-teman yang dikoordinir Mba Diah patungan membeli baju musim dingin untuknya karena gak tega melihat Asih membiru kedinginan.

Sementara nenek lampir itu tidak memperdulikannya. Malah sering memarahi Asih yang katanya kerja lambat, bodoh, dan cacian lainnya yang membuat kita sungguh sedih mendengarnya.

Memasuki musim panas, kini Asih sudah tidak ada. Entah dipulangkan ke Indonesia, atau ke agency. Dan teman-teman bilang sudah ada gantinya Asih yang juga anak dari Indonesia.

Beberapa hari kemudian, saat saya jemput anak di bawah flat, ketemu anak baru (bisa dilihat dari penampilan dan gayanya, khususnya rambutnya yang biasanya masih berpotongan pendek seperti gaya rambut laki-laki).

Seperti linglung, si Mba yang dari perawakannya terlihat usianya jauh di bawah saya, sorot matanya sayu dengan mata panda terlihat jelas di sekitar wajah.

“Mba namanya siapa? Kerja di rumah mana?”

Tanya saya sambil celingak-celinguk, takut benar itu gantinya Asih, dan nenek lampirnya ada di bawah. Kalau benar, itu anak bisa kena marah jika kedapatan ngobrol dengan sesama TKW.

Dulu Asih sering dimarahi nenek lampirnya saat ketahuan bicara dengan kami saat ketemu di taman.

“A-aku Reni. Aku kerja di #707” katanya pelan.

Benar. Itu rumah yang ditempati mak lampir. Jadi Reni fix gantinya Asih yang dibicarakan teman-teman beberapa hari lalu.

“Saya Alisa. Tetanggamu di #0712. Kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang ya. Nenekmu lampir kan? Kamu jangan takut. Kamu harus sukses. Kalau lampir ngomel, anggap saja radio rusak, ya. Kalau kamu butuh apa, ke #0712 aja. Majikanku alhamdulillah baik.”

“I-iya Mba Alisa. Terimakasih.” Katanya masih dengan suara pelan. Jelas ia masih takut.

Kemerdekaan Pekerja Migran
Aktivitas para pekerja migran Indonesia saat libur kerja

Beberapa hari kemudian ketika ngajak anak majikan turun bermain di playground, saya lihat Reni mengikuti nenek lampir turun.

Saya perhatikan dari jauh, Reni mendapatkan perlakuan tak beda dari Asih. Entah masih baru, atau Reni beda dari Asih, meski neneknya itu cerewet dan nunjuk-nunjuk tapi Reni terlihat kalem.

Sungguh pemandangan yang mengandung bawang, disaat hari kemerdekaan diperingati di bulan ini, tapi gaya penjajahan masih jelas terasa kami dapatkan.

Ketika bola anakku menggelinding ke dekat mereka, saya mengambilnya sambil bertanya, Apakah Reni ada libur? Dia hanya menggeleng.

“Padahal aku pembalut habis Mba...” katanya tercekat.

Sudah saya duga. Nenek lampir itu mana mau mengerti kebutuhan pekerjanya. Sambil melengos menggendong anak saya bilang nanti akan saya kasih saat waktu buang sampah.

Saat anak yang saya jaga tidur siang, segera saya siapkan pembalut, kopi, mie instan, dan camilan lain yang belum tentu saya habiskan hingga libur minggu depan.

Tak lupa saya menulis surat untuk Reni. Surat berisi kalimat penyemangat supaya Reni bertahan dengan nenek lampirnya itu.

Reni harus berani melawan kalau Mak lampir semena-mena. Reni harus sukses meski gaji dibawah standar dan tanpa libur. Reni gak boleh kembali kena interminit seperti Asih dan TKW-TKW sebelumnya. Reni jangan mau dijajah!

Keenakan banget itu lampir main interminit pekerja. Tanpa mereka tahu bagaimana TKW dibuat kerja paksa selama masa potongan gaji. Kerja keras sementara gaji diperas.

Tujuh bulan masa potongan gaji lalu saat habis potongan masa kontrak diputus. Dikembalikan ke agency, lalu nyari majikan lagi, dan kembali memasuki masa potongan gaji.

Sungguh seperti kerja bakti demi menyuburkan agency dan memerah para TKW hingga ke tulang dan sum-sumnya.

Saat buang sampah satu keresek penuh berisi apa yang saya ingin kasih ke Reni langsung saya berikan. Tak lupa saya masukkan buletin informasi ketenagakerjaan berisi alamat, no hp pengaduan dan berita ketenagakerjaan lainnya yang harus Reni ketahui.

Sekalian saya sampaikan ke Mba Diah yang kerja satu flat dengan kami di lantai lima mengenai kondisi Reni. Mba Diah asal Lumajang yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun di satu majikan itu bisa dibilang senior kami di flat ini.

Ia sering membantu sesama TKW. Seperti selama ini ia yang mengkoordinir bantuan untuk Asih.

Kemerdekaan Pekerja Migran
Mba Diah ikut memeriahkan HUT RI dengan mengikuti lomba cerdas cermat tingkat Cece Hongkong. Foto: Diah Vidiawati

Bukan keinginan kami kerja jadi TKW, tapi karena tidak ada pilihan lain. Tidak semua beruntung mendapatkan majikan cukup baik seperti Mbak Diah, karena itu saat mengetahui ada sesama pekerja dari Indonesia yang menderita, minimal selama masa potongan gaji, kami sepakat untuk saling membantu semampunya.

Minggu tanggal 21 Agustus, saya baru berkesempatan libur. Di Victoria Park ramai digelar berbagai pertandingan dan permainan khas agustusan. Mulai lomba lari pakai karung/sarung, lomba makan kerupuk, lomba memasukkan pensil ke dalam botol sampai tarik tambang dan fashion show ala TKW.

Meski di negara orang tapi saat libur semua bisa mengekspresikan apapun yang diinginkannya. Kami gelar tikar dan tertawa bersama. Sambil diselingi makan dan kehebohan teman-teman dalam memeriahkan acara kemerdekaan yang sedikit tertunda.

Di ujung lapangan, di atas tenda megah dengan sokongan berbagai sponsor provider, musik menghentak diiringi lagu yang dibawakan artis dan band kenamaan ibu kota yang sengaja didatangkan panitia dari tanah air untuk menghibur masyarakat Indonesia yang sedang bekerja di Hongkong ini.

Kemerdekaan Pekerja Migran
Suasana fashion show BMI Hong Kong di Tenda Putih Victoria Park. Foto: Ida Yuna
Tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada lapangan untuk lokasi acara perlombaan, BMI Hong Kong menggelar acara di lorong bawah tanah sebuah stasiun MRT. Kalau ketahuan pakde alias polisi HK, jelas bisa dibubarkan. Foto: Ninik Colection

Dalam satu kesempatan saya mendapatkan dua kondisi nasib TKW yang berseberangan. Satu sisi bahagia menikmati kemerdekaan (kebebasan saat liburan) sisi lain ada yang terpenjara dijajah oleh majikan yang tidak berperikemanusiaan seperti yang dialami Reni, dan masih banyak TKW -TKW lainnya dengan nasib yang sama bahkan lebih parah.

Kondisi yang teramat jomplang saat perayaan HUT RI ini sungguh tak bisa terlupakan. Saat itu memang belum ada BNP2TKI atau sekarang yang diubah jadi BP2TKI. Sehingga kondisi para pekerja migran semenderita apapun banyak tidak bisa full terpantau.

Kemerdekaan Pekerja Migran

Dan sekarang, harapan saya di usia ke 78 tahun kemerdekaan Indonesia ini semoga perlindungan pemerintah untuk para pekerja migran lebih nyata adanya.

Berantas calo dan agency yang hanya memeras para pekerja dengan sistem apapun. Setidaknya meski tidak ada lapangan pekerjaan buat kami di dalam negeri, beri kami kemudahan dalam mengurus segala persyaratan dan birokrasi saat memilih mengadu nasib merantau ke luar negeri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar