Mengenang momen Ramadan tak terlupakan yang pernah saya alami ketika tinggal di Bandung, Tasikmalaya, Cianjur, Singapura, Hongkong dan Taiwan ini ternyata tidak mudah. Mungkin saking dalam kenangannya, saat menuliskannya tidak sadar saya sampai ikut tertawa dan bahkan berderai air mata...
Tidak semua kenangan masa kecil saat menjalani bulan Ramadan cukup kuat dalam ingatan. Tapi ada beberapa potongan memori yang bertahan dengan jelas, terbayang seolah kejadiannya bisa diputar berulang.
Pertama kali menjalankan ibadah puasa Ramadan yang saya ingat itu ketika masih tinggal di Bandung. Kebetulan rumah yang ditempati berada di samping Masjid Jami At Taufik di Jalan Gumuruh Gatot Subroto yang mana di sana salah satu tempat saya mentahbiskan masa kecil yang tidak akan terlupakan.
Bersama teman masa kecil ada adik kakak Angga dan Anggi, Ari, Nia dan adiknya Agus (sama dengan saya memiliki adik bernama Agus) lalu ada Hani dan Desty, dan Hendi yang kesemuanya selalu bermain bersama manakala mengaji di masjid atau bermain di lapangan rumput depan masjid menunggu waktu berbuka.
Bermain sarung, bermain ayunan di pagar masjid, jalan pagi dan sore ke Martanegara atau ke Lapangan Seskoad (saat itu Neneknya Nia kerja di sana), semua selalu terbayang menjadi kenangan manis yang tidak terlupakan. Dibarengi candaan dan kejahilan masa-masa anak kecil jaman dulu tanpa terkontaminasi gadget pastinya.
Masih ingat juga ketika saya entah kelas satu atau dua SD, melihat adik yang puasa sampai setengah hari dan berbuka sendiri makan dengan sayur, saya ikut tergoda. Lalu diam-diam menyendok sayur langsung dari pancinya dan memakannya dengan sembunyi-sembunyi. Tentu saja pada ibu dan bapak mah saya bilangnya masih berpuasa. Haha... Namanya juga masih kecil, saya ceritakan ini bukan mau buka aib ya. Supaya jadi pelajaran yang tidak terlupakan saja. Jangan sampai anak sekarang mengikuti hal buruk seperti yang saya lakukan diam-diam kala itu ya...
Kenangan lainnya kalau cuaca bagus, diajak bapak ngabuburit ikut ke pasar Kiaracondong. Di sana bisa beli jajanan khas Ramadan. Apalagi kalau bukan kolek dan kembang api. Sementara saya selain jajan itu juga keukeuh minta ke bapak dibelikan majalah anak bekas. Dan bapak gak bisa menolak walau uangnya gak cukup, ia sampai minjam ke temannya sesama yang berjualan.
Ah, semoga segala kebaikan dan kasih sayang almarhum bapak saya itu mendapatkan balasan dari Allah SWT. Aamiin... Sungguh, saya rindu Bapak di momen Ramadan ini, Pak...
Ramadan selanjutnya saya alami di Tasikmalaya karena saya melanjutkan sekolah di sana ikut nenek dari pihak bapak.
Masih terbayang juga pertama kali ikut pengajian pesantren kilat bersama teman sepermainan sekaligus sekolah di SMP. Ada Nelis, Rini, dan kawan laki-laki lainnya.
Saat itu saya masih bisa dibilang polos. Sementara teman-teman lain di kampung sudah pada tahu tentang pacaran. Ya semacam cinta monyet gitu lah. Jadi antara santri putri dan santri putra itu saling menaksir. Lalu diam-diam saling berkirim surat cinta. Haha... Masih ingat saja kalau saya lah yang menjadi kurir nya.
Sementara ke saya sendiri ga ada tuh yang ngasih surat. Hehe, kenapa saya jadi iri, ya? Ternyata belakangan diketahui kalau semua itu ulah sepupu dan paman-paman saya yang menjaga saya.
Jadi kalau ada surat berbau-bau love-love gitu buat saya mereka langsung jegal. Alasannya katanya karena amanat dari bapak saya, kalau saya sangat diwanti-wanti dititipkan pada mereka. Jadi sepupu dan paman saya yang sangat takut sama bapak (bapak saya anak pertama) manut banget.
Sebagai pengalihannya, saya diajak main ke sawah, ke sungai, ke desa sebelah dengan alasan mengunjungi saudara hingga pulangnya membawa kelapa muda, ikan hasil memancing dan sebagainya.

Tidak takut meski hanya saya anak perempuan satu-satunya dalam rombongan yang abring-abringan itu, karena kebanyakan dari mereka adalah para paman dan saudara yang usianya sudah lebih dewasa dari saya. Mereka itulah yang menjaga saya selama saya tinggal bersama nenek.
Terbayang tertawa sampai terpingkal-pingkal ketika nongkrong di anak tangga Kampung Naga, sambil praktik bahasa Inggris ketika ada turis yang lewat. Niat hati mau speaking English apa daya bahasa belepotan, jadinya malah jadi bahan bercandaan...
Sebagian lain berolahraga berlari naik turun tangga Kampung Naga yang jumlahnya lebih dari empat ratus anak tangga. Ya meski puasa, para paman dan sepupu saya itu sudah terbiasa berkeringat karena memang jalan itu satu-satunya akses keluar masuk kampung.
Menginjak remaja saya sekolah pindah lagi ke Sukanagara di Cianjur. Disini cuacanya lebih sejuk malah kadang bikin saya menggigil karena daerahnya perkebunan teh yang sering diselimuti kabut. Tak banyak kenangan saat Ramadan selain saya harus sudah mandiri, alias masak sahur sendiri.
Jadi kondisinya saat di Cianjur ini bapak sudah tidak ada, ibu saya merantau di ibukota cari nafkah bersama saudara-saudaranya. Saya dan adiklah berdua di rumah. Makanya beban saya seolah udah jadi pengganti bapak dan ibu saja. Berat aja menjalani Ramadan bersama adik kali itu.
Selama Ramadan saat sekolah di Cianjur saya hampir tak pernah ikut ngabuburit karena memilih diam di rumah saja. Selain udaranya menurut saya terlalu dingin, juga karena saya jomblo akut. Haha, gak enak kan kalo cuma jadi penonton mereka yang jalan-jalannya berpasangan. Selebihnya ya saya memilih menyiapkan semuanya di rumah daripada main keluyuran.
Selanjutnya saya lalui belasan Ramadan di luar negeri. Disinilah rasanya perjuangan saya ketika mempertahankan keimanan benar-benar diuji.
Ramadan di Singapura tidak begitu banyak kenangan karena lingkungan Melayu masih begitu kental. Walaupun majikan nonis (non Islam) saya masih bisa menjalankan puasa dan merasakan hawa Ramadan tetap kental di sekitar.
Yang bikin lucu itu anak majikan, namanya Jonathan. Saat itu usianya 4 tahun. Dia heboh bilang ke ibunya yang baru pulang dari Amerika kalau katanya sekarang Jiejie Lili baru bisa makan kalau sudah mendengarkan lagu. Rupanya yang dimaksud Jonathan lagu adalah kumandang adzan yang saya dengar dari radio. Ah, dasar bocah nonis...
Kalau Ramadan di Hongkong meski saya alami hanya dua kali, tapi rasanya terlalu banyak kenangan hingga saya sulit untuk menjelaskannya.
Saya bisa menjalankan ibadah puasa. Bahkan sering ikut kajian di Islamic Center di Masjid Omar di Wan Chai bersama teman-teman lain. Tapi semuanya kok terasa biasa saja. Mungkin karena perjuangannya kurang greget?

Barulah ketika menjalani Ramadan di Taiwan titik balik menjadi muslimah itu seolah saya alami dengan sesungguhnya.
Saya sempat adu mulut dengan orang tua majikan yang melarang saya berpuasa, dengan alasan dia takut saya mati di rumahnya kalau tidak makan. Baru ketika majikan turun tangan menjelaskan, mereka mulai paham dan membiarkan saya menjalankan puasa Ramadan dengan pengawalan yang ketat. Saya yang punya job jaga jompo, saat Ramadan kok jomponya yang malah jagain saya, haha...
Selama beberapa kali menjalani Ramadan di Taiwan, bersamaan waktunya dengan geliat literasi kepenulisan di dunia maya yang saat itu sedang semarak bermunculan. Saya bersama 24 penulis muslim WNI yang ada di berbagai negara di dunia berhasil membuat buku antologi tentang pengalaman menjalankan puasa di perantauan, lho.

Alhamdulillah hasil menerbitkan bukunya di Taiwan dengan sistem jual putus dengan perusahaan Indosuara itu saya bisa membagikan sedikit royalti ke puluhan kontributor yang tersebar di berbagai negara termasuk buku hasil cetaknya.
Waktu pulang saya sempat bawa beberapa eksemplar buku cetaknya itu dan saya bagikan ke Kompasianer senior kalau ga salah... Secara mereka juga yang membimbing saya dan berinteraksi di dunia blogging kala itu. Sebelum saya punya domain sendiri ini.

Masih banyak kenangan pengalaman momen Ramadan saya yang tidak terlupakan, tapi mungkin saya ceritakan lebih detail nya nanti dalam artikel terpisah ya. Untuk saat ini segitu saja dulu bernostalgia nya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar