Sabtu, 30 Desember 2023

Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian

Beberapa teman waktu kecil dan kini sudah sama-sama tua ada yang bertanya saat kami bertemu ketika liburan akhir tahun kemarin. Katanya kok bisa saya jadi blogger? Mereka mengaku sering melihat kegiatan saya di berbagai sosial media yang memang kadang saya share link artikel blog pribadi di sana. Sebagai salah satu upaya menarik calon pembaca untuk lebih mudah mengunjungi blog saya.

Saya tertawa. Bukankah semua orang bisa banget kok jadi bloger (dan bahkan jadi apapun)?

“Terus itu bagaimana prosesnya bisa jadi bloger?” pertanyaan lebih jauh dari salah satu teman yang kini tinggal di luar Pulau Jawa membuat saya ambil keputusan untuk membuat artikel ini.

Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian

Secara jujur, bagi saya jadi bloger itu tidak bisa instan. Ibarat untuk mendapatkan job, kita butuh tips melamar kerja yang benar Jadi bloger gak bisa asal hanya punya kemampuan bisa menulis saja. Melainkan harus melalui berbagai tahapan dan jenjang (kalaupun tidak ikut pelatihan dan semacamnya). Progresnya teramat panjang...

Saya sangat ingat jika sejak kecil sudah diberi Tuhan kemudahan untuk bisa menulis dan membaca. Meski kondisi keluarga sangat kekurangan, bahkan saya hampir tak mau berangkat daftar masuk sekolah formal karena malu dan minder dengan kondisi dan keadaan, tapi selalu saja ada waktu dan kesempatan yang mendukung sehingga saya bisa memperlancar kemampuan membaca dan menulis.

Kesenangan akan membaca ini semakin muncul lebih besar manakala orang tua sering berjualan di Pasar Kiaracondong Bandung dan di sana saya menemukan lapak pedagang majalah serta koran dan buku-buku bekas yang bisa bebas saya baca walau tidak membelinya.

Selama ikut orang tua jualan, saya betah menitipkan diri di si mamang penjual majalah bekas itu. Begitu juga si mamang tak keberatan saya menemaninya di lapaknya. Bahkan dia sering mengatakan pada orang lain, menyukai anak kecil yang sudah suka membaca seperti saya.

Si mamang penjual buku dan majalah bekas sering meminjamkan majalah anak supaya saya bisa membacanya di rumah dan tak perlu mengumpulkan lagi kertas pembungkus gorengan atau koran bekas pembungkus yang sudah koyak hanya demi bisa menuntaskan rasa penasaran untuk membacanya. Hehe, memang karena saking sukanya membaca, kertas apapun sering saya pungut untuk membacanya dulu sebelum kemudian membuangnya.

Kesenangan akan membaca ini menjadikan saya lebih menyukai pelajaran bahasa Indonesia dibandingkan pelajaran lainnya. Saya sangat antusias jika ada pelajaran Bahasa Indonesia khususnya tugas mengarang.

Dulu, setelah liburan sekolah biasanya guru membuat tugas kepada semua murid untuk mengarang menceritakan pengalaman selama berlibur. Jika teman-teman lain menulis satu halaman saja tidak pernah penuh, maka saya akan meminta kertas baru sehingga bisa menulis sebanyak dua lembar atau empat halaman.

Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian

Semakin besar, saya merasa semakin tertarik dengan dunia sastra. Ketika ada tetangga yang membeli koran saya sering pinjam untuk membaca khususnya bagian cerpen cerbung dan atau puisi serta sajak.

Meski masih jauh dari kata layak, tapi saya sudah memiliki keinginan untuk mengirim karya tulis ke redaksi koran dan majalah itu. Dari sekian banyak majalah anak dan surat kabar daerah yang saya kirimi naskah, akhirnya ketika SMP ada salah satu karya kiriman saya berhasil dimuat. Senang banget pastinya. Pecah telor.

Karena terbentur masalah ekonomi, saya harus pindah domisili demi bisa melanjutkan sekolah. Ternyata hal itu justru membawa nilai positif karena dengan pindah sekolah dan tempat tinggal saya bisa tetap berkomunikasi dengan surat menyurat. Secara tidak langsung kemampuan tulis menulis dan merangkai kata saya semakin terasah.

Secara sendirinya saya juga jadi mendapatkan banyak sahabat pena. Baik yang jumpa melalui perkenalan yang berawal dari kolom pembaca di surat kabar dan atau teman sekolah dulu yang masih berlanjut berkomunikasi melalui surat menyurat hingga lulus sekolah.

Ketika saya menjadi TKI, kegiatan surat menyurat kembali meningkat. Saat itu belum ada telepon apalagi internet. Sahabat pena saya tak hanya berada di dalam negeri tapi juga beberapa di luar Indonesia.

Semakin terpacu untuk terus mengasah kemampuan menulis, saya mencoba bikin cerita dan dikirim ke radio, surat kabar dan buletin migran. Sesekali ikut lomba dan ketika berkesempatan menang, senangnya tak ketulungan.

Ketika dunia semakin marak dengan masuknya jaringan telepon saya terpacu juga untuk meningkatkan kemampuan menulis dengan belajar jurnalistik, menulis blog dan magang jadi reporter kegiatan buruh.

Dunia menulis dan membaca semakin saya sukai dan sesaat pun rasanya tak ingin terpisahkan. Terlebih ketika internet sudah bisa diakses secara bebas, niat untuk terus belajar semakin besar. Belajar otodidak di perpustakaan umum negara orang yang sudah canggih, turut menempa jiwa dan raga saya untuk semakin menguatkan diri menyukai dunia menulis dan membaca.

Pengalaman dan rintangan terus menempa saya hingga semesta memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu dengan orang baik dan diajak kerja sama menjadi kontributor media berbahasa Indonesia di negara penempatan HK, Taiwan, dan freelance liputan di media yang terbit dan beredar di Taiwan, HK dan Macau.

Nyicil Tulisan Dulu, Jadi Bloger Kemudian

Saat selesai kontrak sebagai buruh migran, saya diajak bergabung menjadi jurnalis biro Indonesia untuk sebuah media yang terbit dan beredar di Taiwan. Alhamdulillah lebih dari 10 tahun saya bergabung dengan dunia media yang tak jauh dari kegiatan menulis dan membaca, hingga saya mundur teratur karena harus mulai bisa fokus mengurus keluarga.

Jadi ibu rumah tangga tak serta merta memutuskan hobi dan kebiasaan saya dalam menulis dan membaca. Didukung dengan adanya internet masuk desa, kesempatan untuk tetap bisa menulis dan membaca semakin terbuka lebar. Blog jadi salah satu pilihan saya untuk terus bisa merealisasikan semua pemikiran  keinginan dan harapan.

Disamping jika diseriusi blog juga bisa menjadi sumber penghasilan, meski tak bisa diprediksi macam gajiannya orang yang berstatus karyawan.

Jadilah aktivitas ngeblog menjadi bagian dari kehidupan saya di samping menjalankan tugas dan kewajiban sebagai istri dan seorang ibu rumah tangga.

Blogger ibu rumah tangga, lama-lama julukan itu muncul dengan sendirinya disematkan orang-orang yang melihat saya asyik dengan dunia ngeblog alias dunia tulis menulis di dunia maya.

Seiring dengan perkembangan teknologi ngeblog tak hanya lagi berisi tulisan saja, melainkan juga ada tuntutan untuk dipercantik dengan foto dan video yang menunjang tulisan. Coba lihat kreativitas di shinbi house yang siapa tahu bisa menginspirasi.

Begitulah, pelan-pelan saya pun belajar dan terus belajar. Menyicil tulisan dari dulu, hingga akhirnya bisa jadi bloger saat ini.

Perkembangan yang tidak sebentar dari awal hingga sekarang. Satu yang harus kita garis bawahi jangan sepelekan proses dan progres sekecil apa pun itu karena hidup ini bukan sulap yang cukup bermodalkan mantra sim salabim...

Bukan mengecilkan semangat para blogger baru, karena jika diniatkan dengan benar, dijalankan dengan konsisten dan penuh tanggung jawab, banyak kok blogger pemula yang bisa sukses dan bertahan. Jadi semua tergantung pada kerja keras masing-masing ya ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar