Rabu, 20 Maret 2024

Pengalaman Perang Berburu Takjil Melawan Orang Tua Murid

“War Takjil” atau berburu takjil di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di kawasan perkotaan ternyata kejadian juga di kampung saya. Mirisnya saya salah satu pelakunya. Akward gak sih...

Berasa gak percaya kalau mengingat pengalaman tentang berperang berburu takjil di hari pertama puasa Selasa minggu lalu. Apalagi saya hampir adu mulut berkepanjangan karena kesal menghadapi sesama pembeli yang tidak antre, dan parahnya belakangan baru diketahui kalau ia yang berperang dengan saya adalah salah satu orang tua murid yang diajar suami. Haha! Malunya...

Jadi ceritanya anak saya mau beli salah satu merk ayam goreng yang baru buka gerai di kecamatan tempat kami tinggal. Maklum baru buka, yang beli banyak banget sementara si penjual gak siap menghadapi pembeli yang membludak.

Melihat situasi seperti itu saya sarankan pada anak untuk pergi saja, cari penjual ayam goreng lain yang tidak penuh. Tapi anak maunya ayam goreng yang baru buka itu. Katanya pengen mencoba.

Saya akhirnya mengikuti keinginan anak. Kasihan juga kalau ditolak, mana hari pertama puasa. Anggap saja mendapatkan ayam goreng penuh perjuangan dan kesabaran ini reward berpuasa untuknya.

Sepakat kalau anak dan suami memilih membeli minuman untuk berbuka lainnya dan akan menunggu di sepeda motor jika nanti saya belum selesai mendapatkan ayam goreng yang diincar. Jadi dengan penuh semangat saya maju mengantri bersama pembeli yang lain.

Namun gitu deh etika dan budaya antri di kampung masih rendah. Saya diserobot seorang ibu muda yang katanya anaknya udah nangis menunggu. Mana rumahnya jauh pula katanya takut kemagriban di jalan.

Pengalaman Perang Berburu Takjil Melawan Orang Tua Murid

Hello, jelas saya tidak terima dengan semua alasannya itu. Dia pikir yang lain gak punya alasan seperti dirinya? Jelas saya tidak mau posisi pesanan saya diambil alih. Saya ngotot ke penjual minta keadilan dan sedikit menekan melalui ucapan kalau sekali penjual mengecewakan pembeli maka selanjutnya tidak akan ada lagi pembeli yang datang.

Si ibu muda tetap tidak terima. Saya pun. Apalagi melihat anak saya sudah gelisah bersama ayahnya menunggu sekian lama. Jiwa pemberontak saya langsung keluar. Main sikut ayo, main melotot mata sampai cakar-cakaran juga ayo. Demi kebenaran, siapa takut ...

Ketika ayam goreng sudah sedia, masih panas karena baru diangkat dari penggorengan, saya nekat masuk ke bagian dalam dan mengambil penjepit yang dipegang penjual. Seolah menjadi pelayan mereka, saya bilang saya mau menyiapkan sendiri saja pesanan saya.

Dengan cekatan saya memilih beberapa potong ayam goreng kesukaan anak, beberapa bungkus kentang yang sudah disediakan salah satu pelayan lain dan memasuki semuanya ke dalam plastik khusus. Lalu sambil minta sausnya saya minta dilihat dan dihitung karena mau saya bayar langsung.

Banyak pembeli yang bengong melihat aksi saya itu. Saya cuek saja. Toh saya juga membeli. Justru dengan menyiapkan sendiri saya ini udah meringankan pekerjaan pelayan, bukan?

Pelayan aja sampai ga bisa ngomong. Tapi tetap mengerjakan permintaan saya sampai memberikan uang kembalian. Setelah mengucap ijab kabul jual beli saya langsung menerobos antrian. Khusus di depan ibu muda yang tadinya mau menyerobot pesanan saya, saya mendekatinya.

“Maaf ya Teh, jangan sampai karena kurang adab dan etika, kita berperang memperebutkan gorengan ayam. Pahala puasa bisa hilang. Antri kalau mau aman dan sadar diri kalau datang belakangan.” Ucap saya kepadanya secara khusus.

Lega meninggalkan kerumunan mereka menuju parkiran disambut anak dan suami yang sekian lama menanti.

“Ada bicara apa sama orang yang baju hitam itu?” tanya suami. “Sepertinya itu orang tuanya si anu dari daerah anu. Ibu kenal?”

Hah? Saya melongo. Jadi yang nyerobot antrian dan saya kasih kuliah satu menit tadi itu orang tua nya dari murid suami?

Untung nya sih saya tidak kenal. Tapi kalaupun ujungnya bakal ketemu lagi, saya pastikan dia yang bakal malu. Bukan saya.

Ketika saya ceritakan kejadiannya pada anak dan suami, mereka tertawa. “Si ibu mah wanian ih,” celetuk anak saya. Mengatakan kalau katanya saya pemberani.

Ialah buat menyenangkan anak soleh satu-satunya di rumah selagi benar saya ini gak mau jadi pembeli merangkap pelayanan dan gak takut kalau cuma ngasih kuliah satu menit pada mereka yang bikin onar. Sombong saya sambil memeluknya gemas.

Pengalaman Perang Berburu Takjil Melawan Orang Tua Murid

Sekarang kalau ingat kejadian perang berburu takjil ini jadi suka meringis sendiri. Tapi ya kita ambil hikmahnya aja, ya.

Dengan adanya war takjil, mungkin kita dapat mengatrol pergerakan ekonomi kreatif atau usaha kecil dan menengah (UMKM). Pedagang takjil tentu meningkat omset penjualannya karena banyaknya permintaan pasar. Hal itu juga membawa pengaruh pada usaha penyedia bahan pembuat takjil tersebut.

Selanjutnya ada siprit keagamaan pula dari masyarakat yang mampu atau instansi lainnya, mereka jadi banyak yang menyediakan menu berbuka puasa secara gratis bagi masyarakat dan musyafir.

Ngomong-ngomong akibat tren takjil yang dipopulerkan oleh netizen yang rata-rata dari kalangan genzi ini, pada tahu gak sih sudah terjadi pergeseran arti kata dan makna takjil?

Dalam bahasa Arab ada istilah ta’jil yang diartikan menyegerakan berbuka, tetapi dalam masyarakat Indonesia takjil justru diartikan malah berbagai makanan khas berbuka puasa.

Kata takjil berakar dari kata ‘ajila dalam bahasa Arab yang memiliki arti menyegerakan, sehingga takjil bermakna perintah untuk menyegerakan untuk berbuka puasa.

Hanya setelah mengalami berbagai penyesuaian kata Takjil jadi diartikan sebagai istilah yang digunakan untuk menyebut makanan atau minuman ringan yang dikonsumsi saat berbuka puasa pada bulan Ramadan.

Istilah takjil ini jadi merujuk kepada makanan atau minuman yang dimakan atau diminum untuk menyegarkan tubuh setelah berpuasa seharian penuh.

Tuh, jauh banget bedanya kan? Gap apa. Yang penting dipahami kalau telah terjadi perubahan makna takjil dari perbuatan ke makanan.

Takjil juga berbeda dengan iftar ya. Apa bedanya takjil dan ifthar?

Kita lihat dulu apa arti dari iftar atau ifthor. Kata Ifthor berasal dari bahasa Arab yang artinya buka puasa.

Jika takjil mengajarkan untuk bersabar menunggu waktu berbuka puasa sambil mengendalikan diri untuk tidak tergoda mengonsumsi makanan atau minuman sebelum waktu yang ditentukan. Sementara iftar mengajarkan untuk bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan dengan memulai kembali aktifitas makan dan minum setelah berpuasa.

Bulan Ramadan waktu yang penuh berkah dan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu momen yang dinantikan adalah berbuka puasa. Ucapan happy iftar selama bulan Ramadan ini cocok digunakan untuk mengucapkan selamat berbuka puasa dengan gaya lebih kekinian khususnya di media sosial.

Jadi kalau ingin memberikan ucapan berbuka puasa antimainstream, bisa menggunakan ucapan happy iftar ini aja.

Melihat kejadian itu semua moga semakin memberi keyakinan penuh bagi kita, bahwa Ramadhan adalah bulan keberkahan dan memberi rahmat bagi semua umat manusia sejalan dengan istilah bahwa Islam rahmatan lil’alamin bagi umat manusia di dunia ini ya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar