Sejak ibu saya dinyatakan memiliki penyakit gula, banyak perubahan yang mau tidak mau harus saya dan keluarga sesuaikan khususnya dalam pola makan dan kebiasaan.
Penyakit gula yang lebih banyak diketahui istilahnya dengan Diabetes ini seperti kita tahu penyakit yang diakibatkan karena terlalu banyak kadar gula dalam darah (glukosa darah tinggi).
Apa yang terjadi kalau terkena penyakit gula?
Pernah baca dari sebuah platform kesehatan, kalau diabetes yang tidak ditangani dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, kebutaan, dan kerusakan saraf di kaki.
Ya, separah itu diabetes bisa menimbulkan berbagai komplikasi, baik yang terjadi mendadak (akut) maupun dalam jangka panjang (kronis).
Komplikasi yang dapat muncul bagi penderita diabetes adalah stroke, penyakit jantung, gagal ginjal kronis, neuropati diabetik, gangguan penglihatan, katarak, bisa depresi, demensia, gangguan pendengaran, frozen shoulder, hingga luka dan infeksi yang sulit sembuh. Masih ada juga kemungkinan kerusakan kulit atau gangrene akibat infeksi bakteri dan jamur, termasuk bakteri pemakan daging.
Ibu saya sempat abai dengan pola hidup sehatnya sehingga kenaikan kadar gulanya yang tinggi menyebabkan ia harus mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran. Ditambah gatal di sekujur tubuhnya dan sakit kaki di area persendian.
Meski masih bisa melihat dan beraktivitas tapi ibu saya sudah tidak bisa membaca dengan benar karena apa yang dilihat secara dekat katanya terlihat kabur. Rangkaian huruf terlihatnya semua menyatu.
Begitulah kini ibu saya tidak bisa ikut acara tadarusan rutin sebagaimana biasanya dilakukan pada saat bulan Ramadan. Karena huruf Hijaiyah dalam rangkaian surat tidak bisa ia bedakan. Meski begitu, ibu saya tetap memaksakan diri hadir dan hanya bisa menyimak bacaan dari teman-temannya saja.
Sesedih itu rasanya ketika sebagai anak saya tidak bisa banyak membantu mengupayakan untuk kesembuhannya.
Siapa sangka jika gejala yang sering dikeluhkan ibu saya dulu seperti katanya sering merasa haus dan lapar tapi badan terasa lemas walau sudah makan, beser alias sering buang air kecil pada waktu tidur malam hari, dan mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, pandangan kabur, kena penyakit gatal-gatal di seluruh tubuh, nyeri pada kaki, jika semua kondisi itu justru pertanda ketika glukosa dalam darah berada di atas rentang normal tetapi tidak cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes.
Tapi ternyata, kemungkinan kala itu ibu saya sebagai prediabetes yang karena kami abai tidak menangani dengan baik sehingga akhirnya ibu saya didiagnosa menderita diabetes.
Gimana cara mengatasi penyakit gula?
Yah, bersyukur ibu saya memiliki keyakinan pada kalimat tidak ada kata untuk terlambat. Ibu saya masih bersemangat mengikuti apa anjuran dokter dan anak-anaknya supaya kadar gula dalam tubuhnya masih bisa dikendalikan hanya dengan alasan ia ingin memiliki waktu lebih lama untuk membersamai anak cucunya.
Meski lemah, ibu rutin berolahraga dengan jalan santai, ikut senam kesegaran jasmani di lapangan kecamatan kalau cuacanya bagus, mengikuti saran dokter yang disampaikan lagi oleh anak menantunya untuk menjaga pola makan sehat. Disamping melakukan pengecekan gula darah secara berkala dan berusaha untuk tidak banyak pikiran (mengelola stress).
Apakah penderita penyakit gula bisa sembuh?
Dokter dimana ibu saya konsultasi dan berobat bilang sih diabetes tidak dapat disembuhkan. Tapi penyakit ini dapat ditangani dan dikontrol, yang berarti penderita bisa mempertahankan kadar gula darah tetap dalam kadar normal sehingga tidak menyebabkan komplikasi (penyakit lanjutan yang lebih berat dari penyakit awal).
Bagaimana cara agar terhindar dari penyakit diabetes?
Untuk mengurangi risiko penyakit diabetes yang diderita ibu, beberapa cara yang kami dilakukan, yaitu mencoba menerapkan pola makan sehat yang bisa kami jangkau dan banyak minum air putih.
Maksud pola makan sehat yang bisa kami jangkau disini adalah merujuk pada kemampuan kami. Tentu saja namanya di kampung dengan perekonomian kami yang berada di kelas bawah banyak hal yang tidak bisa kami capai. Solusinya ya kami menyesuaikan atau paling tidak ya bisa mendekati.
Diabetes pantangan makan apa?
Sejak awal baik dokter maupun teman sahabat dan saudara sudah memberikan informasi kalau penderita diabetes sebaiknya menghindari konsumsi nasi putih, roti putih, dan kentang goreng. Hindari juga makanan yang mengandung banyak gula.
Untuk memenuhi asupan karbohidrat, ibu saya disarankan makan nasi dari beras merah, atau ubi jalar yang dipanggang.
Lauk apa saja untuk penderita diabetes?
Untuk penderita diabetes, ikan dan makanan laut bisa menjadi pilihan lauk yang sangat baik karena kandungan omega-3 yang tinggi. Asam lemak omega-3 dikenal dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan membantu mengatur kadar lipid dalam darah.
Bukan berarti tidak boleh makan makanan lain ya, hanya dikurangi dan untuk yang mengandung kadar gula tinggi sebaiknya memang dihindari.
Meski tidak selalu dengan lauk laut, setidaknya kami bisa mengganti dengan ikan air tawar yang bisa kami dapatkan dengan lebih mudah.
Adapun informasi yang saya dapat dari Eating Well, minuman penurun gula darah tinggi yang bisa menurunkan kadar gula adalah air putih, kopi, teh hitam, teh hijau, dan jus tomat.
Nah, karena peduli akan kesehatan ibu saya itulah, saat bulan Ramadan sekarang saya mencoba hal yang tidak biasa dilakukan para bulan puasa pada umumnya untuk sajian menu berbuka dan menu sahur ibu.
Menu sahur praktis untuk ibu yang menderita diabetes pun saya coba rancang sebisanya.
Jika nasi merah yang dimasak secara tradisional (dibuat pera dulu lalu dikukus) sudah sedia karena masak sekalian untuk menu berbuka dan sahur sekaligus, maka untuk lauknya saya pilih yang simpel dan mudah saja namun tetap bisa mengontrol kadar gula yang dikonsumsi.
Seperti ketika ibu memilih ikan untuk teman makan nasi merah, maka saya buat steam ikan dengan bumbu sederhana. Hanya melumurinya dengan garam, lalu dikasih daun salam supaya tidak tinggi bau amisnya.
Jika dengan lauk seperti itu ibu sudah mulai bosan, maka saya pilih ikan masa kecil ibu yaitu beunteur (ikan wader). Ikan ini menjadi kenangan yang tidak dilupakannya karena saat kecil katanya ia sering ikut kakek mancing dan ambil ikan di sungai yang mana kebanyakan beunteur itu yang didapat.
Supaya agak lain rasa dan packaging nya, saat masak beunteur ini saya kasih bumbu kuning dan dibungkus pakai daun pisang.
Cara mengukusnya juga tidak perlu ribet, cukup mengunakan rice cooker dengan memanfaatkan alat penghangat lauknya saja. Bisa dimasak saat menanak nasi untuk saya dan keluarga lainnya sekaligus atau terpisah, sesuai keinginan dan kebutuhan waktunya saja.
Begitu juga dengan sayuran yang bisa dikonsumsi ibu. Tinggal dikukus menggunakan rice cooker juga jadi bisa sekaligus masak nasi. Tetap praktis dan keburu untuk makan sahur ibu walaupun saya bangun untuk masak sekitar jam tiga. Selama ini yang sering kami kukus adalah pare muda dan wortel.
Jika buat sayur bening maka daun kelor sering jadi pilihan. Karena khasiatnya banyak, juga kebetulan kami nanam sendiri jadi tinggal ambil kalau perlu secukupnya.
Untuk tumisan, saya buat yang paling simpel yaitu fan cie cau tan (tumis tomat dengan telur). Sebenarnya ini resep masakan Chinese yang saya dapat saat kerja di Taiwan. Tapi ternyata sekarang ibu saya justru menyukainya. Mungkin saja sih tidak begitu suka tapi demi menjaga kadar gula dan kesehatannya jadi ibu diam saja, pura-pura suka? Hehe...
Yang pasti baik ibu maupun kami anak menantunya saat ini harus banyak stok sabar dan bersyukur karena meski sempat ngedrop ibu masih bisa sembuh lagi. Meski dengan menu sahur dan berbuka yang sederhana, praktis bahkan tidak bikin berselera tapi untuk kesembuhan ibu yang menderita diabetes kami berusaha untuk terus mengupayakan.
Teman-teman bisa kasih info menu praktis lainnya untuk ibu saya yang menderita diabetes supaya tetap semangat menjalankan ibadah puasanya? Feel free to share ya ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar