Jumat, 10 Mei 2024

Lima Nilai Pendidikan Karakter Utama Versi Kemendikbudristek

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sudah menetapkan pendidikan karakter jadi pintu masuk untuk pembenahan pendidikan nasional.

Penguatan karakter jadi program prioritas pemerintah kepresidenan Jokowi. Sebagaimana yang diprogramkan dalam nawa cita yang disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa.

Kemendikbudristek sudah mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sejak tahun 2016.

Pendidikan karakter sebagai fondasi dan ruh utama dalam mendidik anak memiliki porsi yang maksimal. Pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan pendidikan yang mengajarkan pengetahuan. Untuk sekolah dasar pendidikan karakter memiliki kuota sebesar 70%, sedangkan untuk sekolah menengah pertama kuotanya 60%.

Lima Nilai Pendidikan Karakter Utama Menurut Kemendikbudristek yang Bisa Orang Tua Terapkan Kepada Anak

Pendidikan karakter untuk membentuk akhlak baik pada anak tak hanya berupa olah pikir (literasi), tapi juga meliputi olah hati (etik dan spiritual) olah rasa (estetik), dan juga olah raga (kinestetik).

Keempat dimensi ini tentu saja tak hanya diterapkan di sekolah atau instansi formal saja. Melainkan dapat dilakukan secara menyeluruh dan serentak juga di lingkungan keluarga dan lembaga non formal lainnya.

Sehingga diharapkan adanya integrasi proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler yang dapat dilaksanakan dengan berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan.

Lima Nilai Pendidikan Karakter Utama Versi Kemendikbudristek

Program Pendidikan Karakter Pemerintah: Lima Nilai Karakter Utama

Pemerintah menerapkan lima nilai pendidikan karakter utama yang bersumber dari Pancasila. Lima nilai pendidikan karakter ini yang jadi prioritas pengembangan gerakan PPK yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan kegotongroyongan.

Religius

Setiap anak memiliki karakter beriman terhadap Tuhan yang Maha Esa. Karena di Indonesia ada beberapa agama yang resmi diakui negara, maka setiap anak harus bisa menghargai perbedaan, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap agama dan kepercayaan lain.

Anak sudah dibiasakan sejak kecil untuk bisa hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Sehingga anak memiliki nilai karakter religius yang  ditunjukkan dalam sikap cinta damai, toleransi, kerja sama, anti perundungan dan kekerasan, serta tidak memaksakan kehendak.

Nasionalisme

Nilai pendidikan karakter nasionalis lebih menekankan kepada cara berpikir anak. Bagaimana anak bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

Dengan rasa nasionalisme anak bisa menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

Sikap nasionalis bisa anak tunjukkan melalui sikap apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, cinta tanah air, taat hukum dan disiplin.

Integritas

Nilai pendidikan karakter integritas adalah perilaku anak yang didasarkan pada didikan supaya anak bisa dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Jadi anak diharapkan memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral.

Karakter integritas ini meliputi sikap tanggung jawab anak sebagai warga negara dan keaktifan anak dalam kehidupan bermasyarakat.

Anak yang berintegritas juga menghargai martabat individu seperti penyandang disabilitas, dan anak mampu menunjukkan keteladanan bagi yang lain.

Kemandirian

Mandiri bukan hanya anak sudah bisa makan dan mandi sendiri. Nilai pendidikan karakter mandiri adalah sikap dan perilaku anak yang tidak bergantung pada orang lain.

Anak secara optimal bisa menggunakan tenaga, pikiran dan waktunya untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-citanya.

Anak yang mandiri akan memiliki etos kerja yang baik. Ia akan tangguh dan berdaya juang meski tinggal di berbagai kondisi. Anak akan tetap profesional dan kreatif menjadi pembelajar sepanjang hidupnya.

Gotong Royong

Nilai pendidikan karakter gotong royong bisa dilihat pada anak yang bisa menghargai semangat kerja sama dalam menyelesaikan persoalan secara bersama.

Untuk bisa bekerja sama ini anak akan belajar menjalin komunikasi dan secara sadar memberi bantuan pada orang yang membutuhkan.

Dengan nilai pendidikan karakter gotong royong, bak diharapkan dapat menunjukkan sikap menghargai sesama, dapat bekerja sama, bisa berkomitmen atas hasil musyawarah.

Selain suka tolong menolong, anak juga diharapkan memiliki rasa solidaritas yang tinggi, anti diskriminasi, dan memiliki sikap kerelawanan.

Selain lima nilai utama pendidikan karakter  tersebut, sebenarnya Kemendikbudristek memiliki 18 Nilai Pendidikan Karakter secara keseluruhan.

Program Pendidikan Karakter Pemerintah: Delapan Belas Nilai Karakter Nasional

Delapan Belas Nilai Pendidikan Karakter bagi Siswa Menurut Kemendikbudristek

Sebagaimana kita tahu kalau pendidikan karakter ini adalah upaya untuk menanamkan nilai-nilai dan perilaku berbudi pekerti kepada setiap anak. Tujuannya tentu saja agar mereka tumbuh menjadi sosok yang berakhlak mulia yang hasilnya menjadi pribadi yang unggul bagi bangsa dan negara.

Dengan pendidikan karakter diharapkan anak akan menjadi lebih cerdas, tak hanya secara akademis, tapi juga emosinya.

Untuk mewujudkannya, orang tua di rumah bisa menerapkan 18 nilai pendidikan karakter yang diprogramkan pemerintah. Apa saja delapan belas nilai pendidikan karakter menurut Kemendikbudristek itu?

Delapan Belas Nilai Pendidikan Karakter Acuan Orang Tua:

Pemerintah sudah merumuskan 18 nilai pendidikan karakter yang perlu ditanamkan dalam diri setiap masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak. Berikut penjelasannya sesuai informasi yang saya rangkum dari laman Kemendikbud:

Religius

Sifat ini sesuai dengan ulasan pada Lima Nilai Karakter Utama yang sudah saya ikas di atas.

Kita orang tua harus bisa mengajarkan anak supaya bisa menghormati perbedaan keyakinan. Sehingga anak memiliki rasa toleransi.

Jujur

Perilaku jujur bisa diajarkan orang tua dengan hal sederhana lebih dahulu. Seperti tidak menyontek, selalu bicara  apa adanya.

Diharapkan anak memiliki kepribadian yang jujur akan selalu dipercaya dalam bertutur dan bertindak.

Toleransi

Berkaitan dengan pendidikan karakter religius, sikap toleransi sangat diperlukan karena di Indonesia terdapat banyak perbedaan suku, agama, dan ras.

Karena itu, sikap toleransi sangat diperlukan agar anak bisa bermasyarakat dengan rukun.

Disiplin

Pendidikan karakter disiplin dapat membentuk anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan bisa mengikuti tata tertib yang berlaku.

Selain anak akan belajar patuh terhadap berbagai ketentuan dan peraturan dengan disiplin anak juga bisa menjalankan kehidupannya dengan lebih baik.

Kerja Keras

Siapa pun tidak akan mendapatkan keberhasilan atau kesuksesan tanpa disertai kerja keras. Sampaikan hal itu kepada anak sehingga anak bisa serius dan sungguh-sungguh belajar untuk menempuh pendidikan dengan nilai terbaik.

Kreatif

Berpikir kreatif sangat diperlukan untuk menghasilkan karya yang inovatif dan bermanfaat. Kreativitas anak selain muncul karena bawaan dalam dirinya juga bisa bernas jika orang tua terus membimbingnya.

Mandiri

Sikap ini bisa dilihat lagi dalam ulasan Lima Nilai Karakter Utama pada poin Kemandirian, ya.

Demokratis

Demokratis bisa diartikan sebagai sikap menerima pada perbedaan. Anak akan saling menghargai dengan perbedaan ataupun keputusan yang ada melalui berbagai proses.

Rasa Ingin Tahu

Penting! Rasa ingin tahu disini bukan berarti orang tua mengajarkan anaknya untuk kepo ya...

Rasa ingin tahu yang dalam membuat seseorang akan lebih memahami terhadap sesuatu yang sedang dipelajarinya. Nah, bagi anak, sikap ini diharapkan muncul supaya ada keinginan belajar dan anak tertarik untuk mencari ilmu yang lebih tinggi lagi.

Semangat Kebangsaan

Seperti patriotisme, sikap ini mengajarkan anak untuk ikut berjuang mengharumkan nama bangsa dan negara melalui berbagai prestasi.

Lima Nilai Karakter Utama dalam Pendidikan Karakter

Cinta Tanah Air

Mengajarkan anak untuk berbicara dengan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah salah satu sikap cinta tanah air.

Menghargai Prestasi

Sikap apresiasi ini tak hanya ditunjukkan kepada orang lain, tapi juga  kepada diri sendiri dan keluarga.

Mulai dari hal sederhana seperti ajarkan anak untuk berani memberikan ucapan selamat kepada teman yang juara kelas, atau kita berikan pujian kepada anak karena ia rajin belajar dan tidak lupa mengerjakan PR.

Bersahabat

Penting diajarkan sejak dini kepada anak untuk menjalin hubungan yang baik dengan siapa pun. Ramah dan sopan santun tidak hanya kepada keluarga atau teman, tapi kepada siapapun.

Cinta Damai

Orang tua selalu aktif memberikan pemahaman kepada anak untuk tidak membuat ujaran kebencian atau tidak melakukan perundungan kepada temannya.

Gemar Membaca

Meski susah tapi tetap menjadi kewajiban orang tua untuk mengajak anak untuk membaca.

Di era digitalisasi seperti sekarang, membaca tidak harus dengan buku fisik saja. Tapi bisa juga melalui media digital.

Intinya menekankan kepada anak bahwa sikap gemar membaca akan menciptakan pribadi dengan pemikiran pintar dan selalu terbuka akan ilmu pengetahuan.

Peduli Lingkungan

Contoh paling nyata yang bisa dilakukan orang tua adalah mengajarkan anak untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Peduli Sosial

Ajarkan anak untuk peduli terhadap kesedihan temannya. Ajak juga anak untuk ikut berdonasi sesuai kemampuannya terhadap korban bencana.

Tanggung Jawab

Beri anak pemahaman atas segala risiko yang diambil.

Misalkan jika tidak mengerjakan PR, berarti siap dihukum guru. Atau tidak mengerjakan tugas di rumah sesuai kesepakatan berarti akan mendapatkan potongan uang jajan.

Pesan untuk Calon/Orang Tua

Dari lima nilai karakter utama menjadi 18 nilai karakter turunannya itu orang tua dituntut untuk aktif mengajarkan pendidikan karakter kepada anak tanpa terputus.

Karena masing-masing nilai tersebut tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi si anak dengan melibatkan tiga aspek, yakni pengetahuan, perasaan, dan tindakan.

Tanpa ketiga aspek tersebut, pendidikan karakter tidak akan efektif diterapkan kepada anak. Pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan agar dampaknya lebih terasa maksimal.

Jadi orang tua memang tidak mudah, ya. Sekolahnya tidak ada kata akhir. Namun bukan berarti tidak bisa.

Supaya orang tua semakin semangat lagi mengajarkan pendidikan karakter kepada anak sebaiknya kita baca lagi ulasan di awal mengenai Bagaimana Bahayanya Anak Tanpa Pendidikan Karakter.

Dengan kembali membaca ulang ulasan tersebut semoga semangat kita selaku orang tua maupun calon orang tua kembali terpompa ya...

Read more ...

Rabu, 08 Mei 2024

Media Pendidikan Karakter

Dengan pendidikan karakter yang kuat, seseorang akan mampu mengatasi berbagai masalah dengan cara yang lebih baik. Yang bersangkutan akan belajar untuk mengendalikan emosi, berkomunikasi dengan baik, dan mencari solusi yang adil dan saling menguntungkan untuk semua pihak.

Pendidikan karakter yang membangun nilai-nilai dan norma dalam masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan karakter pada seseorang.

Mengapa pendidikan karakter sangat penting?

Saking pentingnya pendidikan karakter sebaiknya diterapkan sejak usia dini. Kenapa? Karena pada usia itu sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya.

Pendidikan karakter yang ditanamkan pada anak usia dini telah terbukti bisa mengantarkan anak menjadi matang dalam berpikir dan mengolah emosi.

Nah, karena pentingnya pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari itu, sehingga kita membutuhkan media untuk pendidikan karakter tersebut.

Apa itu Media Pendidikan Karakter?

Media pendidikan karakter bisa dibilang sebagai alat bantu atau pelengkap dalam berkomunikasi ketika menanamkan pendidikan karakter kepada anak.

Nah, alat bantu inilah yang disebut dengan media pendidikan, sedangkan komunikasi adalah sistem penyampainya.

Jenis Media Pendidikan Karakter

Media itu sendiri ada tiga jenis, yaitu media visual, media audio, dan media visual audio.

Media pendidikan karakter yang menarik dan memotivasi anak akan meningkatkan hasil serta karakter si anak itu sendiri.

Jadi media apa saja yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan karakter kepada anak?

Alam Semesta Adalah Media Pendidikan Karakter

Semua Berpotensi Jadi Media Pendidikan Karakter

Media apa saja yang bisa digunakan untuk pendidikan karakter kepada anak?

Jawabannya adalah semuanya. Ya, semua yang ada di dunia ini sebenarnya bisa menjadi media untuk menerapkan pendidikan karakter kepada anak.

Apapun yang kita lihat dan kita dengar bukankah bisa menjadi guru kita? Hal yang baik dalam kehidupan ini dapat kita tiru. Sebaliknya, hal-hal yang buruk tidak boleh kita tiru. Itu inti pelajarannya.

Kembali ke media-media yang akan digunakan untuk menunjang pendidikan karakter, kita bisa ambil dari yang sederhana dan ada di sekitar kita saja dulu. Seperti buku, film atau drama, lagu, mainan, kisah orang lain, dan masih banyak lagi.

Yang penting usaha untuk membantu anak sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti bisa tercapai.

Bukankah tujuan utama ditanamkannya pendidikan karakter sebagai ilmu pengetahuan yang berfungsi memperbaiki karakter manusia yang perlu ditanamkan sejak dini adalah untuk mencetak generasi berakhlak dan bermoral Pancasila yang masih dalam lingkup Revolusi Mental?

Macam-macam Media Pendidikan Karakter di Sekitar

Berbagai hal dapat menjadi media untuk mempelajari pendidikan karakter. Berdasarkan penjelasan di atas, media-media tersebut, seperti buku, film atau drama, dan kisah orang lain.

Buku

Ada pepatah yang mengatakan buku adalah jendela dunia. Dari istilah tersebut dapat kita tahu bahwa buku memberikan banyak ilmu terhadap manusia. Salah satu ilmunya adalah pendidikan karakter.

Berbagai buku menjelaskan karakter-karakter apa saja yang harus kita tiru dan yang tidak boleh kita tiru beserta definisi dan manfaatnya.

Contoh jelasnya bisa kita lihat dalam buku agama dan budi pekerti. Dimana dalam buku tersebut diajarkan bagaimana kita harus berperilaku jujur, hormat dan patuh terhadap orang tua dan guru, kerja keras, tanggung jawab, toleransi, dan masih banyak lagi.

Bukankah pendidikan karakter sebaiknya diterapkan sedini mungkin? Lalu bagaimana anak yang belum bisa membaca?

Jangan khawatir. Sudah ada banyak buku yang dibuat disesuaikan dengan usia anak. Seperti buku flanel cerita anak (buflaceria) yang dibuat memang untuk bayi, hingga bussy book yang bagi orang dewasa mungkin tak lebih dari benda menyerupybuku dengan warna yang begitu ngejreng?

Buku Media Pendidikan Karakter

Poster

Melalui media poster, anak juga bisa mendapatkan pendidikan karakter yang bahkan sampai dewasa akan selalu terus teringat.

Apakah ada teman yang bisa membayangkan nuansa kelas jaman sekolah dasar?

Masih ingatkah di sana banyak ditemukan tulisan dari karton berisi: Kebersihan Sebagian Daripada Iman; Rajin Pangkal Pandai, Hemat Pangkal Kaya; dan masih banyak lagi tulisan lainnya?

Meski sederhana poster tersebut telah menanamkan dalam benak anak bahwa kebiasaan baik (menjaga kebersihan, menabung, dan berhemat ) menghasilkan hal yang baik pula.

Komik

Jaman sekarang bacaan anak tidak hanya buku, tapi juga termasuk komik. Dalam cerita yang disuguhkan itu, bisa disisipkan kisah atau nilai-nilai pendidikan karakter. Anak secara tidak langsung akan mudah paham dan dengan sendirinya mengikuti hal mana yang baik dan menghindari apa yang buruk.

Komik Media Pendidikan Karakter

Film

Begitu banyak film atau drama yang memiliki berbagai cerita dari yang fiksi atau nonfiksi. Cerita yang ditonton anak tersebut tentu saja memberikan banyak amanat dan pelajaran.

Contohnya dari film Keluarga Cemara, kita bisa mengambil pelajaran hidup bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga.

Masih ada pelajaran karakter lainnya seperti sesama manusia harus tolong-menolong, rendah hati atau tidak sombong, berani, sopan santun, dan masih banyak lagi.

Supaya anak makin paham, orang tua perlu membiasakan setelah menonton film atau drama yaitu mencatat amanat dari film atau drama tersebut agar cerita yang sudah ditonton dengan anak semakin bermanfaat.

Tapi harus diingat pula! Saat menonton perlu hati-hati karena tidak semua adegan dalam film atau drama baik untuk anak menontonnya.

Jadi oleh karena itu, kita perlu memilah tontonan apa saja yang sesuai untuk anak dan anggota keluarga.

Musik atau Lagu

Sebagaimana film juga buku, lagu anak pun banyak memberikan nilai pendidikan karakter yang bisa tertanam dalam jiwa mereka.

Selain mendidik, lagu anak juga bagus untuk perkembangan otak. Mempelajari musik bagi anak usia dini sangat penting untuk menunjang proses serta pembelajaran.

Musik dan Lagu Media Pendidikan Karakter

Dongeng atau storry telling

Banyak dongeng yang mengajarkan pendidikan karakter. Baik itu dongeng lokal maupun internasional.

Dongeng yang didengar anak bisa memperkuat imajinasi, meningkatkan empati dan pemahaman, memperkuat nilai dan etika, serta merangsang proses pemikiran kritis dan kreatif.

Karena itu mendongeng dapat dijadikan sebagai media pembentukan karakter pada anak usia dini.

Dongeng Anak Gembala dan Serigala mengajarkan kepada anak mengenai pendidikan karakter untuk jujur, tidak berkata bohong. Sekali berbohong selanjutnya orang tidak akan mempercayainya lagi.

Kisah inspiratif

Media yang bisa dijadikan perantara untuk menyampaikan pendidikan karakter lainnya yaitu kisah inspiratif orang lai.

Kisah yang memberikan banyak pelajaran dari kehidupan mereka yang bisa jadi acuan bagibirang lain untuk mengambil nilai baiknya.

Seperti kisah B. J. Habibie yang mengabdi kepada bangsa, atau kisah hidup seorang Maudy Ayunda yang tekun dan rajin belajar.

Mitos

Benarkah mitos juga bisa jadi media pendidikan karakter? Benar. Apalagi jika merujuk pada statement di awal artikel ini jika apa saja di seluruh semesta alam ini bisa jadi media pendidikan karakter, termasuk mitos.

Mitos kalong wewe terbukti mendidik anak untuk patuh terhadap perintah orang tua yang melarang keluyuran saat sore hari. Padahal, sore hari sudah seharusnya menjadi waktu anak untuk mandi, istirahat dan bersiap untuk mengaji atau belajar.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa apa pun bisa jadi media penyampaian pendidikan karakter kepada anak selama kita kritis, peduli terhadap sekitar, dan pandai memilah mana yang baik dan tidak.

Sebagai orang tua atau guru, kita hanya perlu lihat dan dengar apa yang ada di sekeliling kita. Lalu pergunakan ide dan pikiran untuk menjadikan perantara pendidikan karakter yang ingin kita tanamkan kepada anak.

Kejadian apa pun ambil positifnya dan hal yang negatif jadikan pelajaran dan jangan menirunya. Maka dari itu, segala sesuatu di dunia ini bisa menjadi guru pendidikan karakter untuk kita.

Nah, setelah mengetahui apa saja di sekitar kita yang bisa dijadikan sebagai media pendidikan karakter, selanjutnya kita cari tahu, yuk, bagaimana Penerapan Pendidikan Karakter Secara Sederhana, tapi Manfaatnya Luar Biasa pada artikel tersebut. Langsung klik aja ya...

Read more ...

Senin, 06 Mei 2024

Shapewear Revolution: How Innovative Designs are Changing the Game

Shapewear has offered women the ability to enhance their silhouettes and feel more confident in their clothing and also become a staple in the fashion industry for a while now.

But what can be considered traditional Shapewear, especially at the beginning, often came with some limitations and some discomfort. In recent years, the shapewear industry has been revolutionized with new arrival shapewear that have innovative technologies and designs that are reshaping the way women approach these types of shapewear.

Let’s explore the key factors that have driven the shapewear revolution and how these advances are changing the games for consumers.

Shapewear Revolution: How Innovative Designs are Changing the Game

How has shapewear evolved?

Shapewear has quite a rich history, it dates back some centuries, to the time in the 16th century with the corsets worn by women during that time. Those corsets used to be very restrictive undergarments, and over time, they have evolved into more versatile and comfortable pieces designed to enhance the natural body curves.

Thanks to the invention of elastic fabrics in the early 20th century, the shapewear industry was revolutionized and it allowed shapewear to have a wider range of motion and more flexibility.

But it was not until recent years that shapewear underwent a bigger transformation. With many advances in garment and material technology, shapewear designers have begun to create pieces that not only provide effective shaping but also prioritize breathability and comfort.  It’s safe to say that these innovations have led to the rise of a new generation of shapewear and wholesale waist trainers that are more functional, stylish, and comfortable than before.

The key innovating factors

There have been many key factors that have played an important role in shapewear innovation and revolution. Some high-profile brands have been at the forefront of this innovation, as they have started introducing cutting-edge technologies and designs that have reshaped the industry.

Brands are now focusing on addressing the disadvantages of traditional shapewear, like visibility, and discomfort under clothing but most importantly the fact that there were limited sizing options.

Shapewear Revolution: How Innovative Designs are Changing the Game

One of the most significant advances in shapewear technology has been the development of laser-cut and seamless garments. With these designs, visible pantry lines are eliminated and they create a more streamlined and smoother silhouette. Other advancements in compression fabrics have also allowed garments to offer support and targeted shaping without sacrificing comfort.

Another important factor that has played a significant role in the shapewear revolution is the focus that they are giving now to diversity and inclusivity. Brands, thankfully are now offering a variety user range of skin tone options and sizes that are catering to a diverse customer base.

This shift has met with what many consumers who appreciate having more options are looking for. As they are now catering to their individual preferences and needs.

How has the game been changed for consumers?

The innovations in design have had a profound impact on consumers, as they are being offered more options and choices and garments that are much better-fitting. Today’s designs are to be worn comfortably during the day, allowing women to feel more supported and confident.

Now with the increased emphasis on inclusivity, shapewear pieces are much more accessible to women of all skin tones, shapes, and sizes. Women are no longer limited to a narrow range of options, and they can now find pieces that match their body types and personal style too.  With this inclusivity women are feeling more empowered and they are promoting much more body positivity, as women are encouraged to embrace their natural bodies and feel more confident.

Shapewear Revolution: How Innovative Designs are Changing the Game

What the future might bring

The shapewear industry won’t stop its evolution and we for sure are going to see more innovations in inclusivity, design, and technology. For sure advances in materials science and technology like the development of 3D printing or smart fabrics could enhance the performance of comfort and performance much more.

For sure, if body positivity and diversity are still being promoted, this will ensure that shapewear will still be accessible and inclusive for all women around the world.

Read more ...

Jumat, 03 Mei 2024

Cara Penerapan Pendidikan Karakter Sederhana Manfaatnya Luar Biasa

Saat ini penerapan pendidikan karakter, nilai etika dan budaya, khususnya pada generasi muda mulai mengalami pergeseran. Pergeseran itu mulai terlihat dari hal sederhana yang seharusnya sudah terbiasa dilakukan di rumah atau lingkungan keluarga, seperti sikap tidak sopan, mengucapkan kata kasar, sampai permasalahan yang lebih besar seperti maraknya pergaulan bebas, bebasnya akses tayangan pornografi, kekerasan sampai kerusuhan yang berujung pada tindakan anarkis.

Sulitkah Menerapkan Pendidikan Karakter?

Kenapa pergeseran itu bisa terjadi? Apakah karena sesulit itu menerapkan pendidikan karakter di jaman serba modern seperti sekarang ini?

Kita bisa lihat sendiri di berbagai tayangan berita yang memperlihatkan kondisi bagaimana hilangnya pendidikan karakter para generasi muda khususnya para peserta didik di sekolah, yang sangat memprihatinkan baik secara emosional, tindakan, maupun perilaku sosial mereka.

Sering kita lihat di media massa baik surat kabar maupun televisi, kabar tentang pelajar yang saat ditegur oleh guru karena melakukan kesalahan, mereka malah cenderung melawan kepada gurunya dengan tindakan-tindakan yang kurang pantas.

Mirisnya saya dan suami mengalami langsung kejadian seperti itu. Ketika anak didik berbuat tidak sopan, kami kasih peringatan dan teguran, eh anaknya malah melawan, mengatakan yang tidak-tidak bikin sakit hati pokoknya. Sangat tidak mencerminkan karakter seorang anak didik.

Kami ibarat dilempari kotoran di wajah. Sehari-hari kami tanamkan pendidikan karakter namun sedikit pun tidak ada bekasnya. Yang ada seolah memberikan fakta kalau kami ini tenaga pendidik yang gagal. Tak mampu mengantarkan anak menjadi pribadi yang santun dan berakhlak.

Bukan hanya itu, bahkan ada yang karena tidak memiliki pendidikan karakter berupa etika, berani melakukan kekerasan fisik kepada gurunya. Padahal masalahnya hanya sederhana, mendapatkan teguran saat melakukan kesalahan. Dan masih banyak lagi bentuk tindakan anarkis yang dilakukan lainnya.

Mungkin karena adanya pergeseran nilai etika dan budaya inilah penyebab generasi muda di zaman sekarang melupakan pendidikan karakter jadi mereka kehilangan jati dirinya?

Kebanyakan dari mereka melupakan nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan orang tua dan nenek moyang kepada dirinya sejak kecil dalam kehidupan sehari-hari oleh orang tua.

Tidak mudah memang menerapkan pendidikan karakter terhadap anak jaman sekarang. Namun juga bukan berarti tidak mungkin. Meskipun kecanggihan teknologi bisa melunturkan nilai tradisi budaya namun tidak bisa menggeser peradaban berupa karakter baik manusia berupa akhlak yang mulia.

Bagaimana Cara Menerapkan Pendidikan Karakter?

Bagaimana Cara Menerapkan Pendidikan Karakter?

Bagi orang tua atau guru, menjadi kewajiban untuk mendidik anak dengan pendidikan karakter sejak dini. Meski ada yang mudah diterima anak, ada juga yang harus menyiapkan stok kesabaran melimpah untuk menerapkannya.

Beberapa cara menerapkan pendidikan karakter supaya dapat diterima anak sepanjang masa:

Tanaman Pendidikan Karakter dengan Memberikan Contoh yang Baik

Ketika anak kita didik untuk selalu bersikap sopan santun, maka jadilah orang tua atau guru yang selalu berucap dan berperilaku sopan serta santun kepada semua orang.

Berbuat sopan dan santun tidak hanya kepada orang yang lebih tua saja tetapi juga kepada yang lebih muda.

Menyelipkan Pesan Moral di Setiap Obrolan

Saat berkumpul bersama anggota keluarga, atau sesi santai bersama antara guru dan murid, selipkan pesan-pesan kebaikan yang kita sesuaikan dengan pemahaman orang dijadikan lawan bicara.

Bicara dengan anak usia SD, ceritakan bagaimana uniknya anak seusia mereka di Jepang yang selalu membungkukkan badan saat mengucapkan terima kasih.

Bicara dengan remaja menuju dewasa, bisa terangkan bagaimana sikap Rasulullah dahulu menghadapi orang yang justru menghina dan mencaci maki Beliau.

Dan masih banyak lagi pesan moral pendidikan karakter lainnya yang bisa kita sampaikan tanpa hard selling menggurui mereka.

Memberikan Penghargaan dan Apresiasi Saat Menerapkan Pendidikan Karakter

Memberikan Penghargaan dan Apresiasi Saat Menerapkan Pendidikan Karakter

Jangan sungkan untuk memberikan pujian kepada anak yang ketika masuk rumah lebih dahulu mengucapkan salam.

Beri apresiasi kepada anak yang selalu mengucap kata maaf bila tak sengaja melakukan kesalahan, sambil diajarkan untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi.

Mengajarkan Sikap Jujur dan Terbuka

Jika sejak dini dibiasakan untuk bersikap apa adanya, tidak berbohong dan melebih-lebihkan sesuatu maka anak akan berani untuk berbuat jujur meski berada dalam tekanan.

Terapkan Pendidikan Karakter Secara Bertahap

Mengajarkan pendidikan karakter bisa dimulai dari hal sederhana yang bisa dilakukan di rumah seperti mengajarkan sikap sopan santun melalui budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun)

Pendidikan Karakter Sederhana Manfaatnya Luar Biasa

Untuk lebih jelasnya mengenai pendidikan karakter sederhana yang manfaatnya luar biasa dapat kita uraikan satu per satu satu dari budaya 5S yang terdiri dari:

Senyum

Sering kita dengar senyum itu ibadah. Saat seseorang tersenyum berarti dalam keadaan bahagia, maka secara tidak langsung senyumannya sudah menyebarkan kebahagiaan dan aura positif kepada orang lain.

Selain ucapan doa alangkah lebih baiknya sebelum melakukan kegiatan kita awali dengan senyuman. Senyuman yang tulus menjadikan hubungan masing-masing individu menjadi lebih menyenangkan.

Pendidikan karakter senyum sudah seharusnya diterapkan sejak kecil di rumah oleh orang tua kepada anaknya.

Salam

Ucapan salam sebagai pernyataan hormat, selamat, sejahtera, damai dan atau tentram adalah bagian dari pendidikan karakter berupa pengharapan yang sangat baik. Yang digunakan untuk mengkomunikasikan rasa hormat kita atas kehadiran orang lain, sebagai bentuk rasa perhatian kita kepada orang tersebut.

Dengan mengucapkan salam diharapkan kekakuan dapat tercairkan. Salam bukan hanya berjabat tangan saja, namun juga termasuk mengucapkan salam menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Ucapan salam juga akan mempererat persaudaraan.

Sapa

Sapa secara sederhana memiliki makna kata-kata untuk menegur. Maka, tegur sapa yang dilakukan dengan ramah yang kita ucapkan, membuat suasana menjadi akrab dan hangat.

Masih ingat ketika bekerja di luar negeri, setiap ada tamu datang, majikan mengharuskan semua orang yang ada di rumah termasuk saya wajib menyapa kepada tamu yang datang. Walau sekadar berkata “Hai...!”

Pendidikan karakter dari menyapa ini, saat kita menyapa seseorang, maka berarti kita menunjukkan perhatian, respons, dan simpati kita terhadap orang.

Sehingga akan muncul rasa dihargai bagi orang yang sedang kita sapa. Hal itu, akan menjadikan kepercayaan diri orang yang kita sapa tadi semakin meningkat.

Sopan

Sopan adalah rasa hormat, takzim, dan tertib menurut adab yang kita lakukan kepada orang.

Sopan saat berbicara, sopan saat berjalan di depan orang, atau ketika ngobrol dengan orang lain, bisa terlihat dari intonasi suara, bahkan gesture tubuh.

Bukan hanya itu, sopan dalam berpakaian juga merupakan hal yang penting dan masih bagian dari pendidikan karakter.

Seseorang yang berkarakter dan memiliki etika dipastikan mampu berlaku sopan baik ucapan maupun perbuatan dimana pun dan kapan pun.

Santun

Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, santun memiliki pengertian sangat sopan, lemah lembut berbudi bahasa, penuh rasa belas kasihan, suka menolong, berakhlak mulia.

Santun juga bisa diartikan bagaimana kita mampu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan sendiri.

Tingkah laku yang halus, rasa belas kasih, dan suka menolong merupakan hal yang timbul karena terbiasa bertingkah santun kepada orang lain.

5S senyum, sapa, salam, sopan dan santun sebagai bagian dari pendidikan karakter

Kesimpulan

Penerapan nilai-nilai pendidikan karakter berupa 5S senyum, sapa, salam, sopan dan santun tersebut cukup sederhana tapi dampaknya sangat bermanfaat bukan?

Lima “S” tersebut diharapkan menjadi budaya yang menjadi fondasi pendidikan karakter. Kebiasaan yang jika diterapkan secara konsisten menjadi karakter baik bagi anak yang mampu menumbuhkan nilai-nilai kebaikan sepanjang hidupnya.

Tentu semua orang mau anaknya berakhlak mulia, bukan? Untuk itu yuk, kita intip lagi artikel Siapa yang Bertanggung Jawab Terhadap Pendidikan Karakter ini supaya makin paham ya...

Read more ...

Rabu, 01 Mei 2024

Pendidikan Karakter Tanggung Jawab Siapa?

Pendidikan karakter kepada anak tidak hanya mengajarkan pengetahuan tentang baik dan buruk, tapi juga membiasakan, sekaligus mencontohkan, melatih dan menanamkan hingga mendarah daging menjadi sifat yang baik, dan terhindar dari perbuatan tercela. Lalu siapa yang bertanggung jawab dengan pendidikan karakter ini?

Cerita Murid Mengaji yang Membangkang

Ingin menangis guling-guling ketika ada anak yang kami didik sepenuh hati, tapi membangkang. Bahkan anak itu melawan hingga mengucapkan kalimat yang sangat menghina dan menghancurkan harga diri seorang guru pada umumnya.

Rasanya sakit sekali jika mengingat kejadian itu dan rasa bersalah pun kembali menghantui. Kerap muncul pikiran apakah itu tanda ketidakmampuan kami mengajarkan pendidikan karakter kepada mereka? Apakah kami gagal mendidik anak?

Dimana dan Kapan Pendidikan Karakter Harus Dimulai?

Ketika ada anak didik baru masuk untuk belajar, saya lebih respek terhadap orang tua yang datang langsung. Kami berhadapan dan serah terima, jika orang tua atau wali menitipkan anaknya, dan kami menerima untuk mendidik anaknya dengan catatan sebatas dalam waktu belajar yang kami miliki.

Jelas bukan, jika tenaga pendidik, hanya memiliki waktu untuk mengajar dan berinteraksi dengan anak hanya sekian jam dari 24 jam waktu yang ada. Selebihnya, siapa yang lebih banyak mendampingi anak?

Jika ada anak yang tidak sopan, bahkan melakukan hal tidak terpuji, siapa yang patut disalahkan? Orang tua, guru atau siapa?

Jika baru masuk lembaga pendidikan saja anak sudah berbuat tidak baik, bukankah memang sejak awal anak itu terbukti kekurangan mendapatkan pendidikan karakter?

Selama itu siapa yang berperan menanamkan pendidikan karakter kepada anak?

Pendidikan karakter tanggung jawab siapa?

Pendidikan Karakter di Tempat Tinggal

Pendidikan karakter sudah seharusnya ditetapkan terhadap anak sejak dini, oleh orang tua. Dalam arti jika ditanya dimana dan kapan pendidikan karakter dimulai jawaban lebih baik di lingkungan tempat tinggal anak (umumnya di rumah) sejak dini.

Bahkan saya sudah ulas kalau ada banyak pasangan yang telah menerapkan sistem pendidikan karakter sejak anak masih berupa janin dalam kandungan. Yuk, coba intip ulasannya dalam artikel Manfaat Pendidikan Karakter ini, ya.

Pendidikan Karakter di Tempat Belajar

Selain di rumah pendidikan karakter berikutnya diberikan di tempat belajar, seperti sekolah, madrasah, pesantren dan lembaga lainnya oleh tenaga pendidik alis guru.

Sekolah memiliki peran sentral dalam membentuk karakter anak, dan salah satu aktor kunci dalam proses ini adalah guru.

Lebih dari sekadar menyampaikan informasi berupa ilmu pengetahuan, guru juga memiliki tanggung jawab untuk membentuk nilai-nilai, etika, dan sikap siswa ke arah lebih baik.

Pendidikan Karakter di Tempat Kerja

Meski sudah dewasa, pendidikan karakter tetap dibutuhkan oleh kita selaku manusia tempat salah dan lupa.

Adanya peraturan dan etika dalam ruang lingkup kerja menyatakan jika pendidikan karakter tetap berlaku dan selalu dibutuhkan.

Pendidikan Karakter di Fasilitas Umum

Di pasar, di bank, di tempat ibadah, di terminal, stasiun, bandara, pelabuhan dll pendidikan karakter sangat dibutuhkan. Meski implementasinya tidak secara langsung seperti pendidikan karakter dari orang tua kepada anak, atau dari guru terhadap murid, tapi pada kenyataannya pendidikan karakter di tempat atau fasilitas umum sangat dibutuhkan.

Di Indonesia khususnya, pendidikan karakter harus selalu diimplementasikan di berbagai tempat. Kita bisa melihat apakah lima nilai utama dalam penguatan karakter berupa integritas, religiusitas, nasionalisme, kemandirian dan gotong royong apakah sudah terlaksana dengan baik?

Nyatanya meskipun nilai utama dalam penguatan karakter itu sudah kita dapat selama belasan tahun sejak berada di bangku sekolah, masih banyak yang belum tercermin pada perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, bukan?

Pihak yang Berperan dalam Penanaman Pendidikan Karakter

Peran Orang Tua

Mendidik anak adalah kewajiban orang tua. Tidak bisa dipungkiri kalau lingkungan pendidikan pertama seorang anak adalah orang tuanya.

Orang tua berkewajiban mendidik, memenuhi kebutuhan dan memberikan dukungan kepada anak untuk meraih cita-cita.

Orang tua tidak sekedar melakukan tujuan berkeluarga seperti reproduksi, meneruskan keturunan, dan menjalin kasih sayang saja, melainkan juga menjadi pilar pendidik pertama dalam proses perkembangan kehidupan anak yang memiliki waktu lebih panjang.

Peran Guru

Dalam membentuk karakter anak didik, guru berperan sebagai pemandu, fasilitator, dan inspirator.

Guru memang memiliki tanggung jawab untuk membentuk masa depan siswa dengan memberikan pendidikan. Tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tapi juga membentuk individu yang memiliki nilai-nilai moral dan keterampilan sosial yang kuat.

Tapi harus kita ingat, jika tanggung jawab guru ini terbatas. Semakin tinggi tingkat pendidikan anak, semakin berkurang waktu yang dimiliki antara guru dan murid untuk saling berinteraksi.

Peran Keluarga atau Lingkungan Terdekat

Tumbuh kembang anak tidak luput dari peran lingkungan sekitar. Lingkungan menjadi faktor penting yang mempengaruhi proses pendewasaan anak.

Dalam lingkungan yang tepat, potensi anak dapat berkembang secara maksimal. Begitu juga sebaliknya, potensi anak yang bagus bisa drastis menurun jika dirusak oleh lingkungannya.

Waspada jika anak tertarik untuk mencoba hal baru. Orang tua hendaknya memastikan apakah anak berada di lingkungan yang tepat.

Pendidikan karakter tanggung jawab siapa?

Pendidikan Karakter Anak Tanggung Jawab Bersama

Kita sudah tahu pihak mana saja yang terlibat dalam pendidikan karakter. Ada orang tua, tenaga pendidik atau guru dan lingkungan sekitar termasuk lembaga atau instansi pemerintah.

Pembentukan karakter anak merupakan tugas bersama dari orang tua, masyarakat, dan lingkungan sekitar seperti pemerintah.

Ketiga pihak tersebut tidak bisa bekerja secara sendiri-sendiri, melainkan harus ada koordinasi.

Kisah anak didik yang membangkang mungkin tidak akan terjadi jika masing-masing melakukan perannya secara maksimal, baik itu orang tua, lingkungan pendidikan dan lingkungan sekitar termasuk pemerintah.

Pendidikan karakter anak bisa tercapai dengan maksimal jika ada kerja sama yang baik dari berbagai pihak sebagai peran pendukung dalam melaksanakan tugas membentuk karakter anak menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Nah, manteman! Biar bahasannya makin lengkap, yuk lanjut membacanya ke artikel Bagaimana Pendidikan Karakter Membentuk Manusia Sempurna

Read more ...

Minggu, 28 April 2024

Manfaat Pendidikan Karakter Pada Tumbuh Kembang Anak

Pendidikan Karakter alias pembiasaan sikap baik bagi setiap orang yang sekarang sudah jadi program pemerintah beberapa di antaranya adalah sikap religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, tanggung jawab dan masih ada beberapa sikap (nilai) lainnya. Semua sikap-sikap tersebut jelas berkesinambungan dan sangat bermanfaat dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Pendidikan Karakter Sejak Anak Dalam Kandungan

Sewajarnya orang tua dalam mendidik anak, entah menurut hukum agama maupun sisi dunia pendidikan, berbagai kebiasaan baik sebagai realisasi dari penanaman pendidikan karakter itu sudah diterapkan sejak dini bahkan sejak anak masih dalam kandungan.

Bahkan saya masih ingat, guru mengaji dan orang tua selalu menegaskan kepada saya untuk melakukan kebiasaan baik itu sejak saya diketahui hamil.

Seperti dianjurkan untuk selalu berdzikir dan berdoa, rajin membaca kitab suci, sambil diniatkan agar jabang bayi dalam kandungan kelak jadi anak saleh salihah.

Tidak melakukan hal kasar seperti membunuh binatang, dan atau hal-hal yang merugikan pihak lain dengan harapan hanya hal yang baik saja yang kelak diikuti oleh janin dalam perut.

Selalu mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan mengandung nutrisi, berolahraga yang bisa melancarkan peredaran darah dan rutin memeriksakan kehamilan sehingga mudah ketika melahirkan secara normal nanti.

Hingga menjaga jiwa dan pikiran untuk tetap bisa bahagia supaya janin yang dikandung bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.

Lihat, jika sejak masih dalam kandungan saja pendidikan karakter itu sudah mulai diterapkan, dengan demikian menandakan betapa pentingnya pendidikan karakter itu untuk diterapkan sejak dini. Tiada lain maksudnya supaya anak kelak terbiasa melakukan kebaikan sehingga menjadi orang yang berakhlak mulia.

Manfaat Pendidikan Karakter Pada Tumbuh Kembang Anak

Pendidikan Karakter pada Usia Dini adalah Kunci

Usia dini merupakan masa paling kritis untuk pembentukan karakter seseorang. Penanaman nilai-nilai moral melalui pendidikan karakter sejak usia dini adalah kunci yang paling tepat untuk membangun fondasi kebaikan bagi seorang individu.

Mengapa demikian? Karena dengan menerapkan pendidikan karakter sejak dini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter sesuai dengan harapan sehingga menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Peran Lingkungan pada Penerapan Pendidikan Karakter

Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Baik buruknya sebuah lingkungan sangat mempengaruhi bagaimana pendidikan karakter bisa ditanamkan sesuai dengan keinginan atau tidak.

Lingkungan yang sehat dan berkarakter merupakan hal paling berpengaruh baik bagi penerapan dan pembentukan karakter seseorang.

Tentu saja penanaman pendidikan karakter ini didukung pula dengan peran lainnya yang tidak bisa dipisahkan seperti peran orang tua, keluarga, sekolah dan seluruh komponen masyarakat yang tidak bisa disepelekan pengaruh nya dalam pembentukan karakter seseorang.

Lalu apa saja manfaat pendidikan karakter bagi anak?

Manfaat Pendidikan Karakter Bagi Tumbuh Kembang Anak

Saya ulas sedikit manfaat pendidikan karakter bagi tumbuh kembang anak secara garis besar. Karena pendidikan itu sangat luas, pastinya ada banyak lagi manfaat lainnya yang mungkin belum saya rangkum. Beberapa manfaat pendidikan karakter:

Pendidikan Karakter untuk Membentuk Karakter Diri

Pendidikan karakter bertujuan menjadikan individu menjadi pribadi yang maju. Jika sejak kecil anak dibiasakan mandiri, besar kemungkinan anak sudah bisa mengerjakan hal pribadi tanpa bantuan orang lain lagi. Seperti makan, mandi, dan mengenakan pakaiannya.

Pendidikan Karakter untuk Mengetahui Hak dan Kewajiban

Pendidikan karakter menjadi benteng dalam berbagai perilaku yang terjadi di lingkungan anak.

Seperti anak dibiasakan meminta izin jika akan meminjam sesuatu. Maka ketika ia menginginkan sesuatu yang tidak dimilikinya, tak akan berani mengambil karena tahu bukan miliknya.

Untuk meminjam saja perlu izin, apalagi jika menginginkan sesuatu yang bukan punya sendiri, maka anak sudah punya batasan. Anak sudah mulai mendapatkan sinyal mana hal yang harus dihindarinya.

Pendidikan karakter memberikan pengetahuan yang anak butuhkan untuk menghindari hal yang berbahaya di masyarakat dan cara menanganinya.

Pendidikan Karakter untuk Melatih Mental dan Moral

Banyak nilai-nilai pendidikan karakter yang membiasakan anak untuk bersikap sopan dan santun demi mencegah terjadinya kondisi mental yang lemah dengan moral yang tidak baik.

Dengan meningkatkan kondisi mental dan moral individu, maka akan menciptakan suasana yang kondusif dan mencegah terjadinya perpecahan.

Pendidikan karakter ini juga menjadikan tumbuh kembang seseorang menjadi tangguh menghadapi segala masalah dan bijak menerapkan keadilan.

Pendidikan Karakter Mengajarkan Mengambil Keputusan dan Bertanggung Jawab

Seiring meningkatnya moral dan kemampuan berpikir, pendidikan karakter ini sangat berperan penting dalam mempengaruhi kemampuan berpikir individu. Oleh karena itu, seseorang akan lebih bijak dalam mengambil keputusan dan mendorong memiliki rasa tanggung jawab yang besar.

Pendidikan Karakter untuk Disiplin

Banyak pihak sekolah, instansi atau orang tua yang mengajarkan pendidikan karakter untuk berdisiplin melaporkan bahwa kinerja akademik si anak ternyata capaiannya lebih tinggi.

Ditunjang juga dengan absensi kehadiran yang lebih baik, berkurang nya sikap kekerasan, pengurangan penyalahgunaan aturan, dan lebih sedikit kenakalan remajanya.

Pendidikan Karakter untuk Menciptakan Generasi yang Berintegritas

Dengan karakter yang kuat sejak kecil menjadikan anak  menjadi lebih teguh dan kokoh dalam menjalani hidup. Hal tersebut tentu saja jadi modal dasar yang sangat penting dalam kegiatan berbangsa dan bernegara.

Integritas yang dibentuk dalam pendidikan karakter menjadikan anak akan menjunjung tinggi nilai integritas bangsa dan negara.

Nah, jika ada usulan manfaat pendidikan karakter lainnya yang dirasakan secara langsung oleh para orang tua atau tenaga pendidik, boleh langsung sampaikan ya. Nanti segera saya update di artikel ini masukannya.

Manfaat Pendidikan Karakter Pada Tumbuh Kembang Anak

Maksimalkan Tumbuh Kembang Anak dengan Pendidikan Karakter

Itulah tujuan dan manfaat menerapkan pendidikan karakter sejak dini untuk tumbuh kembang anak yang lebih baik.

Pendidikan karakter yang kelak berguna tidak hanya penting bagi seseorang tapi juga untuk masyarakat dan bangsa.

Karena jika setiap keluarga atau sekolah senantiasa menerapkan pendidikan karakter bagi setiap anak, tentu saja akan banyak lahir generasi penerus yang mengerti akan sikap saling menghormati, saling menolong dan bekerja keras demi kemajuan bangsa dan senantiasa menghormati sesamanya.

Jangan lupa! Lihat juga bagaimana BAHAYANYA jika anak tidak dibekali Pendidikan Karakter

Read more ...

Sabtu, 27 April 2024

Rekomendasi Tespek Akurat untuk Pejuang Garis Dua 

Lebaran jadi salah satu momen yang bikin jedag -jedug tak hanya bagi para jomblo, tapi juga buat pasangan yang belum dikaruniai buah hati. Secara masih ada saja gitu loh yang nanya, udah isi belum? Kapan hamil? Kok lama menikah belum punya anak juga? Dan pertanyaan sejenis lainnya. Jujurly, buat para pejuang garis dua kondisi itu pastinya bikin perasaan ngeri-ngeri was-was, bukan?

Hamil Prerogatif Tuhan

Meski ada pasangan yang memilih tidak punya anak setelah menikah (childfree) namun ada juga pasangan yang justru menginginkan buah hati tapi tak kunjung mendapatkan kesempatan.

Seperti saya contohnya. Sejak melahirkan putra pertama, saya tidak menggunakan alat kontrasepsi apa pun. Karena niat saya dan suami memang ingin disegerakan punya momongan lagi mengingat umur kami sudah lebih dari siap.

Setahun, dua tahun hingga sekarang sudah sebelas tahun lebih menunggu, kami belum juga diberikan kepercayaan lagi untuk memiliki buah hati.

Padahal ada teman yang harus menggunakan alat kontrasepsi untuk memberikan jeda pada kehamilannya namun justru kebobolan! Anak kedua belum sampai satu tahun ia sudah diberikan kepercayaan untuk mengandung kembali.

Kehamilan memang hak prerogatif Tuhan. Sebesar apa pun keinginan kita tapi jika Tuhan belum berkehendak, sebagai manusia kita bisa apa?

Beberapa Penyebab Sulit Hamil

Meski bukan mandul, karena sebelumnya telah hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan sempurna tapi kesulitan hamil kembali ternyata tidak hanya dialami oleh saya sendiri, melainkan ada banyak perempuan subur lainnya yang merasakan permasalahan yang sama.

Beberapa penelitian menjelaskan ada banyak penyebab seorang ibu menjadi sulit hamil kembali. Beberapa penyebabnya dikarenakan masalah kesehatan tertentu dan penyebab susah hamil karena pola hidup.

Rekomendasi Tespek Akurat untuk Pejuang Garis Dua 

Penyebab Susah Hamil Karena Masalah Kesehatan Tertentu, seperti 

  1. Premature Ovarian Failure
  2. Endometriosis
  3. Penyumbatan Tuba Falopi
  4. Gangguan Fungsi Hipotalamus
  5. PCOS (Polycystic Ovary Syndrome)
  6. Infertilitas pada Pria

Penyebab Susah Hamil Karena Pola Hidup:

  1. Kurang Tidur
  2. Sulit Mengelola Stres
  3. Kebiasaan Merokok
  4. Salah Menentukan Waktu Subur
  5. Diet Berlebih Hingga Berat Badan Rendah
  6. Menunda Usia Menikah dan Hamil
  7. Pola Makan Tidak Sehat

Cara yang Bisa Dilakukan agar Cepat Hamil

  • Batasi konsumsi kafein saat program hamil
  • Berolahraga secara teratur 
  • Mengelola stres dengan baik
  • Konsumsi asam folat sesuai petunjuk dokter 
  • Makan makanan yang mengandung tinggi antioksidan
  • Cara cepat hamil dengan melacak masa subur
  • Rutin berhubungan intim dengan pasangan 

Kehamilan adalah periode yang digunakan untuk menggambarkan saat janin berkembang dalam rahim. Biasanya, proses kehamilan berlangsung selama 40 minggu atau lebih dari sembilan bulan. Waktu pertama kehamilan dihitung dari periode menstruasi yang terakhir.

Tanda Kehamilan

Saat hamil, biasanya akan mengalami beberapa tanda kehamilan, seperti:

  • Tidak Menstruasi. Jika terlambat atau tidak mengalami menstruasi, hal ini bisa menjadi tanda utama dari kehamilan.
  • Sakit Kepala. Kondisi ini menjadi tanda lain dari awal kehamilan. Merasa sakit kepala terjadi akibat peningkatan hormon dan peningkatan volume darah. 
  • Flek Darah. Beberapa wanita akan mendapati flek darah di awal kehamilan yang merupakan bagian dari proses implantasi.
  • Kenaikan Berat Badan. Memasuki trimester pertama kenaikan berat badan tidak akan mengalami peningkatan yang besar. Kenaikan berat badan akan terjadi cukup besar ketika ibu hamil memasuki trimester kedua.
  • Heartburn. Perubahan hormon pada masa kehamilan memicu ibu hamil mengalami heartburn.
  • Konstipasi. Perubahan hormon juga membuat metabolisme pencernaan menjadi lebih lambat. Karena itu ibu hamil rentan mengalami konstipasi.
  • Perubahan Payudara. Perubahan pada payudara menjadi salah satu tanda kehamilan. Payudara akan terasa lebih lembut dan padat saat memasuki usia kehamilan.
  • Mual. Kondisi ini dikenal juga sebagai morning sickness. Ini terjadi karena adanya peningkatan hormon pada tubuh ibu hamil.

Rekomendasi Tespek Akurat untuk Pejuang Garis Dua 

Cek Kehamilan Mudah dan Praktis Menggunakan Tespek (Test Pack)

Jika mengalami gejala-gejala kehamilan, segera periksakan ke tenaga ahli. Cara lain mengetahui apakah hamil atau tidak yang mudah dan cepat adalah dengan menggunakan tespek. 

Tespek adalah alat bantu yang biasanya digunakan untuk mendeteksi kehamilan dini. Tespek biasanya digunakan sebagai pemeriksaan awal setelah merasakan gejala kehamilan seperti terlambat menstruasi.

Ada berbagai jenis tespek, 

  • Test Pack Strip atau tespek sekali pakai. 
  • Pregnancy Cassette Test.
  • Test Pack Digital atau tespek yang bisa dipakai berkali-kali.

Tespek cukup mudah didapatkan. Tespek tersedia di apotik dan toko obat bahkan di minimarket baik secara offline maupun online seperti di e-commerce Tokopedia 

Tokopedia adalah platform jual beli secara online dengan basis open marketplace yang memudahkan para pelaku bisnis untuk memulai bisnis jual beli secara online.

Di Tokopedia banyak tersedia berbagai jenis tespek. Beberapa tespek yang direkomendasikan seperti tespek akurat dan tespek sensitif. Semua lengkap tersedia sesuai dengan kebutuhan.

Saya sendiri selalu berbelanja secara online di Tokopedia. Selain mudah dan praktis ada banyak manfaat lainnya berbelanja di Tokopedia yang saya rasakan.

Kelebihan berbelanja di Tokopedia:

  • Aplikasinya mudah digunakan 
  • Pilihan produknya sangat banyak dan luas
  • Ada program mitra Tokopedia
  • Jaminan keamanan dan kemudahan dalam bertransaksi
  • Biaya pengiriman murah dan bahkan sering mendapatkan free ongkir 
  • Jaminan keamanan produk 
  • Jaminan kualitas penjual yang ramah dan fast respon

Tak heran kalau Tokopedia begitu banyak dijadikan rujukan belanja online oleh masyarakat karena target pasar Tokopedia memang terdiri dari berbagai kalangan yang dapat mengakses internet dari remaja hingga tua, pria dan wanita serta dari kalangan ekonomi apa pun.

Jadi kalau sudah merasakan ada tanda-tanda kehamilan supaya lebih yakin segera tes saja menggunakan rekomendasi tespek akurat yang bisa didapatkan secara mudah dan cepat di Tokopedia.

Read more ...

Rabu, 24 April 2024

Waspada! Bencana Berikut Dapat Dialami Jika Anak Tidak Dibekali Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter sebagai pola asuh yang menekankan anak untuk terbiasa melakukan hal kebaikan sangat penting dalam kehidupan sebagai fondasi akhlak. Sebaliknya, saat anak tidak dibekali pendidikan karakter, bencana berupa kerusakan tingkah laku bahkan moral bisa saja terjadi kepadanya.

Ketika Ramadan kemarin berakhir berganti dengan Syawal, saatnya seluruh muslim silaturahmi untuk bermaaf-maafan, adakah yang justru menghindar dari tradisi itu?

Saya jawab ada. Entah apa alasannya yang pasti ketika saya dan keluarga keliling kampung ada satu orang anak (sebenarnya sudah mau jadi calon bapak, sih) yang justru melipir seolah menghindar untuk bermaaf-maafan dengan kami.

Pendidikan Karakter Adab Terhadap Guru

Padahal, anak itu dulunya mengaji bersama kami. Hanya memang anak itu pernah bermasalah dan keluar dari pengajian setelah meninggalkan jejak tidak patut yang dilakukan seorang santri kepada guru mengajinya.

Mungkin, secara kasarnya penanaman pendidikan karakter oleh orang tua dan keluarga kepada anak itu sangat kurang. Sehingga kemungkinan jadi penyebab anak tidak memiliki rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Tak tahu pasti juga bagaimana attitude dia di sekolahnya.

Ketika anak itu dititipkan di pondok mengaji dan kami mulai menanamkan pendidikan karakter kepada anak tersebut, si anak justru malah menolak, melawan dan mengucapkan umpatan yang sangat tidak pantas ketika kami tegur. Akhirnya setelah konflik itu si anak dengan sendirinya keluar dari pondok mengaji.

Setelah menikah (maklum di kampung lulus sekolah banyak yang langsung berkeluarga) dan tinggal sekampung lagi bersama kami sikapnya terlihat menghindar dari saya dan suami, selaku guru ngajinya dulu.

Mungkin karena malu, atau justru masih menyimpan marah yang disebabkan karena teguran kami dulu ketika ia masih menjadi santri didik kami? Entahlah.

Hal itu tentu saja jadi bahan renungan. Di saat wali dan santri lain saling meminta maaf, si anak itu justru melengos dan menjauhi kami. Tidak ingin berprasangka buruk, kami pun bersikap biasa saja.

Yang jelas saya meningkatkan introspeksi diri. Ini kalau orang terlihat beda dengan kita, pasti ada masalah sebagai pemicunya, bukan? Nah, jangan sampai saya merasa tidak bersalah sementara orang lain justru sakit hati dengan sikap atau perkataan saya. Parahnya kalau rasa sakit hatinya diceritakan lagi kepada orang lain. Bukankah akan semakin banyak yang terikat dalam lingkaran kebencian ini?

Padahal saya yakin setiap orang tua di daerah kita ini mengajarkan pendidikan karakter berupa sopan santun dan tata krama sejak anak masih kecil. Kalaupun orang tua ada yang abai, bukankah di sekolah juga diajarkan. Jadi untuk lingkungan kita ini tidak ada alasan anak tidak sopan karena belum diberitahu.

Lalu kenapa masih ada anak yang berperilaku tidak sopan walaupun sudah diajarkan sejak kecil?

Bencana Jika Anak Tidak Dibekali Pendidikan Karakter

Anak Membangkang Apa yang Harus Dilakukan?

Hal yang harus digarisbawahi di sini adalah ketika seorang anak melakukan hal yang tidak sopan atau di luar tata krama, tidak sesuai budaya kita selaku orang ketimuran apa yang seharusnya orang tua lakukan?

Cari Tahu Penyebabnya

Ketika ada kebiasaan buruk yang dilakukan anak, seperti melawan kepada orang tua atau guru, bersikap tidak sopan dan sebagainya untuk menyelamatkannya segeralah cari tahu apa yang membuat anak bersikap kasar demikian

Syukur-syukur penyebabnya segera ditemukan jadi bisa diatasi dari akar permasalahannya. Sehingga si anak bisa menyadari kesalahannya dan tidak melawan kepada orang yang lebih tua atau bersikap kasar lagi.

Amati Perilaku Orang Tua/Wali

Setiap anak akan tumbuh dengan keteladanan dari orang tua atau wali terdekatnya.

Perkataan, sikap dan perilaku sampai gestur tubuh orang di sekitar dipastikan selalu diamati anak dan secara alami anak akan mengikutinya. Baik itu dalam hal kebaikan maupun dalam keburukan.

Tidak heran anak jadi pembangkangan kalau orang tuanya juga demikian.

Cara Mengatasi Anak Melawan Orang Tua atau Guru

Kesadaran Peran Orang Tua

Diawali dengan kesadaran ini, diharapkan muncul tanggung jawab untuk segera memperbaiki. Usut permasalahan anak hingga terurai dan ditemukan pemecahannya.

Yang harus diperhatikan ketika menghadapi anak yang suka melawan, ialah ajak bicara baik-baik dengan lembut dan penuh perhatian.

Orang tua atau guru perlu menyadari perannya sebagai teladan dan melakukan kewajibannya dengan mencontohkan hal baik.

Limpahkan Anak dengan Perhatian

Sulit perilaku anak akan terbentuk dengan sempurna, jika hanya berbekal pengetahuan, finansial atau material. Karena anak juga butuh perhatian yang akan membentuk faktor psikologis mereka.

Selain menyediakan fasilitas akan lebih baik anak juga mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan kehadiran orang tuanya terlebih pada usia dini mereka. Dengan terus memberikan pendidikan karakter akan dengan mudah mencapai tujuan pendidikan keluarga yaitu anak yang berakhlak mulia.

Orang Tua dan Guru Sebagai Teladan

Jika anak mendapatkan fondasi baik dari keluarga serta lingkungannya, seperti apa sulitnya tantangan pergaulan dan lingkungan di luar keluarga yang akan dihadapi mereka di masa depannya, anak akan terus mengandalkan orang tua dan menjadikannya sebagai panutan.

Karena setiap perilaku yang dilakukan anak bahkan saat dewasa nanti, merupakan tampilan hasil didikan yang diterapkan orang tua dalam keluarga.

Untuk itu tetapkan batasan sesuai syariat dan cukupi kebutuhan anak sesuai dengan kemampuan, sehingga diharapkan anak memiliki akhlak yang baik.

Saya dan suami sebagai orang ketiga, yang bisa membimbing anak hanya sekitar dua jam saja dari magrib sampai isya tentu saja tidak bisa maksimal sebagaimana orang tua.

Yang kami bisa ya semaksimal mungkin memberikan pendidikan karakter dari segi agama dengan cara meneladankan nya kepada anak sejak mereka diamanatkan untuk kami bimbing.

Satu lagi berusaha untuk konsisten menerapkan pendidikan karakter nya, supaya iman dan akhlak anak tetap kokoh, sehingga mampu memilih mana yang baik dan mana yang buruk dalam menghadapi perkembangan jaman dan teknologi.

Baca juga: MANFAAT PENDIDIKAN ARTIKEL PADA TUMBUH KEMBANG ANAK

Bencana Jika Anak Tidak Dibekali Pendidikan Karakter

Bencana Melawan Kepada Guru

Orang tua, harus paham bahwa jika ada sikap anak yang tidak sesuai adab kepada gurunya, maka keberkahan ilmunya bisa terancam.

Dengan memahami hal itu maka orang tua sejak dini sudah menerapkan pendidikan karakter tentang adab terhadap guru kepada anaknya. Supaya anak menjadi sebenar-benarnya jadi manusia yang berakhlak mulia.

Berikut salah satu kisah di dunia pondok pesantren mengenai durhakanya seorang murid kepada gurunya yang sangat populer dan mengandung banyak hikmah.

Kisah seorang santri yang cerdas dan pintar hingga mampu menghafal banyak kitab. Banyak yang memprediksi ia akan menjadi ulama besar atau ilmuwan termasyhur.

Suatu hari ketika waktunya belajar, santri tersebut tidak hadir. Sang guru bertanya kemana dia? Tapi tak ada yang tahu. Bahkan di pondok pun dia tidak ada.

Ternyata santri pintar itu keluar pondok untuk mengisi pengajian di tempat lain tanpa izin.

Sang guru kemudian berkata, “Baiklah orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap disini!”

Sementara di tempat lain, santri yang pintar dan akan mengisi acara pengajian itu sudah di nanti-nantikan oleh para pecinta ilmu.

Santri pintar ini pun maju dan mulai membuka ceramahnya dengan salam dan muqaddimah.

Sekian lama kemudian, santri pintar tersebut hanya diam. Santri pintar ini tak mampu berkata karena ternyata semua ilmu pengetahuan yang selama ini sudah dikuasainya tiba-tiba hilang dari ingatannya. Santri tersebut tunduk dan menangis.

Semua merasa heran ada apa? Santri tersebut mengaku, ia keluar pesantren untuk mengisi pengajian tanpa izin sang guru.

Kisah tersebut sungguh sebuah pelajaran hidup yang sangat menampar untuk kita, bukan? Bagaimana kita akan mendapatkan keberkahan jika terhadap orang tua dan guru tak menghormat sama sekali.

Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki berkata : “Aku murka terhadap penuntut (ilmu) yang tidak menghormati ustadznya, meskipun ustadz tersebut adalah temannya sendiri”.

Imam Nawawi berkata : “Seyogyanya bagi seorang pelajar tawadlu’ (rendah hati) kepada gurunya dan menjaga tata krama ketika bersamanya, meskipun gurunya tersebut lebih muda, tidak begitu terkenal, nasabnya lebih rendah dan (mungkin) keshalehannya kalah dengan muridnya. Dengan tawadlu’ (rendah hati), niscaya ilmu akan ia dapatkan”.

Pelajaran dan hikmahnya...

Perkataan para guru tersebut tentu saja harus jadi bahan renungan. Jika kebetulan kita sebagai guru, maka jangan sekali-kali kita berharap untuk dihormati!

Sebaliknya, jika kita adalah seorang murid, hormatilah guru, sebagaimana kita diajarkan sejak kecil untuk menghormati orang tua. Jangan lihat usianya, nasabnya, kedudukannya, hartanya atau hal lainnya. Selama kita menerima ilmu darinya, maka hormatilah dia sebagaimana mestinya.

Ingin anak-anaknya memiliki akhlak yang baik, manteman bisa lanjutkan membacanya ke artikel Pengertian Pendidikan Karakter yang Membentuk Manusia Sempurna Di sana ada ulasan lengkapnya ya.

Read more ...

Minggu, 21 April 2024

Surat untuk MFahmiNHK, Anak Laki-laki di Hari Kartini

Mi, sebagai anak lelaki satu-satunya di keluarga, ibu ingin bicara sebentar, Nak.

Tapi mungkin omongan ibu ini belum bisa kamu pahami. Karenanya ibu tulis surat ini untuk kamu baca kelak, saat kamu mulai dewasa dan siap terjun menjalankan rumah tangga.

Terima kasih Mi, udah mau mijitin ibu walau tak sampai lima menit, dan gak ada efek lainnya kecuali yang sakit pegal di badan ibu sedikit mengurai. Itu pun sambil misuh-misuh, kamu melakukannya. Hehe ...

“Ish, ibu gimana sih? Ami lagi Ami lagi. Ami kan lagi main ini...”

Tapi pegal di tulang punggung dan tulang ekor ini memang terasa ngilu sekali, Mi. Sepertinya ibu gak bisa tidur kalau belum dipijat dan diolesi minyak urut seperti permintaan ibu tadi. Terimakasih ya, Mi.

Mi, tahukah, kalau jadi ibu itu berat sekali. Ami kan tahu sendiri, kadang kalau lelah ibu ini sudah di ubun-ubun, badan menuntut untuk direbahkan, tapi ibu bisa apa kalau Ami udah merengek minta ini dan itu. Rasanya ibu tak sampai hati mengabaikan jari-jari kecilmu yang penuh dengan harapan berwarna warni seperti pelangi itu, masih saja meminta ibu untuk melakukannya.

Ami, meski Ami seorang anak laki-laki tapi Ami harus tahu kalau jadi seorang ibu itu pekerjaan yang melelahkan jiwa raga.

Bayangkan, mulai dari memikirkan menu harian yang bikin pusing secara Ami dan ayah makanan kesukaan nya berbeda. Mulai dari mikirin hal receh seperti sapu lidi yang udah pada patah, nasi yang bau padahal masih sisa banyak, ranjang yang rusak menyebabkan bunyi derit yang berisik hingga Ami gak bisa bobo, bantal usang kesayangan Ami yang harus dicuci dan dijemur manual karena kita tidak punya mesin cuci, lalu menjahit tangan bantal itu karena ada sobekan.

Ngerjain kulkas berdebu dengan potongan tomat dan jeruk nipis entah sisa memasak kapan yang harus ibu bersihkan, atap genteng yang pecah hingga menyebabkan bocor, kran rusak hingga airnya macet. Ketika pisau dapur yang tak cukup tajam, alat makan yang lenyap entah menghilang kemana, dan masih banyak lagi hal receh yang harus ibu urus lainnya.

Belum ketika Ami sakit, badan yang bentol-bentol dan garukan nya menyebabkan luka, saat Ami tak mau makan dengan alasan ga ada lauk kesukaan, ibu bisa apa kecuali berada di sisi Ami. Menemani.

Surat untuk Anak Laki-laki di Hari Kartini

Aaaaah… sebenarnya sesekali ibu ini merasa sungguh lelah, Mi.

Jadi ibu itu adalah pekerjaan yang entah kapan bisa sejenak berhenti. Saat tidur saja sering terbangun karena Ami minta ditemani ke kamar mandi, atau minta minum karena kehausan.

Belum lagi ditambah mikirin uang belanja yang semakin sedikit tidak sejalan dengan kebutuhan yang terus bertambah. Pecah rasanya kepala memikirkan bagaimana mengaturnya.

Ibu yang punya anak satu saja merasa kurang waktu, bagaimana yang anaknya lebih dari satu? Bayi kecil dalam gendongan, air susu serat karena tak cukup asupan makanan, kakaknya si bayi dalam tuntunan, rewel pengen jajan.

Bikin kerudung sang ibu miring mencong-mencong selaras dengan daster yang penuh lubang. Sendal jepit putus sebelah belum ada waktu buat menyambungnya. Mau beli, rebutan dengan uang untuk jajan anak tersayang.

Kebutuhan, tuntutan, keinginan, menghimpit hingga tak ada jeda bahkan untuk sekedar menarik napas lega dan lapang.

Jadi ibu itu, seperti sebuah status yang pernah ibu baca katanya bagai mengurung diri dan hidup dalam kotak sabun.

Berbicara dengan wajan, dengan pantat panci yang cemong dan dengan guling berbau ompol.

Ami tahu hiburan ibu di rumah hanya dedaunan kering di halaman yang menunggu ibu untuk dikumpulkan lalu dibakar agar sesekali ibu merasakan harum asap daun salam terbakar. Anggap saja itu harum aromatherapy.

Surat untuk Anak Laki-laki di Hari Kartini

Maka ibu merasa sangat beruntung ketika ibu memiliki suami seperti ayah. Allah pasangkan ibu dengan seorang seperti ayah untuk meringankan beban yang ibu tanggung ini.

Kelak, ketika Ami dewasa dan berumah tangga, jadilah seorang lelaki dan suami yang mampu jadi tempat istri menumpahkan lelah dan letih. Jadilah suami sebagai tempat untuk menyandarkan gelisah hati istri. Jadilah suami sekaligus ayah yang siap menerima keluh kesah istri saat mengeluhkan rewelnya buah hati. Jadilah anak laki sekaligus suami yang siap menerima istrinya saat membagi kisah, meluapkan kasih, dan untuk menuturkan cerita di penghujung hari.

Ami, kelak jadilah seorang anak laki-laki, seorang suami sekaligus seorang ayah yang siap menjadi sepasang lengan yang siaga merengkuh saat sang istri oleng tanpa daya..

Jadilah suami yang tau kapan perlu menjelma jadi selimut yang meredakan gigil atau kapan harus mengambil segelas air dingin untuk meredakan dahaga istrimu.

Maka sungguh, selelah apa pun menjadi istri atau menjadi ibu jika sang suami siap mendampinginya maka pekerjaan berat apa pun akan terasa ringan karena siap dihadapi bersama.

Tahu kan Mi, saat ibu ibu udah lelah, tapi kalau ayah datang menolong, ayah menghibur, ayah mau menemani di akhir hari sungguh semua itu seperti obat paling mujarab bagi lelah hati ibu. Kelak jadilah kamu seperti obat itu untuk kelelahan istrimu...

Genggam tangan penuh kasih dan usapan di pucuk kepala adalah pelipur lara bagi setiap tetes keringat seorang istri sekaligus seorang ibu setiap hari..

Selelah itu lah seorang ibu tapi sesederhana itu juga pereda setiap kepenatannya.

Maka Ami harus tahu, menjadi seorang istri dan seorang ibu, bukan sekedar menikah, hamil lalu melahirkan. Menjadi istri dan kemudian seorang ibu itu membutuhkan iman, ilmu dan tentu saja uang demi kewarasan.

Momen di Hari Kartini ini, dimana katanya emansipasi wanita tengah dijunjung tinggi, ibu tak ingin diajak makan malam seperti selebritis di tv, ibu tak ingin mendapatkan hadiah perhiasan kayaknya istri dan ibu yang diapresiasi oleh suami dan keluarganya, di hari yang katanya spesial ini ibu hanya ingin bercerita.

Surat untuk Anak Laki-laki di Hari Kartini

Ibu sengaja bercerita melalui surat yang ibu titip di blog ini supaya bisa menjadi inspirasi bagi para ibu lainnya, bahwa seorang istri sekaligus ibu seperti ibu ini memang memerlukan waktu dan ruang untuk bercerita. Tak masalah cerita itu tertuang dalam bentuk tulisan, atau bahkan melalui tangisan dan linangan air mata

Semua ini tujuannya agar hilang semua lelah dan beban yang ibu punya. Agar pupus semua kesal dan marah yang menggumpal di hati ibu. Karena jika tidak dihancurkan, ibu takut lelah ini menjadi bom waktu yang suatu saat bisa meledak hingga melukai anak ibu.

Ibu sangat berusaha menjaga agar jangan sampai letih ibu ini menjelma jadi keluh, mengumpat takdir hingga segala pegal badan tak jadi sebab ibu masuk syurga.

Jangan sampai lelah ibu yang sudah belasan tahun ini, jadi lelah yang sia-sia sebab tak lillah...

Semoga Allah menguatkan punggung bengkok ibu. Semoga Allah jauhkan ibu dari setiap rasa yang menyakiti dan melukai. Semoga Allah melapangkan hati ibu, agar segala uji tak menggeser iman dan taqwa.

Semoga Allah lindungi kita dan keluarga dari apa-apa yang tak Allah sukai.

Ibu ceritakan semua ini kepada Ami, satu-satunya anak laki-laki ibu, supaya kelak ibu dari anakmu tak sampai merasakan kelelahan seperti ibu. Kalaupun istrimu kelak lelah, dampingi dia sebagaimana ayah mendampingi kita.

Kelak Ami semoga bisa paham jika ibu hanya tersenyum saja ketika Ami bilang "Ibu mah enak gak perlu sekolah, gak perlu kerja seperti ayah. Ibu mah di rumah aja tunggu ayah dan Ami pulang..."

Enak? Ya semoga saja perkataanmu jadi doa ya, Mi. Semoga kelak istrimu merasakan semua keenakan itu.

Insyaallah seorang istri tidak perlu menuntut emansipasi lagi jika suaminya sudah memuliakan keberadaannya hingga dunia akhirat.

Entah kapan surat ibu ini bisa Ami pahami. Tapi setidaknya jika ibu telah tiada, surat ini bisa jadi salah satu wasiat, ya Nak...

Jadilah seorang anak laki-laki ibu yang mampu memuliakan istrinya, pendamping hidup, bukan asisten rumah tangga.**

Artikel ini dipilih untuk dimasukkan dalam kampanye "Blog Parenting Terbaik di Indonesia" dari penerbit bahan ajar pendidikan Twinkl.

Surat untuk MFahmiNHK Anak laki-laki di Hari Kartini
Read more ...