Selasa, 23 April 2024

Waspada! Bencana Berikut Dapat Dialami Jika Anak Tidak Dibekali Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter sebagai pola asuh yang menekankan anak untuk terbiasa melakukan hal kebaikan sangat penting dalam kehidupan sebagai fondasi akhlak. Sebaliknya, saat anak tidak dibekali pendidikan karakter, bencana berupa kerusakan tingkah laku bahkan moral bisa saja terjadi kepadanya.

Ketika Ramadan kemarin berakhir berganti dengan Syawal, saatnya seluruh muslim silaturahmi untuk bermaaf-maafan, adakah yang justru menghindar dari tradisi itu?

Saya jawab ada. Entah apa alasannya yang pasti ketika saya dan keluarga keliling kampung ada satu orang anak (sebenarnya sudah mau jadi calon bapak, sih) yang justru melipir seolah menghindar untuk bermaaf-maafan dengan kami.

Pendidikan Karakter Adab Terhadap Guru

Padahal, anak itu dulunya mengaji bersama kami. Hanya memang anak itu pernah bermasalah dan keluar dari pengajian setelah meninggalkan jejak tidak patut yang dilakukan seorang santri kepada guru mengajinya.

Mungkin, secara kasarnya penanaman pendidikan karakter oleh orang tua dan keluarga kepada anak itu sangat kurang. Sehingga kemungkinan jadi penyebab anak tidak memiliki rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Tak tahu pasti juga bagaimana attitude dia di sekolahnya.

Ketika anak itu dititipkan di pondok mengaji dan kami mulai menanamkan pendidikan karakter kepada anak tersebut, si anak justru malah menolak, melawan dan mengucapkan umpatan yang sangat tidak pantas ketika kami tegur. Akhirnya setelah konflik itu si anak dengan sendirinya keluar dari pondok mengaji.

Setelah menikah (maklum di kampung lulus sekolah banyak yang langsung berkeluarga) dan tinggal sekampung lagi bersama kami sikapnya terlihat menghindar dari saya dan suami, selaku guru ngajinya dulu.

Mungkin karena malu, atau justru masih menyimpan marah yang disebabkan karena teguran kami dulu ketika ia masih menjadi santri didik kami? Entahlah.

Hal itu tentu saja jadi bahan renungan. Di saat wali dan santri lain saling meminta maaf, si anak itu justru melengos dan menjauhi kami. Tidak ingin berprasangka buruk, kami pun bersikap biasa saja.

Yang jelas saya meningkatkan introspeksi diri. Ini kalau orang terlihat beda dengan kita, pasti ada masalah sebagai pemicunya, bukan? Nah, jangan sampai saya merasa tidak bersalah sementara orang lain justru sakit hati dengan sikap atau perkataan saya. Parahnya kalau rasa sakit hatinya diceritakan lagi kepada orang lain. Bukankah akan semakin banyak yang terikat dalam lingkaran kebencian ini?

Padahal saya yakin setiap orang tua di daerah kita ini mengajarkan pendidikan karakter berupa sopan santun dan tata krama sejak anak masih kecil. Kalaupun orang tua ada yang abai, bukankah di sekolah juga diajarkan. Jadi untuk lingkungan kita ini tidak ada alasan anak tidak sopan karena belum diberitahu.

Lalu kenapa masih ada anak yang berperilaku tidak sopan walaupun sudah diajarkan sejak kecil?

Bencana Jika Anak Tidak Dibekali Pendidikan Karakter

Anak Membangkang Apa yang Harus Dilakukan?

Hal yang harus digarisbawahi di sini adalah ketika seorang anak melakukan hal yang tidak sopan atau di luar tata krama, tidak sesuai budaya kita selaku orang ketimuran apa yang seharusnya orang tua lakukan?

Cari Tahu Penyebabnya

Ketika ada kebiasaan buruk yang dilakukan anak, seperti melawan kepada orang tua atau guru, bersikap tidak sopan dan sebagainya untuk menyelamatkannya segeralah cari tahu apa yang membuat anak bersikap kasar demikian

Syukur-syukur penyebabnya segera ditemukan jadi bisa diatasi dari akar permasalahannya. Sehingga si anak bisa menyadari kesalahannya dan tidak melawan kepada orang yang lebih tua atau bersikap kasar lagi.

Amati Perilaku Orang Tua/Wali

Setiap anak akan tumbuh dengan keteladanan dari orang tua atau wali terdekatnya.

Perkataan, sikap dan perilaku sampai gestur tubuh orang di sekitar dipastikan selalu diamati anak dan secara alami anak akan mengikutinya. Baik itu dalam hal kebaikan maupun dalam keburukan.

Tidak heran anak jadi pembangkangan kalau orang tuanya juga demikian.

Cara Mengatasi Anak Melawan Orang Tua atau Guru

Kesadaran Peran Orang Tua

Diawali dengan kesadaran ini, diharapkan muncul tanggung jawab untuk segera memperbaiki. Usut permasalahan anak hingga terurai dan ditemukan pemecahannya.

Yang harus diperhatikan ketika menghadapi anak yang suka melawan, ialah ajak bicara baik-baik dengan lembut dan penuh perhatian.

Orang tua atau guru perlu menyadari perannya sebagai teladan dan melakukan kewajibannya dengan mencontohkan hal baik.

Limpahkan Anak dengan Perhatian

Sulit perilaku anak akan terbentuk dengan sempurna, jika hanya berbekal pengetahuan, finansial atau material. Karena anak juga butuh perhatian yang akan membentuk faktor psikologis mereka.

Selain menyediakan fasilitas akan lebih baik anak juga mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan kehadiran orang tuanya terlebih pada usia dini mereka. Dengan terus memberikan pendidikan karakter akan dengan mudah mencapai tujuan pendidikan keluarga yaitu anak yang berakhlak mulia.

Orang Tua dan Guru Sebagai Teladan

Jika anak mendapatkan fondasi baik dari keluarga serta lingkungannya, seperti apa sulitnya tantangan pergaulan dan lingkungan di luar keluarga yang akan dihadapi mereka di masa depannya, anak akan terus mengandalkan orang tua dan menjadikannya sebagai panutan.

Karena setiap perilaku yang dilakukan anak bahkan saat dewasa nanti, merupakan tampilan hasil didikan yang diterapkan orang tua dalam keluarga.

Untuk itu tetapkan batasan sesuai syariat dan cukupi kebutuhan anak sesuai dengan kemampuan, sehingga diharapkan anak memiliki akhlak yang baik.

Saya dan suami sebagai orang ketiga, yang bisa membimbing anak hanya sekitar dua jam saja dari magrib sampai isya tentu saja tidak bisa maksimal sebagaimana orang tua.

Yang kami bisa ya semaksimal mungkin memberikan pendidikan karakter dari segi agama dengan cara meneladankan nya kepada anak sejak mereka diamanatkan untuk kami bimbing.

Satu lagi berusaha untuk konsisten menerapkan pendidikan karakter nya, supaya iman dan akhlak anak tetap kokoh, sehingga mampu memilih mana yang baik dan mana yang buruk dalam menghadapi perkembangan jaman dan teknologi.

Baca juga: MANFAAT PENDIDIKAN ARTIKEL PADA TUMBUH KEMBANG ANAK

Bencana Jika Anak Tidak Dibekali Pendidikan Karakter

Bencana Melawan Kepada Guru

Orang tua, harus paham bahwa jika ada sikap anak yang tidak sesuai adab kepada gurunya, maka keberkahan ilmunya bisa terancam.

Dengan memahami hal itu maka orang tua sejak dini sudah menerapkan pendidikan karakter tentang adab terhadap guru kepada anaknya. Supaya anak menjadi sebenar-benarnya jadi manusia yang berakhlak mulia.

Berikut salah satu kisah di dunia pondok pesantren mengenai durhakanya seorang murid kepada gurunya yang sangat populer dan mengandung banyak hikmah.

Kisah seorang santri yang cerdas dan pintar hingga mampu menghafal banyak kitab. Banyak yang memprediksi ia akan menjadi ulama besar atau ilmuwan termasyhur.

Suatu hari ketika waktunya belajar, santri tersebut tidak hadir. Sang guru bertanya kemana dia? Tapi tak ada yang tahu. Bahkan di pondok pun dia tidak ada.

Ternyata santri pintar itu keluar pondok untuk mengisi pengajian di tempat lain tanpa izin.

Sang guru kemudian berkata, “Baiklah orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap disini!”

Sementara di tempat lain, santri yang pintar dan akan mengisi acara pengajian itu sudah di nanti-nantikan oleh para pecinta ilmu.

Santri pintar ini pun maju dan mulai membuka ceramahnya dengan salam dan muqaddimah.

Sekian lama kemudian, santri pintar tersebut hanya diam. Santri pintar ini tak mampu berkata karena ternyata semua ilmu pengetahuan yang selama ini sudah dikuasainya tiba-tiba hilang dari ingatannya. Santri tersebut tunduk dan menangis.

Semua merasa heran ada apa? Santri tersebut mengaku, ia keluar pesantren untuk mengisi pengajian tanpa izin sang guru.

Kisah tersebut sungguh sebuah pelajaran hidup yang sangat menampar untuk kita, bukan? Bagaimana kita akan mendapatkan keberkahan jika terhadap orang tua dan guru tak menghormat sama sekali.

Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki berkata : “Aku murka terhadap penuntut (ilmu) yang tidak menghormati ustadznya, meskipun ustadz tersebut adalah temannya sendiri”.

Imam Nawawi berkata : “Seyogyanya bagi seorang pelajar tawadlu’ (rendah hati) kepada gurunya dan menjaga tata krama ketika bersamanya, meskipun gurunya tersebut lebih muda, tidak begitu terkenal, nasabnya lebih rendah dan (mungkin) keshalehannya kalah dengan muridnya. Dengan tawadlu’ (rendah hati), niscaya ilmu akan ia dapatkan”.

Pelajaran dan hikmahnya...

Perkataan para guru tersebut tentu saja harus jadi bahan renungan. Jika kebetulan kita sebagai guru, maka jangan sekali-kali kita berharap untuk dihormati!

Sebaliknya, jika kita adalah seorang murid, hormatilah guru, sebagaimana kita diajarkan sejak kecil untuk menghormati orang tua. Jangan lihat usianya, nasabnya, kedudukannya, hartanya atau hal lainnya. Selama kita menerima ilmu darinya, maka hormatilah dia sebagaimana mestinya.

Ingin anak-anaknya memiliki akhlak yang baik, manteman bisa lanjutkan membacanya ke artikel Pengertian Pendidikan Karakter yang Membentuk Manusia Sempurna Di sana ada ulasan lengkapnya ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar