Sabtu, 20 April 2024

Surat untuk MFahmiNHK, Anak Laki-laki di Hari Kartini

Mi, sebagai anak lelaki satu-satunya di keluarga, ibu ingin bicara sebentar, Nak.

Tapi mungkin omongan ibu ini belum bisa kamu pahami. Karenanya ibu tulis surat ini untuk kamu baca kelak, saat kamu mulai dewasa dan siap terjun menjalankan rumah tangga.

Terima kasih Mi, udah mau mijitin ibu walau tak sampai lima menit, dan gak ada efek lainnya kecuali yang sakit pegal di badan ibu sedikit mengurai. Itu pun sambil misuh-misuh, kamu melakukannya. Hehe ...

“Ish, ibu gimana sih? Ami lagi Ami lagi. Ami kan lagi main ini...”

Tapi pegal di tulang punggung dan tulang ekor ini memang terasa ngilu sekali, Mi. Sepertinya ibu gak bisa tidur kalau belum dipijat dan diolesi minyak urut seperti permintaan ibu tadi. Terimakasih ya, Mi.

Mi, tahukah, kalau jadi ibu itu berat sekali. Ami kan tahu sendiri, kadang kalau lelah ibu ini sudah di ubun-ubun, badan menuntut untuk direbahkan, tapi ibu bisa apa kalau Ami udah merengek minta ini dan itu. Rasanya ibu tak sampai hati mengabaikan jari-jari kecilmu yang penuh dengan harapan berwarna warni seperti pelangi itu, masih saja meminta ibu untuk melakukannya.

Ami, meski Ami seorang anak laki-laki tapi Ami harus tahu kalau jadi seorang ibu itu pekerjaan yang melelahkan jiwa raga.

Bayangkan, mulai dari memikirkan menu harian yang bikin pusing secara Ami dan ayah makanan kesukaan nya berbeda. Mulai dari mikirin hal receh seperti sapu lidi yang udah pada patah, nasi yang bau padahal masih sisa banyak, ranjang yang rusak menyebabkan bunyi derit yang berisik hingga Ami gak bisa bobo, bantal usang kesayangan Ami yang harus dicuci dan dijemur manual karena kita tidak punya mesin cuci, lalu menjahit tangan bantal itu karena ada sobekan.

Ngerjain kulkas berdebu dengan potongan tomat dan jeruk nipis entah sisa memasak kapan yang harus ibu bersihkan, atap genteng yang pecah hingga menyebabkan bocor, kran rusak hingga airnya macet. Ketika pisau dapur yang tak cukup tajam, alat makan yang lenyap entah menghilang kemana, dan masih banyak lagi hal receh yang harus ibu urus lainnya.

Belum ketika Ami sakit, badan yang bentol-bentol dan garukan nya menyebabkan luka, saat Ami tak mau makan dengan alasan ga ada lauk kesukaan, ibu bisa apa kecuali berada di sisi Ami. Menemani.

Surat untuk Anak Laki-laki di Hari Kartini

Aaaaah… sebenarnya sesekali ibu ini merasa sungguh lelah, Mi.

Jadi ibu itu adalah pekerjaan yang entah kapan bisa sejenak berhenti. Saat tidur saja sering terbangun karena Ami minta ditemani ke kamar mandi, atau minta minum karena kehausan.

Belum lagi ditambah mikirin uang belanja yang semakin sedikit tidak sejalan dengan kebutuhan yang terus bertambah. Pecah rasanya kepala memikirkan bagaimana mengaturnya.

Ibu yang punya anak satu saja merasa kurang waktu, bagaimana yang anaknya lebih dari satu? Bayi kecil dalam gendongan, air susu serat karena tak cukup asupan makanan, kakaknya si bayi dalam tuntunan, rewel pengen jajan.

Bikin kerudung sang ibu miring mencong-mencong selaras dengan daster yang penuh lubang. Sendal jepit putus sebelah belum ada waktu buat menyambungnya. Mau beli, rebutan dengan uang untuk jajan anak tersayang.

Kebutuhan, tuntutan, keinginan, menghimpit hingga tak ada jeda bahkan untuk sekedar menarik napas lega dan lapang.

Jadi ibu itu, seperti sebuah status yang pernah ibu baca katanya bagai mengurung diri dan hidup dalam kotak sabun.

Berbicara dengan wajan, dengan pantat panci yang cemong dan dengan guling berbau ompol.

Ami tahu hiburan ibu di rumah hanya dedaunan kering di halaman yang menunggu ibu untuk dikumpulkan lalu dibakar agar sesekali ibu merasakan harum asap daun salam terbakar. Anggap saja itu harum aromatherapy.

Surat untuk Anak Laki-laki di Hari Kartini

Maka ibu merasa sangat beruntung ketika ibu memiliki suami seperti ayah. Allah pasangkan ibu dengan seorang seperti ayah untuk meringankan beban yang ibu tanggung ini.

Kelak, ketika Ami dewasa dan berumah tangga, jadilah seorang lelaki dan suami yang mampu jadi tempat istri menumpahkan lelah dan letih. Jadilah suami sebagai tempat untuk menyandarkan gelisah hati istri. Jadilah suami sekaligus ayah yang siap menerima keluh kesah istri saat mengeluhkan rewelnya buah hati. Jadilah anak laki sekaligus suami yang siap menerima istrinya saat membagi kisah, meluapkan kasih, dan untuk menuturkan cerita di penghujung hari.

Ami, kelak jadilah seorang anak laki-laki, seorang suami sekaligus seorang ayah yang siap menjadi sepasang lengan yang siaga merengkuh saat sang istri oleng tanpa daya..

Jadilah suami yang tau kapan perlu menjelma jadi selimut yang meredakan gigil atau kapan harus mengambil segelas air dingin untuk meredakan dahaga istrimu.

Maka sungguh, selelah apa pun menjadi istri atau menjadi ibu jika sang suami siap mendampinginya maka pekerjaan berat apa pun akan terasa ringan karena siap dihadapi bersama.

Tahu kan Mi, saat ibu ibu udah lelah, tapi kalau ayah datang menolong, ayah menghibur, ayah mau menemani di akhir hari sungguh semua itu seperti obat paling mujarab bagi lelah hati ibu. Kelak jadilah kamu seperti obat itu untuk kelelahan istrimu...

Genggam tangan penuh kasih dan usapan di pucuk kepala adalah pelipur lara bagi setiap tetes keringat seorang istri sekaligus seorang ibu setiap hari..

Selelah itu lah seorang ibu tapi sesederhana itu juga pereda setiap kepenatannya.

Maka Ami harus tahu, menjadi seorang istri dan seorang ibu, bukan sekedar menikah, hamil lalu melahirkan. Menjadi istri dan kemudian seorang ibu itu membutuhkan iman, ilmu dan tentu saja uang demi kewarasan.

Momen di Hari Kartini ini, dimana katanya emansipasi wanita tengah dijunjung tinggi, ibu tak ingin diajak makan malam seperti selebritis di tv, ibu tak ingin mendapatkan hadiah perhiasan kayaknya istri dan ibu yang diapresiasi oleh suami dan keluarganya, di hari yang katanya spesial ini ibu hanya ingin bercerita.

Surat untuk Anak Laki-laki di Hari Kartini

Ibu sengaja bercerita melalui surat yang ibu titip di blog ini supaya bisa menjadi inspirasi bagi para ibu lainnya, bahwa seorang istri sekaligus ibu seperti ibu ini memang memerlukan waktu dan ruang untuk bercerita. Tak masalah cerita itu tertuang dalam bentuk tulisan, atau bahkan melalui tangisan dan linangan air mata

Semua ini tujuannya agar hilang semua lelah dan beban yang ibu punya. Agar pupus semua kesal dan marah yang menggumpal di hati ibu. Karena jika tidak dihancurkan, ibu takut lelah ini menjadi bom waktu yang suatu saat bisa meledak hingga melukai anak ibu.

Ibu sangat berusaha menjaga agar jangan sampai letih ibu ini menjelma jadi keluh, mengumpat takdir hingga segala pegal badan tak jadi sebab ibu masuk syurga.

Jangan sampai lelah ibu yang sudah belasan tahun ini, jadi lelah yang sia-sia sebab tak lillah...

Semoga Allah menguatkan punggung bengkok ibu. Semoga Allah jauhkan ibu dari setiap rasa yang menyakiti dan melukai. Semoga Allah melapangkan hati ibu, agar segala uji tak menggeser iman dan taqwa.

Semoga Allah lindungi kita dan keluarga dari apa-apa yang tak Allah sukai.

Ibu ceritakan semua ini kepada Ami, satu-satunya anak laki-laki ibu, supaya kelak ibu dari anakmu tak sampai merasakan kelelahan seperti ibu. Kalaupun istrimu kelak lelah, dampingi dia sebagaimana ayah mendampingi kita.

Kelak Ami semoga bisa paham jika ibu hanya tersenyum saja ketika Ami bilang "Ibu mah enak gak perlu sekolah, gak perlu kerja seperti ayah. Ibu mah di rumah aja tunggu ayah dan Ami pulang..."

Enak? Ya semoga saja perkataanmu jadi doa ya, Mi. Semoga kelak istrimu merasakan semua keenakan itu.

Insyaallah seorang istri tidak perlu menuntut emansipasi lagi jika suaminya sudah memuliakan keberadaannya hingga dunia akhirat.

Entah kapan surat ibu ini bisa Ami pahami. Tapi setidaknya jika ibu telah tiada, surat ini bisa jadi salah satu wasiat, ya Nak...

Jadilah seorang anak laki-laki ibu yang mampu memuliakan istrinya, pendamping hidup, bukan asisten rumah tangga.**

Artikel ini dipilih untuk dimasukkan dalam kampanye "Blog Parenting Terbaik di Indonesia" dari penerbit bahan ajar pendidikan Twinkl.

Surat untuk MFahmiNHK Anak laki-laki di Hari Kartini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar