Minggu, 22 Oktober 2023

Support System Blogger Kampung

Tanpamu, belum tentu aku bisa jadi blogger...

Masih ingat saja sampai sekarang, tetangga ada yang bertanya, bagaimana caranya bisa mendapatkan pekerjaan seperti saya, yang dimatanya cukup menerima produk, lalu mereview dengan rekaman ala-ala shooting film gitu, terus diupload di sosial media.

“Beneran itu dibayar? Kok bisa sih Teh? Ajarin aku dong pengen bisa juga kaya gitu...”

Saya hanya tersenyum saja menyikapinya. Sambil memberikan jawaban. Kalau mau mendapatkan job seperti itu, jadi blogger aja dulu. Nanti perlahan-lahan kalau bisa konsisten peluang mendapatkan pemasukan akan datang dengan sendirinya.

“Blogger teh naon? Bagaimana caranya?”

Perlahan juga saya jelaskan, jika blogger itu siapa saja yang suka menulis di blog. Tulisannya bisa apa saja, termasuk review dan curhat (saya banget pokonya ...) dan untuk memiliki blog tentu saja kita harus akses gadget dan internet.

“Anak saya hapenya canggih. Pasti bisa atuh jadi blogger seperti Teh Okti, ya?” kata tetangga saya yakin.

“Oh tentu saja, siapapun bisa menjadi blogger. Silakan suruh anaknya search di google saja kalau gitu. Lebih mudah cari informasinya kalau gadgetnya canggih dan udah terkoneksi dengan internet mah.” Jawab saya senang. Sekaligus mengakhiri obrolan. Merasa gak akan ada ujungnya kalau apa yang dibahas, sedikit pun tak dimengerti oleh lawan bicara.

Tidak sedikit yang bertanya seperti itu. Selain ibu-ibu tetangga di kampung , ada juga dari teman-teman sekolah, teman-teman suami, dan ada dari para mahasiswa yang domisili atau belajar di Cianjur.

Semua tentu saja saya kasih informasinya. Secara saya justru senang kalau kedepannya bermunculan banyak blogger Cianjur yang berkualitas dan konsisten. Jadi jika ada acara, saya ada teman pakukumaha...

Namun sekitar 13 tahun saya tinggal di Cianjur Selatan setelah menikah ini, ternyata tidak banyak blogger yang “berhasil” atau paling tidak konsisten dalam mengurus blognya.

Memang dikira gampang menjadi blogger? Memang uang bisa mampir sendiri begitu saja tanpa ada benefit yang bisa diambil?

Sementara saya sendiri yang dikira tetangga “Enak pisan Teh Okti mah jadi blogger, diam di rumah aja terima paketan lalu review dapat deh uang...”

Hello... Tidak semudah itu pada kenyataannya. Tentu saja saya jadi blogger pun mengawalinya dari nol. Karena jaman saya sekolah, di tanah air belum ada internet. Saya mengenal dunia blogging pun saat saya kerja di Taiwan. Saat itu kecanggihan teknologi memang lebih dahulu berkembang di sana.

Ketika saya pulang kampung, tinggal di pelosok Cianjur yang belum masuk internet perjuangan saya untuk tetap bisa update blog pun bisa dibilang berdarah-darah.

Andai tidak ada support sistem yang mendukung saya secara mental maupun emosional belum tentu blog saya bisa hidup sampai sekarang dan orang menyebut saya sebagai blogger.

Saya harus berterima kasih kepada mereka yang selalu membantu saya sehingga saya tetap kuat. Tanpa sistem pendukung ini tidak mungkin saya menjadi saya seperti sekarang ini.

Siapa saja yang menjadi support system sehingga saya bisa menjadi seorang blogger?

 Support System Keluarga

Support system pertama yang saya miliki adalah keluarga di rumah. Mereka terdiri dari suami, anak, orang tua, termasuk sahabat dan teman.

Suami

Setelah menikah saya meyakini jika apa pun yang saya lakukan harus seizinnya. Alhamdulillah suami sangat mendukung. Ketika ada acara blogger ia sering mencoba mendaftarkan diri demi bisa menemani saya. Ketika harus melakukan kewajiban yaitu menulis reportase acara dan tugas sosial media lainnya, ia rela belajar dan mengadaptasikan dirinya dengan semua aktivitas blogging.

Pun ketika internet baru masuk ke wilayah Cianjur Selatan ia langsung daftar berlangganan dengan tujuan memudahkan saya dalam mengerjakan segala job yang diterima.

Ketika sudah memiliki anak, suami memahami bagaimana kerepotan saya diganggu balita. Ia dengan sadarnya mau momong anak, memberikan saya keleluasaan untuk menyelesaikan apa yang seharusnya saya kerjakan.

Pokoknya suami menjadi support system pertama dan utama bagi saya hingga saya bisa tetap update artikel di blog hingga saat ini. Terimakasih ya Pak Suami...

Anak

Sejak kecil, anak sudah sering melihat saya mengetik dan edit foto atau video. Dengan sendirinya ia bisa mengatakan ibu sedang kerja, jika melihat saya dengan kegiatan itu.

Semakin anak besar, apalagi saat pandemi, anak dituntut untuk bisa menggunakan gadget. Tidak begitu sulit saya memberitahukan. Yang ada justru anak lebih pintar. Anak dengan piawainya bisa mengoperasikan sendiri gadget, dan saking pintarnya ia sering melenceng menggunakan gadget di luar waktu yang saya berikan.

Akhirnya saya memberikan batasan kapan anak bisa menggunakan gadget dan kapan ia harus menyimpannya.

Awalnya saya ragu, jangan-jangan anak bakal komplain, kenapa ia dibatasi megang gadget, sementara saya justru setiap ada waktu senggang justru pakai hape.

Alhamdulillah rupanya anak memang sudah tahu, kalau saya megang hape berarti memang sedang kerja. Entah itu ngedraf tulisan, menyelesaikan tugas di group support baik blog maupun media sosial, atau sedang mengerjakan pekerjaan terkait blogging lainnya.

Saya emang selalu minta dukungan terhadap anak. Apalagi kalau hendak ngejar trending topik di Twitter (X) karena biasanya dalam waktu tertentu saya butuh fokus ke gadget. Jika anak tidak diberitahu kemungkinan ia bisa mengganggu atau memecahkan konsentrasi saya.

Orang tua

Dalam hal ini yang masih ad adalah ibu saya sendiri. Sejak pulang kampung dari merantau dan aktif ikut acara blogger di seputar Jabodetabek, saya masih bisa pulang pergi meski kadang harus tidur dalam kendaraan.

Namun jika ikut acara blogger yang lebih jauh dan lebih lama, saya selalu menitipkan anak kepada neneknya. Ibu saya pun siap dan mendukung saat ketitipan anak karena ibu selalu saya beri tahu mau kemana dan acara apa, lalu pulangnya kapan.

Sahabat dan Teman

Support system dari jajaran teman pun tidak mungkin saya lupakan. Sebagai blogger daerah, apalagi dulu waktu baru-baru pulang ke tanah air setelah belasan tahun merantau dari luar negeri saya merasa asing di negara sendiri. Pesatnya pembangunan dan semakin padatnya pemukiman bikin saya takut dan was-was menjadi korban tindakan kriminal.

Kegaptekan saya pun makin mengokohkan keberadaan sahabat dan teman-teman inilah yang sering membantu saya mencarikan solusinya. Jika saya kemalaman, selalu ada teman yang mengajak nginap di tempatnya. Otomatis makan dan kebersihan diri ditanggung di dalamnya.

Jika saya diburu waktu sementara kalau naik busway atau Kopaja (saat itu belum ada LRT) bisa terlambat, suka ada teman yang dengan senang hati mengantarkan saya menggunakan sepeda motornya ke lokasi acara.

Saat saya tertinggal infomasi karena ke kampung susah sinyal, teman dan sahabat ini selalu siap menjadi perpanjangan tangan informasi kepada saya. Termasuk ketika ada tawaran job, tidak sedikit teman yang lebih dahulu menawarkan kepada saya, sebelum dipublikasikan menerima pendaftaran secara umum.

Bayangkan kalau tanpa dukungan dan support dari mereka-mereka itu, bisa dipastikan saya tidak akan bisa selancar yang diharapkan setiap kali ada urusan.

Support System Dukungan Emosional

Mood

Suasana hati juga termasuk support system yang tidak bisa saya kesampingkan begitu saja. Kondisi mood sering mempengaruhi cepat lambatnya saya mendapatkan ide dalam menuangkan kegiatan ke dalam tulisan, atau saat harus menjabarkan jasil review ke dalam gambar atau video.

Dukungan Penghargaan

Adanya kejuaraan yang bisa saya ikuti dan apalagi jika kebetulan jadi juara, itu terasa sekali sangat memompa semangat saya untuk bisa menggali ide dan kreativitas semakin lebih baik.

Lingkungan yang nyinyir

Lebih ke ajang pembuktian. Ketika ada nyinyiran dari kiri kanan, saya jadikan support system saja untuk memacu saya bisa membuktikan kepada mereka yang nyinyir itu kalau saya juga mampu.

Dukungan Instrumen

Domain dan hosting

Sebagai blogger profesional, adanya kepemilikan TLD sudah pasti jadi sebuah identitas, bukan?

Sampai saat ini, sejak saya memiliki blog top level domain (TLD) sudah berganti jasa penyedia domain dan hosting selama dua kali. Awalnya tak banyak tahu kisaran harga dan sebagainya. Hingga semakin lama semakin banyak mendapatkan info saya bisa ketemu jasa penyedia domain dan hosting yang lebih murah dan lebih berkualitas.

Ponsel

Mengawali masuk dunia blog saat masih menjadi TKW, pilihan menulis menggunakan ponsel bukan hanya sebagai kepraktisan, tapi juga perpanjangan nyawa.

Ada membeli laptop tapi dinyinyiri kakek nenek alias orang tua majikan. Daripada terus terjadi pergesekan menggunakan ponsel jadi pilihan dan akhirnya setelah laptop dicuri maling saya justru lebih nyaman menggunakan ponsel. Saking terbiasanya, ponsel ini jadi support system yang tidak bisa tergantikan sampai sekarang.

Internet

Sebagai penulis, saya dituntut untuk mengimbanginya dengan membaca. Berkat adanya koneksi internet saya tidak merasa kesulitan dalam mencari informasi yang mendukung artikel-artikel yang saya buat.

Dukungan Informasi yang selalu memudahkan dan memotivasi saya untuk membangun perilaku dan membuat pilihan yang positif ini tentu saja bagian dari support system saya dalam mematangkan diri menjadi seorang blogger.

Jika perjuangan saya untuk menjadi blogger terbentuk karena banyak dukungan, mulai dari keluarga, emosional diri dan instrumen alat penunjang maka tidak menutup kemungkinan sebenarnya kita pun bisa menjadi support system bagi yang lainnya.

Mau blogger atau pun bukan, kita juga bisa menjadi support sistem yang baik bagi yang lain dengan berbagai macam cara:

  • Mendukung dengan sepenuh hati. Untuk dapat menjadi sosok support system yang baik, seseorang perlu mendukung orang yang disayangi dengan dukungan sepenuh hati.
  • Mau menjadi pendengar yang baik. Saat seseorang memerlukan tempat untuk berbagi cerita, siapkan waktu dan fokus terhadap permasalahannya.
  • Dapat memberikan saran dan masukan akan masalah yang dihadapinya. Walaupun belum tentu saran dan masukan kita jadi solusinya.

Begitulah, perjalanan panjang saya dikelilingi begitu banyak support system sehingga saya bisa menjadi seorang blogger seperti sekarang ini.

Read more ...

Sabtu, 21 Oktober 2023

Film yang Tidak Bosan Ditonton Seumur Hidup!

Matilda, tontonan yang tidak bosan melihatnya seumur hidup!

Sebenarnya, hingga sekarang di usia mendekati setengah abad, saya jarang menonton tayangan baik di televisi maupun layar lebar. Saya lebih suka membaca dan memelototi rangkaian huruf dalam kertas atau semakin modern seperti sekarang media bacaan bergeser menjadi platform digital.

Terlebih sejak kecil saya terlahir dari keluarga menengah ke bawah. Saat pertama kali stasiun televisi swasta hadir di negara kita, kesempatan nonton film anak semacam Doraemon atau kisah Si Unyil hanya saya lakukan jika saya benar-benar memiliki waktu luang. Itu pun harus numpang nonton di tetangga yang memiliki televisi. Secara di rumah kami saat itu memang tidak memilikinya.

Ketika almarhum bapak mampu beli televisi meski masih layar hitam putih, saya yang pada dasarnya kurang suka menonton, pun lebih memilih membaca-baca majalah anak dan remaja yang saat itu memang sedang buming. Bobo, Kawanku, lalu majalah Anita, Hai dan sebagainya. Sampai setiap halamannya keriting, menggulung. Mungkin karena saking seringnya saya buka-buka dan saya baca ulang terus jika belum mendapatkan edisi terbaru.

Dunia saya baru mulai dijejali tontonan ketika bekerja menjadi TKW dan bertugas mengasuh bocah usia Paud hingga TK. Karena mendampingi mereka, mau tidak mau saya harus ikut melihat tayangan film anak-anak. Tidak sekedar lihat, tapi juga dituntut untuk bisa memberikan pendapat dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan anak majikan terkait film yang ditonton.

Aduh, beneran seperti mau ujian negara saja deh! Deg-degan dan berkeringat. Secara selama ini kan tidak pernah melakukan itu. Malah majikan menyuruh saya untuk menonton terlebih dahulu setiap DVD baru yang dibawakan. Dengan harapan saya lebih dulu bisa mengambil kesimpulan dan mendapatkan gambaran sekiranya besok saat nonton mendampingi anak, ada pertanyaan tak terduga dari bocah yang memang anak di luar negeri itu pada kritis dan pintar, saya sudah bisa mempersiapkan jawabannya.

Awalnya saya merasa terbebani dengan mendampingi anak majikan menonton ini. Bagi sekilas yang melihat mungkin ini pekerjaan mudah, apa susahnya sih menemani anak nonton film?

Mereka tidak tahu jika anak majikan selalu bertanya hingga membuat kepala saya selalu ngebul berasap saking harus berpikir keras mencari informasi demi bisa menjawab pertanyaannya. Meski ujungnya jika saya angkat tangan, anak dan saya akan sama-sama bertanya ulang kepada ibunya si anak, dan baru merasa lega ketika sudah sama-sama mendapatkan jawabannya.

Matilda, Tontonan yang Tidak Bosan Seumur
<p>

Jaman itu belum seperti sekarang apa-apa bisa serba ditanyakan ke google, ya. Jadi bisa dibayangkan dong, bagaimana pusingnya saya saat itu. Tapi beruntung majikan selalu memiliki solusi dan membuat saya serta anaknya sama-sama paham dengan pelajaran yang bisa diambil dari setiap film anak yang ditonton.

Ada banyak film anak yang selalu diputar ulang sehingga saya saat itu merasa bosan. Mulai film yang cocok untuk anak perempuan, atau film yang lebih banyak diminati anak lelaki. Pun film dengan cakupan lebih luas bisa ditonton oleh anak cewek maupun cowok.

Pelajaran tanpa guru dari film

Disela obrolan dengan majikan, saya bisa menangkap maksud ia memberikan waktu kepada anaknya untuk rutin menonton film itu supaya anak bisa mengambil pelajaran hidup dari kisah yang ditayangkan.

Jadi semacam pelajaran tanpa menggurui yang diulang, dengan sendirinya anak bisa mengingat, perbuatan apa yang tidak baik, bagaimana jika dilakukan, dan apa dampaknya jika tetap memaksakan diri melakukan keburukan itu.

Benar saja, jangankan diterapkan pada otak dan pemikiran anak yang masih polos dan bersih, saya saja yang daya pikirnya sudah terkontaminasi dengan banyaknya pikiran serta beban hidup, seolah masih bisa mengingat dengan jelas setiap pelajaran hidup yang ditonton dari sekian banyak film-film itu.

Misalnya dalam film diperlihatkan bagaimana tokoh jahat pada akhirnya. Sehingga anak diajarkan untuk tidak melakukan hal buruk itu kecuali nanti akan mendapatkan balasan yang buruk pula. Pun sebaliknya, tokoh yang selalu teraniaya tapi tetap melakukan kejujuran dan kebenaran, pada akhirnya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Dua hal itu menjadi pelajaran hidup yang tidak mudah dilupakan karena saking seringnya menonton jadi dalam otak ini bayangan nya sudah menebal dan tidak mudah terhapus.

Hingga saya berkeluarga dan memiliki anak, kadang saya menerapkan pola ajar seperti itu meski tidak bisa sama percis seratus persen karena perbedaan adat dan kebiasaan.

Namun saya siasati, jika tidak ada tontonan maka saya ambil cara lain seperti dengan mengganti nya dengan menyuguhkan cerita anak, dongeng atau bahan bacaan yang cocok.

Tontonan berseri Babby Einstein jadi salah satu stimulasi bagi tumbuh kembang anak. Seiring bertambahnya usia anak tayangan diganti dengan film yang lebih tinggi lagi pelajaran hidup yang disampaikannya.

Dan salah satu film anak yang sering ditonton dan tak pernah bosan menontonnya sampai sekarang adalah film Matilda.

Matilda, Kisah Gadis Jenius dengan Kemampuan Ajaib Telekinetik

Film Matilda selain menjadi tayangan film lepas ternyata juga sudah cukup lama bolak balik ditayangkan di televisi. Wajar ya secara film Matilda ini dirilis pada tahun 1996.

Film bergenre komedi satir ini masuk ke dalam jajaran tayangan film yang sering saya tonton sampai berkali-kali.

Saya tidak pernah bosan meski ada beberapa orang mengatakan bosan lah nonton itu terus mengingatkan kalau film Matilda dulu sejak saya masih sekolah SD sudah sering diputar oleh salah satu saluran televisi.

Yang bikin saya tidak pernah bosan menontonnya karena cerita anak ini dibalut dengan kisah fantasi yang jenaka. Film Matilda bisa memberikan nilai moral kepada orang tua dan juga para guru untuk lebih memperhatikan perkembangan dan kemampuan anak-anak.

Meskipun kelihatannya ini adalah film keluarga yang bisa ditonton bersama anak-anak, sebaiknya dalam menikmati film ini anak selalu berada di bawah bimbingan orang tua. Sebagaimana majikan saya dulu menugaskan saya untuk itu.

Beberapa adegan di film ini disertai beberapa pemahaman yang mungkin saja disalah artikan oleh mereka. Jadi karena itu sebagai pendamping kita harus lebih tahu banyak dan siap menjawab setiap pertanyaan yang diajukan anak.

Film Matilda disutradari oleh Danny DeVito. Selain menyutradarai, Denny DeVito ikut berperan bersama sang istri yaitu Rhea Perlman bermain dalam film favorit ini. Keduanya melakoni peran sebagai orangtua Matilda, yaitu Harry Wormwood dan Zinnia Wormwood.

Namun sangat disayangkan 20 tahun berselang dari film ini kalau gak salah sekitar tahun 2016, mereka memutuskan untuk bercerai setelah 35 tahun mengarungi bahtera rumah tangga. Untuk soal itu mohon maaf kita di sini gak ada porsi untuk membahasnya ya.

Sinopsis Film Matilda

Yang masih selalu saya ingat dari film Matilda ini saat dikisahkan kalau Matilda adalah seorang anak yang lahir di lingkungan keluarga yang buruk dalam hal mengurus anak. Keluarga Wormwood tak menyadari bahwa mereka telah dianugerahi seorang putri yang begitu istimewa. Meski begitu mereka sepertinya memang terlalu bodoh untuk menyadari kelebihan yang ada pada putri mereka.

Padahal Matilda telah menunjukkan perkembangan yang jauh lebih cepat dari anak seumurannya. Ia sudah bisa menuliskan namanya sendiri di usia bayi, padahal ia belum disekolahkan. Sayangnya hal tersebut selalu luput dari pandangan orang tuanya bahkan selalu acuh.

Memang ya sangat disayangkan jika anak seperti diri Matilda harus terlahir di lingkungan keluarga yang seperti itu. Ayahnya adalah seorang penipu yang menjual mobil bodong.

Beruntung dibalik tubuh kecilnya, Matilda memiliki pemikiran yang jauh melebihi anak seumurannya. Di usia yang terbilang masih sangat kecil, ia memiliki pemikiran yang sangat kritis dalam membedakan mana yang salah dan benar.

Matilda pun memiliki kemampuan untuk menolak terbawa dalam didikan jelek orang tuanya. Selain itu dibalik kejeniusannya, Matilda memiliki kemampuan telekinesis yang mungkin ia dapatkan karena terlalu jeniusnya?

Akhirnya Matilda dimasukan ke SD Crunchem Hall yang dikepalai oleh Agatha Trunchbull. Ketimbang kepala sekolah, penampilan  Agatha ini menurut saya malah lebih mirip sosok sipir penjara wanita yang sangar. Hehe... Meski mengepalai sekolah dasar yang didominasi oleh anak-anak rentang usia 6 hingga 12 tahun, Agatha sebenarnya begitu membenci anak-anak. Fakta yg sangat mencengangkan, bukan?

Sekolah yang dibina Agatha jauh dari kesan menyenangkan untuk anak umur segitu. Ia tak segan menghukum anak-anak yang dianggap menyebalkan olehnya.

Namun selalu ada sisi baik disamping sisi buruk. Di tengah suasana sekolah yang begitu mencekam, Jennifer Honey selaku wali kelas Matilda hadir memberi suasana hangat ke dalam kelas.

Bu guru Jennifer justru lebih dahulu menyadari kejeniusan Matilda saat gadis kecil itu mampu menghitung di luar kepala.

Dan siapa sangka dibalik sosok lembut ibu guru Jennifer ternyata tersimpan masa kecil yang kelam antara dirinya dengan Agatha Trunchbull.

Persamaan nasib yang dialami ibu guru Jennifer dengan Matilda membuatnya begitu peduli terhadap gadis cilik menggemaskan itu. Ia pun akhirnya berjuang untuk mengambil hak asuh Matilda.

Film Matilda memiliki adegan yang mungkin tidak bisa dilupakan begitu saja oleh para penonton, yaitu saat Agatha Trunchbull menghukum Bruce Bogtrotter untuk menghabiskan kue coklat berukuran besar.

Lucu, gemes, sekaligus kesal dan sedikit jijik sebenarnya pada adegan ini. Bagaimana tidak, Bruce dihukum makan kue cokelat yang begitu besar karena telah mencuri kue coklat milik kepala sekolah yang kejam itu.

Meskipun di awal saat mencicipi kue coklat tersebut, Bruce nampak menikmatinya karena rasanya yang lezat. Tapi adegan ini cukup bikin mual untuk dibayangkan. Terlebih sebelumnya, dikatakan bahwa kue tersebut telah bercampur dengan darah dan keringat dari pembuatnya. Ih, jorok kan?

Lepas dari adegan itu, film yang dibintangi tokoh sesuai judulnya ini, tetap memiliki ciri khas bagaimana kisah seorang anak perempuan bernama Matilda yang luar biasa jenius, mandiri, dan memiliki hobi membaca buku.

Tidak merasa rugi nonton ulang film Matilda karena menurut saya fil ini memiliki kelebihan:

• Memiliki pesan yang langsung tersampaikan kepada penonton

• Mengingat kita bahwa kejujuran dan kebenaran lebih berharga dari segalanya

• Mengingatkan tentang pentingnya sebuah keluarga

• Memberikan banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa diperoleh tanpa kita sadari

• Pemilihan pemain yang tepat sehingga dapat memerankan tokoh dalam cerita dengan baik

Matilda, Tontonan yang Tidak Bosan Seumur Hidup!

Kekurangan filmnya jika ada mungkin pada adegan yang terasa tidak memiliki tujuan yang jelas. Beberapa adegan juga masih terasa seperti dilebih-lebihkan. Mungkin sebenarnya agar bisa menggali imajinasi anak supaya bisa lebih keluar lagi keunggulannya.

Film Matilda mengajarkan tentang pentingnya keluarga dalam sebuah kehidupan. Bahkan jika kita mau berjuang bersama keluarga kita bisa melewati berbagai masalah yang ada. Apalagi dalam perkembangan jaman seperti sekarang dimana generasi muda dalam mengenal budaya terlihat sudah mulai menghilang.

Matilda secara tidak langsung melukiskan kehidupan anak yang berupaya mengenal budaya moral serta pengalaman menghadapi kejahatan, kebohongan dan ketidakjujuran.

Berbagai konflik terjadi dalam film ini, salah satunya sikap tolong-menolong yang dilakukan oleh tokoh terhadap tokoh lainnya. Konflik tersebut menimbulkan aspek moralitas yang menjadi pesan dalam film ini.

Film Matilda bagus dijadikan tontonan sepanjang jaman karena terdapat beberapa nilai moral yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi anak-anak, misalnya menjalin persahabatan dan persaudaraan tanpa memandang status sosial, tolong-menolong sebagai wujud makhluk sosial, keberanian tidak didasari perbedakan gender, perilaku dibentuk oleh lingkungan sekitar dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Sudah nonton film Matilda? Gimana kesannya, bosan gak atau ketagihan untuk menontonnya lagi?

Read more ...

Jumat, 20 Oktober 2023

Tips Sukses Tumbuh Kembang Blogger Bersama Komunitas

Punya banyak teman di komunitas blog? Kenapa akrab dengan teman tersebut? Bagaimana supaya bisa nyaman berada di sebuah komunitas?

Komunitas dapat diartikan sebagai sebuah kelompok dari suatu masyarakat. Ada juga yang mendefinisikan sebagai sekelompok orang yang hidup di suatu area khusus yang memiliki karakteristik dan kepentingan yang sama

Komunitas dan menjadi bagian dari komunitas menurut saya hal yang sangat penting. Seperti yang kita ketahui sebagai manusia yang mana adalah makhluk sosial, satu sama lain pasti saling membutuhkan. Maka dari itu, dengan adanya komunitas dirasa akan mempermudah hubungan sosial antar individu.

Tujuan dibentuknya komunitas tergantung dari komunitas itu sendiri. Meski pada umumnya komunitas dibuat untuk saling membantu satu sama lain dalam menghasilkan sesuatu. Sesuatu disini pastinya adalah tujuan yang telah ditentukan sebelumnya itu tadi.

Seperti komunitas ngeblog, tentu saja di dalamnya ada tujuan misal untuk meningkatkan performa blog, sharing informasi dunia blogging dan sebagainya.

Manfaat bergabung dengan komunitas sangat banyak. Di antaranya sebagai sarana penyebaran informasi, meluaskan relasi, meningkatkan rasa percaya diri, memberikan dukungan, meningkatkan wawasan dan masih banyak lagi.

Menyadari banyak sekali manfaat bergabung dalam sebuah komunitas, sebagai blogger kampung alias blogger daerah, yang tidak mudah menjangkau ibukota serta sekitarnya dimana pusat pemerintahan, perekonomian dan sebagainya sering diadakan, termasuk acara-acara yang sering mengikutsertakan blogger sebagai pesertanya, mengikuti berbagai komunitas (masuk menjadi anggotnya) adalah sebagai upaya untuk menutupi segala kekurangan itu.

Dengan bergabung di komunitas, saya bisa dengan mudah mendapatkan informasi. Mendapatkan kesempatan berpartisipasi secara online yang mana hak dan kewajibannya tidak jauh berbeda dengan blogger yang bisa hadir on the spot.

Bayangkan kalau saya tidak bergabung dengan komunitas blogger, bagaimana susahnya mendapatkan link untuk kerjasama dan job. Walaupun di daerah juga suka ada acara yang mengikutsertakan blogger sebagai partisipan, tapi sangat kecil. Tidak selamanya bisa menutupi kebutuhan. Alih-alih bisa menghasilkan cuan, buat ganti biaya domain per tahun saja belum mencukupi.

Semakin banyak komunis ngeblog yang saya ikuti, semakin besar kesempatan saya untuk bisa berkembang, menambah wawasan dan peluang untuk mendapatkan uang melalui job yang ditawarkannya.

Meski tidak semua komunitas selalu memberikan peluang itu, tapi saya tidak pernah pilih-pilih dalam bergabung menjadi member sebuah komunitas. Karena kan sejak awal juga kita sudah ketahui bahwa berdirinya komunitas itu untuk kemajuan bersama.

Apakah saya akrab dengan member komunitas? Kalau ini saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Takutnya terjadi kesalahpahaman. Bisa saja saya bilang akrab dengan teman blogger, eh siapa tahu dianya justru malah membenci saya. Hehe ... Bisa saja kan?

Saya tidak bisa memastikan keakraban antar sesama blogger ini karena posisi saya yang domisili di pinggiran daerah, sehingga jarang interaksi langsung kecuali melalui media online.

Dan kita tahu sendiri melalui dunia maya apa saja bisa dipoles, dipercantik dan editan. Benci bisa dianggap mencinta sebaliknya pengagum malah dikira haters.

Namun saya bisa menjamin untuk teman-teman blogger (apalagi para suhu alias blogger senior) yang sudah saya jumpai secara langsung, mereka semuanya baik hati dan tidak sombong. Itu terbukti ketika saya pulang dari merantau di Taiwan, lalu berkesempatan kopdar dengan berbagai blogger tanah air, mereka sangat welcome kepada saya.

Padahal saya hanya seorang TKW, sementara mereka selain blogger senior juga memiliki jabatan dan posisi mentereng seperti editor, aparatus sipil negara, dosen, dan sebagainya.

Mereka mau menerima saya sebagai teman dan lanjut berkomunikasi melalui sosial media atau media perpesanan lainnya.

Alhamdulillah ya, melalui mereka rezeki saya juga terus mengalir sampai sekarang. Melalui tangan baik para pengurus komunitas blogger saya yang pengangguran di tanah air ini bisa terus melanjutkan hidup dan kehidupan.

Komunitas blogger yang saya ikuti dan akrab menjadi teman cukup banyak. Tidak bisa saya sebutkan semua disini karena selain itu tadi takutnya salah paham (saya merasa akrab sementara menurut beliau eh, siapa kamu?) ada juga blogger yang kebaikannya tidak mau disebutkan.

Intinya nih komunitas blogger yang cukup akrab dengan saya dan selalu terkenang karena selain pernah bertemu langsung juga memiliki kenangan manis, sehingga saya seolah memiliki ikatan batin atas kebaikan serta jasanya akan saya jabarkan secara garis besarnya.

Mohon izin dan maaf yang sebesar-besarnya ya, jika saya dianggap lancang mengakui kalau saya akrab dengan komunitas blogger berikut ni:

Komunitas Ngeblog Emak Emak Blogger (KEB)

Sejak diluncurkannya komunitas ini saya lebih banyak hanya menjadi silent reader. Tapi semua ilmu dan informasi yang dishare para pengurus sangat manjur bisa menggembleng saya menjadi blogger daerah yang lebih baik.

Interaksi mulai terjalin ketika KEB mengadakan acara di Bandung. Saat itu pengurus KEB (diketuai Makpon Mira Sahid) memberikan hadiah yang sangat berharga kepada saya yang kebetulan memiliki tanggal ulang tahun yang sama dengan lahirnya komunitas KEB ini.

Ayo, ada yang tahu kapan KEB ulang tahun?

Sampai sekarang saya masih menggunakan kain tenun pemberian dari KEB sebagai sajadah ataupun pashmina. Ya semacam selendang bermotif tradisional gitu. Bagus pokoknya. Warnanya membumi, saya suka.

Kehangatan pelukan semua jajaran pengurus KEB saat itu masih terasa. Sayang foto-foto di saya hilang semua karena ponsel dan laptopnnya hilang dicuri maling sekitar tahun 2019.

Rangkulan MakPuh Indah seolah masih terasa sampai sekarang, ibarat pelukan seorang bunda terhadap anak kandungnya. Begitu juga keakraban dari jajaran pengurus KEB lainnya saat itu. Bersama KEB saya bukan hanya dianggap member, tapi juga keluarga besar.

Komunitas Ngeblog Blogger Cianjur

Tinggal di Cianjur coret memuat saya kesusahan untuk mencari teman ketika ada keperluan terkait dunia blog. Saya dan Ketua Relawan TIK Cianjur akhirnya mengumpulkan teman-teman asal Cianjur yang aktif dalam dunia blogging.

Hingga bertemu dengan beberapa teman blogger dan kami sepakat membuat komunitas Blogger Cianjur yang diketuai Asep Lukman.

Blogger Cianjur sering mengadakan sharing dan kegiatan bertempat di Gedung Perpustakaan Daerah Cianjur. Sementara untuk koordinasi kami merasa lebih simpel melalui group WhatsApp.

Seringnya berinteraksi apalagi saat itu pernah sama-sama ikut acara HACI, program Bupati Cianjur dalam rangka mempromosikan pariwisata Cianjur, membuat kami jadi lebih kenal satu sama lain dan terjalin keakraban.

Meski banyak yang muncul dan tenggelam, hanya beberapa blogger saja yang masih eksis, tapi sampai sekarang komunikasi masih tetap terjalin.

Komunitas Ngeblog Arisan Backlink

Belum resmi menjadi komunitas sih, karena kami hanya dikoordinir oleh blogger senior asal Bandung Maria G. Soemitro dibantu beberapa blogger lain seperti Kak Maria Tanjung.

Melalui group arisan ini saya merasa lebih akrab dengan semua member arisannya secara untuk membuat backlink ke blog mereka, supaya nyambung gitu, saya sering menghubungi mereka satu per satu.

Dari sanalah obrolan muncul dan bahkan saya sering bertanya lebih jauh soal pribadi dengan harapan bisa membuat cerita atau artikel yang beda untuk menyisipkan link blog yang bersangkutan.

Komunitas Ngeblog Penggila Kuliner

Seringnya jalan dan makan-makan dengan komunitas yang diketuai oleh blogger Rahab Ganendra bikin keakraban dan silaturahmi terus bertambah.

Bercanda dan saling menjahili kerap terjadi antara satu sama lainnya. Apalagi mereka kebanyakan domisi di Jabodetabek, jadi sering bertemu dan mengikuti acara yang sama.

Untuk mengimbanginya setiap ikut acara ini saya selalu mengikutsertakan ko anak dan suami. Jadi selain akrab dengan saya, juga sudah saling mengenal dengan keluarga kecil saya juga.

Termasuk beberapa pengurus lain, seperti blogger Yon Bayu, blogger Ison, dan lainnya yang telah berpulang ke Rahmatullah dulu sering mengadakan acara di Cianjur sehingga kontak kami semakin terjalin erat.

Komunitas Ngeblog Pengguna Commuterline

Sebelum kena PHK, saya bekerja pada sebuah perusahaan penerbitan di Taiwan yang di Indonesia ini kantor perwakilannya ada di Jakarta.

Setiap hari kerja saya bepergian ke daerah Jabodetabek menggunakan berbagai moda transportasi. Mulai elf dari kampung ke kota kabupaten, lalu sepeda motor dari Cianjur ke Ciawi atau ke Stasiun Bogor. Lanjut kereta listrik dari Bogor ke titik tujuan, bisa juga menggunakan busway dan atau APTB.

Karena itu saya bergabung di komunitas CLICK yang diketuai blogger Muthiah Alhasany ini untuk mendapatkan banyak informasi dan teman seperjalanan.

Meski tema komunitasnya pertransportasian tapi kegiatan di dalamnya ada ngeblog dan interaksi sosial media juga. Bahkan sampai sekarang masih aktif mengadakan lomba blog yang tujuannya merangsang setiap member untuk terus aktif menulis dan silaturahmi.

Komunitas Ngeblog Penikmat Film (Komik)

Bergabung dengan komunitas yang dikoordinir Dewi Pusoa dan beberapa admin lainnya ini karena saat itu di Cianjur tempat saya tinggal belum ada bioskop.

Menyiasati supaya bisa nonton gratis sekaligus bisa mendapatkan banyak benefit lainnya akhirnya saya ikut deh menjadi anggota.

Keakraban terjalin karena biasanya nonton bisokop kan sore sampai malam. Nah karena saya domisilinya jauh, otomatis harus nginap, tuh. Beberapa kali saya nginap di tempat sesama anggota Komik. Berangkat bareng, pulang bareng, sampai nulis bareng pula. Dari sanalah keakraban muncul. Sehingga silaturahmi makin erat terjalin.

Itu sebagian komunitas yang saya ikuti dan akrab dengan sesama pengurus maupun membernya. Tapi ibarat pepatah lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, yang artinya setiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda; satu aturan di suatu tempat bisa berbeda dengan aturan di tempat lain, maka begitu juga dengan komunitas.

Setiap komunitas memiliki aturan dan kebiasaan masing-masing. Disitulah kita harus pintar membawa diri. Agar keberadaan kita dirasakan manfaatnya oleh anggota lain.

Tips supaya betah dan nyaman saat berkomunitas

  • Jujur dan terbuka dengan segala kondisi dan permasalahan
  • Saling membantu dan inisiatif untuk kemajuan komunitas
  • Saling menghargai dan menghormati. Kesopanan dan etika tetap nomor satu meskipun sudah sangat akrab dengan pengurus atau member komunitas itu
  • Cepat tanggap dan bertanggung jawab jika ada tugas atau job sehingga tidak mengecewakan pengurus komunitas

Semoga bermanfaat dan mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan ya 🙏🏻

Read more ...

Kamis, 19 Oktober 2023

Rahasia Dapur Blogger Melempem

Apa yang membuat seorang blogger melempem alias lama tidak aktif ngeblog?

Saya sendiri, alasannya banyak. Tapi intinya hanya ada tiga alasan yaitu karena malas, karena kesibukan dan karena kendala teknis.

Udah gitu aja?

Ish! Gak seru ya. Mana ada seribu kata kalau segitu aja udah tamat. Haha ...

Jadinya mau gak mau harus bikin artikel listicle nih, ya. Baiklah. Yuk kita bahas lebih detail mengenai rahasia dapur saya yang kadang memang bertranformasi jadi blogger melempem alias lama gak update tulisan di blog.

Jadi ada 3 alasan besar kalau pemilik blog tehokti.com ini hiatus. Apa saja alasannya itu?

1. Karena Malas

Deuh, mani jujur pisan atuh, Teh...

Ya, alasan utama gak update blog itu sebenarnya sih karena rasa malas. Karena kalaupun menyalahkan adanya writer block, alias kebuntuan dalam mendapatkan ide tulisan, sebenarnya itu karena ditunggangi rasa malas itu.

Karena jika benar tidak malas, bisa saja kan saat mentok di tulisan tertentu itu, bisa jajal dulu tulisan dengan tema lain. Bener teu?

Ya cakupannya kan kita biar update blog, jadi intinya mengeluarkan artikel alias tulisan, bukan? Apalagi alasannya kalau bukan emang malas?

Malas ini sendiri bisa muncul saat pikiran saya mulai melenceng dari niat awal kenapa mau jadi seorang blogger.

Bisa dibilang rasa malas menulis ini muncul saat niat jadi blogger goyah, alias tidak konsisten lagi. Boleh setuju boleh tidak, boleh menyalahkan si writer block sebagai tersangka, atau kemalasanmu sebagai tersangka utama. Jawaban ada di benak masing-masing ya.

2. Karena Kesibukan

Betul, semua orang juga sibuk. Semua sama memiliki waktu selama 24 jam setiap harinya. Selama itu, sebagai ibu rumah tangga tentu saja memiliki tugas yang harus didahulukan.

Meski sebenarnya, bisa kita kembalikan lagi ke alasan pertama, yaitu malas dan niat yang mulai goyah. Karena saya pernah mengalami sesibuk apa pun, kalau emang sedang tidak malas, niat untuk mempublikasikan sebuah artikel sangat kuat, dalam waktu yang sangat mepet pun itu artikel jadi terpublikasi. Ini sih sepertinya pengalaman murni para pejuang deadline garis keras ya. Hehe...

Jadi kesibukan seperti apa yang bisa bikin saya melempem sampai keteteran update blog?

Ngurus urusan anak

Ya, sebagai seorang ibu, anak pastinya jadi prioritas utama. Apalagi anak saya bisa dibilang manja, pemalu, dan dalam melakukan apapun butuh pendampingan ekstra.

Saya bisa keteteran (bahkan sampai lupa) untuk ngeblog kalau pas anak ada acara seperti berkemah, atau ikut perlombaan keluar sekolah.

Tahu sendiri saya tinggal di Cianjur Selatan yang ke kota kabupaten berjarak 3 jam kendaraan. Saat anak ada kegiatan otomatis harus saya antar, itu memerlukan waktu pulang pergi minimal dua hari.

Nah, selama itu, saya sering lupa dengan rumah maya alias blog karena fokus pada kegiatan anak dan stamina kami.

Perjalanan dengan jalan naik turun bergelombang, gak hanya bikin mabuk perjalanan, tapi juga bikin konsentrasi buyar. Kalau sudah begitu, boro-boro mau update blog, kan? Yang ada berusaha memulihkan diri dulu.

Terus kalau antar anak naik gunung juga, itu pulang pergi bisa sampai seminggu saya gak bakalan bisa fokus ke blog, karena konsentrasi ke mendampingi anak.

Kerja serabutan sehari-hari

Hidup di kampung memang banyak suka dukanya. Tapi kalau kita bersyukur, rasa sukanya pasti bakalan lebih dominan. Namanya orang kampung, hidup di desa, apalagi kegiatan kerja kesehariannya kalau bukan bertani dan berkebun? Dan saya suka sampai lupa waktu kalau sudah terjun ke kebun.

Menghirup udara bersih, melihat pemandangan yang hijau, memanen hasil kebun walau tak seberapa, semua itu membuat saya terlena dan lupa kegiatan lainnya.

Sering bablas waktu kalau saja tidak mendengar suara adzan dari speaker masjid kampung sebelah perkebunan saking betahnya. Jadi lupa deadline, dan menunda-tulisan hingga akhirnya tak publish-publish sampai itu artikel kadaluarsa karena lama ngendap di draft.

Me time

Yang bikin saya lama tidak update blog, itu karena waktu yang seharusnya dipakai untuk ngetik lebih banyak digunakan untuk melakukan hobi dan kesenangan. Salah satunya seperti membaca novel di platform bacaan online.

Kalau platformnya berbayar, saya pasti bisa membatasi diri. Tapi setelah ketemu aplikasi novel gratis dan bahkan mendapatkan reward recehan setiap selesai membaca (syarat dan ketentuan berlaku) akhirnya saya setiap hari ketagihan untuk meneruskan bacaan itu.

Apalagi kalau sudah menemukan cerita yang bagus, bawaannya ratusan bab itu ingin dibaca habis secepatnya. Kalau udah betah buka gadget buat baca gitu, lupa kan tuh sama blog.

3. Karena ada kendala teknis

Jika alasan point pertama dibuat karena kesalahan atau kelalaian sendiri. Sengaja gak sengaja tapi disetujui, gitu kan.

Nah alasan kedua kenapa saya bisa lama gak update blog ini, karena murni di luar kehendak saya. Apa saja?

Listrik mati internet mati

Mau percaya atau tidak, di kampung saya ini, setiap turun hujan, selalu saja diiringi listrik mati. Otomatis internet yang kami pakai juga ikut mati. Kalau sudah begitu, mau bagaimana? Ngedraf sih bisa tapi tetap memperhatikan daya baterai juga. Jangan sampai kehabisan hingga gak bisa berkomunikasi juga, ya kan?

Masih mending ketika baterai masih banyak dan kuota di ponsel mencukupi. Sekedar untuk ngintip media perpesanan masih bisa lah ya. Tapi untuk buka blog yang mana loading nya aja bisa kali sambil masak mie, mulai rebus air sampai mendidih dan mie matang siap disantap, itu halaman blog belum juga terbuka. Sudah, jika begitu saya tinggalkan. Iya, daripada buang waktu kan?

Ponsel masuk UGD alias diservice

Alasan lain kalau pas ponsel saya ini sedang ngambek, otomatis saya ga bisa buka dunia maya.

Perlu tahu ya kalau sejak mengenal internet dan blog, sampai sekarang saya menulis blog langsung dari ponsel. Jadi ketika ponselnya rusak (sering rusak karena emang ponsel jadul juga) tak ada jalan bagi saya untuk bisa update blog, sepenting apapun itu.

Sakit

Nah kalau sakit ini sebenarnya bisa dibuat sebagai alasan bisa juga tidak. Kalau sakitnya masih bisa dibawa main hp, saya masih bisa update blog. Tapi kalau pas sakitnya ga bisa diajak buat megang gadget, ya udah saya ga bisa ngotak ngatik lagi apapun, termasuk blog. Sekuat apapun niat dan motivasinya, jika kehendak Nya tak mengizinkan, kita ga bisa juga memaksakan.

Jadi, eh, btw ini sudah seribu kata belom sih? Hehe... Itu saja sih alasan-alasan yang bisa bikin saya lama ga update blog, meski sebenarnya saya tidak ingin membiarkan blog saya jamuran dan bersarang laba-laba karena tahu sendiri blog ini sudah jadi mata pencaharian saya.

Alasan terbesar saya yang menjadikan motivasi untuk terus bisa blog ya karena penghasilannya ini. Penghasilan dari blog ini kan jadi dana operasional untuk keberlangsungan pondok mengaji yang saya dan suami kelola.

Blogger daerah macam saya, yang ga bisa ikutan event berbayar, ga bisa menghadiri acara launching, dan ga bisa ikutan event blogger lainnya, kalau ga update blog secara mandiri, mana bisa dilirik pengguna jasa? Ya gak?

Jika blog dibiarkan lama tidak update bagaimana bisa menghasilkan cuan? Itulah kenapa semelempem-melempemnya saya, blogger Cianjur ini tetap berusaha update blog, kecuali karena ada 3 alasan utama di atas itu.

Kalau manteman, pernah jugakah membiarkan blog lama tidak diupdate? Boleh share dong alasannya kenapa...

Read more ...

Rabu, 18 Oktober 2023

3 Prestasi Siti Atikoh Mendukung Pola Asuh Karakter Baik Anak

“Anaknya kan udah besar, gak mau nambah lagi?”

“Pantas manja, kalau belum punya adik, emang suka gitu...”

“Kalau anak cuma satu, ntar udah tua ditinggal anak kesepian, lho!”

Masih banyak lagi komentar mereka terkait setua ini saya hanya memiliki satu orang anak laki-laki usia 10 tahun-- yang semuanya itu saya tanggapi dengan senyum saja.

Urusan anak kan hak prerogatif Tuhan. Mau minta banyak kalau dikasih satu, mau bagaimana? Yang menggunakan kontrasepsi saja kalau saatnya kebobolan ya jadi anak juga.

Kalau saya ladeni mereka, bisa sakit sendiri. Sementara keuntungan dan kerugian toh gak ngaruh ke kondisi kita, bukan? Jadi buat apa ditanggapi?

Yang penting nih biar anak cuma semata wayang, sebagai orang tua bisa mendidik dan menjaganya sebagai amanah Tuhan. Anak itu tergantung didikannya. Anak manja sekalipun kalau di tangan orang tua yang tepat, ia akan punya etika, berakhlak baik dan menjadikan kekaguman bagi yang lain.

Saya jadi ingat berita viral akhir-akhir ini di kalangan para Nyai/Ning (sebutan atau gelar bagi keturunan kyai bagi perempuan, istri dan putri pengasuh pondok pesantren) dimana salah satu sosok tersebut yaitu Siti Atikoh Supriyanti yang berhasil mencuri perhatian sebagian banyak para Nyai dan Ning karena pola pengasuhan yang diterapkannya kepada putra semata wayangnya memunculkan banyak kekaguman.

Btw sudah tahu kan siapa Siti Atikoh itu? Beliau adalah istri gubernur Jawa Tengah periode 2013-2023, Ganjar Pranowo. Pasangan yang melangsungkan pernikahan pada tahun 1999 ini dikaruniai seorang putra bernama Muhammad Zinedine Alam Ganjar.

Nah, yang bikin dikagumi itu, adalah pola pengasuhan Siti Atikoh terhadap putra semata wayangnya Alam Ganjar itu. Siti Atikoh dinilai berhasil mendidik Alam menjadi anak yang pandai menjaga akhlak.

Siapa tidak kagum terhadap sosok ibu dari Alam Ganjar, ketika Siti Atikoh melarang sopir membukakan pintu untuk anaknya, termasuk tidak diperbolehkan membawakan barang pribadi anaknya. Mungkin bagi sebagian orang itu hal kecil tapi itu justru inspiratif sekali. Patut dicontoh untuk membiasakan anak bisa hidup mandiri dan menghargai orang yang lebih tua.

Pola asuh Siti Atikoh terhadap Alam tidak biasa. Apalagi bagi keluarga yang menjadi tokoh publik di mana kemewahan bisa dengan mudah didapat.

Tidak heran banyak orang tua meniru pola pengasuhan yang dilakukan Siti Atikoh dengan harapan anak sendiri bisa menjadi seperti Alam Ganjar yang tumbuh dengan baik, sosok sederhana dan apa adanya.

Karenan banyak para ibu yang mengagumi putra Siti Atikoh tersebut, saya juga jadi kepo ingin tahu bagaimana cara mendidik sehingga menjadi seperti yang kita lihat, anaknya pintar dan akhlaknya sangat dijaga.

Begitulah sosok Siti Atikoh Supriyani atau kerap disapa dengan panggilan Atikoh yang lahir 52 tahun silam, tepatnya pada tanggal 25 November 1971 di Purbalingga, Jawa Tengah.

Ternyata selain mendampingi suami, saat bertugas, Siti Atikoh juga memiliki peran lainnya.

Selama mendampingi suaminya menjadi orang nomor satu di Jawa Tengah, Siti Atikoh memiliki banyak prestasi dalam memajukan provinsi yang beribukota Semarang itu. Siti Atikoh sering terlihat melakukan sosialisasi dan edukasi kepada perempuan di Jateng.

Berikut tiga prestasi gemilang yang telah diraih oleh Siti Atikoh sosok simbol juang Kartini masa kini

Prestasi Siti Atikoh Dalam Memajukan Kesejahteraan di Jawa Tengah

1. Menurunkan Angka Stunting

PKK Jawa Tengah berperan aktif dalam melakukan pendampingan dan pembinaan keluarga serta ibu-ibu di wilayahnya.

Upaya itu berhasil menurunkan angka stunting hingga mencapai 11,9 persen pada tahun 2022, menurut perhitungan elektronik - Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (ePPGBM).

Program "Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng" yang digagas Siti Atikoh bertujuan menjaga kesejahteraan ibu dan bayi serta mengurangi Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), serta mengatasi masalah stunting.

2. Mencegah Perkawinan Dini

Siti Atikoh dan PKK Jateng mengimplementasikan program Jo Kawin Bocah. Program ini bertujuan mencegah perkawinan dini yang masih kerap terjadi di Jawa Tengah.

3. Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Bullying

Siti Atikoh menerima penghargaan sebagai Bunda Forum Anak Jawa Tengah oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Bintang Puspayoga sebagai pengakuan atas dedikasinya dalam melindungi anak-anak di Jawa Tengah melalui program "Jogo Konco”

Program Aplikasi Jogo Konco, atau Jaga Anak dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Jateng dan TP PKK Jateng dalam upaya melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan.

Siti Atikoh Supriyanti

Itulah sosok Siti Atikoh yang terus menjalankan perannya sebagai istri dan seorang ibu dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak.

Beliau tidak hanya memiliki program atau teori tetapi sekaligus mengimplementasikan langsung terhadap anak dan keluarganya sendiri.

Jadi mau anak satu atau berapa pun, yang penting sebagai orang tua, kita harus bisa mendidik dan menjaganya sehingga anak bisa tumbuh dan berkembang dengan memiliki karakter baik dan hidup sesuai dengan ajaran kebenaran.

Read more ...

Selasa, 17 Oktober 2023

5 Pertanyaan Sebagai Persiapan Menulis Copywriting

Awalnya saya merasa kecewa setelah beberapa kali ada pendaftaran berpeluang mendapatkan job di sosial media selalu ketinggalan. Habis seatnya karena telat buka pesan, jadinya gigit jari. Masalahnya, kalau yang dilihat siapa cepat dia dapat, jelas saya langsung kalah. Secara internet dikampung saya rajanya siput alias super lambat. Mana bisa gercep?

Tapi kekecewaan saya langsung terobati ketika ternyata dari banyaknya pendaftar blog yang diajukan, klien memilih blog saya ini sebagai salah satu dari tiga kuota blog untuk bisa diajak kerjasama. Senang bukan main blog saya yang terpilih. Siapa kira blog berisi curhatan ini malah jadi prioritas. Bisik punya bisik, ternyata gaya penyampaian saya yang lebih ke story telling dan mengangkat bahasan dalam cerita yang berbeda dengan gaya blogger lainnya, itu yang jadi unggulan...

Alhamdulillah... gaya penyampaian setiap penulis memang bisa berbeda ya. Tapi jika untuk tujuan komersil atau pesanan, memang kita harus mengedepankan teori dari para pakar yang selama ini kita pelajari. Termasuk dalam hal teknis copywriting.

Copywriting yang bagus dimulai dari persiapan. Ketika kita tahu bagaimana menyiapkan dan merencanakan tulisan copywriting, proses penulisan akan lebih mudah dengan hasil yang akan lebih bagus.

Tujuan copywriting adalah membujuk pembaca untuk melakukan sesuatu. Seperti membeli produk, menyewa jasa, download file, follow media sosial, dan sebagainya.

Agar hasil copywriting menjadi bagus dan bisa benar-benar membujuk pembaca, kuncinya adalah di persiapan. Sebelum mulai menulis tanyakan hal-hal berikut ini nih, untuk menggali informasi yang diperlukan.

Siapakah Target Pembacanya?

Memahami target pembaca akan membantumu mengidentifikasi kebutuhan, ketakutan, dan keinginan mereka. Hal-hal tersebut bisa dimanfaatkan untuk membuat tulisan menjadi lebih membujuk.

Tips berikutnya adalah tulislah untuk satu orang. Memang tujuan menulis copy adalah untuk dibaca sebanyak mungkin orang. Tapi tetap saja yang membaca nanti adalah individual. Meskipun seandainya 10 orang bersama-sama membaca tulisanmu, mereka akan membaca secara individu, bukan?

Jika kita menulis ditujukan untuk banyak orang, tulisannya nanti terkesan menjadi seperti ceramah. Jika hanya ditujukan untuk satu orang maka akan menjadi lebih intim, lebih personal, gitu...

Kamu Ingin Pembaca Melakukan Apa?

Copywriting yang baik harus memiliki call to action, ajakan untuk melakukan sesuatu. Apakah kita ingin pembaca membeli produk, menelepon nomor yang dicantumkan di copy, mendaftar kursus online, atau apa?

Call to action ini harus dibuat jelas dan tidak membingungkan pembaca. Call to action juga sebaiknya hanya ada satu, meskipun kamu akan meletakkannya di beberapa tempat di dalam copy namun semua call to action harus sama.

Layanan Copywriting Wordsmith Group tehokti.com

Apa Yang Dibutuhkan Pembaca?

Meski menjual produk atau jasa tapi tulisan sebaiknya tidak fokus pada dua hal tersebut. Kita harus fokus pada menyampaikan manfaat dari produk atau jasa pada pembaca. Karena orang sebenarnya tidak membeli produk atau jasa namun membeli manfaat yang bisa mereka peroleh dari produk atau jasa tersebut.

Agar bisa mengkomunikasikan manfaat bisa digali dari fitur dan kelebihan produk, caranya coba ubah fitur dan kelebihan tersebut menjadi manfaat. Sebuah fitur bisa memberi manfaat apa pada konsumen?

Manfaat dari produk atau jasa berhubungan erat dengan emosi pembaca. Dan karena emosi tersebutlah sesungguhnya orang membeli sesuatu.

Apa Yang Bisa Membuat Pembaca Percaya?

Menyajikan fitur, kelebihan dan manfaat saja tidak cukup. Tapi juga harus didukung dengan semacam bukti sehingga pembaca menjadi makin percaya.

Yang bisa digunakan antara lain testimonial, terutama yang menceritakan bagaiman produk atau jasa berhasil memecahkan masalah seseorang. Contoh lain adalah hasil pengujian, review, hasil riset, dan semacamnya.

Apa Yang Membuat Pembaca Ragu Untuk Membeli?

Sebagus apapun produk atau jasanya tetap akan ada pembaca yang tidak jadi membeli karena masih ragu. Atau karena berbagai kendala lainnya. Catat apa saja yang mungkin menghalangi orang untuk membeli. Misal nih, apakah karena ongkos kirim mahal, takut produknya tidak awet, takut produknya sulit digunakan. Nah, lalu jawab dan pecahkan kendala tersebut di dalam tulisan kita.

Layanan Copywriting Wordsmith Group tehokti.com

Baiklah...

Secara teori sepertinya copywriting mudah dilakukan, namun kenyataannya susah menulis copy yang bagus tanpa adanya skill yang telah terasah oleh pengalaman. Karena itu percayakan saja kebutuhan copywriting-mu pada penyedia jasa copywriting terpercaya seperti Wordsmith Group. Biarkan mereka yang menulis dan mantenan tinggal fokus pada bisnismu saja...

Read more ...

Minggu, 15 Oktober 2023

Jangan Salah Pilih Jurusan!

Tips menentukan pilihan kuliah yang benar dengan mengenali minat dan bakat anak sejak dini

Bagaimana perasaanmu ketika anak yang diharapkan bisa memiliki prestasi yang membanggakan dan kelak memiliki profesi yang cemerlang macam dokter, pilot, atau profesi bergengsi lainnya, anak mengatakan kalau ia ingin jadi ulama saja.

Maaf, ini bukan berarti menganggap ulama adalah profesi yang tidak bergengsi atau tidak cemerlang. Bukan ke sana konteksnya ya. Hanya sebagai orang tua di jaman sekarang pastinya ingin anak berprestasi dan memiliki sesuatu yang bisa bikin bangga, bukan? Sekali lagi, bukan berarti menjadi ulama tidak membanggakan... Aduh, saya jadi bingung deh menjelaskannya.

Hanya di masyarakat tempat tinggal saya, yang basicnya mayoritas penduduk muslim dengan latar pesantren dan sekolahnya baik formal maupun informal banyak yang bernaung kepada departemen agama RI (Islam), untuk menjadi ulama, alias seorang ustadz atau kiyai, dianggapnya tidak memerlukan pengorbanan khusus. Secara lulusan Madrasah Aliyah (sederajat SLTA) saja, sudah bisa kok menjadi ulama, bahkan jika dibarengi dengan mondok di pesantren salafiyah, sesuai dengan ilmu yang dimilikinya, itu udah bisa mendirikan dan menjadi pemimpin pesantren.

Jadi maksud membanggakan dan tidaknya antara ulama dan profesi lainnya itu, ini spesifik berdasarkan pandangan warga di sekitar tempat tinggal saya ya. Semoga tidak jadi salah paham dan bahan perdebatan.

Jadi di kampung saya ini, saking banyaknya lulusan pesantren, seolah jadi ulama itu bukan sebuah cita-cita yang tinggi. Ibaratnya cukup mondok gelar gelar ustadz/ustadzah udah bisa dimiliki. Beda dengan anak yang mau jadi pengacara, dokter atau lainnya, mereka kan setidaknya harus "pinter", masuk universitas dan mengambil jurusan yang sesuai.

Oke, kembali ke artikel. Sebagai orang tua dari anak semata wayang tentu saja saya tidak ingin gegabah dalam mendidik dan mendampingi anak. Saya dan suami sepakat akan membebaskan anak memilih kelak ia bercita-cita jadi apa sesuai minat dan kemampuannya. Tapi, bukan berarti akan melepasnya begitu saja. Termasuk ketika anak kami mengatakan, jika kelak ia ingin jadi seorang ulama/kiyai/ustadz.

Apalagi keinginan anak ini benar-benar di luar dugaan saya dan suami. Jujur, suami sebagai guru matematika, dan saya yang menyukai dunia literasi, paling tidak berharap kelak anak bisa jadi guru atau dosen. Lah kok melenceng maunya jadi ustadz? (Sekali lagi, bukan mau memandang sebelah mata para ustadz lho ya... Maaf)

Untuk itu, sejak dini, saya dan suami siap mendampingi dan mengarahkan ke mana anak harus mengambil jurusan dan sekolah yang bisa mendukung sepenuhnya keinginannya itu. Jika serius ingin jadi ulama, jadilah ulama yang memiliki nilai lebih.

Makanya cukup tercengang ketika anak mengatakan tidak mau jadi dokter, tidak mau jadi tentara atau polisi dan bilang dengan entengnya mau jadi ulama saja. Disaat anak lain ingin jadi gamers profesional, ingin jadi konten kreator yang penghasilannya jut-jutan sampai milmilyaran. Lalu kami bisa apa?

Benarkah keinginan anak kami itu bisa dipertanggungjawabkan? Seriuskah dengan pilihannya ini? Lalu apa yang harus kami lakukan?

Webinar Pencerahan: Apa dan Mengapa Bisa Salah Pilih Jurusan?

Tidak ingin kejadian salah pilih jurusan seperti yang sering dikeluhkan para mahasiswa yang masuk perkuliahan demi memuaskan ambisi pihak tertentu, ketika dapat informasi ada acara webinar “Jangan Salah Pilih Jurusan!” Kenali Minat dan Bakat Anak Sejak Dini dengan narasumber Novitania (dosen dan conten creator) pada Sabtu 14 Oktober 2023 lalu maka saya pun dengan gercep cari info untuk ikut acaranya.

Yah, sudah bukan rahasia lagi kalau jaman seangkatan saya dan ibu narasumber itu, banyak yang merasa salah ambil jurusan baik itu karena situasi dan kondisi, maupun karena permintaan atau ambisi orang tua. Ujungnya tidak hanya kekecewaan, kelelahan yang dialami, juga profesi kedepannya yang akan dipilih yang bisa mengakibatkan tersandung kendala juga.

Apa akibatnya bila anak salah memilih jurusan?

Jika anak salah memilih jurusan, maka anak akan kehilangan minat dengan materi yang diajarkan. Akibatnya anak akan merasa malas, baik itu saat masuk kelas, mengerjakan tugas, maupun segala keperluan kuliah lainnya. Itu akan membuat kuliah makin terasa berat.

Jangan sampai kejadian timbul kekecewaan baik di pihak orang tua, maupun anak gara-gara salah ambil jurusan. Karena itu saya tertarik mengikuti webinar melalui zoom yang diselenggarakan oleh Sinotif ini. Terlebih menghadapi kenyataan keinginan anak yang ingin jadi ulama, dimana menurut lingkungan saya, itu cukup beda dari yang lain...

Rasanya plong ketika selesai mengikuti acara webinar. Makin menyadari betapa pentingnya dukungan orang tua dalam mengejar minat bakat anak, karena setelah mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh Sinotif dengan topik "Jangan Salah Pilih Jurusan! Kenali Minat dan Bakat Anak Sejak Dini" ini saya dan suami mulai melihat sesungguhnya betapa berharga dukungan kita sebagai orang tua dalam menentukan jalur pendidikan buah hati. Jadi apapun kelak pilihannya itu.

Novitania, ibu dari dua orang anak yang berprofesi sebagai dosen sekaligus pembicara dalam webinar, membeberkan pandangannya tentang tren mahasiswa yang salah pilih jurusan. Menurutnya, kejadian itu sebenarnya tidak akan terjadi jika siswa, atau calon mahasiswa memiliki empat kemampuan dasar.

Empat kemampuan dasar ini diantaranya:

  1. Literasi
  2. Problem solving
  3. Digitalisasi
  4. Publik speaking

Dengan kemampuan dasar empat hal itu, disertai adanya kemudahan akses informasi melalui internet dan media sosial, siapa saja kini dapat mencari dan bertanya kepada mereka yang telah menjalani jurusan tertentu, untuk mendapatkan pandangan tentang jurusan serta kegiatan kampus, dan mengetahui mata kuliah yang akan mereka hadapi. Jadi kejadian salah jurusan bisa diminimalisir.

Jika dulu pilihan pada universitas terbatas, kini mahasiswa memiliki lebih banyak opsi, sehingga tren salah pilih jurusan dengan sendirinya bisa menurun. Banyaknya pilihan itu memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bisa lebih fokus pada jurusan yang sesuai dengan minat dan karir yang diinginkan secara spesifik.

Kunci Utama Menemukan Jalur Karir yang Sesuai Melalui Tes Minat dan Bakat

Dukungan orang tua bukan hanya dengan memberi izin untuk mengikuti jurusan yang diinginkan. Orang tua juga dapat memasukkan anak ke lembaga-lembaga kursus sesuai dengan minat dan bakat sang buah hati.

Jika anak mengalami kekurangan di bidang tertentu, orang tua dapat mendorong anak untuk mengikuti kursus yang dapat meningkatkan keterampilannya dalam bidang yang kurang itu. Ini bisa menjadi solusi bagi anak yang memiliki potensi besar di bidang tertentu namun memerlukan bimbingan tambahan.

Adanya bantuan tes minat dan bakat dari Sinotif juga turut berkontribusi. Anak dan orang tua dapat memiliki gambaran mengenai bakat dan minat, sehingga dapat membuat keputusan lebih baik.

Tes bakat dan minat bisa dilakukan sejak usia dini, sehingga bisa memberikan pandangan yang lebih jelas tentang kecenderungan anak.

Tes minat dan bakat sangat penting karena membantu anak menentukan arah hidupnya dan memilih jurusan kuliah yang sesuai.

Dengan demikian memungkinkan juga bagi orang tua untuk memberikan dukungan yang lebih baik sesuai dengan minat bakat anaknya, sehingga salah pilih jurusan kemungkinan jadi lebih sangat kecil.

Kapan tes ini bisa dilakukan? Bisa dilakukan mulai usia anak 5 tahun. Dengan mengetahui minat anak di bidang tertentu, dukungan orang tua lebih mudah dan dapat memberikan stimulus yang sesuai, membantu anak mengembangkan kognitif, psikomotorik, dan emosional mereka.

Namun, perlu diingat bahwa minat bakat anak dapat berubah seiring waktu. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pengalaman baru, teman-teman baru, atau informasi baru yang diperoleh melalui internet.

Jadi orang tua dapat melakukan tes minat dan bakat kembali jika anak sudah memasuki masa remaja dan menuju dewasa bila dianggap perlu. Melakukan tes berkali-kali memungkinkan untuk terus mendukung anak dalam perkembangan mereka hingga dewasa.

Dukungan Orang Tua dan Sinotif dalam Meningkatkan Skill Minat Bakat Anak

Orang tua yang memiliki anak dengan minat di bidang eksakta, seperti matematika, fisika, dan kimia bisa menjadikan Sinotif sebagai salah satu solusi, lho!

Sinotif adalah lembaga bimbingan belajar online yang fokus pada mata pelajaran matematika, fisika dan kimia.

Didirikan pada 25 Maret 2000, Sinotif telah mengalami transformasi menjadi lembaga bimbingan belajar online "live dan interaktif" dan telah membimbing lebih dari tiga puluh ribu siswa dari seluruh Indonesia.

Dengan metode belajar online live interaktif, Sinotif menyajikan pengalaman belajar yang memberikan nuansa tatap muka. Program-program yang ditawarkan disesuaikan dengan kebutuhan dan target masing-masing siswa.

Sinotif sangat memahami bahwa setiap anak memiliki keunikan dalam belajar. Oleh karena itu menawarkan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan individual siswa. Sistem demikian memberikan ketenangan kepada orang tua dan memungkinkan anak bisa lebih fokus pada aktivitas mereka.

Didirikan oleh Bapak Hindra Gunawan dan Bapak Anthonyus Kuswanto, Sinotif memiliki visi menjadi perusahaan pendidikan terbaik di dunia yang terus berinovasi dan mengikuti perkembangan teknologi di bidang pendidikan.

Misi Sinotif membangun dan mengembangkan generasi muda yang berkualitas, mandiri, dan mampu bersaing dalam dunia yang semakin kompetitif melalui inovasi di bidang pendidikan yang berkelanjutan.

Dengan tim yang bersemangat dan fokus, Sinotif menyajikan layanan premium dengan nuansa online rasa tatap muka. Ini memungkinkan setiap anak di Indonesia untuk merasakan pengalaman belajar yang berkualitas dan bisa memilih jurusan kuliah yang sesuai.

Dalam perjalanan panjang mencari jurusan, tes minat dan bakat, dan dukungan dari orang tua dapat menjadi penentu keberhasilan. Penting bagi orang tua untuk tidak hanya memberi izin atau membatasi pilihan anak, tetapi juga untuk mendukung mereka melalui proses eksplorasi. Pilihan jurusan yang tepat bukan hanya menjaga masa depan akademis, tetapi juga melibatkan kebahagiaan dan pemenuhan diri.

Tes minat dan bakat dapat menjadi petunjuk, dan Sinotif adalah salah satu alat yang dapat membantu anak mengembangkan potensi mereka di bidang eksakta.

Mendukung anak sejak dini, memberikan stimulus yang sesuai, dan memberikan layanan bimbingan belajar yang terfokus dapat menjadi kunci kesuksesan anak dalam mengejar impian mereka.

Anak saya lemah dalam pelajaran eksakta bukan berarti gak harus memperdalam ilmu itu karena yih cita-citanya juga jadi ustadz. Heloo, tahukah untuk bisa diterima di pondok modern yang selama ini kami incar, justru diberlakukan testing masuk tidak hanya tentang ilmu agama, tapi juga ada test matematika dan bahasanya juga.

Nah, jadi jelas ya apapun cita-citanya mempelajari ilmu dasar itu memang keharusan. Saat anak memiliki kelemahan, disinilah Sinotif berperan untuk lebih meringankan beban anak dengan mendampingi pembelajaran anak hingga anak senang, paham dan dapat melalui testing dengan baik.

Jadi, dalam memilih jurusan saat sekolah maupun kuliah memang harus disiapkan sejak dini. Orang tua dan Sinotif bisa bersama-sama membantu buah hati menemukan jalan menuju keberhasilan.

Karena setiap anak memiliki potensi yang berbeda, dan sebagai orang tua, memiliki peran penting dalam membimbing mereka melewati kebingungannya.

Bagaimana cara menentukan jurusan yang tepat untuk kuliah?

Selain mengenali minat dan bakat ribaddi anak, lakukan juga riset tentang jurusan yang diinginkan. Bisa dibarengi mengikuti tes bakat dan minat yang diselenggarakan oleh Sinotif. Konsultasi juga dengan pihak yang berpengalaman. Sambil jalan pertimbangkan juga akan potensi karir di masa depan, gaji, kepuasan kerja, peluang pengembangan karir, potensi pertumbuhan industri dan lingkungan, disertai selalu mengevaluasi diri akan kelebihan serta kelemahan.

Sekarang saya dan suami tidak merasa minder lagi dengan cita-cita anak yang menginginkan menjadi seorang ulama atau ustadz. Yang kami lakukan ialah mengarahkan anak kemana ia bisa melanjutkan sekolah.

Termasuk saat mengetahui masuk pondok yang diinginkan anak ternyata harus melalui testing ilmu eksakta juga (sementara anak kami kami lemah dalam pelajaran eksakta) maka belajar lebih privat di Sinotif juga kami jadikan sebagai salah satu bentuk ikhtiar demi mewujudkan harapan dan cita-cita anak.

Tes minat dan bakat dari Sinotif yang disampaikan narasumber Ibu Novitania, bukan hanya alat pemetaan, tapi juga dukungan terbaik orang tua untuk memahami keinginan anak. Karena sejak dini justru orang tua dapat memberikan stimulus yang sesuai dan bisa membimbing anak menuju keputusan jurusan kuliah yang tepat.

Read more ...

Jumat, 13 Oktober 2023

Menghitung Keuntungan

Hampir saja tabrakan! Ketika turun dari sepeda motor, jalan menunduk sambil mengecek dompet dan tas belanjaan, eh tiba-tiba di belokan muncul seseorang membawa kardus sekian banyaknya. Kaget dong!

“Eh, Ibu. Maaf... Ke pasar Bu?”

Setelah berpikir sejenak saya juga baru ngeh, kalau yang berpapasan dengan saya itu ternyata tetangga di kampung. Bu Isah namanya.

“Ah iya, maaf ya Bu, saya gak lihat-lihat. Hampir saja nabrak. Ini belanjaan nya? Udah beres ya?”

Saya lihat yang dibawa Bu Isah dus makanan ringan. Bukan belanjaan sayuran basah pada umumnya.

“Iya Bu. Belanja buat warung. Yah, sekadar ngisi waktu luang. Sambil momong anak. Lumayan Bu, gak bengong juga. Hehe...”

“Bagus itu, Bu. Semoga laris manis selalu ya jualannya. Mari...”

Saya akhiri obrolan tidak disengaja itu sambil bergegas jalan lagi. Sementara dari sudut mata saya lihat Bu Isah masih mengatur dus-dus belanjaan yang begitu banyak di atas motornya. Sesekali terlihat ia mengusap peluh di wajahnya. Selelah itukah keseharian Bu Isah?

Bu Isah dulunya berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI, sekolah setara SD) Setiap pagi saya sering melihat berangkat bareng suaminya yang juga mengajar di tempat yang sama.

Sekolahnya lumayan jauh dan terpencil, jadi berangkat dan pulang bareng selalu mereka usahakan. Mungkin supaya irit biaya bensin.

Dulu, Bu Isah pernah bertanya, kenapa saya gak ngajar juga biar sama dengan suami. Saya tertawa saja. Sambil bilang kalau saya gak sabaran orangnya.

Eh, Bu Isah ga percaya. Secara ia juga tahu kalau di rumah saya juga kan ada anak mengaji yang jumlahnya sama dengan murid satu kelas di sekolah formal.

Menghitung Keuntungan Guru Honorer

Saya gak menyanggah. Tapi diam saja. Padahal dalam hati, saya ngaku malas jadi guru kalau sekadar menjadi honorer di sekolah terpencil. Udah perjuangannya berat, eh bayaran nya cuma seratus sampai tiga ratus ribu per bulan. Saya mana mau?

Kalau sedang beruntung, tiga ratus ribu itu rata-rata untuk bayaran satu kali job. Mana kerjanya mudah dan santai. Bisa sambil nonton film, bisa ambil mendengarkan lagu K-Pop terbaru.

Maaf. Bukan mau menyepelekan rezeki, atau tidak mensyukuri penghasilan seseorang. Tapi jaman sekarang, buat pulsa internet saja seratus dua ratus ribu, segitu udah habis. Yakan? Lalu keperluan lainnya? Sementara jadi guru itu penampilan harus terjaga. Setidaknya kerudung harus licin, sepatu harus mengkilap, kalau enggak, bisa menjatuhkan marwah tenaga pendidik dong?

Selebihnya ya saya udah nyaman aja dengan aktivitas sehari-hari saya. Meski banyak yang bilang saya pengangguran, kalau lagi ada rezeki, sebulan satu juta rupiah saja mah udah bisa saya kumpulkan hasil dari fee ngeblog dan media sosial.

Itu bersih, tanpa harus keluar rumah. Tanpa harus meleng dari jagain anak, gak perlu ganggu tugas sebagai ibu rumah tangga yang lebih utama. Sambil rebahan mantengin blog drama Korea terbaru pun gak masalah. Ya, semudah itu.

Lalu bagaimana saya mau kalau harus berangkat pagi pulang lewat duhur, penampilan dan kesopanan harus dijaga, sementara yang didapat tak seberapa...

Sampai Bu Isah hamil anak kedua, saya lihat Bu Isah masih berangkat ngajar ke sekolah. Namun belum setahun usia anak kedua, Bu Isah hamil lagi dan setelah melahirkan anak ketiga, ia tak berangkat ngajar lagi. Mungkin sudah resign. Suaminya pun pindah mengajar ke tempat yang lebih dekat.

Ketika silaturahmi lebaran, saya baru tahu kalau Bu Isah rumahnya sudah direnovasi dan ia memiliki warung kelontong. Katanya kesehariannya selain momong anak juga ya jagain warung.

Saya pikir wah, pasti labanya besar tuh. Secara di sekitar rumahnya, banyak anak-anak yang dipastikan jajannya tak akan kemana.

Sampai saya kepikiran apa saya juga buka warung aja gitu? Depan dan samping rumah masih ada lahan kosong. Suami pun sempat punya ide untuk bangun ruko. Walaupun tidak berjualan, tetap bisa disewakan secara pinggir jalan desa lumayan ramai. Depan kantor PLN Kecamatan pula.

Menghitung Keuntungan Warung Jajan Anak

Tapi keinginan saya itu langsung luruh manakala tidak sengaja ketemu lagi dengan Bu Isah, suaminya dan kedua anaknya terkecil (anak pertama ga ikut) di sebuah kedai bakso.

Dua anaknya nangis ingin jajan camilan yang dijembreng dekat kasir. Tapi entah kenapa Bu Isah gak membiarkannya. Hanya membujuknya supaya sabar menunggu bakso pesanan mereka datang.

Saya, Suami dan anak yang sudah lebih dulu selesai dengan pesanan bakso tak langsung pulang. Selain meredakan rasa pedas, juga menghabiskan minum kami masing-masing.

“Bu, jajanan gopek aja gak dikasih. Berisik kan jadinya...” bisik anak saya gak nyaman dengan tangisan dua bocah yang berjarak tak sampai setahun itu.

Yah, mau bagaimana lagi. Bukannya saya tak ingin memberi tapi saya kan ga tahu maksud Bu Isah tidak membiarkan anaknya jajan itu kenapa... Bisa saja jajannya itu makanan yang dipantang untuk anaknya, kan? Kalau saya asal ngasih bisa celaka nanti.

Sambil menunggu anak dan suami selesai (kami emang suka sengaja kalo ke kedai bakso ini untuk main dan santai) saya datangi meja Bu Isah dan mencoba ngobrol dengannya. Menyapa juga anak-anaknya sekadar mencoba meredakan tangisnya.

“Mereka ini memang gak bisa dibilangin Bu, tapi nanti juga diem sendiri kok...” kata Bu Isah. Saya hanya manggut-manggut saja.

“Sayang banget kalau jajan di sini. Harganya kan hampir tiga kali lipat. Padahal di rumah juga ada banyak. Keuntungan dari jajanan anak itu gak seberapa, cuma dua ribu rupiah per lusin. Di sini beli dapat satu kalau di rumah bisa delapan.” Jelasnya .

Saya tak bisa menyembunyikan keterkejutan. Emang ga tahu sih bagaimana keuntungan jualan di warung begitu.

“Keuntungan di warung seharian bisa habis hanya untuk beli jajanan anak sekali di sini.” Bu Isah memastikan.

“Saya pikir Bu Isah mendapatkan keuntungan besar dari penjualan di warungnya...” Sungguh saya ga bisa untuk tidak bertanya berapa keuntungan jualannya kalau dirata-rata.

Dan saya sampai melongo mendengar jawaban nya. Katanya gak sampai dua puluh ribu rupiah. Maklum jajanan anaknya juga kan yang seharga seribu dua ribu. Kalau habis satu lusin, keuntungan paling besar lima ribu rupiah. Sementara per hari jarang laku sampai lusinan gitu.

Jadi Bu Isah seolah menyediakan jajan buat anaknya saja. Biar gak terlalu mahal. Kalau laku terjual ya untung. Kalau tidak, ya buat jajan anak-anaknya. Begitu katanya.

Saya menarik nafas. Apalagi mengingat pas ketemu hampir tabrakan dengan Bu Isah di pasar itu. Terlihat ia begitu repot dan lelah. Mungkin setiap hari ia melakukannya? Sementara keuntungannya?

Menghitung Keuntungan Blogger dan Influencer

Rasanya saya beruntung dan bersyukur banget, meski suka dianggap kerjaannya hanya main hape saja, tapi justru dari sana saya bisa mendapatkan cuan. Memenuhi kebutuhan keluarga, nabung dan bahkan belanja keinginan sendiri.

Kadang saya jadi malu sendiri, ketika ada job receh dengan fee hanya sepuluh dua puluh ribu rupiah itu sering saya abaikan tak tertarik untuk mengambilnya. Padahal Bu Isah sampai harus kelelahan dan keluar tenaga dulu untuk mendapatkan keuntungan sebesar itu.

Read more ...

Jumat, 06 Oktober 2023

Semarak Bulan Musim Kawin

Semarak bulan musim kawin benarkah jika disebut juga sebagai bulan musim kebobolan?

Pagi-pagi udah ada yang ketuk pintu. Ternyata tetangga belakang rumah, mengantar hidangan serta kue yang katanya kiriman dari besan. Minggu lalu kami memang baru saja mengantarkan anak bungsunya menikah ke tetangga kecamatan. Mungkin hantaran munjungan itu yang kini dibagikan lagi kepada kami.

“Sengaja pagi-pagi langsung dibagikan, biar bisa dinikmati saat sarapan. Iya, jadi jangan dulu ngabubur. Ini aja buat sarapan ya...” Ucap tetangga yang sudah seperti saudara itu sambil tergelak.

Saya hanya nyengir. Tahu aja dia, kalau hari Jumat ini kan hari pasar di kecamatan tempat tinggal kami ini. Biasanya, saya, suami dan anak kalau hari pasar memang suka sarapan bubur di pasar sekaligus belanja untuk kebutuhan sehari-hari.

Gerak cepat juga tetangga saya itu. Memang benar kalau saja ia agak siang sedikit mengantarkan makanan dan kue-kue itu, bisa-bisa kami keburu berangkat ke pasar. Beruntung banget kan kami akhirnya bisa menikmati hidangan gratis. Hihi, jadinya hemat pengeluaran...

Hemat?

Btw, sebenarnya gak hemat juga. Kalau boleh jujur bulan ini, justru kami ini bisa dibilang kebobolan. Bagaimana tidak, bulan ini di tempat saya bisa dibilang sebagai bulan musim kawin. Banyak banget undangan pernikahan yang kesemuanya tentu saja butuh dana untuk memenuhinya.

Jika biasanya musim kawin jatuh pada bulan Syawal dan Dzulhijjah di Tahun Hijriah, atau bulan Desember di tahun Masehi, maka entah kenapa sekarang di bulan Rabiul Awwal dan jelang Rabiul Akhir yang bertepatan dengan bulan Oktober ini justru dipilih sebagai waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan.

Memang setiap waktu juga baik ya, hanya mungkin di saat bertepatan dengan Rabiul Awwal bulan kelahiran orang terpilih sebagai teladan semua umat yaitu Rasulullah Saw maka dipercaya akan membawa keberkahan dan kebaikan. Dan masyarakat yang masih mempercayai perhitungan Jawa Kuno memilih saat itulah untuk melangsungkan niat baik seperti acara lamaran atau pernikahan.

Momen yang dianggap sebagai waktu yang tepat untuk menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang sebelumnya sangat jarang ditemui. Termasuk memilih menyelenggarakan acara hajatan atau lamaran.

Begitu banyaknya hajatan pernikahan di bulan-bulan ini hingga membuat bulan ini dikenal oleh masyarakat sebagai musim kawin. Warga banyak yang memplesetkannya sebagai bulan musim kebobolan. Haha ...

Semarak Bulan Musim Kawin

Di kampung saya aja, bulan ini ada lima orang pemuda yang menikah, otomatis tabungan keluar banyak untuk bisa memenuhi undangan mereka. Mau menghindar mana bisa, secara kelimanya itu mereka dulu mengaji di tempat kami. Jadi tidak hanya kenal karena rumah kami bertetangga, tapi juga ada ikatan lebih yang tidak akan lekang, yaitu hubungan antara guru dengan muridnya, termasuk guru dengan wali muridnya.

Mau bagaimana lagi, meski harus kebobolan, tetap harus kami syukuri. Mereka menikah untuk menyempurnakan agama dan kebahagiaan kita sebagai orang tua (guru) bukankah ada pada kebahagiaan mereka juga?

Selama bulan ini sudah tiga kali diajak rewang (membantu keluarga yang hajatan) dan selama itu pula kebahagiaan terpancar dari setiap orang.

Kami para ibu-ibu cukup membantu saat memasak untuk acara syukuran saja. Secara untuk acara resmi lain macam seserahan, resepsi, dan sebagainya sudah dipercayakan kepada wedding organizer. Jadi tidak terlalu repot dan kelelahan seperti dulu. Kini segala urusan sudah jauh lebih praktis.

Tiga pemuda yang sudah kami antar menikah dengan istri pilihannya itu lulusan SMK dan bekerja di perusahaan kontraktor di Kalimantan. Dari segi materi untuk biaya pernikahan mereka semua menduga sudah lebih dari mampu. Tidak heran untuk persiapan pernikahan mereka banyak melihat referensi dan rekomendasi dari internet agar lebih kekinian.

Dua orang pemuda yang baru akan melangsungkan pernikahan tanggal 14 Oktober dan 23 Oktober besok, juga menggunakan jasa wedding organizer untuk kelancaran acaranya. Salah satu teman suami yang berkecimpung di dunia dokumentasi fotografi dan videografi acara pernikahan bilang, mereka itu sudah mencari konsep yang cocok sejak beberapa bulan sebelumnya.

Berbagai artikel terkait pelaksanaan pernikahan terus dibidik. Termasuk artikel dari para travel blogger yang merekomendasikan banyak lokasi bagus untuk gelar acara pernikahan atau lamaran seperti hotel, resort dan sebagainya.

Kami para orang tua di kampung ini, tentu saja hanya tinggal menyetujui pilihan mereka dan atau memberikan masukan jika ada hal yang kurang cocok dengan kebiasaan maupun tradisi setempat. Sungguh keberadaan lokasi yang mampu melengkapi acara seperti yang diinginkan para calon mempelai seperti hotel, resto reviewer ini sangat membantu sekali.

Kecanggihan teknologi mau tidak mau harus kita imbangi supaya kita tidak diam di tempat, atau bahkan jauh tertinggal.

Masih ingat saat saya pertama kali diboyong suami ke kampung ini, mereka pemuda-pemuda yang sekarang menikah itu masih berseragam SD dan getol-getolnya ngaji jadi santri kalong (santri yang tidak menetap). Kini, mereka telah dewasa dan beranjak berumah tangga, adik adik mereka, bahkan anak-anak mereka lah yang bergantian datang untuk mengaji. Seperti itulah kehidupan, datang dan pergi silih berganti.

Semarak Bulan Musim Kawin

Begitu juga dengan keuangan. Seharusnya saya tidak perlu resah menghadapi bulan kawin ini. Saat ada rejeki dan diperuntukkan untuk memenuhi undangan mereka, berarti itu memang rezeki mereka melalui tangan kita. Jadi kenapa harus resah ya?

Toh buktinya selalu ada kebaikan yang mengikuti jika kita pada awalnya berbuat dengan disertai niat baik pula. Seperti hantaran makanan dan kue dari tetangga pagi ini. Bukankah sudah membantu meringankan pengeluaran yang seharusnya dikeluarkan untuk sarapan?

Jadi gak begitu kebobolan juga kali ya, hehe...

Read more ...