Tanpamu, belum tentu aku bisa jadi blogger...
Masih ingat saja sampai sekarang, tetangga ada yang bertanya, bagaimana caranya bisa mendapatkan pekerjaan seperti saya, yang dimatanya cukup menerima produk, lalu mereview dengan rekaman ala-ala shooting film gitu, terus diupload di sosial media.
“Beneran itu dibayar? Kok bisa sih Teh? Ajarin aku dong pengen bisa juga kaya gitu...”
Saya hanya tersenyum saja menyikapinya. Sambil memberikan jawaban. Kalau mau mendapatkan job seperti itu, jadi blogger aja dulu. Nanti perlahan-lahan kalau bisa konsisten peluang mendapatkan pemasukan akan datang dengan sendirinya.
“Blogger teh naon? Bagaimana caranya?”
Perlahan juga saya jelaskan, jika blogger itu siapa saja yang suka menulis di blog. Tulisannya bisa apa saja, termasuk review dan curhat (saya banget pokonya ...) dan untuk memiliki blog tentu saja kita harus akses gadget dan internet.
“Anak saya hapenya canggih. Pasti bisa atuh jadi blogger seperti Teh Okti, ya?” kata tetangga saya yakin.
“Oh tentu saja, siapapun bisa menjadi blogger. Silakan suruh anaknya search di google saja kalau gitu. Lebih mudah cari informasinya kalau gadgetnya canggih dan udah terkoneksi dengan internet mah.” Jawab saya senang. Sekaligus mengakhiri obrolan. Merasa gak akan ada ujungnya kalau apa yang dibahas, sedikit pun tak dimengerti oleh lawan bicara.
Tidak sedikit yang bertanya seperti itu. Selain ibu-ibu tetangga di kampung , ada juga dari teman-teman sekolah, teman-teman suami, dan ada dari para mahasiswa yang domisili atau belajar di Cianjur.
Semua tentu saja saya kasih informasinya. Secara saya justru senang kalau kedepannya bermunculan banyak blogger Cianjur yang berkualitas dan konsisten. Jadi jika ada acara, saya ada teman pakukumaha...
Namun sekitar 13 tahun saya tinggal di Cianjur Selatan setelah menikah ini, ternyata tidak banyak blogger yang “berhasil” atau paling tidak konsisten dalam mengurus blognya.
Memang dikira gampang menjadi blogger? Memang uang bisa mampir sendiri begitu saja tanpa ada benefit yang bisa diambil?
Sementara saya sendiri yang dikira tetangga “Enak pisan Teh Okti mah jadi blogger, diam di rumah aja terima paketan lalu review dapat deh uang...”
Hello... Tidak semudah itu pada kenyataannya. Tentu saja saya jadi blogger pun mengawalinya dari nol. Karena jaman saya sekolah, di tanah air belum ada internet. Saya mengenal dunia blogging pun saat saya kerja di Taiwan. Saat itu kecanggihan teknologi memang lebih dahulu berkembang di sana.
Ketika saya pulang kampung, tinggal di pelosok Cianjur yang belum masuk internet perjuangan saya untuk tetap bisa update blog pun bisa dibilang berdarah-darah.
Andai tidak ada support sistem yang mendukung saya secara mental maupun emosional belum tentu blog saya bisa hidup sampai sekarang dan orang menyebut saya sebagai blogger.
Saya harus berterima kasih kepada mereka yang selalu membantu saya sehingga saya tetap kuat. Tanpa sistem pendukung ini tidak mungkin saya menjadi saya seperti sekarang ini.

Siapa saja yang menjadi support system sehingga saya bisa menjadi seorang blogger?
Support System Keluarga
Support system pertama yang saya miliki adalah keluarga di rumah. Mereka terdiri dari suami, anak, orang tua, termasuk sahabat dan teman.
Suami
Setelah menikah saya meyakini jika apa pun yang saya lakukan harus seizinnya. Alhamdulillah suami sangat mendukung. Ketika ada acara blogger ia sering mencoba mendaftarkan diri demi bisa menemani saya. Ketika harus melakukan kewajiban yaitu menulis reportase acara dan tugas sosial media lainnya, ia rela belajar dan mengadaptasikan dirinya dengan semua aktivitas blogging.
Pun ketika internet baru masuk ke wilayah Cianjur Selatan ia langsung daftar berlangganan dengan tujuan memudahkan saya dalam mengerjakan segala job yang diterima.
Ketika sudah memiliki anak, suami memahami bagaimana kerepotan saya diganggu balita. Ia dengan sadarnya mau momong anak, memberikan saya keleluasaan untuk menyelesaikan apa yang seharusnya saya kerjakan.
Pokoknya suami menjadi support system pertama dan utama bagi saya hingga saya bisa tetap update artikel di blog hingga saat ini. Terimakasih ya Pak Suami...
Anak
Sejak kecil, anak sudah sering melihat saya mengetik dan edit foto atau video. Dengan sendirinya ia bisa mengatakan ibu sedang kerja, jika melihat saya dengan kegiatan itu.
Semakin anak besar, apalagi saat pandemi, anak dituntut untuk bisa menggunakan gadget. Tidak begitu sulit saya memberitahukan. Yang ada justru anak lebih pintar. Anak dengan piawainya bisa mengoperasikan sendiri gadget, dan saking pintarnya ia sering melenceng menggunakan gadget di luar waktu yang saya berikan.
Akhirnya saya memberikan batasan kapan anak bisa menggunakan gadget dan kapan ia harus menyimpannya.
Awalnya saya ragu, jangan-jangan anak bakal komplain, kenapa ia dibatasi megang gadget, sementara saya justru setiap ada waktu senggang justru pakai hape.
Alhamdulillah rupanya anak memang sudah tahu, kalau saya megang hape berarti memang sedang kerja. Entah itu ngedraf tulisan, menyelesaikan tugas di group support baik blog maupun media sosial, atau sedang mengerjakan pekerjaan terkait blogging lainnya.
Saya emang selalu minta dukungan terhadap anak. Apalagi kalau hendak ngejar trending topik di Twitter (X) karena biasanya dalam waktu tertentu saya butuh fokus ke gadget. Jika anak tidak diberitahu kemungkinan ia bisa mengganggu atau memecahkan konsentrasi saya.
Orang tua
Dalam hal ini yang masih ad adalah ibu saya sendiri. Sejak pulang kampung dari merantau dan aktif ikut acara blogger di seputar Jabodetabek, saya masih bisa pulang pergi meski kadang harus tidur dalam kendaraan.
Namun jika ikut acara blogger yang lebih jauh dan lebih lama, saya selalu menitipkan anak kepada neneknya. Ibu saya pun siap dan mendukung saat ketitipan anak karena ibu selalu saya beri tahu mau kemana dan acara apa, lalu pulangnya kapan.
Sahabat dan Teman
Support system dari jajaran teman pun tidak mungkin saya lupakan. Sebagai blogger daerah, apalagi dulu waktu baru-baru pulang ke tanah air setelah belasan tahun merantau dari luar negeri saya merasa asing di negara sendiri. Pesatnya pembangunan dan semakin padatnya pemukiman bikin saya takut dan was-was menjadi korban tindakan kriminal.
Kegaptekan saya pun makin mengokohkan keberadaan sahabat dan teman-teman inilah yang sering membantu saya mencarikan solusinya. Jika saya kemalaman, selalu ada teman yang mengajak nginap di tempatnya. Otomatis makan dan kebersihan diri ditanggung di dalamnya.
Jika saya diburu waktu sementara kalau naik busway atau Kopaja (saat itu belum ada LRT) bisa terlambat, suka ada teman yang dengan senang hati mengantarkan saya menggunakan sepeda motornya ke lokasi acara.
Saat saya tertinggal infomasi karena ke kampung susah sinyal, teman dan sahabat ini selalu siap menjadi perpanjangan tangan informasi kepada saya. Termasuk ketika ada tawaran job, tidak sedikit teman yang lebih dahulu menawarkan kepada saya, sebelum dipublikasikan menerima pendaftaran secara umum.
Bayangkan kalau tanpa dukungan dan support dari mereka-mereka itu, bisa dipastikan saya tidak akan bisa selancar yang diharapkan setiap kali ada urusan.

Support System Dukungan Emosional
Mood
Suasana hati juga termasuk support system yang tidak bisa saya kesampingkan begitu saja. Kondisi mood sering mempengaruhi cepat lambatnya saya mendapatkan ide dalam menuangkan kegiatan ke dalam tulisan, atau saat harus menjabarkan jasil review ke dalam gambar atau video.
Dukungan Penghargaan
Adanya kejuaraan yang bisa saya ikuti dan apalagi jika kebetulan jadi juara, itu terasa sekali sangat memompa semangat saya untuk bisa menggali ide dan kreativitas semakin lebih baik.
Lingkungan yang nyinyir
Lebih ke ajang pembuktian. Ketika ada nyinyiran dari kiri kanan, saya jadikan support system saja untuk memacu saya bisa membuktikan kepada mereka yang nyinyir itu kalau saya juga mampu.
Dukungan Instrumen
Domain dan hosting
Sebagai blogger profesional, adanya kepemilikan TLD sudah pasti jadi sebuah identitas, bukan?
Sampai saat ini, sejak saya memiliki blog top level domain (TLD) sudah berganti jasa penyedia domain dan hosting selama dua kali. Awalnya tak banyak tahu kisaran harga dan sebagainya. Hingga semakin lama semakin banyak mendapatkan info saya bisa ketemu jasa penyedia domain dan hosting yang lebih murah dan lebih berkualitas.
Ponsel
Mengawali masuk dunia blog saat masih menjadi TKW, pilihan menulis menggunakan ponsel bukan hanya sebagai kepraktisan, tapi juga perpanjangan nyawa.
Ada membeli laptop tapi dinyinyiri kakek nenek alias orang tua majikan. Daripada terus terjadi pergesekan menggunakan ponsel jadi pilihan dan akhirnya setelah laptop dicuri maling saya justru lebih nyaman menggunakan ponsel. Saking terbiasanya, ponsel ini jadi support system yang tidak bisa tergantikan sampai sekarang.
Internet
Sebagai penulis, saya dituntut untuk mengimbanginya dengan membaca. Berkat adanya koneksi internet saya tidak merasa kesulitan dalam mencari informasi yang mendukung artikel-artikel yang saya buat.
Dukungan Informasi yang selalu memudahkan dan memotivasi saya untuk membangun perilaku dan membuat pilihan yang positif ini tentu saja bagian dari support system saya dalam mematangkan diri menjadi seorang blogger.
Jika perjuangan saya untuk menjadi blogger terbentuk karena banyak dukungan, mulai dari keluarga, emosional diri dan instrumen alat penunjang maka tidak menutup kemungkinan sebenarnya kita pun bisa menjadi support system bagi yang lainnya.
Mau blogger atau pun bukan, kita juga bisa menjadi support sistem yang baik bagi yang lain dengan berbagai macam cara:
- Mendukung dengan sepenuh hati. Untuk dapat menjadi sosok support system yang baik, seseorang perlu mendukung orang yang disayangi dengan dukungan sepenuh hati.
- Mau menjadi pendengar yang baik. Saat seseorang memerlukan tempat untuk berbagi cerita, siapkan waktu dan fokus terhadap permasalahannya.
- Dapat memberikan saran dan masukan akan masalah yang dihadapinya. Walaupun belum tentu saran dan masukan kita jadi solusinya.
Begitulah, perjalanan panjang saya dikelilingi begitu banyak support system sehingga saya bisa menjadi seorang blogger seperti sekarang ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar