Sabtu, 09 Februari 2019

Pendidikan Pedang Kehidupan

Pendidikan Pedang Kehidupan

Kemarin sepulang sekolah, setelah ganti pakaian dan makan camilan yang tersedia di meja, Fahmi izin main di teras rumah Salwa, anak tetangga.

“Tapi Ami mau bawa buku dan pensil, Bu.”

Ketika ditanya buat apa, jawabnya mau jadi guru. Maksudnya mungkin mereka akan belajar bersama. Hanya karena Fahmi sudah kelas dua, sementara Salwa kelas satu, maka Fahmi yang berperan sebagai guru.

“Jangan main dulu lah, bantu ibu dulu yuk,” pinta saya sedikit membujuk. Saat ini saya memang sedang repot karena sedang ada orang bekerja di belakang. Rencana kami mau bangun satu ruangan untuk tempat mengaji anak santri. Selama ini kasihan anak mengaji umpel-umpelan di ruang tamu yang sempit itu. Dan Fahmi biasanya bisa saya andalkan untuk pekerjaan ringan.

“Duh, ibu. Ami sudah janji.” Katanya merenggut.

Saya tertawa. Lalu mengangguk membiarkan ia belajar dan main ke rumah Salwa yang jaraknya hanya terhalang jalan.

“Nuhun ibu. Nanti kalau Ami terus belajar sekolah-sekolahan bisa jadi pahlawan nasional.” Katanya seraya berlari menenteng buku dan tempat pensil.

Saya tertawa. Itu anak ada saja ulahnya. Apa katanya tadi? Jadi pahlawan nasional? Ha-ha-ha. Itu pasti karena termakan cerita dari neneknya di Sukanagara. Soalnya beberapa hari lalu saat menginap di neneknya, sepupunya juga ikut menginap di sana. Mereka pasti bercerita seru soal itu.

Saya tahu karena seperti diceritakan si mamah kepada saya jaman saya kecil, si mamah selalu bercerita tentang Raden Dewi Sartika. Tidak bosan-bosan karena hanya kisah tokoh itu yang diketahui si mamah. Itu pun --sebagaimana diakuinya-- tahu dari cerita gurunya lagi saat sekolah di madrasah dulu.

Tidak heran jika setelah terus menerus saya yang dicekoki tokoh heroik perempuan Sunda itu, kini Fahmi cucunya yang juga mendapatkan cerita yang sama.

Saya sendiri merasa senang ketika si mamah dulu bercerita --tepatnya mendongeng—tentang tokoh pahlawan nasional Raden Dewi Sartika ini. Memang banyak motivasi hidup dan nilai kebaikan yang bisa diajarkan kepada anak, khususnya dalam hal semangat dunia pendidikan.

Seperti kita tahu, Raden Dewi Sartika yang lahir di Cicalengka, Bandung, 4 Desember 1884 ini adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita di tatar Sunda. Ia diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1966.

Cerita dari si mamah, juga dapat membaca dari berbagai sumber, dikatakan kalau sejak masih anak-anak, Raden Dewi Sartika selalu bermain sekolah-sekolahan dan ia yang menjadi gurunya. Hal itu selalu dilakukannya setelah pulang sekolah bersama teman-temannya.

Bagi Dewi kecil, pendidikan penting untuk mendapatkan kekuatan dan kesehatan. Anak harus sehat secara jasmani maupun rohani. Kudu ”cageur bageur” (sehat rohani, jasmani dan berkelakuan baik) selain pendidikan susila dan pendidikan kejuruan. Dewi kecil pada masa itu sudah memikirkan jika pendidikan penting untuk kaum wanita.

Dalam buku yang ditulisnya, Raden Dewi Sartika menghendaki adanya persamaan hak antara laki-laki dan wanita. Untuk bisa bekerja wanita harus diberi pendidikan.

Satu yang sangat dipegang Raden Dewi Sartika adalah pendidikan yang sesuai dengan budaya Sunda. Meskipun sebelumnya ia sudah menerima pengetahuan mengenai budaya barat namun ia tidak melupakan adat serta tradisi tatar Pasundan.

Sejarah mencatat 16 Januari 1904, Raden Dewi Sartika membuat sekolah yang bernama Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung. Sekolah tersebut kemudian direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910. (Wikipedia)

Karena banyak diminati, sekolah yang dibuatnya terus berdiri di berbagai daerah di Jawa Barat. Hingga akhirnya berkembang menjadi satu sekolah di tiap kota maupun kabupaten di Jabar. Pada September 1929, sekolah tersebut berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi. Di Cianjur sendiri ada sekolah Ibu Dewi yang beralamat di Jalan Siliwangi.

Kisah keutamaan pendidikan bagi semua kalangan itu yang terus ditekankan si mamah, sebagaimana begitu juga gurunya dulu menekankan pentingnya pendidikan kepada anak didiknya. Tidak heran kalau si mamah menerapkan hal yang sama kepada saya, dan kini kepada cucunya, Fahmi.

Ditambah dengan menikah ke almarhum bapak yang asli Tasikmalaya, si mama sempat mengunjungi patilasan makam Raden Dewi Sartika di Cineam (makamnya sudah dipindahkan) Raden Dewi Sartika memang meninggal di Tasikmalaya pada pada 11 September 1947 dan akhirnya makamnya dipindahkan ke Bandung. Maka semangat bercerita tentang Raden Dewi Sartika si mamah pun semakin bertambah.

Bagi kami, khususnya saya dan keluarga, dan mungkin umumnya urang Sunda, Raden Dewi Sartika bukan hanya sebatas pahlawan nasional, karena jadi pahlawan itu bukan tujuan beliau dalam perjuangannya menerapkan pendidikan kepada semua kalangan. Toh ia lahir dan menjalankan program sekolah keutamaan istri jauh sebelum bangsa ini merdeka. Tetapi lebih kepada keyakinannya jika pendidikan itu modal untuk mempertahankan kehidupan, karena disadari dengan pendidikan yang setara hidup akan terasa lebih mudah dijalani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar