Senin, 08 Januari 2024

Antara Penolakan Sopir Angkot dan Panen Manggis

Setelah melakukan perjalanan kendaraan roda dua nonstop dari Pagelaran ke Karangtengah selama lebih dari dua jam lebih,  sampai di rumah sebelum membuka kunci pintu, mata ini terbelalak melihat pohon manggis yang ditanam di sudut pekarangan ternyata berbuah cukup lebat.

Bagaimana tidak terkejut, pohon manggis yang sudah bertahun-tahun susah payah ditanam dan dirawat (mengingat lahan kecil dan terhalang tembok rumah tetangga sehingga pertumbuhan tidak maksimal) ternyata sudah berbakti dengan memberikan buah yang cukup banyak.

Alhamdulillah ada obat haus, secara diteliti lebih lama, di pohon manggis yang sebagian besar masih mentah itu ada beberapa yang sudah berwarna ungu alias sudah matang. Bahkan ketika pandangan menyapu ke bawah pohonnya ada dua buah manggis yang sudah jatuh, tapi kondisi masih bagus. Mantap, secara itu namanya matang di pohon. Bukan matang peraman. Rasanya terbayang manisnya legit asli.

Karena penasaran, alih-alih segera membuka kunci dan masuk rumah, meletakkan semua barang bawaan-- saya dan suami diikuti anak justru malah memutar ke halaman samping dan belakang. Penasaran ingin melihat pohon manggis yang ditanam juga di halaman samping dan halaman belakang.

Antara Penolakan Sopir Angkot dan Panen Manggis
Pohon manggis di sudut pekarangan ternyata berbuah!

Yang di halaman samping ternyata berbuah juga, ada empat buah manggis yang masih mentah. Tapi dibandingkan dengan buah dari pohon di halaman depan, buah manggis yang di samping ini lebih besar-besar.

Sementara manggis yang di halaman belakang ternyata belum berbuah. Entah sudah berbuah tapi keburu ada yang ngambil, secara manggis di belakang itu tidak dipagar. Buah kelapa dan jambu yang bersisian dengan pohon manggis itu saja sudah sering kedapatan dicuri orang. Maklum, kami jarang tinggal di rumah peninggalan mertua di Cianjur kota ini. Tepatnya setelah gempa Cianjur menimpa akhir tahun 2022 lalu.

Setelah merasa puas dan bahagia dengan berbuahnya pohon manggis yang ditanam sendiri itu baru kami masuk rumah dan bersih-bersih.

Jika dihitung, mulai tanam sampai berbuah kali ini pohon manggis itu sudah berusia sekitar lima tahun. Alhamdulillah. Tuhan masih memberikan kesempatan saya dan suami menanam buah-buahan dan hasilnya bisa dipetik sendiri. Padahal sih dulunya kami berniat menanam pohon buah-buahan itu hasilnya untuk dipetik anak cucu.

Secara kalau ingat perjuangan membawa dan menanam pohon manggis itu sempat bikin drama yang bikin hati kesal dan mengumpat.

Antara Penolakan Sopir Angkot dan Panen Manggis
Manggis di samping rumah lebih sedikit tapi buahnya lebih besar

Jadi saat itu saya yang masih aktif di Migrant Institute bawahan naungannya Dompet Dhuafa setiap tahun mengadakan jambore buruh migran. Mantan buruh migran beserta keluarganya bisa hadir dan mengikuti seluruh rangkaian acara. Kebetulan saat itu jambore diadakan di Sleman Yogyakarta dihadiri oleh menteri tenaga kerja saat itu, Pak Hanif Dhakiri.

Setelah selesai acara, sebelum pulang suami yang hobi nanam apa saja jalan-jalan melihat bibit pohon salak, eh malah bertemu dengan penjual bibit buah-buahan manggis yang katanya bagus. Penjual bilang pembeli bibit buah-buahan dari dia mengatakan lima tahun saja tanaman itu sudah bisa berbuah. Saya saat itu percaya tidak percaya. Tapi suami keukeuh mau beli bibit buah manggis tiga pohon meski harga termasuk mahal.

Pengennya suami beli banyak, biar bisa nanam di kebun juga. Tapi saya ingatkan kalau beli banyak, susah membawanya secara kami saat itu ke Yogyakarta naik bus. Mau disimpan dimana itu bibit pohonnya. Di bagasi bis gak yakin bisa aman. Yang ada bisa layu duluan kena panas mesin kendaraan. Masih mending kalau  bawa kendaraan sendiri.

Akhirnya jadilah beli tiga pohon. Saat di bus, bibit itu disimpan di sisi kursi sebelah dalam di samping saya. Secara anak dan suami duduk di barisan lain.

Tahu gak selama semalaman saya hampir ga bisa tidur gara-gara “menjaga” bibit pohon manggis itu supaya tidak rusak. Penjual bilang pucuk dan daun jangan sampai rusak.

Sampai di Cianjur, dari terminal bis ke rumah harus naik angkot sekali. Saat itu di sini belum ada ojek online atau taksi online seperti sekarang.

Antara Penolakan Sopir Angkot dan Panen Manggis
Senangnya bisa memetik manggis hasil tanam sendiri

Drama pun muncul di sini. Secara ketika anak dan saya sudah naik angkot dan duduk berbenah, ketika suami mau naik terakhir dengan membawa tiga buah bibit pohon manggis  sang sopir menolak!

Katanya nanti bikin sempit penumpang lain. Suami bilang ga apa nanti dia mau duduk di dekat pintu saja dan bibit pohon manggis dipastikan tak akan mengganggu penumpang lain.

Eh, sopir angkot tetap ngotot kalau dia tak mau bawa penumpang dengan bawaan seperti bibit yang kami bawa. Padahal suami juga menawarkan akan membayar ongkosnya sebagai ganti satu orang penumpang jika memang bikin sempit penumpang lain.

Tapi malah secara tak pantasnya sopir angkot malah bilang “Kalau saya daripada bawa bibit pohon begitu bikin ribet, mending beli buahnya saja sekalian. Nanam pohon berapa lama, keburu tua. Beli buahnya tinggal makan.”

Secara tidak langsung sang sopir udah nyinyirin kami yang bela-belain repot udah bawa anak, bawa barang bawaan lain seperti tas pakaian dan kardus bakpia oleh-oleh khas Yogyakarta ditambah lagi dengan bibit pohon.

Suami mungkin tersinggung. Mengatakan ke sopir kalau gak mau angkut kami tak apa-apa, biar kami akan menunggu angkutan lain saja. Sang sopir mengiyakan.

Tapi pas tahu saya dan anak turun, sopir gak terima. Lah, masa saya dan anak naik angkot sementara suami tidak? Yang bener saja?

Sopir marah-marah karena menurutnya penumpangnya jadi berkurang. Saya dan suami hanya menahan tawa. Salah siapa gak mau bawa suami, ya saya dan anak juga gak jadi naik lah... Orang kami ini berita satu paket. Haha...

Padahal kalau dilihat bibit pohon manggis itu yang tingginya gak sampai setengah meter, juga bagian akar/pot dibungkus kertas semen dan kemudian dilapisi plastik tak akan begitu ngambil banyak tempat. Tapi ya sudahlah, kami diam saja. Sampai akhirnya ada angkot yang mau bawa kami dan tak komplain apapun hingga kami turun di jalan masuk perumahan.

Antara Penolakan Sopir Angkot dan Panen Manggis
Sambil rebahan, rasanya gak percaya kalau kisah manggis ini akhirnya berbuah manis

Membayangkan begitu jengkelnya saat itu kami berhadapan dengan sopir angkot, rasanya lupa sudah semua macam drama mengesalkan itu tergantikan dengan pohon manggis yang kini sudah berbakti memberikan kami buah yang cukup banyak dan besar-besar.

Sejujurnya kami gak paham bagaimana kami bisa mengatasi penolakan. Tapi dipikir lagi sekarang, bisa jadi penolakan yang kami terima akan ribetnya membawa bibit pohon manggis itu justru jadi berkah tersendiri dan kami anggap penolakan adalah bagian dari proses normal.

Kalau saja saat itu kami mengalah, termakan penolak sopir angkot untuk “membuang” bibit pohon manggis, mungkin sekarang kami gak bakal merasakan bagaimana bahagianya bisa memetik buah manggis hasil nanam sendiri dan menikmati rasanya yang legit sehat menyegarkan.

Sekarang, saya dan suami makin rajin nanam pohon buah-buahan. Mau cepat berbuah atau tidak, tidak masalah. Yang penting kami sudah mencoba. Syukur kalau bisa kami petik buahnya, kalaupun kami keburu meninggal dunia, anggap saja bekal kelak buat anak cucu...

Antara Penolakan Sopir Angkot dan Panen Manggis
Buah ungu hitam manis, manggis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar