Selasa, 21 Februari 2023

Fenomena Gadai Sawah

Saya tahu suami dan anak kecewa pas mau makan, nasinya agak lembek kaya berair. Tapi mau gimana lagi daripada perut nanti kelaparan dan nasinya jadi mubadzir?

“Ini beras yang kita giling kemarin itu, ya?”

“Iya. Ini beras Bromo hasil bagi panen musim ini.”

“Masa tanam nanti coba kita bicarakan sama panyawah biar cari bibit lain yang lebih bagus. Ini kalau tahu begini kemarin mending dijual semua saja ya?”

Saya hanya mengangguk. Gak begitu tahu banyak soal benih padi dan perintilannya. Tahu jenis padi Bromo saja setelah dibilangin tetangga ketika melihat kami sedang menjemurnya di halaman pabrik penggilingan. Tetangga bilang jenis Bromo mah kurang bagus, berasnya pecah-pecah, nasi nya jadi kurang pulen.

Selama ini saya beras biasa beli di pasar. Jadi gak pernah merasakan komplen apa-apa karena emang beli beras harga standar, hasilnya lumayan pulen.

Kali ini aja mendapatkan beras pembagian hasil panen dari sawah yang kami gadai. Dan hasilnya ternyata tidak maksimal. Waktu dipanen memang belum kuning maksimal karena takut keburu masuk bulan Ramadan. Sebagian malah masih ada yang hijau tapi ya tetap dipanen. Daripada, nanggung nanti Ramadan saat puasa harus mengerjakannya.

Kebanyakan petani di kampung menghindari melakukan pekerjaan di sawah saat Ramadan. Ya biar ibadah puasa gak terganggu saja.

Sebenarnya tahun lalu juga sudah pernah sekali panen, masih dari sawah yang sama. Tapi saat itu kena serangan hama tikus. Dari lima petak sawah yang biasanya bisa menghasilkan satu ton setengah, hanya bisa terkumpul sekitar 700 kintal gabah saja. Merugi memang. Tapi daripada hangus sama sekali. Kala itu jenis padinya Sriwedari.

Terbayang rumitnya jadi petani kalau gagal panen seperti itu. Kami saja yang bukan petani dan tidak terjun langsung ke sawah udah merasa banyak khawatir dan kecewa. Dipikirin terus bisa stress dan jadi tekanan. Gak dipikirkan ya sayang banget kalau terus merugi. Bisa-bisa sering bolak-balik ke dokter buat cek kesehatan mental dan konsultasi psikiater.

Menggadai sawah di kampung memang untung-untungan. Hasil panen yang diimpikan tidak bisa diprediksi. Kalau boleh curhat, selama beberapa kali menggadai sawah belum ada satu pun yang memuaskan. Mulai kena tipu, kena hama, kena rugi, banyak banget deh drama dan fenomenanya.

Tidak sedikit bikin makan hati dan berujung percekcokan. Bikin sakit hati lah. Hanya saja sampai tidak berantem apalagi ngajak gelut. Saya dan suami memilih mengalah dan menyerahkan kepada pihak pemilik lahan untuk bisa membawanya dunia dan akhirat kalau memang sama sekali tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Dipikir lagi dari sekian banyak proses akad gadai sawah yang kami jalankan mungkin kali ini yang terbilang lumayan. Merugi hanya karena faktor alam, bukan human eror seperti pengalaman sebelumnya.

Kalau sebelum-sebelumnya bisa dibilang lebih tragis. Ada yang ngajak akad, ternyata sawah yang digadai bukan sawah miliknya, melainkan sawah pemerintah desa. Jadi boro-boro bisa bagi hasil, yang ada kami kesulitan menagih uang kembali. Sampai dicicil hingga tahunan, melibatkan keluarga dan memberikan tekanan melalui tempat mereka si suami istri itu bekerja supaya bisa mengembalikan uang kami.

Sampai uang semuanya berhasil kami ambil, hubungan kami jadi kurang baik. Jarang membalas sapaan kami kalau bertemu. Mungkin mereka marah dan malu kasusnya kami angkat ke muka umum. Padahal seharusnya kami yang harus marah, mereka yang sudah jelas-jelas menipu kami. Menggunakan aset negara buat kepentingan pribadi didukung RT dan Kades. Gak mikir memang...

Jadi bisa dibilang proses akad kali ini jauh lebih baik. Kali saja hasilnya kurang bagus, mungkin tinggal komunikasi lagi yang intens supaya bisa didiskusikan mencari bibit padi yang baik, mendapatkan pupuk yang bagus dan sesuai, termasuk pengairan dan perawatan yang maksimal.

Salah satu yang saya suka dari pesawahan itu suasananya

Saya tidak ingin anak dan suami makan nasi yang kurang bagus meski itu gratis hasil panen akadan gadai. Kalau masih bisa diupayakan hasil lebih baik, kenapa tidak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar