Selasa, 14 Juli 2026

Terjebak Gengsi hingga Lupa Investasi: 5 Kesalahan Atur Uang yang Sering Dilakukan Orang Indonesia



Kesalahan Atur Uang yang Sering Dilakukan Orang Indonesia


Mengelola keuangan pribadi bagi ibu rumah tangga macam saya ini emang gampang-gampang susah. Di era digital saat ini, godaan untuk membelanjakan uang rasanya ada di setiap sudut layar ponsel. Akibatnya, banyak dari kita yang merasa uang di tangan, baik itu nafkah dari suami, uang gaji atau pendapatan bulanan hanya "numpang lewat" tanpa tahu ke mana larinya.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ada beberapa kebiasaan dan kesalahan berulang dalam mengatur keuangan yang masih sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Apa saja? Yuk, kita bedah satu per satu agar kita bisa menghindarinya.


1. Mengikuti Gaya Hidup Demi Gengsi (FOMO)

Salah satu jebakan keuangan terbesar saat ini adalah tren FOMO (Fear of Missing Out) dan budaya "mendang-mending" yang salah tempat. Banyak orang Indonesia yang memaksakan diri membeli barang bermerek, nongkrong di kafe mahal, atau liburan demi konten media sosial dan pengakuan sosial.

Padahal jika saja kita punya prinsip dasar, bahwa bergaya sesuai kemampuan itu wajib, tapi bergaya demi penilaian orang lain adalah jalan pintas menuju krisis keuangan. Kita bisa menghindari itu. Jangan sampai besar pasak daripada tiang.


2. Tabungan dari "Sisa" Bulanan, Bukan Disisihkan di Awal

Kebanyakan orang memiliki pola pikir: Gaji - Pengeluaran = Tabungan.

Banyak orang yang menghabiskan uang terlebih dahulu untuk kebutuhan dan keinginan, lalu baru menabung jika ada sisa di akhir bulan. Faktanya, cara ini jarang berhasil karena uang biasanya akan habis tanpa sisa.

Pola pikir yang benar seharusnya dibalik: Gaji - Tabungan = Pengeluaran.

Begitu menerima pendapatan, segera sisihkan minimal 10% hingga 20% untuk tabungan dan investasi, baru kemudian sisanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.


3. Mengabaikan Dana Darurat (Emergency Fund)

Banyak yang mengira bahwa menabung saja sudah cukup, padahal tabungan biasa dan dana darurat adalah dua hal yang berbeda. Kesalahan yang sering terjadi adalah tidak mempersiapkan dana khusus untuk situasi tidak terduga, seperti sakit, PHK, atau kendaraan yang tiba-tiba rusak.

Tanpa dana darurat, seseorang akan sangat rentan terjerat utang atau pinjaman online (pinjol) ilegal saat dihadapkan pada situasi kritis.


4. Tergiur Kemudahan Utang Konsumtif dan Fitur Paylater

Kehadiran fitur paylater dan kartu kredit sebenarnya bisa menjadi alat bantu keuangan jika digunakan dengan bijak. Sayangnya, banyak yang menggunakannya untuk konsumsi instan—seperti membeli baju baru atau tiket konser—bukan untuk kebutuhan produktif. Kemudahan "beli sekarang, bayar nanti" sering kali membuat orang lupa daratan hingga menumpuk utang dengan bunga yang tinggi.


5. Takut Berinvestasi atau Malah Terjebak Investasi Bodong

Ada dua ekstremitas yang sering terjadi pada masyarakat Indonesia terkait investasi:

Terlalu takut: Uang hanya didiamkan di rekening bank konvensional yang nilainya perlahan tergerus inflasi.

Terlalu nekat: Tergiur iming-iming keuntungan besar dan cepat tanpa memedulikan risiko, sehingga berakhir menjadi korban investasi bodong atau judi online.

Minimnya literasi keuangan membuat banyak orang belum paham pentingnya berinvestasi di instrumen yang aman dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seperti reksa dana, obligasi negara, atau saham.


Bagaimana Cara Memulainya?

Memperbaiki kesalahan keuangan tidak bisa dilakukan dalam semalam, melainkan butuh konsistensi. Anda bisa memulainya dengan metode sederhana seperti rumus 50/30/20

Peruntukan Alokasi Gaji

50% untuk: Kebutuhan Pokok (Makan, cicilan rumah, tagihan bulanan)

30% untuk:  Keinginan & Hiburan (Nongkrong, belanja hobi, self-reward)

20% untuk: Tabungan, Dana Darurat, & Investasi


Dengan mengenali kesalahan-kesalahan di atas dan mulai mendisiplinkan diri, finansial yang sehat dan merdeka secara keuangan insyaallah bukan lagi sekadar impian.

Yuk, manteman, mulai sekarang atur uangmu dengan lebih bijak dari sekarang! Kalau yang sudah terbiasa mengatur keuangan, saya ucapkan selamat ya.... 

37 komentar:

  1. Semua yang Teteh ucapkan di atas itu sering terjadi dan saya pernah lihat langsung bagaimana orang salah mengelola keuangannya sehingga terjebak dalam situasi yang sangat tidak mengenakan Itulah kenapa harus mengutamakan kebutuhan daripada keinginan dan harus realistis dalam menjalaninya karena uang itu harus benar-benar digunakan dengan sangat baik Jangan sampai salah kelola

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, sekarang mah dari sisi keuangan saya udah lebih rapi Teh.
    Utamanya, saya udah ninggalin percicilan dan segala yang berbau paylater. Ini tuh kayak jebakan, rasanya nyaman.. tau2 udah banyak bener cicilan.
    Terus yang FOMO-FOMO juga saya udah lama banget gak ngikutin.
    Sekarang mah kita JOMO aja (Joy of Missing Out). Alias dibawa santai aja, gak mikirin apa yang lagi tren, dan gak memaksakan diri untuk ikut masuk dalam pusaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik... Keren pisan atuh Jar...
      Semoga tabungannya semakin berlimpah ya... Aamiin...

      Hapus

  3. poin nomor 2 pasti buanyaaaaaaak yg begitu ;p.

    dulu pas masih kerja di bank, aku diajarin dgn teman yg memang jobdesknya di bagian growing asset management. kalau gaji datang, sisihin dulu untuk zakat, tabungan dan investasi, ini dulu.. baru sisanya utk pengeluaran... jangan kebalik. zakat juga penting, mau gaji kecil, kluarin deh 2.5% biar berkah.. kdg gaji kita ga bisa bertahan lama, ya krn masih ada hak orang lain di situ.

    setelah zakat, gaji dan invetasi aku sisihin, baru aku bagi utk pengeluaran bulanan. cukup2 aja...

    trus kalaupun nih, takuuut investasi ntah itu saham, obligasi, emas atau apapun, ya udah, beli mata uang asing deh.. sekarang udah hampir semua bank bisa nabung forex... setidaknya kalau rupiah suka jeblok kayak skr, at least kita simpen mata uang asing yg kuat dan stabil... jadi ga kuatir jeblok di masa depan.

    aku sendiri ada 4 simpanan forex yg tiap bulan selalu aku isi, MYR, USD, SGD dan GBP. Tabungan ku yg likuid, yg bisa diambil kapan pun butuh ya 4 mata uang ini... Rupiah ada ga? adaaa, tapi hanya untuk keperluan dapur dan jaga2 sedikiiit.

    sementara investasi jk panjang, itu saham, obligasi dan emas.

    dengan catatan, usahain jangan ada hutang... yang kebetulan aku memang ga ada.. kalau ada hutang, mungkin akan ada yg aku kurangi, utk bayar hutang dulu.. dikurangi, bukan dihilangkan . tapi skr ini hutang aku ga mau sentuh.. krn tahu diri, udah ga kerja :D .. Kalau suami, itu beda lagi.. berhubung dia masih kerja, palingan hutang dia dalam bentuk loan dari kantor, yg mana potong gaji.. so ga usah dipikirin cicilannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh komplit banget ini mb fanny setelah baca tulisan teh okti baca komen nya mb fanny jadi nambah lagi deh olmu financial.planning nya...bisa dijadiin contoh no buat mengelola uang bulananku dna bener banget usahain investasi zakat itu di depan jangan malah dari uang sisa..dna kurangin tuh fomo2 yg kadang gak penting banget buatvkita..sesekali boleh klo memang dirasa perlu yakk anggep aja sebagai hiburan kita

      Hapus
    2. kepikiran banget mau nabung mata uang asing gara-gara untuk naik haji itu pakai kurs dollar tapi masih belum banyak nih ilmunya. semoga aja nanti aku bisa nambah portofolio tabungan buat haji entah itu lewat forex atau investasi yang lain

      Hapus
  4. Nah iya. Pinnjaman online dan paylater tuh sekarang mudah banget. Jadi, orang-orang kayak punya ilusi duitnya banyak gitu. Soalnya, mereka pada ngasih tahu di aplikasinya kalau limitnya sekian. Terus orang-orang merasa tergiur pake. Padahal mah, mereka juga kudu mbayar.

    Lagi, soal tabungan. Kebiasaan banget nunggu ada uang sisa dari kebutuhan dan keinginan bulanan. Kenyataannya mah, kita kalau masih ada duit yang tersisa sukanya banyak mau. Tabungan di akhir akhirnya bye bye.

    BalasHapus
  5. Saya menyoroti poin ke dua. benar sekali itu, karena saya pun mengalami. beberapa uang saya sisa di akhir bulan. rencananya mau saya sisihkan. eh.. ternyata kepakai juga. jadi memang harus ada pemasukan, langsung disisihkan, baru sisanya dipakai.
    Dan yang palling penting zaman now itu menahan diri, agar tidak boncos. Karena godaan belanja online itu berat, belum lagi tawaran "Belanja dulu, bayar belakangan", hehehe. intinya membeli yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan.

    BalasHapus
  6. Iya mbak, startegi 50-30-20 ini memang sering di sarankan oleh para finansial planner. Terpenting jangan FOMO dan mudah ngutang, apalagi di era sekarang iklan pinjol dimana-mana, mungkin kelihatannya akh nanti di bayar, nyatanya bunga selangit. Pun dengan paylater, jangan dikit-dikit diandalkan banget, takut ketagihan dan lupa atur uang yang bener.

    BalasHapus
  7. Kadang kita merasa kondisi keuangan masih aman karena penghasilan tetap masuk, padahal tanpa sadar ada kebiasaan kecil yang justru bikin uang cepat habis. Saya juga pernah ada di fase membeli sesuatu karena merasa "mumpung mampu", baru belakangan sadar ternyata itu mengganggu rencana keuangan jangka panjang. Menurutku, mengatur uang memang bukan soal besar kecilnya penghasilan, tapi bagaimana kita mengambil keputusan setiap hari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya, bener pisan mbak Dinda. Keuangan bocor halus dari kebiasaan membeli segala sesuatu dengan kajian "mumpung mampu" padahal belum tentu beneran perlu. Yang ada uang makin berkurang aja ya kan?

      Bersyukur baca ini artikel, jadi bisa ngeauduit keuangan supaya nggak salah ambil keputusan.

      Hapus
  8. Masih denger juga yang takut invest, karena beragam alasan. Paling utama itu takut investnya bodong melihat kondisi jaman now yang mudahnya penipuan terjadi. Oleh karenanya, bisa sih padahal ya buat kelola keuangan pakai instrumen lain, minimal gak berhutang dan punya dana darurat

    BalasHapus
  9. Iya bener teh, kalau terima penghasilan, langsung sisihkan buat tabungan. Bukan sisa dari bayar2 keperluan baru nabung. Kebalik. Penting juga buat yang duitnya selalu pas-pasan jangan tergoda sama ilusi duit gede bernama pinjaman atau semacam paylater, itu jebakan yang bikin keuangan berantakan kalau cuma buat bayar2 jajan makanan dan barang konsumtif.

    BalasHapus
  10. Iya bener kayak gitu. Penghasilan sisihkan dulu, u/tabungan dan zakat. Baru sisanya u/ keperluan selama sebulan. Karena aku udah engga kerja, lebih-lebih lagi harus dicatat pengeluarannya. Mana harga² engga pernah turun pula. Kalau paylater aku engga pernah pakai.

    BalasHapus
  11. ulasan yang cukup menarik tapi sepertinya ini berlaku bagi yang mendapatkan pendapatan pas-pasan. kalau sudah lebih mah boleh-boleh saja. apalagi yang punya investasi di banyak perusahan pasti no 1 sudah pasti dilakukan, setidaknya untuk menghargai usaha yang dilakukan he he

    BalasHapus
  12. Naah itulah,,,orang Indonesia itu meskipun tidak semuanya masih terbalik sistem menabungnya itu. Rata-rata dari sisa penghasilan , padahal harusnya di awal menyisihkan dulu dari penghasilan untuk investasi atau menabung. Bukan sebaliknya menabung dari uang yang sisa ada . Saya juga pakai rumus 50:30;20 teh sama

    BalasHapus
  13. Kapan hari aku ikut Webinar ttg kelola duit.
    Poin2nya kurleb samaaa dgn yg dijabarkan Teh Okti.
    beneran reminder banget nihh, supaya kita makin bijak dalam ber-Financial Planning.🫶
    makasii makasiii

    BalasHapus
  14. Bener banget nih. Yg paling fatal tuh aku selalu menabung dari sisa pengeluaran. Imbasnya ya hanya menabung sedikit bgt. Boro2 mikir dana darurat. Buat menabung utk kehidupan sebulan ke depan aja msh sulit. Khususnya di era ekonomi sulit ini. Yg ada malah makan tabungan. Hehe.

    Mknya jgn diulangi kesalahan2 di atas ya. Hrs bisa menyisihkan sejak awal. Gpp kecil asal konsisten. Atau tetapkan sesuai rumus yg dikasih teh Okti di atas.

    BalasHapus
  15. Ulasannya ngena banget, Teh!
    Di era digital sekarang, godaan paylater sama gengsi FOMO di media sosial itu bener-bener nyata dan bikin keuangan boncos kalau gak kuat iman.

    Rumus alokasi 50/30/20 ini simpel tapi ampuh banget buat dicoba biar gak terjebak utang konsumtif. Selama ini pola pikir saya masih sering kebalik, belanja dulu baru sisanya ditabung, yang ujung-ujungnya malah zonk gak ada sisa sama sekali. Pengingat yang bagus banget buat mulai disiplin membalik rumusnya jadi Gaji - Tabungan = Pengeluaran.

    BalasHapus
  16. Di era sekarang itu godaan paylater itu bahaya banget sih berasa ada uang melulu buat belanja. Makanya memang seharusnya kita itu punya pengendalian diri yang baik dalam hal belanja dan literasi juga soal pengaturan uang

    BalasHapus
  17. Selama ini saya termasuk yang sisa gajian baru ditabungin. Ternyata pola pikir seperti itu keliru, ya hehehe...
    InsyaAllah mulai lagi deh manajemen keuangannya diperbaiki, biar dana tabungan, dana darurat dan investasi masuk ke dalam list dari awal perencanaan.
    Terima kasih Teh Okti untuk ilmu finansialnya. Alhamdulilah jadi kebuka pencerahannya

    BalasHapus
  18. ngerasa ketampar banget pas baca poin yang pertama sama kedua itu, emang bener banget sih. Kadang-kadang circle kita juga berpengaruh, jadi membebek kawan gara-gara fomo. Eh pas akhir bulan baru sadar duitnya abis gak bersisa buat ditabung. Kemudahan utang (paylater) pun bisa jadi jebakan batman sehingga menggiring kita menjadi sosok yang konsumtif, padahal kalau dipikir lagi sebenarnya tidak perlu banget. Intinya kita memang harus bijak mengelola keuangan supaya tidak mudah boncos dan tetap punya tabungan jika sewaktu-waktu ada kondisi darurat.

    BalasHapus
  19. Penting banget memang mengatur keuangan agar tidak jebol apalagi sampai besar pasak daripada tiang. Budgeting di awal adalah langkah yang tepat. Jadi menabung tidak dari sisa-sisa uang tapi memang sudah dianggarkan sejak awal.

    Kalau soal investasi emang butuh belajar. Karena semua investasi pasti ada resikonya.

    BalasHapus
  20. Di zaman sekarang yang keknya kondisi finansial sebagian oranbih parah dari zaman covid emang sebaiknya pintar2 lagi mengatur keuangan. Nomor satu kalau bisa nyari tambahan keuangan.
    Gengsi emang penyakit yaa, apalagi kalau banyak kumpul2 sama lingkingan toxic atau jangankan itu keknya terlalu sering buka story orang haha.
    Nah ya tabungan sebaiknya bukan dari dana sisa melainkan sudah ada posnya, serta dana darurat wajib punya.
    Namun memang ada kalanya nggak semua seberuntung itu karena ada aja yang kerja hari ini buat makan hari ini.
    Makanya bersyukur banget lha orang yang punya pekerjaan tetap dan nggak ada utang.

    BalasHapus
  21. wah, makasi artikelnya. Ini sangat membantu sekali. Terkadang kita juga khususnya saya pribadi, kalau lagi pengen beli barang, harus menunggu cair gaji atau honor dulu. Setelah cair, terkadang apa yang dibeli berbeda dengan apa yang dipengen sebelumnya bahkan kebutuhan di nomor duakan, hehehe. Pengalaman pribadi

    BalasHapus
  22. Penting banget sih bijak mengatur keuangan begini. Poin terpenting adalah tidak mudah berutang apalagi yang tiba apalagi yang tidak punya izin OJK

    BalasHapus
  23. godaan finansial di era digital tuh "sadis" ya, gak hanya fomo tren fashion, makanan hingga gadget atau tempat nongkrong tapi juga yang pay later-later itu. harus pinter-pinter ngendaliin diri ya dan komit.

    BalasHapus
  24. Itu mah asli teh, jangankan ibu-ibu komplek yang suka "panasan" kalo ada yang beli atau belanja barang, di kampung saya ge euhh masih keneh banyak yang gak mikir dua kali buat muasin nafsu pamer sama fomo sehingga keuangannya jadi bermasalah

    BalasHapus
  25. Dari 5 poin itu, yang agak sedikit saya sesali adalah tentang investasi. Alhamdulillah belum pernah kena investasi bodong. Tapi, kebanyakan mikirnya, sampai akhirnya merasa agak telat berinvestasi.

    BalasHapus
  26. Aku agak tersentil dari poin tabungan tidak sama dengan dana darurat berarti selama ini masih keliru :/
    Sedangkan poin investasi masih banyak yang harus dipertimbangkan, melihat orang2 yg kukenal & udah jalanin itu kurang berdampak lantaran keseringan menarik dana investasinya padahal belum mencapai keuntungan signifikan

    BalasHapus
  27. Ngeri banget emang kalau nurutin gengsi
    Bakal boncos dan terlilit utang pinjol biasanya
    Memang harusnya bijak dalam mengambil setiap keputusan tentang keuangan ya

    BalasHapus
  28. Artikel yang mengingatkan kalau mengatur keuangan bukan sekadar soal banyak atau sedikit penghasilan. Kadang kesalahan kecil yang terus diulang justru berdampak besar di masa depan. Insight-nya bermanfaat banget, terutama buat yang sedang belajar financial planning.

    BalasHapus
  29. Aku masih termasuk yang takut berinvestasi sih, palingan juga yang cenderung aman-aman saja seperti emas, tapi udah lama juga nggak beli lagi. Terima kasih sudah mengingatkan, Teh. Semoga bisa makin bijak dalam mengelola keuangan, termasuk menyisihkan untuk tabungan di awal sebelum kemudian disalurkan untuk pos-pos yang lainnya.

    BalasHapus
  30. urusan keungan sudah terbilang rapi, tapi jujur khawatir dengan berinvestasi di saham, obligasi, pasar uang atau sejenisnya, pengetahuanku untuk itu belum cukup.
    kira-kira belajar investasi seperti itu mulai darimana?

    BalasHapus
  31. Paylater memang agak kacau. Nilai angsuran stabil, sementara Nilai asli barang makin lama makin turun, kena depresiasi

    BalasHapus
  32. Duh ketampar ke mukaku sendiri nih. Sekitar 4 dari 5 kesalahan itu menimpaku. Hanya nomor 5 yang udah aku jalankan. Meski investasiku skrg lg anjlok parah. Aku investasi saham, yg perusahaannya malah ga jelas. Wkwk. Kyk Garuda Indonesia. Nilai sahamku udh anjlok 80%. Blm lagi Sido Muncul, Telkom, Waskita Beton hingga Sat Nusapersada yg dulu aktif bikin ponsel.

    Meski anjlok, biarin dah. Ntr ada masanya naik sendiri. Kalo udh naik, lgsg jual aja. Jgn FOMO, takut anjlok mkn parah, malah dijual. Padahal anjloknya hanya di atas kertas. Kalo dijual beneran dlm posisi skrg, ya rugi parah dong.

    BalasHapus