Mengelola keuangan pribadi bagi ibu rumah tangga macam saya ini emang gampang-gampang susah. Di era digital saat ini, godaan untuk membelanjakan uang rasanya ada di setiap sudut layar ponsel. Akibatnya, banyak dari kita yang merasa uang di tangan, baik itu nafkah dari suami, uang gaji atau pendapatan bulanan hanya "numpang lewat" tanpa tahu ke mana larinya.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ada beberapa kebiasaan dan kesalahan berulang dalam mengatur keuangan yang masih sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Apa saja? Yuk, kita bedah satu per satu agar kita bisa menghindarinya.
1. Mengikuti Gaya Hidup Demi Gengsi (FOMO)
Salah satu jebakan keuangan terbesar saat ini adalah tren FOMO (Fear of Missing Out) dan budaya "mendang-mending" yang salah tempat. Banyak orang Indonesia yang memaksakan diri membeli barang bermerek, nongkrong di kafe mahal, atau liburan demi konten media sosial dan pengakuan sosial.
Padahal jika saja kita punya prinsip dasar, bahwa bergaya sesuai kemampuan itu wajib, tapi bergaya demi penilaian orang lain adalah jalan pintas menuju krisis keuangan. Kita bisa menghindari itu. Jangan sampai besar pasak daripada tiang.
2. Tabungan dari "Sisa" Bulanan, Bukan Disisihkan di Awal
Kebanyakan orang memiliki pola pikir: Gaji - Pengeluaran = Tabungan.
Banyak orang yang menghabiskan uang terlebih dahulu untuk kebutuhan dan keinginan, lalu baru menabung jika ada sisa di akhir bulan. Faktanya, cara ini jarang berhasil karena uang biasanya akan habis tanpa sisa.
Pola pikir yang benar seharusnya dibalik: Gaji - Tabungan = Pengeluaran.
Begitu menerima pendapatan, segera sisihkan minimal 10% hingga 20% untuk tabungan dan investasi, baru kemudian sisanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
3. Mengabaikan Dana Darurat (Emergency Fund)
Banyak yang mengira bahwa menabung saja sudah cukup, padahal tabungan biasa dan dana darurat adalah dua hal yang berbeda. Kesalahan yang sering terjadi adalah tidak mempersiapkan dana khusus untuk situasi tidak terduga, seperti sakit, PHK, atau kendaraan yang tiba-tiba rusak.
Tanpa dana darurat, seseorang akan sangat rentan terjerat utang atau pinjaman online (pinjol) ilegal saat dihadapkan pada situasi kritis.
4. Tergiur Kemudahan Utang Konsumtif dan Fitur Paylater
Kehadiran fitur paylater dan kartu kredit sebenarnya bisa menjadi alat bantu keuangan jika digunakan dengan bijak. Sayangnya, banyak yang menggunakannya untuk konsumsi instan—seperti membeli baju baru atau tiket konser—bukan untuk kebutuhan produktif. Kemudahan "beli sekarang, bayar nanti" sering kali membuat orang lupa daratan hingga menumpuk utang dengan bunga yang tinggi.
5. Takut Berinvestasi atau Malah Terjebak Investasi Bodong
Ada dua ekstremitas yang sering terjadi pada masyarakat Indonesia terkait investasi:
Terlalu takut: Uang hanya didiamkan di rekening bank konvensional yang nilainya perlahan tergerus inflasi.
Terlalu nekat: Tergiur iming-iming keuntungan besar dan cepat tanpa memedulikan risiko, sehingga berakhir menjadi korban investasi bodong atau judi online.
Minimnya literasi keuangan membuat banyak orang belum paham pentingnya berinvestasi di instrumen yang aman dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seperti reksa dana, obligasi negara, atau saham.
Bagaimana Cara Memulainya?
Memperbaiki kesalahan keuangan tidak bisa dilakukan dalam semalam, melainkan butuh konsistensi. Anda bisa memulainya dengan metode sederhana seperti rumus 50/30/20
Peruntukan Alokasi Gaji
50% untuk: Kebutuhan Pokok (Makan, cicilan rumah, tagihan bulanan)
30% untuk: Keinginan & Hiburan (Nongkrong, belanja hobi, self-reward)
20% untuk: Tabungan, Dana Darurat, & Investasi
Dengan mengenali kesalahan-kesalahan di atas dan mulai mendisiplinkan diri, finansial yang sehat dan merdeka secara keuangan insyaallah bukan lagi sekadar impian.
Yuk, manteman, mulai sekarang atur uangmu dengan lebih bijak dari sekarang! Kalau yang sudah terbiasa mengatur keuangan, saya ucapkan selamat ya....
Semua yang Teteh ucapkan di atas itu sering terjadi dan saya pernah lihat langsung bagaimana orang salah mengelola keuangannya sehingga terjebak dalam situasi yang sangat tidak mengenakan Itulah kenapa harus mengutamakan kebutuhan daripada keinginan dan harus realistis dalam menjalaninya karena uang itu harus benar-benar digunakan dengan sangat baik Jangan sampai salah kelola
BalasHapusKebutuhan ya, bukan keinginan...
HapusAlhamdulillah, sekarang mah dari sisi keuangan saya udah lebih rapi Teh.
BalasHapusUtamanya, saya udah ninggalin percicilan dan segala yang berbau paylater. Ini tuh kayak jebakan, rasanya nyaman.. tau2 udah banyak bener cicilan.
Terus yang FOMO-FOMO juga saya udah lama banget gak ngikutin.
Sekarang mah kita JOMO aja (Joy of Missing Out). Alias dibawa santai aja, gak mikirin apa yang lagi tren, dan gak memaksakan diri untuk ikut masuk dalam pusaran.
Asyik... Keren pisan atuh Jar...
HapusSemoga tabungannya semakin berlimpah ya... Aamiin...
BalasHapuspoin nomor 2 pasti buanyaaaaaaak yg begitu ;p.
dulu pas masih kerja di bank, aku diajarin dgn teman yg memang jobdesknya di bagian growing asset management. kalau gaji datang, sisihin dulu untuk zakat, tabungan dan investasi, ini dulu.. baru sisanya utk pengeluaran... jangan kebalik. zakat juga penting, mau gaji kecil, kluarin deh 2.5% biar berkah.. kdg gaji kita ga bisa bertahan lama, ya krn masih ada hak orang lain di situ.
setelah zakat, gaji dan invetasi aku sisihin, baru aku bagi utk pengeluaran bulanan. cukup2 aja...
trus kalaupun nih, takuuut investasi ntah itu saham, obligasi, emas atau apapun, ya udah, beli mata uang asing deh.. sekarang udah hampir semua bank bisa nabung forex... setidaknya kalau rupiah suka jeblok kayak skr, at least kita simpen mata uang asing yg kuat dan stabil... jadi ga kuatir jeblok di masa depan.
aku sendiri ada 4 simpanan forex yg tiap bulan selalu aku isi, MYR, USD, SGD dan GBP. Tabungan ku yg likuid, yg bisa diambil kapan pun butuh ya 4 mata uang ini... Rupiah ada ga? adaaa, tapi hanya untuk keperluan dapur dan jaga2 sedikiiit.
sementara investasi jk panjang, itu saham, obligasi dan emas.
dengan catatan, usahain jangan ada hutang... yang kebetulan aku memang ga ada.. kalau ada hutang, mungkin akan ada yg aku kurangi, utk bayar hutang dulu.. dikurangi, bukan dihilangkan . tapi skr ini hutang aku ga mau sentuh.. krn tahu diri, udah ga kerja :D .. Kalau suami, itu beda lagi.. berhubung dia masih kerja, palingan hutang dia dalam bentuk loan dari kantor, yg mana potong gaji.. so ga usah dipikirin cicilannya