Ngahuleng ketika membaca tema terakhir yang diberikan Teh Ani Berta dalam kegiatan rutinan ngeblog di komunitas ISB beberapa waktu lalu.
Udahlah saya terlambat mengerjakannya karena kemarin-kemarin tuh blognya dimaintenance, ditambah saya tertinggal banyak dibanding teman-teman satu group program ini yang sudah pada setor. Jadi makin gemeteran kan…
Tugasnya “Tulis pengalaman traveling yang belum sempat dituliskan di blog”
Waduh, kan jadi mikir, selama ini saya pergi kemana saja ya? Apakah ada yang belum pernah saya tulis?
Di era digital seperti sekarang, yang apa-apa serba upload di sosmed rasanya sulit menemukan kegiatan yang belum dipublikasikan. Minimal di sosial media ada aja yang diunggah.
Tapi kalau mau diceritakan di blog, kan mikirnya paling enggak kisah yang agak berbobot, memiliki kesan atau ada manfaat yang bisa dibagikan. Kalau sekedar bepergian berupa rutinitas sehari-hari macam saya di kampung, seperti ke kebun, ke rumah mertua, ke rumah almarhum ibu, rasanya gak ada yang menarik juga untuk diceritakan. Walau tidak menutup kemungkinan jika memang ceritanya bagus walau hanya rutinitas sehari-hari bisa jadi ajang journaling seperti Catatan Harian Rani R Tyas
Sementara saya ini, sejak anak masuk pondok, bareng suami hampir tidak pernah melakukan traveling. Kegiatan sehari-hari ya begitu-begitu saja. Mungkin saking gak kepikiran pergi kemana, sampai saya jadi lupa? Haha, pikun…
Karena beneran blank, pengen tahu beberapa waktu terakhir ini kemana saja saya pernah bepergian, cara paling mudah adalah dengan melacak rekam jejak digital yang ada di ponsel.
Cara Lacak Rekam Jejak Digital Melalui Ponsel
Ada beberapa metode yang bisa kita gunakan:
1. Menggunakan Linimasa Google Maps (Android)
Karena saya menggunakan ponsel Android, Google Maps secara otomatis merekam riwayat perjalanan saya. Duh, nuhun pisan ya Gel. Kamu teh meni pengertian pisan…
Cara supaya saya tahu selama ini saya ngider kemana aja, buka aplikasi Google Maps, lalu ketuk foto profil atau inisial akun kita di sana.
Pilih menu Linimasa Anda (Your Timeline). Pilih tanggal atau bulan tertentu untuk melihat rute perjalanan dan lokasi yang pernah kita singgahi.
Tara…! Akhirnya saya ngeh, kalau saya pernah pergi ke Garut dan pergi ke Sukabumi. Yeay! Ternyata saya pernah traveling lagi setelah sekian puluh purnama terlewati dan berasa hanya diam di rumah kampung saja.
Dua perjalanannya itu bareng suami menggunakan sepeda motor dan menggunakan jalan alternatif alias jalan tikus (bukan kami dan sepeda motor mengecil masuk lubang tikus ya…)
Ke Garut, kami naik motor berangkat dari Cianjur Kota. Terus ke Bandung, ke Cileunyi ke Nagreg sampai Leles Garut.
Tujuan kami ke Pondok Pesantren Alfutuhat. Di sana suami silaturahmi sekaligus ikut belajar selama sekitar semingguan. Ponpesnya walau menganut sistem salafi tapi sudah modern. Ada penginapan khusus suami istri seperti kami, juga minimarket yang dikelola santri.
Pertama kali belanja kaget kok ini namanya Alfu Mart? Apa salah cetak?
Ternyata emang bener. Alfu Mart diambil dari nama pesantrennya Alfutuhat Mart.
Pulang dari Alfutuhat kami tidak lewat Nagreg lagi, melainkan lewat Cijapati. Terus ke Soreang, Ciwidey hingga ke Rancabali. Jadi kami pulang ke Pagelaran Cianjur lewat lintas tengah selatan. Alhamdulillah perjalanan lancar dan nambah pengalaman.
Waktu ke Sukabumi kami mengendarai kendaraan bermotor juga dari Cianjur kota. Start dari rumah warisan mertua seperti biasa. Tujuan ke pondok pesantren juga yang lokasinya di daerah Gunungpuyuh.
Di ponpes ini suami ikut pasaran. Rencana sepuluh harian kami belajar tapi baru tiga hari suami sakit. Akhirnya kami pulang. Dan jalan yang kami lewati kembali asruk-asrukan melipir ke perkebunan teh mulai dari Gunungpuyuh ke Gegerbitung lanjut ke Takokak, Sukanagara sampai deh di Pagelaran.
Di Gunungpuyuh antara santri putra dan putri terpisah. Saya yang tidak ikut pasaran (tidak seserius santriwati asli, maksudnya) lebih banyak ke memperhatikan pola dan tingkah laku para santriwati.
Kehidupan di kobong (asrama) yang teramat sederhana menjadikan mereka tidak lagi jaga image. Tapi yakin kalau di rumah masing-masing mereka pasti sudah dididik dengan tips parenting modern.
Saking sederhananya kami di kobong saat itu, makan bersama iuran per orang lima ribu rupiah untuk lima hari. Satu kelompok ada sepuluh orang. Jadi untuk beli lauk makan tiga kali sehari selama lima hari ada 50 ribu rupiah. Bayangkan, lauk apa yg bisa bertahan selama lima hari dengan uang 50 ribu untuk 10 orang?
Kalau beras kebetulan ada yang bawa, jadi tidak usah beli. Saya pikir santri-santri ini hemat amat. Yang seperti ini nih seharusnya mendapatkan jatah MBG.
Makan memang sangat sederhana. Tapi ternyata jajannya, wow… luar biasa! Seblak, gorengan, bakso, cilok dan semua pedagang yang lewat maupun jajanan di warung hampir semua mereka borong. Tepok jidat saya jadinya.
Gak heran waktu masak yang bagian piket asal-asalan. Alasan gak bakalan ada yang makan. Lah bagaimana mau makan kalau kebanyakan pada kenyang jajan?
Mungkin hanya sebagian yang bekalnya menipis yang larinya baru ke dapur. Makan seadanya itu.
Saya jadi kasihan ke suami. Dan kepikiran apa penyebab dia sakit juga karena soal makanan ini?
Secara di rumah kan terbiasa makan cukup dan teratur. Walaupun lauknya sederhana tapi kenyang. Lah di pondok ini makan bareng (bisa dibilang rebutan) mana suami tipe pendiam dan pemalu. Bisa saya bayangkan dia mah daripada makan bareng-bareng gitu lebih baik nahan lapar…
Saya sendiri gak bisa menyediakan atau bantu secara kami kan terpisah. Susah komunikasi juga karena sinyal timbul tenggelam.
Waktu Fahmi anak kami nelepon dari Solok Sumatera Barat saja sampai berkali-kali gagal hingga anak kecewa. Padahal saya udah berusaha mencari sinyal. Mencari tempat yang diperkirakan bisa dengan baik menerima telepon maksudnya.
Tiga hari kemudian karena suami sakit itu tadi kami izin pulang, deh.
Cara selanjutnya mengetahui kemana aja kita pernah bepergian dengan melihat rekam jejak digital yang ada di ponsel untuk pengguna iPhone.
2. Menggunakan Fitur Tempat di iPhone (iOS)
Pengguna perangkat Apple memiliki fitur bawaan untuk melihat riwayat lokasi.
Caranya buka aplikasi Peta (Maps) di iPhone. Ketuk menu Tempat, lalu pilih Pernah Dikunjungi.
Manteman bisa memfilternya berdasarkan tanggal, kategori, atau kota.
3. Cek Riwayat Foto dan Video
Galeri ponsel kita menyimpan metadata lokasi yang akurat berdasarkan Geo-tagging.
Buka aplikasi Google Foto atau Apple Foto. Cari berdasarkan nama kota atau tempat di bilah pencarian. Jika kita pernah mengambil foto di sana, foto tersebut akan muncul lengkap dengan tanggal dan lokasi pastinya. Jadi kita bisa tahu pernah ke mana aja dan itu kapan.
4. Cek Histori Transaksi (Riwayat Pembelian)
Bukti transaksi digital juga bisa menjadi penunjuk yang kuat.
Periksa riwayat pemesanan di aplikasi tiket perjalanan (seperti Traveloka, Tiket.com, atau KAI Access)
Cek mutasi atau riwayat transaksi di aplikasi perbankan (seperti M-Banking) pada tanggal tertentu untuk melihat pembayaran di lokasi tertentu.
---
Nah dengan demikian kita jadi tidak lagi lupa selama ini pernah ke mana aja. Termasuk saya, selain ke Garut dan Sukabumi, yang terbaru berdasarkan foto dan video geo-tagging saya dan suami juga ternyata pernah makan ke Bakso Buver.
Hal yang tidak akan terlupakan disini adalah ketika sedang asyik menikmati bakso dan juice mangga eh listrik mati. Dan karena di bakso itu tidak ada lampu emergency jadinya kami makan sambil gelap-gelapan. Hihi… pakai lampu penerang dari ponsel sih, tapi tetap tidak maksimal. Walaupun begitu makan baksonya tetap lancar dan habis dong.




Pasaran ini maksudnya gimana ya Teh? sayang sekali, di sana acaranya bagus tapi koordinasi untuk konsumsi dll masih agak berantakan. Semoga next time better.
BalasHapusSaya baru tahu lho bisa tracking lewat google maps, makasih yaa.
Pasaran itu ibarat les. Belajar kitab kuning dalam waktu singkat. Pesantren salafi biasanya mengadakan pasaran kitab tertentu di bulan tertentu. Seperti Syawal, Dzulhijjah, dll. Tergantung dari kitab kuning yang akan dibahasnya
HapusIya betul banget teh dengan yang teh Okti paparkan. Saya juga suke mengecek google maps, dan riwyat pembelian belanja hehe,,ketahuan kan jajan dimana dan jadi inget lagi ada dimana. Eh satu lagi saya suka cek google foto juga.
BalasHapusKadang nggak sengaja liat linimasanya google tuh jadi berasa nostalgia
BalasHapusKayak, ternyata aku pernah ke sana-ke mari gitu.
Memang ada perjalanan yang bikin, "oh ternyata aku pernah main ke sana tho."
Sebagai blogger kayak nemu rejeki nomplok gituu deh. Apalagi kalau emang belum pernah ditulis di blog
Wah ternyata pernah ikut pasaran di Gunung Puyuh ya Teh, di Syamsul Ulum, ya. Itu pesantren legend di Sukabumi memang. Kalau orang tua saya biasanya ikut yang kajian pekanannya saja di akhir pekan.
BalasHapusEh, itu salfok makan bakso sambil gelap-gelapan. Untung ga salah masuk, ya, ga ke idung.. hehe
Kalau saya biasanya yang simple lihat foto-foto lawas, karena semenjak nulis di blog lumayan rajin juprat-jepret kegiatan, jadinya kalau ada yang tertinggal tertulis, tinggal lihat foto-foto kegiatannya
Mantap betul nih pada familiar sama pesantren legend nya. Hahaha, iya ya pas makan bakso ekh mati lampu, ampun banget deh. Untungnya tetap happy nih teh Okti.
HapusBener, semenjak ngeblog jadi rajin dokumentasi apapun, kayak semacam "jaga-jaga" mana tau nanti fotonya kepake.
BalasHapusYa ampun Teh ada-ada aja, sambil gelap-gelapan makan bakso. Untung ga kehilangan ya hehe.
Daku pernah kek gitu pas lagi mati listrik pas lagi makan, jadinya pakai senter hape sekalian main hape juga wkwkwk
Kalau saya, biasanya begitu kelar ngetrip atau makan-makan, foto pasti langsung dipindahin ke Laptop mbak. Langsung dikasih nama foldernya sesuai tanggal dan lokasi yang dituju. Sehingga nggak bakal bingung buat nyari-nyari lagi bahan tulisan apaaa ya yang sekiranya belum diselesaikan.
BalasHapusTapi yaaa gitu mbak. Biarpun draftnya udah rapi, tapi kalau mood menulisnya belum ada, sampai kapanpun ya nggak kelar juga. Yang ada malah makin numpuk-numpuk dan numpuk terus, heuheu.
Selamat untuk Mas Fajar yang memiliki laptop
HapusSaya kan sejak dulu ngeblog emang dari hp
Ga punya laptop nya. Hahaha
Kalau saya jalan² kemana² jarang simpen lama di HP bahkan di google pun saja saya jarang update. Biasanya saya pakai kamera dan kalau udah di rumah saya pindah ke Laptop atau PC.
BalasHapusTapi memang riwayat jalan² tuh biasanya bakal muncul di google dan google pun sering ngingetin "anda berkunjung ke sini 2 minggu lalu" wkwkwk... 😅
Entah kenapa kalau saya selalu bermasalah sama foto-foto perjalanan. Rasanya kendala di situ terus saat mau mulai mengolah satu artikel. Walau saat mau jalan tuh udah kepikiran nih. Mau ngonten ah. Tapi karena tipe yang selalu menikmati momen, rencana ngonten itu seringnya cuma wacana >.<
BalasHapusTapi dikasih ide begini aku jadi tau nanti pas butuh menelusuri perjalanan aku ke mana aja
Nah daku pun juga kerap kali numpuk aja gitu foto atau video perjalanan. Mau dirapikannya kayak gimana, ya nanti aja haha. Padahal bener kak, lumayan juga bisa sekalian buat update blog
Hapusdi era digital seperti sekarang, linimasa Google Maps dan geo-tagging foto itu penyelamat banget buat memanggil ulang memori yang sempat "ngahuleng". Kisah santri yang hemat makan tapi boros jajan seblak itu sangat humanis dan bikin senyum-senyum sendiri, sekaligus bikin haru pas bagian suami sakit.
BalasHapusDiriku biasanya kalau nulis emang dari foto dulu baru bisa mengalir aneka tulisannya, semuanya bisa diingat juga kalau ada fotonya. makin enak merangkai cerita
Kalau q biasanya dari cek riwayat foto dan Video. Iya ponakanku yg mondok juga gtu, makanan Mbak, makanannya sederhana tp lauk tambahannya yg beli luar biasa komplit, hehe.
BalasHapusKayaknya beda konsep jaman dulu sama sekarang. Dulu boro-boro makan enak, proper juga enggak kalau selarang lauknya (yang jajan) lebih mewah dari ya g di rumah, hehe
Ya Allah teh Okti, Kobong bahasa Mama ku banget pas di Sukabumi. Beliau emang pernah mesantren sambil sekolah di kampung halamannya.
BalasHapusKehidupan pesantren emang beda ya. Ternyata makan sederhana ekh banyak juga jajannya 😅
Pas makan bakso ekh mati lampu? Wadidaw untungnya ada lampu emergency ya. Seru pisan baca ceritanya. Intinya kalau tidak ada bahan buat nulis, bisa ngecek di handphone, google photos, bahkan struk pembelian pun. Mantul.
Apalah daya aku juga ga pernah move on dari rumah, sawah, paling ke pasar. Rutinitas hampir setiap hariku saat ibu mulai sakit sejak awal Ramadhan lalu. Aku positif aja, selama ini ga boleh traveling kemana2 dulu. Lagi mereset timeline GMaps atau fitur geotagging lokasi.
BalasHapusFoto2 jg jarang krn aku hampir ga pernah foto momen2. Padahal hp aku beli khusus utk fitur foto dan videonya yg ciamik. Apalah daya, malah aku pake buat scroll sosmed dan nonton drachin. Itu pun sdh bersyukur. Aku ditakdirkan bs traveling bersama ibu yg lagi sakit. Iyap, travelingnya seputar rumah, puskesmas dan rumah sakit. Berikut dokter khusus saat BPJS tak lagi menanggung rujukan. Tetap disyukuri aja.
Pas baca bagian asruk-asrukan naik motor lewat jalan tikus dari Garut sama Sukabumi itu langsung kebayang gimana pegalnya, tapi seru parah sih bisa dapet bonus pemandangan kebun teh. Ikut prihatin juga pas cerita suami sakit di pondok daerah Gunungpuyuh, bener banget kalau tipe pendiam pasti sungkan mau ikutan makan rebutan begitu, mana urusan sinyal buat komunikasi susahnya minta ampun sampai bikin anak di rantau kecewa. Tapi untung ya rekam jejak digital di Google Maps sama foto sangat membantu mengingatkan memori traveling-nya, malah berakhir plot twist makan Bakso Buver pakai acara mati lampu segala, wkwkwk.
BalasHapusBaru tahu nih istilah pasaran ternyata semacam ikut belajar di pesantren gitu yaa. Trus ternyata anak-anak pesantrennya doyan jajan juga nggak jauh beda sama anak di kota kayaknya. Hehe
BalasHapusKirain kalau di pesantren bakalan susah jajan ternyata nggak juga
Kalau aku biasanya lihat foto2 aja hehe. Kadang ada catatan kecil juga kalau travelingan buat recall memori. Kadang kalau ada yang sulit diingat suka lihat sosmed orang juga.
BalasHapusKalau misalnya bukti2 pembayaran suka foto notanya juga sih. Walau kadang keskip haha.
Wah Garut, aku belum pernah ke sana teh. Sekarang keknya Garut jadi destinasi yang makin banyak didatangi juga karena sudah ada kereta langsung dari Jakarta. Moga kapan2 bisa ke sana.
Waduh iya ya jajanannya berat2 tu, mana karbo semua. Kudunya fokus aja ke makanan sesuai rekomendasi ada karbo, protein, sayur, apalagi pesantren kan tempatnya anak2 muda yang masih butuh makanan bergizi buat pertumbuhan.
Kyknya pengelolanya yang kudu lebih peduli dan mengarahkan.
Ih sama teh
BalasHapusAku juga klo mau nulis cerita perjalanan, lihat lihat lagi video atau foto yang ada di ponsel
Selain itu biasanya ada juga catatan kecil di notes
Kalau saya paling sering ngecek ke mana aja itu dari foto. Karena hampir selalu ambil foto kalau pergi-pergi. Dari Google Maps juga bisa sih. Saya juga pernah melakukan itu.
BalasHapusDr google maps n google photos bisa kelacak yaa kita pernah kemana aja.. Klo aku biasa cek dr tiket sih atau bukti booking hotel yg biasanya dikirim ke email meskipun udh gak ada aplikasinya di ponsel
BalasHapusTernyata yang paling tahu tentang aktivitas kita adalah Kang Google ya teh. Semua hal yang kita lakukan terlacak di Kang google hahaha. Termasuk dokumentasinya. Ada positif negatifnya sih. sisi positifnya ketika ada reminder pada tahun sekian tanggal bulan sekian ternyata kita pernah ke suatu tempat plus ada potonya yang ternyata gak kesimpen di data pribadi kita. eh asa nemu harta karun hehehe
BalasHapusKebetulan saya udah sejak lama udah nonaktifkan story, jadi gak bisa ngecek. Soalnya yang biasa dipake google local guide emailnya ada yang hack gak bisa dipake lagi. Paling ngecek foto2 arsip aja. Biasanya kalo udah penuh lngsung dipindah ke HDD.
BalasHapusBtw teh Okti itu ngaji seminggu boleh siapa aja? Kebeneran saya lagi cari2 pengajian khusus buat yang sudah bapak2 hehehe
Boleh siapa saja, Kang
HapusYg pasaran itu umum. Mau santri tulen, atau santri bangkotan kaya kami (istilah untuk umum yg ikut belajar, hehe) bebas kok
Yang penting niat mau cari ilmu biar pahalanya dapat. Hehe...
Ya Allah jadi malu ya sama Mba Gugel, meni teu daek cicing transaksi balanja hahaha. Teh Okti perasaan banyak pisan acara jalan2na. Pas kita ke Dago Pakar udah ditulis? Btw ini tips2 yg ditulis di artikel ini mantab Teh!
BalasHapusWalah, ke Dago Pakar jaman Fahmi masih digagandong itu ya? Udah Teh
HapusTapi ga tahu tahun berapa lupa lagi itu... Inget aja yg udah bw saat itu Teh Nchi Hani Blogger Bandung yg ikut trip nya juga ya...
Memang rekam jejak digital di ponsel itu penyelamat banget ya kalau kita mendadak 'blank' pas mau nulis tugas blog. Seru banget itu makan di Bakso Buver pakai senter HP karena mati lampu. Untung makan baksonya tetap habis dan lancar jaya ya, Teh, hehehe.
BalasHapusKalau mau ikut belajar di pesantren itu bayar nggak sih, Teh? Atau bisa datang aja dan bilang mau ikut belajar seminggu gitu. Dunia pesantren sendiri pastinya ada banyak ceritanya ya dari yang seru sampai yang sedih bagi para santri tersebut
BalasHapusAku juga sering nih teh, pake linimasa bukan cek rekam jejak, untungnya setiap perjalanan suka aku share juga tempat kulineran juga, ternyata suka banyak yang liat
BalasHapusKalo aku biasanya foto dan video pas ngetrip otomatis kesimpen di google foto. Jadi klo ada perlu tinggal buka aja dan cari di google foto. Selama ini sih berhasil kesimpen. Klo di gmaps ngga selalu kesimpen.
BalasHapusHahaha, perjalanan boleh jauh, tapi ujung-ujungnya memang kuliner yang paling diingat. Bakso Buver ini sukses bikin saya ikut lapar bacanya!
BalasHapus