Rabu, 10 Juni 2026

Garut Sukabumi Berakhir di Bakso Buver

Ngahuleng ketika membaca tema terakhir yang diberikan Teh Ani dalam kegiatan rutinan ngeblog beberapa bulan lalu.

Udahlah saya terlambat mengerjakannya karena beberapa waktu lalu blognya sedang dimaintenance, ditambah tertinggal banyak dibanding teman-teman satu group yang sudah pada setor. Jadi makin gemeteran kan…

Tugasnya “Tulis pengalaman traveling yang belum sempat dituliskan di blog”

Waduh, kan jadi mikir, selama ini saya pergi kemana saja ya? Apakah ada yang belum pernah saya tulis?

Di era digital seperti sekarang, yang apa-apa serba upload di sosmed rasanya sulit menemukan kegiatan yang belum dipublikasikan. Minimal di sosial media ada aja yang diunggah.

Tapi kalau diceritakan di blog, kan mikirnya paling enggak kisah yang agak berbobot, memiliki kesan atau ada manfaat yang bisa dibagikan. Kalau sekedar bepergian berupa rutinitas sehari-hari macam saya di kampung, seperti ke kebun, ke rumah mertua, ke rumah almarhum ibu, rasanya gak ada yang menarik juga untuk diceritakan. Walau tidak menutup kemungkinan jika memang bagus bisa jadi ajang journaling seperti Catatan Harian Rani R Tyas 

Sejak anak masuk pondok, saya dan suami hampir tidak pernah melakukan traveling. Kegiatan sehari-hari ya begitu-begitu saja. Mungkin saking gak kepikiran pergi kemana, sampai saya jadi lupa? Haha, pikun…

Karena beneran blank, pengen tahu beberapa waktu terakhir ini kemana saja saya pernah bepergian, cara paling mudah adalah dengan melacak rekam jejak digital yang ada di ponsel.

Cara Lacak Rekam Jejak Digital Melalui Ponsel

Ada beberapa metode yang bisa kita gunakan:

1. Menggunakan Linimasa Google Maps (Android)

Karena saya menggunakan ponsel Android, Google Maps secara otomatis merekam riwayat perjalanan saya. Duh, nuhun pisan ya Gel. Kamu teh meni pengertian pisan

Cara supaya saya tahu selama ini saya ngider kemana aja, buka aplikasi Google Maps, lalu ketuk foto profil atau inisial akun kita di sana.

Pilih menu Linimasa Anda (Your Timeline). Pilih tanggal atau bulan tertentu untuk melihat rute perjalanan dan lokasi yang pernah kita singgahi.

Tara…! Akhirnya saya ngeh, kalau saya pernah pergi ke Garut dan pergi ke Sukabumi. Yeay! Ternyata saya pernah traveling lagi setelah sekian puluh purnama terlewati dan berasa hanya diam di rumah kampung saja.




Dua perjalanannya itu bareng suami menggunakan sepeda motor dan menggunakan jalan alternatif alias jalan tikus (bukan kami dan sepeda motor mengecil masuk lubang tikus ya…)

Ke Garut, kami naik motor berangkat dari Cianjur Kota. Terus ke Bandung, ke Cileunyi ke Nagreg sampai Leles Garut. 

Tujuan kami ke Pondok Pesantren Alfutuhat. Di sana suami silaturahmi sekaligus ikut belajar selama sekitar semingguan. Ponpesnya walau menganut sistem salafi tapi sudah modern. Ada penginapan khusus suami istri seperti kami, juga minimarket yang dikelola santri.

Pertama kali belanja kaget kok ini namanya Alfu Mart? Apa salah cetak?

Ternyata emang bener. Alfu Mart diambil dari nama pesantrennya Alfutuhat Mart.

Pulang dari Alfutuhat kami tidak lewat Nagreg lagi, melainkan lewat Cijapati. Terus ke Soreang, Ciwidey hingga ke Rancabali. Jadi kami pulang ke Pagelaran Cianjur lewat lintas tengah selatan. Alhamdulillah perjalanan lancar dan nambah pengalaman.

Waktu ke Sukabumi kami mengendarai kendaraan bermotor juga dari Cianjur kota. Start dari rumah warisan mertua seperti biasa. Tujuan ke pondok pesantren juga yang lokasinya di daerah Gunungpuyuh.

Di ponpes ini suami ikut pasaran. Rencana sepuluh harian kami belajar tapi baru tiga hari suami sakit. Akhirnya kami pulang. Dan jalan yang kami lewati kembali asruk-asrukan melipir ke perkebunan teh mulai dari Gunungpuyuh ke Gegerbitung lanjut ke Takokak, Sukanagara sampai deh di Pagelaran.

Di Gunungpuyuh antara santri putra dan putri terpisah. Saya yang tidak ikut pasaran (tidak seserius santriwati asli, maksudnya) lebih banyak ke memperhatikan pola dan tingkah laku para santriwati.

Kehidupan di kobong (asrama) yang teramat sederhana menjadikan mereka tidak lagi jaga image. Tapi yakin kalau di rumah masing-masing mereka pasti sudah dididik dengan tips parenting modern.

Saking sederhananya kami di kobong saat itu, makan bersama iuran per orang lima ribu rupiah untuk lima hari. Satu kelompok ada sepuluh orang. Jadi untuk beli lauk makan tiga kali sehari selama lima hari ada 50 ribu rupiah. Bayangkan, lauk apa yg bisa bertahan selama lima hari dengan uang 50 ribu untuk 10 orang?

Kalau beras kebetulan ada yang bawa, jadi tidak usah beli. Saya pikir santri-santri ini hemat amat. Yang seperti ini nih seharusnya mendapatkan jatah MBG.

Makan memang sangat sederhana. Tapi ternyata jajannya, wow… luar biasa! Seblak, gorengan, bakso, cilok dan semua pedagang yang lewat maupun jajanan di warung hampir semua mereka borong. Tepok jidat saya jadinya.

Gak heran waktu masak yang bagian piket asal-asalan. Alasan gak bakalan ada yang makan. Lah bagaimana mau makan kalau kebanyakan pada kenyang jajan?

Mungkin hanya sebagian yang bekalnya menipis yang larinya baru ke dapur. Makan seadanya itu.




Saya jadi kasihan ke suami. Dan kepikiran apa penyebab dia sakit juga karena soal makanan ini?

Secara di rumah kan terbiasa makan cukup dan teratur. Walaupun lauknya sederhana tapi kenyang. Lah di pondok ini makan bareng (bisa dibilang rebutan) mana suami tipe pendiam dan pemalu. Bisa saya bayangkan dia mah daripada makan bareng-bareng gitu lebih baik nahan lapar… 




Saya sendiri gak bisa menyediakan atau bantu secara kami kan terpisah. Susah komunikasi juga karena sinyal timbul tenggelam.

Waktu Fahmi anak kami nelepon dari Solok Sumatera Barat saja sampai berkali-kali gagal hingga anak kecewa. Padahal saya udah berusaha mencari sinyal. Mencari tempat yang diperkirakan bisa dengan baik menerima telepon maksudnya.

Tiga hari kemudian karena suami sakit itu tadi kami izin pulang, deh.

Cara selanjutnya mengetahui kemana aja kita pernah bepergian dengan melihat rekam jejak digital yang ada di ponsel untuk pengguna iPhone.

2. Menggunakan Fitur Tempat di iPhone (iOS)

Pengguna perangkat Apple memiliki fitur bawaan untuk melihat riwayat lokasi.

Caranya buka aplikasi Peta (Maps) di iPhone. Ketuk menu Tempat, lalu pilih Pernah Dikunjungi.

Manteman bisa memfilternya berdasarkan tanggal, kategori, atau kota.

3. Cek Riwayat Foto dan Video

Galeri ponsel kita menyimpan metadata lokasi yang akurat berdasarkan Geo-tagging.

Buka aplikasi Google Foto atau Apple Foto. Cari berdasarkan nama kota atau tempat di bilah pencarian. Jika kita pernah mengambil foto di sana, foto tersebut akan muncul lengkap dengan tanggal dan lokasi pastinya. Jadi kita bisa tahu pernah ke mana aja dan itu kapan.

4. Cek Histori Transaksi (Riwayat Pembelian)

Bukti transaksi digital juga bisa menjadi penunjuk yang kuat.

Periksa riwayat pemesanan di aplikasi tiket perjalanan (seperti Traveloka, Tiket.com, atau KAI Access)

Cek mutasi atau riwayat transaksi di aplikasi perbankan (seperti M-Banking) pada tanggal tertentu untuk melihat pembayaran di lokasi tertentu.

---

Nah dengan demikian kita jadi tidak lagi lupa selama ini pernah ke mana aja. Termasuk saya, selain ke Garut dan Sukabumi, yang terbaru berdasarkan foto dan video geo-tagging saya dan suami juga ternyata pernah makan ke Bakso Buver.




Hal yang tidak akan terlupakan disini adalah ketika sedang asyik menikmati bakso dan juice mangga eh listrik mati. Dan karena di bakso itu tidak ada lampu emergency jadinya kami makan sambil gelap-gelapan. Hihi… pakai lampu penerang dari ponsel sih, tapi tetap tidak maksimal. Walaupun begitu makan baksonya tetap lancar dan habis dong.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar