Baru terasa sendiri bagaimana perasaan Mama Haidar bulan Syawal lalu saat mengantarkan anak ke Pondok. Haidar ini teman seperjuangan Fahmi masuk pondok asal DKI Jakarta. Ibunya asli Bandung, jadi saya dan mereka berasa cocok jadi besti di jajaran wali santri. Haha…
Di bandara dengan gayanya yang khas Mama Haidar bercerita kalau keberangkatan ke pondok awal tahun ini melebihi riweuhnya awal masuk pondok tahun lalu.
Perlu diketahui, kalau pondok pesantren yang jadi tempat putra kami belajar menggunakan penanggalan tahun ajaran Hijriyah. Beda dengan sekolah yang menginduk ke Depdikbud atau Depag, yang kenaikan kelas jatuh pada bulan Juni dan Juli, sekolah tempat anak saya belajar sekarang kenaikan kelasnya pada bulan Syaban. Libur Ramadan dan masuk tahun ajaran baru pada bulan Syawal.
“Dulu baru masuk piring dan tumbler cukup bawa satu. Sekarang naik kelas malah bawa semua serba setengah lusin. Mau jualan apa gimana ini anak. Piring enam buah. Botol minum juga. Sendok garpu mah udah gak kehitung. Belum gayung, ember dan perintilan lainnya…”
Saya tertawa saja saat itu mendengarnya. Fahmi anak kami juga bawa peralatan makan kesayangan nya dalam koper untuk dibawa dan dipakai di pondok. Tapi tidak sebanyak itu.
Piring enamel satu buah dibeli di Pondok Gorda. Karena kami masuk pondok daftar di Ponorogo sementara mendapatkan penempatan rayon di Solok Sumatera Barat. Jadi persiapan masuk pondok semua dilakukan dari Ponorogo.
Sedangkan tumbler bawa satu, tumbler dengan logo piala dunia tahun 2014 kalau gak salah. Ya, itu tumbler bawa dari rumah. Sesayang itu sama tumblernya, sampai mau dibawa ke pondok untuk pertama kalinya.
“Buat teman Ami jadi berasa makan minum di rumah gitu, Bu” begitu alasannya.
Tapi libur semester pertama pada bulan Rabiul Awwal, tumbler kesayangan berlogo bolanya itu dibawa pulang. Katanya sayang, takut hilang. Secara piring sendok sudah hilang berkali-kali dan membelinya sebagai pengganti. Entah kenapa kalau tumblernya aman. Selamat hingga kembali ke rumah setelah ikut mondok selama kurang lebih satu semester.
Balik pondok tahun lalu, dari Cianjur kembali bawa piring baru, dan tumbler baru. Kali ini bawa masing-masing dua buah, dengan botol minum yang kekinian dibeli di MR. DIY dengan ukuran lebih kecil. Bukan endorse, tapi emang alat makan di MR. DIY saat itu yang di Cianjur baru buka banyak pilihannya. Disukai anak karena mungkin banyak pilihan. Mulai dari yang polos sampai ada gambar kekinian. Macam karakter yang suka dibuat teman blogger nengtantidoodle.
Fahmi pernah jumpa dengan Mak Neng Tanti waktu saya bawa acara workshop di Abu Marlos Kitchen di Bandung. Saat itu bersama Mbak Astri Damayanti, kami belajar jahit dan Mak Neng memberikan saya alat warna yang cukup banyak.
Fahmi yang saat itu masih balita senang banget menggunakan alat warna pemberian Mak Neng. Saat itu belum ada Canva edisi mobile. Jadi anak belum familiar karena saya aja kalau mau pakai Canva harus buka websitenya. Menggambar langsung di kertas atau media lain seperti diajarkan Mak Neng jadi kegiatan Fahmi yang mengasyikkan.
Mungkin karena itu pilihan anak jadi jatuh pada tumbler yang imut dan ada gambar karakter. Selain alasan lainnya botolnya kecil biar bisa masuk saku dan mudah dibawa ke kelas.
Saat libur kenaikan kelas dua, Syaban kemarin, yang kembali ke rumah lagi-lagi hanya tumbler nya. Itupun talinya udah putus. Sepertinya saking sering dijinjing dan diputer giling (waktu dibawa saat berjalan) kalau piring dan alat makan lain, percis seperti mereka yang sudah pinjam uang tapi susah bayar, hilang ga ada kabarnya.
Dan karena itu akhirnya kena giliran saya yang hunting peralatan makan buat anak dibawa ke pondok masing-masing setengah lusin! Haha…
Kenapa harus sebanyak itu? Itu ukuran sedang setidaknya selama satu semester. Diperkirakan kalau sebulan sekali hilang piring, pas kan jumlahnya? Ntar libur semester pertama baru hunting lagi. Wkwkwkwkwk...
Bawa atau beli terlalu banyak juga gak mungkin karena kapasitas lemari penyimpan barang anak di rayon juga terbatas. Bisa-bisa anaknya kena hukum kalau lemari overload.
Bukan juga gak bisa beli di pondok, hanya selain harga beda, juga kebanyakan piring yang dijual di koperasi pondok di sana itu hampir samaan. Kesempatan piring ketukar dengan sesama santri jadi sangat besar. Kalau beli sendiri kan lumayan beda. Baik warna maupun modelnya.
Ngalamin juga deh jelang lebaran orang lain itu milih pakaian, kue dan bahan olahan buat hari raya, saya mah milih piring dan tumbler. Seperti mau bakulan alat rumah tangga, saja. Cari yang murah meriah tapi kualitasnya lumayan. Karena kalau cari yang bagus plus mahal, sayang banget karena nanti tidak lama sampai pondok dipastikan bakal hilang lagi.
Entah bagaimana itu anak santri makannya. Karena baik kelas rendah maupun kelas atas wali santrinya di group sering cerita selalu kehilangan. Gak hanya alat makan, tapi juga peralatan mandi, sendal, sepatu dan pakaian.
Piring dan alat makan lainnya sampai sering hilang, apa ikut dimakan juga? Wadidaw! Gak heran Fahmi lebih memilih memulangkan tumbler kesayangan nya ke rumah. Biar aman, sebelum hilang.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar