Rabu, 28 Agustus 2024

Menanamkan Pendidikan Karakter Melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di Rumah

Beberapa hari lalu saya menerima pesan di group perpesanan orang tua murid dan wali kelas yang menginformasikan jika anak peserta didik kelas 7 selama seminggu ini akan melaksanakan kegiatan P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila).

Kami diinformasikan kalau waktu anak berangkat sekolah akan berbeda dari jadwal sebelumnya sehingga orang tua terutama yang tempat tinggalnya jauh dan antar jemput anak ke sekolah supaya bisa menyesuaikan waktu.

P5 Sekolah Anak

Sekolah tempat anak saya mengenyam pendidikan sekolah lanjutan pertama mengadakan kegiatan P5 ini mulai hari Senin sampai Sabtu (26-31 Agustus 2024).

Kegiatan berlangsung mulai pukul 07.30 – 12.00 wib bertempat di sekolah dan alun-alun lapangan kecamatan yang memang berdekatan dengan lingkungan sekolah.

Tema utama kegiatan proyek P5 ini yaitu "Kearifan Lokal", sementara tema kegiatannya: "Letakkan Gadgetmu, Bermainlah bersamaku".

Wow, saya begitu antusias menerima pesan dari wali kelas tersebut. Apalagi sub tema kegiatannya adalah letakkan gadgetmu, bermainlah bersamaku, sebuah upaya bersama supaya anak tidak ketergantungan kepada ponsel. Bukankah itu hal yang sangat bagus?

Secara di rumah selama ini anak memang tidak pernah lepas dari ponsel. Bukan untuk belajar tapi untuk bermain game dan nonton video pendek! Dan jujur saja saya tidak bisa melarang keras kepada anak secara keseharian saya sendiri justru memang tidak bisa lepas dari ponsel kan...

Tahu sendiri kalau ngeblog, ngebuzzer dan bikin konten semua saya kerjakan dari hp ini. Meski udah jadul tapi saya dan hp ini memang susah dipisahkan...

Meskipun pada hari pertama kegiatan P5, Senin, 26 Agustus 2024 kemarin, setiap peserta didik dianjurkan untuk membawa ponsel ke sekolah, tapi setelahnya anak tidak diizinkan lagi membawa telepon genggamnya itu.

Rupanya, hari pertama itu ponsel yang dibawa digunakan mereka untuk search informasi berbagai permainan tradisional, lalu membuat artikel dan share di sosial media menggunakan hastag.

Saya tertawa ketika anak saya cerita kalau teman-temannya pada kaku melakukan semua itu. Mereka mah belum terbiasa bikin job, katanya. Sementara anak saya anteng saja mengerjakan sebisanya, mengaku sudah terbiasa.

“Emang bisa? Belajar dimana?” Saya penasaran.

“Kan sering suka lihat ibu kalau lagi nulis atau bikin konten. Nyari ide, nyari info, edit di Canva, terus posting pakai hastag dan mention. Ibu sering nyuruh Ami ngedikte caption atau megangin ponsel buat merekam juga. Itu Ami sedikit-sedikit jadi tahu kan...”

Saya melongo mendengar penjelasannya. Bener juga. Selama ini anak saya malah sering saya kerjain. Saya suruh bantu take video, banyu pegangin properti, dan masih banyak lagi. Saya juga lupa kalau anak saya sering pakai hp saya biar dia bisa pakai Canva yang pro. Aih, jadi malu sendiri.

Hari kedua dan selanjutnya, anak tidak diperbolehkan lagi membawa ponsel. Wali kelas bilang kegiatannya akan lebih banyak di luar sekolah dan dokumentasi cukup dari pihak sekolah saja.

Elemen P5

P5 Kokurikuler Kurikulum Merdeka

Sebagai Ibu Penggerak yang alhamdulillah sudah lulus beberapa bulan lalu, saya sudah tidak asing dengan kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, kegiatan kokurikuler yang berbasis proyek yang mana dilakukan di satuan pendidikan atau sekolah yang telah menggunakan Kurikulum Merdeka.

Tujuan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

P5 diadakan dengan tujuan untuk menguatkan pendidikan karakter dan kompetensi siswa sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila itu sendiri.

P5 untuk siswa tingkat SMP, memiliki enam tema, di antaranya: Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Suara Demokrasi, Rekayasa dan Teknologi, dan Kewirausahaan.

Penilaian pada P5 menggunakan skala nilai BB (Belum Berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan), dan SB (Sudah Berkembang).

Penilaian itu disesuaikan dengan dimensi P5 setiap anak, seperti beriman, bertakwa, mandiri, bernalar kritis, dan sebagainya.

Manfaat Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Kegiatan P5 tentu saja memiliki manfaat bagi peserta didik, pendidik, dan satuan pendidikan. Salah satu manfaatnya adalah memperkuat pendidikan karakter baik dan mengembangkan kompetensi siswa.

Secara P5 ini bisa dibilang sebagai pembelajaran lintas disiplin ilmu yang bertujuan untuk mengamati dan mencari solusi atas permasalahan di lingkungan sekitar.

Yuk, Bikin Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di Rumah

Sebenarnya kegiatan P5 ini bisa kita praktikan juga sendiri di rumah, lho! Ibarat kurikulum merdeka yang tidak hanya mengacu kepada buku teks, maka kegiatan proyek pembelajaran P5 ini juga sebenarnya fleksibel dan justru malah lebih mengena jika dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari oleh anak beserta kita orang tua selaku pembimbingnya langsung.

Karena pada intinya, guru atau orang tua membantu menstimulasi anak mulai usia PAUD sampai jenjang SLTA melalui pendidikan karakter yang diberikan sehingga anak bisa mendapatkan karakter baik dan memperkuat serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika pada pelaksanaan P5, guru sudah dibekali dengan panduan tema sesuai dengan jenjang pendidikan siswanya, maka orang tua juga bisa mengamati, meniru dan memodifikasi panduan tersebut untuk kita jalankan di rumah bersama keluarga.

Tema P5 Sekolah Anak SMP

Jadi Orang Tua Kreatif!

Bukankah pengembangan tema P5 itu sendiri menjadi proyek yang merupakan hasil kreativitas guru? Nah, apa susahnya orang tua juga bisa berkreativitas, kan?

Hanya tentu saja perlu kita ingat, jika P5 diselenggarakan untuk menjawab pertanyaan tentang profil pelajar seperti apa yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia. Nah paling tidak kita juga harus mengarah ke sana.

Jika Profil Pelajar Pancasila diharapkan memiliki sikap dan perilaku sesuai dengan jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia, maka siapkan diri kita ini, para orang tua untuk lebih dulu berperilaku sesuai dengan jati diri bangsa sekaligus dunia.

Kenapa begitu? Ingat, anak itu peniru ulung. Kita tidak perlu susah payah mengajarkan, tapi cukup melakukan, insyaallah dengan sendirinya anak juga akan praktik (mengikuti) mencontoh sendiri.

Buktinya itu di atas saya sudah cerita, saking seringnya saya bikin konten depan anak, eh tahu-tahu anak sudah bisa mengikuti dengan sendirinya saja.

Bagaimana Orang Tua Menerapkan P5 Kepada Anak di Rumah?

Contohnya seperti saya, yang memiliki anak usia SMP. Maka kegiatan P5 tingkat SMP sesuai dengan kurikulum merdeka berdasarkan tema yang ditetapkan Kemendikbudristek (saya kutip dari Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, Rizky Satria dan Kawan-kawan)/ (2022:57)

Contoh Kegiatan P5 SMP Kurikulum Merdeka di Rumah versi Emaknya Fahmi

Yang bisa dipraktikkan sendiri di rumah diantaranya:

Gaya Hidup Berkelanjutan

Contoh kegiatan:

Mengajak anak memilah sampah. Ambil botol plastik yang masih bisa digunakan untuk dibuat kerajinan. Cari ide bersama anak bagaimana memodifikasi barang bekas supaya bisa lebih bermanfaat, baik untuk pot, tempat pernak-pernik atau lainnya.

P5 Kreatif Berkelanjutan

Kearifan Lokal

Contoh kegiatan:

Saat perayaan HUT RI 17 Agustus ajak anak menyumbang ide membuat hiasan untuk jampana (gunungan berisi hasil bumi). Biarkan anak bergabung dengan masyarakat secara langsung ikut menghias properti untuk karnaval, dan kegiatan lain di desa.

Bineka Tunggal Ika

Contoh kegiatan:

Menceritakan kepada anak bagaimana interaksi kehidupan dulu kakek nenek atau buyutnya. Cari tahu untuk anak silsilah dan budaya di keluarga besar baik dari pihak ayah maupun ibu. Cari tradisi dari berbagai daerah yang membuat kagum dan memberikan inspirasi.

Bangunlah Jiwa Raganya

Contoh kegiatan:

Membuat aturan di rumah bagaimana menggunakan perkakas dan kendaraan sehingga adil dan terjaga. Kalau meminjam, bagaimana prosedur dan etikanya.

Biarkan anak ikut pertandingan apa pun asal fair play dengan mengutamakan keceriaan dan persahabatan.

Suara Demokrasi

Contoh kegiatan:

Biasakan diskusi dengan seluruh anggota keluarga. Rencanakan mau piknik kemana, persiapan apa saja, peralatan apa saja yang harus ada, dan sebagainya. Kalau skala agak besar bisa dibuat kepanitiaan sehingga bisa berbagi tugas. Hal itu dilakukan supaya menjamin kenyamanan, serta persamaan hak dan kewajiban dalam keluarga.

Rekayasa dan Teknologi

Contoh kegiatan:

Membuat proyek bersama-sama semua anggota keluarga mengatasi selokan depan rumah yang sering mampet hingga kadang bikin banjir.

Kewirausahaan

Contoh kegiatan:

Jika anak memiliki kemampuan fasilitasi siapa tahu hasilnya bisa dijual, dibuat bisnis rumahan, dll.

Saat di kebun sedang musim buah tertentu, gali ide anak sehingga bisa menciptakan produk dari potensi sendiri atau lokal tersebut.

P5 Kewirausahaan

Pendidikan Karakter untuk Selamanya

Nah, itu contoh-contoh kecil kegiatan P5 yang saya lakukan di rumah bareng keluarga khususnya demi bisa menggali karakter anak. Tentu saja contoh kegiatan P5 saya dan keluarga pribadi di atas dapat dikembangkan seusai dengan kondisi keluarga dan karakter masing-masing anak.

Meski orang tua yang bertugas merencanakan kegiatan proyek P5 ala-ala keluarga itu, tapi anak juga tidak lupa diajak untuk memberikan usul dan pendapatnya. Malah kalau bisa orang tua hanya mengawasi saja. Biarkan anak yang mengerjakan semua proyeknya.

Setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi yang terbaik. Untuk itu jadilah orang tua yang baik dulu. Pendidikan Karakter tidak bisa didapatkan secara instan. Karena itu orang tua jangan lelah untuk terus menanamkan pendidikan karakter kepada anak, berapa pun usia anaknya.

Masih banyak artikel tentang pendidikan krakter yang bisa manteman baca untuk menambah wawasan dalam artikel Pendidikan Karakter di blog ini. Semoga bermanfaat ya...

Read more ...

Minggu, 25 Agustus 2024

Tips Memilih Sistem Pendidikan Terbaik untuk Anak. Kenapa Utamakan yang Menjunjung Tinggi Pendidikan Karakter?

Semalam mendapat pesan dari teman yang tinggal di Solo, menanyakan kalau Fahmi putra saya melanjutkan sekolah ke mana?

Tahun ini anak saya memang lulus sekolah dasar. Sesuai dengan rencana dan keinginan anak yang kami dukung, anak ingin melanjutkan sekolah sambil mondok.

Namun tahun pelajaran yang dipakai di sekolah sekaligus pondok yang diinginkan ternyata menggunakan penanggalan Hijriyah, dimana awal tahun ajaran di sana jatuh pada bulan Syawal.

Sehingga mau tidak mau, anak saya menunggu hingga Ramadan - Syawal nanti (sekitar bulan Februari – Maret 2025) untuk mendaftar dan mengikuti ujian seleksi di sekolah dan pondok incarannya.

Sementara ini, sambil menunggu waktu sekitar delapan bulan dari kelulusan SD, anak saya masuk sekolah lanjutan pertama di kecamatan tempat kami tinggal.

Ribetnya Memilih Sistem Pendidikan Sekolah Lanjutan

Banyak yang bertanya dan menyayangkan kenapa memilih sekolah atau pondok yang ribet. Menurut mereka mungkin ribet, karena selain kalau mau sekolah sambil mondok di sekolah pondok yang kami incar harus menunggu waktu hampir setahun, belum anak malah masuk SMP dulu, walaupun tidak ada biaya pendaftaran atau uang bangunan tapi tetap saja harus membeli seragam dan peralatan lainnya.

Kenapa tidak didaftarkan ke sekolah pondok yang tahun ajarannya menggunakan penanggalan Masehi sehingga mudah? Seperti itu mungkin pemikiran mereka sehingga menganggap proses ini cukup ribet.

Saya senyum saja. Mungkin mereka tidak tahu bagaimana sekolah pondok yang kami inginkan memiliki aturan dan kurikulum sendiri, tidak sama dengan kurikulum yang digunakan Kemendikbud meski tentu saja tetap searah dan resmi. Sehingga dalam banyak hal jelas memiliki perbedaan.

Namun demi masa depan anak, juga sesuai dengan cita-citanya yang tentu saja akan kami dukung, sebagai orang tua saya dan suami akan berusaha semaksimal mungkin supaya bisa mengantarkan anak sehingga bisa mengenyam pendidikan di sekolah pondok yang diinginkan.

Tidak hanya dalam jangka pendek sekolah dasar atau sekolah lanjutan saja. Melainkan memikirkan juga hingga ke jenjang lebih tinggi kedepannya seperti universitas.

Sistem Pendidikan Menentukan Kualitas

Budaya berpikir masyarakat maupun generasi di setiap sekolah pondok pasti berkaitan dengan sistem pendidikan yang mendasarinya. Karena itu jika masih bisa diusahakan untuk masuk ke sekolah yang dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik karena meluluskan generasi dengan budaya berpikir yang unggul, kenapa tidak?

Sejatinya, setiap sistem pendidikan memiliki kekuatan dan tantangan tersendiri, yang mencerminkan konteks budaya, sosial, dan ekonomi masing-masing siswa atau masyarakatnya.

Karena pendidikan itu sendiri memiliki makna yang sangat besar baik bagi individu maupun masyarakat pada umumnya kelak. Jauh atau dekat dengan lokasi itu bukan masalah.

Utamakan pendidikan Karakter

Mengutamakan Sistem Pendidikan Berbasis Pendidikan Karakter

Terlepas dari lokasi geografis atau latar belakang budaya yang berbeda, yang sangat penting adalah menjaga dan memelihara sistem pendidikan untuk memastikan pelestarian dan peningkatan pengetahuan, khususnya dalam bidang pendidikan karakter sehingga anak menjadi pribadi yang berbudi pekerti dan unggul.

Jangan resah hanya karena memiliki perbedaan sistem pendidikan antara sekolah umum dengan sekolah pondok (sekolah pondok juga banyak yang sistem pendidikan dan kurikulumnya sama dengan sekolah umum, kok)

Tahu kan sistem pendidikan terbaik di dunia ini ada di mana? Negara-negara Nordik dikenal dengan sistem pendidikan terbaik. Finlandia, Denmark, Swedia hingga Norwegia dikenal memiliki sistem pendidikan yang baik di dunia.

Hal itu karena di negara tersebut, pendidikan berfokus pada siswa serta pembelajaran individual. Jelas beda dengan sekolah umum di kita Indonesia. Hasilnya, di negara Nordik setiap individu memiliki kemampuan berpikir yang unggul dengan karakteristik masing-masing. Tidak ikut-ikutan.

Berbagai Sistem Pendidikan Berbeda

Saya pernah baca dalam jurnal artikel yang dibuat oleh New Jersey Minority Educational Development (NJ MED) tahun 2023, dalam hal peringkat Denmark berhasil menempati urutan pertama sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Lalu kemudian menyusul di peringkat dua ada Korea Selatan dan ketiga ada negara Belanda.

Jadi penasaran kan apa perbedaan dan keunggulan dari sistem pendidikan di negara tersebut, saya pun search informasinya. Sebagai perbandingan bagaimana dengan sistem pendidikan di Indonesia. Dengan maksud ambil dan terapkan yang baiknya, buang yang tidak cocok dengan keyakinan, budaya dan norma kita, pastinya.

Sistem Pendidikan di Berbagai Negara:

Sistem Pendidikan Finlandia

Finlandia tak hanya dikenal sebagai negara paling bahagia di dunia, tetapi juga salah satu negara dengan pendidikan terbaik. Apa sebabnya?

Sistem pendidikan Finlandia dikenal dengan fokus pada kesejahteraan siswa, kesempatan yang sama setiap siswa, dan pembelajaran individual. Nah jelas beda dengan sistem pendidikan di kita kan ya?

Ada sedikit penekanan pada pengujian standar di Finlandia, percis seperti sekolah pondok yang diinginkan anak saya. Dimana di sana ada seleksi dan aturan ketat. Guru atau ustadz ustadzah memiliki otonomi yang signifikan di dalam lingkungan sekolah pondok.

Sistem pendidikan di Finlandia tidak memiliki tes atau ujian yang diwajibkan, kecuali satu ujian pada akhir tahun terakhir siswa di sekolah menengah atas.

Sistem pendidikan di Finlandia tidak ada pemeringkatan. Hal ini yang membuat kualitas siswa di Finlandia bisa berkembang secara maksimal.

Sistem Pendidikan Denmark, Swedia, Norwegia

Di negara Nordik juga dikenal sangat baik dalam sistem pendidikannya. Negara-negara ini memprioritaskan akses yang sama ke pendidikan, memprioritaskan kesejahteraan siswa, dan pembelajaran praktis. Mereka menekankan kreativitas, pemikiran kritis, dan kolaborasi.

Sistem Pendidikan Belanda

Di Belanda, murid harus bersekolah dari usia 4 atau 5 hingga 16 tahun. Anak-anak di Belanda akan terus sekolah sampai memiliki kualifikasi dasar atau menginjak usia 18 tahun.

Pendidikan menengah pertama di Belanda sangat beragam. Ada yang mengarah langsung ke pendidikan tinggi. Ada juga yang mengarah ke pendidikan kejuruan atas.

Jadi sejak awal sudah harus direncanakan dengan matang ingin menjadi apa anak kedepannya sehingga tidak ada istilah kesalahan ambil jurusan atau sekolah lanjutan.

Sistem pendidikan karakter yang utama

Sistem Pendidikan Jerman

Jerman menawarkan sistem pendidikan ganda yang menggabungkan pembelajaran di kelas dengan pelatihan kejuruan praktis. Anak-anak sekolah dapat memilih jalur akademik atau kejuruan, yang mengarah ke berbagai peluang karier langsung.

Sistem Pendidikan Jepang

Sistem pendidikan di Jepang sangat dihargai dan menekankan disiplin dan kerja keras. Kurikulum di Jepang juga ketat, termasuk pelajaran tambahan.

Di Jepang, menghormati guru dan otoritas sangat tertanam kuat dalam budaya.

Sistem Pendidikan Inggris

Dikenal dengan perguruan tinggi favorit di dunia, Inggris memiliki sistem pendidikan yang mengikuti pendekatan terstruktur untuk pendidikan dasar, menengah, dan tinggi.

Sistem pendidikan di Inggris menekankan mata pelajaran akademik dan sering kali mencakup ujian standar seperti GCSE dan A-level.

Sistem Pendidikan Amerika Serikat

Sistem pendidikannya menekankan kurikulum yang luas, kegiatan ekstrakurikuler, dan pengujian standar. Pilihan pendidikan tinggi meliputi community college, universitas, dan sekolah kejuruan.

Mengapa sistem pendidikan di luar negeri lebih maju dibandingkan Indonesia?

Mungkin karena di luar negeri sumber daya manusia nya sudah lebih disiplin dan memiliki kehidupan yang seimbang antara sekolah dan kegiatan sehari-hari.

Tujuan utama dari sistem pendidikan di luar negeri adalah pendidikan universal yang berkualitas baik.

Bagaimana pun sistem pendidikannya, ketika anak anak melanjutkan sekolah, sebagai orang tua kami hanya mengingatkan yang terbaik untuk anak dunia akhirat.

Karenanya ketika akan memilih sistem pendidikan untuk sekolah lanjutan ada beberapa hal yang sudah kami diskusikan

Tips memilih sistem pendidikan sekolah lanjutan yang tepat untuk anak:

✔️Mengenali lebih dulu kebutuhan dan minat anak

✔️Mempertimbangkan kurikulum dan metode belajar yang digunakan sekolah tujuan. Saya lebih mengutamakan pendidikan karakter yang porsinya lebih besar.

✔️Mengunjungi sekolah dan bertemu dengan guru dan staf. Jaman sekarang karena sudah canggih bisa juga dengan melihat website sekolah sehingga semua informasi bisa didapatkan

✔️Mencari testimoni dan pendapat dari orang tua murid yang sekolah mondok di sekolah incaran

✔️Mempertimbangkan biaya sekolah dan biaya lainnya

✔️Ikuti kata hati dengan tidak lupa istikharah lebih dahulu meminta kemantapan dan kebaikan.

Tips memilih sistem pendidikan terbaik untuk anak

Tips Tambahan untuk Orang Tua

Ini saya dan suami lakukan jauh sebelum anak sekolah. Kami lebih dulu melibatkan anak dalam proses pemilihan sekolah. Menanyakan pendapatnya tentang sekolah yang ingin dia masuki.

Itu sebabnya saat usia dini, anak saya tidak masuk sekolah formal melainkan homeschooling (dan berhasil) karena di sekolah formal anak saya merasa tidak nyaman berkaitan dengan sifat anak yang pemalu dan tertutup.

Saat anak sudah nyaman dan siap sekolah perhatikan akreditasi sekolah yang diinginkan.

Cari tahu tentang program ekstrakurikuler yang ditawarkan sekolah sehingga anak merasa senang mengikutinya

Pastikan sekolah memiliki lingkungan pendidikan karakter yang aman dan nyaman untuk anak. Karena sebaik apa pun kita di rumah mendidik anak tetap lingkungan akan ikut mempengaruhi.

Pendidikan Karakter harus diutamakan karena orang akan menghargai yang beradab sekaligus berilmu tapi tidak menghargai orang berilmu jika tidak beradab

Pendidikan Karakter seperti dalam artikel Pendidikan Karakter Mengantarkan Anak Jadi Pribadi Mulia dipercaya bisa mengantarkan anak-anak menjadi generasi muda yang berakhlak dan berkarakter baik. Hal itu bukankah dambaan setiap orang tua terhadap putra putri nya?

Read more ...

Jumat, 23 Agustus 2024

Bau badan Gōngrén bikin gak Percaya Diri? Pilih Hint Solusinya

Masa remaja masa yang paling indah, tapi sayang karena tuntutan ekonomi masa remaja saya harus dilalui dengan kucuran keringat menjadi gōngrén (pekerja asing) jauh di perantauan. Sebagai tulang punggung keluarga pengganti bapak, saya harus kerja banting tulang demi bisa mendulang dolar untuk melanjutkan kehidupan Ibu dan adik di kampung.

Lulus sekolah tak bisa melanjutkan kuliah, saya memilih jadi kuli-lah sebagai buruh migran ke luar negeri demi bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan.

Sejujurnya saat melewati masa peralihan dari remaja menuju dewasa ini muncul perasaan tidak nyaman dan kurang percaya diri, secara saya memiliki masalah bau badan dan ketiak.

Nasib jadi chòu gōngrén pekerja bau badan

Sebenarnya, saya gak tahu apa penyebabnya. Tahu-tahu ketika datang ke rumah majikan, disambut mereka di depan pintu, cuping hidung Tàitài (majikan perempuan) langsung bergerak-gerak. Mengendus-endus...

Lalu dengan bahasa seadanya Xiānshēng (majikan laki-laki) menyuruh saya untuk segera membuka alas kaki, dan langsung menggiring saya ke kamar mandi.

Melalui bahasa isyarat, saya paham majikan perempuan menyuruh saya cuci kaki, mandi dan mengganti baju.

“Ni you tǐchòu, ma?” Ups! Keluar dari kamar mandi majikan perempuan bertanya apakah saya ada bau badan? Malunya...

Sekuat itukah bau badan saya hingga bos perempuan langsung mengenalinya di pertemuan pertama kami?

Bau badan yang saya alami mungkin muncul karena hormon dan beberapa hal lain. Tahu sendiri kerja sebagai buruh di luar negeri gak bisa main-main. Totalitas dalam pekerjaan itu harga mati.

Bisa saja kelenjar apokrin penghasil keringat dalam diri saya bekerja lebih aktif sesuai dengan tuntutan pekerjaan sehingga jumlah keringat di badan saya lebih banyak daripada biasanya.

Apalagi kandungan keringat dalam tubuh itu bukan terdiri dari air dan garam saja, melainkan ada juga minyak.

Akibatnya, keringat berlemak yang bercampur dengan kotoran dan bakteri bisa menyebabkan bau tak sedap pada ketiak dan badan. Mungkin karena itu pula dengan tidak berperasaan nya anak majikan sempat mengatakan saya sebagai chòu gōngrén alias pembantu bau... wadidaw!

Bau badan dan ketiak bisa disebabkan karena malas mandi atau proses mandi kurang bersih.

Apakah saya termasuk yang malas mandi? Tentu saja tidak. Tapi memang sejak bekerja di luar negeri, kebiasaan mandi saya mengalami perubahan.

Biasanya saya minimal mandi dua kali sehari. Tapi di rumah majikan, saya harus mengikuti kebiasaan mereka, mandi hanya sehari sekali itu pun pada malam hari sebelum tidur.

Padahal mandi akan menghilangkan keringat, sebum, sel-sel kulit mati, kotoran, dan bakteri penyebab bau tak sedap.

Bisa jadi karena pagi atau siang saya tidak mandi, bau badan dan ketiak semakin menjadi.

Karena mandi sehari sekali saat malam, otomatis ganti baju juga sekali saat setelah mandi.

Menyedihkan sekali bau ketiak dan badan akibat keringat berlebih ini justru bisa jadi malah semakin menyengat karena saya jarang ganti pakaian.

Apalagi kondisi pakaian yang sudah basah karena keringat, itu akan semakin  mendukung perkembangbiakan bakteri penyebab bau badan.

Tips cegah bau badan dengan HINT ZENCHA Eau de Parfum

Pekerjaan saya merawat Akong (Kakek) yang lumpuh dan makan menggunakan selang tentu saja sangat menguras aktivitas fisik. Setiap dua jam saya harus mengangkat Akong, membolak-balik badannya supaya kulitnya tidak kemerahan atau luka.

Yang terberat itu setiap pagi memindahkan Akong dari tempat tidur ke kursi roda untuk dibawa jalan-jalan dan berjemur matahari. Demikian pulangnya jelang tea break, Akong kembali saya rebahkan di kasur lalu beberapa saat setelah makan membantunya terapi.

Belum lagi saya juga harus beli sayuran bersepeda ke pasar, pulang pergi ke rumah sakit, sampai antar jemput anak majikan dari olahraga, ekstrakurikuler, bimbingan belajar, dan kegiatan lainnya yang cukup menguras tenaga dan lelah.

Aktivitas fisik seorang buruh migran dengan intensitas tinggi seperti keseharian saya pastinya akan memicu tubuh mengeluarkan banyak keringat sehingga masuk akal kalau saya lebih rentan bermasalah dengan bau badan.

Tips agar bebas masalah bau badan

Karena tidak bisa menipu diri akhirnya saya melakukan berbagai upaya untuk menjaga kesegaran aroma tubuh.

Saya tidak sakit hati ketika majikan menemukan fakta kalau saya memiliki bau badan. Yang ada justru mau mengobatinya mumpung di luar negeri yang terkenal pelayanan kesehatannya sangat bagus.

Apalagi majikan perempuan justru mengajarkan saya supaya bisa mengatasi masalah bau badan tersebut sampai tuntas dengan melakukan beberapa hal penting berikut ini:

Mengusahakan mandi minimal dua kali sehari

Karena bau badan saya bisa mengganggu majikan, akhirnya saya diberi kebebasan mandi pagi atau siang yang tidak boleh dilewatkan karena fungsinya sangat penting untuk menjaga kebersihan tubuh.

Saat mandi pun saya pastikan semua bagian tubuh sudah dibersihkan dengan benar, terutama ketiak, area kelamin, dan lipatan kulit leher, belakang paha, dan siku.

Senang sekali waktu Ama (Nenek) yang terbilang masih sehat memberikan saya sabun antiseptik untuk menghambat kemunculan bakteri penyebab bau badan.

Berganti pakaian lebih sering

Karena ada kesempatan mandi, saya juga bisa berganti pakaian. Terlebih ketika selesai mengurus Akong, dimana seluruh badan biasanya sudah banjir keringat.

Selain pakaian luar, saya juga mengganti pakaian dalam serta kaus kaki saat musim dingin supaya tidak terasa lembap.

Jika musim panas, saya memilih bahan pakaian yang menyerap keringat dan tidak gampang menimbulkan rasa gerah, misalnya bahan katun.

Menghindari makanan pemicu bau badan

Dengan adanya bau badan, saya membatasi konsumsi makanan seperti daging merah, bawang-bawangan, dan keju. Kalau di kampung pasti menghindari pete dan jengkol juga dong!

Menggunakan parfum pilihan secara tepat

Banyak yang merekomendasikan berbagai obat bau badan. Baik sesuai resep dokter maupun herbal tradisional. Di samping itu saya juga menggunakan parfum yang wanginya bikin adem dan nyaman.

Majikan dan keluarganya kerap menghadiahkan saya parfum. Namun pada akhirnya parfum pilihan saya sekarang ini jatuh pada Hint.

Percaya diri beraktivitas dengan HINT ZENCHA Eau de Parfum

HINT ZENCHA Eau de Parfum

Ya, varian ZENCHA dari HINT saat ini jadi parfum favorit saya. Wanginya khas dedaunan teh mengingatkan akan masa kecil saya di kampung Cibeureum Sukanagara Kabupaten Cianjur.

Saat perkebunan teh Nusantara (PTPN VIII) sedang jaya-jayanya, hampir seluruh warga kampung bekerja di perkebunan teh. Biasanya kaum wanita menjadi pemetik daun, dan para pria menjadi kuli panggul, pekerja serabutan di perkebunan atau jadi mandor.

Saya dan teman sebaya lainnya, sering ikut ke perkebunan baik untuk membantu bapak dan ibu atau sekadar bermain-main saja.

Karena itu wangi khas daun teh sangat akrab di diri saya. Tidak pernah bosan untuk menyesapnya yang ada justru bikin tambah semangat seakan semilir angin yang membawa keharuman teh adalah aroma terapi yang menenangkan jiwa.

HINT saat ini mengeluarkan #TeaSeries yang terdiri dari ZENCHA dan MINTEA. Hasil kolaborasi dengan Shinichiro Oba, perfumier asal Jepang. Beliau keturunan langsung Tea Grandmaster dari Shizuoka. Yang bertujuan melahirkan wangi green tea terbaik, yang cocok as an escape from city hustle life.

Zencha by HINT TEA SERIES

Setiap hari 4-5 kali saya semprotkan HINT pilihan saya, ZENCHA Eau de Parfum di bagian tubuh yang diinginkan. Biasanya saya semprotkan di belakang telinga, pergelangan tangan, dan badan.

Sebenarnya HINT menyediakan banyak varian wangi parfum berkualitas tinggi yang bisa kita pilih sesuai dengan keinginan. Sebelumnya saya juga sudah mereview Parfum HINT Topper Ultimate aroma Bold sentuhan Woody.

Perlu diketahui kalau parfum HINT itu didukung dengan berbagai teknologi aroma unik dari Ease Scent Technology dan bahan utama yang bersumber langsung dari Eropa.

Tea Series by HINT
Tea Series by HINT. sumber hintofyou.com

Manteman bisa temukan HINT of you melalui wewangiannya yang abstrak namun imersif. Bagaimana diri dan aktualisasi kamu, bisa langsung dipersonalisasikan sehingga bisa dicirikan paling menggambarkan sosok diri kita sendiri.

Bagaimana cara mendapatkan produk HINT manteman tinggal berkunjung langsung ke websitenya saja di hintofyou.com

Ada banyak penawaran menarik dari HINT mulai dari freebies hingga voucher belanja. Tidak ribet deh proses transaksinya karena pembayaran bisa dilakukan melalui berbagai metode yang kita bisa.

Jadi HINT varian mana yang manteman pilih? Kalau saya jelas HINT ZENCHA Eau de Parfum sangat saya sukai karena selain wanginya sudah akrab dalam perjalanan hidup saya semasa kecil juga sangat membantu menyamarkan terhadap keringat dan bau badan.

Qualitea Time bersama HINT ZENCHA Eau de Parfum

Qualitea Time berkat HINT ZENCHA Eau de Parfum

Pekerjaan saya merawat orang lanjut usia tidak terganggu lagi perasaan minder atau tidak nyaman karena bau badan.

Antar jemput anak majikan juga semakin senang dan anak-anak bilang kalau Jiějiě (kakak) sekarang tidak chòuchòu lagi.

Setiap hari qualitea time dengan lansia yang saya rawat dan anak-anak yang saya jaga makin maksimal. Betul sekali jika yang saya butuHINT ya HINT ZENCHA Eau de Parfum.

Menggunakan HINT ZENCHA Eau de Parfum ini tentu tak hanya mengatasi bau badan tetapi juga membantu saya bisa beraktivitas dengan percaya diri.

Sebuah penelitian yang dilakukan UCL (University College London) melaporkan jika teh (Camellia sinensis) bisa mengusir hormone stress. Selain itu, aroma teh juga dipercaya bermanfaat untuk menenangkan diri.

Menikmati wangi teh dari parfum HINT ZENCHA Eau de Parfum yang saya semprotkan di badan telah mempengaruhi komunikasi saya dengan orang lain. Saya jadi merasa lebih percaya diri dan bawaannya lebih tenang.

Demi rasa percaya diri yang harus dipulihkan ini, saya tidak hanya ingin berbagi pengalaman terkait bau badan saja, tapi juga ingin memberikan nasihat sederhana supaya siapa saja bisa konsisten membantu siapa pun untuk mengatasi masalah bau badan.

Sekarang, saatnya kita mengucapkan selamat tinggal pada masalah bau badan dan ketiak yang menurunkan rasa percaya diri. Yuk, gunakan HINT ZENCHA Eau de Parfum sehingga tubuh terbebas dari bau tidak sedap karena keringat berlebih dan menjadi lebih percaya diri karena tetap wangi sepanjang hari.

HINT ZENCHA Eau de Parfum
Read more ...

Kamis, 22 Agustus 2024

Mengintip Pendidikan Karakter di Jerman

Waktu mau finish kontrak kerja di Taiwan, majikan bertanya sepulangnya di Indonesia saya mau ngapain saja. Ya saya jawab aja mau nikah, mau ngurus ibu, mau buka usaha, melanjutkan sekolah, dan lainnya.

“Beneran mau nikah? Pacar kamu kerjanya apa?” Tanya majikan kepo.

“Guru,” jawab saya apa adanya.

“Woah, beneran guru? Keren banget...!” Seperti tidak percaya, majikan begitu takjub mengetahui mantan pacar --yang sekarang sudah jadi suami-- saya bilang berprofesi sebagai guru.

Karakter Guru Menyenangkan VS Menyedihkan

Padahal saat saya menjawab calon suami pekerjaannya guru, sebenarnya hati ini meringis. Bagaimana tidak, saat itu mantan pacar masih honorer di sebuah sekolah dasar, penghasilannya hanya seratus lima puluh ribu per tiga bulan! Ya, itu manteman boleh percaya boleh tidak, bebaslah.

Yang bikin lebih sedihnya, yang diterima mantan pacar seratus lima puluh ribu rupiah, tapi di kwitansi nya tertera tiga ratus ribu rupiah, lho! Hikz!

Tahu gak kata kepala sekolahnya hal itu sudah biasa. Jadi mau gak mau harus menerima atau mengundurkan diri sekalian. Gila kan? Coba bayangkan, seburuk itu penghasilan guru yang masih honorer di tempat saya saat itu!

Makanya saya heran kenapa majikan di Taiwan ini justru seolah takjub dengan profesi guru, sementara saya malah terang-terangan mencibir...

Guru Profesi Bergengsi di Jerman

Ternyata majikan memandang profesi guru sebagai pekerjaan yang sangat baik karena ia berkiblat ke negara Jerman. Siapa yang tidak mengenal negara Jerman yang kini menjadi salah satu negara maju di Eropa?

Profesi guru begitu baik di mata majikan karena dia tahu bagaimana guru di negara Jerman dimuliakan. Menjadi seorang guru di sana adalah hal yang prestisius dan banyak diminati.

Pendidikan Karakter Adab Kepada Guru di Jerman

Jadi guru di Jerman kata majikan saya akan banyak mendapatkan peluang pertumbuhan karier yang besar.

Berprofesi sebagai guru di Jerman itu sangat dihormati. Negara berinvestasi secara signifikan dalam bidang pendidikan jadi tidak heran kalau guru di Jerman bisa menikmati tingkat penerimaan dan mendapat status sosial yang tinggi.

Guru benar-benar dianggap sebagai faktor penting dalam meningkatkan kualitas sistem sekolah dan pembelajaran serta pengalaman siswa. Karenanya setiap orang sangat menghormati guru.

Adab kepada Guru, pendidikan karakter di Jerman

Cara Jerman Membentuk Generasi Muda Berkarakter

Kualitas pendidikan Jerman terkenal di dunia. Terorganisir dengan baik dan dirancang agar mudah diakses oleh semua siswa sehingga memungkinkan terus belajar hingga tingkat universitas.

Jerman yang memiliki sistem pendidikan desentralisasi, mulai dari level SD sampai dengan sekolah menengah jadi negara terbaik untuk pendidikan.

Setiap pemerintah daerah membuat berbagai ketentuan konstitusi masing-masing mengenai pengaturan masalah-masalah pendidikan, dan seluruhnya melalui proses legislatif.

Sistem pendidikan tinggi Jerman terkenal dengan penekanannya pada kebebasan akademis, relevansi praktis, dan infrastruktur penelitian yang kuat.

Jerman terkenal dengan sejarahnya yang panjang dan kaya. Jerman menjadi yang terdepan dalam pemikiran, politik, dan seni Eropa.

Sejarah telah membentuk budaya di Jerman yang menggabungkan nilai-nilai pendidikan karakter dengan sastra, seni, filsafat, logika, akal, dan, tentu saja, kecintaan terhadap keju dan sosis sebagai kuliner khas setempat.

Pendidikan Karakter di Jerman

Pendidikan karakter bisa didefinisikan sebagai usaha menanamkan kebiasaan yang baik (habituation) sehingga anak mampu bersikap dan bertindak bersandarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya.

Begitu banyak tradisi dan budaya Jerman sebagai contoh pendidikan karakteristik yang sangat baik.

Beberapa tradisi dan budaya Jerman yang bisa kita ambil sisi baiknya, seperti:

Menjunjung Tinggi Bahasa

Jerman juga memiliki bahasa pemersatu layaknya Indonesia, yakni Bahasa Jerman. Mereka bangga berbicara dengan bahasa ibu dan senang untuk mempelajarinya.

Menghargai Waktu

Orang Jerman sangat menghargai waktu. Lebih baik menunggu yang lain dari pada ditunggu orang lain.

Peduli Lingkungan

Tidak berani membuang sampah sembarang, apalagi merusak hutan, atau habitat hewan. Mereka sejak kecil diajarkan peduli akan sesama makhluk hidup.

Gemar membaca pendidikan karakter di Jerman

Hobi Membaca

Masyarakat Jerman termasuk gila baca. Mereka percaya dengan membaca maka ilmu dan pengetahuan akan terus berkembang.

Taat Peraturan

Tidak seperti di Indonesia, aturan dibuat justru untuk dilanggar. Ups! Tidak untuk ditiru ya... Karena semua taat aturan jadi kehidupan di Jerman sangat tertib.

Disiplin

Kepatuhan terhadap peraturan sangat dihargai di masyarakat Jerman. Meskipun penting untuk menentang konvensi yang tidak adil, menjaga sikap hormat terhadap aturan yang ditetapkan dapat membantu menciptakan suasana damai.

Masyarakat Jerman percaya kalau patuh terhadap aturan mendorong akuntabilitas dan perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat.

Pendidikan Nomor Satu

Sejak kecil hingga dewasa, Jerman memperhatikan generasi muda negaranya untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Pemerintah tidak segan memberikan dana sangat besar untuk itu.

Jerman mengeluarkan kebijakan baru yang berpengaruh terhadap sistem pendidikan.

Hilangnya kebijakan monopoli dari pemerintah pusat mengenai sistem pendidikan, memicu Jerman untuk membuat sistem pendidikan berbasis pengembangan karakter.

Pendidikan karakter generasi muda di Jerman menitikberatkan pada pengimplementasian Hak Asasi Manusia (HAM) dalam dunia pendidikan di mana para pelajar di Jerman di tekankan untuk menghormati hak setiap orang.

Anak-anak di Jerman juga diajarkan untuk berperilaku sebagaimana ia ingin diperlakukan. Jadi kalau ingin dihargai , harus lebih dahulu menghargai orang lain.

Di Jerman, pendidikan kepada anak didukung sepenuhnya oleh peran orang tua dan sekolah yang sangat terintegrasi.

Ada sistem pendidikan yang unik dan menarik pada sistem pendidikan di Jerman yaitu lebih mengarah pada pembelajaran yang berbasis latihan atau praktik.

Terdapat kesamaan sistem di setiap sekolah di Jerman yakni mendidik anak sejak dini sehingga kelak bisa terjun ke masyarakat sudah terlatih untuk menaati peraturan, sehingga sudah terbiasa untuk hidup disiplin.

Kedisiplinan masyarakat Jerman salah satunya adalah peraturan untuk hadir dan menunggu instruksi terlebih dahulu baru bertindak.

Hal itu mendorong orang-orang di Jerman untuk menjaga etika serta mendorong diri untuk lebih aktif.

Yuk! Belajar dari Generasi Muda Berkarakter Jerman

Di Jerman memang tidak ditekankan pada 18 nilai pendidikan karakter seperti di Indonesia yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.

Meski memiliki nilai pendidikan karakter yang lebih banyak dibandingkan negara Jerman yang hanya menerapkan 7 nilai, nyatanya kualitas pendidikan di Indonesia belum mampu disandingkan dengan kualitas pendidikan di negara Jerman, ya.

Belajar dari generasi muda negara Jerman yang berkarakter

Padahal dengan memiliki nilai karakter yang lebih banyak dibandingkan Jerman, Indonesia seharusnya dapat mengejar ketertinggalan. Namun nyatanya masih banyak kekurangan dalam penerapannya.

Nilai-nilai pendidikan di Indonesia mungkin dapat ditinjau kembali agar dapat diintegrasikan sehingga menghasilkan tatanan nilai yang lebih sederhana namun kompleks sesuai dengan seluruh kebutuhan sistem pendidikan karakter di Indonesia.

Selain itu penghormatan bagi para guru di Indonesia sepertinya perlu dibenahi kembali.

Salah satu faktor utama yang menghambat keberhasilan pendidikan karakter di Indonesia adalah minimnya kesadaran dan pemahaman guru mengenai pentingnya pendidikan karakter.

Terbukti di lapangan, masih banyak guru yang masih fokus pada pencapaian akademis anak dan mengabaikan aspek pendidikan karakter, bukan?

Selain tentang pendidikan karakter di negara Jerman, manteman bisa nambah informasi dengan membaca artikel tentang pendidikan karakter di negara Jepang juga ya. Minggu depan insyaallah kita cari informasi tentang pendidikan karakter di negara lainnya, ya.

Read more ...

Selasa, 20 Agustus 2024

Pro Kontra Pengamalan Pendidikan Karakter Nilai Religius Tercoreng Karena Lepas Jilbab

Sedang hangat jadi perbincangan di dunia maya mengenai kontroversi lepas jilbab adik-adik muslimah pasukan pengibar bendera (paskibra) di Ibu Kota Nusantara (IKN) beberapa hari lalu.

Melansir dari laman CNN Indonesia pada 15 Agustus 2024, Purna Paskibraka Indonesia (PPI) mencatat ada 18 anggota pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) muslimah yang tidak mengenakan jilbab pada saat itu. Padahal ketika latihan, mereka mengenakan jilbab.

Yang jadi polemik adalah adanya dugaan pemaksaan melepas jilbab pada malam pengukuhan paskibraka itu demi keseragaman. Benarkah paskibraka muslimah itu dipaksa untuk melepas jilbab?

Jika benar maka perlu dipertanyakan maksud dan tujuannya melepas jilbab ini secara di negara Republik Indonesia memiliki dasar negara Pancasila dengan sila pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa yang memiliki 7 butir:

  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan Ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  2. Manusia Indonesia percaya dan Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadapTuhan Yang Maha Esa
  5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing
  7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Polemik Lepas Jilbab Paskibra dan Pembinaan Ideologi Pancasila

Polemik semakin memanas terlebih mengingat saat ini paskibraka telah berpindah di bawah naungan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Sebelumnya, para adik-adik pengibar bendera ini dinaungi oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Jika di bawah naungan BPIP terjadi dugaan pemaksaan melepas jilbab demi keseragaman bukankah nama besar Pembinaan Ideologi Pancasila itu sudah tercoreng dengan sendirinya?

Pendidikan karakter Religius

Pendidikan Karakter Siswa Indonesia

Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) ada 18 karakter siswa yang harus dikembangkan di lingkungan sekolah. Karakter itu terdiri dari Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat atau Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, dan Peduli Sosial.

Kenapa Karakter Religius Dominan?

Karakter Religius berada di urutan pertama menandakan jika nilai Religius sangat penting dan mendominasi semua karakter turunan di bawahnya.

Karakter religius dianggap sangat penting dalam kehidupan manusia karena dengan berpegangan teguh kepada agama yang mengajarkan nilai-nilai yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Karakter Religius juga dapat membantu manusia menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral. Karakter Religius dapat membentuk karakter yang lebih efektif dan efisien daripada landasan lainnya.

Pro kontra karakter religius karena aksi lepas jilbab

Ciri Orang dengan Karakter Religius

Orang-orang dengan karakter Religius bisa dibedakan dengan lainnya, karena biasanya:

  • Orang dengan karakter Religius dapat mempertimbangkan agama dalam setiap aspek kehidupannya
  • Orang dengan karakter Religius bisa menjadikan agama sebagai panutan dalam setiap tutur kata, sikap, dan perbuatannya
  • Orang dengan karakter Religius yang kuat, taat menjalankan perintah Tuhannya dan menjauhi larangannya
  • Orang dengan karakter Religius dalam dirinya memiliki kerangka moral yang kuat. Sehingga tidak mudah terjerumus dalam jalan salah
  • Dan masih banyak lagi perbandingan lainnya...

Itulah kenapa pentingnya karakter religi menjadi kunci utama dalam pembentukan karakter peserta didik sehingga anak diharapkan dapat dengan mudah menyesuaikan diri karena karakter Religius menunjukkan kepatuhan dan penghayatan terhadap ajaran agama serta toleransi terhadap pemeluk agama lain.

Pendidikan Karakter Religius itu sudah benar ditanamkan baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekolah sejak dini, bahkan sejak anak masih dalam kandungan.

Terutama lima nilai utama pendidikan karakter yang lebih dulu ditanamkan kepada anak adalah nilai religius, nilai nasionalisme, nilai mandiri, nilai gotong royong, dan nilai integritas, lima nilai tersebut dalam hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan satu sama lain saling berkaitan, tidak bisa dipisahkan.

Ketika Pendidikan Karakter dan Butir Pancasila Hilang

Lalu bagaimana jika kenyataannya pada kegiatan sekelas nasional seperti kegiatan paskibraka penerapan pendidikan karakter dalam diri anak dan butir-butir Pancasila itu hilang?

Kita kembalikan saja kepada pilihan masing-masing karena keyakinan ini berkaitan dengan akidah. Tidak bisa diganggu oleh pihak lain.

Ketika pendidikan karakter dan Pancasila hilang

Meski tidak heran menimbulkan banyak komentar dan opini warganet yang mayoritas menyayangkan kejadian itu.

Kita tahu sejak masuk sekolah anak-anak diarahkan untuk bisa menerapkan P5 di sekolah, Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Kurikulum yang terus berganti juga diperketat harus memiliki nilai P5. Namun apa yang dilakukan pihak tertentu jika melakukan dugaan pemaksaan ini? Mereka telah menghancurkan prinsip dasar pendidikan karakter dan Pancasila itu sendiri dengan menafikan dimensi sila pertama dari Pancasila, bukan?

Sejauh ini masyarakat hanya bisa saling menyalahkan. Yang tidak bersimpati bisa saja bilang soal pakai lepas jilbab itu kan hak azasi manusia, jadi biarkan saja sesuai pilihan anaknya. Tapi adalah pihak yang bakalan setega itu terlebih pihak orang tua?

Apakah Introspeksi Sebuah Solusi?

Mungkin sebaiknya kita saling introspeksi diri saja dulu. Apakah akhlak dan pekerti kita juga perlu dikuatkan lagi?

Jangan sampai menghujat pihak tertentu tapi pada kenyataannya implementasi pendidikan karakter dan Pancasila dalam diri kita masih harus diperbaiki.

Manteman yang ingin mendapatkan pencerahan terkait pendidikan karakter, bisa baca juga artikel mengenai Serba Serbi Pendidikan Karakter ini yuk...

Read more ...

Rabu, 14 Agustus 2024

Pendidikan Karakter Pendidikan Anti Kekerasan

Lagi viral aksi kekerasan dan pengkhianatan yang dialami selebgram mantan atlet anggar, ya? Saya yakin manteman udah lebih update soal itu. Benar?

Harus diakui saat ini dunia pendidikan di Indonesia banyak dinodai oleh tindak kekerasan. Aksi kekerasan yang dilakukan manusia terlihat sudah melewati batas, baik dipandang dari segi hukum, norma maupun aturan agama dan kepercayaan.

Aksi kekerasan baru-baru ini yang sudah menjadi tontonan publik, adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialami Cut Intan Nabila oleh suaminya, Armor Toreador.

Aksi kekerasan pasangan suami istri ini sangat mencuri perhatian publik. Tak sedikit yang mengutuk perbuatan Armor yang dinilai tidak pantas, apalagi sang istri masih dalam masa nifas.

Netizen bisa melihat bagaimana sang suami menyerang istri secara brutal di atas tempat tidur sambil mengeluarkan kata-kata kasar.

Parahnya lagi, tendangan suami juga mengenai bayi mereka yang sedang tidur, sehingga membuat bayi tersebut terlihat terkejut dan posisinya pun berubah.

Perlakuan yang sudah di luar batas, membuat pelaku menjadi sasaran kemarahan warganet. Banyak yang mengecam tindakan kekerasan yang dilakukannya meski sekarang pelaku sudah ditangkap aparat kepolisian.

Akibat tindakan kekerasan tersebut, Armor ditetapkan sebagai tersangka dengan pasal berlapis, termasuk Undang-Undang Perlindungan Anak, Penganiayaan, dan KDRT.

Kekerasan Bertentangan dengan Pendidikan Karakter dan Pancasila

Kekerasan (KDRT) dan perselingkuhan (berkhianat) adalah perbuatan yang sangat ditentang masyarakat dan negara ini. Kekerasan dan pengkhianatan juga sangat bertentangan dengan nilai utama pendidikan karakter sekaligus nilai-nilai sila Pancasila.

Lima nilai utama pendidikan karakter itu terdiri dari nilai religius, nilai nasionalisme, nilai mandiri, nilai gotong royong, dan nilai integritas.

Agama mana pun, sebagaimana selalu ditanamkan melalui pendidikan karakter sejak dini sangat melarang keras aksi kekerasan apalagi konteksnya menganiaya istri.

Tidak hanya itu, lima nilai dalam pendidikan karakter tersebut dalam hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Satu dilanggar (anggap saja kekerasan) maka nilai lain pun ikut tercoreng.

Aksi kekerasan termasuk KDRT juga bertentangan dengan Sila ke-2 Pancasila yakni ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’.

Bagaimana pun caranya, kekerasan bukan perbuatan yang beradab dan itu adalah tindakan tidak manusiawi.

Pelaku wajib diberikan sanksi pidana, dan korban wajib dipulihkan dari penderitaan fisik, dan psikis.

Pendidikan karakter pendidikan anti kekerasan

Berperilaku Kasar Apakah Tanda Pendidikan Karakter Tak Mempan?

Pendidikan sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia. Dengan pendidikan seseorang bisa mengatur dan mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.

Tanpa pendidikan manusia tidak bisa bertumbuh dan berkembang. Maka, pendidikan dipandang sebagai salah satu kebutuhan manusia, dimana pendidikan dianggap sebagai modal dasar dalam menata hidup dan masa depan.

Jika kekerasan masih terjadi, apakah pendidikan karakter yang ditanamkan sudah sesuai dengan yang diharapkan?

Apakah pendidikan karakter yang diterapkan sejak dini itu sudah sesuai koridor pendidikan yang sebenarnya?

Jangan sampai pendidikan karakter yang dijadikan andalan justru semakin jauh dari tujuan pendidikan sesungguhnya.

Karena sudah jadi rahasia umum jika untuk mencapai tujuan institusi pendidikan, adakalanya kekerasan menjadi salah satu metode yang diterapkan.

Kalau itu terjadi, maka lembaga pendidikan tidak lagi dilihat sebagai sarana yang ampuh dalam mendidik dan membentuk karakter anak bangsa, tetapi justru sebaliknya. Sistem pendidikan yang dipakai akan jadi momok yang menakutkan dan mencemaskan.

Pendidikan Karakter Anti Kekerasan

Pendidikan karakter sebagaimana yang ditekankan dalam Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka Belajar saat ini tidak mengenal pendidikan dengan cara kekerasan karena pendidikan kekerasan dapat membunuh karakter seseorang.

Kalau sampai terjadi kekerasan, maka pelaku kekerasan adalah pelaku yang menodai esensi pendidikan dan pendidikan yang diberikan hanya akan melahirkan generasi penerus yang rusak, generasi yang tidak berkarakter.

Kini, Aksi Kekerasan Jadi Tontonan

Harus diakui saat ini dunia pendidikan kita memang banyak dinodai oleh tindakan kekerasan. Aksi kekerasan yang dilakukan manusia di hampir seantero dunia sangat jelas terlihat.

Dampak dari perkembangan arus globalisasi dan modernisasi. Realitas menunjukkan kekerasan sudah menjadi kosa kata yang akrab terdengar.

Kekerasan menjadi sebuah keniscayaan yang sadar atau tidak akan selalu menggerayangi dan atau menghantui generasi penerus bangsa.

Kekerasan ada di sekitar rumah, ada di lingkungan sekitar, bahkan kekerasan ada di mana-mana.

Kekerasan muncul di tayangan-tayangan telivisi, radio-radio, berita-berita Internet, media massa dan surat kabar yang tidak bosan-bosannya menampilkan berbagai tayangan atau berita kekerasan; mulai dari masalah pembunuhan, pemerkosaan, perkelahian, kekerasan terhadap perempuan, teror bom, hingga konflik sosial-keagamaan dengan latar belakang dan alasan yang  beragam.

Dalam konteks dunia pendidikan, kekerasan dapat terjadi bila lembaga pendidikan (termasuk pendidik dan tenaga kependidikan) tidak lagi mengedepankan nilai dan proses untuk mencapai visi dan misi pendidikan, tetapi lebih pada emosi dan tindakan yang semena-mena.

Apalagi kalau di lembaga pendidikan tersebut terdapat begitu banyak individu yang memiliki kecenderungan tidak mengindahkan aturan, tidak hidup sesuai dengan keinginan guru dan memiliki latar belakang agama dan budaya yang beraneka ragam. Sudah bisa dipastikan tindakan kekerasan akan dengan mudah muncul ke permukaan.

Kekerasan Institusi Pendidikan

Secara umum, kekerasan di institusi pendidikan dikelompokkan menjadi 3 macam, yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan simbolik.

Kekerasan Fisik

Kekerasan fisik mudah diidentifikasi. Kekerasan semacam ini berakibat pada kondisi fisik; badan memar, mata memar, hidung berdarah, hingga mengakibatkan nyawa hilang.

Kekerasan fisik bisa terjadi karena guru menghukum murid atau siswa senior menghukum siswa junior.

Kekerasan Psikis

Kekerasan jenis verbal bisa terjadi di tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. Kekerasan Psikis ini biasanya terjadi melalui kata-kata menghina, sinis, atau kalimat membully.

Kekerasan psikis, misalnya dengan mengatakan, “bodoh kamu”, “otak udang”, atau “otakmu di dengkul”, dan kalimat bully lainnya.

Kekerasan psikhis dapat mengakibatkan murid atau mahasiswa menjadi rendah diri atau pasif.

Kekerasan Simbolik

Bentuk kekerasan simbolik adalah bentuk pemaksaan budaya kelompok tertentu kepada kelompok lain.

Dalam kekerasan simbolik seakan-akan murid atau peserta didik tidak dapat mengekspresikan diri sesuai dengan minat dan bakatnya. Mengakibatkan lahirnya murid-murid tertindas. Kemungkinan besar murid tertindas akan menjadi penindas.

Seperti siklus atau lingkaran setan. Semua bentuk kekerasan ini terjadi karena pola relasi antar guru-murid, murid-murid, mahasiswa-mahasiswa yang tidak setara.

Ironis memang kalau ternyata lembaga pendidikan kita masih belum bisa meminimalisir terjadinya kekerasan di sekolah.

Pendidikan karakter anti kekerasan

Kekerasan dalam Keluarga

Selain di institusi pendidikan (sekolah maupun perguruan tinggi) pendidikan juga berasal dari keluarga dan atau orang tua terhadap anak.

Ada juga beberapa orang tua yang menerapkan sistem kekerasan dalam mendidik anak-anaknya dengan alasan agar mereka menjadi disiplin ataupun untuk menumbuhkan efek jera ketika si anak melakukan suatu kesalahan.

Dalam kenyataannya banyak anak-anak yang ternyata justru menerima siksaan di rumahnya sendiri.

Beberapa orang tua menganggap bahwa mendidik anak dengan kekerasan itu cukup efektif untuk menumbuhkan kedisiplinan anak. Padahal, kekerasan apapun bentuknya akan menghancurkan anak.

Anak yang dibesarkan dengan kekerasan akan membuat hatinya tumpul dari rasa kemanusiaan.

Anak akan tumbuh menjadi seorang yang keras bahkan kasar, atau malah sebaliknya. Dia akan menjadi seorang yang lemah dan takut, minder, bahkan rendah diri.

Penerapan Pendidikan Anti Kekerasan

Langkah kongkret menerapkan pendidikan tanpa kekerasan mendesak untuk dilakukan agar bangsa yang multi-etnis, multi-agama, bahasa, ras, jenis kelamin, keturunan, status sosial dan bentuk-bentuk kemajemukan lainnya ini dapat menerapkan learning to live together dan duduk berdampingan saling menghargai perbedaan, rukun, serta saling bergandengan tangan menuju perdamaian dan kemakmuran bangsa yang berkeadilan.

Kebijakan yang seharusnya ditempuh oleh pemerintah dalam hal ini masih kurang. Padahal, pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan yang mana keputusan-keputusan penting dalam bidang pendidikan berada di sana.

Pemerintah sudah seharusnya mengubah kebijakan dalam bidang pendidikan. Secara tidak langsung pemerintah juga turut andil terhadap kekerasan yang terjadi dalam bidang pendidikan.

Masih banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah dan kita semua untuk menanggulangi masalah pendidikan anti kekerasan ini. Agar kedepannya penerapan pendidikan karakter anti kekerasan ini dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Pentingnya Penerapan Pendidikan Anti Kekerasan

Pendidikan anti kekerasan sangat penting untuk pendidikan di Indonesia. Karena kepandaian, kedisiplinan sampai dengan karakter seseorang tidak akan berkembang dengan baik, manakala suatu pendidikan itu bercampur dengan kekerasan.

Terkadang mendidik dengan kekerasan dianggap dapat menciptakan efek jera sehingga ke depannya seseorang itu dapat berbuat lebih baik. Namun sesungguhnya justru akan timbul beberapa efek negatif.

Apa pun alasannya, kekerasan bukanlah bagian dari cara mendisiplinkan anak dalam pendidikan. Tindak kekerasan tidak bisa ditolerir, harus segera dicegah dan dihentikan.

Kurikulum apa pun yang mencoba membangun generasi yang proaktif dan optimis tidak akan pernah efektif mencapai tujuan secara optimal apabila sistem hukuman fisik masih diimplementasikan, baik di dunia pendidikan formal, maupun pendidikan yang dimulai dari rumah.

Pendidikan karakter berupaya menghilangkan kekerasan di sekolah

Tak seorang pun menginginkan terjadinya tindak kekerasan, apalagi di lembaga pendidikan yang sepatutnya menyelesaikan masalah secara edukatif.

”Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan yang terampil. Kesehatan Jasmani dan Rohani, Kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”

Tujuan pendidikan dalam GBHN itu akan tercapai apabila proses yang dilalui oleh anak didik dalam pendidikan dilakukan dengan cara yang luhur pula.

Yaitu dengan proses pendidikan yang ramah terhadap anak, tidak dengan cara yang kasar atau malah dengan cara kekerasan.

Segala pendidikan pada dasarnya tetap diorientasikan pada bagaimana seorang peserta didik di masa depan dapat tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang mandiri, memiliki harga diri dan kepribadian yang tidak sombong di masyarakat nantinya.

Secara historis maupun filosofis, pendidikan telah ikut mewarnai dan menjadi landasan moral dan etika dalam proses pembentukan jati diri bangsa.

Semoga para orang tua semakin bisa gencar menanamkan pendidikan karakter baik kepada buah hati dan keluarga, supaya kita, anak dan cucu kita kelak dijauhkan dari KDRT serta orang-orang yang berkhianat.

Oya, sudah baca artikel sebelumnya mengenai Pendidikan Karakter yang Didapat dari Pramuka? Yuk, dibaca dulu. Karena ternyata dalam Pramuka ada banyak pendidikan karakter yang bisa kita dapatkan di sana lho...

Read more ...

Minggu, 11 Agustus 2024

Pendidikan Karakter dari Pramuka

Informasi untuk orang tua wali murid peserta perkemahan di lapangan Desa Pagelaran yang disampaikan melalui pesan di group sudah saya terima beberapa hari lalu. Hari Senin ini anak harus pakai (baju) Pramuka lengkap karena sekolah-sekolah di kecamatan tempat saya tinggal mengadakan perkemahan dalam rangka peringatan Hari Pramuka mulai Senin 12 Agustus sampai Rabu, 14 Agustus 2024.

Tahun ini anak saya kelas 7 di SMP. Tentu saja perlengkapan seragam Pramuka Penggalang semuanya diperbarui karena sebelumnya masih mengenakan seragam Pramuka Siaga.

Dengan senang hati saya mengantar anak membeli perlengkapan Pramuka yang belum ada. Perlengkapan yang tidak bisa saya temukan di kampung, alhamdulillah bisa didapatkan dengan membeli secara online.

Saya sangat mendukung anak mengikuti kegiatan Pramuka karena dari sana anak akan mendapatkan banyak pengalaman dan pendidikan karakter yang sangat berguna untuk kehidupannya di masa depan.

Sejarah Hari Pramuka

Setiap 14 Agustus Indonesia memperingati Hari Pramuka (Praja Muda Karana). Pramuka di negara kita memiliki sejarah turut berkontribusi dalam perjalanan bangsa. Lahirnya gerakan Pramuka di tanah air turut menyulut berdirinya pergerakan nasional.

Dikutip dari laman resmi Pramuka, gerakan kepanduan ini berkembang di Inggris lewat pembinaan remaja yang dilakukan oleh Lord Robert Baden Powell of Gilwell.

Baden Powell menulis sebuah buku berjudul Aids to Scouting. Buku yang menjadi panduan bagi tentara muda Inggris untuk melakukan tugasnya. Kemudian pimpinan Boys Brigade di Inggris meminta Baden Powell untuk melatih anggotanya.

Pada 1908, Powell kembali menulis buku yang berisi pengalamannya tentang latihan kepramukaan. Buku berjudul Scouting for Boy dan kemudian menyebar dengan cepat di Inggris dan negara lain, termasuk Indonesia.

Pramuka dan pendidikan karakter

Praja Muda Karana Indonesia

Pelopor gerakan kepanduan di Indonesia sendiri diawali dengan berdirinya Nederlandsche Padvinders Organisatie yang kemudian berubah menjadi Nederlands Indische Padvinders.

Pada 1916, S.P Mangkunegara VII membuat organisasi kepanduan sendiri di tanah air, tanpa campur tangan dari Belanda yang diberi nama Javaansche Padvinders Organisatie.

Pada masa penjajahan Jepang, organisasi kepanduan dan partai dilarang untuk beraktivitas. Barulah pada September 1945 sejumlah tokoh dari gerakan kepanduan Indonesia berkumpul untuk melakukan pertemuan di Yogyakarta. Dari hasil kongres pada 27-29 September 1945 terbentuk Pandu Rakyat Indonesia.

Kehadiran Pramuka di Indonesia mendapat tempat penting di Indonesia. Presiden Sukarno memberikan amanat untuk lebih mengefektifkan kepanduan sebagai komponen penting dalam pembangunan bangsa.

Lambang Pramuka berupa Tunas Kelapa disahkan dalam Keppres Nomor 238 Tahun 1961. Kemudian pada 14 Agustus 1961, secara resmi Gerakan Pramuka diperkenalkan kepada masyarakat setelah Presiden Sukarno menganugerahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keppres Nomor 448 Tahun 1961.

Pramuka dan Pendidikan Karakter

Gerakan Pramuka adalah lembaga pendidikan yang berada di luar sekolah dan di luar masyarakat yang mendidik anggota mulai usia 7 sampai dengan 25 tahun.

Pendidikan Pramuka sebagaimana sering saya ikuti semasa sekolah dulu dilaksanakan di alam terbuka, kegiatannya menarik, menantang, dan mengandung pendidikan karakter dengan menggunakan Prisnsip Dasar dan Metodik Kepramukaan.

Pendidikan dalam Pramuka mencakup nilai penting dari pendidikan karakter seperti keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, tolong menolong, bertanggungjawab dan dapat dipercaya, jernih dalam berpikir, berkata dan dapat dipercaya serta berpegang teguh pada nilai dan norma masyarakat.

Gerakan Pramuka mewujudkan manusia yang bertanggung jawab, mampu membina, dan mengisi kemerdekaan nasional, serta membangun dunia yang lebih baik.

Kenapa Menanamkan Pendidikan Karakter Melalui Pramuka Harus Dilaksanakan Sejak Dini?

Menanamkan nilai karakter, menurut pada ahli sangat tepat pada usia lahir hingga 6 tahun (the golden age).

Usia dini merupakan masa perkembangan dan pertumbuhan yang sangat menentukan bagi anak, sekaligus masa kritis yang menentukan tahap pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.

Itu sebabnya pendidikan karakter akan lebih tepat apabila dilakukan kepada anak sejak dalam Pendidikan Anak Usia Dini.

Pendidikan Karakter di Gerakan Pramuka

Menurut Kamus Bahasa Indonesia karakter diartikan sebagai tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.

Gerakan Pramuka menyelenggarakan pendidikan kepramukaan guna menumbuhkan tunas bangsa yang berkarakter agar menjadi generasi yang lebih baik, bertanggungjawab, mampu membina, dan mengisi kemerdekaan nasional serta membangun dunia yang lebih baik.

Sembilan Karakter Baik dalam Pramuka

Sembilan karakter yang ada pada gerakan Pramuka berasal dari nilai-nilai luhur universal yaitu,

  • Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya
  • Kemandirian dan tanggung jawab
  • Kejujuran
  • Hormat dan santun
  • Dermawan, suka menolong dan gotong royong atau bekerja sama
  • Percaya diri dan pekerja keras
  • Kepemimpinan dan keadilan
  • Baik dan rendah hati
  • Toleransi, kedamaian, dan kesatuan

Dalam pendidikan kepramukaan ada proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup, dan akhlak mulia melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan.

Pendidikan karakter di gerakan Pramuka penanaman nilai kepramukaannya berdasarkan penggolongan peserta didik menurut usia sesuai dengan jiwa perkembangan.

Pendidikan Karakter sepanjang hayat dalam Pramuka

Pendidikan Karakter Sepanjang Hayat dalam Pramuka

Pendidikan yang dilaksanakan di dalam Gerakan Pramuka adalah pendidikan sepanjang hayat, berkelanjutan, serta memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa.

Dalam Pramuka diajarkan dan diarahkan pula supaya anak berkecakapan hidup, sehat jasmani dan rohani, menjadi warga Negara yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara kesatuan Republik Indonesia, serta menjadi masyarakat yang baik dan berguna, yang membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

Pendidikan Karakter dalam Pramuka Relevan dengan Pendidikan Karakter Bangsa

Pendidikan kepramukaan sangat relevan dengan pendidikan karakter bangsa karena di dalam Pramuka sebagai lembaga yang menggunakan prinsip pendidikan dalam arti kegiatannya bertumpu pada proses belajar mengetahui, belajar berbuat, belajar hidup bermasyarakat dan belajar untuk mengabdi.

Keempat hal tersebut sangat sesuai dengan nilai-nilai karakter bangsa berupa Komitmen diri dalam Kode Kehormatan Pramuka berupa Dwi satya dan Tri Satya, dan ketentuan moral berupa Dwi Dharma dan Dasa Darma Pramuka.

Karena itu tidak heran kalau Pemerintah mengapresiasi Pramuka sebagai lembaga yang menanamkan atau mendidik karakter dan mengesahkannya dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.

Gerakan Pramuka sesuai dengan pendidikan karakter bangsa

Yuk, Pantau Terus Pramuka

Meski banyak pendidikan karakter kebaikan yang bisa didapatkan anak dari kegiatan Pramuka namun tetap orang tua dan pembina harus mengawasi secara maksimal karena tidak jarang dalam kegiatan Pramuka juga ada hal tidak diinginkan sering terjadi.

Karena itu orang tua atau guru dan pembina harus tetap mendampingi dan memantau setiap kegiatan anak untuk meminimalisir hal tidak diinginkan.

Ada yang punya pengalaman seru atau menyedihkan saat mengikuti kegiatan Pramuka? Yuk, kita sharing, siapa tahu bisa jadi ajang nostalgia...

Jangan lupa baca juga artikel tentang Pendidikan Karakter ala Jepang yang sangat menakjubkan ini ya...

Read more ...

Kamis, 08 Agustus 2024

Indonesia Pernah Dijajah Jepang, Kenapa Pendidikan Karakter Kebiasaan Baik Ala Jepang Tidak Melekat di Indonesia?

Seminggu lalu saya bikin artikel tentang Pendidikan Karakter ala Jepang, Doutoku-kyoiku. Banyak komentar yang setuju jika pendidikan karakter ala Jepang memang termasuk terbaik di dunia.

Adakah Kebaikan Peninggalan Jepang?

Dari sekian banyak komentar, ada yang menggelitik, sangat menarik ! Komentar dari Kak Fenny Bungsu yang menyebutkan: “Dari artikel ini jadi kepikiran, kita kan sempat dijajah Jepang, kenapa ya hanya soal RT-RW-Camat-dll yang terjejak di sini, tetapi untuk pendidikan karakter ala Jepang tersebut gak terwariskan di sini ataukah sudah tergerus?”

Komentar itu tentu saja bikin saya penasaran. Bener juga ya, secara sejarah sudah jelas membuktikan kalau negara kita ini pernah dijajah Jepang selama kurang lebih tiga tahun setengah. Apakah dalam kurun waktu itu Doutoku-kyoiku sebagai Pendidikan Karakter ala Jepang tidak cukup diserap oleh masyarakat kita pada jaman itu?

Untuk menambah wawasan dan mendapatkan pencerahan, saya search berbagai artikel terkait kebaikan dan keburukan penjajah Jepang di Indonesia. Berbagai artikel dan pendapat pun bermunculan. Ada yang pro, ada yang kontra. Biasalah, namanya juga netizen warga plus enam dua. Hehe...

Dari semua artikel yang saya baca dan komentar yang muncul, yang bisa saya rangkum sehingga sedikit banyak bisa mencerahkan atas rasa kepenasaran terhadap pertanyaan Indonesia pernah dijajah Jepang, kenapa pendidikan karakter kebiasaan baik orang Jepang tidak banyak tertinggal di Indonesia, adalah sebagai berikut:

Doutoku-kyoiku Pendidikan Karakter ala Jepang

Kita ulas sedikit lebih dahulu mengenai pendidikan karakter ala Jepang itu sendiri yaitu Doutoku-kyoiku.

Karena permasalahan karakter menjadi masalah mendasar. Kita tahu kalau karakter terbentuk dalam kurun waktu yang lama dan proses yang panjang.

Oleh karenanya pendidikan karakter menjadi hal penting dan harus diketahui jika pelaksanaannya dengan melalui proses yang panjang, bertahap serta berkelanjutan.

Pendidikan Karakter Baik dari penjajah Jepang

Jika manteman ada yang belum pernah baca artikel pendidikan karakter sebelumnya mengenai Doutoku-kyoiku kita ulas lagi ya, Doutoku-kyoiku berasal dari kata 道徳 (doutoku) yang berarti moral, dan kata 教育 (kyouiku) yang berarti pendidikan.

Pendidikan Moral Tidak Instan

Doutoku-kyouiku ialah pembelajaran moral yang diberikan melalui sekolah, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah lanjutan tingkat atas di Jepang.

Melalui doutoku-kyoiku ini tercipta karakter bangsa Jepang yang kita kenal sebagai bangsa yang khas dengan karakter disiplin, ulet, jujur, pekerja keras, bertoleransi tinggi, dan sebagainya.

Di Jepang doutoku-kyoiku diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan dan tak terpisahkan dalam mata pelajaran. Pendidikan moral ini diajarkan tidak hanya sebatas teori saja, melainkan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kandungan pendidikan moral atau doutoku-kyoiku secara rinci dibagi menjadi empat aspek:

  1. Regarding self, meliputi: pengerjaan mandiri, bekerja keras secara mandiri, pengerjaan sesuatu secara benar dengan keberanian, bekerja dengan ketulusan), nilai kebebasan dan kedisiplinan, pemahaman terhadap diri sendiri, dan mencintai dan mencari kebenaran.
  2. Relation to others, meliputi: pemahaman terhadap tata sopan santun, memperhatikan kepentingan orang lain, baik hati, dan empati, memahami, dan menolong orang lain, menghargai dan menghormati orang-orang yang telah berjasa kepada kita, menghargai orang lain yang berbeda ide dan status.
  3. Relation to the nature and the sublime, meliputi: mengenal dan cinta alam), menghargai kehidupan dan makhluk hidup, memiliki sensitivitas estetika dan perasaan, mempercayai kekuatan serta menemukan kebahagiaan sebagai manusia
  4. Relation to group and society, meliputi: menjaga janji dan menjalankan kewajiban dalam masyarakat, jujur dan tak berpihak tanpa diskriminasi, prejudice dan keadilan, keinginan untuk berpartisipasi sebagai grup, menyadari perannya dengan bekerja sama, memahami makna bekerja keras, dan keinginan untuk bekerja, mencintai dan menghormati guru dan orang di sekolah atau kampus, menyadari kedudukannya dalam masyarakat setempat, tertarik kepada budaya dan tradisi bangsa, mencintai bangsa,  menghargai budaya asing dan manusianya.

Nilai-nilai doutoku-kyoiku tersebut semuanya diintegrasikan dalam semua mata pelajaran di sekolah secara nyata.

Pendidikan Karakter ala Jepang etika menyeberang jalan

Pendidikan Karakter Moral Harus Dipraktekkan

Contohnya pada mata pelajaran seikatsu atau life skill, anak-anak di usia sekolah dasar diajari cara menyeberang jalan, adab bersama naik kereta, guru juga mengajak mereka untuk bersama naik kereta dan mempraktikkannya, serta menyampaikan kasus pelanggaran dan mengajak siswa untuk mendiskusikan pemecahannya.

Dalam hal kebersihan dan keteraturan siswa juga diajarkan untuk merapikan sepatu atau lainnua di tempat yang telah disediakan, serta kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

Khusus anak-anak pada jenjang dasar hanya diajari perilaku sehari-hari yang ditemukan di lingkungannya. Misalnya jika mereka sedang bermain, kemudian tanpa sengaja merusak milik teman, maka anak-anak diajarkan untuk segera minta maaf dan tidak boleh lari dari tanggung jawab.

Dalam hal penanaman moral tentang berbohong, pendekatan yang dilakukan oleh guru di Jepang tidak dengan mendoktrin tentang pentingnya untuk berlaku jujur, melainkan dengan mengajak anak untuk berdiskusi tentang akibat-akibat berbohong. Dampaknya luar biasa, manusia Jepang sangat menjunjung tinggi kejujuran.

Yang unik dalam doutoku-kyoiku tidak ada proses menghafal dan tidak ada tes tertulis.

Untuk mengecek pemahaman siswa tentang moral ini biasanya mereka diminta untuk membuat karangan, atau menuliskan apa yang mereka pikirkan tentang tema moral.

Kita bisa menangkap kalau bangsa Jepang sangat memahami bahwa pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak yang merupakan generasi penerus bangsa.

Oleh karenanya pendidikan karakter dilakukan sejak dini dengan menitikberatkan pada pendidikan moral atau doutoku-kyoiku yang diintegrasikan pada kehidupan sehari-hari siswa.

Hubungan Penjajahan dan Pendidikan Karakter

Nah, sekarang kita ambil benang merahnya antara penanaman pendidikan karakter masyarakat Jepang dengan penjajahan Jepang di Indonesia.

Alasan "Tidak ada sedikit saja kebiasaan baik orang Jepang yang tertinggal di Indonesia" bisa kita pertimbangkan jika Militer Jepang datang ke Indonesia kala itu untuk menjajah.

Orang yang menjajah di mana-mana pasti merasa lebih superior daripada orang yang dijajah sehingga merasa tidak perlu bersikap baik kepada orang lokal.

Budaya India, China, dan Timur Tengah, mengapa bisa diterima masyarakat Indonesia zaman dulu? Karena mereka datang tidak secara frontal melainkan dengan cara berdagang dan perlahan berbaur dengan masyarakat sehingga tidak ada pemaksaan.

Jangan mengira semua orang Jepang zaman dulu masyarakatnya sebagus sekarang.

Dulu juga orang Jepang banyak yang malas, kok. Melanggar aturan, dll.

Perubahan pola pikir masyarakat Jepang itu sendiri dimulai ketika keajaiban ekonomi terjadi dan itu ada di sekitar tahun 1950-1960an. Beberapa tahun sesudah militer Jepang menjajah Indonesia.

Sekarang banyak orang Indonesia yang pergi ke Jepang untuk bekerja dan kuliah. Banyak produk-produk hiburan Jepang seperti dorama dan anime yang menyebar ke seluruh dunia. Karena tidak dengan kekerasan dan paksaan, kita jadi suka dengan budaya, tradisi, dan hal-hal yang berhubungan dengan Jepang itu.

Dengan kata lain pada saat invasi Jepang ke Indonesia, di periode tersebut lebih banyak energi yang dihabiskan pada kebutuhan militer Jepang, jadi mereka tidak ada waktu untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat secara meluas di Indonesia. Kemungkinan kecil hanya ruang lingkup terdekat seperti perkantoran, orang satu rumah atau tetangga.

Lain cerita kalau misalkan Jepang sukses bertahan di Indonesia minimal 50 tahun saja. Ini perumpamaan, ya. Sudah dapat melahirkan satu sampai dua generasi kemungkinan besar rakyat Indonesia akan banyak yang mampu mengikuti adat istiadat Jepang, seperti berbahasa Jepang, bersikap Jepang, dan lainnya berkaitan berbudaya Jepang.

Bisa dianggap 3,5 tahun waktu penjajahan Jepang akan sulit mengubah sikap beberapa bangsa di Indonesia, karena terlalu singkat. Sementara kita tahu penanaman budaya dan sikap itu memerlukan waktu lama.

Ruang lingkup kecil yang sudah terpengaruh oleh baunya Jepang misalnya di kesatuan TNI dengan sikap bela tanah airnya (dulunya kan meniru konsep tentara PETA buatan Jepang).

Sepertinya soal ini akan lebih afdol jika orang sosiolog yang menjelaskan dengan lebih detail supaya kita makin paham. Siapa tahu nanti di kolom komentar ada yang akan bisa menambahkan, ya...

Penjajah Jepang meninggalkan pendidikan karakter menepati janji

Bukti kuat lainnya jika kita bandingkan dengan sikap warisan Belanda yang suli diubah, adalah kelakuan korupsi.

Dulu VOC nya Belanda bukannya bangkrut karena orang-orangnya yang korup? Belum lagi sistem feodal, budaya abdi dalem, jilat-menjilat orang berkuasa, dll. Ratusan tahun diturunkan penjajah Belanda, ternyata mengakar di jiwa-jiwa masyarakat Indonesia, bukan? Ya, walau tidak semuanya mendapatkan turunan sifat itu ya...

Betul Jepang jauh lebih kejam daripada Belanda. Namun perlu disadari pula bahwa karakter penjajahan Jepang itu berbeda dengan penjajahan Belanda.

Hindia-Belanda itu merupakan sebuah negara dengan sistem hukum, politik dan administrasi yang bisa dikatakan stabil. Sedangkan masa penjajahan Jepang sebenarnya tidak bisa dikatakan penjajahan, melainkan pendudukan. Waktu itu merupakan zaman Perang Dunia II.

Walau demikian harus diakui pula bahwa Jepang itu menjanjikan dan pada akhirnya juga mengakomodasi (proklamasi) kemerdekaan Indonesia. Bukankah sikap menepati janji adalah pendidikan karakter baik yang sudah dicontohkan negara Jepang meskipun saat itu sedang menduduki Indonesia?

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia juga dilakukan dengan pengetahuan pihak militer Dai Nippon.

Jejak Baik Peninggalan Jepang di Indonesia

Jadi ternyata ada juga ya nilai baik atau sisi positif terhadap penjajahan atau tepatnya pendudukan Jepang itu karena mereka biar bagaimana pun yang memberi kesempatan untuk membuka jalan ke kemerdekaan Indonesia.

Semoga keseriusan bangsa Jepang terhadap penanaman pendidikan karakter dapat dicontoh oleh negara kita. Terlebih Indonesia memiliki Pancasila sebagai dasar falsafah hidup yang sudah berakar menjadi norma-norma kehidupan masyarakat Indonesia yang khas.

Antara pendidikan karakter ala Jepang doutoku-kyoiku dan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia semoga melahirkan nilai kebaikan yang bisa diamalkan masyarakat Indonesia. Yang baiknya kita lanjutkan, yang buruknya kita tinggalkan.

Baiklah manteman, kedepannya kita coba cari tahu pendidikan karakter baik apa saja dari negara lain di dunia yang bisa kita contoh. Sebelumnya manteman bisa baca artikel Pendidikan Karakter ala Jepang Doutoku-kyoiku ini dulu ya...

Read more ...