Beberapa hari lalu saya menerima pesan di group perpesanan orang tua murid dan wali kelas yang menginformasikan jika anak peserta didik kelas 7 selama seminggu ini akan melaksanakan kegiatan P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila).
Kami diinformasikan kalau waktu anak berangkat sekolah akan berbeda dari jadwal sebelumnya sehingga orang tua terutama yang tempat tinggalnya jauh dan antar jemput anak ke sekolah supaya bisa menyesuaikan waktu.
P5 Sekolah Anak
Sekolah tempat anak saya mengenyam pendidikan sekolah lanjutan pertama mengadakan kegiatan P5 ini mulai hari Senin sampai Sabtu (26-31 Agustus 2024).
Kegiatan berlangsung mulai pukul 07.30 – 12.00 wib bertempat di sekolah dan alun-alun lapangan kecamatan yang memang berdekatan dengan lingkungan sekolah.
Tema utama kegiatan proyek P5 ini yaitu "Kearifan Lokal", sementara tema kegiatannya: "Letakkan Gadgetmu, Bermainlah bersamaku".
Wow, saya begitu antusias menerima pesan dari wali kelas tersebut. Apalagi sub tema kegiatannya adalah letakkan gadgetmu, bermainlah bersamaku, sebuah upaya bersama supaya anak tidak ketergantungan kepada ponsel. Bukankah itu hal yang sangat bagus?
Secara di rumah selama ini anak memang tidak pernah lepas dari ponsel. Bukan untuk belajar tapi untuk bermain game dan nonton video pendek! Dan jujur saja saya tidak bisa melarang keras kepada anak secara keseharian saya sendiri justru memang tidak bisa lepas dari ponsel kan...
Tahu sendiri kalau ngeblog, ngebuzzer dan bikin konten semua saya kerjakan dari hp ini. Meski udah jadul tapi saya dan hp ini memang susah dipisahkan...
Meskipun pada hari pertama kegiatan P5, Senin, 26 Agustus 2024 kemarin, setiap peserta didik dianjurkan untuk membawa ponsel ke sekolah, tapi setelahnya anak tidak diizinkan lagi membawa telepon genggamnya itu.
Rupanya, hari pertama itu ponsel yang dibawa digunakan mereka untuk search informasi berbagai permainan tradisional, lalu membuat artikel dan share di sosial media menggunakan hastag.
Saya tertawa ketika anak saya cerita kalau teman-temannya pada kaku melakukan semua itu. Mereka mah belum terbiasa bikin job, katanya. Sementara anak saya anteng saja mengerjakan sebisanya, mengaku sudah terbiasa.
“Emang bisa? Belajar dimana?” Saya penasaran.
“Kan sering suka lihat ibu kalau lagi nulis atau bikin konten. Nyari ide, nyari info, edit di Canva, terus posting pakai hastag dan mention. Ibu sering nyuruh Ami ngedikte caption atau megangin ponsel buat merekam juga. Itu Ami sedikit-sedikit jadi tahu kan...”
Saya melongo mendengar penjelasannya. Bener juga. Selama ini anak saya malah sering saya kerjain. Saya suruh bantu take video, banyu pegangin properti, dan masih banyak lagi. Saya juga lupa kalau anak saya sering pakai hp saya biar dia bisa pakai Canva yang pro. Aih, jadi malu sendiri.
Hari kedua dan selanjutnya, anak tidak diperbolehkan lagi membawa ponsel. Wali kelas bilang kegiatannya akan lebih banyak di luar sekolah dan dokumentasi cukup dari pihak sekolah saja.

P5 Kokurikuler Kurikulum Merdeka
Sebagai Ibu Penggerak yang alhamdulillah sudah lulus beberapa bulan lalu, saya sudah tidak asing dengan kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, kegiatan kokurikuler yang berbasis proyek yang mana dilakukan di satuan pendidikan atau sekolah yang telah menggunakan Kurikulum Merdeka.
Tujuan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
P5 diadakan dengan tujuan untuk menguatkan pendidikan karakter dan kompetensi siswa sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila itu sendiri.
P5 untuk siswa tingkat SMP, memiliki enam tema, di antaranya: Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Suara Demokrasi, Rekayasa dan Teknologi, dan Kewirausahaan.
Penilaian pada P5 menggunakan skala nilai BB (Belum Berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan), dan SB (Sudah Berkembang).
Penilaian itu disesuaikan dengan dimensi P5 setiap anak, seperti beriman, bertakwa, mandiri, bernalar kritis, dan sebagainya.
Manfaat Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Kegiatan P5 tentu saja memiliki manfaat bagi peserta didik, pendidik, dan satuan pendidikan. Salah satu manfaatnya adalah memperkuat pendidikan karakter baik dan mengembangkan kompetensi siswa.
Secara P5 ini bisa dibilang sebagai pembelajaran lintas disiplin ilmu yang bertujuan untuk mengamati dan mencari solusi atas permasalahan di lingkungan sekitar.
Yuk, Bikin Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di Rumah
Sebenarnya kegiatan P5 ini bisa kita praktikan juga sendiri di rumah, lho! Ibarat kurikulum merdeka yang tidak hanya mengacu kepada buku teks, maka kegiatan proyek pembelajaran P5 ini juga sebenarnya fleksibel dan justru malah lebih mengena jika dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari oleh anak beserta kita orang tua selaku pembimbingnya langsung.
Karena pada intinya, guru atau orang tua membantu menstimulasi anak mulai usia PAUD sampai jenjang SLTA melalui pendidikan karakter yang diberikan sehingga anak bisa mendapatkan karakter baik dan memperkuat serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jika pada pelaksanaan P5, guru sudah dibekali dengan panduan tema sesuai dengan jenjang pendidikan siswanya, maka orang tua juga bisa mengamati, meniru dan memodifikasi panduan tersebut untuk kita jalankan di rumah bersama keluarga.

Jadi Orang Tua Kreatif!
Bukankah pengembangan tema P5 itu sendiri menjadi proyek yang merupakan hasil kreativitas guru? Nah, apa susahnya orang tua juga bisa berkreativitas, kan?
Hanya tentu saja perlu kita ingat, jika P5 diselenggarakan untuk menjawab pertanyaan tentang profil pelajar seperti apa yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia. Nah paling tidak kita juga harus mengarah ke sana.
Jika Profil Pelajar Pancasila diharapkan memiliki sikap dan perilaku sesuai dengan jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia, maka siapkan diri kita ini, para orang tua untuk lebih dulu berperilaku sesuai dengan jati diri bangsa sekaligus dunia.
Kenapa begitu? Ingat, anak itu peniru ulung. Kita tidak perlu susah payah mengajarkan, tapi cukup melakukan, insyaallah dengan sendirinya anak juga akan praktik (mengikuti) mencontoh sendiri.
Buktinya itu di atas saya sudah cerita, saking seringnya saya bikin konten depan anak, eh tahu-tahu anak sudah bisa mengikuti dengan sendirinya saja.
Bagaimana Orang Tua Menerapkan P5 Kepada Anak di Rumah?
Contohnya seperti saya, yang memiliki anak usia SMP. Maka kegiatan P5 tingkat SMP sesuai dengan kurikulum merdeka berdasarkan tema yang ditetapkan Kemendikbudristek (saya kutip dari Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, Rizky Satria dan Kawan-kawan)/ (2022:57)
Contoh Kegiatan P5 SMP Kurikulum Merdeka di Rumah versi Emaknya Fahmi
Yang bisa dipraktikkan sendiri di rumah diantaranya:
Gaya Hidup Berkelanjutan
Contoh kegiatan:
Mengajak anak memilah sampah. Ambil botol plastik yang masih bisa digunakan untuk dibuat kerajinan. Cari ide bersama anak bagaimana memodifikasi barang bekas supaya bisa lebih bermanfaat, baik untuk pot, tempat pernak-pernik atau lainnya.

Kearifan Lokal
Contoh kegiatan:
Saat perayaan HUT RI 17 Agustus ajak anak menyumbang ide membuat hiasan untuk jampana (gunungan berisi hasil bumi). Biarkan anak bergabung dengan masyarakat secara langsung ikut menghias properti untuk karnaval, dan kegiatan lain di desa.
Bineka Tunggal Ika
Contoh kegiatan:
Menceritakan kepada anak bagaimana interaksi kehidupan dulu kakek nenek atau buyutnya. Cari tahu untuk anak silsilah dan budaya di keluarga besar baik dari pihak ayah maupun ibu. Cari tradisi dari berbagai daerah yang membuat kagum dan memberikan inspirasi.
Bangunlah Jiwa Raganya
Contoh kegiatan:
Membuat aturan di rumah bagaimana menggunakan perkakas dan kendaraan sehingga adil dan terjaga. Kalau meminjam, bagaimana prosedur dan etikanya.
Biarkan anak ikut pertandingan apa pun asal fair play dengan mengutamakan keceriaan dan persahabatan.
Suara Demokrasi
Contoh kegiatan:
Biasakan diskusi dengan seluruh anggota keluarga. Rencanakan mau piknik kemana, persiapan apa saja, peralatan apa saja yang harus ada, dan sebagainya. Kalau skala agak besar bisa dibuat kepanitiaan sehingga bisa berbagi tugas. Hal itu dilakukan supaya menjamin kenyamanan, serta persamaan hak dan kewajiban dalam keluarga.
Rekayasa dan Teknologi
Contoh kegiatan:
Membuat proyek bersama-sama semua anggota keluarga mengatasi selokan depan rumah yang sering mampet hingga kadang bikin banjir.
Kewirausahaan
Contoh kegiatan:
Jika anak memiliki kemampuan fasilitasi siapa tahu hasilnya bisa dijual, dibuat bisnis rumahan, dll.
Saat di kebun sedang musim buah tertentu, gali ide anak sehingga bisa menciptakan produk dari potensi sendiri atau lokal tersebut.

Pendidikan Karakter untuk Selamanya
Nah, itu contoh-contoh kecil kegiatan P5 yang saya lakukan di rumah bareng keluarga khususnya demi bisa menggali karakter anak. Tentu saja contoh kegiatan P5 saya dan keluarga pribadi di atas dapat dikembangkan seusai dengan kondisi keluarga dan karakter masing-masing anak.
Meski orang tua yang bertugas merencanakan kegiatan proyek P5 ala-ala keluarga itu, tapi anak juga tidak lupa diajak untuk memberikan usul dan pendapatnya. Malah kalau bisa orang tua hanya mengawasi saja. Biarkan anak yang mengerjakan semua proyeknya.
Setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi yang terbaik. Untuk itu jadilah orang tua yang baik dulu. Pendidikan Karakter tidak bisa didapatkan secara instan. Karena itu orang tua jangan lelah untuk terus menanamkan pendidikan karakter kepada anak, berapa pun usia anaknya.
Masih banyak artikel tentang pendidikan krakter yang bisa manteman baca untuk menambah wawasan dalam artikel Pendidikan Karakter di blog ini. Semoga bermanfaat ya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar