Rabu, 17 Januari 2024

Menanam Warisan

Masih mikir, Yuni yang mana ya? Ketika Sifa, anak tetangga yang sekarang kuliah semester dua di Bandung pulang kampung dan menyampaikan salam, katanya dari Yuni yang sekarang tinggal di Cilawu Garut.

Sifa menjelaskan, dulu Yuni dan keluarganya ngontrak rumah di belakang rumah saya. Sejak kepindahannya ke Pagelaran waktu ia kelas dua SD hingga lulus dan melanjutkan ke SMP ia mengaji di rumah.

Oh, ya. Saya baru ingat, Yuni yang neneknya meninggal dan adiknya bernama Hasbi?

Sifa tersenyum memperlihatkan binar matanya. “Betul Bu. Yuni itu. Yang masih saudara jauhnya Muiz kakaknya si Kembar.” Ucapnya bahagia ketika akhirnya saya ingat akan Yuni mana yang dimaksud...

Senang aja ketika Sifa bercerita kalau ia sempat hilang kontak juga dengan Yuni setelah kepindahannya ke Garut. Namun ketika lulus sekolah menengah atas, tanpa sengaja ternyata mereka bertemu dan mengalirkan cerita-cerita itu...

Katanya Yuni titip salam buat Pak Iwan dan Ibu, juga Dedek Fahmi. Yuni juga mengucap terima kasih, berkat ajaran di pondok mengaji ketika di Pagelaran, saat SMP di Garut, ia ikut lomba yang bertemakan keagamaan, khususnya terkait ilmu fiqih dan tauhid dan Alhamdulillah katanya beberapa kali Yuni menang, keluar sebagai juara. Ilmu yang diajarkan di pondok mengaji yang banyak keluar sebagai soal-soal yang ditanyakan dalam perlombaan yang diikuti Yuni.

Menanam Warisan

Kabar itu tentu saja sangat membahagiakan kami. Setidaknya apa yang sudah kami ajarkan, ada manfaat dan bisa diamalkan oleh anak-anak. Meski kami akui, sebenarnya memang pribadi Yuni nya aja yang di atas rata-rata. Yuni memang terlihat lebih cepat menerima pelajaran, lebih cepat hafal dengan daya ingat yang di atas teman-teman satu angkatannya.

Yuni dalam foto yang sempat saya upload di Instagram berjilbab putih, di samping saya, bersama anak mengaji lainnya

https://www.instagram.com/p/CXUn3fmvQVX/?igsh=MTA3YW42ODRsdWpuYg==

Secara kalau diingat lagi, materi di pondok mengaji sebenarnya itu-itu saja. Semua berdasarkan kitab kuning yang sebelumnya kami pelajari dari para guru-guru kami.

Tapi bisa dilihat, mana santri yang benar-benar mampu menerima dan menyerap ilmunya, dan mana yang hanya masuk telinga kiri lanjut keluar lagi melalui telinga kanan.

Bukan mau membandingkan, karena semua santri juga istimewa. Setiap anak itu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, bukan? Toh selama ini dalam memberikan materi juga kami sudah berusaha semaksimal mungkin agar setiap anak bisa mengerti dan terutama bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai guru ngaji, jujur yang kami inginkan adalah kemanfaatan dari apa yang bisa kami sampaikan. Ingin kelak anak-anak memiliki kemampuan untuk melakukan semua amal ibadah disertai dengan syarat dan rukunnya sehingga bisa diterima hukumnya menurut agama (syara’).

Menanam Warisan

Secara kasarnya, kami ini tak punya harta dan kekayaan, apalah yang bisa kami wariskan kepada generasi kami kelak dengan kondisi kehidupan serba pas-pasan ini?

Namun mungkin Tuhan punya cara lain. Secara turun temurun, suami dan orang tuanya dulu dipercaya masyarakat kampung menjadi tempat anak-anak belajar mengaji.

Kami menerima bukan berarti merasa kami bisa dan mumpuni dengan ilmunya. Tapi kami niatkan justru supaya bisa sama-sama belajar. Bisa mengamalkan apa yang sudah kami pelajari sehingga bisa lebih bermanfaat dan menjadikan kebaikan kelak

Taruhlah anak yang awalnya belum bisa baca ta’awudz,  A’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim (Saya berlindung diri kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk). Karena di sini dibaca terus-menerus secara bersama-sama maka lama kelamaan anak menjadi hafal dan paham baik cara pengucapan, panjang pondoknya harkat, maupun artinya dan kapan waktu yang tepat untuk membaca nya.

Bukankah itu adalah sebuah kebaikan yang pahalanya akan terus mengalir jika sampai kelak anak itu dewasa, tua hingga meninggal dunia masih mengucap kalimat yang dipelajarinya dari sini?

Belum lagi jika anak tersebut bisa mengamalkan ilmu ilmu lainnya yang lebih banyak manfaatnya, betapa bahagianya siapa pun yang menjadi sumber ilmunya itu berasal, bukan?

Menanam Warisan

Tak mau muluk-muluk jika ditanya legacy apa yang ingin kami bangun sebagai proses menjadikan hidup lebih bermanfaat. Tapi setidaknya, jika kita mengajarkan (walau sedikit saja) kebaikan, insyaallah kelak kebaikan juga yang akan kita dapatkan.

Bukankah nanam padi hasilnya juga pasti padi? Belum pernah kan ada yang nanam padi panennya mentimun?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar