Sebentar lagi tahun baru, sebentar lagi ada hajat terbesar negara yaitu pemilu. Sebentar lagi juga dong bakalan ada pemimpin baru. Siapa lagi kalau bukan presiden RI ke delapan kelak yang membawa Indonesia Maju, siapapun yang akan terpilih nantinya.
Di usia yang mau setengah abad ini, sudah lupa sejak kapan saya ikut andil dalam pemilu. Yang pasti saya tidak pernah jadi golput alias golongan putih atau warga negara yang tak mempergunakan hal pilih semestinya lho, ya.
Ketika sedang bekerja di luar negeri pun, saya tetap menyalurkan hak pilih saya sesuai hati nurani. Meskipun saat tidak bisa keluar rumah majikan, saya tetap mengisi surat pemilu yang datang dari PPLN kantor perwakilan Indonesia di negara penempatan. Meski ada rumor kalau surat pilihan kami para TKI ini akan dimanipulasi dengan surat suara palsu lainnya, soal itu saya serahkan kepada Tuhan Yang Maha Adil saja. Yang penting saya sudah menunaikan hak sebagai warga negara.
Jika sebelumnya pasangan calon pemimpin Indonesia hanya ada dua, pemilu tahun 2024 ini memiliki tiga pasangan calon pemimpin RI sekaligus. Senang dong, karena demikian kita memiliki banyak kesempatan menentukan pilihan untuk menentukan mana yang terbaik dari yang baik.
Untuk bisa menentukan pilihan yang baik itu, ada banyak faktor yang turut menentukannya. Tidak hanya dilihat dari trek rekord, pengalamannya, atau bibit bebet dan bobotnya, tapi juga dilihat dari visi dan misinya.
Ada yang unik dari visi misi yang diusung pasangan calon presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang mendaftar Pilpres 2024 paling akhir pada masa pendaftaran beberapa bulan lalu itu. Setidaknya itu menurut pandangan saya yang awam ini. Visi Indonesia Maju milik pasangan calon Prabowo Gibran yang disokong Koalisi Indonesia Maju (KIM) mengusung visi 'Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045'.
Seperti yang sudah banyak diberitakan jika visi Prabowo-Gibran diwujudkan dengan 8 misi asta cita, 17 program prioritas, dan 8 program hasil terbaik cepat.
Saya sendiri cukup memahami mengenai filosofi visi Indonesia Maju ini jika menelaah dari penjelasannya, bahwa Prabowo-Gibran menyebut Indonesia dapat mencapai cita-cita emas hanya dengan jalan persatuan, kesatuan dan kebersamaan.
Uniknya, visi 'Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045' ini punya penjabarannya lagi secara masing-masing, lho!

Yuk kita bongkar bareng-bareng...
Bersama:
Di kata ini, pemegang visi Indonesia Maju mengajak putra putri terbaik bangsa dari semua latar belakang yang memiliki kesamaan tekad untuk bisa bekerja sama.
Indonesia Maju:
Dua kata yang menjelaskan pencapaian membangun bangsa dengan dasar fondasi kuat yang sebelumnya telah dibangun oleh kepemimpinan Presiden lama.
Menuju:
Ini kata dengan tujuan dan arti yang jelas, yaitu menuju
Indonesia Emas:
Kata ini mengartikan sebuah negara yang mana adalah NKRI yang setara dengan negara maju di tahun 2045 atau lebih cepat.
Harapan untuk Visi Indonesia Maju
Visi “Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045” diwujudkan melalui 8 misi asta cita, 17 program prioritas, dan 8 program hasil terbaik cepat.
Pada bidang pendidikan, sains, teknologi, dan kebudayaan, visi misi Prabowo-Gibran tertuang dalam Asta Cita 4 yang berbunyi “Memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas”.
Visi Indonesia Maju Dalam Pendidikan
Ada banyak point yang menjelaskan terkait visi Indonesia Maju dalam bidang pendidikan. Saya sebagai masyarakat biasa, sangat mengapresiasi terhadap penguatan sistem peningkatan kualitas SDM, maupun peningkatan kerja sama lembaga pendidikan, pemerintah, dan industri untuk peningkatan pemanfaatan digital dan teknologi.
Apalagi disampaikan ada visi memperluas cakupan alokasi dana abadi untuk beasiswa dan peningkatan SDM bagi pesantren dan LSM setidaknya itu jadi angin segar bagi kami yang basicnya berada di lingkungan kobong.
Peluncuran program Dana Abadi Pesantren sebagai implementasi UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren ini sangat kami nantikan.
Wacana penerapan upah minimum untuk guru swasta, PAUD, madrasah, dan yayasan menjadi kabar baik bagi tenaga honorer dan pengurus pondok pesantren yang berbasis mayoritas di tempat saya tinggal.
Jangan sampai kami iri mendapati kabar mereka pengungsi dari negara lain yang singgah di negara kita mendapatkan sokongan dana jutaan rupiah, sementara kami para guru honorer hanya mendapatkan hak sebesar tiga ratus ribu rupiah saja. Itu pun untuk periode tiga bulan sekali jika dana bos turun dengan lancar.
Jadi dengan adanya visi Indonesia Maju ini semoga kesejahteraan kami kelak sebenar-benarnya diperjuangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar