Saya jadi teringat masa sekolah di Tasikmalaya ketika sedang menunggu suami isi bensin di stasiun pengisian bahan bakar umum dekat rumah. Saat itu ada truk tangki Pertamina yang sedang menurunkan bahan bakar. Si wajah tengki, julukan itu pun langsung teringat dalam pikiran dan bikin saya mesem-mesem tersenyum sendiri.
Jadi dulu itu setelah lulus sekolah dasar di Bandung saya melanjutkan sekolah menengah pertama di Tasikmalaya. Tepatnya di SMPN 1 Salawu.
Saat itu, jarak dari rumah di Sukaratu Neglasari (Kampung Naga) ke sekolah di Warung Peuteuy cukup jauh. Dari semua anak sekolah di desa orang tuanya tidak ada yang memiliki kendaraan pribadi. Memiliki sepeda motor saja masih termasuk kalangan orang kaya. Bukan kalangan biasa seperti saya.
Kendaraan yang bisa dinaiki jika akan ke sekolah adalah elf jurusan Garut Singaparna Tasikmalaya, dan atau kendaraan colt yang akan membawa penumpang ke pasar di Singaparna. Tapi tak setiap kendaraan mau membawa anak sekolah yang ongkosnya hanya seratus rupiah. Mereka lebih memilih mengangkut para penumpang yang akan ke pasar atau ke kota karena ongkosnya jelas lebih besar.
Jangan heran meski sepagi apapun berangkat dari rumah, tapi sampai sekolah tetap saja kesiangan karena memang tidak ada kendaraan yang membawa.
Entah bagaimana awalnya, karena anak-anak berseragam masih juga berkumpul di pinggir jalan padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh, pemuda dan masyarakat sepanjang jalan raya Rancak (sekarang tempat parkir Kampung Naga) membantu anak-anak memberhentikan kendaraan apa pun supaya mau membawa anak sekolah.
Akhirnya ada juga yang membawa satu dua anak sekolah hingga lama-lama anak sekolah semuanya terangkut. Termasuk saya dan rombongan kawan-kawan sekampung meski sampai sekolah tetap kesiangan.
Keesokan harinya sejak pagi kami mencoba melambaikan tangan tanda menyetop kepada semua jenis kendaraan roda empat dan lebih. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Tapi kami tidak putus asa. Terus mencoba nyegat kendaraan apa pun supaya tidak kesiangan terus sampai sekolah.
Meskipun di depan truk tangki Pertamina tertulis hurup begitu besar DILARANG MENUMPANG, tapi nekatnya truk tangki pun kami cegat. Haha...
Tapi ada juga ternyata sopir tangki Pertamina yang baik hati. Mau berhenti dan membawa rombongan kami ke sekolah. Supaya kami yang berjumlah tujuh orang terbawa semua, sampai kondektur yang sedang tidur di kursi belakang bangun dan mengalah memberikan tempat istirahatnya itu untuk kami tempati.

“Naik semuanya. Gak apa berdesakan ya daripada kesiangan,” kata sopirnya memerintah.
Sambil cekikikan, sambil ketakutan, semua rasa bercampur terlihat dari raut wajah teman-teman satu kampung barengan saya
“Tenang Neng, ga akan kami culik kok.” Seolah mengerti isi hati teman-teman Pak Sopir mengatakan itu sambil terus ngajak ngobrol.
Entah mencairkan suasana, atau orangnya memang mudah akrab, pak sopir bercerita banyak, termasuk menjelaskan kalau mobil truk tangki Pertamina ini jenisnya berbeda dan tugasnya juga tidak sama karena ada yang mengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kendaraan pada umumnya hingga bahan bakar untuk pesawat terbang.
Pak sopir bertanya ada yang tahu berapa jenis mobil truk Pertamina? Kami semua diam, menggelengkan kepala karena tidak tahu jawabannya. Duh pak, di kelas memang tidak diajarkan soal itu. Hehe...
Pak sopir bicara lagi katanya paling tidak ada 4 jenis mobil tangki Pertamina jika dilihat pada perbedaan warna dan bentuknya.
Ada mobil tangki warna merah putih seperti yang sedang kami naiki, tugasnya mengangkut BBM ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan Pertashop.
Ada mobil tangki warna biru putih yang akan lebih sering ditemui di kawasan-kawasan industri karena tangki ini tugasnya mengantar BBM bagi konsumen industri alias Business-to-business (B2B).
Jenis ketiga ada mobil skid tank, yang memiliki ciri khas tangki berbentuk tabung di belakangnya. Bukan untuk BBM, mobil skid tank bertugas menyalurkan Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE).
Jenis terakhir ada truk refueller. Warnanya masih merah putih tapi mobil refueller mengangkut avtur yang merupakan bahan bakar pesawat terbang.

Pak sopir terus mengajak kami bercerita meski sebagian besar kami hanya diam dan melihat ke luar jendela.
Hingga tak terasa, truk yang mengangkut kami sampai di depan gerbang sekolah. Kami beramai-ramai bilang kiri, minta berhenti.
“Ayo turun pelan-pelan. Santai aja. Jangan sampai jatuh ...”
Ketika truk tangki sudah berhenti di depan gerbang sekolah, Pak sopir tangki Pertamina kembali mengingatkan melihat salah satu teman saya mau turun sampai terburu-buru dan menginjak kaki teman lainnya. Padahal pintu saja belum dibuka oleh si bapak kondekturnya.
Lagian bener kata Pak sopir, kalau tidak pelan dan hati-hati, kami bisa jatuh. Bayangkan anak SMP yang masih pendek (meski bukan karena stunting) menggunakan rok sekolah yang panjang, harus bergelantungan naik turun melalui pintu truk tangki yang cukup tinggi dan pijakan serta pegangan nya berjauhan. Untuk orang dewasa mungkin sampai. Lah bagi kami anak kecil tentu saja banyak kesulitan.
Turun dari truk tangki kami disambut wajah melongo teman-teman dan sebagian kakak kelas yang kelasnya memang berada di bagian depan gedung sekolah. Ada yang menertawakan, ada yang biasa saja. Jujur saya malu banget, tapi ya mau bagaimana lagi, daripada kesiangan kan ya, naik kendaraan ekstrim pun tak jadi masalah. Meski sejak itu banyak yang mengejek saya dan teman-teman dengan julukan si wajah tengki. Gara-gara saya berangkat ke sekolah numpang truk tangki Pertamina. Yah, cuek saja. Apapun nyinyiran orang anggap saja motivasi diri untuk bisa lebih baik lagi di waktu selanjutnya.
Naik truk tangki juga pernah saya alami juga waktu saya hendak ke pelabuhan di daerah Jawa Timur. Saat itu kami dari stasiun mau ke pelabuhan karena hendak ke pelabuhan di Lombok. Saat itu kami mau naik gunung Rinjani. Kami saat itu melakukan perjalanan ramai-ramai ala backpacker. Mulai dari Jakarta ke Surabaya, terus ke pelabuhan dan nanti naik kendaraan yang bisa kami tumpangi saja. Terus aja begitu hingga sampai di Sembalun.
Nah di Surabaya ini dari stasiun ke pelabuhan kami nyegat kendaraan sembarang dan truk tangki yang ikhlas mempersilakan kami naik numpang truknya hingga ke pelabuhan.
Saat itu belum kenal blogger Surabaya macam Mbak Maria Tanjung, kalau sudah mungkin bisa chat beliau buat cari informasi dan tanya-tanya soal seputar transportasi di daerah sana.

Naik truk tangki juga pernah saya dan teman-teman lakukan ketika turun dari Gunung Semeru. Saat itu saya lagi hamil, mau main dulu dan mampir di Candi Jago. Karena kesorean, saat itu kami nginap di Polsek Tumpang. Tepatnya di halaman belakang di masjidnya. Duh terimakasih banyak pak polisi Polsek Tumpang yang saat itu sedang bertugas, baik banget sama saya dan suami juga empat teman saya lainnya.
Saat mau ke Stasiun Malang kesorean ga ada kendaraan, akhirnya kami nekat nyegat sembarang kendaraan dan akhirnya bisa numpang lagi naik truk tangki. Ga ada pilihan lagi karena takut ketinggalan kereta. Beruntung meski kesorean masih ada truk tangki yang jalan dan mau membawa kami.
Dalam kondisi seperti itu rasanya bersyukur juga ada truk tangki bekerja 24 jam secara tugasnya kan ngangkut BBM yang sangat dibutuhkan masyarakat. Bayangkan jika tidak ada kendaraan tangki itu, selain saya bisa kesiangan ke sekolah, ketinggalan kapal ferry saat mau ke pelabuhan, pun bisa tertinggal kereta saat akan pulang ke Jakarta sepulangnya dari Malang.
Meski dulu sempat merasa malu, dijuluki si wajah tengki, karena sering numpang naik di atasnya tapi sekarang justru merasa kalau si truk tangki ini sungguh sangat berjasa.
Terimakasih banyak untuk pak sopir yang mengendarai tangki yang saya dan teman-teman tumpangi kala itu. Semoga sehat selalu panjang usia dan berkah ya Pak...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar