Saat ada kemping Pramuka di setiap ranting seperti bulan Agustus begini, saya bisa jumpa beberapa teman sekolah dulu yang sama-sama aktif di ekstrakurikuler pendidikan kepanduan di Indonesia.
Kami bertemu dari tahun ke tahun dengan segala proses perubahan. Mulai dari pertambahan jumlah usia, perubahan warna rambut dan keriput di kulit wajah, sampai status dan kondisi keluarga. Setiap tahun selalu ada kabar terbaru.
Perjumpaan di lapangan atau tenda pun dengan posisi yang terus berotasi. Mereka ada yang sudah menjadi kakak pembina, ada yang menjadi guru pendamping, maupun sebagai orang tua wali murid seperti saya.
Dari kesemuanya itu meskipun banyak perbedaan, tapi memiliki satu kesamaan yaitu kenangan. Kami sama-sama pernah berada di lingkaran keluarga besar praja muda karana.
Saat berjumpa mereka, saya kadang suka berpikir, dulu kami sama-sama aktif, tapi kenapa sekarang bisa berada dalam kondisi bertolak belakang?
Tapi jika dipikir lebih dalam, dengan tenang dan penuh kesadaran pikiran buntu itu sedikit demi sedikit kembali terurai. Bahwa setiap orang berhak memilih dan menentukan jalan hidup yang terbaik untuk dirinya.
Saat sekolah, kami mungkin sama-sama mengikuti kegiatan kepramukaan. Disadari atau tidak, dijalankan dengan tanggung jawab atau tidak, masuk ke dalam dunia yang sama itu tak semuanya murni karena niat dari hati. Jujur saja, seperti cerita kami kini setelah sama sama dewasa (bahkan ada yang sudah menyerupai penampilan orang lanjut usia) jika dulu ikut kegiatan ada yang karena “demi dia” ada yang karena kekaguman ada juga yang karena kebetulan.
Saya sendiri sangat ingat, masuk ekstrakurikuler Pramuka memang “sudah dari sananya “. Maksudnya sudah sewaktu SD di Bandung entah kenapa udah ikutan Pramuka saja. Terus saat SMP di Tasikmalaya, juga karena merasa memiliki ilmu dasar yang di bawa dari SD, akhirnya masuk Pramuka juga. Makanya saat SMA, dibandingkan masuk paskibra yang bagi saya mah gak mungkin bisa memasukinya, maka Pramuka dan OSIS lah pilihan lainnya.
Namun Tuhan lebih sayang kepada saya dengan memberikan banyak ujian dan cobaan. Sehingga di usia remaja menuju dewasa itu saya dituntut untuk bisa berpikir logis dan belajar mengambil keputusan.
Akhirnya meski berat hati saya memilih melepaskan Pramuka, lalu berusaha fokus di materi pelajaran saja.
Bagaimana masalahnya? Dulu saya mungkin tidak tahu. Tapi sekarang saya bisa mengambil sedikit pemahaman. Jika dalam prosesnya ternyata saya sudah bisa membedakan mana EGO dan mana CINTA.
Kenapa bahasanya dari Pramuka jadi ke Ego dan Cinta?
Jadi ceritanya, saya yang sudah ditinggal bapak untuk selamanya saat saya kelas 1 SMP, bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SLTA karena adanya beasiswa yang saya bawa dari SMP. Ibu saya bukan pekerja, pun masih ada adik yang harus dibiayai juga.
Merasa saya bisa sekolah karena dibayar pemerintah untuk terus bisa mempertahankan posisi ranking dan prestasi lainnya, maka secara tidak langsung saya memiliki tanggung jawab dan risiko. Sebaliknya jika nilai saya turun, maka pembiayaan itu otomatis akan tercabut.
Disini saya harus berperang melawan ego dan cinta. Saya suka Pramuka. Saya ingin aktif dan tidak tanggung dalam menjalankan sesuatu. Tapi itu tadi saya pun punya tanggung jawab. Sementara saat itu saya hanya seorang anak remaja yang banyak keterbatasannya.
Saya bisa saja aktif di Pramuka, tapi apakah mampu mempertahankan prestasi sehingga kucuran dana pembiayaan sekolah tidak terganggu? Sementara saya tahu kalau Pramuka di sekolah yang saya ikuti ini saat ada kegiatan bisa dan biasa mendispensasikan siswa hingga berhari-hari lamanya. Jika saya keukeuh ikut, otomatis banyak absen dan tertinggal materi bahkan ulangan harian.
Sungguh dilema dan merasa otak dan hati saya ini terus berperang. Kedamaian dari kedua belah pihak baru ditemukan setelah saya meminta gencatan senjata melalui istikharah.
Keputusan mantap pun didapat, saya melepaskan Pramuka, dan bertanggung jawab mempertahankan nilai akademis sehingga beasiswa (yang tidak seberapa) itu tidak dicabut.
Lega? Dulu tidak serta merta. Masih seolah tidak rela karena ego saya masih tinggi. Sekarang baru terasa saya beruntung mengambil keputusan itu (melepaskan Pramuka). Cinta saya kepada diri, keluarga dan masa depan jauh lebih saya pertahankan daripada ego karena saya lebih memilih mempertahankan nilai yang dampaknya jauh lebih besar dan luas karena kelulusan saya ada diujung nya.
Andai saat itu saya mempertahankan ego, mempertahankan identitas yang diciptakan pikiran tentang diri saya sendiri dan itu menjadikan saya membuat keputusan berdasarkan apa yang dianggap benar atau salah, bisa jadi saya tidak bisa mendapatkan ijazah kelulusan sekolah.
Kini saya memahami ada ego yang tidak sehat yang hanya berfokus pada kepentingan dan keinginan diri sendiri, dan itu termasuk keputusan saya jika saya mempertahankan mengikuti kegiatan kepramukaan.
Jika saya memilih ikut seleksi dan test menjadi Bantara, benar benar saya memiliki ego yang tinggi, yang dapat diartikan sebagai tingkat kesombongan dan kebanggaan yang berlebihan terhadap diri sendiri.
Seseorang dengan ego yang tinggi cenderung merasa lebih unggul daripada orang lain, meremehkan pendapat orang lain, dan sulit menerima kritik atau masukan. Ya Allah, beruntung saya tidak memilih itu.
Beruntung saya memilih rasa cinta. Memilih emosi yang terbentuk dari tiga perasaan yaitu perhatian, kasih sayang, dan keintiman. Cinta yang saya maksud adalah cinta rasa sayang yang konstan dan ditunjukkan bagi seseorang, yaitu ibu saya.
Ya, saya menyayangi beliau, satu-satunya orangtua yang begitu besar harapnya kepada saya untuk menjadi tulang punggung keluarga setelah bapak tiada. Apakah saya akan tega menghancurkan harapan ibu kalau saya tidak bisa lulus sekolah dan mendapatkan pekerjaan dengan baik lalu menyejahterakan perekonomian keluarga?
Pelajaran yang dapat kita petik adalah ketika seseorang jatuh cinta kepada Tuhan, nama Allah secara otomatis keluar dari mulutnya, entah sengaja atau tidak, akan keluar dan tidak pernah bosan. Termasuk mengikuti semua perintah dan larangannya.
Seperti cerita saya di atas, jika saya memilih melihat ibu dan kembali kepada cintai Allah, maka jangankan ekstrakulikuler Pramuka, dunia dan segala isinya saja sudah tidak ada artinya.
Jika tidak ada pengalaman ini mungkin saya pun tidak akan pernah bisa membedakan mana ego dan mana cinta...
Tulisan ke-6 three day on post dari Founder Komunitas ISB, Ani Berta, dengan tema “Membedakan antara EGO atau CINTA”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar