Senin, 31 Juli 2023

Ketika anak dan suami memboikot nasi goreng

Bagaimana cara menyikapi makanan yang membosankan?

Anak dan suami saya sedang berperang dengan menu nasi goreng. Mereka memboikot menu yang biasa saya buat untuk sarapan itu, dengan alasan bosan!

Memang sih, saya akui kalau seminggu bisa dua sampai tiga kali membuat nasi goreng. Disebabkan karena ada nasi sisa semalam yang tidak habis.

Ternyata, niat saya yang awalnya ingin menyelamatkan nasi sisa supaya bisa lebih enak dinikmati berujung penolakan. Padahal saya menyajikan nasi goreng dengan macam variasi, kadang campur seafood, kadang pedas, kadang tidak pakai kecap, macam-macamlah. Tapi tetap saja anak dan suami mengaku bosan.

Ya sudah, saya terima. Sejak itu saya hanya buat nasi goreng untuk saya sendiri saja. Buat anak dan suami, saya persiapkan mereka makan seadanya asal ada nasi dan lauk-pauk alakadarnya.

Sebenarnya sih kalau setiap malam nasi bisa habis, keesokan paginya saya pun tidak akan membuat nasi goreng sebagai tindakan penyelamatan. Entah kenapa nasi selalu saja ada sisa, padahal saya menanak nasi tidak pernah melebihi takaran. Karena saya pikir kalau kurang tinggal memasak lagi saja.

Bisa saja saya mengurangi takaran menanak nasi, tapi saya juga jera manakala pernah satu hari nasi habis, dan belum sempat memasak segera karena saya tidak tahu kalau nasi di meja makan sudah habis, saya dikatai dengan kalimat yang cukup menyakitkan.

Dilema juga sih ya jadinya, masak lebih, nantinya bersisa, masak pas, dibilang kurang. Hadeuh... Emak cuma bisa tepuk jidat jadinya.

Iseng sambil berpikir menu apa yang akan dibuat untuk hari ini saya search artikel terkait cara mengatasi rasa bosan terhadap makanan. Muncullah banyak tips dari berbagai blogger makanan bagaimana mengatasinya, yang bikin saya tertarik. Siapa tahu bisa menjadi solusi untuk anak dan suami saya yang sedang memboikot menu nasi goreng ini.

Tips mengatasi bosan makan makanan yang itu-itu saja, seperti halnya anak dan suami saya yang katanya bosan dengan nasi goreng setiap harinya, bisa disiasati dengan cara:

Komunikasi

Bicarakan dan sepakati lebih dahulu, bagaimana inginnya konsep penyajian menu untuk setiap hari. Bagaimana solusinya jika ada sisa nasi semalam, dan bagaimana jika kemungkinan saya tidak mengetahui kalau nais habis lalu tidak segera memasaknya lagi.

Mungkin kedepannya jika kejadian hal seperti itu saya bisa menentukan sikap langkah apa yang harus saya ambil, sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat bersama.

Belajar lagi

Jika nasi goreng yang saya buat hanya begitu-begitu saja, wajar anak dan suami komplain merasa bosan. Saya harus mau belajar lagi, bagaimana cara menyajikan makanan dengan banyak variasi.

Jika manteman suka nonton drama Korea atau film Indonesia romansa lainnya maka sekarang saya lebih fokus ke tayangan acara masak-memasak. Mengumpulkan berbagai channel untuk bisa saya ulang saat senggang

Supaya tidak mengulang masakan yang sama, bisa dengan menjadwal dan mencatat menu untuk seminggu kedepannya.

Saya juga harus mau belajar mencoba menghias hidangan yang disajikan supaya lebih menarik dan menggugah selera. Katanya dengan menghias dan menata santapan yang akan dimakan, hal tersebut bisa mengatasi rasa bosan makan sehari-hari.

Haha, iya juga sih, selama ini saya hanya menaruhnya asal-asalan di piring atau kotak bekal seperti biasa. Merasa anak dan suami mau menerima hasil buatan saya apa adanya. Mungkin setelah ini, saya harus coba menyusun makanan semenarik mungkin. Makanan yang tersusun dengan cantik, siapa tahu bisa menggugah rasa lapar, meski yang dimasak ikan asin lagi, ikan asin lagi...

Mengubah bentuk

Jika selama ini memotong wortel cukup bulat-bulat. Suatu hari coba ganti menjadi bentuk dadu atau persegi panjang.

Jika sebelumnya iris kentang menggunakan pisau jadi hasilnya datar, coba sesekali pakai pengiris bergelombang sehingga hasilnya jadi berbeda.

Makan bareng-bareng

Tradisi ngaliwet (makan nasi liwet) di tempat saya tinggal selalu jadi pilihan manakala beberapa teman mengaku bosan dengan sajian menu di rumah.

Kadang mengajak teman-teman untuk masak bareng, lalu makan bersama secara ramai-ramai. Terbukti tidak ada bosannya meski menu nasi liwet standar yang kami buat lauknya hanya itu-itu saja.

Bersyukur

Nah ini yang sering kami tekankan kepada anak-anak. Untuk bisa selalu bersyukur dengan makanan yang disiapkan orang tua di rumah. Apapun itu.

Kita sejatinya masih beruntung tetap bisa makan, jajan dan kenyang, sementara di luar sana, tidak sedikit orang yang kelaparan, tidak punya beras untuk dimasak, dan makan dengan berlauk garam.

Jika mengingat ke sana, saya yakin ego dan nafsu yang dengan jumawa menolak makanan yang sudah dengan susah payah disajikan orang lain akan segera luruh dan menyadari bahwasanya kita makan ini untuk hidup, bukan hidup untuk makan.

Jika di atas saya bahas soal makanan yang membosankan, maka saya jadi penasaran apakah ada makanan yang justru tidak membosankan?

Makanan yang tidak pernah membuatmu bosan?

Jawaban saya adalah Bakso. Haha, ya saya suka sekali bakso apapun suasananya. Saat hujan, saat panas, sedih, bahagia, syukuran,  berduka, apapun suasananya makan bakso mah lanjut selalu.

Makan bakso bagi saya emang enak tapi ya saya juga makannya tak pernah keseringan. Ingat selalu kalau bakso mungkin mengandung lemak dan penyedap rasa.

Karena itu tetap mengimbanginya dengan konsumsi makanan sehat lainnya seperti sayur mayur, air putih, buah, dan juga tetap berolahraga ya.

Bagaimana manteman punya makanan pilihan sendiri yang tidak pernah bosan memakan nya? Boleh diinformasikan ya ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar