Kamis, 17 Agustus 2023

Yang Gratis dari Teman Autis untuk Orang Tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus

Di kampung saya, jika ada anak dengan diagnosa autisme, tanpa rasa trenyuh  apalagi iba, langsung saja suka dipanggil anak idiot.

Stigma autisme di pedesaan pada khususnya memang masih tergolong cukup buruk, ya. Sehingga banyak orang tua dengan anak autisme cenderung malu dengan keadaan anaknya itu. Tidak sedikit yang akhirnya sang anak tidak mendapatkan edukasi yang cukup untuk membesarkannya dengan maksimal. Selain fasilitas yang minim, edukasi dan sosialisasi pun memang sangat langka bahkan tidak ada.

Sebut saja Kesatria (8) ia masih suka teriak-teriak tanpa sebab. Belajar tidak pernah fokus dan bahkan baru saya ketahui untuk mengucapkan namanya saja ia masih kesulitan. Namun karena orangtuanya cukup terpandang, meski kondisi begitu, ia diterima dengan baik di sekolah dasar. Entah orang tuanya tahu atau tidak, jika anak-anak di belakang mereka sering menyebutnya sebagai anak idiot.

Ada lagi anak dari tetangga kampung, sebut saja namanya Mahkota (10) setiap berjalan ke sekolah lewat depan rumah, ia seolah sedang berbicara dengan temannya. Jika saya tanya sama sekali tidak pernah merespon, seolah asyik dengan dunianya sendiri.

Entah bagaimana kemampuan belajarnya yang jelas ia selalu naik kelas. Mungkin karena bapaknya sebagai pegawai yang cukup disegani di daerah kami?

Yang lebih mengkhawatirkan sebut saja Matahari (6) ia berasal dari keluarga kurang mampu. Ayah ibunya cerai, Matahari tinggal dengan neneknya yang juga difabel. Matahari sering tidak fokus, termasuk saat mendapatkan materi. Jika berbicara dengannya, harus mencolek atau memegang bagian tubuh seperti tangan sebagai bentuk interaksi lebih dulu. Baru ia menengok dan ngeh, kalau ada orang lain di dekatnya.

Baik Kesatria, Mahkota maupun Matahari, jika memiliki sistem support yang baik, yaitu orang tua dan keluarga yang memahami edukasi terkait bagaimana menghadapi kondisi anak mereka saya yakin ketiga anak ini bisa berkembang tumbuh dan bersosialisasi dengan baik dan maksimal. Alih-alih merasa malu dan membiarkan mereka tumbuh kembang seadanya.

Seharusnya, orang tua tidak perlu merasa minder ketika Tuhan menganugerahi kita anak dengan kebutuhan khusus atau spesial. Karena itu tandanya kita orang tua pilihan yang dipastikan bisa mengemban amanah tersebut.

Tapi itu tadi, faktanya kebanyakan para orang tua di pedesaan seolah acuh dengan kondisi anaknya meski nyata terlihat memiliki "kelebihan".

Jembatan Edukasi dan Informasi Seputar Autisme

Menyadari adanya kondisi yang memprihatinkan seperti itu, menggerakkan hati Alvinia Christiany dan Ratih Hadiwinoto menciptakan sesuatu yang bisa mengedukasi orang tua atau siapapun yang berkepentingan untuk bisa saling berbagi informasi seputar autisme yang selama ini banyak ditutupi atau rasa gengsi dan malu untuk ditanyakan dengan melahirkan Teman Autis

Teman Autis adalah website terintegrasi yang menyediakan berbagai informasi tentang autisme.

Website Teman Autis diciptakan untuk dapat mudah digunakan agar masyarakat Indonesia (utamanya keluarga dengan anggota keluarga dengan diagnosa autisme) supaya bisa mendapatkan informasi yang terpercaya tentang autisme dengan mudah.

Visi dari Teman Autis ini menjadi jembatan penyalur informasi terintegrasi yang terpercaya terkait autisme sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat mengenai autisme.

Sementara misinya memberikan dukungan bagi keluarga dengan anggota keluarga dengan diagnosa autisme melalui berbagai cara, termasuk dan tidak terbatas pada:

  • Menyediakan platform yang mempertemukan klinik serta fasilitas penunjang dengan orang tua anak autis.
  • Memberikan dukungan bagi keluarga dengan anggota keluarga dengan diagnosa autisme.
  • Dan masih banyak lagi

Kemunculan Alvinia Christiany selaku co-founder Teman Autis menjadikannya didaulat sebagai Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards.

Alvinia Christiany co-founder Teman Autis Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards

Apa itu SATU Indonesia Awards?

Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards adalah wujud apresiasi Astra untuk generasi muda, baik individu maupun kelompok, yang memiliki kepeloporan dan melakukan perubahan untuk berbagi dengan masyarakat sekitarnya di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi, atau satu kategori Kelompok yang mewakili lima bidang tersebut.

Jadi melalui program ini, Astra mendorong para anak muda yang terlibat dalam SATU Indonesia Awards untuk berkolaborasi dengan program unggulan lainnya.

Diharapkan, mereka bisa memberikan dampak positif yang lebih besar dan kontribusi yang berkelanjutan pada usaha-usaha pembangunan di daerahnya.

Seperti Alvinia yang berperan sebagai Chief Content Officer, bertanggung jawab atas seluruh content website Teman Autis. Alvinia juga bertanggung jawab untuk implementasi digital platform Teman Autis.

Teman Autis percaya jika orang tua dilengkapi dengan edukasi yang tepat, maka anak autis dapat berkembang dengan maksimal.

Sejarah Teman Autis

Teman Autis didirikan pada April 2018 untuk memberikan berbagai macam edukasi mengenai autisme untuk para orang tua yang mempunyai anak dengan diagnosa autisme.

Sebelum berganti nama menjadi Teman Autis, Teman Autis dikenal dengan nama Light It Up Project.

Dibentuk pada tahun 2017, Light It Up Project telah mengadakan 2 event yaitu Light it Up Fun Walk pada tanggal 30 Juli 2017 di wilayah Car Free Day Sudirman dan Light it Up Gathering pada tanggal 10 Maret 2018 di Jakarta Selatan.

Setelah berhasil menyukseskan kedua acara tersebut, beberapa anggota team Light it Up Project memutuskan untuk meneruskan Light it Up Project dengan memberikan kontribusi yang semakin nyata kepada masyarakat.

Dan diputuskan untuk melakukan pengonsepan ulang sehingga lahirlah Teman Autis dengan visi, misi dan kontribusi yang lebih jelas untuk masyarakat luas.

Orang-orang dibalik Teman Autis ada Ratih sebagai founder dan Alvinia Christiany yang menjadi co-founder serta 6 anggota lainnya dengan beragam latar belakang, diantaranya guru anak berkebutuhan khusus, dunia digital marketing, legal counseling dan lainnya.

Mereka membuat website www.temanautis.com dimana orang tua dapat mengakses informasi yang lengkap mengenai autisme tanpa harus malu atau minder.

Tentang Autisme

Sebelum kita bisa berteman dengan seseorang, pastinya kita harus mengenal mereka terlebih dahulu, betul? Begitu pula kita harus mengenal lebih dulu apa itu autisme agar kita semua bisa menjadi Teman Autis.

Autisme adalah istilah untuk menjelaskan kondisi neurodevelopmental disorders (gangguan perkembangan neurologis) seseorang.

Beberapa kriteria autisme yang terlihat pada usia perkembangan anak adalah, seperti mengalami kesulitan dalam memfokuskan perhatian atau hyper-active impulsive. Tandanya anak tidak merespon pada saat dipanggil, mengalami kesulitan pemahaman dalam komunikasi non-verbal seperti sulit memahami raut wajah atau perasaan orang lain, mengalami tantangan atau kesulitan dalam berinteraksi sosial dua arah seperti sulit melakukan kontak mata selama berkomunikasi, atau kurangnya kemampuan dan kreativitas anak dalam berkomunikasi walaupun belum bisa berbicara (mengutarakan maksud dengan gerakan).

Anak autis cenderung memiliki perilaku repetitif yang tidak umum dalam behavior, minat, atau kegiatan-kegiatan, seperti memiliki kebiasaan menggerakan anggota tubuh yang berulang-ulang, memiliki minat kuat terhadap satu hal dan tidak dapat dialihkan, hingga bersikap rigid (terpaku pada satu kebiasaan) dan mengalami kesulitan berbicara atau lambat berbicara.

Perlu diperhatikan bahwa jika anak menunjukkan sebagian dari gejala diatas, tidak berarti anak memiliki kondisi autisme. Namun jika anak menunjukkan seluruh gejala diatas, anak kemungkinan besar memiliki kondisi autisme.

Tentunya, pemeriksaan lebih lanjut sangat diperlukan untuk memastikan diagnosis tersebut. Dan sebagai orang tua kita harus memperhatikannya sejak dini. Karena Autisme ini sudah termasuk kondisi yang relatif umum.

Satu dari 100 orang di dunia mengalami kondisi autisme. Di Amerika Serikat, 1 dari 54 orang mengalami kondisi autisme. Sekitar 80% anak yang dibawa orang tua ke Psikolog Anak mempunyai kondisi terlambat bicara. Kondisi terlambat bicara adalah salah satu kriteria autisme, ini perlu diobservasi lebih lanjut.

Jika tidak ditindak sejak awal bisa saja memperparah kondisi autisme si anak. Karena faktor yang dapat memperparah anak dengan kondisi autisme bisa berawal dari ketidaktahuan orang tua tentang intervensi dini dan cara stimulasi.

Dengan mengakses website yang diluncurkan Alvinia Christiany dan Ratih Hadiwinoto ini, orang tua akan mendapatkan insight apa yang harus dilakukan jika tanda-tanda dan gejala autisme terlihat pada anak kita.

Istimewanya, apabila kita ingin melakukan pengecekan deteksi autisme secara online, juga bisa dilakukan melalui website nya itu. Termasuk informasi jika ingin mengetahui klinik atau tempat terapi yang dekat dengan rumah kita karena selain berbagai informasi dasar hingga spesialis untuk membantu para orang tua dengan anak autis di seluruh Indonesia, Teman Autis juga sudah bekerjasama dengan 100 lebih klinik, tempat terapi, dan sekolah.

Di Teman Autis orang tua bisa melakukan pengecekan deteksi autisme dini secara online

Adanya Teman Autis diharapkan menjadi salah satu cara mensosialisasikan ke masyarakat umum bahwa autisme bukanlah penyakit dan tidak menular. Dengan adanya sosialisasi, akan tercipta diskusi yang diharapkan bisa membuat lebih banyak orang untuk mau mengenal dan mengerti tentang individu dengan diagnosa autisme

Ketika masyarakat umum lebih mengerti tentang autisme, bukankah akan ada peluang yang lebih tinggi untuk terciptanya lingkungan yang baik untuk para individu dengan diagnosa autisme di tengah masyarakat umum?

Individu dengan autisme memang berbeda, tetapi bukankah kita dengan orang-orang terdekat kita pun juga berbeda? Alangkah baiknya jika kita semua bisa lebih fokus bukan kepada perbedaan dari setiap kita, tetapi lebih kepada kesamaan yang kita punya.

Pendiri Teman Autis berharap kedepannya stigma autisme yang masih tergolong cukup buruk ini kedepan nya mulai berkurang. Semoga tidak ada lagi orang tua dengan anak autisme cenderung malu akan keadaan anaknya sehingga tidak mendapatkan edukasi yang cukup untuk membesarkan anaknya dengan maksimal.

Teman Autis percaya jika orang tua dilengkapi dengan edukasi yang tepat, maka anak autis dapat berkembang dengan maksimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar