Kasihan si mamang mie ayam saat lewat depan rumah, roda yang udah terpasang terpal di atapnya hampir tidak bisa laju karena tersangkut pohon jambu. Saya yang merhatiin dari dalam kepikiran untuk segera merapikannya supaya dahan tidak terlalu menjulur ke jalan.
Akhir-akhir ini memang hujan selalu turun dengan deras dan durasi panjang. Bikin malas ke luar, jadi itu pepohonan yang banyak tumbuh depan rumah juga seolah tidak terurus. Mengganggu yang lewat.
Jadi ingat cibiran tetangga terhadap kondisi rumah dan halaman tempat tinggal kami yang kata mereka, seperti hutan. Ya, karena rumah tempat tinggal peninggalan mertua ini memang di halamannya dipenuhi berbagai pohon yang ukurannya tidak lazim dibandingkan pohon hias yang ada di halaman rumah pada umumnya.
Ayah mertua dulu pegawai Perhutani. Beliau senang melakukan pembibitan berbagai macam pohon. Halaman rumah jadi lokasi eksperimen nya. Sebagian pohon dibiarkan tumbuh sampai sekarang. Kebetulan suami sebagai pewarisnya pun sangat menyukai teduhnya halaman karena rindangnya pepohonan. Jadilah rumah yang kami tempati mirip hutan.
[caption id="attachment_11887" align="aligncenter" width="300"]

Lingkungan asri di Morizen[/caption]
Pantas mereka anggap seperti hutan, karena di sekeliling rumah ini tumbuh pohon yang bahkan di kebun saja sudah susah ditemui.
Di sekeliling halaman rumah kami tumbuh pohon kaweni, sirsak, rambutan, lengkeng, huni, melinjo, kelapa, pisang, jambu batu, jambu air, nangka, salam, sukun, asam kranji, waregu, dan masih banyak lagi.
Itu belum termasuk tumbuhan apotek hidup dan bumbu dapur yang ditanam dalam pot atau plastik yang kami tempatkan di sekitar polibag karung yang berisi tabulampot.
Karena banyak pepohonan, tidak heran kalau binatangnya pun banyak berkeliaran. Itu yang bikin tetangga makin julid. Udah biasa dengan ulat, semut, berbagai serangga, bahkan ular, tupai, sampai burung hantu pun ada bersarang di pepohonan yang tumbuh di halaman rumah kami itu.
[caption id="attachment_11888" align="aligncenter" width="300"]

Club House di Morizen[/caption]
Apakah saya tidak risih? Mungkin karena saya dasarnya suka alam, suami dan anak pun mereka betah di gunung (mendaki maksudnya) jadi ya kondisi itu tidak berpengaruh. Sebisanya aja kami bereskan. Seperti rajin memangkas pepohonan yang udah mengganggu ke jalan, dan menyapu dedaunan yang bikin sampah ke tanah tetangga terdekat.
Nah sayangnya pohon jambu depan rumah itu belum sempat dirapihkan karena selama seminggu lebih ini cuaca hujan terus.
Kalau cuaca bagus kami pastinya udah eksekusi duluan. Antisipasi dengan cibiran dari mulut sekitar yang super pedas kalau bicara.
Tapi kadang kami pengen tertawa juga lho menghadapi karakter tetangga ini. Mereka tuh seakan tidak suka, risih dengan kondisi tempat tinggal kami yang seperti hutan. Tapi giliran ada butuhnya, ya mereka larinya, mintanya ke kami-kami juga.
Pernah saat saya menyapu halaman di dalam, ada tetangga lewat, dia kira tidak ada saya. Lalu berusaha menyambut bibit pohon kersen yang tumbuh. Karena anakan pohon itu tumbuh dari akar pohon utama, jadi saat dicabut, ya ga ada akar yang bisa ditanam.
Buru-buru saya keluar dan bilang kalau ambil anak pohon kersen harus pakai cara yang benar supaya akar bisa terbawa jadi bisa ditanam lagi. Eh dia malu kepergok begitu dan segera berlalu. Haha, butuh juga anak tanaman dari halaman rumah kami, padahal sebelumnya ia nyinyir banget dengan pohon yang melewati pagar batas. Sampai memotong sendiri tanpa minta izin dahulu.
[caption id="attachment_11889" align="aligncenter" width="300"]

Suasana danau di Morizen[/caption]
Suka duka tinggal di lingkungan rumah yang banyak memberikan tekanan emosi ini emang banyak. Kalau lagi tidak sabar pengen rasanya pindah ke hunian lebih modern tapi tidak meninggalkan kesan hutan nya. Dalam arti suasananya hijau, tetap sejuk, pokoknya nuansa alamnya itu tetap dipertahankan. Ada gak ya hunian modern seperti itu?
Ternyata ada. Di Morizen Summarecon Bekasi banyak berbagai tipe hunian mewah ala bangsa Jepang yang tetap mempertahankan nuansa hijau dan asri.
Dalam bahasa Jepang ‘Mori’ berarti hutan. Morizen Summarecon Bekasi ini terdiri dari hunian rumah tiga lantai yang dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun. Bahkan ada danau di dalamnya.
Selaras dengan filosofi kehidupan zen, Morizen Summarecon Bekasi dilengkapi oleh jalan pedestrian dan seating promenade yang menghadap langsung ke arah danau.
Persembahan Sumitomo Forestry dan Summarecon Agung yang dikenal lewat Summarecon Serpong ini, huniannya memang terkenal menghadirkan lanskap alami yang indah. Dipastikan semua kelebihan itu akan memberikan ketenangan dan keseimbangan hidup bagi penghuninya.
Hunian Morizen Summarecon Bekasi memiliki banyak keunggulan seperti lokasinya banyak difavoritkan karena tersedia destinasi populer di dekat hunian, seperti tempat wisata dan wahana bermain lainnya.
Morizen Summarecon Bekasi pun terkenal bebas macet. Infrastruktur yang memadai langsung akses ke jalan tol. Pilihan transportasi umum mudah ditemukan.
[caption id="attachment_11890" align="aligncenter" width="300"]

Pada kenyataannya pada sebuah gubuglah apa yang kami sebut hunian nyaman itu bisa dicapai[/caption]
Karena letaknya strategis dengan fasilitas umum sementara harga relatif terjangkau, tapi entah beberapa tahun lagi. Yang pasti properti ini sangat prospektif, cocok untuk investasi.
Ah jadi pengen pindah ke hutan eh hunian Morizen Summarecon Bekasi, deh. Suasananya yang rimbun dan mempertahankan kehijauan pastinya bakal bikin kami betah dan bebas dari julidan tetangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar