Seharusnya Diklat Amsilati ini dilakukan bulan Syaban, atau Romadon. Tapi karena ustadz pengajarnya ada halangan, jadi jadwal diklat dimajukan. Perlu diketahui, metode baca kitab kuning secara amsilati ini hanya dimiliki oleh pondok pesantren tertentu dan pengajarnya juga terbatas.
Tapi hal ini ibarat jadi kesempatan baik untuk Fahmi dan ayahnya. Secara minggu pertama Maret ini kan ada beberapa hari yang bertepatan dengan tanggal merah, jadi bisa dibuat sebagai kegiatan pembelajaran pengisi liburan. Soalnya kalau bukan hari libur nasional, mana bisa bolos sekolah atau kerja.
Seharusnya Fahmi dan ayahnya mondok. Tapi setelah melihat jarak pesantren dengan rumah kami di Karangtengah Cianjur juga jam jadwal pembelajaran yang bisa diikuti, maka ayah Fahmi memutuskan untuk tidak menginap di pondok.
“Selama ikut diklat kita pulang pergi dari rumah saja, soalnya bisa mengejar waktu dan kita bisa mengerjakan hal lain di rumah,” jelas pak suami.
Okelah, itu dalam arti, saya harus ikut ke rumah yang di Cianjur kota. Sekitar 2,5 jam kendaraan dari rumah kami di Pagelaran Cianjur Selatan. Untuk apa? Ya menemani mereka yang mau ikut diklat amsilati.
Padahal kalau dilihat dari kepentingannya, sebenarnya saya “tidak ada urusan”. Toh saya tidak ikut diklat, saya pun bisa mengerjakan hal lain di rumah di Pagelaran ini. Tapi saya mengerti, peran saya disini sangat diperlukan oleh anak dan suami.
Jika ada yang mengenal saya secara offline, mungkin pernah atau bahkan sering melihat jika ada acara, baik yang berkepentingan saya saja, atau suami saja, tapi kami selalu berangkat bareng-bareng. Bahkan anakpun jika boleh, selalu dibawa.
Tidak aneh kalau kami dijuluki Keluarga Bringka kependekan dari keluarga yang suka bring kaditu bring kadieu (bahasa Sunda, yang artinya kira-kira kemana saja pergi selalu bersama). [caption id="attachment_11903" align="aligncenter" width="298"]Orang mungkin berpikir ini istrinya kok ngintilin suami terus ya, atau merasa heran kok suaminya kaya gak percaya sama istri, selalu saja mengantar dan mendampingi.
Hallow, sebenarnya jika ada yang berpikiran demikian, saya pikir mungkin ilmu keislamannya belum sampai. Kenapa begitu? Ya karena dalam Islam bukankah diajarkan suami istri itu ada untuk saling melengkapi, saling menjaga dan berperan penting untuk satu sama lain?Ketika suami saya ada kegiatan, saya pasti menawarkan diri, apakah saya harus ikut? Jika suami membutuhkan, ia pasti akan dengan senang hati bersedia ditemani. Tapi jika suami merasa mampu dan lebih baik sendiri, saya pun dengan taat mengikuti sarannya. Tidak ngotot memaksakan diri.
Begitu juga sebaliknya jika saya ada acara, saya berusaha untuk tahu diri bahwa saya akan merasa lebih baik jika didampingi suami (atau mahram) makanya sebisa mungkin jika ada keperluan, kalau bisa yang bisa diikuti suami. Atau paling tidak jika suami bisa, beliau yang mengantar dan menjemput saya. Jadi apapun yang kami lakukan, saya dan suami satu sama lain saling tahu, mengerti dan memahami. Jelas, tidak ada hal sedikitpun yang disembunyikan.
Tapi masyarakat kita mungkin belum sampai ke sana pemahamannya. Makanya ketika saya atau suami selalu bersama kesana kemari, masih ada yang rajin ngomongin.
Lah, padahal kenapa harus digunjingkan ya, sementara kami ini pasangan halal dan bahkan kewajibannya (suami menjaga istri dan istri taat pada suami). Kalau saya pergi dengan suami orang lain, atau suami saya ngantar-ngantar istri orang, itu baru wajar dipertanyakan. Kalau suami istri kesana kemari selalu berusaha bersama, bukannya itu adalah hal yang sepatutnya?
Sebenarnya, nilai yang terkandung dari kebersamaan kami, adalah menjaga sikap dan perasaan jika satu sama lain sebenarnya memang berperan penting dan dibutuhkan.
Saya sangat bersyukur jika kemanapun suami dan anak pergi, peran saya sangat dibutuhkan. Di luar sana bukankah banyak yang merasa tidak berarti karena pasangannya sudah tidak peduli lagi? Atau anak yang justru lebih nyaman mencari perhatian di luar daripada curhat ke orang tuanya sendiri?
Karena itu seminggu ini saya dengan senang hati menemui anak dan suami mempelajari metode membaca kitab kuning meski saya sendiri bukan peserta. Saya bukan istri yang hebat atau sempurna sehingga selalu ada untuk anak dan suami. Saya hanya seorang perempuan yang justru tidak cukup pendidikan, tak mampu pula dalam hal keduniawian.
Saya hanya mencoba memahami jika peran saya di luaran tidak ada seujung kukunya teman-teman. Tapi peran saya sebagai istri sekaligus seorang ibu ternyata sangat penting dan dibutuhkan paling tidak oleh suami dan putra saya sendiri.
Sesederhana dan sereceh itu peran saya dalam kehidupan sehari-hari tapi saya yakin tidak semua keluarga bisa menjalankannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar